Month: November 2015

Sekali lagi, Perancis

Perancis sebagai Negara di Eropa yang memiliki semboyan persaudaraan, kesetaraan, dan kebebasan untuk kesekian kalinya dilanda teror. Pada penghujung tahun 2015, Perancis diserang sekelompok teroris di 6 lokasi. Salah satu lokasi yang diserang adalah kawasan stadion sepakbola yang saat itu berlangsung pertandingan Perancis vs Jerman. Pertandingan tersebut disaksikan oleh pejabat pemerintahan Perancis termasuk presiden Francis Hollande. Beberapa saat setelah kejadian tersebut, Hollande menerapkan jam malam ke seluruh wilayah Perancis sampai status Negara Perancis dikatakan aman kembali.

Menurut berita setempat, Negara Perancis telah kehilangan warganya sekitar ratusan (120an) orang. Pada saat itu juga, sekelompok teroris mengklaim bahwa dirinya (ISIS) yang mendalangi kerusuhan di Perancis pada tanggal 14 November 2015. Unik nan aneh karena untuk pertama kalinya ISIS berani mengklaim bahwa dirinya mendalangi kerusuhan tersebut lewat media sosial. Kasus-kasus teror sebelumnya, Barat-lah yang selalu mengindikasikan bahwa ISIS yang mendalangi kasus-kasus teror. Kerusuhan yang terjadi pada tahun 2015 mengingatkan kembali kasus penembakan brutal di kantor Charlie Hebdo pada tahun 2012.

Kasus yang terjadi di kantor Charlie Hebdo pada tahun 2012 memang hanya menewaskan belasan orang namun kejadian tersebut mampu memantik dunia global untuk menghakimi kelompok tertentu (Islam) yang dianggap mendalangi (lagi-lagi) kasus teror. Kasus serupa terulang lagi di tahun ini dan untuk kesekian kalinya Islam kembali disudutkan di Negara Perancis. Sejak era Sarkozy, masyarakat muslim di Perancis agak sering tersudutkan. Pada tahun 2010, pemerintahan Perancis menerapkan kebijakan pelarangan symbol agama yang salah satu isinya adalah melarang symbol kerudung, kubah, kippa (yahudi) salib (katolik). Perancis mampu menerapkan kebebasan beragama namun mengabaikan kebebasan berekspresi.

Pergantian pemerintahan dari Sarkozy ke Hollande belum mampu mengakomodir komunitas muslim. Setidaknya ini terlihat dari beberapa kasus yang mencuat dan menyudutkan kaum muslim dan juga kaum kulit hitam. Sikap tersebut menyedihkan dan ironi karena Perancis adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di Eropa. Salah satu bentuk rasis yang dilontarkan masyarakat lokal adalah menirukan suara hewan tertentu pada saat pertandingan sepakbola. Ini bukan hal yang baru mengingat hampir 50% pemain sepakbola yang main di liga Perancis adalah warga Afrika. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat Perancis adalah negara penjajah di wilayah Maghribi (Aljazair, Maroko, Tunisia).

Sikap pemerintahan Perancis belum mampu menegakkan slogan yang selalu didengungkan ke dunia global. Slogan yang bermakna bahwa Perancis mengagungkan kesetaraan, persaudaraan, dan kebebasan tidak tampak terlihat jika melihat berbagai kasus tersebut. Fenomena tersebut memunculkan disparitas antara masyarakat lokal dengan kaum muslim yang akhirnya menyebabkan efek domino ke berbagai aspek yang diantaranya aspek sosial, budaya, maupun keamanan. Fenomena ini juga diperparah dengan pernyataan politikus sayap kanan yaitu Jean Marie Le Pen yang mengatakan to be French, you have deserve it.

Penerapan kebijakan-kebijakan pemerintahan Perancis tentang kebebasan berekspresi seharusnya dikaji ulang. Peristiwa di penghujung tahun 2015 tentunya tidak ingin terulang kembali dalam beberapa tahun mendatang. Perancis masih memiliki hajatan besar yaitu Piala Eropa 2016. Negara-negara Eropa pasti akan berpikir ulang untuk memastikan bahwa negaranya aman untuk mengikuti turnamen tersebut. Perancis harus menelaah permasalahan global dengan menerapkan kebijakan yang tepat sasaran dan bersifat simbiosis mutualisme bagi semua masyarakat yang tinggal di Perancis tak terkecuali kaum minoritas. Hal tersebut dimaksudkan citra Perancis tidak tercoreng kembali dan masyarakat Internasional mampu menikmati perhelatan akbar Piala Eropa 2016 dengan rasa aman dan tenang.

Berpikir negatif

Judul diatas mengisyaratkan bahwa saya bercerita tentang bagaimana berpikir negatif. Saya tinggal di kota apel hampir 6 tahun lamanya. Kota apel adalah kota yang mana membuat saya untuk belajar berpikir negatif. Mengapa bisa begitu ? Di kota ini saya belajar bagaimana cara berpikir negatif yang tepat sasaran.

Sebagian orang mengatakan bahwa hindari berpikir negatif karena akan mengkerdilkan cara berpikirmu. Saran tersebut akan berlaku jika kamu lagi mengikuti kegiatan agama. Menurut saya, berpikir negatif perlu dalam kegiatan non keagamaan. Cara pandang seperti itu hukumnya wajib agar anda mengetahui mana yang disebut kawan, teman, sahabat maupun lawan. Kita tidak pernah tahu apa yang orang perbuat pada kita. Mungkin bisa jadi akan menghasilkan sesuatu yang positif atau justru menjadi negatif. Tergantung anda memaknainya.

Jadi begini, kebutuhan anda untuk berpikir negatif lebih disebabkan karena keinginan. Paradigma tersebut laiknya dibalik. Keinginan anda akan berpikir negatif lebih disebabkan karena kebutuhan. Begini, ketika anda bertemu orang baik yang sudah kenal ataupun belum kenal biasanya anda akan melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perilaku seperti akan anda lakukan jika anda seperti paradigma lama. Jika anda begitu bertemu dengan orang kemudian anda memperhatikan isi pembicaraannya maka anda masuk paradigma baru. Jadi, anda bisa tahu bagaimana harus berpikir negatif ketika pembicaraan berlangsung. Bukan dari awal langsung menghakimi “aah orang ini pasti begini” atau “aah kok modelnya begini”. Itu kesalahan berpikir.

Nah maksud saya, berpikir negatif diperlukan untuk mengasah otak anda agar selalu waspada dalam segala hal. Tentunya tepat sasaran dengan menggunakan paradigma baru. Oleh karena itu, berpikir negatif penting supaya orang sadar bahwa sempurna hanya milik Sang Pencipta bukan milik manusia.
Berpikir Negatif itu Perlu.

Pemilik Ilmu

Siapakah pemilik ilmu di dunia ini ?Albert  Einstein ? Issac Newton ? Karl Marx ? Hassan Hanafi ? atau siapa ?. Sejatinya tiap manusia pasti memiliki ilmu namun belum tentu mengembangkannya. Adagium yang pernah terlintas di pikiran saya adalah Bakat Terpendam Goblok Meluap. Kenapa bisa begitu ? karena manusia memang jarang menggunakan ilmu. Lebih suka menyimpan daripada mengembangkannya. Sekali lagi, bentuk kepercayaan diri yang kurang dan sifat ketakutan akan tampil membuat ilmu manusia tidak terlatih dengan baik.

Belajarlah karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan pandai. Dan pemilik ilmu itu tidak sama dengan orang yang bodoh.

Salah satu pembentuk ilmu adalah dengan membaca buku. Tak heran ada adagium “Buka adalah Jendela Dunia”. Kamu membaca buku maka pengetahuanmu akan bertambah. Yakinlah akan hal itu. Jika kamu tidak mampu mebaca buku minimal kamu bertemu dengan orang-orang baik. Masalahnya orang-orang baik seringkali lebih tersembunyi daripada orang-orang jahat. Namun pada intinya, manusia itu makhluk sosial yang harus saling berinteraksi satu dengan yang lain. Berinteraksi dengan orang lain itulah yang memudahkan kamu untuk mendapatkan ilmu. Belajar untuk mendapatkan ilmu tidak harus ke orang cerdik pandai (guru, dosen) namun bisa juga dengan orang seperti pengamen, tukang sayur karena biasanya orang-orang tersebut memiliki ilmu yang yang sifatnya moral.

Belajarlah kamu sampai ke Negeri Cina dan yang paling penting adalah terus belajar di usia muda karena belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Belajarlah kepada pemilik ilmu.

Mau jadi Pahlawan ? Gunakan Bahasa Indonesia

Pada abad 21, masyarakat Indonesia (mungkin) sedang mengalami disfungsi bahasa. Maksud saya adalah penggunaan bahasa Indonesia yang kian minim baik di kalangan akademik maupun non akademik. Beberapa tahun silam, masyarakat Indonesia digemparkan dengan munculnya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang digagas oleh pemerintah Indonesia. (Mungkin) maksud dari Pemerintahan Indonesia adalah untuk mengajak masyarakat Indonesia lebih mempelajari dan mendalami bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris. Oke, ‘perintah’ yang sifatnya persuasif tersebut mungkin juga akan dipahami “jika kita tidak bisa bahasa Inggris, mau jadi apa yaa” ? Mungkin itu juga kekhawatiran orang tua masa kini yang pada akhirnya berbondong-bondong memasukkan anaknya ke sekolah tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah masyarakat Indonesia yang mulai menguasai bahasa Internasional (sebut saja Inggris), Indonesia mampu meningkatkan statusnya menjadi negara maju ?

Tunggu dulu, Barat tidak mungkin serta-merta akan ‘menaikkan’ status Indonesia menjadi negara maju. Ya wong jelas, apakah Barat rela menjadikan Indonesia menjadi negara maju ? Saya kira itu butuh sesuatu yang sifatnya revolusioner yang harus melibatkan “konspirasi” banyak pihak. Anda harus mengakui bahwa pelabelan negara maju, berkembang, dan dunia ketiga udah dari sononya oleh kaum Barat. Saya harus mengakui dan jujur mengungkapkan bahwa Indonesia masih negara yang akan (selalu) dijajah oleh negara-negara diatasnya (kecuali cabang bulutangkis dan korupsi karena di cabang ini, Indonesia masih masuk 10 besar).

Sebenarnya tidak hanya Barat melainkan juga Arab. Tengoklah beberapa konferensi atau seminar internasional (sekali lagi karena membawa nama internasional) diharuskan menggunakan bahasa Inggris kecuali Arab dan Perancis. Entah orang-orang tersebut tidak peduli dibilang bodo atau kolot, mereka tetap percaya diri menggunakan bahasa Arab maupun Perancis. Anda bisa lihat di beberapa seminar yang menghadirkan tokoh-tokoh Arab, mereka tidak mau menggunakan bahasa Inggris alasannya karena mereka lebih suka menggunakan bahasa Arab (mungkin ini yang dimaksud dengan chauvinisme). Sedangkan kita dalam beberapa seminar internasional/diskusi panel yang menghadirkan pemateri, peserta dan segala tetek bengeknya yang semuanya berasal dari Indonesia justru malah menggunakan bahasa Inggris. Dulu ada konferensi ekonomi internasional di Bali pada tahun 2008 yang menghadirkan banyak pengusaha internasional dan pemimpin internasional terjadi malfungsi bahasa. Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia yang waktu itu diwakili (sebut saja Anda) memulai pidato dengan bahasa Inggris dan hal tersebut disambut tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Kemudian, pengusaha Jepang dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata sanggup membius hadirin dan diberikan tepuk tangan lebih meriah walaupun pidatonya sangat singkat. Kita bangga bahasa Indonesia digunakan oleh orang luar namun kita miris ketika orang Indonesia justru menggunakan bahasa yang lain.

Saya khawatir jika bahasa Indonesia akan tergerus dengan bahasa asing maka bahasa Indonesia akan mengalami kepunahan seperti bahasa daerah. Anda bisa lihat generasi tahun 2000an di kota-kota besar mungkin terlihat enggan memakai bahasa Indonesia karena kesehariannya yang lebih menggunakan bahasa Inggris. Relasi antara orang tua dan anak jarang yang menggunakan bahasa Indonesia. Alasannya sederhana, jika menguasai bahasa Inggris, maka anda bisa memiliki dunia global. Entah saya kurang paham dengan maksud yang seperti itu atau mungkin saya yang bodoh tidak mampu memaknai maksu tersebut.

Jika boleh saya sebut, kondisi tesebut dapat dikatakan sebagai kapitalisasi pengetahuan. Kondisi yang mana menyebabkan manusia harus memperbarui diri untuk menyesuaikan apa yang diinginkan oleh produk kapital.

Namun kabar baik berhembus ketika Menlu RI Ibu RIni menggagas bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa ASEAN pada tahun 2016. Tentunya, ini kabar baik bagi masyarakat Indonesia ketika akhir tahun sudah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Semoga usaha Ibu Rini tidak akan seperti harapan melainkan berupa kenyataan yang diwujudkan dengan peraturan.

Menyambut hari Pahlawan 10 November, jika anda ingin disebut sebagai pahlawan era kini maka gunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik dan benar ditentukan oleh buku Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Selamat Hari Pahlawan.

Pesta Kata

Kemampuan manusia dianggap cerdas atau tidak cerdas (konon) dilihat dari tulisan-tulisannya. Tidak hanya asal debat kata di udara tetapi juga mampu untuk menuangkan isi pemikirannya dengan berbagai tulisan. Tetapi untuk menemukan manusia seperti itu tidaklah mudah. Ada manusia cukup pandai retorika di udara namun kurang aktif dalam retorika di tulisan. Begitu pula dengan sebaliknya.

Dalam dunia akademik, hal tersebut jamak dijumpai baik di kalangan dosen maupun di kalangan mahasiswa. Jujur, memang tidak mudah menjadi seimbang antara berbicara serta menulis. Aku pun begitu. Sifat malas dan kurang berani adalah dua hal yang cukup ditakuti. Namun dengan memperbanyak membaca buku maka pengetahuan dan kepercayaan diri manusia pasti bertambah. Bagi yang kurang pandai berbicara, cobalah untuk berbicara di depan cermin karena cermin tidak punya kuasa untuk menghakimi dan menganggap manusia benar atau salah. Bagi yang kurang pandai menulis, tulislah apapun ide/gagasan di blog karena blog adalah salah satu wadah kebebasan berekspresi.

Nah, aku mengucapkan terima kasih kepada kawan2 KBM UGM yang telah menyelenggarakan Bulan Blogging selama 1 bulan. Di acara ini saya ‘sedikit’ terpaksa untuk belajar menulis sehingga banyak menghasilkan tulisan kutu sampah. Alhamdulillah walaupun pada akhirnya aku kena satu denda,aku mampu mengikuti acara ini hingga akhir. Semoga aku tetap semangat untuk menulis.

*Bacalah buku, jangan hanya baca udara – Kris Budiman*

Pemenang dalam BBKU

Pertama2 aku mau ucapkan terimakasih kepada keluarga besar KBM yg telah mengajak aku untuk mengikuti bulan blogging KBM UGM. Kedua aku mau ucapkan keluarga Gazpolian yang banyak kasih ide buat menulis di BB. Hari ini semua peserta diminta admin menentukan siapa 3 pemenang dalam BB KBM jilid II.
Oleh karena itu, ijinkan aku untuk memilih yang menurutku layak mendapatkan nilai cumlaude.
1. Prochnost alias Haji Samidin. Aku banyak berutang budi sama alien ini karena rata2 ide menulisku dari dia.Lalu ada beberapa tulisanku yang memuat nama dia baik itu nama asli atau samaran. Matur sembah nuwun.
2. Azzan Wafiq alias saya bukan maling jemuran. Selain karena faktor dia satu2nya teman SMP, ya cuma dia yang menahbiskanku untuk masuk kriteria 7 lelaki rupawan di KBM walaupun aslinya aku KBM imitasi. Aku cukup terhibur dengan tulisan2nya.
3. Ilmi alias handandnotes. Dia adalah orang pertama yg follow blogku. Ah, makasi mi.Tulisannya sering menyajikan CS. Di dalam tulisan2nya seakan aku mendapatkan pengetahuan baru.

Untuk penghargaan yang terbaik, aku tujukan kepada sodara Restu Ismoyo Aji yang telah membuat malam semakin tertawa karena coretan2nya. Sungguh imajinasi yang luar biasa sodara. Pokoke sampean pancen ngeten *kasi jempol*.

Sekian.

Bencana Ilmu adalah Lupa

Ilmu : science ; Pengetahuan : Knowledge

Ya itu kata google translate.
Tiap orang berhak mendapatkan pengetahuan tetapi belum tentu mampu memaksimalkan pengetahuannya.
Tiap orang bisa mendapatkan ilmu tetapi tidak semuanya mampu mengaplikasikannya dengan bermutu.
Mengapa bisa begitu ?
Karena manusia seringkali mudah lupa .
Iya lupa itu penyakit primer manusia.
Jika sudah menjadi penyakit primer maka lupa akan menjadi momok.
Jika sudah menjadi momok maka lupa akan menjadi bencana.
Maka dari itu Bencana Ilmu adalah Lupa.

*Koil – Aku Lupa Aku Luka.