Category: BBKU

Aliran

Ilustrasi oleh Djarwo

Ketika saya berkuliah di Malang, teman saya pernah berujar “Hati-hati terhadap aliran Wahabi mod. Bahaya. Nanti kita ndak boleh tahlilan dan ziarah kubur.” Saya belum ngerti maksudnya. Toh kebetulan saya adalah orang awam yang jarang tersentuh dan mendengar aliran-aliran seperti itu. Jadi saya hanya berkata kepada teman saya, “Oke, saya akan hati-hati.”

Kemudian, suatu saat kembali ke Jogja, ketika reuni dengan teman-teman masa kecil, salah satu teman berkata, “Gimana kuliah di Malang mod? Pokoknya tetap waspada dan hati-hati. Terutama dengan aliran Syiah. Itu bukan ajaran Islam.” Saya hanya mengangguk saja dan sejurus kemudian berkata, “Oke, saya akan hati-hati.”

Secara kebetulan, cerita pertama adalah obrolan saya dengan sahabat NU. Cerita kedua adalah obrolan saya dengan kawan Muhammadiyah.
Sampai sekarang pun saya nggak ngerti mana yang lebih sesat. Wahabi atau Syiah? Atau kedua-keduanya sama-sama sesat? Atau justru kedua-keduanya sama-sama benar? Mungkin kamu lebih paham.

Suatu hari, seorang dosen pernah mengatakan sesuatu kepada saya. Kalo NU itu Syiah kultural. Maksudnya adalah beberapa kultur seperti memukul bedug, tahlilan, ziarah kubur agaknya lebih dekat dengan budaya Syiah. Makanya tak heran budaya tersebut sampai sekarang masih dilestarikan oleh sahabat-sahabat NU. Toh asal tujuan itu baik, saya pikir tak apa-apa. Bagus.

Kemudian, beliau juga pernah mengatakan seperti ini kepada saya. Kalo Muhammadiyah itu Wahabi Organisasi. Maksudnya adalah kawan-kawan muhammadiyah lebih dekat dengan gaya organisasi macam Wahabi. Kayak memajukan lembaga pendidikan, rumah sakit, dan sebagainya. Makanya tak heran secara organisasi modern, Muhammadiyah dianggap mampu mengendalikan itu semua. Toh asal tujuan itu baik, saya kira juga tak apa-apa. Bagus.

Benar atau salah ucapan dosen saya itu, saya kira memang demikian adanya. Kalo menteri agama ya jatahnya NU dan kalo menteri pendidikan ya jatahnya Muhammadiyah. Itu sudah kepastian tak tertulis. Eh.

Yang saya bikin sedih adalah terkadang bahkan sampai sekarang, ‘mereka’ sama-sama meyakini bahwa alirannya paling ‘tepat’ dan ‘benar’. Kayak contohnya begini, “Islam Indonesia adalah Islam Nusantara yang Berkemajuan.” Nah yang satu lagi ga mau kalah. Bilangnya begini,” Islam Indonesia adalah Islam Berkemajuan yang bersifat Nusantara.” Nah kan. Kalo sudah begini gimana? Apa ya iya masih selalu saja saling mengunggulkan slogan tersebut?

Mbok ya itu dilihat, ada beberapa tokoh agama dipenjara akibat membela soal tanah di Lampung. Itu juga dilihat bagaimana suku Anak Dalam sudah mulai hilang tempat tinggalnya karena pembalakan liar di Riau. Atau itu lihat nasib suku Amungme Papua yang terlempar dari tanahnya sendiri akibat urusan Freeport ndak kelar-kelar.

Atau itu aja wes, masalah semen di Rembang. Mbok ya advokasi sana. Jangan malah silat lidah di media sosial aja. Atau jangan-jangan ‘mereka’ malah mendukung pembangunan pabrik semen?

Kalo soal gini aja diem. Mungkin benar kita lebih disibukkan mengkafirkan yang Islam daripada mengIslamkan yang kafir. Tetapi, siapa yang dianggap kafir?

Kalo menurut saya, Siapa saja yang menutup perintah Tuhan untuk membantu dan menolong sesama manusia.

Adagio

Ilustrasi oleh Brian Danahe

Belajar berpikir tidaklah mudah
Tidaklah mudah jika terus menganga
Menganga bukanlah sesuatu yang susah
Yang susah itu aku berpikir maka aku ada

Belajar bertindak mungkin mudah
Mungkin mudah jika terus mengutuk
Mengutuk bukanlah sesuatu yang ilmiah
Yang ilmiah itu terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk

Belajar bersikap terbilang mudah
Terbilang mudah jika terus mencoba
Mencoba bukanlah sesuatu yang lemah
Yang lemah itu baca komentar baca udara

Belajar berucap cukup mudah
Cukup mudah jika terus berucap binal
Berucap binal bukanlah sesuatu yang cerah
Yang cerah itu sedikit nakal banyak akal

Surat Wasiat untuk Komisariat

​Ilustrasi surat.

Mata tak kunjung tertutup. Hair berusaha membolak-balikan tubuhnya agar cepat tidur. Pada akhirnya ia tertidur pas jam 2.15 pagi. Bau wangi mulai lewat dan menusuk ke hidung. Saya yang sudah terbiasa bau itu berusaha acuh tak acuh. Sembari menutupi diri dengan selimut, saya berusaha untuk tidur. Walaupun tak begitu nyenyak.

“Astagfirullahhhh… Aa..ss..tag..firrr…rulllah… Astagfirulaaaaah!!!”

Suara Hair cukup kencang hingga memekakkan telinga anak-anak. Farel yang ada di dekatnya langsung berusaha menyadarkan Hair. Karena saya tidur di ruang tamu, saya langsung mendobrak pintu dengan kaki kanan.

“Hehh ir!!!” Saya berusaha menggoyangkan bahunya. Lebih tepatnya menyepaknya. Kepalanya hanya bergerak ke kanan dan kiri. Kemudian tangan kiri menutup wajahnya sedangkan tangan kanannya menunjuk ke plafon yang kebetulam berlubang.

Saya dan Farel menengadah ke atas. Tak ada apa-apa. Hanya angin semilir yang dingin. Maklum saat itu jam 05.30. Kemudian Hair bergegas ke kamar mandi, wudhu, dan sholat subuh. Saya dan Farel hanya mengamatinya dengan heran. Begitu pula dengan anak-anak lainnya. Tumben.

Begitu selesai, Hair langsung pulang. Ditanya tak menjawab.

                                                                ***

Menjelang istirahat siang, saya pergi ke kos Hair. Ingin bertanya apa yang dilihat Hair saat pagi tadi. Hair bercerita dengan nafas yang tersengal. Sepertinya ia benar-benar takut dengan peristiwa pagi tadi. Ia hanya mengungkapkan bahwa ada dua orang wanita yang tersenyum kepadanya. Kemudian wanita tersebut menjauh dan hanya tampak kepalanya saja. Selang tak berapa lama, lidahnya menjulur dan terjuntai hingga mengenai hidung Hair. Seperti Leak (Hantu Bali).

Saya hanya mengangguk pelan. Cukup aneh. Sepanjang saya dan Pandu tinggal di komisariat, baru Hair yang diberi penampakan macam itu. Saya dan Pandu bahkan tak pernah melihat penampakan mereka. Tentunya juga tak ingin.

Mengacu ketakutan Hair, akhirnya saya memutuskan rapat harian di luar komisariat. Maklum, setiap 2 minggu sekali pada hari Selasa kami mengadakan rapat harian. Dan baru kali ini kami mengadakan rapat di luar komisariat.

Selepas Ashar, kami berangkat dari komisariat menuju rumah nenek saya. Ya, rumah nenek saya dipilih karena kebetulan sedang kosong. Pada waktu itu, Nenek dan paman saya pergi ke Lombok dalam waktu 1 bulan. 

Sampai disana, kami langsung duduk melingkar dan melakukan rapat harian. Tak ada raut muka ketakutan. Tak ada raut muka kebingungan. Rapat kali itu berjalan lancar. Semua tampak bahagia dan senang. Bahkan sesekali lelucon dikeluarkan teman-teman supaya menambah semarak rapat. Hingga suatu ketika…

Hair menanyakan keberadaan Yoga kepada anak-anak. Saya bilang, “Yoga lagi di Tulungagung, tadi dia pamit sama aku.” Hair tak percaya dan tertawa. Ia bilang jika saya berusaha membohongi dirinya. 

“Ya ndak mungkin Mod. Tadi kan dari komisariat bonceng kamu. Sampai disini aja tadi dia dorong sepeda motormu dari belakang kok.”

Saya terheran. Saya pikir Hair mengigau. Tapi sepertinya tidak. Ia malah bertanya ke teman-teman lain seperti Ardy, Rio dan Ussy. Mereka pun menyanggahnya. Bahkan saya terpaksa menunjukkan esemes dari Yoga. Ketika membaca esemes itu, wajah Hair pucat pasi. Suasana langsung menjadi sepi. Tampak semua pada mengernyitkan dahi. Melihat kondisi seperti itu, kemudian saya menyudahi rapat tersebut dan mengajak mereka kembali ke komisariat.

                                                                     ***

Jam 11 malam. Saat di komisariat hanya ada saya, Mas Budi, Iqbal, dan Nano. Mas Budi adalah senior saya angkatan 2007. Sedangkan Iqbal dan Nano adalah junior saya angkatan 2008. Seperti biasa, Mas Budi cerita nabi-nabi dan sesekali diselingi cerita horor. Ia bercerita jika ia pernah melihat kepala terbang saat berkunjung Masjid Kotagede Yogyakarta. 

Ia bercerita cukup serius. Saya pun sampai harus menutup telinga demi tak mendengar lagi ceritanya. Tiba-tiba…

“Aaawrrrr… aawrrrr… awwrrrr…” Iqbal mencakar-cakar ubin. Seperti orang kesurupan. Mulutnya berulangkali mengeluarkan suara-suara aneh. Sepertinya kemasukan macan cadas. Saya dan Nano berusaha komat-kamit sebisanya. Mas Budi mengatupkan kedua tangan seperti layaknya orang semedi.

Tiba-tiba Iqbal tertawa. Melengking tinggi layaknya kuntilanak. Saya dan Nano menutup telinga dengan rapat. Mulut Mas Budi komat-kamit seperti mengucapkan mantra. Suasana sangat tegang. Namun tiba-tiba ada yang aneh. 

Iqbal tersenyum kemudian tertawa puas. Kami bertiga bingung dengan perilakunya. Lagi-lagi tertawa terbahak-bahak. Kemudian berkata, “Aku tu cuma ngetes kalian ternyata benar-benar ketakutan, hahaha.” Mas Budi menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu jangan main-main nanti kalo hantunya marah sama kamu gimana?”

Mas Budi mencoba memperingatkan Iqbal. Namun tampaknya tak dihiraukan. Hingga saat itu, tiba-tiba lampu mulai padam secara berurutan. Dari kamar depan ke kamar belakang kemudian lampu ruang tamu. Darah saya berdesir sembari menutup wajah. Nano menutup mata. Iqbal meringkuk dalam selimut. Hanya mata Mas Budi yang tampak mengawasi pintu depan.

“Klap.. klapp.. klap.. klapp..” Lampu ruang tamu nyala mati berulang kali. 

“Astagfirullahhh.. astagfirullahhh..” suara Mass Budi terdengar lirih. 

Tangannya menepuk dada dan ubin berulangkali. Saya tersentak. Tiba-tiba ada bayangan putih, tinggi dan besar. Lebih mengerikannya lagi, bayangan itu secara cepat berubah menjadi hitam. Tampak bulu-bulu hitam menjuntai. Giginya hanya dua tapi panjang bahkan menyentuh ubin. Saya, Nano dan Iqbal berusaha mengintip dan berdoa yang kita bisa.

Tiba-tiba ada hentakan kaki kiri dan tangan kanan dari Mas Budi secara bersamaan. Semua lampu kembali menyala. Sejurus kemudian, Nano langsung keluar komisariat. Saya juga bergegas lari mengikuti Nano. Bersiap pergi dari komisariat. Tak lama, Iqbal juga mengikuti kami. Hanya Mas Budi yang masih santai. Menoleh, menengadah plafon kemudian memeriksa semua sudut rumah. Akhirnya kami keluar meninggalkan komisariat.

                                                                  ***

Jam 4 pagi, saya kembali ke komisariat. Sambil berharap cemas, saya mengelilingi seluruh ruangan. Hanya ada Pandu yang tampak tertidur lelap di kamar tengah. Saat saya berusaha merebahkan badan di ruang tamu, tiba-tiba saya kaget melihat sebuah amplop merah darah tergantung di sebelah kalender. SURAT WASIAT. Begitulah tulisannya.

Saya mencoba membukanya. Basah dan sedikit berlendir. Isinya hanya selembar kertas kecil. Terlipat menjadi dua sisi. Hurufnya agak aneh. Ditulis dengan tinta berwarna merah. Hanya ada satu kalimat yang tertulis disitu. Darah saya lagi-lagi berdesir seperti malam itu. Bulu kuduk saya berdiri. Bibir bahkan sampai bergetar tak beraturan. Namun saya berusaha semaksimal mungkin untuk tenang.

Selepas subuh, saya menelpon Hair dan Ardy. Saya minta bertemu mereka jam 06.30 pagi di komisariat. Sembari berusaha menenangkan diri, saya mencoba membuat kopi hangat. 

Ardy datang lebih dulu. 10 menit kemudian, Hair datang. Saya bercerita kepada mereka tentang peristiwa tadi malam. Ardy dan Hair mendengarkan dengan seksama sembari merokok. Kemudian saya mengambil surat tersebut. Ardy memincingkan mata. Hair tampak ogah melihat surat itu. Saya membuka secara pelan. Kemudian memberitahukan isinya kepada mereka.

Mereka berdua kaget. Sedikit bingung. Ardy mengacak-mengacak rambutnya seraya berkata, “Ndak mungkin ini, ndak mungkin ini Mod!!” Bahu saya terangkat pelan sembari mengatur nafas. Hair menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya.. 

“Kita harus rapat segera!” Hair dan Ardy mengangguk setuju. Siangnya saya bersama mereka mengumpulkan anak-anak pengurus di gazebo. Raut muka anak-anak bingung. Mereka hendak bertanya. Namun saya memberikan isyarat supaya mereka diam dan tak boleh bicara.

“Kita harus menyudahi semuanya.”

NB: Tak lama setelah rapat itu, kami mengadakan rapat anggota komisariat luar biasa (RAKLB) di Batu. Menghadirkan seluruh anak-anak komisariat. Tidak hanya junior melainkan senior. Kami ‘terpaksa’ mengakhiri kepengurusan kami. Tidak berlangsung 1 tahun melainkan hanya 8 bulan. Mungkin sedikit mencederai konstitusi. Tapi demi kemaslahatan komisariat, kami pun harus selesai. 

Surat wasiat tersebut hingga kini hanya saya, Hair dan Ardy yang mengetahui. Dan surat itu tersimpan rapat di salah satu lemari rumah saya.

Satu Hari bersama Anak 90an

“Ooo janjiku takkan kulepas selamanya”
Suara dari Armand Maulana mengalun cukup kencang saat saya sedang merapikan baju merah putih. Sembari membereskan pakaian, saya juga menyiapkan pensil 2B, beberapa Tazos, dan gelang karet. Semua saya jadikan satu bersama desgrep (kotak pensil; perlu kamu ketahui bahwa itu adalah bahasa jogja).

Setelah semua siap, tak lupa saya memenuhi tas kesayangan dengan snack berupa anak mas dan permen Yupi berbentuk pizza dan burger. Oh iya, tak ketinggalan sisir kesayangan wajib dibawa. Demi rapinya rambut agar tidak terbelah ke pinggir kanan, kiri, atau bahkan acak-acakan. Belah tengah adalah kunci.

Berangkat pake angkot kuning cukup bayar 250 rupiah. Sesampainya di sekolah langsung cium tangan ibu dan bapak guru sebelum masuk kelas. Bagi saya, kelas terasa selalu membosankan. Beruntung saya dan teman-teman selalu menyiapkan kertas kosong dengan jumlah cukup banyak. Tak lupa menyiapkan aneka bolpoin dan pensil.

Saat guru menyuruh kita mengerjakan tugas, kita justru asyik bermain dengan kertas dan bolpoin tersebut. Salah satu teman menggambar semacam sirkuit pada kertas. Kemudian kita memegang bolpoin jagoan. Nah saat itulah bunyi cethak cethik layaknya orang menikmati balapan MotoGP atau FI tersaji di meja persegi panjang.

Permainan tersebut kita lakukan sampai menjelang bel akhir sekolah. Pasca pulang sekolah, kami tak langsung menuju rumah masing-masing. Melainkan menuju lapangan untuk bermain bola. Terik panas yang menyengat selalu kami acuhkan demi bermain bola plastik.

Kami tak bermain bola seperti pertandingan bola pada umumnya melainkan bermain Semarangan. Ya, semarangan. Ini pertandingan yang dimainkan oleh dengan jumlah ganjil. Satu menjadi penjaga gawang. Kemudian yang lain membentuk dua tim. Setiap tim berisi 2-4 orang. Tugas setiap tim cukup mudah. Mencetak gol ke gawang. Mirip 3 on 3 basket, tapi hanya menggunakan satu gawang.

Adzan magrib berkumandang. Mitos wewe gombel kadang bergentayangan kadang mengusik benak kita. Tapi kita tetap bermain bola sampai satu hal. Ember berisi air kemudian dilemparkan ke lapangan. Seketika itu juga kami langsung kabur dan lari terbirit-birit.

Saat malam tiba, kami disuruh mengerjakan pekerjaan rumah. LKS macam ultra dan buku-buku penerbit Erlangga selalu ditumpuk di meja. Sembari makan biting, kami sigap untuk mengerjakan PR yang selalu dianggap senonoh. Tak lupa menyiapkan kaset dan pensil. Untuk apa? Memasukkan pensil ke salah satu lubang kaset untuk kemudian diputar menjadi SIDE A.

Dan masukkan kaset ke radio dan terdengarlah sebuah lagu yang cukup melegenda.

“Bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan, di hari nanti Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan”

Surat Klarifikasi dari Moddie

img_0015.jpg

Apakah namamu sulit dieja? Apakah namamu sukar ditulis? Berbahagialah dan beruntunglah kamu jika namamu gampang diucapkan lidah orang Indonesia. Nah mari kita baca kisah tentang nama saya sendiri. Moddie Alvianto Wicaksono.

Buatlah kopi, siapkan keripik. Karena anda akan membaca kisah pendek selama 3-4 menit.

Sejak saya TK hingga SMA, nama saya sering salah diucapkan maupun dituliskan. Ada yang memanggil saya Maudy karena kemiripan nama dengan artis. Ada yang memanggil Modot karena saking berulah di dalam kelas. Ada pula yang memanggil nama Moldy karena dikira saudara seperburung dari vokalis Radja.

Itu baru soal pengucapan. Lain lagi dengan penulisan. Tak ada yang benar dalam menulis nama saya kecuali orangtua, istri, dan petugas akta nikah. Lainnya nihil. Ada yang menulis Modie, Moudy, Maudy, Moodie, Moldy, Mody, Modi dan masih banyak lagi. Ini menjadi soal dalam penulisan KTP, SIM, ijazah hingga akta kelahiran.

Sampai pada suatu saat saya lulus SD, nama saya salah dalam ijazah. Bukan nama depan yang keliru, melainkan nama tengahnya. Ditulis Alfianto. Merujuk pada sejarah, sebenarnya nama Alfianto yang direstui oleh kedua orangtua saya. Tapi apa daya, sang petugas akta kelahiran adalah keturunan Arab. Sulit membedakan huruf f dan v. Jadilah nama saya di akte kelahiran Alvianto.

Sesudah masalah penulisan dan pengucapan, ada yang lebih heboh lagi. Persoalan asal nama. Sejatinya saya maklum mengapa banyak orang menanyakan asal nama Moddie. Nama yang unik sekaligus menggemaskan. Berbeda jika saya mempunyai nama Abdul, Fajar, atau Dimas. Tentu tak akan ada pertanyaan. Banyak duplikatnya.

Jadi sejak saat itu saya merumuskannya begini. Nama Moddie itu berasal dari dua kata. Monday dan Manado. Kata Monday berasal dari hari saya dilahirkan. Sedangkan kata Manado adalah kota dimana ayah saya bekerja disana saat ibu saya mengandungku. Jadi, sekarang tahu kan asal mula nama Moddie? Cukup sampai disini aja kah? Belum.

Setelah membedah nama Moddie, mari kita simak nama tengah saya. Alvianto. Mengapa saya diberi nama tengah Alvianto? Jawabannya adalah Alvianto adalah dokter yang membantu ibu saya dalam persalinan. Tapi ya itu aslinya bernama Alfianto. Namun, karena sesuatu hal yang telah saya ungkapkan pada paragraf keempat maka berubah menjadi Alvianto.

Apakah cukup sampai disini? Saya pikir iya. Karena nama belakang saya tak perlu dipertanyakan lagi. Wicaksono adalah nama alias dari bijaksana. Maksudnya supaya saya lahir, tumbuh, dan berkembang menjadi orang yang bijaksana. Semoga.

Berkaitan dengan nama, saya jadi ingin memasukkan selopan sandal kepada salah satu teman saya. Mengapa begitu? Baru-baru ini ada peristiwa penyidik KPK yaitu Novel Baswedan yang disiram air keras oleh dua pengendara motor sehabis sholat subuh. Apakah permasalahannya?

Jadi begini, pada salah satu grup WA, seorang teman berkata, “Novel Baswedan itu saudaranya Pak Anies ya? Ya Allah, saudaranya aja didzalimi apalagi nanti Pak Anies ya?”

Wadefak. Mak petuntung. Tak dung tak ces. Begitulah ungkapan hati saya saat mendengar pernyataan itu. Sejatinya kemiripan nama bukan berarti kemiripan nasib. Saya kasih contoh. Bambang Pamungkas dan Dimas Probo Pamungkas. Apakah sama? Tampak sama nyatanya beda. Bambang Pamungkas bisa memikat klub Persija Jakarta sedangkan Dimas Probo Pamungkas lihai memikat hati wanita. Sama-sama memikat namun objeknya berbeda.

Ada lagi yang membuat saya jengkel sekaligus tertawa. Baru-baru saya kembali mendapat cemooh tentang kafir dan munafik. Ya, saya dibully karena salah satu artikel saya menyinggung soal muslim. Katanya, saya bukan saudara seiman. Duh.

Mulanya saya jengkel tapi kemudian tertawa. Kenapa begitu? Karena selain saya dicap kafir, saya juga dianggap kefir. Selain dianggap munafik, saya juga dikatakan munafie. Entah itu persoalan salah ketik atau penistaan terhadap kulit saya, kafir dan kefir itu berbeda. Begitu pula munafik dan munafie itu lain artinya.

Asal kalian tahu, kalo kefir artinya fermentasi susu kambing sedangkan munafie adalah merek daleman. Wanita pula.

Sampah, Nyampah, dan Sumpah Serapah

Peradaban manusia semakin berkembang. Teknologi informasi kian pesat. Pertumbuhan ekonomi merangkak naik. Pembangunan berkelanjutan menjadi garda terdepan. Namun, kelestarian lingkungan justru semakin tertawan.

Pembangunan berkelanjutan adalah lawan dari kelestarian lingkungan. Kalo yang satu berkembang, yang lain terbelakang. Begitu juga sebaliknya. Peristiwa sengketa tanah di Kulonprogo, pembangunan semen di Rembang, hingga penggerusan tanah di Kalimantan adalah rentetan peristiwa mutakhir yang hadir di lini masa.

Lalu siapa yang berhak disalahkan?

Ini menjadi polemik yang tak kunjung usai. Menelisik kedua tema itu tak ubahnya harus melihat dari sisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Semua berkelindan sehingga satu sama lain tak terpisahkan. Baik pemerintah maupun masyarakat berperan dalam polemik tersebut.

Sebenarnya untuk berbicara tentang kelestarian lingkungan tak perlu jauh mengamati konflik agraria maupun ekologi seperti contoh di atas. Kita sebagai manusia terkadang alpa untuk mempraktekan apa yang dimaksud dengan kelestarian lingkungan.

Membuang sampah pada tempatnya adalah hal sepele namun itu sulit dilakukan. Disadari atau tidak, banjir terjadi karena banyaknya sampah yang menumpuk di sungai atau selokan. Kita seringkali malas untuk membuang sampah pada tempatnya.

Selain itu, banjir juga diperparah dengan masifnya perkembangan hutan beton di kota tersebut. Jogjakarta misalnya. Tahun 2016, IMB untuk membangun apartemen atau hotel sudah memasuki antrian ke 80 lebih. Bayangkan apabila izin tersebut disahkan semua. Dan bisa kita bayangkan dalam 10 tahun mendatang, Jogja bisa tenggelam. Menyeramkan.

Menanam tumbuh-tumbuhan atau pohon. Ini sudah sangat sulit dilakukan karena lahan makin sempit. Semakin bertambah ledakan populasi manusia maka semakin berkurang lahan pertanian. Ini diperparah pula (maaf) kemana lulusan pertanian? Mungkin sangat jarang ditemukan lulusan tersebut kembali untuk menjadi petani. Bahkan lebih miris lagi ternyata jurusan pertanian paling sedikit peminatnya dalam SBMPTN 2016. Oh, sungguh ironi.

Jujur saja, saya paling tidak suka melihat orang buang rokok sembarangan. Mbok ya dibuang di tempat sampah atau gimana gitu. Tapi ya mau gimana lagi, cukai rokok adalah pendapatan utama dan terbesar bagi perekonomian Indonesia. Jadi sebenarnya ya wajar dong jika mereka melakukan hal seperti itu. Kekurangan masyrakat ditutupi dengan kelebihan perusahaan memaksimalkan potensi cukai rokok.

Sebenarnya, saya cukup muak dengan teori-teori lingkungan yang harus begini begitu. Atau bualan pemerintah bahwa dunia lebih-lebih Indonesia sedang mengalami degradasi lingkungan, satwa langka ditelantarkan, dan lainnya. Tapi apa? Ya tetep saja gitu-gitu aja toh.

Beberapa tahun yang lalu, di Jagakarsa, Jakarta Selatan ada peringatan hari bumi. Semua warga di kelurahan tersebut diharapkan hadir mengingat banyak pejabat pemerintah yang datang. Acara berlangsung khidmat sampai momen yang paling penting. Menanam sebatang pohon demi kelestarian lingkungan.

Acara dan momen yang cukup bagus. Setelah berakhirnya acara tersebut, sekop dan beberapa peralatan lain ditinggalkan begitu saja. Lokasi banyak sampah. Ketika ada seorang warga berusaha membantu dan menegur warga lain, dirinya terhenyak dengan jawaban beberapa dari mereka.

“Sudahlah pak, biarkan petugas kebersihan saja. Ini biar menjadi tanggung jawab mereka. Masak mereka ga kerja? Gaji buta dong.”

Ia dan beberapa warga yang membantu cukup kaget dengan pernyataannya. Ini menjadi soal karena beberapa dari mereka merupakan warga yang tinggal di daerah tersebut. Daripada beradu debat, akhirnya lebih baik membiarkan mereka pulang dan membiarkan yang lain untuk tetap bekerja membersihkan sampah,

Kadang saya berpikir begini, mau kebijakan apapun dikeluarkan, biaya ratusan miliar dianggarkan jika kesadaran manusia dalam menjaga lingkungannya saja masih begitu ya jangan harap lebih. Jadi ya wajar peringatan hanya sekedar peringatan. Namanya juga peringatan, jadi ya sebatas mengingat.

Kalo saya sebagai warga negara Indonesia, cukuplah melakukan hal sederhana. Buang sampah pada tempatnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjaga kelestarian lingkungan. Tak perlu ndakik-ndakik obrolan suruh begini begitu.

Lakukan sampah sebagaimana mestinya. Buang pada tempatnya. Tapi sayang, tampaknya kita lebih suka nyampah dan mengucapkan sumpah serapah daripada membuang sampah pada wadah.

Dari Warga Jogja untuk Raja Jogja

Beredar kabar bahwa ojek daring akan dilarang beroperasi di Jogjakarta. Ini artinya Jogja akan mengikuti jejak Tangerang dan Malang yang melakukan kebijakan serupa. Ini menarik.

Menurut saya, Jogja berbeda dari kedua kota tersebut. Lha iya jelas beda. Dari namanya saja sudah beda. Bukan itu masalahnya. Yang buat berbeda adalah Jogja dianggap minim dalam penyediaan angkutan umum.

Sebenarnya ini seperti sesuatu yang paradoks. Jogja dianggap sebagai kota dengan tingkat pariwisata ketiga terbaik di Indonesia namun dengan tingkat pelayanan publik yang cukup rendah. Dimaksudkan rendah dalam hal penyediaan angkutan umum.

Mau kasih contoh? Boleh.

Dulu, ketika saya bersekolah dari SD hingga SMA, sangat mudah menemukan angkutan kuning macam D2, D6, A3, 21, dan RAS. Belum lagi ditambah angkutan oranye macam KOPATA. Sekarang? Nihil dab. Tak ada sama sekali.

Mungkin kamu sesekali menjumpai angkutan tersebut. Tapi lebih sering kamu tidak menemukan angkutan tersebut. Itupun tinggal trayek dari perempatan Kentungan hingga menuju UII. Selain itu? Tak ada.

Dulu, pernah terjadi bentrok antara supir angkot dengan hadirnya Trans Jogja yang dianggap mengancam pendapatan mereka. Tapi apa yang terjadi? Mereka justru tergerus secara perlahan-lahan. Kemudian hilang. Kalah dengan pesaingnya yaitu Trans Jogja.

Jelas, Trans Jogja lebih diunggulkan. Selain dianggap nyaman, tarifnya tetap, dan ini transportasi publik yang paling diunggulkan dan secara sah layak di Jogjakarta. Dibandingkan dengan mereka yang dianggap kurang teratur.

Kenapa dianggap kurang teratur? Ya, karena suka ngetem kelamaan. Bahkan di setiap angkutan selalu terpasang stiker “Anda butuh Waktu? Kami butuh uang”. “Anda butuh Cepat? Kami butuh Makan.” Nah kalo sudah melihat slogan tersebut, penumpang pun biasanya memaklumi.

Apalagi hidup di Jogjakarta dengan manusia-manusianya tingkat superwoles. Santai dalam menikmati hidup. Tak perlu terburu-buru seperti di Ibukota. Selambat-lambatnya angkutan Jogja, tidak lebih lambat daripada klub Arsenal yang selalu ngadat jika menuju perempat final Liga Champions.

Nah, berbeda dengan Malang dan Tangerang yang notabene angkot masih berkeliaran di jalanan. Lhah Jogja? Ya tinggal vis a vis sama taksi. Lalu apakah pengemudi taksi protes?

Sampai saat tulisan ini diketik, belum ada gelombang protes dari supir taksi. Mungkin justru tidak akan pernah ada. Kenapa bisa begitu? Ya karena, taksi di Jogjakarta sudah berinovasi seperti ojek daring. Menggunakan aplikasi online.

Lalu kenapa sekarang tiba-tiba akan beredar pengumuman bahwa ojek daring akan dilarang? Saya juga ga ngerti. Mudah-mudahan kamu lebih paham. Atau mungkin Raja Jogja?

Di lini masa, sinisme yang lebih mengecam dilakukan oleh para mahasiswa. Kenapa begitu? Ya angkutan yang tersedia dan murah sesuai kantong mahasiswa cuma ojek daring. Kenapa ga pake taksi? Ya tau sendiri kalo label taksi dianggap sebagai kaum kelas atas.

Mau pake angkot? Lhah emang masih ada? Sudah menjadi barang langka. Sama kayak populasi orang utan di Kalimantan. Bedanya kalo orang utan kalah dengan pembalakan liar, kalo angkot kalah dengan peradaban teknologi.

Mau pake Trans Jogja? Yah rutenya sekarang cuman itu-itu aja. Nggak ditambah. Eh ini malah tampilan busnya makin hari makin ‘unik’. Sudah begitu armadanya juga nggak ditambah. Orang jadi males pake armada tersebut.

Kita ga bisa memungkiri bahwa dunia makin instan. Sekarang kebutuhan apapun tinggal pencet dan klik maka kebutuhan kamu akan tercapai. Nah itu yang disasar oleh pemrakarsa ojek online. Dan Jogja adalah pangsa pasar terbaik karena Jogja adalah magnet bagi mahasiswa.

Saya kok malah berpikir nanti yang pada protes macam demo bukan supir angkot atau supir taksi. Melainkan mahasiswa. Kenapa begitu? Jelas, mereka tak bisa lagi dapat harga promo untuk antar jemput. Tak ada lagi pesan makanan tanpa harus antri di tempat makan.

Saya pernah iseng bertanya dan sedikit survei kepada mahasiswa baik putri maupun putra di kampus saya. Dari 10 orang pengguna gawai, 8 diantaranya mengunduh aplikasi online milik ojek daring. Dan 6 diantaranya lebih banyak digunakan untuk pesan makanan daripada antar jemput.

Nah gimana? Kamu (baca:pembaca) pasti juga memiliki aplikasi online kan? Kalo tebakan saya salah, mungkin anda cuma menyanggah.

Kalo menurut saya sebagai anak Jogja, lebih baik pemerintah Jogjakarta membenahi pelayanan transportasi publik. Ini serius. Ga main-main. Banyak lho wisatawan yang mengeluh. Cuman mereka ga berani. Tau sendiri Jogja itu gimana. Sekali sang Raja berbicara, maka rakyat wajib mentaatinya.

Benar, raja adalah raja. Tapi tolonglah Sultan HB X. Saya meminta wewenang anda sebagai gubernur. Kembalikanlah wajah Jogjakarta sebagai kota yang ramah dalam hal transportasi publik.

Masihkah anda bergeming dengan kenyataan bahwa Jogjakarta menempati peringkat ke 5 dengan tingkat kemacetan terparah di ASIA? Saya cinta Jogja. Saya rindu Jogja. Kalo anda memang tresna dengan Jogjakarta. Jadikan Jogja yang ramah pada warganya. Bukan warganya yang marah pada rajanya.

Jogja Istimewa.