Pedoman Bahasa

Kuasai Bahasa Asing

Utamakan Bahasa Indonesia

Lestarikan Bahasa Daerah

9 kata diatas adalah slogan dari salah satu lembaga pemerintah yang memiliki nama Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA).

Di dalam BIPA ada sejumlah pengajar yang bertugas mengajarkan seluk beluk berbahasa Indonesia ke berbagai belahan dunia. Baik secara lisan maupun tulisan.

Belakangan, ada opini yang berkembang bahasa Indonesia tak lagi diminati di dalam negeri. Orang tua~utamanya generasi milineal~lebih suka mengajarkan anaknya untuk berbahasa asing.

Seperti contoh: Inggris, Arab, Mandarin, dan yang paling mutakhir adalah Korea.

Mengapa mereka bisa melakukan hal seperti itu?

Mengutip pernyataan dari AS Laksana dalam tulisannya di Jawa Pos (30/102017) ada harapan atau cita-cita yang dimiliki oleh bahasa asing.

Mereka, para orangtua tersebut merasa dengan menguasai bahasa asing maka memperoleh pergaulan yang lebih luas, tingkat kemapanan yang lebih tinggi, hingga akses ekonomi yang lebih panjang.

Apakah bahasa Indonesia tak memiliki cita-cita? Agaknya hal ini patut diperdebatkan.

Mungkin karena pengajar bahasa Indonesia tak memiliki metode yang berkembang, pengajaran mengenai bahasa Indonesia hanya itu-itu saja, dan kecakapan yang dimiliki pemerintah untuk mengembangkan bahasa Indonesia tak lagi mumpuni.

Makanya banyak orang beralih untuk belajar bahasa asing. Toh, ada anggapan bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu. Jadi selupa-lupanya kita terhadap bahasa ibu, tak butuh waktu lama untuk belajar bahasa Indonesia.

Beruntung, kini media sosial mulai berkembang. Ada orang macam Ivan Lanin, Jarar Siahaan, akun kbbi atau membetulkan dan aplikasi KBBI V yang kian menggiatkan berbahasa Indonesia.

Suatu bahasa menjadi biasa karena terbiasa. Pedoman tersebut seharusnya bisa diimplementasikan agar dunia lebih tahu bahwa bahasa Indonesia kian berkembang. Dari masa lalu menuju masa depan.

Advertisements

Hujan di Jogja

Kamis. Sudah dua hari ini Jogja dilanda hujan. Curah hujan dengan intensitas cukup tinggi. Deras.

Beberapa wilayah di Jogja bagian selatan mengalami kebanjiran. Ada yang rumahnya hanyut, jembatan putus, hingga menimbulkan korban jiwa. Rasa sedih pun menggelayut.

Sedih juga dirasakan oleh para pedagang kaki lima. Mereka, yang terbiasa dengan lesehan tampak cukup sulit menarik pengunjung. Alhasil, produksi menurun.

Sedih juga dirasakan pula para tukang ojek. Mau keluar, hujan sangat deras. Tak keluar, uang makan untuk kebutuhan keluarga sulit didapatkan. Situasi tersebut bagaikan buah simalakama.

Beruntunglah bagi tukang ojek utamanya daring yang masih berkeliaran saat hujan tiba. Apalagi sampai mereka mau menerima pesanan untuk mengantarkan makanan kepada konsumen.

Sungguh beruntung bagi konsumen. Tinggal buka aplikasi. Pilih makanan yang tertera. Kemudian diantarkan ke tempat tujuan.

Maka dari itu sekedar saran. Jika kamu memesan makanan lewat daring, alangkah lebih baiknya kamu memberi tip bagi mereka. Mengapa begitu? Karena saya anggap mereka adalah malaikat.

Curhat Terbuka untuk Lord of Setya Novanto

Sumber: bbc.com

Saat ini, di seluruh media Indonesia hingga internasional, semua memberitakan Lord of Setya Novanto. Mulai dari situs liberal hingga radikal. Mulai dari situs berjudul click bait hingga situs click unbait. Semua sepakat. Setya Novanto akan menjadi manusia terpopuler di tahun 2017.

Kehebohan beritanya mampu menutupi berita–yang sejatinya–lebih penting.

Pertama, BPJS akhirnya mengakui bahwa sumbangsih perokok terhadap dunia kesehatan begitu besar. Buktinya, dana cukai rokok sangat dibutuhkan untuk menutupi defisit dana BPJS.

Kedua, sejak Senin (21/11/2017) secara resmi Pertamina menaikkan harga bensin jenis Pertamax menjadi Rp8.400,-. Kalian pasti belum tau kan? Ini memang pengalihan isu. Dan dipilihlah Setya Novanto menjadi korban pengalihan isu. Sungguh mulia, Lord SN.

Ketiga, saya mau menerbitkan buku. Tolong dibeli ya. Makasih.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya akan menulis “Curhat Terbuka Untuk Setya Novanto.”

Lord of Setya Novanto yang terkasih,

Begini Lord. Anda pasti tahu bahwa lini masa dipenuhi dengan namamu. Meme milikmu hingga ada lagu yang berkisah tentangmu. Sesungguhnya kami lelah. Tidak betah. Dan ingin muntah.

Tapi kami sadar. Berkat kasusmu yang sungguh mendunia dari Polewali Mandar hingga Madagaskar, rakyat Indonesia kini telah bersatu. Rakyat Indonesia yang (pernah) terbelah menjadi kedua kubu karena pilpres, untuk saat ini agaknya bernafas lega. Mereka mampu bersatu padu tanpa ada tendensi untuk saling melontarkan obrolan saru.

Anda lihat? Baik kubu yang suka bikin demo berjilid-jilid maupun kubu yang suka bubarin pengajian, mereka saling merangkul. Bersatu padu untuk membencimu dan mencacimu. Seakan anda adalah musuh bersama bagi kedua kubu.

Saya tak habis pikir. Dari mana anda mendapatkan ide–yang sedemikian brilian–itu untuk menyatukan pikiran dan hati–yang terlanjur runtuh karena gontok-gontokan yang tak akan ada habisnya? Saya jadi sepakat ketika sebuah pesantren memberi gelar KH kepada anda. King of Human. Raja Manusia. Sangat layak namun khayal.

Lord of Setya Novanto yang tersayang,

Begini Lord. Indonesia sedang gencar-gencarnya mempromosikan pariwisatanya. Melalui slogan Wonderful Indonesia, per April 2017 lewat The Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI), Indonesia mampu menembus peringkat 42 dunia. Peringkat yang naik cukup tinggi jika dibandingkan di tahun 2015, Indonesia hanya menermpati peringkat 70.

Anda tau itu karena apa? Ini tak lain karena banyak tempat-tempat wisata Indonesia yang unik sekaligus asyik. Jokowi berencana meningkatkan pariwisata dengan membuka tempat-tempat wisata yang baru.

Bak gayung bersambut. Pekan lalu, anda berhasil membuka tempat wisata baru. Apa itu? Tiang listik. Asal anda tahu, di tempat ‘kecelakaan’ tersebut kini ramai dikunjungi masyarakat. Saat ini, memang hanya masyarakat dari Jakarta Selatan yang sering berkunjung.

Menurut penerawangan, pekan akhir nanti diperkirakan masyarakat se Jabodetabek akan mengunjungi tempat tersebut. Dan tentu saja mereka penasaran. Apa yang membuat mereka penasaran? Bakpao.

Ya, mereka sedikit bingung. Bagaimana caranya mobil dengan kecepatan 20 km/jam mampu membuat anda mengalami benjolan sebesar bakpao? Ini menarik disimak. Diperkirakan di sekitar tempat tersebut akan bermunculan wahana baru. Seperti, foto dengan boneka bakpao, test drive menggunakan mobil-mobilan kemudian melaju dengan kecepatan “tinggi”, dan foto selfie dengan kumpulan meme anda.

Lord tak perlu khawatir atau buru-buru melaporkan ke pihak berwajib. Saran saya, kumpulkan saja meme tersebut. Uruslah hak cipta dan hak milik. Niscaya, jika nanti anda dinyatakan bersalah, kantong anda tak akan pernah menyerah.

Karena mengambil judul lagu dari Efek Rumah Kaca bahwa pasar bisa diciptakan, cipta bisa dipasarkan maka anda bisa mengimplementasikannya dengan sempurna. Dan jangan lupa beri slogan pada hak cipta meme anda. Seperti contoh “Sedikit Tiang, Banyak Meriang.”

Lord of Setya Novanto yang tertampan,

Saya cukup kaget ketika ternyata masa lalu anda begitu gemilang. Di usia 21, anda pernah menjadi model bahkan mendapat gelar sebagai pria tertampan. Jadi wajar, ketika wajah anda mendapatkan benjolan sebesar bakpao maka tiang listrik yang harus disalahkan.

Kok bisa-bisanya tiang merusak ketampanan anda yang sungguh absolut. Saya tahu, anda telah mengganti pengacara dari Fredrich Yunadi menjadi Otto Hasibuan. Ya, tampaknya anda benar-benar paham mana pengacara yang mampu membantu menyelamatkan anda. Dengan track record Otto sebagai mantan pengacara Jessica dalam kasus kopi sianida, saya yakin anda meraih hasil yang terbaik di pengadilan.

Cuman begini.

Kalo pun nantinya anda dinyatakan bersalah, ya sudah mbok ngaku kalah. Toh, anda kan sudah meraih empati dari manapun. Sudah dibantu pengacara terbaik, eh masih mendapat ‘bantuan pula’ dari si Nazaruddin. Saya lama tak mendengar kabarnya. Kok tiba-tiba sudah muncul di kasus anda. Ajaib.

Ingat Lord, kebaikan-kebaikan anda sungguh tak terhingga. Menyatukan pikiran dan hati 260 juta rakyat Indonesia pasti sulit. Sampai-sampai Jusuf Kalla bilang kalo anda termasuk orang sakti. Tak ada yang menyangkal secuilpun ungkapan Jusuf Kalla.

Oleh karena itu sebagai penutup, izinkan saya mewakili seluruh rakyat Indonesia untuk mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada anda. Karena anda, Indonesia lebih berbahagia.

Jika ada slogan populer yaitu Vini, Vidi, Vici maka anda telah menciptakan slogan serupa dan bahkan lebih populer.

Sakti, Sikat, Sakit.

Sebaik-baiknya Perlawanan Melalui Tulisan

Foto di atas merupakan bentuk penghormatan Mohamed Salah kepada korban pemboman di Mesir setelah mencetak gol ke gawang Chelsea. Sumber: Koran Jakarta

Tak ada tagar #IstandforEgypt atau #PrayForEgypt di lini masa. Sungguh aneh. Mesir, negeri para Firaun tersebut baru saja mengalami teror paling keji sepanjang 2017. Bahkan mungkin teror terbesar dalam satu dekade.

Apakah karena Mesir adalah bagian dari dunia ketiga? Atau apakah Mesir adalah salah satu kota yang tak ramah bagi perempuan sehingga wajar media sosial tak harus berpihak ke negara tersebut? Entahlah.

Sebuah bom meledak disertai penembakan sangat binal dan brutal terjadi di sebuah masjid yang letaknya di Sinai Utara, Mesir. Menewaskan setidaknya 305 orang dan 120 lainnya luka-luka. Yang cukup mengerikan adalah 27 diantaranya adalah anak-anak.

Mereka, anak-anak tersebut hanyalah korban dari kebiadaban sebuah kelompok. Entah itu kelompok tersebut bisa dikatakan radikal atau militan. Yang jelas, kelompok tersebut sangat mengerikan.

Mereka, kelompok tersebut bersuka ria dengan menembaki orang-orang setelah melakukan ibadah shalat Jum’at. Kelompok macam apa yang tega melakukan kekejian saat di mana orang lain sedang mengadu kepada Sang Pencipta?

Memang sampai saat ini belum diketahui siapa yang melakukan kekejian tersebut. Sinyalir terdekat mengarah ke Ikhwanul Muslimin atau Al Qaeda. Namun, kedua kelompok tersebut justru mengutuk apa yang terjadi pada masjid di Sinai Utara.

Lalu siapa yang melakukannya? Hal rasional yang paling memungkinkan jawabannya adalah ISIS. Ya, kelompok tersebut tidak mengklaim bertanggungjawab atas peristiwa tersebut. Namun, di sisi lain ISIS tak menolak jika dikaitkan dengan perlakuan keji tersebut.

Jika memang ISIS melakukannya, apa motifnya? Apa karena masjid tersebut adalah tempat berkumpulnya sufi yang dalam pandangan mereka boleh dikatakan bid’ah? Atau apakah mereka memang melakukannya demi sebuah eksistensi diri?

Jika alasan kedua yang menjadi pernyataan benar maka mari kita ramai-ramai mengutuknya. Tak perlahan melainkan ultimatum secara keras.

Mereka, para kelompok tersebut dengan lihai meneriakkan kalimat takbir sebelum melepaskan tembakan mematikan. Siapa saja yang saat itu masih berdiri, sudah pasti menjadi korban tewas. Mengerikan.

Lalu apa guna kalimat takbir? Apakah itu adalah legitimasi atau sebuah justifikasi untuk melakukan pembunuhan?

Sungguh, kalimat takbir seakan menjadi makna yang peyoratif. Kalimat yang seharusnya sakral diucapkan ketika hari kemenangan kini justru berubah menjadi perilaku kekejian.

Tentu, kita tak hanya menjumpai kalimat tersebut di Mesir. Indonesia, salah satu negara mayoritas muslim pun mengalami hal serupa.
Kalimat takbir seakan menjadi kalimat pembenaran. Digunakan untuk melakukan eksekusi sekaligus persekusi. Tentu, itu digunakan sebagai legitimasi ‘kemenangan’ mereka.

Lantas, jika mereka menganggap itu sebuah kemenangan, apakah korban menganggap kalimat tersebut menjadi sebuah kalimat keji?

Bisa jadi.

Saya tak menampik beberapa teman seakan tampak ngeri jika mendengar kalimat tersebut. Apalagi setelah itu ditambahkan dengan kalimat “Bunuh”,”Bakar”,”Bungkam”.

Beruntung, di Indonesia tak sampai ada peristiwa pembunuhan. Sekeras-kerasnya teriakan tersebut paling banter hanya sampai level pengucilan atau yang mengerikan sampai pengusiran.

Dan itu jamak terjadi di Indonesia.

Bagaimana dengan Mesir? Pembunuhan merupakan hal yang biasa. Terlebih dalam empat tahun terakhir ini.

Korbannya tak hanya kaum minoritas yaitu Kristen Koptik melainkan juga kaum mayoritas seperti kaum Muslim. Tak hanya polisi atau tentara yang menjadi korban melainkan ulama pun menjadi tawanan.

Yang mengerikan adalah mereka, kelompok tersebut melakukan penawanan kepada ulama hanya karena masalah “pemahaman” yang berbeda. Jika ulama tak sanggup memenuhi permintaan kelompok tersebut maka hasilnya lebih mengerikan. Pembunuhan.

Kejam? Iya. Tak punya hati nurani? Jelas. Lalu merasa benar? Sudah pasti.

Dan ini yang jelas membahayakan bagi generasi muda selanjutnya.

Bagaimana jika kaum muda baik di Mesir maupun Indonesia mendengarkan sebuah kalimat yang bisanya digunakan untuk memuji Sang Pencipta namun terdengar seperti kalimat legitimasi untuk perlakuan tidak baik?

Inilah yang sepatutnya dikhawatirkan. Kita tak bisa mengelak bahwa ada pergeseran makna. Kita tak bisa bertindak jika ada peningkatan tindakan. Yang ada, seringkali kita diam. Tak berani bergerak lebih banyak.

Saya khawatir. Dan mungkin kamu merasakannya juga. Akan ada suatu saat di mana berkumpulnya massa untuk bergerak dalam satu komando memekikkan kalimat tersebut. Bukan untuk merayakan hari kemenangan melainkan untuk melahirkan sebuah negara baru. Bahkan gerakan tersebut mungkin sedang terjadi. Dan kian masif.

Melegalkan segala cara demi kebenaran sekelompok kaum, apalagi dengan menggunakan kalimat agung, sungguh merupakan bias pergerakan sekaligus makna.

Saya tak habis pikir. Mengapa mereka dengan mudahnya menggunakan embel-embel kalimat tersebut demi alasan pembenaran untuk melakukan tindakan. Dan justru melahirkan kebencian. Bukannya meraih simpati melainkan menghasilkan antipati.

Kasihan, jika ada sekumpulan manusia yang memang bergerak melakukan takbir dengan tulus dan ikhlas, mengadu kepada Sang Pencipta sembari berkeluh kesah namun kini dianggap aneh dan berbeda.

Kasihan, jika ada sekumpulan manusia yang melakukan takbir karena merayakan kemenangan atau kesenangan setelah meraih hasil yang baik atau kado terindah namun kini dianggap melakukan tindakan persekusi.

Sungguh, jika tak ada media sosial yang mencantumkan “tolong bantu kami dengan mengganti logo Mesir di profil kamu” maka mari kita giatkan dengan sebuah perlawanan.

Karena kata adalah senjata. Maka sebaik-baiknya melawan adalah menggunakan tulisan. Sebarkan kebenaran dengan keragaman. Karena keragaman adalah kunci untuk menghormati perbedaan.

Salam Perdamaian.

Sebuah Cerita Tentang Barista

Tema kali ini tentang barista. Khususnya perempuan. Setelah membaca tulisan teman-teman, saya juga jadi bertanya-tanya kenapa barista selalu identik dengan lelaki?

Sampai hari ini, saya masih belum mampu menjawabnya. Barangkali, jika teman-teman ada yang mengetahui, bisa beri komentar di link saya, nggih.

Saya cuma mau cerita tentang sebuah pengalaman bersama teman-teman saya saat mencicipi kopi di Malang.

Saat itu, kami~yang saat itu~masih menjadi jomblo lapuk ingin menjajal sebuah kedai kopi di bilangan Soekarno Hatta. Kebetulan, kedai tersebut baru buka seminggu yang lalu.

Sebenarnya, kami ingin ke sana bukan karena hasrat mencoba kopi melainkan bertemu dengan seorang barista~yang konon~satu-satunya barista perempuan di Malang.

Mulanya, saya agak skeptis. Apa bisa seorang perempuan menjadi barista? Apa bisa perempuan membuat kopi? Sendoknya yang bergoyang duluan atau cangkirnya yang bergoyang terlebih dahulu?

Entahlah.

Jadi, begitu kami masuk, langsung saja memilih tempat duduk yang berada di pojokan. Supaya kami leluasa untuk melihat secara lamat-lamat sang barista tersebut.

Rambutnya ikal. Sebahu. Ia memakai jam tangan di pergelangan tangan kiri

Kami memesan kopi tubruk. Sengaja. Karena ga begitu paham kopi yang enak itu bagaimana. Kopi ya kopi. Mau dibuat gimana, bagi kami warnanya adalah hitam.

Kopi disajikan. Diminum secara perlahan. Kemudian salah satu teman kami mengajak bermain kartu samgong. Yang nilainya paling kecil wajib berkenalan dengan si barista itu.

Ini menarik. Beberapa teman kami~saat itu kami berenam~adalah orang-orang yang canggung saat berkenalan dengan wanita. Okta, salah satu teman saya adalah anak yang paling grogi. Jangankan berkenalan, menatap mata seorang wanita saja membuat wajahnya menjadi ungu merona.

Permainan dimulai. Tak butuh waktu lama karena permainan samgong hanya sebentar. Paling 5 menit. Dan sudah saya tebak, Okta mendapat nilai terendah. 19.

Alhasil, ia pun harus berkenalan dengan si barista tersebut. Ia maju ke meja sang barista. Berdiri. Dengkul kirinya agak gemetar. Saya berani bertaruh, lewat enam menit, air akan mengalir dari celananya. Itu menjadi sebuah kebiasaannya.

Dugaan saya salah. Ia terus berdiri. Sekarang kaki kanannya ikut gemetar. Mukanya menunduk. Ia berdiri selama hampir 21 menit.

Karena tak kunjung berkenalan, seorang teman memanggil Okta. Kemudian, Okta kembali ke meja kami.

“Kok kamu ga jadi kenalan?” tanya teman A.

“Lha, kan aku sudah ke barista?” jawab Okta sembari berbalik tanya.

“Lho, lha iya. Kok kamu ga bercakap dengan baristanya? Kan peraturannya kalo kalah harus kenalan.” sergah saya.

“Eh, kenalan ya? Aku kira tadi kalian menyuruh aku untuk berbaris. Lha kalian tadi suruh aku kesana dengan sebuah perintah kan? ayo ke baris, Ta! Ya aku berbaris saja!?”

“Kenalan dengan barista. Bukan menyuruh kamu untuk baris, ta. Duh!”

Pembicaraan terhenti. Kemudian kami tertawa ngakak. Betapa sebuah kalimat jika tak diungkapkan dengan tepat maka hasilnya menjadi lain.

Dasar Okta. Pethuk kok tujuh turunan.

Menuntaskan Senja Di Mak Semarangan

Desember belum saja datang namun hujan sudah menerjang. Datangnya pun tak semena-mena. Terus-menerus bahkan tak mau berhenti. 24 jam.

Itu yang saya alami ketika hujan mendera Jogja di Sabtu kelam. Bagaimana tidak? Tiga universitas mulai dari bagian utara, tengah, dan selatan serempak mengadakan wisuda.

Kamu bisa bayangkan bukan? Sudah hujan tak kunjung berhenti, wisuda serentak di tiga universitas dan itu adalah hari Sabtu. Lalu apa yang terjadi? Jogja macet, cet, cet. Macet.

Kalo kamu punya pasangan, mungkin tak jadi masalah. Menikmati rintik hujan ditemani dengan pelukan dari kekasih. Duh. Bagaimana dengan saya yang menjadi bujangan? Ngenes sih iya. Merana? Sudah jelas.

Oleh karena itu, saya pun ingin menghibur diri dengan mencari tempat yang membuat kondisi hati menjadi gembira ria.

Beruntung, salah satu teman menghubungi saya untuk bergabung ngopi di suatu tempat. Letaknya di Jalan Monjali. Lebih tepatnya di seberang pom bensin Monjali. Namanya Mak Semarangan.

Nama yang unik. “Mungkin pemiliknya seorang wanita tua yang ingin menghabiskan waktu di Jogja.” batin saya.

Dugaan saya benar. Begitu masuk di pintu utama, terpampang sketsa wanita tua di dinding. Berkacamata dengan rambut sebahu. Saya berani bertaruh bahwa dulunya beliau adalah wanita cantik nan jelita.

Di lantai pertama terdapat etalase kudapan berupa pai dan minuman berupa sirup kawista. Oh iya, kamu juga jangan kaget. Ketika kamu membuka dengan menarik pintu masuk, selain ada foto dengan penuh sketsa wanita tua, ada semacam lesehan yang di desain layaknya ruangan pengantin.

Saya tertawa kecil. “Idenya boleh juga.” gumam saya. Mungkin, harapan dari pemilik agar setiap orang yang masuk ke sana segera memberanikan diri untuk naik ke pelaminan. Kemudian masuk ke ruangan pengantin. Agar bisa dianggap pasangan yang halal.

Kemudian saya naik ke lantai kedua. Isinya cukup luas. Ada beberapa sketsa “kekinian” di dinding. Aksesoris yang ditaruh di sudut-sudut juga menarik. Cocok buat kaum milenial yang hobi cekrak-cekrik. Kemudian unggah di media sosial.

Lanjut lagi. Saya naik ke lantai paling atas. Lantai tiga. Di sini, tempatnya tak terlalu luas. Hanya ada satu meja panjang. Namun, ada tempat yang sangat cocok bagi kamu untuk mengerjakan tugas sekolah maupun kuliah.

Andai kamu adalah pejuang skripsi, tesis, maupun disertasi, saya sangat menyarankan kamu untuk singgah di tempat ini. Terutama di lantai ketiga.

Saya duduk menghadap sketsa kartun DC dan Marvel. Suasananya sangat nyaman. Apalagi didukung hujan. Sejuk. Untung saya bersama banyak teman. Andaikan sendiri, mungkin saya akan tertidur.

Kemudian untuk menambah kesejukan di ruangan tersebut, saya memesan kopi house blend mak semarangan. Kopi khas Mak Semarangan. Selain itu, saya memesan pai apel dan quinche cheese.

Kudapan tersebut saya pesan karena namanya yang cukup keren. Harapan saya, rasanya bisa memuaskan lidah.
Saya memencet bel yang tersedia. Pramusaji datang. Menanyakan pesanan saya, kemudian bergegas turun untuk membuatkan pesanan saya.

Tak sampai 15 menit, hidangan saya datang. Aroma kopi menguar. Wangi. “Ini pasti enak.” kata teman di sebelah kanan saya.

Dan benar. Ia tak bohong. Saya menyeruput kopi itu. Seteguk demi seteguk. Sungguh menyegarkan sekaligus menghangatkan kerongkongan saya. Favorit.

Kemudian saya mencuil pai apel. Tak terlalu manis. Namun rasanya cukup menggigit. Kalo rasa dari quinche cheese sungguh mengagumkan. Lezat paparampa!!

Jika kamu ingin menghabiskan sore yang hujan sedang turun, saya sarankan memesan kopi house blend Mak Semarangan dengan quinche cheese. Sungguh perpaduan yang manis. Dijamin akan membuat kamu terkesan. Dan ingin mengulanginya kembali.

Sejenak saya iseng. Jalan kesana-kemari. Ingin melihat pesanan di beberapa meja pengunjung. 3 dari 5 memesan quinche cheese. Nah, berarti pesanan saya terverifikasi. Memang quinche cheese yang menjadi kudapan enak di tempat ini.

Saya kembali ke tempat duduk. Menandaskan kopi. Sedikit demi sedikit. Karena jika langsung dihabiskan, saya akan kecewa. Saya tak mau menuntaskan rasa kopi tersebut langsung dalam sekali teguk. Lebih baik pelan-pelan saja. Maka rasa kopi tersebut menjadi paripurna.

Tak terasa, saya menghabiskan dua jam di tempat tersebut. Hujan berangsur reda. Saya bergegas kembali menuju rumah. Saya tak mau menjadi bagian dari kemacetan Jogja. Apalagi itu adalah malam minggu.

Tempat rekomendasi saya bertambah lagi. Mak Semarangan akan menjadi salah satu tempat favorit untuk singgah. Bisa jadi seiring berjalannya waktu, Mak Semarangan akan tampil menjadi salah satu destinasi favorit di Jogja. Yah, semoga harapan saya tak memudar. Karena ketakutan saya, tempat tersebut beralih menjadi apartemen.

Dan untuk Mak Semarangan, saya ingin memberikan dua kata untuk rasa minuman dan kudapan. Lezat paparampa!!!

Merasa Kreatif, Micin Saja Tak Punya

Micin. Dalam KBBI V, micin berarti vetsin. Sedangkan vetsin berarti bumbu penyedap. Biasanya, vetsin ditambahkan ke dalam makanan supaya makanan lebih enak, sedap, dan menggigit.

Lalu bagaimana jika vetsin dimasukkan ke otak?

Jika dimaknai secara denotatif, tentu tidak mungkin. Tapi bagaimana jika dimaknai secara konotatif?

Nah, mungkin ini yang menjadi problematika.

Kata micin makin populer karena disematkan dalam sebuah generasi. Beberapa penelitian mengatakan bahwa kamu yang lahir di tahun 2000an termasuk generasi micin.

Saya ndak ngerti mengapa patokan awal di tahun 2000. Bisa jadi pergantian nama generasi karena pergantian abad. Atau bisa jadi pemberian nama generasi micin berdasarkan pergantian dekade.

Toh, itu tak menjadi soal.

Yang perlu diperhatikan adalah generasi micin merupakan generasi ideal di masa yang akan datang. Pembawa perubahan. Penggerak zaman. Pencipta keadaan.

Kamu bisa lihat bagaimana generasi micin yang mampu beradaptasi media sosial dengan sangat baik. Mampu menjadikan media sosial menjadi ladang pemasukan.

Sebagai contoh instagram. Mereka, tak perlu lagi bekerja “nine to five” untuk menghasilkan uang bulanan. Cukup eksis di instagram. Entah sebagai perias foto makanan, pelaku foto wisata hingga menjadi buzzer.

Sungguh kreatif.

Banyak profesi pekerjaan yang dulunya tak terpikirkan, kini sedikit demi sedikit mulai terwujud. Mau gaji 40 juta/bulan? Cobalah eksis di instagram. Tak perlu ikut MLM. Apalagi jika kamu menjadi pegawai negeri. Duh susah kaya.

Generasi yang mengolok-olok generasi micin, sungguhlah bedebah. Mereka tak mampu berpikir jenius layaknya generasi micin. Lebih baik duduk, melakukan pekerjaan berulang kemudian terima gaji.

Ingat? Bangsa ini butuh indeks perekonomian tinggi. Saat ini baru di kisaran 5,2%. Pemerintah berharap indeks perekonomian meningkat setidaknya menjadi 6% di akhir periode Jokowi.

Lalu siapa yang bisa diharapkan Jokowi? Ya generasi micin. Masak mau generasi 2008? Ndak bisa. Generasi 1998? Duh, apalagi itu.

Ingat, cuma generasi micin yang mampu mengimplementasikan harapan Jokowi.

Generasi micin adalah generasi yang mampu beradaptasi dengan globalisasi. Misal, penggunaan bahasa Inggeris. Itu justeru bagus. Menaikkan derajat dan martabat kita di mata internasional.

Mulailah berbicara bahasa Inggeris sejak kecil. Ajaklah orangtua, kerabat, teman dekat maupun sahabat sering-sering berbahasa Inggeris.

Apa kamu tidak tahu kenapa Freeport mampu membelah bumi Papua? Apa kamu tidak sadar kenapa Newmont mampu mengakuisisi Sumbawa?

Ya, itu karena generasi saya bahkan sebelumnya tak pandai berbahasa Inggris. Jadi waktu tanda tangan perjanjian, yang penting nilainya cocok. Jadilah mereka membuat Indonesia menjadi kaya. Setidaknya kepada generasi kita. Sebelum dari kita.

Coba kalo pandai bahasa Inggeris, kita kan bisa mengibuli dunia luar. Mau bukti?

Tuh lihaat, ada orang Indonesia yang sangat pandai hingga menjadi ahli teknik di luar negeri. Dapat penghargaan di mana-mana.

Media kita menjunjung beliyo. Walaupun ternyata dianggap bersalah, setidaknya karena bisa bahasa Inggeris dan mendayagunakan micin dengan baik maka dunia internasional tunduk.

Bukan hanya itu saja. Baru-baru ini, ada mahasiswa yang DO dari salah satu universitas terbesar di Indonesia. Tapi, secara jenius ia mampu melanjutkan studi di negeri seberang.

Tidak hanya S1, melainkan ditawarkan hingga S3. Luar biasa kreatif bukan? Punya penghargaan. Diakui luar negeri pula. Wih apa ga bikin bangga orangtua hingga tanah kampung?

Itu semua karena mereka mampu berbahasa Inggeris. Selain itu, karena mereka sadar, generasi micin adalah tumpuan bangsa. Jadi mereka harus berpikir se-kreatif mungkin.

Menjadikan Indonesia maju. Menjadi harum namanya. Wangi semerbak di mata penguasa.

Jadi buat yang mengolok generasi micin, mereka harus diingatkan. Betul-betul diperhatikan.

Merasa Kreatif, Micin Saja Tak Punya.