Ruang Bersalin

444649432502

Sumber: suarapedia.com

Roda-roda berdecit lirih saat memasuki lorong panjang. “Ciit… ciit…” begitu bunyinya. Bangku-bangku kosong terhampar di sebelah kanan dan kiri lorong itu. Setelah memasuki tikungan pertama, ada sepasang orang tua menunggu. Duduk dalam diam dan khusyuk.

Sesekali ibu membuka mata. Menggenggam erat tangan bapak yang mulai berkeringat dingin. Bapak tersenyum dan berkata, “Sabar ya, sebentar lagi.” Ibu melanjutkan nafas. Sedikit teratur namun agak menggebu.

Wajar. Karena di hari itu adalah pengalaman pertama dalam hidupnya. Hari yang bisa memunculkan sebuah perjudian. Hidup atau Mati.

Setelah memasuki ruangan baru, Ibu berganti tempat tidur. Ruangan tersebut lebih nyaman. Luas. Hanya untuk satu orang. Ada kursi panjang yang mampu digunakan sebagai tempat tidur. Televisi terpasang di atas pintu. Tapi, tampaknya bapak enggan menghidupkannya.

Toh, jika televisi dihidupkan, bapak enggan melihat hanya wajah dan ucapan seorang menteri. Yang selalu hadir setiap jam 10 malam. Dan selalu bicara tentang hari-hari omong kosong. Bedebah.

Dokter dan dua perawat datang secara bersamaan. Disambut dengan senyuman ramah oleh bapak. Kemudian mereka menyiapkan segala peralatan untuk memulai sebuah ritual. Ada gunting, pisau bedah, dan aneka peralatan lainnya.

Ibu kembali mengatur nafas. Diiringi aba-aba oleh dokter. Sesekali ibu mengucap sumpah serapah. Kalimat tasbih dan takbir diucapkan secara bergiliran. Bapak mengelus-elus rambut ibu. Sesekali mengecup kening. Dan juga memegang tangan kiri Ibu.

Bapak sadar mengenai rasa sakit yang dialami oleh perempuan dihadapannya. Rasa sakitnya bisa mencapai 57 Del. Atau setara dengan dipatahkannya 20 tulang secara serentak. Umumnya, manusia hanya mampu merasakan sampai 45 Del. Maka tak heran, hari itu adalah sebuah perjudian. Hidup atau Mati.

Ibu melenguh. Berteriak. Kemudian bertakbir. Dokter membimbing perlahan-lahan. Bapak menguatkan semangat ibu sembari mulutnya umak-umik. Para perawat berdiri di sebelah dokter. Agak terpekur namun menunjukkan kewaspadaan tinggi.

23.55. Seorang anak laki-laki teriak sekencang-kencangnya. Entah kaget, senang, sedih atau bahagia. Yang jelas teriakannya tak kalah dengan teriakan Bung Karno saat mengumandangkan “Ganyang Malaysia.”

Ibu menutup mata. Bapak sedikit lemas. Terkesiap sehingga memanggil ibu agak lantang. “Ma… ma… ma…!!” Ibu kaget. Membuka sebelah mata. Rupanya agak kecapekan. Seorang perawat menggendong anak tersebut keluar kamar. Dokter bernafas lega. Satu pekerjaan telah usai.

Perawat itu kembali. Memanggil nama bapak kemudian menyerahkan seorang bayi mungil, lucu, nan luar biasa putih. Ditambah lagi dengan mata kecilnya. Sipit.  Lagi-lagi bapak terkesiap.

“Ndak mungkin ini anak saya.” Ujar bapak.

“Lho gimana sih bapak, ini benar-benar anak bapak.” Bantah perawat itu.

Sempat berdebat cukup alot. Namun si perawat berusaha meyakinkan bapak dengan sejumlah alasan. Setelah bapak menatap secara lamat-lamat, bapak akhirnya berdehem. Kemudian mengumandangkan azan di telinga kanan. Dan iqomah di telinga kiri.

“Mau diberi nama siapa pak?” tanya perawat itu.

“Sebentar saya berpikir.” Ujar bapak.

Sembari menengok ke dalam ruangan dan melihat kondisi ibu, bapak mulai mengingat-ingat sebuah perjanjian dengan ibu. Jika anak tersebut perempuan, diberi nama dengan awalan P. Namun jika laki-laki, diberi nama dengan awalan M.

Berhubung waktu itu adalah hari Senin, idealnya mengkaitkan nama yang ada hubungannya dengan hari Senin. Selain itu, bapak ingin mendedikasikan pengalaman kerja di Manado menjadi sebuah nama anak. Sempat terpekur kemudian sedikit bergumam sesuatu. Moddie.

Dulu, ketika berkonsultasi dengan dokter, ibu terkesima dengan pelayanan seorang dokter. Alvianto namanya. Cepat dan tanggap. Ibu pun merasa yakin apabila persalinannya dibantu oleh sang dokter maka akan lancar dan selamat. Dan benar sesuai dugaan. Dia lah yang membantu persalinan Ibu sampai tuntas.

Kemudian Ibu dan Bapak sudah berkomitmen ingin memiliki anak dan menjadikan anak-anaknya bijaksana dan berwibawa. Karena saat itu adalah yang pertama bagi mereka, dipilihlah kata bijaksana. Namun agak sedikit dimodifikasi menjadi wicaksono.

“Moddie Alvianto Wicaksono.” Ujar bapak cukup lantang.

Suster menulisnya dengan cekatan. Bapak tersenyum sembari melihat Ibu yang ikut tersenyum lega. Dan sebuah nama tercipta di ruang itu. Ruang bersalin.

 

 

 

Advertisements

Ini Era Generasi Micin, bukan Generasi Emas

generasi-micin-ternyata-sudah-ada-sejak-dulu-ini-nenek-moyangnya-uget-uget-628x500

Sumber: uget-uget.com

Media sosial tak henti-hentinya mengumbar keriuhan. Mulai dari kasus meme Setya Novanto, janji politik Anies-Sandi yang tersendat hingga kasus mega korupsi di Arab Saudi. Namun, dari sekian keriuhan media sosial, ada satu peristiwa yang luput dari perhatian dari warganet. Apa itu?

Video berdurasi tak lebih dari satu menit yang diunggah oleh Revina VT dalam Instagramnya. Video tersebut telah diunggah lebih dari sepekan. Namun, video tersebut mampu menyedot perhatian sebanyak 400ribu pengunjung sampai saat ini. Dan diperkirakan akan terus bertambah. Memangnya bahas apa sih?

Generasi Emas vs Generasi Micin.

Siapa itu generasi emas? Dan siapa pula generasi micin? Menurut Revina, generasi emas itu adalah generasi 90an. Generasi yang seringkali dianggap banyak kalangan adalah penghimpun dan penggerak perubahan.

Sedangkan generasi micin adalah generasi yang boleh bilang disebut sebagai generasi zaman now. Generasi kekinian yang sering mengumbar apapun lewat media sosial. Menurut Revina, generasi micin sejatinya lebih unggul dalam segi apapun dibandingkan generasi emas.

Dari segi melek teknologi, segi keterbukaan informasi, hingga tingkat sopan santun terhadap orang tua. Generasi emas itu hanya nyinyir dengan apa yang telah dicapai generasi micin. Dan itu memang benar. Banyak hal yang sangat kurang dari generasi emas. Masalahnya, kita enggan mengakuinya. Mari kita dedah dan bedah satu persatu.

  1. Melek Teknologi

Melek teknologi adalah kekurangan terbesar dari generasi emas. Bayangkan di era sekarang mengirim pesan ke sahabat, kerabat, maupun orangtua semudah membalikkan telapak tangan. Hanya tinggal ketik, klik, dan kirim. Lha, zaman dulu? Masih harus lewat menulis dengan pensil di secarik kertas, kemudian dikirim melalui tukang antar surat. Itu pun kalo sampe. Bayangkan jika si tukang antar surat mengalami kebanjiran atau kecelakaan gimana? Ya ndak bakalan nyampe.

Bandingkan dengan era sekarang. Kalo ternyata ndak terkirim, centang satu atau misal pesan berbentuk jam pasir maka tinggal kirim keluhan atau laporan di media sosial. Mulanya pakai cara halus. Kalo ndak tersampaikan ya cara kasar. Kalo cara kasar ga bisa juga? Ya buat petisi online. Bubarkan atau Berhenti gunakan pesan elektronik!! Kira-kira begitulah petisinya. Urusan kelar.

Kemudian, sekarang sudah zamannya membaca melalui gawai. Tak perlu lagi repot-repot menyisihkan tabungan hanya untuk membeli sebuah buku. Cari saja situs bacaan yang menyediakan file pdf dan bisa diunduh secara gratis.

Maka saya tak percaya bahwa dunia literasi kita berada di peringkat 61 dari 62 negara. Generasi sekarang adalah generasi melek teknologi. Belum ada kan penelitian seberapa banyak pemuda zaman now yang membaca bacaan melalui pdf? Saya yakin minimal negara kita menempati 10 besar di dunia.

Itu pun sudah ada indikatornya walaupun dalam lingkup lebih kecil. Minimal generasi micin adalah generasi melek teknologi dalam hal membaca status media sosial.

  1. Keterbukaan Informasi

Masalah keterbukaan informasi adalah sebuah kemewahan yang bisa dimiliki generasi micin. Segala sesuatu bisa dipublikasikan dengan mudah dan cepat. Kalo dulu sekadar unggah foto terkini di media sosial maka saat ini informasi bisa dikabarkan melalui IG story, WA story, FB story dan masih banyak lainnya.

Cuma Twitter yang ga ikut-ikutan. Alih-alih buat story atau sejenisnya malah membuat terobosan dengan menambah jumlah karakter menjadi 280. Twitter mau meniru angka-angka cantik kah?

Kamu lagi di pantai, gunung, sawah, pusat perbelanjaan, hingga tempat ibadah, semua bisa dikabarkan melalui fitur story. Enak to? Jadi orang-orang terdekat ndak perlu khawatir kamu lagi apa dan dengan siapa kamu bermain atau belajar. Cukup bilang,”Lihat aja storyku.” Nah, kelar kan?

Nah kalo dulu? Boro-boro pengen tau keadaan terkini. Hanya bisa berharap dengan cemas. “Semoga saja tidak terjadi apa-apa”. Itu kalimat paling sering diucapkan sesama generasi emas.

Begitu pula dengan arena diskusi. Atas nama kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi maka diskusi apapun bisa dihalalkan. Mau kalian diskusi LGBT, PKI, ataupun HTI ya boleh-boleh saja. Kalo sampe ada yang bilang diskusi ini-itu diharamkan, tinggal bilang saja, “Maaf, kami generasi micin bukan generasi orba.”

  1. Sopan santun terhadap orang tua

Nah, yang terakhir mungkin generasi emas harus mengakui bahwa generasi micin lebih gaul. Sekarang, orang tua atau orang yang lebih tua dapat dianggap sahabat bahkan teman. Tak perlu lagi ada rasa kepatuhan dan terlalu tunduk. Sekali lagi, generasi emas lupa bahwa sekarang bukan era penjajahan. Tunduk itu dengan penjajah. Bukan dengan orang yang lebih tua.

Seharusnya para generasi emas lebih sadar bahwa ada yang salah dengan pola pikir mereka. Sebagai contoh dalam hal berkirim pesan lewat media WA atau Line. Tak perlu lah, pakai ucapan selamat pagi atau salam apalagi ditambah pakai kata penutup macam terima kasih. Tak efisien.

Contohlah generasi micin jika bertanya kepada dosen. Kan tinggal bertanya, “Halo, Bapak lagi dimana? Sekarang jam bimbingan saya lho pak.” Masa ya masih pakai, “Selamat Pagi. Maaf Bapak, saya Felix Jurusan Ilmu Tanah angkatan 2007. Mau menanyakan apakah hari ini bapak ke kampus? Saya mau bimbingan skripsi. Terima kasih.”

Ya ampun. Kuno. Ribet. Bahasa kerennya ndak to the point. Apalagi itu contohnya generasi emas yang terlambat lulus. Gitu kok mau diharapkan generasi emas adalah generasi pengubah zaman. Sibuk demo, bro?

Oleh karena itu, seharusnya generasi emas lebih baik mawas diri. Apakah benar stigma bahwa generasi emas adalah generasi penghimpun, penggerak, dan pengubah zaman? Saya kira tidak. Sudah saatnya generasi micin yang merebut dan mengambil tongkat emas dari para generasi emas. Ingat, ini zaman dengan slogan Revolusi Mental bukan Revolusi Bebal.  

Daripada Meme, Sekalian Saja Mural Berjamaah

setnov-1

sumber: suratkabar.id

Beruntunglah kita, pemuda zaman now menikmati kebebasan berpendapat dalam bentuk teknologi informasi. Bisa mengakses layanan siaran pertandingan sepakbola lewat situs-situs bajakan,  bisa menonton film tanpa harus datang ke bioskop dan bisa mengkurasi foto seseorang lewat layar kaca dalam bentuk meme.

Akan tetapi, khusus yang terakhir tampaknya akan menjadi masalah. Dan baru bisa menjadi masalah ketika yang kamu kurasi adalah foto pejabat.

Seriyes. Di saat kita bebas menggunakan imajinasi, adakalanya kita akan terhambat oleh regulasi. Bukannya dipuji, eh malah dicaci.

Setidaknya itu mungkin yang dialami oleh para pembuat meme sang Don Setyo Novanto. Tau kan? Itu lho orang paling sakti di tanah air Indonesia.

Mau tau kesaktiannya? Terbaring sakit dengan aneka gejala penyakit dari kepala, pundak, lutut, kaki eh tiba-tiba musnah penyakitnya. Bukan dengan pengobatan kimia tapi melalui ‘pengobatan’ pengadilan.

Aneh ya? Itu pengobatan alternatif terkini dan terpopuler. Jika kamu memiliki masalah dengan rakyat Indonesia misal mencuri uang atau menenggelamkan harta maka solusinya ya ke pengobatan pengadilan. Kamu akan diberikan obat manjur nan ampuh. Apa itu?

Obat vonis tak bersalah.

Dijamin tubuh kembali bugar. Pikiran kembali segar. Bicara semakin lebar. Karena terlalu lebar biasanya pembicaraan makin kemana-mana dan tak jelas arahnya.

Lha gimana ndak jelas? Berulangkali dianggap sebagai tersangka korupsi eh kemudian ngasih pidato ke anak buahnya. “Jangan sekali-kali mendekati korupsi”

Nah itu gimana coba? Ironi sekaligus seni bukan? Kok seni? Ya itu namanya kan seni ngelantur.

Sudah begitu dia begitu lihai dalam mengolah kata dan tindakan. Ia merasa tersakiti atas foto dan meme yang menurutnya adalah sebuah penghinaan. Maka kemudian ia melaporkan para pembuat meme supaya tau rasanya bagaimana menghadapi pengadilan. Tau kesalahan pembuat meme? Apalagi kalo bukan terkena pasal pencemaran nama baik.

Ya, itu adalah pasal karet. Kalo kamu merasa dihina, dicaci, apalagi difitnah maka gunakan pasal tersebut. Niscaya kamu akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Tapi ingat, pasal tersebut hanya berlaku kepada para pejabat. Lha kamu siapa? Rakyat jelata kan?

Rakyat jelata kok mau main-main dengan pejabat. Apalagi berimajinasi yang aneh-aneh. Ya hasilnya kamu bisa dapet rumah dari pejabat. Enak ya diberi rumah? Ini bukan rumah dengan DP 0%. Ini rumah dalam bentuk prodeo alias rumah tahanan.

Wah rumit ya. Atas nama kebebasan berekspresi, apapun bentuknya boleh dilakukan. Kalo kamu berekspresi dengan menggunakan seni dalam bentuk meme maka para pejabat berekspresi pakai pasal karet. Sama-sama menyenangkan bukan?

Kalo begini caranya lebih baik kita tak usah berekspresi. Lebih baik diam saja. Kembali ke zaman si “penak jamanku toh”. Eh, bukannya sama saja ya? Atau jangan-jangan kita emang sedang digiring kembali ke arah sana? Maybe yes, Maybe no.

Yang jelas mungkin para pembuat meme sedang mengalami kenakalan remaja di era informatika (kayak lagu Efek Rumah Kaca ya). Maunya mengkritik. Eh malah dianggap menghina. Memang beda tipis sih antara mengkritik dan menghina.

” Lebih baik pejabat yang terkena kasus korupsi lengser dari kursinya”. Coba kira-kira kalimat barusan termasuk mengkritik atau menghina. Bagi rakyat jelata ya mengkritik. Kalo bagi pejabat ya menghina. Kok menghina? Kan baru terkena belum terpidana. Jadi masih boleh dong menjabat sebagai pejabat. Kalo kata Cak Lontong, Mikiiir!!!

Saran saya begini. Janganlah membuat meme. Berbahaya. Vonisnya mengerikan. Lebih baik kita buat mural. Kritik berbalut vandalisme. Kalo perlu dibikin di tembok dengan panjang 1000 meter. Sekalian kita mengundang MURI untuk meliput kegiatan para pembuat mural.

mural-korupsi-13-11-2015-6

sumber: aktual.com

Sekarang mana ada mural berjamaah tentang pejabat yang terkena kasus korupsi? Setahu saya di Indonesia belum ada. Mari kita gerakkan kegiatan tersebut. Demi membuat malu mereka. Eh, tapi mereka punya malu ga? Kalo di layar kaca sih nggak. Ga tau kalo di kehidupan nyata. Wong, sudah dibuat jadi terpidana masih bisa tersenyum seperti orang dapat durian runtuh kok.

Kalo perlu mural tersebut tidak hanya di tembok melainkan di lantai. Kita buat saja macam Hall Of Fame mirip Amerika. Tapi karena kita sedang membuat mural pejabat Indonesia yang terkena kasus korupsi maka judulnya Hall Of Shy. Biar tahu kalo Shy itu artinya Malu.

Nah setelah jadi, kita undang mereka, para pejabat. Kan doyan foto toh? Sekalian diberi acara launching Hall Of Shy. Mau swafoto, mau foto berjamaah, mari kita siapkan panggungnya. Toh mereka juga punya massa. Ya siapa lagi kalo bukan para anggota dari para pejabat tersebut. Pasti banyak lah.

Kalo udah selesai kita kasih daftar siapa saja orang-orang yang pantas kasi sambutan. Yang terakhir adalah orang yang paling sering kena kasus korupsi. Tau kan siapa dia? Jangan lupa si orang terakhir wajib memberikan pertanyaan kepada khalayak. Dan jangan lupa pula yang benar menjawabnya akan memberi hadiah.

Bingung? Jadi kalo biasanya yang memberi pertanyaan,  ia yang memberi hadiah nah kalo sekarang hadiah jaman now tak seperti itu. Dia yang memberi pertanyaan, kita yang kasih hadiahnya. Lalu apa hadiahnya? Sepeda? Bukan itu sudah menjadi hak presiden.

Yang lain saja ya hadiahnya. Apa itu? Tiket menuju hotel prodeo. Gratis tanpa diundi.

PNS

Pekan ketiga Oktober 2017 adalah pekan yang menegangkan. Begitulah gambaran yang tepat sebagai ungkapan ekspresi para pegiat CPNS. Ya, sudah sepekan ini tes CPNS dilaksanakan di mana-mana termasuk di kota saya, Yogyakarta.

Kebetulan saya baru saja melaksanakan tes yang boleh dibilang melelahkan dan menegangkan. Bagi saya, ini tes ketiga yang sama menengangkannya setelah UN SMA dan ucapan ijab kabul. Bedanya adalah suasana yang berlangsung di arena tersebut.

Oke mari kita mulai ceritanya.

Saya mendapat jadwal pukul 12 siang. Bagi saya, itu jadwal aneh. Disaat orang-orang seharusnya istirahat, ini malah melaksanakan ujian. Lebih tepatnya ujian negara. Apa jadinya mau jadi calon pengabdi negara malah melawan aturan negara? Tentu saya tak mungkin melakukannya dalam waktu dekat.

Dalam peraturan disebutkan bahwa peserta harus hadir 1 jam sebelum jadwal pelaksanaan dimulai. Saya kira hal tersebut cukup bagus mengingat kalian tahu sendiri bahwa manusia Indonesia lebih suka terlambat daripada tepat waktu. Dan itu sudah mem-budaya dari level atas sampai bawah.

Saya berangkat menggunakan setelan Juventus. Kemeja putih dipadu dengan celana hitam. Saya heran sejak kapan pakaian putih-hitam dianggap sebagai bentuk pakaian bagi para calon anggota baru. Dan sekali lagi hal tersebut telah mem-budaya di pelbagai instansi. Atau jangan-jangan memang para presiden Indonesia adalah fans Juventus? Entahlah~

Sampai di sana, kami dipersilahkan duduk sesuai urutan. Datang paling awal dapat di depan. Kalo datang paling akhir ya dapat paling belakang. Tampak beraneka ekspresi dari para peserta CPNS. Ada yang ngantuk. Muram. Cemas. Bahagia. Dan Woles.

Semua sudah harus mempersiapkan kartu peserta ujian dan KTP. Barang bawaan yang tak perlu harap dimasukkan tas atau dititipkan ke pengawas. Barang tersebut antara lain jam tangan, cincin, kalung, handphone, kunci motor, dan jimat. Untuk yang terakhir, pengawas mengatakan berulang kali. Mungkin takut kejadian tempo lalu bisa terjadi di Yogyakarta.

Daripada kunci motor, kok para pengawas ndak memikirkan sabuk celana. Padahal hal tersebut lebih berbahaya. Dalam berbagai kasus pencurian atau pembegalan biasanya jimat ditaruh di sabuk. Bukan di kunci motor. Mungkin pengawas luput atau mungkin mereka berpikir kalo peserta ndak pakai sabuk justru celananya mlotrok.

Kan ya ndak lucu. Ini mah namanya pencemaran busana rapi.~

Saat melewati pemberkasan, seorang petugas berbicara dengan pelan kepada teman di sebelahnya. “Orang Jogja kalem-kalem yha.” Entah apa maksud dibalik ucapan tersebut. Saya menduganya bahwa mungkin mereka melihat orang-orang Jogja terbiasa menaati peraturan di dalam ruangan. Beda kalo di luar ruangan. Lebih kelam.

Apalagi kalo di jalanan. Pengendara Jogja adalah juaranya. Tak heran para pembalap nasional selalu dari Jogja. Sebut saja Doni Tata, Hendriansyah dan masih banyak lainnya.

Kemudian kami naik ke lantai dua. Kami kembali diperingatkan supaya barang-barang bawaan tak perlu harap dititipkan. Tersedia pelbagai loker yang tersedia. Jadi sekali lagi, kita hanya membawa KTP dan kartu peserta ujian.

Sembari menunggu, kami dihimbau untuk melihat papan layar berisi tata cara pengisian jawaban. Saya menyimak dengan seksama hingga muncul kalimat yang menurut saya janggal. Saya tak begitu ingat susunan katanya. Namun kira-kira seperti ini, “jika para peserta telah selesai, silakan pencet tombol selesai ujian maka muncul halaman score.”
Saya heran. Apa itu score? Hasil akhir? Yawla ini tes CPNS di Indonesia loh. Bukan di Enggres atau Selandia Baru. Andaikan saat itu ada Ivan Lanin, sudah pasti beliyo akan tersenyum sambil berkata, “Maaf saya masih berada di Indonesia kan? Tolong gunakan kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar.”

Azan berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 11.45. Ada seorang peserta yang meminta waktu untuk solat zuhur. Ah, sayang sekali. Permintaan tersebut ditolak dengan alasan bahwa waktu tes CPNS tidak lebih dari 2 jam. Jadi masih ada waktu untuk solat zuhur.

Andaikan peserta tersebut adalah pendukung anti Jokowi, ia pasti akan berkata, “Indonesia adalah negara sekuler. Mau sholat tepat waktu saja tak boleh!!” Tapi ia tak mungkin kuat mengatakan demikian. Ia saja masih berharap pada negara masa mau menghardik negara. Kan ya ndak mungkin toh~

Tapi setelah itu mungkin ia tersenyum.

Begitu masuk ke ruangan, ada yang aneh. Tak ada foto Jokowi dan Jusuf Kalla. Sekelas gedung negara tak ada foto kepala negara kan aneh bin ajaib. Kalo ada pendukung pro Jokowi mungkin mereka akan berteriak, “Ini kok foto kepala negara tak ada, ndak ada hormat-hormatnya. Ini sama saja menghina simbol negara. NKRI Harga Mati!!”

Tapi kan ndak mungkin hal tersebut diucapkan. Muke gile boss!!

Di dalam ruangan tersedia empat kamera pengintai. Dua di depan. Satu di sebelah kanan dan satu di belakang. Ini bagus. Mungkin agar mempersulit kita untuk mencontek. Kemudian terdapat enam pendingin ruangan. Baguslah. Jogja panas beett. Dua kaca besar di belakang. Saya ndak ngerti maksudnya apa ditaruh kaca. Dikira kita mau cukur rambut kali yha~

Sebelum mulai, ada sebuah kejutan berharga. Seorang pejabat yang mewakili sebuah lembaga hadir. Memberi pesan-pesan perjuangan. Tak lupa mengingatkan bahwa kalo jadi PNS harus siap lembur. Jangan dikira PNS itu kerjaannya hanya ngopi dan baca koran.

Batin saya, “wah saya salah masuk lembaga. Harusnya kan PNS emang seperti itu. Apa sudah berubah sejak era Jokowi karena slogan kerja, kerja, dan kerja?” Entahlah.

Selesai memberi pesan-pesan tersebut, tak lupa ia melakukan swafoto. Ingat, sudah sepantasnya pejabat melakukan hal demikian. Biar dianggap kekinian. Masa mau dibilang pejabat ndeso. Itu mah cuma label yang disematkan pada Jokowi. Eh.

Nah. Tes dimulai. 100 soal dengan waktu 90 menit. Tes terdiri dari tiga hal. Wawasan kebangsaan, intelegensi umum, dan karakteristik pribadi. Dari sini mulai terlihat tingkah laku peserta yang unik-unik.

Ada yang selalu memutar “godek”. Ada yang berulangkali lepas kacamata. Ada yang lelah mengatur nafas. Ada yang kedinginan. Tapi dari semua itu ada yang paling aneh. Selalu mencolokkan pensil ke lubang hidung di sebelah kiri. Saya kira itu cuma sekali dua kali. Tapi itu berulang kali. Seriyes.

Mungkin itu semacam jimatnya untuk menjawab soal. Barangkali lho ya.~
Setelah 90 menit, semua peserta tampak ada yang senang dan sedih. Ya itu karena hasil langsung diumumkan. Tapi katanya itu belum menjamin kelulusan karena masih diatur sesuai peringkat. Ini saya yang ndak ngerti.

Ya sudah begitulah ceritanya. Sebenarnya masih banyak cerita-cerita konyol pasca usai tes. Tapi saya sudahi dulu saja yha.

CADAR

Ada banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan Oktober. Belanda gagal lolos Piala Dunia 2018, film Pengabdi Setan dinobatkan sebagai film horor terlaris sepanjang masa, pelantikan Anies-Sandi yang menuai kontroversi gegara kata “pribumi”, hingga pelarangan cadar di berbagai negara.

Saya mau cerita soal cadar. Mulai dari Kanada. 17/10/2017 (kayak angka cantik ya) secara resmi parlemen Kanada membincangkan kembali masalah cadar layak di publik atau tidak. Sebagai negara yang konon katanya menganut prinsip kebebasan, ada pro kontra yang terjadi. Cadar diperbolehkan karena hak individu dan asalkan tidak mengganggu ketertiban umum. Cadar dilarang karena keterkaitan isu terorisme dan islamophobia yang kian menggurita.

Selama ini, Kanada diklaim menerapkan kebebasan bagi seluruh penduduknya. Mau kamu penganut LGBTQ, pemuja setan, penyuka makanan mentah, semua dilindungi. Begitu pula dengan kelompok mbak2 bercadar. Dilindungi atas nama kebebasan berkumpul dan berserikat.
Makanya justru aneh ketika hari ini Quebec, salah satu daerah Kanada meninjau kembali peraturan tentang cadar. Apa ada tekanan dari partai sayap kanan? Entahlah.

Nah, ngobrol soal cadar tentu saja tak bisa lepas dari negara Islam dong. Perdebatan mulai dari kitab suci hingga kitab klasik lagi-lagi menghangat. Ada yang mewajibkan, mensunahkan, hingga tak memperbolehkan.

Saya mau cerita tentang Mesir. Negeri yang baru saja memperoleh tiket Piala Dunia 2018 punya sisi unik soal cadar. Saya mendapat cerita soal cadar dari istri yang kebetulan sedang berada di Mesir. Lebih tepatnya Kairo.
Baru-baru ini, riset dari Thomas Reuters Foundation 2017 menempatkan Kairo sebagai kota tak ramah bagi perempuan pada peringkat pertama dunia. Saya yang baca berita tersebut jujur agak kaget dan risau. Bagaimana mungkin Mesir yang dijunjung dan dikatakan sebagai “Negara Timur Tengah penganut Islam Moderat” oleh sebagian umat Islam di Indonesia bisa mendapatkan label seperti itu?

Tapi setelah membaca berita itu, saya jadi ingat beberapa teman istri saya yang kebetulan sama-sama bertugas di sana beberapa kali mendapatkan “catcalling” oleh orang-orang sana.
Ketika itu kebetulan ada istri saya saat kejadian catcalling yang menimpa temannya, istri saya berteriak dalam bahasa Arab yang intinya “Heh, laki-laki tak beradab! Kaum Firaun!”

Kalian tahu, mereka hanya tersenyum, tertawa, kemudian justru mencoba mengejar rombongan istri dan teman-temannya. Apa reaksi orang-orang sekitar?

Diam saja. Menganggap itu adalah kejadian umum dan sudah biasa.

Setelah kejadian itu, tanggapan saya sederhana. Saya menyarankan istri dan beberapa teman untuk mencoba menggunakan cadar supaya tak diganggu lagi. Tapi agaknya saran itu tak kunjung dilakukan. Toh, alhamdulillah setelah kejadian tersebut, tak ada lagi kejadian serupa.

Nah, kebetulan istri dan beberapa teman ditugaskan untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi mahasiswa dan dosen di Mesir. Ada yang di Pusat Kebudayaan Indonesia, Universitas Ismailiyah, dan Universitas Al Azhar. Kebetulan, istri saya ditempatkan mengajar di Universitas yang disebutkan terakhir.

Betapa kagetnya istri saya, ketika mendapati kelas yang isinya seluruh perempuan memakai cadar. Sejenak ia mbatin, “Kalo di Arab Saudi mungkin wajar, lha ini di Mesir.”
Tentu ini menjadi persoalan sedikit rumit. Ia bertugas tak hanya mengajar kalimat “Ini ibu Ian atau ini ibu sudah pulang” tapi juga bernyanyi atau menari. Mengenalkan aneka budaya Indonesia. Akan tetapi, sayangnya itu tak bisa dilakukan.

Bagi mereka hal tersebut bisa dikatakan ‘haram’. Yang bikin repot pula, mereka tak mau difoto. Padahal kebutuhan laporan mewajibkan ada sesi kelas untuk difoto. Tapi rupanya istri saya tak kehilangan akal. Ia membujuk mereka untuk difoto namun dari belakang. Dan berhasil.

Usut punya usut, selain karena syariat mereka menggunakan cadar karena takut diperlakukan seperti apa yang dialami oleh beberapa teman istri. Dan itu efektif. Sepanjang para wanita menggunakan cadar di Kairo, kemungkinan kecil untuk diganggu. Istri saya sempat bilang kepada saya, “Mungkin ini alasan Allah menempatkan para Nabi di Mesir.”

Tapi tentu saja tak semua wanita Mesir berperilaku seperti itu. Ada juga yang tak mengenakan cadar dan mereka baik-baik saja. Tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.

Di Indonesia, polemik tersebut kembali menghangat pasca ada beberapa kampus negeri yang melarang penggunaan cadar. Ini pasti menimbulkan pro dan kontra. Ada yang berkata itu syariat harus ditegakkan tapi ada pula yang bilang itu budaya Arab. Lantas mana yang benar dan mana yang salah? Saya cuma bilang ketika kebenaran menjadi milik antum, maka kesalahan hanya milik oknum.

Mungkin di era kidz zaman now, agaknya jadi perempuan kekinian sedikit rumit. Berpakaian mini dikira perempuan tak baik-baik, berpakaian maksi dikira anggota teroris. Lha terus perempuan kudu berpakaian macam apa?

Ya, berpakaian layaknya kaum pribumi saja.

Menyambut Bulan Bahasa

Setiap bahasa supaya tidak menjadi langka dibutuhkan penutur bahasa yang prima. Tidak cukup dengan prima, penutur bahasa juga harus secara konsisten dan rajin untuk selalu melestarikan bahasa. Jumlah bahasa di dunia sekitar 6800 bahasa dengan sedikitnya 2000 bahasa termasuk dalam kategori rentan punah.

Dari ribuan bahasa tersebut, Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki ratusan bahasa. Ada 646 bahasa daerah yang tersebar di berbagai daerah seluruh Indonesia. Namun, dari sekian ratusan bahasa terdapat 14 bahasa yang telah punah dan 67 bahasa yang mengalami revitalisasi. Dan rata-rata bahasa yang mengalami kepunahan dan revitalisasi terletak di Maluku dan Papua.

Ada dua faktor yang menyebabkan mengapa bahasa daerah bisa punah. Pertama, para penutur meninggal dunia dan kedua, kawin campur. Banyak penutur asli terutama di daerah Maluku dan Papua telah lanjut usia. Jika mereka meninggal, maka usai sudah bahasa tersebut. Langkah termudah untuk menjaga bahasa mereka tetap ada adalah menikahkan keturunan mereka dari suku yang sama.

Ini penting. Terkadang jika melakukan pernikahan campur, maksudnya antar suku berbeda, ketakutannya adalah hilangnya identitas kebahasaan. Lambat laun mereka lupa hingga alpa kepada bahasa mereka dan pada akhirnya punah.

Tentu saya tak menyarankan kamu, kidz zaman now mengikuti saran dari adult zaman yesterday. Beda zaman, beda perasaan lur.

Oke. Lanjut.

Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang disegani dunia. Disegani dalam artian di tahun 2017, bahasa Indonesia masuk dalam 10 bahasa dunia yang paling sering digunakan. Yang mengejutkan adalah bahasa Sunda dan bahasa Jawa termasuk ke dalam 30 bahasa dunia yang paling sering digunakan. Kenapa bisa demikian?

Faktor internet.

Dalam catatan Internet World Stats, pada bulan Juni 2017 bahasa Indonesia telah dipakai masyarakat dunia sebanyak 157 juta orang. Kamu pasti bertanya, “Loh, bukannya jumlah masyarakat Indonesia sebanyak 250 juta orang? Ini kenapa kok bahasa Indonesia hanya dipakai 157 juta orang? Dan itu sudah termasuk warga seluruh dunia?”

Nah, Jadi begini.

Situs tersebut hanya mendeteksi seberapa banyak cuitan atau tulisan yang menggunakan bahasa Indonesia melalui internet. Bukan melalui lisan. Tidak semua dari 250 juta orang Indonesia pasti menggunakan internet bukan? Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mau dan bisa menggunakan internet.

Akan tetapi jika dilihat dan dihitung seberapa banyak orang yang menggunakan bahasa Indonesia secara lisan, ada sekitar 295 juta orang. Apakah itu banyak? Jika dibandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Tiongkok, maka pengguna mereka masih lebih banyak. Kedua bahasa tersebut telah digunakan oleh masyarakat dunia sebanyak 1,4 miliar. Jika penduduk dunia berjumlah 7 miliar, maka 20% penduduk dunia bisa menggunakan bahasa Inggris dan Tiongkok secara lisan.

Namun, kita ambil sisi positifnya. Perkembangan teknologi yang makin maju utamanya internet ikut membawa dampak yang baik bagi bahasa Indonesia. Setiap orang tergerak untuk menuliskan sesuatu dengan mencoba menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik itu di dunia nyata maupun dunia maya.

Sayangnya, itu tak mudah. Beberapa kali, para warganet terpeleset untuk menuliskan kata dan kalimat dalam bahasa Indonesia. Seperti membedakan kata (di) harus dipisah atau disambung, menuliskan kata silahkan atau silakan, hingga penggunaan kata kids zaman now.

Khusus yang terakhir ini cukup menimbulkan perdebatan banyak warganet. Kenapa harus keminggris? Kenapa kita tidak menggunakan frase anak jaman sekarang? Sampai sekarang saya sendiri juga belum menemukan asal muasal kata tersebut. Kalian bisa search atau you iso ask ke Cinta Laura.

Mungkin penggunaan kata tersebut supaya cuitan kita lebih internesyenel atau lebih kekinian. Bukankah sekarang eranya huruf (i) diganti (y)? Bukankah mencampur adukkan kata antara kata Inggris dan Indonesia sedang populer? Ya, tampaknya demikian.

Maka beruntunglah warganet memiliki Ivan Lanin dan Marno Mbois yang boleh dianggap sebagai polisi dan pelestari bahasa. Mereka senantiasa konsisten menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Mereka setia selalu menanti pertanyaan apapun terkait bahasa. Dan bisa dipastikan mereka senantiasa menjawab pertanyaanmu terutama om Ivan Lanin.

Nah, menurut om Ivan Lanin untuk pertanyaan kenapa huruf (i) diganti (y) itu adanya gejala modifikasi fonetis yang disebut “celoteh bayi”. Maka bisa jadi yang mempopulerkan kata terciduk diganti tercyduk adalah para pengasuh bayi. Karena ada interaksi antara orang dewasa yang mencoba menirukan cara bicara si bayi.

Kalo untuk pertanyaan kenapa kok kita lebih suka menggunakan kalimat keminggris, nah itu masih belum tahu jawabannya. Bisa jadi karena orang-orang yang melakukannya terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, kamu, atau kita mendengarkan orang-orang seperti itu dan merasa jengah pasti bakal berucap, “Mbelgedhes, belagu amat jadi orang!”

Oleh karenanya menyambut bulan Oktober sebagai bulan bahasa, mari kita pergunakan dan lestarikan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Jika ada kesulita menggunakan bahasa tersebut, maka konsultasikan pula dengan pihak-pihak yang berwenang. Kamu bisa tanya ke badan bahasa, Ivan Lanin ataupun Marno Mbois.

Tapi, saran saya jangan juga kamu bertanya sesuatu yang sukar dijawab apalagi dipahami. Seperti salah seorang warganet yang bertanya kepada Marno Mbois.

“Mas, nek rai mlotrok iku artine opo?”
Butuh lebih dari 5 menit bagi beliau untuk menjawab. Dan kemudian,

“Deloken foto profilku, su!”

Aku Punya Mobil, Aku Punya Garasi

Sebuah ilustrasi garasi

Mengamati Jakarta sebagai ibukota selalu memunculkan peristiwa berupa kebijakan menarik. Mulai dari pembatasan sepeda motor di jalan-jalan protokol yang menuai kemacetan, pemberlakuan uang elektronik di tol mulai 1 Oktober 2017 hingga yang paling mutakhir keharusan pemilik mobil memiliki garasi tersendiri. 

Sebenarnya kebijakan yang terakhir adalah produk lama. Kalo mau dicek lebih lanjut ternyata kebijakan tersebut adalah peraturan daerah no 5 tahun 2014. Nah kan! Udah berjalan 3 tahun loh. Kenapa baru heboh sekarang?

Bukan menjadi rahasia umum, tak ada lele maka tak ada air yang bergejolak. Bermula dari sebuah foto yang menghadirkan penempatan mobil mewah di pinggir jalan dan kebetulan memakan ruang jalan, maka peraturan tersebut didongengkan kembali. 

Kok ya kebetulan ruang jalan tersebut adalah ruang biasa dipakai rang-orang untuk lewat kendaraan umum. Yasudah, rang-orang di sekitar daerah situ menjadi heboh. Walaupun sang pemilik kendaraan berkelit sedemikian rupa, alasan hanyalah sekedar alasan. 

Kemunculan foto tersebut di media sosial telah menjadi santapan empuk nan lezat bagi warganet. Mungkin pemilik kendaraan lupa bahwa warganet Indonesia termasuk 5 besar di dunia untuk urusan mengakses media sosial. Jadi dirinya sungguh kaget ada ratusan hingga ribuan baik dukungan maupun cacian kepada dirinya. 

Ada yang mengkaitkan tentang kewajiban pajak bagi mobil mewah. Ada pula yang berusaha menelusuri foto tersebut hoax atau bukan. Ada juga yang mengkritisi layaknya pengamat transportasi bahwa ruang jalan harus diperlebar. Namun dari sekian komentar yang paling lucu adalah ada yang mengkaitkan jalan menjadi sempit karena Ahok turun dari jabatan gubernur DKI.

Duh, rasanya susah juga ya membi(n)asakan kenangan!

Seharusnya kalo mau diteliti lebih seksama, penggunaan garasi memang sangat vital. Bukan hanya untuk menyimpan mobil saja melainkan bisa juga menyimpan motor, uang, maupun tersangka korupsi yang berusaha kabur ke luar negeri. Eh. 

Padahal di dalam perda no 5 tahun 2014 sudah dijelaskan di paragraf 7 tentang pengawasan dan pengendalian angkutan jalan pasal 140 halaman 61 secara jelas dan nyata. Ada 5 poin yaitu 1) Setiap pemilik kendaraan bermotor wajib memiliki garasi. 2) Setiap pemilik kendaraan bermotor dilarang menyimpan kendaraan di ruang jalan. 3) Setiap pemilik kendaraan bermotor wajib punya garasi yang dibuktikan dengan surat kepemilikan garasi dari kelurahan setempat. 4) Surat tersebut menjadi bukti untuk syarat penerbitan surat tanda nomor kendaraan bermotor. 5) Ketentuan lebih lanjut sesuai dengan peraturan gubernur.

Nah, berarti sudah jelas dan terpampang nyata bahwa kalo mau punya mobil maka harus punya garasi. Saya juga memahami perasaan rang-orang yang tersinggung kalo ruang jalan malah dipakai parkir mobil. Kok mobil, kalo ada motor yang dengan sengaja parkir di depan rumah, saya aja agak senewen. 

Makanya ndak heran juga sebagian rumah di Jakarta ada tanda “jangan parkir di depan rumah”. Selain karena mengganggu ruang jalan dan membuat pemandangan menjadi tidak sedap, andaikan kalo kendaraan tiba-tiba hilang maka kita jadi ikut dikaitkan menjadi saksi. Duh jadi saksi aja males apalagi kalo statusnya naik jadi tersangka mending kabur ke luar negeri tapi ga perlu balik lagi. Eh.

Lalu bagaimana solusinya? Soalnya sudah terlanjur banyak DP murah buat beli mobil. Jadi sayang untuk dilewatkan. Selain itu, kasihan juga produsen mobil. Sudah susah-susah buat mobil, DP menjadi ‘sangat’ murah masak ndak ada yang beli. Kasihan juga bagi pemerintah sudah repot-repot buat jalan tol, belum lagi bikin simpang Semanggi yang konon aduhai kan ndak enak juga sama pemerintah. 

Bukankah jalan tol dibuat demi memberikan kenyamanan bagi warga untuk bergegas membeli mobil? Kalo alasannya untuk mengurai kemacetan sebenarnya bisa pakai kendaraan umum. Tapi ternyata bukan itu masalahnya. Kita sudah terlanjur memiliki sifat konsumtif yang cukup tinggi. Ditambah kalo pake kendaraan umum mungkin harus bergonta-ganti. Belum lagi ditambah harus jalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan. Patut diingat bahwa kita (utamanya rang-orang Jakarta) adalah masyarakat yang malas jalan kaki. Bukan begitu mas peneliti Standford University?

Jadi alangkah lebih baik kita memanfaatkan lahan kosong sebagai garasi. Masa ya ga mau pemerintah menerbitkan izin penggunaan lahan untuk dialihfungsikan menjadi garasi. Buat apartemen dan hotel saja bisa kok. Eh. 

Menurut saya, ada beberapa lahan yang bisa dimanfaatkan pemerintah untuk menjadi garasi. 

1. Sawah

Kenapa sawah menempati urutan pertama? Karena sawah adalah lahan paling enak buat diperjualbelikan. Apalagi sudah banyak lulusan persawahan malas balik kembali ke sawah. Lebih baik ke bank. Ini saya cuma mengutip pernyataan Bapak Presiden Yang Terhormat (harus pake yang terhormat nanti kalo alpa bisa tercyduk) waktu njenengan pidato di IPB. Lagipula kita sudah menjadi bangsa impor. Beras kita kan sudah impor dari Thailand, apa masih mau impor dari negara yang lain? 

Emang masih ada yang mau ya warga Jakarta balik ke sawah? Rasanya sungguh susah. Kalopun ada, mungkin hanya 0,00001 persen dari total jumlah warga Jakarta. 

2. Lapangan Sepakbola

Ini bisa menjadi opsi kedua bagi pemerintah. Banyak lapangan sepakbola yang malah tidak dimanfaatkan dengan baik. Yang ada rumputnya makin meninggi. Malah yang paling mengenaskan dibuat untuk lahan makan bagi kambing atau sapi. Dih, aneh. 

Lebih baik pemerintah beli saja sebagian lapangan sepakbola yang terbengkalai. Kalo ndak mau mending menyuruh kelurahan setempat untuk mengelolanya. Caranya? Tetapkan iuran yang pantas bagi pemilik mobil yang tak punya garasi. Nah, jadinya kan sama-sama enak. Pemilik mobil lega, kas kelurahan meningkat. Daripada harus repot-repot menyunat dana desa, mending meningkatkan pendapatan dari penyewaan garasi. Mudah bukan?

3. Mall

Loh kok pilihan terakhir ada mall? Tunggu dulu. Ini bukan mall yang diperuntukkan sebagai pusat perbelanjaan. Melainkan untuk dijadikan sebagai pusat pergarasian. Jadi mall khusus untuk penyimpanan mobil. Kalo perlu diperluas menjadi mall penyimpanan kendaraan bermotor. Jadi tak hanya mobil, melainkan motor, bus bahkan truk. 

Nanti disediakan beberapa kios yang dijadikan tempat untuk penyewaan garasi. Jadi para pemilik kendaraan bisa memilih kios mana yang pantas baginya. Mungkin semacam ada pilihan deluxe, premium atau VVVVIIPP. Semuanya sama-sama aman. Cuman yang beda kualitas dan tata letak kenyamanan garasi. Bisa jadi kalo deluxe yang menjaga adalah sipir LP Cipinang sedangkan VVVVIIPP yang menjaga adalah salah satu pengawal Raja Salman. 

Sama-sama aman dan nyaman bukan?

Jadi buat pemilik mobil atau kendaraan bermotor lainnya, jangan khawatir atau ragu-ragu untuk tidak membeli. Beri beban untuk pengurusan garasi pada pemerintah. Biarkan mereka yang berpikir. Kita sudah mau membelanjakan harta untuk kendaraan bermotor kok masih harus mikir buat garasi. 

Oh iya satu lagi. Jangan kasi pajak yang tinggi untuk garasi. Cukup pajak penulis saja yang tinggi. 

Tabik.