Kita Semua Bersaudara

pandit football

Sumber: panditfootball.com

Aku pikir anak-anak lebih memahami dunia daripada orang dewasa. Terutama ketika bagaimana cara mereka memperlakukan orang lain.

Terkadang orang-orang mengajukan pertanyaan ini dan aku akan kesulitan untuk menjawabnya. Mereka berkata, “Kouli, bagaimana rasanya ketika fan berteriak rasis ke arahmu? Apakah itu mengganggu? Apakah seharusnya disudahi?

Aku berpikir bahwa sampai kamu tinggal di sini, kamu tidak akan benar-benar memahaminya. Ini seperti sesuatu yang menyedihkan dan sulit untuk dibicarakan. Tetapi, aku akan mencoba menjelaskannya kepadamu, karena ada pesan penting yang aku inginkan dari setiap anak-anak untuk membaca dan memahaminya.

Tetapi pertama, mari kita bicara tentang kebencian.

Pertama kali aku benar-benar mengalami perlakuan rasis saat bertanding melawan Lazio beberapa musim lalu. Setiap aku mengendalikan bola, aku mendengar fan membuat teriakan yang bising. Tetapi, aku tak yakin jika aku hanya berimajinasi. Ketika bola sedang keluar lapangan, aku bertanya kepada kawan timku, “Apakah teriakan itu hanya tertuju padaku?”

Pertandingan terus berlangsung. Aku menyadari beberapa fan Lazio meneriakkan suara seperti monyet ketika aku sedang menyentuh bola. Sangat tidak mungkin untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang seharusnya kulakukan. Ketika aku berjalan keluar untuk memberikan semacam tanda, tetapi aku berkata pada diriku bahwa ini yang sebenarnya mereka inginkan. Aku mencoba berdiam, berpikir, dan bergumam,

“Mengapa mereka melakukan ini? Apakah karena saya hitam? Apakah tidak normal menjadi orang hitam di dunia ini?

Kamu hanya ingin bermain sesuatu yang kamu cintai, seperti yang telah dilakukan puluhan kali sebelumnya. Kamu merasa terluka. Kamu merasa nista. Jujur saja, ada fase yang mana kamu merasa malu terhadap diri sendiri.

Selang beberapa waktu, sang wasit, Irrati, menghentikan pertandingan. Dia berlari, datang kepadaku, dan berkata, “Kalidou, aku bersamamu, jangan khawatir. Mari kita hentikan nyanyian itu. Jika kamu tak ingin menyelesaikan permainan, beri tahu aku.”

Aku berpikir tindakannya adalah sebuah keberanian. Lalu, ia meniupkan peluit, memberikan pengumuman kepada fan, dan menghentikan pertandingan selama tiga menit. Lalu, kami melanjutkan pertandingan, dan tetap saja, nyanyian itu masih ada dan seperti enggan untuk berhenti.

Setelah pertandingan berakhir, aku berjalan ke lorong, dan aku benar-benar sangat marah. Tetapi kemudian, aku teringat sesuatu yang penting. Sebelum pertandingan dimulai, seorang anak kecil berjalan ke arahku lalu menggandeng tanganku. Dia meminta apakah boleh meminta jerseyku. Aku berjanji akan memberikannya setelah selesai pertandingan. Jadi aku berbalik arah kemudian mencarinya. Aku menemukannya di tribun dan memberikan jerseyku kepadanya. Tahukah kamu apa yang diucapkannya kepadaku?

“Aku minta maaf apa yang telah terjadi (selama pertandingan berlangsung).”

Ucapannya membuat hatiku tersentuh. Dia meminta maaf mewakili atas apa yang telah dilakukan oleh banyak fan. Dan di benaknya, dia hanya berpikir bagaimana perasaanku.

Aku berkata kepadanya, “Tenang saja. Terima kasih. Ciao.”

Ini adalah semangat dari seorang anak kecil. Ini yang telah dilewatkan dunia hingga sekarang. Saya tahu nyanyian itu sebenarnya tak hanya ditujukan kepadaku melainkan juga beberapa kawanku. Sebab, mereka menyerukan “gipsi” dan mereka bahkan menyerukan kepada pemain Italia, Lorenzo Insigne, “Neapolitan shit.”

Kami membutuhkan sesuatu yang lebih baik. Setiap insiden terjadi, klub membuat pernyataan, dan itu akan terjadi lagi. Di Inggris, kami lihat banyak perubahan. Ketika seseorang teridentifikasi, mereka akan melarang dan menghukum untuk tidak ke stadion selamanya. Aku berharap peraturan serupa bisa diterapkan di Italia. Tetapi, aku juga berpikir mengapa orang-orang melakukan hal itu. Bagaimana membuat mereka dapat berubah? Bagaimana cara kita untuk menggapai hati mereka?

skysports

Sumber: skysports.com

Aku tak memiliki jawaban atas hal itu. Tetapi, aku akan bercerita tentang kisahku.

Mungkin banyak orang melihatku sebagai pesepakbola atau pesepakbola berkulit hitam. Tetapi, aku bukan hanya itu. Aku mengatakan kepada sahabatku, “Jika kamu melihatku sebagai pesepakbola, dan bukan sebagai Little Kouli, dan bukan sebagai temanmu, lalu aku gagal dalam hidupku.”

Aku tumbuh di sebuah kota di Perancis, Saint-Dié—tempat di mana imigran tinggal seperti Maroko, Senegal, dan Turki. Keluargaku datang dari Senegal. Ayahku yang pertama kali. Dia adalah penebang. Iya, penebang (kayu) asli Perancis. Mereka masih ada. Tetapi, sebelum dia mendapatkan pekerjaan, dia datang ke Paris tanpa dokumen dan bekerja di pabrik tekstil. Tujuh hari selama seminggu. Sabtu dan Minggu tak libur. Dia melakukannya selama lima tahun dan mampu menabung sehingga dapat membawa ibuku ke Perancis. Dan kemudian, Little Kalidou lahir di Saint-Dié (Namaku diambil dari Alquran).

Ibuku menyukai sebuah cerita ketika dirinya kembali ke Senegal. Aku masih berusia enam tahun dan aku cukup takut. Itu untuk pertama kalinya aku bertemu kakek-nenekku dan sepupuku. Aku merasa syok melihat bagaimana orang-orang tinggal di belahan dunia lain. Seluruh anak-anak bermain bola tanpa mengenakan sepatu, dan aku benar-benar terkejut, aku pikir.

Kata ibuku, aku memohon kepadanya untuk membelikan sepatu untuk semua orang agar aku bisa bermain sepakbola dengan mereka. Namun, apa kata ibuku?

“Kalidou, lepaslah sepatumu, pergi dan bermain bersama mereka.”

Akhirnya, aku melepaskan sepatu dan bermain tanpa alas kaki bersama para sepupuku—dan di sinilah perjalanan sepakbolaku dimulai. Ketika kami kembali ke Perancis, aku sering bermain di taman kecil yang ada di lingkungan kami. Ada banyak tetangga yang imigran sehingga kami bermain antara Senegal vs Maroko; Senegal vs Turki; Maroko vs Turki.

Itu seperti Piala Dunia mini setiap hari.

Ada banyak macam tetangga di sini… Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya? Jika ibumu membutuhkan sesuatu, kamu tidak akan pergi ke toko kelontong. Kamu akan bertanya kepada tetanggamu. Tak ada pintu yang tertutup untukmu, kamu mengerti? Ketika aku pergi ke rumah temanku dan berkata, “Hallo, apakah Muhammad di sana?”

Ibunya lantas menjawab, “Tidak, dia sedang keluar. Tetapi, kamu ingin bermain Playstation?”

Kamu lihat, aku tidak memiliki Playstation di rumah, jadi aku melepaskan sepatu, kemudian bermain seperti layaknya rumah sendiri. Aku merasa tersanjung.

Jika dia berkata, “Kalidou, pergi ke toko dan belikan beberapa roti.” Aku akan pergi dan menuruti apa katanya seperti yang biasa aku lakukan di rumah.

Ketika kamu tumbuh di lingkungan ini, kamu akan melihat setiap orang adalah saudaramu.

Kami hitam, putih, Arab, Afrika, Muslim, Kristen, dan ya, kami semua adalah orang Perancis.

Kami semuanya lapar, kami akan pergi makan ke toko Turki bersama-sama. Atau malamnya, kami akan pergi ke rumahku dan bersama menikmati makanan Senegal. Ya, kami berbeda tapi kami sama dan setara.

Aku ingat selama Piala Dunia 2002, kami pergi ke sekolah selama pertandingan Perancis melawan Senegal. Turnamen berlangsung di Jepang sehingga ada perbedaan waktu antara di sini dan di sana. Kami ingin pergi keluar saat istirahat, lalu bermain sepakbola seperti final Piala Dunia, dan kemudian kembali ke dalam untuk belajar.

Kami sangat depresi.

Pertandingan berlangsung pada pukul 02.00 PM.

Pukul 01.59 PM, guru berkata, “Ayo anak-anak, semua buka bukunya.”

Kami membuka buku. Kami seperti bermimpi. Tak ada yang benar-benar memperhatikan isi buku. Kami hanya berpikir Henry, Zidane, Diouf….

Dua menit berlalu. Tiga menit berlalu. Lalu, guru memperhatikan jam tangannya.

Dia berkata, “OK. Semuanya letakkan buku kalian.”

Kami berpikir, ”Apa yang dia lakukan? Apa yang hendak dia bicarakan?”

Dia berkata, “Sekarang kita akan melihat film edukasi yang saya yakin akan membuat kalian sangat bosan.”

Dia mengambil remote dan menyalakan TV di kelas tentang sebuah pertandingan.

Dia berkata, “Ini sebuah rahasia kita, ya?”

Kami pikir itu adalah momen terindah dalam hidupku. Ada 25 orang yang di antaranya—Senegal, Maroko, Turki, Perancis—tapi kita semua adalah sama. Aku ingat dengan jelas, setelah Senegal menang, berjalan kembali ke rumah setelah usai sekolah dan melihat keluargaku serta teman-teman Senegal berdansa di jalan. Dan kemudian, semua orang terlihat bahagia, bahkan orang-orang Turki dan Prancis berdansa di jalanan bersama mereka.

Kenangan ini tergambar jelas dalam benakku. Tentang apa itu sepakbola. Tentang apa itu keluarga.

Kamu dapat meraih segalanya dalam hidupmu—kamu bisa membeli mobil, kamu bisa memiliki uang yang banyak. Tetapi kamu tidak bisa membeli tiga hal dalam hidupmu. Persahabatan, keluarga, dan ketentraman.

Itu adalah sesuatu yang terpenting dalam hidupmu.

Kamu tidak dapat membelinya. Satu hal yang penting adalah kita bisa mengajari anak-anak kita. Ini adalah sesuatu yang diajarkan orangtuaku kepadaku. Mereka tak peduli dengan sepakbola sepenuhnya. Yakinlah.

Keluargaku tidak pernah hadir pada pertandingan bola yang ku mainkan. Ayahku pernah datang sekali, tapi ibuku tak pernah. Tetapi, terkadang mereka akan menonton pertandinga besar denganku ketika mereka berada di depan televisi. Jadi, aku membayangkan jika mereka tak bisa datang ke stadion, aku akan membawanya ke stadion.

Aku telah muncul di TV sehingga mereka bisa melihatku.

Aku tidak akan lupa saat menjalani pertandingan pertamaku melawan Metz. Aku datang sebagai pengganti. Aku tahu pertandingan itu disiarkan di televisi. Jadi, ketika usai, aku menelepon ibuku dan bertanya, “Ibu senang? Ibu melihatku di televisi?”

Dia berkata, “Senang? Kamu selalu bermain sepakbola. Biasa saja. Ini seperti yang kamu inginkan, ‘kan? Sekarang kamu ada di TV dan itu keren.”

Dia tak berarti jalanku buruk—itulah dia yang mengungkapkan apa adanya. Persis ketika aku bermain bola sejak kecil. Mungkin akan terlihat baik ketika orang-orang lain melihat dan menyukainya. Sepakbola adalah olahraga yang membawa orang-orang terlihat lebih dekat dan bersama, ‘kan? Sepakbola membawaku berkeliling dunia. Aku pergi ke Genk, Belgia, dan kemudian ke Napoli, Italia dan aku belajar banyak bahasa dan bertemu dengan bermacam-macam orang.

Ada sebuah ungkapan, “Ketika kamu belajar banyak bahasa, kamu akan membuka pintu semuanya.”

Aku tak berbohong padamu. Aku hanya merasa bersalah, seperti orang-orang, dengan siapa pun tentang ide sebuah tempat dan masyarakat. Sebelum aku datang ke Napoli, aku merasa khawatir karena aku tak tahu bahasanya dan aku mendengar banyak orang membicarakan buruknya mafia dan kriminalitas dan hal-hal lainnya. Aku belum pernah ke sini sebelumnya jadi aku tak tahu apakah mereka berkata jujur atau tidak.

Oh, ya, ada cerita lucu.

Ketika aku bermain untuk Genk, Belgia, sahabatku, Ahmed datang untuk tinggal beberapa hari di rumahku. Ketika aku menunggunya datang dengan kereta, aku ditelepon oleh orang tak dikenal.

Aku menjawab, dalam Bahasa Inggris, “Halo, ini siapa?”

Suara di sana berkata, “Halo, ini Rafa Benitez.”

Aku berkata, “Ayo, Ahmed, jangan bergurau. Aku menunggumu di sini.”

Aku menutup ponsel.

Dia menelepon lagi, dan aku merasa terganggu.

Aku berkata, “Berhenti, Ahmed. Aku di sini. Kapan kamu tiba?”

Dia berkata, “Halo? Ini Rafa Benitez.”

Aku menutup ponsel lagi.

Kemudian, aku mendapat telepon dari agenku. Aku mengambil ponsel.

Dia berkata, “Kouli, Bagaimana kabarmu? Kamu sudah dapat telepon dari Rafa Benitez, Napoli? Dia ingin meneleponmu.”

Aku berkata, “Serius?! Kamu tak bergurau, ‘kan? Aku berpikir dia salah. Aku kira sahabatku sedang bercanda.”

Agenku menelepon Rafa dan menjelaskan apa yang telah terjadi, dan kemudian Rafa menelepon lagi, dan aku mengambil ponsel seperti tak ada sesuatu sebelumnya.

Aku berkata, “Halo, Rafa! Bonjour! Hola! Halo!”

Dia berkata, “Kamu ingin aku berbicara Bahasa Inggris?”

Aku menjawab, “Boleh, kita berbicara sesuai yang kamu inginkan.”

Jadi, kita berbicara dalam Bahasa Inggris.

Dia mengajukan banyak pertanyaan seperti, apakah aku udah punya pacar, apakah aku suka pergi ke pesta, apakah aku tahu (Napoli)? Pemainnya?

Aku mencoba menjawab, “Ya, aku tahu Hamsik?”

Sejujurnya, aku tak tahu Napoli itu seperti apa begitu juga dengan para pemainnya tapi aku tahu Rafa Benitez dan aku cukup tersanjung berbicara dengannya.

Aku menelepon agenku dan seraya berkata, “Terserah apa yang kamu lakukan. Kita akan pergi ke Napoli.”

IamNaples

Sumber: iamnaples.it

48 jam lebih di musim dingin antara Napoli dan Genk tak menemukan kesepakata. Tapi, Rafa teguh dengan kata-katanya. Di musim panas, dia membawaku. Ketika aku tiba untuk tes kesehatan, aku begitu gusar karena aku tak bisa berbahasa Italia sedikit pun. Aku bertemu dengan bos Napoli, De Laurentiis di lorong.

Dan aku pikir dia akan menceritakan segalanya tentang klub dan kota Napoli.

Dia mencariku dan mengajukan semacam pertanyaan unik dan dia berkata, “Oh, kamu Koulibaly?”

Aku menjawab, “Ya, aku Koulibaly.”

Dia lantas bertanya, “Tetapi bukannya kamu gak tinggi? Bener ini 192 sentimeter?

Aku menjawab, “Oh, tentu tidak. Ini hanya 186 sentimeter.”

Dia terkejut, “B*ngs*t! Di dokumen tertulis tinggimu 192 sentimeter! Aku harus berbicara dengan Genk dan meminta uangku kembali!”

Aku lantas menjawab, “Tenang, Bos. Kamu akan mendapat semuanya. Aku akan beri beberapa sentimeter lagi saat di lapangan. Jangan khawatir.”

Dia menyukainya. Dia tertawa dan berkata, “Oke, oke. Selamat datang di Napoli, Koulibaly. Selamat datang.”

Setelah tes kesehatan, Rafa mengajakku makan siang, dan hal pertama yang dilakukan sebelum aku duduk, sebelum kami mengambil menu, dia mengambil segelas wine dari meja lain. Dia menggeser dan menggelindingkan di meja. Aku berpikir, “Apa yang dia lakukan? Apakah dia mabuk?”

Dia berkata, “Oke, aku akan menunjukkanmu tentang taktik.”

Pelayan datang, dan dia mendorong gelas ke mana-mana, sembari berucap, “Ini adalah bagaimana kita bermain. Kamu ke sini lalu kamu ke sana. Kamu paham? Sekarang, kamu harus melakukannya secara cepat: Kamu harus cepat paham dengan taktik dan kamu harus belajar Bahasa Italia.

Aku berkata, “Oke, Bos. Oke.”

Ketika aku kembali dari liburan, Rafa mengajakku ke sebuah ruangan dan menunjukkan beberapa analisis video tentang bagaimana cara bermain yang paling baik. Umpan sensasional, menggiring bola, dan menekel lawan.

Dia berkata, “Ini, ini, dan ini.”

Aku menjawab, “Ya? Ini bagus atau tidak?”

Dia menyentak, “Jangan lakukan tindakan bodoh ini lagi.”

Aku berkata, “Tapi aku ingin memenangi bola itu.”

Ini akan sulit menjawab bagian selanjutnya, tapi dia berkata, “Ini bodoh! Kamu meraih bola dengan kekuatanmu. Jika musuh lebih pintar darimu, kamu akan mengalami masalah.”

Kemudian dia menunjukkan video lain. Permainan yang normal. Cenderung membosankan.

Dia tersenyum, dan berkata, “Ya, ini bagus! Ini sangat bagus.”

Aku menyanggah, “Tapi, Bos, ini sangat sederhana.”

Dia menjawab, “Ya, Koulibaly, tentu saja.”

Dia menunjukkan segala sesuatu tentang pengalamannya. Saat aku tiba di Italia, aku masih remaja. Aku menjadi lebih baik sebagai pesepakbola karena aku belajar taktik level top. Mereka sangat teliti dengan taktik di sini. Tapi hal terpenting adalah aku telah menjadi ayah dan seorang Napolitan.

Bahkan, ketika aku kembali ke Perancis, teman-temanku tak memanggilku dengan sebutan Senegal atau Perancis melainkan Napolitan.

Napoli adalah kota yang mencintai orang-orangnya. Ini mengingatkanku pada Afrika karena kehangatannya. Orang-orang tak akan melihat masa lalumu. Mereka hanya ingin dekat denganmu, menyentuhmu, dan mereka ingin berbicara denganmu. Mereka sangat mencintaimu. Tetanggaku, menganggapku sebagai anaknya.

Sejak aku di Napoli, aku menjadi orang lain. Aku menemukan kedamaian.

Bagian terbaik adalah ketika anakku lahir di sini. Dan aku tak akan melupakan hari itu karena itu adalah hari paling gila dalam hidupku di Napoli.

Kamu lihat, ketika istrimu berada di klinik pada pagi hari, dan kami akan bermain melawan Sassuolo di kendang malam nanti. Kami sedang melihat analisis video dan ponselku terus berdering. Aku biasanya mematikannya, tapi aku khawatir dengan istriku.

Dia meneleponku lima hingga enam kali.

express dot co dot uk

Sumber: express.co.uk

Manajerku saat itu adalah Maurizio Sarri. Dia pria yang sangat intens. Aku tak berani menjawab. Akhirnya, aku lari keluar, mengangkat telepon, dan istriku berkata, “Kamu harus ke sini sekarang. Anakmu akan segera lahir!”

Aku mendatangi Sarri, dan berkata, “Sarri, Maaf, aku harus pergi sekarang! Anakku akan lahir!”

Sarri melihatku dan berkata, “Tidak, tidak, tidak. Aku butuh kamu, Kouli. Aku sangat butuh kamu. Jangan pergi.”

Aku lantas menjawab, “Ini adalah hari kelahiran anakku, Sarri. Terserah apa yang kamu ingin lakukan. Mendiamkanku, Menghukumku, aku tak peduli. Aku akan pergi.”

Sarri terlihat stres. Dia mulai mengambil korek dan menyalakan rokok. Merokok, merokok, dan berpikir, kemudian akhirnya dia berkata, “Oke, oke, kamu dapat pergi ke klinik. Tetapi, kamu harus kembali malam ini. Aku butuh kamu, Kouli.”

Aku segera ke klinik. Dengan cepat, tentu saja. Aku tak pernah membayangkan jadi ayah kali ini, dan kamu tak akan memahami perasaan ini. Kamu tak akan melewatkan hari kelahiran anakmu. Aku tiba di klinik, dan terima kasih Tuhan, pukul 01.30 PM, anakku telah lahir. Kami menamainya Seni. Itu adalah hari terbahagia dalam hidupku.

Pukul 04.00 PM. Aku mendapat telepon dari Sarri. Orang itu—kamu akan segera paham—dia gila. Aku berkata bahwa ini jalan terbaik, tetapi dia gila!!

Dia berkata, “Kouli?! Apakah kamu akan kembali?! Aku butuh kamu! Aku butuh kamu! Segera!”

Istriku sedang istirahat dan dia mungkin akan membutuhkanku juga. Tetapi, aku tak ingin melewatkan pertandingan dengan kawan-kawanku. Aku cinta mereka. Dan aku cinta Napoli. Aku mendapat restu dari istriku dan aku kembali ke stadion. Sehingga, aku siap bermain, dan Sarri datang ke ruang ganti dan mengambil lembaran kertas tim. Dan lihat, lihat, lihat….

Nomorku tak tertera di sana.

Aku berkata, “Sarri, kamu bercanda?”

Dia mengernyit sembari berkata, “Memangnya kenapa? Ini pilihanku.”

Dia menempatkanku di kursi cadangan!

Dia bahkan tak memasukkanku ke pemain mula!

Aku berkata, “Sarri! Anakku! Istriku! Kamu bilang kamu butuh aku!”

Dengan enteng dia menjawab, “Ya, aku butuh kamu menghangatkan kursi cadangan.”

Dengan segala drama di hari itu, aku bahkan tak dimainkan!

Aku berpikir saat ini, dan aku ingin tertawa. Namun, pada saat itu, aku ingin menangis.

Mungkin kamu berpikir ini adalah cerita buruk. Tetapi, bagiku, cerita ini adalah segalanya dan aku cinta Napoli. Jika kamu meminta untuk menjelaskannya, kamu tak akan mengerti. Ini seperti menjelaskan sebuah candaan. Kamu hanya perlu datang ke kota ini dan kamu akan merasakannya. Ini gila, iya. Tetapi, luar biasa.

Mungkin sekarang kamu akan tahu.

Aku adalah pesepakbola, iya.

Aku adalah pesepakbola berkulit hitam.

Tetapi itu tak menggambarkan seluruhnya.

Aku muslim. Berdarah Senegal. Berjiwa Perancis. Seorang Napolitan sejati.

Dan, tentu saja, aku seorang ayah.

Aku telah mengelilingi dunia, dan aku belajar banyak bahasa yang kemudian membuka cara pandangku terhadap dunia. Aku beruntung memiliki banyak uang. Tetapi, aku akan memperingatkanmu tentang pelajaran penting yang bisa kamu raih.

Ada tiga hal yang tak bisa dibeli di dunia: persahabatan, keluarga, dan ketentraman.

Inilah yang kami pahami di Saint-Dié, saat masih anak-anak. Dan itu yang ingin aku tularkan kepada anakku.

Inilah orang-orang yang akan selalu ku ingat. Sampai jadi tua. Sampai jadi debu.

Mungkin kita berbeda, ya.

Tetapi kita semua bersaudara.

stadiumastro

Sumber: stadiumastro.com

***

Ini adalah hasil terjemahan saya. Artikel asli bisa kamu baca di sini.

Advertisements

Tangisan Pertama

Tunggu beberapa detik. Satu… Dua… Tiga…

“OOOEEEEKKKKK… OOOOEEEEKKKK…”

Tangisan tersebut menggema di ruangan berukuran persegi 5×5. Saya, yang dari tadi berusaha memegang tangan kanan istri agar tak meronta, berusaha tersenyum ketika mendengar suaranya. Ya, suara yang mampu meruntuhkan pertahanan netra agar tak menumpahkan air mata. Nyatanya? Saya menangis.

Kehadirannya telah kami tunggu kurang lebih tiga tahun. Sebenarnya tidak utuh tiga tahun sebab intensitas pertemuan saya dan istri berlangsung selama dua tahun. Sisanya? Kami berjarak. Ia di belahan bagian barat dan saya berada belahan bagian timur.

Ketika bertemu lagi, kami tentu saja berusaha mendapatkan keturunan. Agar layak dianggap keluarga pada umumnya. Dan penantian tersebut terbayar pada tanggal 20 Juni 2019. Seorang anak laki-laki lahir dengan berat 2,6kg dan panjang 47cm.

WhatsApp Image 2019-07-01 at 15.47.44Saat selesai dibersihkan oleh para bidan, saya berusaha menjadi papa yang seharusnya. Melantunkan azan dan ikamah di kedua telinganya. Kemudian berusaha menggendong. Tentu saja masih tak stabil, tapi saya berusaha mempraktikkan yang telah saya pelajari di Youtube.

Hari-hari berikutnya mungkin hari cukup panjang bagi kami. Si anak menangis tak berhenti. Tak peduli siang atau malam. Penyebabnya sederhana. Kebetulan ASI belum bisa keluar. Tapi Mbak bidan mengatakan bahwa kami perlu bersabar setidaknya hingga tiga hari. Jika belum keluar juga, baru ada tindakan.

Karena wejangan tersebut, kami pun hanya bisa berdoa agar ASI segera keluar. Meskipun begitu, siapa yang tega membiarkan si anak terus menangis? Ibu menyarankan agar bibir anak diberi setetes air/madu. Nenek menyarankan anak agar dibawa ke rumah sakit.

Tapi, apa yang kami lakukan? Tetap tenang dan sabar. Saya selalu percaya kebaikan akan muncul pada saatnya.

Voila!

ASI keluar pada pukul 22.00 hari ketiga. Istri menangis. Nenek dan Ibu tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Saya? Berlari masuk ke kamar mandi. Dan, tentu saja menangis.

WhatsApp Image 2019-07-01 at 15.47.45Menumbuhkan anak hingga hari ke-10 sungguh dihuni perasaan campur aduk. Ketika ASI keluar, si anak mulai jarang menangis. Tapi, buang air kecil semakin tak terprediksi. Misal, baru saja ganti popok, eh tak sampai tiga menit ganti popok lagi. Begitu juga dengan buang air besar.

Kata orang-orang sekitar, ketika si anak sudah menumpahkan kotorannya ke anggota tubuhmu berarti ia nyaman bersamamu. Dan kami sudah mengalaminya.

Sebentar lagi dua minggu. Sebentar lagi sebulan. Sebentar lagi setahun. Waktu memang terkadang berjalan cepat, tapi kadang berjalan lambat. Kami tentu saja tak ingin melewati kesempatan untuk menumbuhkannya. Dan harapannya, kami akan tetap tumbuh bersamanya. Sampai nanti ya, Bhre Aksara Kausar.

WhatsApp Image 2019-07-01 at 15.47.44 (1)

David Grossman: Antara Israel dan Palestina

david grossman

(Sumber foto: zionistideas.org)

Hari ini, saya mencoba menerjemahkan sebuah pidato dari David Grossman saat ia memperoleh Israel Prize, sebulan yang lalu. Beliau adalah seorang penulis berkebangsaan Israel. Bukunya To The End of The Land (2008) menggugah semangat dan membuka mata kepada kita bahwa sebenarnya ada keinginan rakyat Israel-Palestina untuk berdamai dan hidup bersama. Sayangnya, ada tangan-tangan hina yang mencoba mencegahnya.

Berikut adalah terjemahan abal-abal saya. Naskah asli bisa kamu peroleh dari https://www.haaretz.com/…/full-text-speech-by-david-grossma…

***

Israel adalah Benteng, Bukanlah Rumah

Ada banyak kebisingan dan kegemparan di sekeliling perayaan kami tetapi kita tidak melupakan itu di atas segalanya. Ini adalah perayaan tentang kenangan dan kerukunan antarumat beragama. Kebisingan, bahkan jika hari ini, melebihi semuanya saat ini, karena hati di malam ini ada kesunyian yang paling dalam-kesunyian tentang kehampaan yang diciptakan oleh kekosongan.

Keluargaku dan saya kehilangan Uri dalam perang, seorang pemuda yang manis, lucu, dan pintar. Hampir 12 tahun lamanya, kami masih berat untuk membicarakan dia di depan publik.
Kematian seseorang yang dicintai merupakan kematian yang masuk dalam ranah privat dengan segala kepribadian dan kebudayaan yang unik. Dengan bahasa tertentu dan segala rahasianya tak akan pernah tercipta lagi bahkan di kemudian hari.

Ada rasa sakit yang tak dapat dilukiskan. Ada momen di mana segala sesuatu yang kita miliki akhirnya harus sirna. Ini sungguh sulit dan melelahkan jika kita harus melawan gravitasi kehampaan.

Ini sungguh sulit untuk memisahkan kenangan dari rasa sakit. Bahkan untuk mengingat kembali, sakitnya luar biasa tetapi kita harus terus mencoba melupakannya. Dan, betapa mudahnya dalam situasi saat ini, memberikan kebencian, kemarahan, dan hasrat untuk balas dendam.

Tetapi saya menemukan bahwa setiap waktu saya meluapkan kemarahan dan kebencian, saya merasa akan kehilangan kontak dengan anak lelaki saya. Ada sesuatu yang ditutupi. Dan saya harus segera memutuskan, saya membuat sebuah pilihan. Dan saya pikir, pilihan tersebut dibuat malam ini.

Dan saya tahu bahwa dengan segala rasa sakit, ada nafas dan kreativitas untuk mengubah segala sesuatu lebih baik. Ada dukacita yang terisolasi tetapi juga menghubungkan dan menguatkan. Di sini, lawan kami baik Israel maupun Palestina dapat terhubung dengan segala dukacita yang ada
Saya bertemu dengan beberapa keluarga yang sedih karena kehilangan (kematian) pada tahun lalu. Saya berkata pada mereka, dalam pengalaman saya, bahwa ketika kamu merasakan kesedihan mendalam, kamu seharusnya ingat setiap anggota keluarga diizinkan berdukacita sesuai apa yang mereka inginkan, cara yang mereka lalui, dan cara jiwa menyampaikan pada mereka.

Tak ada satu pun instruksi dari orang sekitar tentang bagaimana cara berdukacita. Itu hak privasi bagi sebuah keluarga terlebih keluarga yang ditinggalkan.

Ada perasaan kuat yang saling menghubungkan di antara kami, ada persamaan nasib, dan ada duka yang mendalam sehingga tak ada satu pun kata yang sanggup menggambarkan kesedihan kami pada dunia luar di sana. Itulah mengapa, jika kesedihan yang dialami oleh kami adalah sikap yang tulus dan jujur, tolong hargai kami. Ini tak mudah. Ini nyata dan ada kontradiksi yang berada di sekitar kami. Tetapi, ini adalah jalan kami untuk memberikan makna tentang kematian pada orang-orang yang kami cintai dan kehidupan kami setelah kematian mereka. Kami selalu berharap perang segera berakhir supaya kami dapat memulai hidup kembali, hidup selayaknya seperti dunia luar sana. Bukan hidup dengan intimidasi dari perang ke perang. Dari bencana ke bencana.

Kami, orang-orang Israel dan Palestina, yang telah kehilangan orang-orang yang kami cintai selalu berharap cukuplah nasib seperti ini yang menimpa kami. Jangan lagi ada korban yang bergelimpangan, terserak di tanah perjuangan akibat perang. Kami harus memulai kerjasama untuk meneruskan hidup yang lebih baik.

Saya berpikir bahwa dukacita membuat kami lebih realistis. Kami memiliki penampakan yang jelas tentang hubungan pada batas kekuasaan, hubungan pada ilusi yang selalu menghinggapi pikiran kami tentang suatu kekuasaan.

Dan, kami sangat khawatir, bahkan sebelum bencana itu ada, tentang kebencian yang menjijikan. Kami selalu mengenali orang-orang yang menampilkan kebanggaan bersifat omong kosong, slogan nasionalis yang cenderung arogan, atau pemimpin dengan pernyataan lebih dari sombong. KAMI ALERGI. Minggu ini, kami akan merayakan 70 tahun berdirinya Israel. Kami berharap selalu bersama merayakan dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi, dari anak ke cicit, dan kami selalu mengharapkan Palestina yang independen, damai, aman, serta bisa menjadi tetangga selamanya. Sampai kami jadi tua. Sampai kami jadi debu.

Apa itu rumah?

Rumah adalah tempat yang mana dinding-dinding itu menghadirkan kehangatan dan keceriaan. Tempat yang mana kami menjalin kebersamaan, menciptakan hubungan antartetangga yang selaras, dan itu adalah proyek masa depan.

Dan, kami orang-orang Israel, bahkan setelah 70 tahun ini, kami belum berada di sana. Kami belum merasa ini adalah rumah. Israel didirikan oleh orang-orang Yahudi yang tidak pernah merasakan apa itu rumah, tapi pada akhirnya membuat suatu rumah. Dan sekarang, orang-orang itu (Zionis), setelah 70 tahun justru menghadirkan benteng, bukan rumah.

Solusi untuk mengatasi segala polemik dan konflik yang ada hanya butuh satu formula. Jika orang-orang Palestina tidak memiliki rumah, orang-orang Israel pun tidak boleh memiliki rumah.

Musuh adalah lawan yang nyata. Jika Israel tidak menjadi sebuah rumah, kemudian begitu juga dengan Palestina.

Saya memiliki dua cucu laki-laki. Usia 3 dan 6 tahun. Kepada mereka, saya selalu mengatakan, Israel adalah bukti nyata. Saya mengatakan kepada mereka secara jelas bahwa kita memiliki negara yang memiliki jalan, komputer, sekolah, rumah sakit dan mengajarkan bahasa Hebrew.

Saya termasuk sebuah generasi yang mengalami segala sesuatu taken for granted, dan tempat yang mana saya berbicara kepada kamu. Dari ruang rapuh yang menggambarkan ketakutan nyata dan selalu mengharapkan bahwa kami telah memasuki rumah.

Tetapi, ketika Israel (Zionis) menjajah dan menekan bangsa lain (Palestina) selama lebih dari 51 tahun serta membuat demarkasi yang nyata, kami merasa Israel bukan rumah.
Dan ketika Menteri Pertahanan Lieberman memutuskan untuk mencegah perdamaian dengan Palestina yang kami cintai, Israel bukanlah sebuah rumah.

Ketika Israel (Zionis) membunuh ribuan rakyat Palestina, bahkan di antaranya orang-orang sipil, Israel bukanlah rumah.

Dan ketika pemerintah Israel mencoba untuk menggelar perundingan yang mengada-ada dengan Uganda dan Rwanda tetapi kemudian mengusir mereka karena alasan pencari suaka, Israel bukanlah rumah.

Dan ketika Perdana Menteri memfitnah dan menghasut lembaga HAM agar mencari cara supaya mengajukan hukum tetap pada Pengadilan Tinggi, ketika demokrasi serta pengadilan secara kontinyu dirusak dan dirisak, Israel bukanlah rumah.

Ketika Israel mendiskriminasi pengungsi, melarang mereka untuk memasuki wilayah selatan Tel Aviv, menyuarakan secara lantang dan kasar suara-suara kebencian, terlebih pada orang-orang lemah, renta, tak berdaya, anak-anak yang kehilangan rumah bahkan pada pejuang Holocaust, kami merasa Israel bukanlah rumah.

Dan ketika mereka mendiskriminasi lebih dari 1,5 juta rakyat Palestina, menghilangkan ribuan nyawa yang seharusnya kami bisa berdampingan, Israel bukanlah rumah, baik minoritas maupun mayoritas.

Israel adalah luka untuk kami semua. Sebab, ini bukan rumah yang kami inginkan. Kami menginginkan kebahagiaan dan keceriaan tentang sebuah negara. Kami bangga terhadap segala hal yang kami punya, mulai dari seni dan budaya, teknologi informasi, obat-obatan, dan ekonomi. Tapi, saat ini kami juga merasakan distorsi.

Dan orang-orang yang tergabung hari ini, terutama Forum Keluarga dan Kombatan Untuk Perdamaian selalu berharap suatu hari ada manusia yang memiliki kontribusi nyata dan membuat Israel menjadi rumah.

Dan saya ingin berkata pada kalian semua, setengah dari uang yang saya peroleh dari Israel Prize, dan saya menerimanya hari setelah esok, saya bermaksud untuk mendonasikan dan membagikan kepada Forum Keluarga dan Organisasi Elifelet yang isinya adalah orang-orang yang giat mencari anak-anak pencari suaka. Bagi saya, ada banyak kelompok yang bekerja untuk kemanusiaan daripada pemerintah itu sendiri.

Rumah.

Tempat di mana kami hidup damai dan aman. Bukan kehidupan yang memperbudak anak-anak dengan tujuan menjadi penyelamat atau menyematkan visi nasionalis. Rumah, tempat di mana kami menyalakan sebuah prinsip yang lebih besar dan lebih komprehensif. Kehidupan yang menjangkau rasa kemanusiaan. Kami bangun pagi dan mengenali bahwa itu manusia sesungguhnya. Dan kami berharap hidup di lingkungan anti korupsi, berkelindan, egaliter, lepas dari keberingasan dan kedengkian. Dan itu berharap pada sebuah negara yang seharusnya lebih perhatian kepada manusianya. Bukan menghadirkan rasa anti toleransi hingga membuat kami harus berkata, “Ini bukan Israel sebenarnya”.

Sebuah negara bergerak, bukan hanya karena momen tertentu, bukan karena sebuah trik atau manipulasi, jalan yang berliku, atau investigasi polisi. Secara umum saya berharap pemerintah Israel mengurangi kebencian dan lebih bijaksana. Seseorang dapat bermimpi. Seseorang boleh mengharap sebuah pencapaian. Israel akan bergerak melawan itu semua. Dan saya berharap hal tersebut juga berlaku bagi saudara kami, rakyat Palestina. Kehidupan yang merdeka, bebas dan damai, membangun sesuatu yang baru, bangsa reformasi. Dan dalam 70 tahun ini, kepada cucu saya dan cucu terkasih saya, rakyat Palestina. Kami bergandengan tangan, berdiri, dan meneriakkan dengan nyaring dan lantang lagu kebangsaan kami masing-masing.

Tetapi ada kalimat yang harus digarisbawahi bahwa kami harus bernyanyi bersama, dalam bahasa Ibrani dan Arab. “Menjadi Bangsa Yang Bebas di Tanah Kami”, dan mungkin suatu saat nanti, harapan itu akan menjadi kenyataan untuk kedua bangsa.

Rumah (9)

Memiliki rumah dengan kamar sederhana adalah impian saya. Apalagi, kalo kamarnya tak perlu memiliki ukuran yang luas. Cukup 3×3. Tapi, impian saya baru jadi kenyataan saat saya tinggal di Malang lebih dari enam tahun. Di sana lah saya berada di kamar dengan ukuran 2×3.

Nah, saya tinggal di sebuah rumah lama. Kuno. Dibilang demikian sebab telah berdiri sejak tahun 70an. Kamarnya ada 4. 2 di depan, 1 di lorong, dan 1 di belakang. Nah, saya memilih kamar di belakang.

Di kamar itu terdapat sebuah lemari, meja, dan kasur. Jendela berada di sisi barat. Saya tidur dengan kepala di utara dan kaki di selatan. Pas dua-duanya menyentuh tembok.

Saya memiliki ritual khusus saat masuk kamar baru. Mengucapkan salam dan membatin, “Hai, salam kenal dan aku teman baikmu.” Sebab, saya meyakini pasti ada sesuatu yang pernah tinggal di kamar baru. Entah apa dan siapa pun itu.

Dan benar. Menjelang tidur, kadang saya merasa ada sesuatu yang bergerak di sebelah timur dekat pintu. Kalo saya berbalik, seperti tak ada apa-apa. Tapi, saat di kasur, dan badan menghadap barat, sesuatu itu lari ke sana kemari.

Ternyata, gerakan itu berasal dari celana yang saya gantungkan di pintu. Kadang ke kanan dan kiri. Kadang atas dan ke bawah. Saya memaklumi. Barangkali ucapan selamat datang. Tapi, saya salah sangka.

Suatu kali menjelang magrib, saya masuk kamar. Bau semerbak menghiasi ruangan. Deg. Darah mengalir cepat. Hawa menjadi panas. Takut terjadi apa-apa, saya bergegas mandi. Harapannya, itu hanya bau lewat.

Eh, bukan. Pas magriban, hawa kian panas. Kuping mulai kepanasan. Ada yang tak beres. Gerakan salat kian saya percepat. Setelah salam, saya berzikir. Tapi, tak khusyuk. Saya lari. Keluar rumah.

Malamnya, saya telpon seseorang. Cerita kronologinya. Dia bilang, “Taburkan beras kuning saat magrib. Segera. Mungkin ia mampir. Nostalgia sejenak.” Hah? Nostalgia? Saya kaget. Saya tak segera melakukannya. Tunggu 3 hari.

Lalu, saya buat beras kuning. Dengan tergesa-gesa, saya sembari merapal. Menjelang magrib, dengan hati-hati saya membuka pintu. Menaburkan beras kuning sembari menutup mata. Asal. Saat habis, saya baru membuka mata. Eh, dari belakang bahu saya diinjak. Bau.

Saya kaget. Menoleh ke belakang. Ia hanya bilang, “Maaf, ini Jumat Kliwon.”
.

Rumah (8)

Memang tak mudah menjalani hari jika tiap pagi hingga malam selalu diikuti ke mana-mana oleh makhluk tak bernama. Sampai saat ini, saya masih berpikir dan mencoba bertanya,

“Bro/sis, ndak capek kah ngikutin saya terus?”

Tapi ya gimana mungkin mereka suka mengikuti saya dan juga teman-teman saya.

Suatu sore yang cukup cerah, kami ber15 mau mengadakan rapat besar organisasi. Kalo biasanya kami mengadakan di tempat lapang, kali ini kami mencoba suasana baru. Di rumah saya.

Kami berangkat bersama dari kampus pukul 4 sore. Hawa dingin mulai masuk di kota. Meskipun begitu, awan tetap cerah. Langit berwarna merah agak oranye. Seperti sedang menikmati senja kalo kata anak indie.

Sampai di rumah kira-kira pukul 4 lebih 15 menit. Saat itu, rumah memang kosong. Saudara saya sedang pergi ke Lombok. Menjenguk bude saya. Alhasil, tinggal lah saya sendiri di rumah itu.

Kemudian kami masuk lewat pintu depan. Suasananya seperti biasanya. Singup. Seperti tak ada angin yang masuk. Anak-anak memilih tempat duduk. Namun begitu, ada yang memilih lesehan.

Kami menggelar rapat. Seperti biasa, adu ide dan lempar kritik terjadi. Ya, itu memang kebiasaan organisasi kami baik saat rapat maupun tidak.

Rapat berlangsung sekitar satu jam. Lalu, kami berangkat lagi ke kampus karena beberapa teman motornya masih ditinggal di kampus.

Sampai di sana, salah satu sahabat saya nyeletuk, “Mod, si Y mana? Kok ga kelihatan? Pulang duluan?”

Yang ditanya bingung. Maksudnya apa ya? Setahu saya Y pamit izin tak bisa mengikuti rapat. “Lho, anak itu ndak ikut rapat. Pulang kampung,” ujar saya.

“Lah, ndak mungkin! Wong tadi boncengan sama kamu kok!?”

Kemudian saya menunjukkan sebuah pesan dari gajet. Tertulis izin pulang kampung.

“Waduh, gak mungkin. Terus yang bareng kamu siapa??”

Dahi saya mengernyit. Saya bingung mau jawab apa. Salah satu teman cewe malah menimpali, “Yang kamu lihat pake baju merah, ‘kan, Mas?”

Yang ditanya kaget. “Eh iya, yang sama Moddie itu.”

Hah? Merah? Bonceng sama saya?

“Ga papa, Mas. Ia memang suka begitu kok, maklum ucapan selamat datang.”

Saya berdehem. Malam itu, saya menginap di rumah teman. Gak berani. Takut.

Rumah (7)

Sejak kecil saya diajarkan orangtua untuk membaca doa sebelum tidur. Alasannya sederhana. Agar ketika tidur, saya tidak mendapatkan mimpi aneh, apalagi buruk.

Saran orangtua saya, terus saya praktekan hingga kini. Tak lupa resep orangtua, saya sampaikan ke teman-teman agar bisa tidur nyenyak. Tak mengalami mimpi menyeramkan.

Sayangnya, pada hari itu, salah satu teman saya kelupaan membaca doa sebelum tidur.

Ceritanya begini…

Malam itu kami melakukan aktivitas dengan mengunjungi sebuah tempat di daerah nun jauh dari kota. Di tempat itu diadakan semacam pelatihan bagi anggota baru yang akan mengikuti suatu organisasi.

Kami pergi ke sana sebagai kakak kelas. Yang ingin melihat kesiapan panitia. Yang ingin melihat bagaimana antusiasme adik-adik kelas mengikuti pelatihan tersebut.

Di sana kami bertemu banyak teman lintas angkatan. Ngobrol mulai dari hal kampus hingga sesuatu yang klenik. Bermacam-macam lah pokoknya.

Singkat cerita kami pamit. Pulang ke rumah tercinta pukul 12 malam. Sampai di rumah, kami berebut kasur. Tanpa banyak kata yang perlu diucap, kami segera tertidur. Lelap.

Pukul 05.30 salah satu teman terbangun. Mata belum benar-benar melek. Tiba-tiba dia melihat ada dua orang di sebelah kasurnya. Dua adik kelasnya. Dia tersenyum. Mereka pun tersenyum.

Tapi, senyum mereka terkesan kikuk. Aneh. Lebih aneh lagi, kepala mereka seakan melayang menuju eternit. Terbang. Dan anehnya, tak ada tubuhnya!!

Mereka melayang. Kemudian tertawa menyeringai. Lidahnya menjulur ke bawah. Teman saya kaget. Tangannya menggamit keras tangan teman sebelahnya seraya berteriak, “Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah…”

Seketika teman itu bangun. Memegang kepala teman yang kaget. “Ada apa, rekk?”

Dia tak menjawab. Langsung ngeloyor. Pergi. Saya yang kebetulan tak ada di rumah, diberi kabar, kemudian segera bergegas menemuinya. Dan bertanya apa yang terjadi. Dia hanya menjawab, “Mungkin aku lupa berdoa atau mungkin memang ada yang iseng denganku. Bentuknya aneh. Mengerikan.”

Saya menelan ludah. Melihat wajahnya yang ketakutan, saya mengajaknya ngopi. Agar rileks. Agar tak ada lagi ketakutan.

RUMAH (6)

Malam Jumat. Cuaca begitu adem. Hujan turun. Kadang rintik. Kadang deras. Saya sedang duduk menonton televisi. Ketiga teman saya mengobrol dan membentuk sebuah lingkaran.

Mulanya saya tak acuh obrolan mereka. Obrolan perkuliahan hingga pernikahan. Saya baru tertarik ketika obrolan masuk ke ranah klenik.

“Kemarin di kampus ada gosip. Katanya di lantai 2 di ruang pojok suka ada wanita yang tiba-tiba lari lalu lompat ke bawah.”

Saya berpikir itu bukan gosip. Tapi memang ada. Buktinya banyak kakak kelas, utamanya saat kuliah sore, suka melihat adegan itu. Asal kamu tahu, itu gedung terseram di kampus saya.

“Di kamar mandi perempuan juga ada katanya. Rambut menjuntai hingga menyentuh jempol. Eh, tiba-tiba nangis.”

Setelah itu, saya dan ketiga teman saling tukar cerita tentang gedung itu. Sedang asyik, teman saya tiba-tiba terdiam. Dan nyeletuk, “Kayaknya ada yang nguping deh.”

Saya pun terdiam. Tapi tidak dengan kedua teman saya. Mereka justru mencoba menakut-nakuti kami dengan berpura-pura kesurupan. Mencakar-cakar dan mengaum. Yang satu lagi kepalanya bergerak patah-patah. Cekikikan

“Jangan kayak gitu. Nanti kalo datang beneran, kita yang repot.”

Setelah mengakhiri kalimat, pintu yang tadinya terbuka tiba-tiba menutup. “Brakkk.” Suaranya kencang. Kedua teman saya yang coba-coba kesurupan, berhenti seketika. Hawa bertambah dingin. Saya merapat ke ketiga teman. Takut. “Nah kan, apa saya bilang. Datang, ‘kan?”

Dan, tahu apa yang terjadi?

Seperti sekelebat bayangan melesat. Lampu ruang utama pecah. Listrik mati. Hidup lagi. Mati lagi. Kami mau berteriak tapi takut membangunkan tetangga. Saya ambil bantal untuk menutup muka. Lalu, berteriak sekencang-kencangnya.

Ketiga teman saya lari keluar. Membuka pintu. Saya ikut lari juga. Pintu rumah ditutup namun lupa dikunci.

Kami lari ke warung kopi terdekat. Mengambil gorengan dengan tangan yang gemetar, napas tersengal-sengal.

“Sudah, besok ga usah cerita kayak gitu lagi. Dan ga perlu cerita ini ditulis, takutnya Dia juga ikut membaca ceritanya. Kasihan teman-teman yang membaca.