Month: December 2016

Hubungan Internasional

Saya tak pernah menyangka dan berharap untuk masuk ke dalam jurusan HI. Toh, karena jika bukan bujukan dan rayuan ibu saya, maka saya tidak akan masuk ke dalam jurusan tersebut. Katanya, jurusan HI akan menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Itu saja.

Ketika saya masuk, ternyata saya masuk ke dalam generasi ke 2. Ini artinya jurusan HI baru saja didirikan. Ya, memang benar adanya. Jurusan HI Universitas Brawijaya baru saja didirikan pada tahun 2007. Jurusan yang tergolong muda diantara seluruh jurusan di Universitas Brawijaya.

Sebagian dari kami memang benar-benar ada yang tertarik masuk HI. Sebagian lagi ada yang terjerumus alias salah jurusan. Dan yang paling unik ada yang masuk berdasarkan bujukan rayuan teman-temannya. Ya. Biar kalo ditanya orang-orang nantinya orang-orang bakalan berkata

“Wah masuk HI, hebat ya.”

“Wah, jago bahasa Inggris dong.”

“Wah bakal jadi diplomat nih.”

Tapi itu hanya klise belaka. Tidak semua impian tercipta begitu saja.

Ada yang kaget ketika kami harus belajar politik. Ada yang malas jika harus membaca jurnal bahasa Inggris. Baca buku saja sudah malas, kok ini disuruh membaca jurnal bahasa Inggris. Mending ditutup saja bukunya. Begitulah kata seorang teman gila saya.

Sebagian dari kami memang mengalami gagap budaya. Hanya beberapa dari kami yang memang benar-benar menguasai mata kuliah. Kalo dosen sudah memberi pertanyaan kepada kami, jelas pasti hanya teman-teman itu saja yang bisa menjawab. Kami bukannya tidak mau menjawab. Kami memang benar-benar tidak bisa menjawab. Dan parahnya, kami hanya terdiam, duduk termangu saja sambil utak-atik hape. Ya itu memang sebagian dari kami.

Sebagian dari kami memang seperti benar-benar tidak niat kuliah. Kalopun ada yang benar-benar kuliah mungkin itu kesalahan prosedur.

Kami pernah melakukan kenakalan. Sebagian dari kami plagiat tugas dari salah satu teman hingga akhirnya kami dipanggil oleh dosen. Jelas dimarahi. Itu kami lakukan pada semester awal. Sebagian dari kami membolos pada salah satu pelajaran hanya untuk mengikuti kegiatan futsal. Parahnya lagi, yang bermain hanya sebagian namun yang lain mengaku sebagai suporter. Alhasil dosen tersebut marah tak karuan.

Ada lagi yang lebih unik. Sudah tau ada jadwal presentasi, bukannya hadir presentasi malah kami merokok di kantin. Jelas, dosen tersebut ngamuk. Sudah tau telat masuk, bukannya meminta maaf pada dosen malah memberi segelas teh pada dosen tersebut. Jelas, dosen tersebut ngamuk. Sudah tau ada yang disuruh jemput dosen, malah ndak dijemput. Akhirnya kelas kami kosong. Besoknya dosen tersebut jelas marah dan ngamuk.

Itu belum seluruhnya. Kami pernah hampir bertengkar dengan kakak-kakak kelas hanya masalah himpunan. Padahal masalahnya kalo dipikir ya sepele. Tapi beruntung ada ibu dosen yang mau melerai kami. Kami pernah ngamuk dengan adik-adik kelas karena masalah futsal. Lagi-lagi masalahnya sepele. Kami kalah dari mereka.

Kami pernah merasakan harus berebutan sinyal internet hanya gara-gara berebut jadwal mata kuliah. Sudah nilai KHS tidak tuntas, kok mengurus KRS malah dilepas. Ya itulah generasi-genarasi awal.

Mungkin hampir sebagian dari kami melakukan kecerobohan termasuk dalam penulisan proposal magang. Terutama pada paragraf pertama dan kalimat pertama. Ya, hampir sebagian bahkan mungkin semua menuliskan kata dan kalimat tanpa mengubah bentuk apapun. Tapi ya itulah kami.

Kami pernah kehilangan beberapa teman terbaik kami.

Almarhum kakak Albert. Beliau adalah sosok yang selalu riweh kalo dalam hal futsal. Tapi itu memang gayanya. Dan saya selalu mengingat kata-katanya seperti ..

“Rek, awakmu kudu ngene lek main. Gak isok lek ngono.”

Kami juga kehilangan sahabat terbaik. Almarhum Angga. Mungkin kalo ndak ada dia, kita gak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi juara 1 olahraga Basket di FISIP UB. Dia yang waktu itu berkata..

“Hey rek, lek main seng nggenah. Kok kiro aku Tuhan a kok dikongkon main dewe?”

Hey teman, semoga kalian sedang tersenyum di alam sana. Sepurane lek ngrasani.

Sebagian dari kami ada yang terlibat cinta lokasi. Ada yang sampai pacaran kemudian putus di tengah jalan. Ada yang sampai pacaran kemudian menikah. Namun ada yang lebih unik. Ada yang belum sampe pacaran tapi menganggap itu sudah seperti pacaran. Tentu saya tak akan menyebutkan siapa-siapa itu. Karena mungkin kamu termasuk pengamat bahkan pelaku.

Itu memang kekonyolan-kekonyolan yang terjadi pada kami. Tapi saya selalu percaya. Dengan tidak mengecilkan peran adik-adik kami, ketiga generasi awal dari kami yaitu generasi 2007, generasi 2008 dan generasi 2009 adalah generasi yang telah merasakan bagaimana susah dan senangnya berada di jurusan HI. Generasi yang paham seluk beluk baik dan buruknya HI. Kalo saya salah, monggo disanggah.

Tentu saja jika kami diizinkan bertemu kembali dalam satu waktu dan satu tempat, mungkin akan ada banyak cerita yang lebih banyak. Dan saya yakin para dosen jika diberi kesempatan maka mereka juga akan mengeluarkan cerita tentang kejengkelannya terhadap kami. Tentu saja kami akan tertawa, tersenyum dan mungkin sedikit malu.

Tentu saya tak mungkin menceritakan seluruh aib, kekonyolan, dan kesenangan disini. Tak akan ada habisnya. Karena setiap dari kami pasti memiliki cerita. Cerita yang tentunya memiliki tangis, tetes air mata maupun tawa bahagia.

Ini hanya sebagian dari kerinduan kami kepada jurusan tercinta. Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Jurusan yang nantinya akan melahirkan generasi-generasi lebih hebat daripada kami. Jurusan yang selalu terus berkembang dari tahun ke tahun. Dan jurusan terbaik yang pernah kami jalani. Kami selalu percaya akan hal itu.

HI One, HI Hail !!!

Yogyakarta Rasa Jakarta

tugu-ok

nknownman-photography/kotajogja.com

Jogja Istimewa. Saya kira tak ada yang sanggup menyanggah slogan tersebut. Yogyakarta memang benar-benar istimewa. Mulai dari budayanya, orangnya, bahkan tempat wisatanya.

Banyak lagu yang mengungkapkan bagaimana indah dan eloknya Yogya. Mulai dari KLa Project ‘Yogyakarta’, Jogja Hip Hop Foundation ‘Jogja Istimewa’ hingga grup musik indie macam Everyday ‘Kapan ke Jogja Lagi’. Semua lagu tersebut mengungkapkan Yogya sebagai kota rindu dan bahagia bercampur haru menjadi satu.

Yogyakarta memang Istimewa. Dari sekian banyak kota di Indonesia, hanya dua kota yang mendapatkan sebutan Daerah Istimewa. Selain Aceh, satu lagi ya Yogya. Keistimewaannya tercermin bagaimana Yogya pernah menjadi wilayah perjuangan bagi Indonesia.

Yogyakarta bahkan pernah menjadi Ibu Kota Republik Indonesia, walaupun hanya dalam rentang waktu singkat. Hanya empat tahun dari 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949.

Kalau mau membaca sejarah Yogya tempo dulu, silaken anda menelisik tulisan yang epik dari Abdurrahman Surjomihardjo tentang Sejarah Sosial dari tahun 1880-1930. Atau, mungkin bagi anda yang ingin mengetahui asal-usul penamaan Yogyakarta dan Malioboro, silaken membaca tulisannya Peter Carey, sejarawan asal Inggris.

Itu tadi sedikit ulasan tentang Yogya. Sekarang saya mau nanya, (masih) pantaskah Yogya menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia?

Ya, belakangan ini, banyak berita yang gencar untuk menggantikan kedudukan Jakarta sebagai ibu kota. Ada beberapa kota yang digadang-gadang layak menjadi ibu kota, antara lain Surabaya, Semarang, Yogyakarta, hingga Palangkaraya.

Namun, menurut pengamatan saya – sekali lagi pengamatan saya – hanya Yogya yang pantas menjadi ibu kota. Ini keputusan subjektif. Mengapa saya bilang begitu? Karena saat ini Yogya memiliki kemiripan khusus dengan Jakarta. Baiklah, saya beri empat alasan mengapa Yogya (masih) pantas menjadi ibu kota negara.

jogjapos-com-ok

jogjapos.com

1. Macet

Kamu merasakan ndak beberapa tahun belakangan ini Yogya macet? Mau ke sana macet, mau ke sini padet. Akhirnya ada rekayasa lalu lintas seperti di Jl Tirtodipuran dan Jl C Simanjuntak. Dan, tampaknya akan ada rekayasa lalu lintas berikutnya. Entah daerah mana yang akan menjadi ‘korban’-nya.

Kalau Jakarta dipenuhi oleh pekerja, sementara Yogya dipenuhi pelajar. Bayangkan saja setiap pelajar selalu membawa kendaraan sendiri. Padahal, jumlah pelajar kian bertambah, bahkan lebih banyak yang menetap di Yogya. Keadaan ini diperparah, karena Yogya minim transportasi publik yang mumpuni.

Selain itu, jarak tempuh menjadi lebih panjang. Biasanya 20 menit. Kini menjadi 30 menit. Biasanya berangkat jam 06.30. Kini harus berangkat lebih pagi, paling lambat jam 06.15. Kalau nanti jalan lingkar (ring road) bertambah macet, berarti Yogya adalah imitasi Jakarta.

2. Apartemen dan Hotel

Wah, ini perkembangannya sangat cepat. Dulu sih penolakan cuma kepada hotel. Sekarang berlanjut ke apartemen. Saya tak akan menyebutkan apartemen mana yang telah dan akan dibangun. Cuma tak sedikit bahkan hampir sebagian pembangunan apartemen mendapat penolakan dari warga lokal.

Anda bisa lihat di berbagai sudut Yogya, banyak spanduk yang berisikan penolakan. Tapi kenyataan berbicara lain. Tetap saja apartemen kian bertambah. Bahkan, konon, sebagian apartemen sudah terjual. Sedikit ironi. Meskipun banyak penolakan, namun banyak pula peminat apartemen.

Kalau hotel, wah ini sudah jamak. Penolakannya banyak sekali. Tapi ya itu. Kalaupun dibangun, ya tetap laris hotelnya. Apalagi kalau jadwal libur panjang. Bisa dipastikan hampir semua hotel telah habis dipesan.

Jumlah hotel mencapai 1.160. Itu catatan Perhimpunan Hotel tahun 2013. Jumlah itu jelas bertambah. Dan, ndak mungkin berkurang. Karena sesungguhnya mengurus perizinan seperti itu lebih mudah daripada izin cuti liburan kantor.

3. Mal

Dulu mungkin anda hanya mengenal dua mal yang berdiri megah di Yogyakarta. Kalo ndak Mall Malioboro, ya Galeria. Sekarang sudah lebih banyak. Ada Ambarukmo Plaza, Jogja City Mall, Lippo Plaza, Sahid Mall, dan Hartono Mall.

Konsepnya malah jadi satu kayak di Jakarta. Apartemen, hotel, sekaligus mal. Kalaupun banyak penolakan, itu wajar. Toh, nantinya banyak juga yang memenuhi mal tersebut. Pelajar mana yang tak tergiur dengan mal di era saat ini?

4. Banjir

Nah ini keluhan juga dari masyarakat Yogya dan sekitarnya. Ada yang bilang curah hujan yang terlalu tinggi. Ada juga yang bilang pemanasan global. Tapi tak jarang, ada yang bilang kalau banjir adalah efek domino dari alasan No 2 dan 3.

Entah kebetulan atau secara tak sengaja, memang pusat-pusat banjir berada di lingkungan apartemen, hotel, dan mal. Mungkin mereka lupa tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Ah, tapi tak mungkin. Wong, kalau pembangunan apapun harus melewati syarat AMDAL yang ketat.

Tapi kenapa bisa terjadi banjir? Hanya pengembang dan pemerintah yang tahu jawabnya.

Nah, alasan-alasan di atas adalah jawaban yang boleh dikatakan tepat untuk dijadikan pedoman pemerintahan kita. Pedoman untuk menyeleksi manakah kota yang pantas dijadikan ibu kota baru bagi Indonesia. Ini serius.

Jadi sudah siapkah warga Yogyakarta menjadi warga ibu kota?

Tulisan ini dimuat voxpop.id pada tanggal 19 Desember 2016

Pak Agus

Gondrong. Ceking. Bertopi. Jam tangan yang digunakan pada pergelangan tangan kiri tampak terlalu besar. Sekilas mirip dengan penulis buku Aleppo. Hanya satu perbedaannya. Ia berkumis lebat seperti almarhum Pak Raden. Sedangkan penulis tersebut tidak.

Ia berbicara tentang Jakarta cukup lancar. Perkembangan jalan tol, mall, apartemen selalu diikuti dari tahun ke tahun. Ia paham betul mana daerah yang dulunya lengang sekarang berubah menjadi macet. Daerah mana yang benar-benar resapan namun sekarang berubah menjadi daerah banjir. Daerah mana yang dulunya hutan hijau namun sekarang berubah menjadi hutan beton.

Ia tidak prihatin. Hanya terdiam. Kemudian ia menunjuk sebuah daerah yang dulunya bekas resapan. Tangannya cukup tegas ketika menunjuk daerah tersebut. Merenung. Mengingat masa dahulunya bahwa Jakarta pernah menjadi hijau. Jakarta yang dulunya juga diagung-agungkan memiliki budaya betawi sekarang hampir punah. Banyak anak-anak Jakarta tergerus identitasnya. Terutama pada budaya non-Betawi.

Matahari menyengat. Asap membumbung ke angkasa. Cuaca dan hawa sangat panas tak cocok untuk beraktivitas. Namun ia sama sekali tak mengurangi nilai aktivitasnya. Ia terus mengantar dan menjemput kemana saja yang diminta oleh majikannya. Ia sudah bergelut dengan profesi tersebut lebih dari 20 tahun. Hanya mengantar dan menjemput. Tak lebih dari itu.

Jikalau ada yang memberi uang tambahan, ia menolak. Jikalau ada yang ingin memotret dirinya, ia menghindar. Jikalau ada yang menyuruhnya mandi, ia berlari sekencang-kencangnya. Itulah Agus. Sang Sopir.

Kini ia tinggal di pinggiran luar Jakarta. Kota Bekasi. Kota yang merupakan daerah industri. Kota yang merupakan pusat dari kemacetan seluruh Jabodetabek. Terutama pagi dan sore hari.

Menikmati Keberagaman yang ‘Njlimet’ dan ‘Mbulet’ di Dalam Keluarga

makan-bersama

Sebab saya memang bukan ahli nujum, maka tentu saya tak pernah bisa menebak, apa yang kira-kira saat ini anda inginkan, Namun, jika kebetulan saat ini anda sedang menginginkan cerita yang cukup njlimet dan mbulet perihal silsilah dan keberagaman di dalam keluarga, maka ijinkan saya untuk menawarkan cerita ini kepada anda.

Saya Jawa sedikit Tionghoa. Tionghoa di bagian mata. Sedangkan lainnya tidak seperti orang Tionghoa kebanyakan. Mata saya sipit sedangkan kulit saya sawo setengah matang. Kalo orang Barat bilang, saya berkulit eksostis. Entah itu merendahkan atau memuji.

Saya lahir di Jakarta. Ibu saya asli Betawi. Bapak saya asli Surabaya. Jadi kalo saya misuh, saya bisa dua bahasa. “Pe’a” bisa, “Jancok” pun monggo.

Kakek dan nenek saya dari pihak Ibu adalah keluarga Solo. Beragama Hindu. Dulunya, ibu saya adalah orang Hindu. Karena menikah dengan bapak saya yang beragama Islam maka ibu kemudian pindah ke Islam. Begitu pula dengan ketiga adik ibu. Karena bersentuhan dan menikah dengan orang Islam, maka mereka pun pindah juga ke Islam. Lain halnya dengan kakak ibu yaitu bude yang masih beragama Hindu.

Anak bude saya ada tiga. Semuanya berbeda dalam hal keyakinan. Anak pertama karena menikah dengan orang Islam Padang maka sepupu saya tersebut pindah ke Islam. Anak kedua karena menikah dengan orang Tionghoa Buddha maka yang ini pindah ke Buddha. Anak ketiga karena menikah dengan orang Katolik maka ia menjadi Katolik. Lalu bagaimana dengan bude dan pakde saya? Tetap beragama Hindu.

Itu saya baru cerita keluarga kandung dari ibu saya. Kalo sepupu ibu saya malah lebih banyak lagi. Nenek saya memiliki 14 saudara. Dan tiap saudara memiliki 5-6 orang anak. Jadi bayangkan berapa sepupu dari ibu saya? Ya. Benar sekali. Sekitar 90 bahkan 100 sepupu, jumlah yang sangat cukup untuk mendirikan yayasan pendidikan sendiri. Maklum, zaman dulu belum mengenal KB. Jadi ya digenjot terus selama masih bisa. Lha wong enak kok.

Diantara sekian banyak sepupu ibu tersebut, masing-masing punya pilihan agama yang beragam. Bahkan salah satunya adalah Romo yang kini sudah almarhum. Salah satu Romo tertua di kota Malang, bahkan mungkin di Indonesia.

Eh, ada lagi. Kakak dari kakek saya dulunya adalah Dirjen Bimas Katolik. Walaupun begitu kakek saya tetap beragama Hindu.

Ini belum seberapa. Masih ada silsilah yang lain. Tapi tenang, saya nggak akan menceritakannya sekarang disini, sebab saya sadar, tujuan anda baca Mojok adalah untuk merenggangkan pikiran, bukan malah untuk mengerutkan dahi.

Nah, perihal keberagaman yang begitu njlimet di lingkungan keluarga saya, apakah ada masalah? Jawabannya nggak ada, ya, sama sekali nggak ada. Lalu bagaimana dengan perayaan hari besar?

Begini. Kami selalu merayakannya bersama-sama. Baik itu Idul Fitri, Natal, Nyepi, maupun Waisak. Tak ada pertentangan di dalam keluarga saya. Semua menikmati. Menghormati. Menghargai ragam budaya. Agama. Ras. Dan tetek bengek lainnya.

Kami nggak ada masalah. Toh kata Pak Jokowi, “Mayoritas melindungi Minoritas, Minoritas menghormati Mayoritas.” Masalahnya adalah siapa yang menjadi mayoritas dan siapa yang menjadi minoritas? Ah itu juga tak penting. Wong kami tiap tahun selalu merayakannya bergantian kok. Bersama-sama pula.

Seperti sekarang ini, misalnya. Saat bulan Desember datang, bulan musimnya Natal. Rumah-rumah sepupu yang beragama Katolik akan menghiasinya dengan ornamen Natal. Ada pohon, sinterklas, lampu dan masih banyak hal lainnya. Tentunya, kami tak hanya antusias membantu. Kami juga akan saling mengirimkan berbagai kudapan ataupun makanan berat.

Saat hari Natal tiba, kami akan berkumpul di rumah sepupu saya. Saling mengucapkan selamat hari Natal. Begitupun saat idul Fitri, kami akan berkumpul di rumah salah satu keluarga yang Muslim untuk kemudian mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, untuk kemudian makan bersama.

Di momen-momen itulah kami benar-benar merasakan kebahagiaan berkeluarga dalam perbedaan yang sesungguhnya, sekaligus menikmati hak sepenuhnya untuk menjadi umat dalam agama yang kami yakini, dimana sebelum makan, kita semua berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Sebab, kami meyakini, bahwa yang boleh ditukar-tukar dan diicip-icip hanyalah makanan, bukan keyakinan. Sama seperti kami meyakini, bahwa perbedaan ada untuk menyatukan, bukan untuk saling menyakiti atau menghancurkan.

Jadi, kapan anda ada waktu? saya mau melanjutkan cerita soal silsilah keluarga saya yang lain, yang tidak kalah mbulet dan njlimet dari yang ini.

Tulisan ini dimuat di Mojok.co pada tanggal 9 Desember 2016

Sheila On 7

Sheila on 7. Bagi saya sheila on 7 adalah kebanggaan. Tidak hanya bagi saya, kamu, Jogjakarta melainkan juga untuk Indonesia. Band yang terbentuk pada tahun 1996 kini menapaki 20 tahun karirnya.

Album pertama yang muncul pada tahun 1999 langsung meledak di kalangan generasi saya. Lagu Dan adalah salah satu lagu yang paling ngehitz. Hampir semua orang pada generasi saya tak ada yang tak tahu lagu Dan. Dulu demi menonton video klip lagu Dan, saya rela nyolong waktu untuk menonton tv di ruang perpustakaan saat pesantren kilat SD berlangsung. Lebay? Wong, namanya juga suka. Apapun dilakukan.

Saya tidak sendiri. Teman-teman saya banyak yang mengikuti langkah saya. Ternyata memang generasi seumuran saya tergila-gila dengan Sheila On 7. Dan mungkin juga kamu yang membaca status saya ini.

Saya jadi ingat ketika pada 26 Oktober 2011, kami selaku Homeband Fisip UB ingin membuat acara peluncuran album perdana Homeband Fisip UB dengan mengundang salah satu band nasional. Sheila On 7.
Saya masih ingat ada 2 teman saya yang mengusulkan untuk mengundang Sheila On 7. Alhasil, cibiran pun datang dengan beraneka ragam.

Saya bahkan mendapat cibiran ketika mencoba menjualkan tiket kepada salah satu dosen saya. Ia berkata, “Ngapain Mod mengundang band di zaman saya? Emang nanti ada yang nonton?. Tentu saja gelak tawa tercipta diantara kami walaupun saya agak sedikit dongkol. Tapi mau bagaimana lagi memang jarang pentas seni yang mengundang Sheila On 7.

Ada yang bilang band tak laku. Ada yang bilang band usang. Dan yang lebih mencengangkan ada yang bilang band tahun 90an sudah ndak jaman di masa kini. Tentu mereka sebagai minoritas harus berdebat dengan mayoritas ingin mendatangkan salah satu band nasional juga yang cukup meledak pada tahun tersebut. Tentu saya tak akan menyebutkan siapa band tersebut.

Namun pada akhirnya, setelah rapat berulang kali, kami sepakat untuk mendatangkan Sheila On 7. Ketegangan, keresahan, dan kecemasan memang sedikit melingkupi kami. Ini jelas resiko. Mengundang band usang yang mungkin hanya bisa dinikmati generasi saya bahkan dosen-dosen saya.

Namun tanpa diduga. Ketika kami menjual tiket sebanyak 2000 tiket, seluruhnya ludes terjual. Hanya dalam hitungan hari. Kemudian kami menjual lagi 1000 tiket hanya beberapa jam menjelang konser dimulai. Tahu apa yang terjadi?

Waktu itu saya kebagian untuk menjadi penjaga tiket. Loket baru dibuka pada pukul 9 pagi. Namun antrian mengular sejak jam 7 pagi. Saya pikir gila juga. Ternyata masih banyak fans sheila on 7 di Malang. Ketika loket mulai dibuka, tiket mulai dibeli dengan maksimal 10 tiket untuk 1 orang. Dan hanya dalam 2 jam, 1000 tiket ludes terjual. Top berbintang.

Kerumunan mulai menyemut menjelang maghrib. Para penonton tampak antusias. Ada yang pake kaos Sheila Gank. Ada yang pake blangkon. Ada yang pake kaos I love Jogja. Ada pula cabe-cabean. Dan ada pula keluarga cemara.

Beberapa dari kami yaitu anak-anak Homeband FISIP UB unjuk kebolehan dengan membawa lagu ciptaan sendiri. Ini juga menjadi ajang promosi bagi Homeband FISIP UB. Terutama kepada masyarakat Malang.

Setelah kami ‘pamer’ dalam waktu 1 jam, tiba saatnya band utama tampil. S07. Formasi lengkap yang terdiri dari Duta, Eross, Adam, dan Brian. Tersenyum dan tertawa serta tingkah kocaknya.

“Talames Malam, Kera-kera Ngalam!!!!”

Teriakan Duta disambut dengan gemuruh penonton. Tepuk tangan. Teriakan. Lambaian. Atmosfer yang luar biasa. Saya saja merinding. Akhirnya lihat S07 kembali.

Mereka menghentak dengan lagu “Pasti Ku Bisa”. Sayangnya, banyak dari mereka tak begitu hafal dengan lagu ini. Alhasil masih banyak yang belum jingkrak-jingkrak. Hanya berdiri dan terpaku diam karena pesona S07.

Ketika lagu BKTDS (Bila Kau Tak Di Sampingku) dengan ketukan drum dari Brian yang cukup khas, penonton mulai menyanyi serempak tanpa dikomando oleh Duta. Sepertinya mereka hafal di luar kepala untuk menyanyikan lagu tersebut. Termasuk dosen saya.

Berturut-turut lagu Kita, Seberapa Pantas, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki dinyanyikan oleh Om Duta. Ketika lagu DAN hanya dimainkan oleh hentakan drum dari Brian, semua penonton bernyanyi. Duta dan Eross pun hanya tersenyum lalu duduk bersimpuh. Seketika itu juga, penonton teriak histeris dan suara mereka lebih kencang. Tak hanya penonton bahkan kami sebagai panitia larut ke dalam suasana tersebut.

“Malaaaang!!!”

Lagi-lagi teriakan Duta disambut histeris penonton. Saking histerisnya di depan saya, ada yang mencium lambang S07 sambil menangis.

Ketika saya keluar dari panggung, saya melihat ada seorang ibu terduduk sembari memegangi perutnya. Rupanya ibu tersebut sedang hamil. Kemudian saya mendekat dan bertanya.

“Maaf ibu, ada keperluan apa bu?”

“Maaf mas sebelumnya, saya kangen S07, sudah lama ndak ngeliat S07 manggung di Malang. Tapi saya nggak sanggup berdiri, saya duduk di dekat pintu aja. Kasian calon bayi saya, mas.” Ujar ibu tersebut sembari memegang perutnya.

“Saya diantar suami saya, ia ndak ikut. Saya cuma disuruh duduk disini aja dan ndak boleh masuk sama suami saya mas. Maaf mas, saya boleh minta tolong?”

“Apa yang bisa saya bantu bu?”

“Saya lagi ngidam mas, kalo bisa nanti Mas Duta cium perut saya. Harapannya kelak anak saya bisa jadi seperti Mas Duta.” Ujar ibu sembari memohon.

Deg. Glek. Mulut saya terkunci. Bingung mau jawab apa. Tak menyangka ada fans semacam ibu tersebut. Kalo dibiarkan, kasian ibunya. Konon katanya kalo ngidam harus diturutin. Ntar takut anaknya ileran. Tapi kalo dibolehkan, caranya begimane. Terlebih penjagaan ketat dari bapak-bapak satpam.

Kemudian, saya bilang ke salah satu bapak satpam. Mengutarakan maksud saya. Bapak satpam tersebut kemudian mengantarkan ibu untuk pindah ke pintu VIP. Harapannya agar Om Duta dapat dicegat dan bersedia untuk mencium perut ibu tersebut.

Saya kemudian masuk kembali. Ternyata sudah lagu terakhir. Melompat Lebih Tinggi. Wah gila. Benar-benar luar biasa S07. Personelnya lompat-lompat semua.

“Terima kasih Malang!!!”

Ucapan yang diteriakkan Om Duta menandai berakhirnya konser S07 di Malang. Konser yang luar biasa. Fantastis. Legenda. Setelah hampir 5 tahun lamanya tak ke Malang, S07 berhasil menuntaskan dahaga dari Sheila Gank (sebutan bagi fans Sheila On 7). Semua yang hadir tampak pulang dengan teratur dan bahagia. Penonton, panitia, satpam, bahkan ibu tersebut pulang dengan senyum sumringah.

“Dan, apabila esok, datang kembali”

Petikan lagu tersebut memang benar adanya. Akhirnya banyak pentas seni mengundang SO7 sebagai band utama. Terutama pada minggu-minggu berikutnya. Dan terutama di kota Malang.

Bahas bahasa

Berbahasa Indonesia adalah sumpah kita. Setidaknya hal tersebut dikatakan oleh pemerintah Indonesia kepada orang-orang yang sedang berjuang untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia. Mereka dapat disebut sebagai Diplomat Bahasa.

Pertama, kuasai Bahasa Asing dan kedua, prioritaskan Bahasa Indonesia.

Kedua hal tersebut yang selalu ditanamkan oleh pemerintah kepada para diplomat. Targetnya adalah internasionalisasi Bahasa Indonesia. Cukup ambisius. Tapi memang harus begitu. Kalo ndak begitu, kapan lagi Indonesia berkembang untuk menjadi negara maju?

Memang harus kita akui, kata dalam bahasa Indonesia kebanyakan dari bahasa lain. Seperti Wilayah (bahasa Arab) ekspor-impor (bahasa Inggris) senerek (bahasa Belanda). Namun, jangan salah sangka kalo bahasa mereka ada yang berasal dari bahasa kita. Contohnya.

Surga. Bahasa Arabnya adalah Firdaus. Bahasa Inggrisnya adalah Paradise. Sedangkan Paradise berasal dari kata Paradesa. Kata tersebut berasal dari bahasa Dravida. Konon katanya, bahasa Dravida adalah bahasa nenek moyang nusantara. Ini bukan soal cocokologi. Kalo saya salah, silakan bisa dicek ke BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).

Zaman sekarang gempuran bahkan terobosan untuk mempelajari bahasa Inggris sangatlah gencar. Nah, seperti yang dikatakan di atas. Kita memang harus bisa bahasa Inggris tapi selalu prioritaskan bahasa Indonesia.

Tetapi, terkadang kita lupa. Karena sudah terbiasa menggunakan bahasa Inggris, kita jadi lupa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Contohnya yang dialami teman istri saya sebut saja mbak Z di salah satu materi tentang wawasan Bahasa Indonesia.

“Maaf mbak, bisa minta tolong ambilkan pelantang?” Pemateri itu menunjuk ke mbak Z.

Mbak Z bingung. Tak menjawab. Menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Maaf mbak, boleh minta tolong ambilkan pelantang yang ada di meja mbak?” Sekali lagi pemateri itu menunjuk Mbak Z.

Kembali ia terkejut. Masih bingung. Dihadapannya hanyalah pensil, buku, gelas berisi air putih, dan mikrofon. Kemudian, ia sedikit ragu-ragu untuk mengambil mikrofon tersebut. Diangkatnya.

“Naah bawa kesini mbak. Teman-teman, tolong dibiasakan yaa, bahasa Indonesia dari mikrofon adalah pelantang.”

Sejak saat itu, para calon diplomat-diplomat bahasa dilatih untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia. Tidak hanya di dalam ruangan melainkan juga di luar ruangan. Hingga suatu ketika, ada peristiwa menarik yang dialami oleh lima orang wanita.

“Ayo rek, malam ini kita menyanyi bersama”. Kata mbak yang memakai baju merah.

“Dimana mbak? Ini sudah larut malam.” Mbak yang memakai kerudung putih itu bertanya.

“Di ANJING GIRANG”

Semua terkaget. Tempat macam apa yang dimaksud oleh mbak berbaju merah itu. Mereka saling menoleh. Mengernyitkan dahi.

“Iya, di anjing girang aja. Buka sampai jam 2 pagi kok.”

Sekali lagi mbak berbaju merah menegaskan. Dan mereka masih bingung. Berpikir. Karena penasaran, mbak yang memakai rok diatas lutut bertanya.

“Sebelah mana sih tempatnya mbak?”

“Itu loh depan restoran cepat saji yang berlogo M.”

Seketika itu mereka tertawa. Terbahak-bahak. Terpingkal-pingkal. Tak menyangka. Ternyata selama ini mereka tahu tempatnya. Bahkan sangat dekat dari tempat mereka menginap.

Apakah anda mengerti apa itu ANJING GIRANG ?

Ya. “HAPPY PUPPY”

Akhir dari BBKU III

Akhirnya tiba saatnya untuk memilih mana yang terbaik diantara peserta BBKU III. Sebenarnya ini jelas sebuah pilihan yang subjektif. Tapi toh, ada beberapa nama yang memang pantas atau layak mendapatkan yang terbaik diantara peserta-peserta lainnya.

1. Intania
Saya memang belum mengenal bahkan untuk sekedar bertegur sapa. Tapi saya memilih mbak Intan sebagai yang terbaik karena dedikasinya dan selalu konsisten untuk menulis BBKU Jilid III. Selain Levi dan Dewi, mbak Intan juga selalu menulis selama 30 hari. Sesuatu yang awesome untuk peserta yang baru pertama kali mengikuti BBKU. Selamat mbak Intan.

2. Angela Frenzia
Wah, ini orang sadis kalo nulis. Cadas, keras, dan lugas. Dari semua tulisannya saya paling suka yang ‘Ayah, Tuhan ada dimana?’. Tulisannya yang tentang kampung saru mbok dipanjangin. Kan bisa banget kalo dijadikan cerpen.

3. Maruti AHS.
Brilian. Kalo cerita bisa runtut banget. Kok bisa e mbak? Dan saya selalu menunggu tulisan-tulisanmu berikutnya lho. Menarik dan layak diikuti mbak. Apalagi tulisan tentang Jari-jari. Mantap.

4. Khak Levvis.
Wah ini junjungan saya dalam menelurkan ide. Ini orang terbuat dari linux kali yaa? Ada aja ide yang kadang susah untuk dinalar tapi kok ya blioh ini bisa memanifestasikan idenya. Tremendous human for KBM.

5. Stephanie.
Wah. Wih. Wuh. Saya ga bisa kasi komentar lagi buat tulisan yang satu ini. Cok banget dah !!!

6. Kakanda Wafiq
Kalo kakanda Wafiq memang selalu memperhatikan tulisan saya. Komentarnya itu lo menggigit dan menohok. Tapi kakanda memang orang yang paling baik dan jujur dalam mengomentari tulisan-tulisan saya. Kakanda, saya hormat padamu !!!