Month: May 2016

Satu Purnama di Jogjakarta

Handphone berdering. Lampu kamar dinyalakan. Istri saya mencoba mengecek handphonenya. Ada beberapa pesan masuk. Kemudian ia mulai sibuk membalas beberapa pesan tersebut. Tak selang beberapa lama, HPnya berdering agak panjang. Ninuch, salah satu anggota Clara menelepon. Ia mengabarkan akan menikah pada tanggal 20 Mei 2016 di Jogjakarta. Sesaat kemudian, Novia lompat dari tempat tidurnya karena merasa kaget sekaligus bahagia akan kabar tersebut.

Namun, dahinya sedikit mengernyit ketika HPnya dimatikan. Ia berpaling kepada saya dengan sedikit tatapan ragu. Bahunya sedikit terangkat ketika ia bilang, “Pi, bisa nggak yaa kita cariin dekor dan sound system buat nikahan Ninuch di Pundong ?”.

Saya terhenyak. Bimbang campur ragu dan sedikit tertantang. Saya terbiasa untuk dijadikan rujukan acara-acara yang mendadak. Namun, untuk persoalan ini saya belum pernah mengalaminya. Kami hanya diberikan waktu seminggu untuk mengurus hal tersebut. Weleh-weleh.

Saya mencoba mengecek kontak yang ada di HP. Kemudian, saya mencoba menghubungi beberapa kenalan saya. Sayang, hasilnya nihil. Asal anda tahu, antara tanggal 20-22 mei dipastikan banyak acara pernikahan. Kenapa begitu ? Cek kalender anda. Dalam waktu 3 hari tersebut, anda akan melihat bulan purnama yang sempurna. Mungkin Ninuch dan Ryan (calon suaminya) sedang mengejar purnama di Jogjakarta.

Mama saya menguping pembicaraan kami. Blio menyarankan untuk menghubungi tetangga sebelah. Well, di luar dugaan, ternyata Mbak Titin(tetangga sebelah) mampu menyanggupi permintaan kami. Berkah bagi kami, bagi kedua calon mempelai, dan tentunya keluarga besar Clara Forever yang akan hadir di Jogjakarta.

Segala sesuatunya mulai dipersiapkan. Pemilihan warna untuk dekorasi pelaminan, lagu yang pantas untuk acara tersebut dan konsep acara yang matang. Perlu anda ketahui, Ryan adalah seorang pria yang memiliki dua kewarganegaraan yaitu Lebanon dan Ostrali. Perawakannya besar, badannya tambun, kepalanya plontos. Tinggi sekitar 175cm dan berat badan mencapai 100kg. Mungkin bisa lebih. Tapi itu tidaklah penting. Karena yang penting cintanya sempurna kepada Ninuch. Seperti penggalan di lagu hits masa kini “Berada di pelukanmu mengajarkanku apa artinya kenyamanan, Kesempurnaan Cinta”.

 

***

 

H-1. Segala persiapan mulai matang. Ninuch sudah tiba di Jogjakarta pada hari Senin. Kemudian menyusul Ryan yang datang pada hari Kamis. Beberapa anggota Clafo berkesempatan hadir di Jogjakarta. Uwie dan Rani tiba di stasiun Lempuyangan dari Jakarta, sedangkan Hana juga tiba di sana  dari Surabaya. Savvy datang dari Malang dan Hiday meluncur ke Jogja dari Surabaya. FYI, Sejak beberapa bulan yang lalu Hiday telah dinobatkan sebagai Duta Kondangan Indonesia (DKI) oleh rekan-rekannya.

Mereka dijemput oleh Kang Amal dan Teh Nipong di stasiun. Langsung saja, mereka berenam diajak ke salah satu restoran legendaris Jogjakarta yaitu Raminten. Buat anda penyuka makanan dan minuman unik, maka anda wajib singgah ke restoran Raminten. Obrolan mengalir deras diantara anggota Clara. Maklum, kalo sudah kumpul dan bertemu, jangankan pramusaji , suaminya terkadang tak dihiraukan. Hahaha

Usai dari Raminten, mereka diantar Kang Amal menuju tempat Ninuch yang berada di Pundong, Bantul. Sekitar jam setengah 1 dinihari, mereka dikagetkan dengan sesosok wanita berambut panjang dengan memakai daster putih yang sedang berdiri di pinggir jalan.

Suasana sesaat menjadi mencekam. Terlebih malam itu adalah malam Jumat Kliwon !!!, mereka bebarengan mengucek mata, dalam hati meyakinkan penglihatannya, mungkin sambil berdzikir juga, sembari menguatkan diri, dalam hitungan detik Uwie mencoba mendekati. Usut-punya-usut-ternyata-wanita-tersebut-adalah-Ninuch. Dengan santainya ia berkata, “Maaf yaa, biar keliatan sama kalian.” Untung kang Amal sigap ngerem mobilnya, kalo ndak yaa berabe… Idemu sungguh magis, Nona Ninuch (eh, nyonya Reyen!).

Kang Amal balik ke rumahnya. Begitu pula dengan saya. Tentu saja, kami tidak ingin mengganggu “pesta” lajang mereka. Konon, “pesta” tersebut baru berhenti pukul 03.00 pagi. Toopp wess. Semoga acara nanti berlangsung lancar. Amiin.

Sekitar pukul 08.30 pagi, saya ditelpon oleh istri saya.

“Pi, bisa pinjem celana item, kemeja putih lengan panjang punya Ogi (adik saya) gak ?. Tanya istri

“Buat apa” ? Saya jawab.

“Ini lo Ryan (baca: Reyen) pakaian pernikahannya ndak muat. Kalo ada tolong segera kabari ya. Mendesak.” Pembicaraan terputus.

Weladalah. Gimana toh Ryan. Apa yo ndak fitting sebelumnya. Kalo mo cari H-beberapa jam yo susah. Kalimat ini terlintas di benak saya. Saya tanya adik saya. Ia malah ndak punya. Wah serba repot. Hari Jumat adalah hari yang cukup singkat. Pakaian belum siap padahal akad nikah jam 4 sore. Duh kah!.

Setelah dicek oleh istri saya ternyata penjahitnya salah mengukur. Ukuran lingkar badan cukup fantastis. Bajunya seharusnya ukuran 5L. Sedangkan celana kira-kira ukuran 50. Di Indonesia, ukuran tersebut hanya dipakai oleh Si Gentong (aktor film Tuyul dan Mbak Yul).

Beruntung, Clafo memiliki Teh Nipong. FYI, Teh Nipong adalah seseorang yang sangat detail untuk acara apapun. Ibaratnya dia adalah Duta Acara Indonesia (DAI). Segala acara apapun mampu diselesaikan dengan baik oleh Teh Nipong. Ia langsung telpon Bu Agus, yaitu pemilik salon yang ia kenal. Alhamdulillah, blio masih memiliki stok baju dan celana untuk ukuran tersebut. Namun, jaraknya cukup jauh dari tempat pernikahan yaitu di Turi, Sleman. Ibaratnya, anda harus menempuh jarak dari bibir Pantai Parangtritis (Pundong, Bantul) menuju kaki Gunung Merapi (Turi, Sleman). Widiiiihh.

Sebagai DAI yang memiliki integritas dan komitmen yang cukup baik, tentu saja segala upaya harus dimaksimalkan. Teh Nipong mengajak istri saya dan Sevvy untuk pergi ke Turi. Dan beruntungnya, Ninuch memiliki sodara yang bernama Pak Thomas. Bliolah yang mampu melajukan kendaraanya secepat kilat layaknya supir bus Sumber Kencono.

Apakah masalah usai ? Tunggu dulu.

Muncul masalah yang unik ketika pakaian dari Bu Agus dicoba oleh Ryan. Ryan mengeluhkan kepada salah seorang teman Ninuch sebut saja Mrs.L bahwa baju kembali ga muat. Sayangnya, keluhan tersebut berujung salah alamat. Dengan maksud memberikan pertolongan yang tulus, L mencoba mencari penjahit terdekat untuk dipermak baju dan celananya, tanpa izin dari team yang telah melakukan pertolongan pertama pada pengantin pria tadi. Alhasil, berangkatlah L dengan meminta salah satu penduduk setempat untuk mencari penjahit di Pundong.

Nah, teman-teman Clafo yang mendapat info tersebut langsung pusing dan bingung!!! terutama teh Nipong. Bisa-bisanya, ia dilangkahi tanpa meminta restu merombak baju. Nipong langsung kalang kabut. Begitu juga dengan yang lain. Weladalah kok ya kebetulan Mbak L ndak bawa handphone. Jadinya ndak bisa dihubungi. Teh Nipong tuambaah bingung. Ia bingung karena diberi pesan oleh Bu Agus bahwa baju jangan dipermak kecuali celana panjangnya.

Beruntung, Ninuch memiliki nomor handpone lain milik Mbak L. Dan untung saja, Mbak L baru sampai di tempat tersebut, pakaian sementara terselamatkan dari rombakan dadakan. Kembali ke tempat acara, Mbak L meminta maaf kepada semuanya termasuk sesepuh acara si Teh Nipong. Toh tetap saja, mereka ngedumel. Hahahaha

Acara mendekati jam yang telah ditentukan. Ryan masih mengeluhkan baju extra size yang membuat perutnya menyembul tak bisa disembunyikan. Pada kesempatan kali ini, inovasi dari seorang Dwi Yanti sungguh tak terbantahkan, bersama team clara yang juga kontributif, baju putih lama milik Ryan yang awalnya tidak muat, segera didedel dan dibentuk semacam rompi tanpa lengan demi menutupi perut yang kebuncitan. Detik demi detik berlalu makin menegangkan. Tepat 30 menit sebelum acara baju Ryan sudah matang dipersiapkan.

Pukul 16.00, semua warga datang, termasuk penghulu dan lainnya. Ryan didatangkan dari rumah sebelah diiringi Grup Clara yang tak tega membiarkannya berjalan sendirian. Sontak Pandangan warga tertuju pada Ryan, seorang bule berpakaian pengantin adat muslim Jawa. Nampaknya kedatangan Ryan juga membawa tawa yang sepertinya menjadi cerita di rumah masing-masing warga. Bagaimana tidak? Begitu datang, ia langsung duduk di atas meja yang sejatinya digunakan sebagai meja ijab kabul. Beberapa warga terlihat menahan tawa, beberapa diantaranya sdh terbahak. Kami sgera menjelaskan bahwa meja tersebut bukanlah tempat duduk. Hadirin kembali tenang. Ninuch pun dihadirkan dan disandingkan bersebelahan.

Ryan agak kepanasan. Wajar, suhu Ostrali dan Indonesia berbanding jauh. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kekhusyukan pada acara ijab qabul. Dari Mic terdengar lantang janji suci berbahasa Arab yang diucap Bapak Ninuch dan diterima oleh Ryan. Ketika mendengar ucapan ‘SAH’ dari penghulu, semua yang hadir bernafas lega. Acara cukup singkat dan khidmat. Setelah acara tersebut, pemandu selfie yaitu Hiday mulai beraksi dengan menawarkan gaya foto pelbagai macam.

Menjelang malam, teman-teman Clafo mulai berdatangan. Reisa dan Boss Aham mulai tiba sekitar pukul 18.00. Sodara-sodara dari Ninuch pun juga mulai berdatangan. Namun, kedatangan yang paling ditunggu tentu saja pasangan fenomenal dari Pekalongan. Mas Tio (bukan) Pakusadewo datang bersama Semi Asih yang sekilas (menurut saya) mirip Ibu Puan Maharani (kemiripan ini tidak disetujui oleh istri saya, menurut dia malah “semi lebih cantiklah pi!”, ya sudahlah). Kehadirannya disambut meriah oleh teman-teman Clara Forever terutama Hiday yang tampak antusias sekali dengan kehadiran mereka.

Mereka tampak sedikit malu-malu untuk menunjukkan kemesraannya. Agak sedikit grogi. Wajar, Hiday dan teman-teman terus mencecar berbagai pertanyaan. Mas Tio lebih sedikit pendiam daripada Semi. Ketika dicecar pelbagai pertanyaan atau pernyataan, maka Semi menjawab dengan senyuman dan kalimat khas “Ooo gitu..”. Kalimat SEMITIO eh maksud saya semiotik yang baik sekali.

IMG-20160525-WA0001

Ekspresi Clara Forever bersama Ryan dan Ninuch @ Kang Amal

Menjelang pukul 20.00, kami dan teman-teman Clafo beranjak pulang karena Hiday dan Sevvy akan bergegas pulang menuju Surabaya dan Malang pada pukul 01.00 dini hari. Kang Amal dan Teh Nipong menyusul karena mereka masih bertanggung jawab terhadap acara pengajian. Lagi-lagi ada kejadian salah tingkah dari Semi. Saya bermaksud memanggil istri saya dengan ucapan “Sayang”. Namun yang menoleh justru Semi. Saya kaget. Semmi terhenyak. Mungkin suara saya dan Mas Tio agak mirip, makanya Semi menoleh. Dan mungkin juga kata tersebut adalah ucapan yang biasa menjadi sapaan dari Mas Tio kepada Semi. Ihirrr.

Kami bertujuh menumpang mobil boss Aham. Beberapa teman ditawari untuk menumpang mobil Semi. Namun, enggan rasanya mengurangi rasa khidmat dan khusyuk kebersamaan pasangan baru ini . Mungkin maksud mereka, biarkanlah Semi dan Mas Tio menikmati candu asmara dengan latar purnama di Jogjakarta.

Reisa mengarahkan kita ke Alun-Alun Kidul. Salah satu destinasi seru di Jogjakarta. Selain tempatnya luas, tempat ini bagus untuk menikmati bulan purnama, terlebih kami membawa pasangan yang sedang hangat-hangatnya. Seakan tidak mau duduk berjauhan, Semi duduk di depan Mas Tio. Iringan lagu-lagu dari pengamen menambah syahdunya pertemuan pasangan tersebut. “Kesempurnaan Cinta” dan “Hari Bersamanya” mewakili perasaan mereka.

Obrolan yang hangat, wedang ronde yang tersaji, alunan lagu dan petikan gitar dari pengamen, suara kerlap-kerlip lampu yang mengelilingi alun-alun sekali lagi semakin menambah syahdunya malam sabtu. Purnama sedang amat mempesona. Ia memancarkan sinarnya ke arah wajah pasangan-pasangan yang sedang bahagia. Mas Tio dan Semi adalah salah satunya.

Setelah menikmati purnama, maka teman-teman Clara mencoba bermain mobil teletubbies. Semua tampak ikut bermain kecuali saya, Boss Aham dan kang Amal yang lebih memilih duduk. Teman-teman Clara larut dalam gelora tawa yang membuncah termasuk Mas Tio dan Semi.

IMG-20160525-WA0002

Tawa Clara Forever dalam Mobil Teletubbies @ Boss Aham

Menjelang selesai bermain, tiba-tiba Mas Tio menghilang. Tak ada yang tahu keberadaannya. Semi bingung dan tak tau arah. Hapenya pun tak bisa dihubungi.

Screenshot_2016-05-23-20-22-40-1

Kata-kata inilah yang mewakili kegelisahan Semi.

Demi menenangkan Semi, Boss Aham mengajak kita ke Angkringan Pak Agus depan stasiun. Terlebih Sevvy dan Hiday berencana pulang jam 01.00 dini hari melalui kereta di stasiun Tugu. Sesampainya di angkringan, Semi langsung mencurahkan isi hatinya. Uwie mendengarkan dengan seksama. Tatapan sendu diperlihatkan oleh Rani. Hana memincingkan matanya. Sevvy menopang dagu dengan tangan kanannya. Kepala Teh Nipong bersandar di bahu Kang Amal. Reisa hanya duduk termenung. Istri saya dan Hiday berulangkali bergantian mengusap punggung Semi. Aham sampai harus memesan es teh dua kali. Sedangkan saya lebih banyak mengunyah gorengan yang ada di depan mata.

Namun, menjelang curhatan selesai, Semi mengabarkan kabar bahagia. Kami pun ikut senang dengan kabar bahagia tersebut. Selamat Semi, Semoga lancar menjelang Hari H. Amiiiiin.

Hape Semi berdering. Rupanya Mas Tio yang meneleponnya. Ia mengabari untuk bertemu saja di Tugu Jogja. Seusai mengantarkan Sevvy dan Hiday, kami capcus ke arah Tugu. Ternyata Mas Tio telah menunggu. Ia menghilang karena ingin memastikan rumah temannya benar-benar kosong. Sebagian dari kami rencananya hendak menginap disitu. Luar biasa. Saya pikir Mas Tio memang pasangan yang tepat untuk Semi. Baik dan memiliki rencana yang tepat.

Esoknya, Hana sudah pulang pukul 09.00 pagi. Tinggallah Uwie, Rani, Mas Tio, dan Semi. Reisa hendak mengantarkan jalan-jalan. Sayang waktunya kurang memadai. Akhirnya kami kumpul di Bale Raos. Tempat makan khas Sultan Yogyakarta. Ternyata tidak hanya Semi dan Mas Tio yang berbahagia. Rani pun ikut berbahagia. Ini karena Mas Tio mengenalkan Mas Agil kepada Rani. Mas Agil adalah teman satu angkatan dan satu perguruannya Mas Tio. Kebetulan juga Rani satu jurusan dengan Mas Agil. Saat dikonfirmasi oleh istri saya, Rani hanya tersipu dan tersenyum malu. Semoga disegerakan ya Rani …

Obrolan yang hangat dan mengalir deras hampir membuat kami lupa waktu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 15.00. Sudah saatnya kami berpisah. Uwie dan Rani diantarkan ke stasiun Lempuyangan. Disana telah menunggu Teh Nipong dan Kang Amal. Akhirnya perpisahan yang cukup epik tersaji di stasiun Lempuyangan.

Kalo boleh saya berpendapat,  Clara merupakan persahabatan tanpa ada sekat, kesemuanya lekat. Mereka tulus satu sama lain.

Sampai jumpa Clara Forever di waktu yang akan datang di hari yang lebih terang di perjumpaan yang lebih gemilang.

“Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita rindukan. Di hari nanti, Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan.”

Jangan lupa mendengarkan lagu “Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan” dari Sheila on 7 untuk mengunduh memori bersama, satu malam purnama di Jogjakarta.

 

 

 

Senandung Mendayu dari Sop Senerek Bu Atmo

Jogja akan terasa macet menjelang liburan panjang. Awal Mei 2016 terdapat dua tanggal merah yaitu tanggal 5 dan 6. Kok ya kebetulan tanggal tersebut bertepatan dengan hari kamis dan jumat. Nah, tanggal merah adalah berkah bagi masyarakat Indonesia khususnya PNS. Mereka bakal berbondong-bondong cari tempat liburan untuk melepas penat. Tanggal merah dan tanggal muda. Itu artinya putaran uang akan bergairah di tempat-tempat liburan. Cocok iwak endog !!!

Sebagai orang asli Jogja yang berhati nyaman, tentunya dengan adanya liburan panjang akan menuai dilema. Lebih baik mengungsi keluar kota atau menikmati kemacetan Jogjakarta. Mungkin juga lebih baik semedi di rumah masing-masing. Ya begitu Jogja, kalo memasuki liburan panjang, hampir dipastikan jalanan dipenuhi kendaraan baik umum maupun pribadi dengan plat luar kota.

Nah, ibu saya sudah gerah dengan kondisi Jogja yang selalu macet menjelang liburan. Maka dari itu beliau mengajak jalan-jalan keluar Jogja. Kebetulan saya dan istri hendak pergi ke Temanggung mengunjungi orang tua istri sekaligus rutinitas akhir pekan. Akhirnya, daripada saya dan istri mengendarai sepeda motor maka ibu saya menawarkan untuk pergi bersama ke Temanggung menggunakan mobil. Berangkatlah saya, istri, bapak, ibu, dan kedua adik saya ke Temanggung.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi kemacetan mulai dari pertigaan Borobudur ke selatan sampai dengan pertigaan menjelang perbatasan Jogjakarta. Luar biasa. Animo masyarakat luar Jogja untuk mengunjungi daerah wisata Jogja begitu tinggi. Bus-bus Pariwisata cukup banyak. Sedangkan untuk jalan arah keluar jogja sangat lengang dan cukup selo. Saking selonya, kedua adik saya memotret berbagai bus yang lewat dan juga menghitungnya !!! Selo tenan adik-adiku. Tak heran Jogja menempati urutan kedua setelah Bali untuk kunjungan pariwisata terbanyak di Indonesia.

Melewati pertigaan Borobudur, kami memulai perbincangan serius. Maksudnya serius karena perut kami sudah melagukan senandung keroncong.  Itu artinya kami harus segera mengisi bahan bakar. Terlebih kedua adik saya yang berbobot lebih dari 100 kg adalah gampang lapar !!. Hehehe. Kemudian ibu saya merekomendasikan kuliner khas Magelang yaitu sop senerek. Namun masalahnya ibu lupa alamat dan jalannya lewat mana. Terpujilah orang-orang Yahudi yang telah menciptakan Google Maps. Alhamdulillah akhirnya Google Maps mampu menunjukkan jalan menuju sop senerek.

Meskipun sedikit tersesat karena kurang pandai dalam menggunakan Google Maps, akhirnya kami menemukan Sop Senerek Bu Atmo. Kuliner ini terletak di jl. Mangkubumi No. 3 dan termasuk dalam kawasan kuliner Jenderal. Mungkin dulunya, kawasan ini adalah kawasan kuliner milik para Jenderal. Saya belum mengecek kebenarannya.

sop

Sop Senerek Bu Atmo © Novia Rakhma Ramdhani

Di depan Sop Senerek Bu Atmo terdapat berbagai macam kuliner seperti Mie Jepang, Soto Madura, dan masih banyak lainnya. Namun, kuliner-kuliner tersebut masih kalah dengan membludaknya antrian menuju warung makan milik Bu Atmo. Dan saya terheran ketika melihat spanduk warung makan tersebut. Tertulis “Supported by AS ROMA MAGELANG”. Wah saya sangat salut. Mungkin dulunya tempat ini adalah kumpulan dari fans AS ROMA atau mungkin Bu Atmo adalah fans fanatik AS ROMA. Kalo benar Bu Atmo adalah salah satu fans fanatik AS ROMA, sudah seharusnya mas Puthut EA mengunjungi warung tersebut.

Memasuki warung tersebut, kami harus menunggu giliran untuk duduk. Antrian membludak. Kami harus menunggu antrian selama 15 menit untuk menyantap sop senerek khas Magelang. Setelah ada rombongan entah dari mana itu beranjak, kami memperoleh tempat duduk. Ibu saya langsung memesan enam sop senerek daging. Di warung tersebut ada berbagai macam sop senerek. Kamu bisa memesan sop senerek dengan menggunakan ayam, daging, babat, ataupun iso. Namun yang paling favorit adalah sop senerek daging. Sayangnya, kami sudah terlalu siang berkunjung kesana. Dagingnya habis. Akhirnya kami memesan  dua sop senerek babat dan empat sop senerek ayam serta enam es teh.

sop 2

Sop Senerek Ayam © Novia Rakhma Ramdhani

Tibalah sop senerek yang telah kami pesan. Aromanya menggugah selera. Porsinya cukup banyak. Kalo kamu sedang lapar berat, cocok untuk menyantap makanan ini. Oh iya, senerek itu artinya kacang merah. Aslinya snert (bahasa Belanda) namun karena lidah masyarakat Jawa kesulitan penyebutannya maka jadinya senerek. Saat saya menyantap makanan tersebut, wah gurih dan rasanya lessyup. Ditambah dengan sate keong yang potongannya cukup besar maka menambah gairah dalam makanan tersebut.

Potongan babat maupun daging ayam cukup besar. Istri sayapun bingung. Takut nggak bisa menelannya. Saya dan istri sempat berdebat tentang sate. Menurut saya, sate yang dihidangkan tepat di depan saya adalah sate 02 (bekicot) sedangkan istri saya bilang itu adalah sate keong. Teksturnya hampir mirip. Begitu pula dengan rasanya. Namun untuk lebih meyakinkan maka saya bertanya pada adik saya yang menyukai segala jenis makanan. Ternyata ia bilang sate keong. Yasudah akhirnya saya dan istri bersama-sama menyantap sate keong tersebut.

Sejatinya ada makanan lain seperti nasi pecel dan nasi rames. Namun kebanyakan pengunjung lebih memilih sop senerek. Ya, karena andalannya memang sop senerek. Hahaha. Saya melihat adik-adik saya menyantap dengan lahap bahkan habis hanya dalam waktu 5 menit. Maklum mereka kalo sedang makan tergolong gesit. Mereka masih menambah santapan seperti lumpia dan tempe.

sop 3

Aneka kudapan ©Moggie Setyo Wibowo

Hampir 20 menit lamanya kami memuaskan rasa lapar dengan sop senerek. Pukul setengah 1 siang, babat dan iso sudah ludes. Hanya menyisakan ayam. Tak heran jika warung ini hanya buka mulai pukul 07.30 – 16.00. Waktu yang pas buat kamu untuk sarapan ataupun makan siang. Terlebih harganya tidak menguras banyak kantong. Jika kamu memang pecinta kuliner sejati, maka kamu wajib mengunjungi kotanya mas Agus Mulyadi dan menyantap sop senerek Bu Atmo.

Antrian sudah mulai lengang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Temanggung. Cuaca cerah namun sedikit gerah. Maklum panas yang cukup menyengat. Melewati daerah Secang, antrian panjang mengular kea rah Jogja. Untungnya menjelang sore kami sudah sampai Temanggung. Walaupun disuguhi makanan oleh orang tua istri namun saya enggan untuk menyantapnya. Hanya karena perut saya masih ingin menikmati senandung mendayu dari rasa sop senerek Bu Atmo.

Menjemput Tawa di Umbul Ponggok

29 April 2016. Eva Enimah atau yang biasa dipanggil Eva mengabarkan pesan melalui grup KTT. Isinya adalah jalan-jalan terakhir anak-anak KTT 2014 sekaligus ajang perpisahan dengan salah satu dosen tercantik yaitu Ibu Betty. Ibu Betty telah merencanakan untuk menghabiskan masa baktinya di UGM pada akhir semester yaitu pertengahan tahun 2016. Beliau akan hijrah ke Aceh tepatnya Universitas Ar Raniry untuk meneruskan musim yang lebih baik. Selamat bu. Semoga selalu sukses dan tetap bahagia. Amiiin

Diskusi di grup WA berlanjut hingga akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke umbul ponggok di Klaten. Tempat tersebut katanya sangat bagus untuk berfoto ria bahkan dijadikan prewedding. Tentunya kesempatan tersebut tidak boleh dilewatkan begitu saja. Apalagi kami menginginkan foto bersama dengan seluruh awak KTT 2014.

Sayangnya, kesempatan tersebut tidak dapat dinikmati seluruh awak KTT 2014. Aufa dan Yayun berhalangan hadir karena kondisi tubuh sedang tidak fit. Mas Imam tidak bisa hadir karena pada waktu yang bersamaan blio mengisi ceramah di salah satu televisi swasta di Jogjakarta. May mengurungkan niatnya karena sedang berjuang menyelesaikan khataman. Noe sibuk karena sedang menjadi pemandu wisata bagi teman-temannya yang berasal dari Samarinda. Sedangkan Mua, sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Mungkin hanya Tuhan dan Noe yang paham.

Setelah bermusyawarah, akhirnya diputuskan jalan – jalan tersebut dilakukan pada hari selasa tanggal 4 Mei 2016. Kami menggunakan tiga kendaraan. Alvin mengawal keponakan Bu Betty yaitu Adit, calon istrinya yaitu Ling-ling, Shinta, Eva, Nilna, Bu Betty dan Mala dengan menggunakan mobil sewa. Saya berboncengan sepeda motor dengan Novia sedangkan Yadi berpelukan mesra dengan Bang Beri yang juga menggunakan sepeda motor.

Semua awak berlomba-lomba untuk mengenakan pakaian terbaik termasuk Nilna. Bukan rahasia lagi, Nilna selalu menggunakan pakaian dan make up wajah semaksimal mungkin. Kamu pasti paham bukan ? Dia ingin menarik perhatian orang-orang. Namun katanya, hanya satu orang yang menjadi penarik dia. Tak lain dan tak bukan adalah… (silakan isi titik-titik berikut ini) hahahaha.

Kami kumpul di rumah bu Betty pada pukul 08.00 pagi. Seharusnya jam 07.00 tapi apalah daya ternyata ngaret kurang lebih satu jam. Kemudian kami bergegas menuju tempat wisata tersebut di Klaten  Perjalanan terasa cukup panjang. Soalnya kami semua tidak ada yang mengetahui keberadaan tempat tersebut. Sampai di daerah kota Klaten, Eva justru bertanya pada saya.

“Mod, koe ngerti panggone to ?” Tanya Eva.

“Hayo ra ngerti, wong aku wae ra paham panggone sebelah endi kok.” Ujar saya

“Tak nggawe google maps wae va.”

“Welah, aku iki ket mau ngetutke koe je mod, malah koe ra ngerti toh.”

Semua penumpang tertawa. Saya pun juga tertawa. Akhirnya kami semua mengandalkan google maps. Google maps canggih betul. Hanya mengetik tempat tujuan maka kita sudah diarahkan menuju tempat  tersebut. Turn left, turn right, go ahead. Begitulah bunyi cempreng dari Google Maps.

Jalanan lenggak-lenggok. Dan kebablasan. Novia bertanya kepada bapak-bapak di pinggir sawah dan ternyata terlewat 1 km. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang cukup elok, kami tiba di Umbul Ponggok.

Sekilas saya mengernyitkan dahi karena saya pikir ini hanya kolam biasa. Sama seperti di kolam salah satu universitas negeri Yogyakarta. Apalagi tiket masuk cukup murah. Namun yang unik terdapat persewaan kamera bawah air, alat snorkeling, pelampung dan yang unik terdapat pelbagai properti mulai dari sepeda motor sampai televisi untuk berfoto.

Sebelum masuk, para perempuan mengisi perut dengan lotek dan soto di warung bu Betty. Kok ya kebetulan nama warung tersebut persis dengan ibunda kita. Mungkin blio punya saham di tempat tersebut. Kami para lelaki duduk sembari menikmati rokok dan jamur goreng.

Akhirnya kami bayar tiket masuk, menyewa pelbagai alat, dan memilih tempat yang paling sepi demi menghindari kerumunan orang. Saat itu kebetulan umbul ponggok tergolong sepi pengunjung. Menurut tukan parkir setempat, hari Minggu adalah puncak kedatangan pengunjung hingga pengunjung mirip es cendol. Menurutnya pula, hampir seluruh petugas dikerahkan demi mengamankan pengunjung yang membludak.

Semua awak pada berganti pakaian kecuali Nilna. Entah mungkin takut make up luntur atau justru itu pakaian satu-satunya. Setelah berganti pakaian, semua awak siap meluncur ke kolam. Pelampung dan snorkeling telah dikenakan. Nah, Alvin adalah orang pertama yang nyemplung. Kemudian diikuti Yadi, Shinta, dan saya. Eva dan Nilna adalah orang-oran terakhir yang nyemplung. Mereka berpikir bahwa pelampung yang dikenakannya tak akan mampu membuatnya mengambang. Aneh. Tapi Yaa begitulah.

DSCN0564

 

Awak-Awak KTT 2014 © Alvin Haq

Saya penasaran dengan apa yang dimaksud pemadangan di bawah air. Ternyata fantastis !!!. Ribuan ikan berenang kesana kemari. Ada pasangan yang sedang berfoto ria dengan dipandu oleh guide untuk membuat foto prewedding. Mereka menggunakan properti  motor dibawah air. Ada pula beberapa cewe yang menggunakan properti mirip ayunan di sebelah timur. Ada juga beberapa kekasih yang sedang bermain dibawah ayunan. Dan ada pula rombongan ISI Surakarta yang menggunakan waktu luang untuk bermain air di Umbul Ponggok.

Hampir 1 jam lamanya kami beraktivitas di air. Airnya dingin (menurut saya) hingga saya tampak menggigil. Anehnya hal tersebut tak dirasakan awak-awak yang lain. Mungkin karena saya jarang mandi sehingga mudah kedinginan jika nyemplung di kolam.

Bu Betty merasa ada yang kurang sempurna jika kita tidak melakukan foto bersama di dalam air. Saya dan teman-teman yang lain bergegas untuk urunan kemudian menyewa sebuah kamera bawah air. Alvin didaulat menjadi fotografer. Setiap awak diwajibkan mau foto baik itu sendirian, duo, ataupun secara grup. Satu demi satu awak bergantian foto. Alvin memberikan kamera kepada Yadi karena ia ingin difoto bersama pasangannya. Yadi tampak iri. Terlebih ketika dirinya dimintai tolong oleh saya untuk memotret saya dan Novia. Sekali lagi dia iri. Ya gimana ndak iri, la wong pose saya dan Novia adalah pose yang membuat mata terbelalak dan tenggorokan meradang. Maklum pengantin baru. J

Kami berpindah ke area yang lebih dangkal. Kali ini kami berfoto bersama seluruh awak. Foto pertama kurang berhasil. Foto kedua agak kacau. Foto ketiga cukup brutal. Dalam foto terakhir hampir memakan korban. Beberapa awak tidak cukup ahli dalam berenang. Bu Betty hampir saja tenggelam karena tangannya menggelepar kemana-mana. Untungnya regu Baywatch siap sedia untuk menolongnya. Alhamdulillah.

Setelah merasakan adrenalin yang cukup epik, kami memutuskan untuk ganti pakaian dan mandi. Perut yang telah bersenandung keroncong membuat kami harus segera mengisinya. Pilihan makanan belum jelas. Namun kami harus segera angkat kaki dari tempat wisata ini.

Sekali lagi pilihan makanan tergantung saya. Lha wong yang ngerti jalan juga saya. Saya sendiri juga bingung menentukan tempat makan. Saya mencoba mengingat-ingat jalan sembari memikirkan mana tempat yang bergizi untuk membuat tubuh bugar kembali. Akhirnya pilihan dijatuhkan ke SS.

Sempat tersesat karena (mungkin) Alvin salah baca plang. Namun, akhirnya kita bertemu di persimpangan Jalan Pemuda Klaten. Kami bergegas ke SS yang ternyata letaknya pas di perempatan lampu merah. Semua awak turun. Kami memesan pelbagai macam makanan dan minuman.

Disaat menanti makanan dan minuman tiba, kami menyempatkan swafoto (selfie ) ria. 15 menit kemudian, makanan dan minuman mulai tiba. Semua awak mengambil dan segera melahap tanpa ampun. Mulai dari ayam, ikan, maupun sambal semua dilahap tanpa henti. Tak terkecuali Nilna yang menyantap kerupuk dengan bunyi kriuk-kriuk nya. Ya memang hanya bunyi kriuk-kriuk dari kerupuk yang mampu menenangkan kepedihan asmaranya yang tak kunjung usai.

Akhirnya setelah selesai makan dan minum, kami bergegas pulang dan berpisah. Alhamdulillah kami semua tiba di rumah maupun kos masing-masing dengan selamat. Semoga selalu bahagia awak-awak KTT 2014.