Month: October 2016

Sepakbola ala Mas Dedy

Gara-gara melihat tendangan pisang ala David Beckham, tiap sore saya mencoba dan menirunya di lapangan sebelah rumah. Namun berulangkali saya gagal. Tendangan saya tak kencang. Tak terarah. Bahkan mencoba menendang  jauh pun tak bisa dilakukan.

Ayah saya tampak tertawa kecil jika usaha saya selalu gagal. Mungkin karena perasaan iba, saya disuruh mengikuti klub sepakbola yang ada di UNY. Puspor FC. Saya masuk ke klub tersebut pada usia 10 tahun. Usia yang bertepatan dengan masuknya millenium baru. Saya ikut bersama adik saya yang pertama. Tujuannya satu. Jago menendang ala ala David Beckham.

Masuk di klub tersebut, saya dilatih oleh orang yang sangat fantastis. Dialah yang nantinya mengajarkan saya bagaimana teknik menendang, menggiring, bertahan, maupun menyerang dalam sepakbola. Namanya Dedy. Bertopi dan selalu menggantungkan peluit di lehernya. Tubuhnya sedikit tambun namun jangan ditanya jika dia disuruh menggocek bola. Lincah dan lihai.

Pertama kali saya masuk ke klub tersebut, saya sudah disuruh menendang dengan menggunakan telapak kaki dalam. Baik kanan maupun kiri. Bola yang digunakan hanya ¾ dari bola sepak biasanya. Mungkin karena kami masih kecil makanya bola yang digunakan juga kecil. Latihan tersebut dilakukan selama 10 menit. Hasilnya tidak jelek tapi juga tidak bagus. Yang penting bolanya sampai ke pemain lawan.

Setelah itu, kami dibagi dalam 2 tim. Saya satu tim bersama adik saya. Saya berada di posisi striker dan adik saya berada di posisi gelandang kiri. Pertandingan tersebut menjadi awal yang baik bagi saya maupun adik saya. Saya mencetak 1 gol sedangkan adik saya mencetak 4 gol. Bagi pemain baru yang berada disitu, hal tersebut merupakan sesuatu yang spektakuler. Terutama bagi adik saya. Selepas pertandingan tersebut, saya berjanji akan menjadi pemain sepakbola profesional yang baik. Impian yang mungkin sama dengan anak-anak lelaki usia saya.

Latihan demi latihan digembleng oleh Mas Dedy. Ia tak henti-hentinya menyoraki kami jika kami melakukan kesalahan. Kalo topinya sudah diangkat dan dia mulai merapikan rambutnya, itu tandanya dia agak jengah dengan etos kerja kami. Kalo sudah begitu, ia sesekali mencontohkan bagaimana latihan yang benar dan baik.

Setiap pemain pasti punya baju masing-masing. Warnanya biru-kuning. Karena saya bermain sebagai striker, tentu saya memilih no.10. Sayangnya, no tersebut sudah digunakan oleh anak lain. Saya sedikit tertunduk lesu. Namun saya tak kehilangan akal, saya mendapat inspirasi dari Ivan Zamorano. Legenda Inter Milan asal Chile. Waktu itu ia ingin menggunakan no 9. Sayangnya, no tersebut sudah digunakan Ronaldo. Lantas ia menggunakan no 1+8. Nah itu menjadi inspirasi saya dalam membuat nomor. Lantas, saya usul untuk dibuatkan nomor yang mirip dengan Ivan Zamorano. Namun, saya sedikit memodifikasinya. 9+1. Dan ternyata no tersebut disetujui Mas Dedy.

Saya mungkin menjadi satu-satunya anak yang memiliki nomor nyeleneh. Toh, Puspor pun bersedia membuat baju bola sesuai pesanan saya. Saya sedikit bersyukur.

Mas Dedy sangat jeli dalam menempatkan pemainnya. Adik saya yang awalnya pemain gelandang kiri kemudian dipindahkan menjadi kiper. Mungkin ia melihat reflek adik saya cukup baik. Begitu pula dengan saya. Awalnya saya berposisi menyerang, namun saya disuruh menjadi gelandang bertahan. Saya sempat kikuk. Toh, badan saya sangat kurus dan kecil. Apalagi kalo disuruh berduel dengan pemain yang lebih besar. Pasti saya keok. Tapi, Mas Dedy selalu menyemangati dan memberi trik-trik bagaimana menjadi gelandang bertahan yang baik.

Dan akhirnya pun saya menikmati peran tersebut. Begitu pula dengan adik saya. Bahkan adik saya pernah menyabet kiper terbaik dalam sebuah turnamen di UNY. Dia pernah menahan 4 tendangan penalti dalam drama adu penalti. Sedangkan saya mulai mengerti kenapa saya ditempatkan di gelandang bertahan oleh Mas Dedy. Kaki sebelah kanan saya yang sedikit lebih panjang daripada kaki kiri menjadi penyebabnya. Katanya itu menjadi kelebihan saya dalam mengambil bola dari pemain lawan.

Saya kadang agak aneh dengan cara berpikir mas Dedy. Keputusan dalam menempatkan pemain, metode latihan yang terkadang unik dan pilihan strategi pada saat sebuah pertandingan resmi. Tapi kami semua anak selalu hormat dengan apa yang diucapkan oleh Mas Dedy.

Saya jadi berpikir, seorang pelatih pasti selalu jeli dan berani dalam hal mengambil keputusan. Dan keputusan tersebut meskipun aneh, tapi pelatih berani jamin bahwa yang dilakukannya adalah benar. Dan Mas Dedy mampu melakukan tersebut.

Sekarang Mas Dedy mungkin sudah pensiun. Atau mungkin masih aktif melatih sepakbola. Saya tak tahu kabarnya. Saya hanya bertahan di Puspor selama 2 tahun. Ibu saya melarang melanjutkan aktivitas bola karena saya dihadapkan unas SD. Tapi saya sangat berhutang budi dengan Mas Dedy. Ia yang mampu mengetahui dengan detail kelebihan dan kekurangan setiap anak. Dan disaat selesai latihan, Mas Dedy selalu menasehati anak-anaknya dengan sebuah kalimat.

“Kalo bermain bola, bermainlah dengan bahagia”

Pramuka, Pranikah, dan Pernikahan

Sayang, Reisa dan Aham mau nikah !!!

Kalimat tersebut terdengar cukup kencang di telinga. Tubuh saya yang sedang tertidur lelap mendadak bangun mendengar kalimat itu. Kaget. Istri saya tampak kegirangan dan senyum bahagia mendengar kabar tersebut.

REISA-AHAM. Saya mengenal pasangan tersebut batu sekitar 2 tahun. Mungkin bahkan benar-benar mengenalnya hanya sekitar 1 tahun lebih. Saya lebih dulu kenal Reisa di kios Reisa Garage. Saat itu, saya dibawa oleh istri saya. Katanya, Reisa adalah sahabatnya selama 12 tahun. Cukup lama untuk pertemanan antar sahabat. Saya punya teori yang mungkin boleh anda percaya boleh tidak. Jika anda berteman dengan seorang sahabat dan terus menjalin komunikasi lebih dari 7 tahun maka boleh disebut ia adalah sahabat sejati anda.

Reisa mengenakan celana panjang berwarna biru awan dipadu dengan kaos polos lengan panjang berwarna putih. Oh, ya tak lupa ia memakai kerudung hitam. Ditambah pula dengan senyumnya yang menunjukkan kawat giginya. Perempuan tersebut blasteran Jawa dan Medan. Itu tampak dari namanya yaitu Reisa Nurma Boruregar. Ia mengelola bisnis pakaian yang diberi nama Reisa Garage. Itulah awal pertemuan saya dengan Reisa.

Kemudian, saya kenal Aham saat mengunjungi kios Reisa Garage untuk ketiga kalinya. Tinggi dan gagah. Dua kata tersebut yang terlintas dalam benak saya jika bertemu dengannya. Ia mirip sama Reisa. Blastrean. Bedanya, Aham adalah blasteran Jawa dan Ambon. Kulitnya legam dan selalu cekatan dalam bertindak. Apapun. Menyetir, memindahkan barang, maupun makan.

Pertemuan Reisa-Aham terinisiasi oleh kegiatan Pramuka. Cinta lokasi yang membuat mereka akhirnya menjalin kasih. Jalinan kasih mereka terhitung cukup lama. Hampir 8 tahun. Tangis, tawa, sedih, dan tetes air mata bahagia pernah dilalui pasangan tersebut. Mulai dari pertempuran rasa yang menyebabkan cinta mereka sempat merenggang hingga kebahagiaan Reisa-Aham ketika mendapat restu dari Ibu Reisa.

Restu dari Ibu Reisa yang membuat akhirnya mereka membulatkan tekad untuk menikah. Namun sebelumnya, mereka melakukan lamaran pada bulan September 2016. Aham datang bersama dengan Bapak, Ibu, dan kakak sepupunya ke rumah Reisa. Mereka disambut oleh bapaknya Reisa, pakdenya dan keluarga lainnya termasuk Reisa. Lamaran dimulai.

Kakak sepupu Aham [Mas Deva] memberikan pengantar maksud dan kedatangan beserta rombongan. Mas Deva memilih memakai bahasa Jawa karena disitu terdapat pemangku RT dan RW. Pengantar tersebut diterima. Pak RT menerimanya dengan senang hati. Begitu pula dengan bapak Reisa. Acara lamaran tersebut [tampak] selesai.

Namun tunggu dulu,

Wak Domo yaitu pakdenya Reisa agaknya kurang paham dengan penjelasan dari Mas Deva dan Pak RT. Blio justru memberikan ketidaksetujuan pernyataan dari masing-masing pihak. “Aduh, masa lamaran ditolak ?” pikiran saya terlintas kalimat tersebut. Sepertinya Wak Domo menyatakan ada yang perlu dikonsolidasikan antara masalah agama dan adat. Pak RT menjelaskan dengan sabar. Begitu pula dengan mas Deva. Saya dan Amal hanya bisa geleng-geleng kepala. Reisa tegang bahkan sampai mbribiki. Istri saya dan Nipong berusaha menenangkan Reisa. Aham berulangkali mengelap dahi dengan tisu

Setelah perdebatan yang cukup melelahkan, akhirnya Wak Domo mulai paham. Ada ketidaksepahaman antara mereka dengan pakde. Akhirnya lamaran direstui. Makanan dihidangkan. Senyum terkembang. Acara berakhir dengan senang.

Reisa-Aham membentuk tim pernikahannya yang terdiri dari saya dan istri, Amal dan Nipong serta Desty. Mereka mempersiapkan segala pernikahannya dengan mandiri. Mulai hantaran, mencari tempat pernikahan hingga memesan dekorasi pernikahan. Rapat diadakan sampai 5x. Persiapan yang dilakukan calon kedua mempelai benar-benar matang. Mereka hampir tidak melewatkan kesalahan sekecil apapun. Detail. Rigid. Tepat.

Pernikahan Reisa-Aham merupakan pernikahan ke 28 bagi sahabat Clara. Menurut istri saya, pernikahan mereka merupakan pernikahan fenomenal. Sampai-sampai ada grup yang dinamakan “Baromij fenomenal Jogja”. Mengapa dinamakan begitu ? 1) Mereka adalah pasangan yang menjalin kasih cukup lama diantara sahabat Clara lainnya; 2) Pernikahannya diprediksi akan dihadiri hampir seluruh sahabat Clara; 3) Pasangan tersebut merupakan pasangan pamungkas dari konsulat Jogja.

H-1. Sahabat Clara mulai berdatangan. Ada Uwie, Rani, Hana, Sevy, Chemi, Zulfa, Lala, Ohe’, dan Hiday. Mereka ditempatkan di paviliun khusus daerah Klitren Lor. Hal tersebut sengaja dipesan Reisa-Aham supaya mereka saling tatap muka, bersenda gurau, hingga tertawa ria dalam paviliun tersebut.

Kami dari tim pernikahan Reisa-Aham sudah bersiap selepas maghrib. Desty berencana untuk menginap di tempat pernikahan. Sedangkan yang lain tidak. Masing-masing pulang ke kediaman. Dalam persiapannya tersebut, kami dibantu oleh Kirei Production selaku dekor pernikahan dan Westlake Resort dan Resto selaku penyedia tempat pernikahan. Acara dibuat sedemikian menarik, rapi, dan asyik buat berfoto.

Minggu, 2 Oktober 2016. Semua persiapan telah matang. Aham menggunakan setelan putih-putih. Begitu pula dengan Reisa. Tak ketinggalan sahabat Clara menggunakan setelan putih dipadu dengan jilbab kuning. Keluarga dari kedua calon mempelai mulai berdatangan tepat pukul setengah 8 pagi. Penghulu dan pihak yang berwenang juga telah hadir. Acara akan segera dimulai.

Mas Deva menyampaikan pengantar dan juga menyerahkan seserahan yang telah dipersiapkan. Bapak Roy yaitu Bapaknya Reisa menerima seserahan tersebut. Acara berlangsung secara singkat namun khidmat. Kemudian mereka segera diarahkan ke dermaga, tempat dimana janji suci akan dikunci.

Reisa tidak bergabung ke dermaga. Ia menunggu bersama istri saya di bagian belakang dermaga. Rencananya, ia akan bergabung dengan Reisa selepas kata kunci akan dikumandangkan. Para sahabat dan kerabat dekat berdiri di pelataran samping dermaga. Keluarga kedua calon mempelai duduk menghadap ke Aham yang telah duduk di meja pernikahan.

Acara tepat dimulai pukul 08.45. Penghulu dan Bapak Roy sudah bersiap. Aham tidak tampak tegang melainkan kepanasan. Matahari mencoba membakar kulitnya dan menguji kesabaran Aham. Tapi Aham tampak tak peduli. Ia benar-benar fokus untuk mengucapkan satu kalimat satu tarikan nafas.

“Saya terima nikah dan kawinnya Reisa Nurma Boruregar binti Roy Sandar Siregar untuk saya sendiri dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai.” Kalimat tersebut diucapkan oleh Aham dengan satu hentakan dan satu tarikan.

“SAH, SAH, SAH.”

reisa-aham

Kebahagiaan Reisa-Aham by Inline Photography

3 kata tersebut menggaung di langit hingga memenuhi cakrawala. Matahari kemudian sedikit mengurangi sinarnya. Burung-burung terbang dari timur ke arah barat. Ikan menari. Reisa pun melangkah dengan anggun menuju dermaga. Namun, memang persiapan yang direncanakan dengan matang tetap saja ada yang sedikit terlewat. Reisa tidak disediakan tempat duduk. Untung, ada yang segera tanggap dan memberikan kursi kehormatan pada Reisa. Kan ndak lucu kalo Aham duduk sedangkan Reisa berdiri. Tidak pas jika dilakukan di dermaga. Lain halnya jika di kamar pelaminan.

Pelepasan balon segera dilakukan. Inline photography didapuk sebagai tim yang mengabadikan momen tersebut. This Session melengkapinya dengan lagu Marry Me dari Bruno Mars. Sungguh momen yang tak terlupakan bagi Reisa-Aham. Momen yang dihadirkan hanya sekali seumur hidup. Momen yang menyimpan tangisan dan meluapkan kebahagiaan di saat bersamaan.

claresta

Pelepasan Balon Reisa-Aham disaksikan Sahabat Clara by Inline Photography

Meminjam kalimat dari Hanna Zakiya, “Selamat memasuki titik 0 kilometer kehidupan rumah tangga.”