Benarkah kita malas jalan kaki?


Beberapa hari ini lini masa memberitakan goncangan headline. Mulai dari KPK vs DPR, perseteruan Dinda Tsamara vs Pak Fahri Hamzah, pro dan kontra perppu ormas hingga yang paling kekinian, pemblokiran telegram. Nah dalam esai kali ini, saya tak akan mengangkat tema salah satunya.

Kenapa? Sudah terlalu banyak yang membahas. Mulai dari analisis politik yang mendakik-dakik hingga analisis komedi yang crigas-crigis. Saya mau coba nulis tentang tema berkaitan dengan jalan kaki. Kenapa saya pengen bahas itu? Karena ada sekumpulan orang asing dari Barat yang bilang kalo orang-orang Indonesia malas jalan kaki!!

What?? Apakah ini penistaaan kesehatan internasional? Bisa jadi iya, bisa jadi bukan. 

Dalam jurnal yang katanya internasional ditulis bahwa Indonesia menempati peringkat 46 dari 46 negara untuk urusan jalan kaki. Daripada kamu buka jurnal yang menyesakkan dada dan menguras emosi lebih baik saya jabarkan fakta lain dalam jurnal itu. 

Ehm, jadi begini rata-rata orang Indonesia hanya menghabiskan 3.513 langkah per hari. Saya pikir itu langkah yang cukup banyak. Ternyata ndak toh. Rata-rata langkah kaki masyarakat dunia berjumlah 4.961. Bajilak. Nggilani nemen ternyata…

Kalo yang paling tinggi ya jangan ditanya. Jawabannya orang-orang Hongkong. Mereka bisa menghabiskan langkah sebanyak 6.880 per hari. Banyak bener ya. Hasil penelitian itu membuktikan suatu pernyataan yang sering kita ulang-ulang kalo orang Hongkong memang suka jalan. 

“Cokk, koen mlaku kok suwe nemen? Mlaku teko Hongkong ta?”

Nah itu contohnya. Garing? Yo ben.

Apa kamu ga pengen tahu 3 urutan negara terbawah? Penasaran ndak? Tapi kalo saya kasih tahu, janganlah marah disertai mencak-mencak. Saya takut jika memberitahu ketiga negara terbawah, nanti dikira saya sedang mencoba mengkriminalisasi negara-negara tersebut. Sudah siap? Oke. 

Yang paling bawah adalah Indonesia. Diatasnya ada Arab Saudi dan Malaysia. Ya, insan-insan Arab Saudi dan orang-orang Malaysia langkahnya sehari hanya mencapai 3.807 dan 3.963. 

Wah, ini penelitian apa-apaan?? Kenapa kok hasilnya menyudutkan negara-negara Muslim? Emang negara mayoritas Muslim malas jalan kaki? Yang benar aja. Ini pasti salah. Ndak mungkin. Ndak mungkin. 

Sebagai warga negara Indonesia yang budiman dan selalu berkata NKRIHargaMati, penelitian ini boleh dibilang abal-abal. Saya tak sudi menerima hasil penelitian ini. Bolehkah saya gugat hasil penelitiannya ke PBB karena tulisannya mencemarkan negara baik dan tulisan yang tidak menyenangkan? Boleh lah, masak cuma imam besar umat Islam aja yang boleh gugat ke PBB. Eh. 

Saya kira ini pasti ulah orang-orang Jakarta. Saya ndak yakin subjek penelitiannya bukan orang-orang Jakarta. Kalo memang benar yang diteliti orang-orang Jakarta, ya wajar. Wong, trotoar disana bukan dibuat pejalan kaki tapi buat jalan alternatif, pangkalan ramalan jodoh, dan juga tempat penafsir mimpi. Duh.

Ya apa boleh buat, Jakarta adalah ibukota Indonesia jadi mau ndak mau representasi orang-orang Indonesia adalah orang-orang Jakarta. Lain ceritanya kalo ibukota sudah dipindah ke Palangkaraya atau Jayapura. Sa berani yakin justru Indonesia adalah negara paling rajin untuk kategori jalan kaki. Camkan itu, wong aseng. 

Masalahnya karena berita tersebut sudah terlanjur menyeruak ke dunia ketiga hingga kelima, jadilah Indonesia dilihat sebagai negara terpuruk.

Tapi, tunggu dulu. Dibalik berita yang menyedihkan tersebut ada yang senang juga lho. Siapa dia?

Produsen motor dan mobil. Sa berani yakin mereka bakal membuncah semangatnya begitu tau berita itu. Mereka akan semakin berlomba-lomba meningkatkan produksinya. Produksi ditingkatkan, kredit diberi harga murah. Kalo perlu pake DP 0% kayak beli rumah di Jakarta. Dan ditambah lagi embel-embel kendaraan irit bensin dan ramah lingkungan. Wah ya cucok itu dengan gaya hidup wong Indonesia. 

Pembuat jalan tol. Sa berani yakin kementerian PU semakin senang dan gembira ria. Mobil semakin banyak dan semakin sesak. Maka solusinya ya buat jalan tol. Kalo perlu seluruh Indonesia. Tak peduli kalo itu akan menggerus sawah, ladang, dan lahan semacamnya. Kan sembarang-sembarang kita sudah impor. Jadi ya ndak perlu khawatir kalo akhirnya kita perbanyak jalan tol. Teruskan kerjamu ya pak. 

Ojek online. Wah sa kira ini berita paling membahagiakan bagi mereka. Bakal menguntungkan dan meningkatkan pendapatan mereka. Lha, mereka menyediakan apapun tanpa perlu kita melangkah lebih jauh. Pergi ke kantor, ada ojek. Pesan makanan, ada ojek. Mau bersih-bersih rumah, ada ojek juga. Gilak, merambah semuanya. Ya kita senang-senang aja. Wong zaman sekarang harus dituntut cepat, tepat bahkan kalo perlu sikattt. 

Saya sebenarnya jadi ingat cerita istri saya saat berkunjung ke Tunisia. Ia bilang, para sopir taksi disana tak mau mengantar penumpang ke tempat tujuan jika jaraknya kurang dari 4 km. Kalo disini? Jangankan 3,5 km hambok kurang dari 1 km pun, ojek pun bersedia. 

Sampai kemarin Pak Djarot si Gubernur DKI bilang kepada para khalayak “Sekarang coba masyarakat kita untuk jalan kaki 50 meter aja, aduh susahnya setengah mati.” Nah, dia aja pesimis. Apalagi kita. 

Tapi katanya sekarang akses transportasi Jakarta sudah membaik terutama kereta api. Kalo ada area yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki, maka warganya terpaksa jalan kaki. Yakin pak? Kalo udah klik aplikasi itu gimana? Ya pada wae pak~

Sekarang juga musim-musimnya olahraga jalan sehat. Baik di kota besar maupun kota kecil. Itu saya kira imbauan yang keliru. “Semarakkan jalan sehat di Bundaran HI”. Ndak perlu dikasi tahu jjga kali kalo jalan itu sehat. Yang namanya jalan pasti sehat. Wong, manfaatnya juga banyak. Bisa meredakan stres, menurunkan berat badan, hingga berlatih olah nafas. 

Contohlah mereka yang mengikuti aksi bela ulama. Itu mereka jalannya jauh loh. Ada yang dari Ciamis ke Jakarta. Kaki mereka tak hanya sehat tapi juga membesar. Demi bela ulama, apapun dilakukan.

Contohlah juga Agus Mulyadi yang rela berjalan kaki dari kantor Mojok hingga Angkringan Mojok yang jaraknya (hanya) 6 km. Tapi tentu saja ada motivasinya. Demi bertemu penjual gorengan yang manis dan aduhai sebelah Angmo. Pas gerimis syahdu lagi. Hmm, ada udang dibalik rempeyek. 

Saya kira pemerintah harus kasih motivasi supaya orang-orang Indonesia gemar jalan kaki. Jangan hanya kasi motivasi gemar makan ikan pak. Jalan kaki juga penting. Seperti contoh di bawah ini.

“Semarakkan jalan kaki bersama pembaca Mojok dari Kantor Mojok hingga Bumi Perkemahan Kaliurang” 

Pro dan Kontra Perppu Ormas

Belum surut pemberitaan media tentang KPK vs DPR yang membahas apakah pansus hak angket KPK layak dilaksanakan, kini masyarakat tertuju pada pembicaraan yang lebih besar. Terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk membubarkan ormas anti-Pancasila No 2/2017.

Jika melihat lebih ke dalam apa isi dari perppu tersebut maka yang dimaksud adalah membubarkan ormas yang tak berhaluan Pancasila tanpa melalui pengadilan. Penerbitan perppu tersebut sepertinya hendak merevisi UU Ormas 17/2013 mengenai pembubaran ormas yang harus melewati putusan pengadilan. 

Ada pro dan kontra yang menyelimuti terbitnya perppu tersebut. Pihak pro menganggap hadirnya perppu tersebut sebagai langkah maju dan tegas dari pemerintah untuk melindungi NKRI dari ancaman dan marabahaya kelompok-kelompok yang ingin memberangus NKRI.

Sedangkan pihak kontra menganggap langkah pemerintah adalah langkah kemunduran dalam menegakkan demokrasi. Memberangus kebebasan berpendapat hingga meniadakan kebebasan berekspresi. Lantas siapa dan apa yang harus dilindungi?

Perlindungan NKRI

Slogan #NKRIhargamati kian lantang didengungkan oleh sekelompok pihak. Bagi mereka, NKRI adalah suatu putusan final. Tak boleh direcoki terlebih diubah. Pendiri-pendiri negara zaman lampau juga meyakini Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan. Bukan Negara Federal. 

Selain itu, Pancasila adalah ideologi negara yang hakiki. Dalam 5 sila tersebut telah termaktub isi yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Permusyawaratan hingga Keadilan. Tidak boleh satupun seseorang bahkan kelompok yang menyangkal keberadaan Pancasila apalagi merevisinya. 

Jika mengubah Pancasila, itu sama saja tak menghargai jasa para pendiri bangsa. Tak menghormati jerih payah pemikiran cendekiawan. Tak menghayati dan meresapi nilai-nilai Pancasila dengan sepenuhnya dan sebaik-baiknya. 

Beberapa ormas menilai Pancasila bisa diperdebatkan. Hal ini melihat berbagai kenyataan bahwa keadilan makin sulit ditegakkan, kemanusiaan makin susah untuk ditemukan, hingga nilai permusyawaratan telah berubah menjadi nilai otoritarian. Ada berbagai tawaran dari ormas-ormas tersebut untuk meninjau kembali apakah Pancasila masih layak bagi bangsa Indonesia.

Masalahnya adalah beberapa ormas tersebut terkadang menerapkan standar ganda bahkan semu. Di satu sisi menolak keberadaan Pancasila yang didalamnya terdapat nilai demokrasi. Namun disisi lain menikmati nilai demokrasi untuk mendengungkan hak kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi. 

Inilah yang menjadi permasalahan. Sebebas-bebasnya manusia atau kelompok tetap harus memiliki batasan kebebasan. Tidak bisa seenaknya untuk menikmati kebebasan sepenuhnya. Tidak bisa melegitimasi untuk mentautkan kebebasan yang hakiki. Kebebasan memiliki batasan. 

Pemerintah Indonesia punya hak dan kewajiban untuk melindungi negaranya. Pemerintah tahu mana peraturan yang harus segera dilaksanakan dan mana peraturan yang harus dipertimbangkan. Pemerintah menilai saat ini waktu yang tepat untuk menerbitkan perppu tersebut. Terbitnya perppu tersebut melihat banyaknya ormas-ormas yang menyalahgunakan wewenang kebebasan berekspresi sekaligus kebebasan berpendapat. 

Beberapa ormas ada yang dinilai merusak keberagaman, mengingkari nilai toleran, hingga menyalahgunakan kebebasan. Namun yang perlu diperhatikan oleh pemerintah Indonesia adalah jangan setengah jalan untuk memberangus ormas anti-Pancasila. 

Jangan-jangan terbitnya perppu tersebut hanyalah alat politik karena ketidaksukaan pemerintah terhadap ormas tertentu. Jangan menggunakan asas tebang pilih. Apalagi menggunakan asas suka tidak suka. Seharusnya dipukul rata kesemua ormas yang benar-benar ingin merusak nilai-nilai Pancasila. Tidak hanya ormas itu.

Harapan pada Pemerintah Indonesia

Akan tetapi, ada yang perlu diperhatikan lebih dalam lagi tentang perppu tersebut. Pemberangusan ormas tidak berarti menghentikan pemikiran orang-orang didalamnya. Pembubaran ormas tidak berarti meniadakan visi dan misi orang-orang yang terlibat.

Masih ada pekerjaan yang lebih besar untuk pemerintah daripada sekadar menerbitkan perppu. Menyemai keberagaman dan menjaga persatuan adalah hal yang cukup penting untuk dilakukan pemerintah Indonesia.

Selain itu, membenahi perekonomian Indonesia yang semakin terpengaruh budaya impor adalah salah satu hal yang harus diperhatikan dalam sikap pemerintah. Pengucilan terhadap produk lokal jauh lebih berbahaya daripada hanya sekadar menertibkan ormas intoleran. Pembiaran orang-orang yang terlibat dalam korupsi jauh lebih mengerikan daripada hanya sekadar menerbitkan perppu. 

Indonesia dilihat banyak negara sebagai negara yang mampu menjaga keberagaman, menghayati perbedaan, hingga mempererat persatuan. Bahkan di beberapa negara Afrika seperti Tunisia, Indonesia adalah model negara yang pantas untuk ditiru baik dalam keragaman kepercayaan maupun nilai-nilai demokrasi. 

Penerbitan perppu mungkin adalah salah satu cara untuk menegakkan nilai-nilai Pancasila. Namun, bisa jadi penerbitan perppu adalah bukti pemerintah ketakutan terhadap kelompok minoritas tertentu. Kontrol yang kebablasan bisa jadi meruntuhkan nilai demokrasi sehingga memunculkan nilai otoritarian.

Namun, menjadikan manusia Indonesia yang lebih bermartabat adalah kunci untuk menjadikan manusia Indonesia yang berdikari sekaligus berdaulat. Karena pada dasarnya pemerintah Indonesia mengembangkan revolusi mental supaya masyarakat Indonesia tidak terpental dari nilai-nilai Pancasila.

Merekam Rindu yang Terselip di Kedai Gib-Gib



Jogja terasa sepi saat lebaran. Maklum, identitas Jogja sebagai kota pelajar membuat banyak pelajar yang balik kandang ke kampung halaman. Nah, disaat itulah waktu yang tepat jika kamu ingin berkeliling Jogjakarta. 

Seorang kawan pernah mengatakan bahwa sebenarnya jika ingin mengelilingi Jogjakarta cukup dengan waktu tiga jam. Caranya sungguh mudah. Kamu cukup mengelilingi jalan lingkar atau yang biasa disebut dengan ringroad, maka itu sama saja kamu berkeliling setengah Jogjakarta. Tak percaya? cobalah.

Bagi saya, Jogjakarta adalah rumah. Tempat dimana semua kenangan, rindu, dan harapan pernah hadir di kota tersebut. Yang berpendapat demikian tak hanya saya, hampir setiap orang yang pernah tinggal di Jogja merasakan hal yang sama. Tak kecuali dengan teman-teman saya semasa sekolah. 

Rindu dengan teman-teman boleh dijumpai dengan acara reuni. Acara yang membangkitan gairah dan kenangan lawas. Merekam kesedihan, menertawakan kesengsaraan, meredakan kebahagiaan hingga melantunkan senyuman. Empat hal yang terjadi saat bertemu dengan teman-teman lawas. 

Saat itu, kebetulan beberapa teman kecil nan lawas sedang berkumpul di Jogjakarta. Karena hampir lama kami tak bersua, kami ingin menyempatkan diri untuk sekedar tertawa ngakak bersama. Mengenang masa-masa remaja tanggung yang sering berbuat keonaran. 

Maka dari itu, kami mencari tempat yang pas untuk sekadar melepaskan rindu. Seorang teman menyarankan sebuah tempat. Kedai Gib-Gib. Saya sempat mengernyitkan dahi. Apakah itu kedainya mas Gibran anaknya Jokowi? Atau tempat ngopi?. Teman saya hanya bilang, “Kalo mau cari tempat reuni, paling pas ketemuan di Kedai Gib-Gib.”

Saya pun hanya mengiyakan perkataan teman saya. Kemudian saya bergegas untuk segera menuju kedai tersebut. Letaknya di Jalan Wahid Hasyim no 42 Jogjakarta. Pikir saya, ini pasti tempat hits. Karena setahu saya, sepanjang jalan tersebut ada banyak kedai, kafe, atau tempat ngumpul. Mulai dari kafe dengan harga minimalis hingga kafe dengan harga luar biasa. 

Dugaan saya tepat. Kedai Gib-Gib bersebelahan dengan Kedai OAK, salah satu kedai yang cukup ngehits di seputaran Jogjakarta. Begitu saya masuk, saya disambut banyak tong dan ban mobil. Oh ternyata kedai Gib-Gib membuat sensasi dengan merasakan duduk di atas ban mobil dengan mejanya berupa tong. 

Kedai Gib-Gib menawarkan aneka macam kudapan roti, calzone, dan juga sandwich. Bagi saya yang penyuka roti, tentu ini tawaran menarik dan menggiurkan. Terlebih kata teman saya, roti yang dihasilkan adalah roti dengan kualitas mumpuni. Tak kalah dengan toko roti yang harga selangit dan memiliki banyak cabang dimana-dimana. 

Apalagi calzone. Ini hidangan utama dan andalan di kedai Gib-Gib. “Pastel besar” tersebut kata teman saya itu renyah dan rasanya mak nyuss. Mau rasa apa aja dijamin akan memanjakan lidah dan menyenangkan mata. 

Karena iming-iming tersebut, saya memesan calzone creamy nori. Itu adalah calzone yang berisi keju dan rumput laut. Sedangkan teman saya memesan roti bakar. Saya hanya berharap semoga rasanya sesuai ekspektasi. 

Sembari menunggu pesanan tiba, saya berbincang dengan salah satu teman saya yang secara kebetulan pemilik dari Kedai Gib-Gib. Namanya Yasa. Ia bukan sekadar pemilik tunggal. Ada Singgih dan Satria. Saya penasaran kenapa namanya Gib-Gib. Kok bukan diberi nama Calzone Jogja atau Calzone cepat saji. Menurut Yasa, Gib-Gib adalah nama panggilan anak dari salah satu pemilik. Tidak mau diberi nama lain karena dulunya pernah jualan dengan memakai nama tersebut saat masih berkonsep gerobakan. Daripada diberi nama susah dan njlimet lebih baik mempertahankan nama lama. 

Yasa juga menjelaskan bahwa kedai Gib-Gib awalnya adalah tempat pembuatan roti. Pemasarannya tak hanya rentetan kedai-kedai besar di Jogjakarta melain mencakup ke luar Jogjakarta. Karena salah satu pemilik pandai membuat calzone, maka dibuatlah kedai yang menyajikan roti dan calzone. 

Cukup 15 menit saya menunggu, pesanan telah tiba. Mata saya berbinar-binar melihat empat potongan pizza tersaji di meja. Ditambah dengan aroma roti bakar yang cukup menggoda mulut saya. Rasanya saya ingin menyumpal kedua makanan tersebut ke dalam mulut saya. Tak peduli masih panas, saya mencoba mengangkat salah satu pizza. 

Ada mozzarella yang lumer ketika saya meraihnya. Aduh, ini menambah gairah saya untuk segera menghabiskan pizza ini. Hanya butuh tiga tiupan, maka tandas pizza yang berada di tangan kanan saya. Sungguh, pernyataan teman saya benar adanya. Terbaik. Bintang sembilan.

Berikutnya roti bakar. Ukuran yang cukup besar membuat mata saya sedikit terbelalak. Bentuknya persegi empat dipotong menjadi dua bagian. Sekali lagi, tak butuh waktu lama. Roti segera diraih dan dalam waktu sekejap hilang ditelan oleh mulut saya. Terbaik. Bintang sembilan. 

Tak heran, banyak kedai maupun toko roti ternama banyak yang memesan roti dari kedai Gib-Gib. Saya berani jamin. Itu roti terenak yang pernah saya coba di Jogjakarta. Saya pikir kamu atau teman-teman kamu harus mencoba. Cobalah. Rasakan sensasinya. Pasti ketagihan. Jika saya salah, kamu pasti hanya menyanggah.

Kedai Gib-Gib telah beroperasi sejak Maret 2017. Menurut teman saya, dari harii ke hari pelanggannya makin bertambah. Tak terkecuali bagi pelanggan yang memesan lewat ojek online. Saya hitung sejak saya duduk memesan makanan hingga menandaskan senua kudapan, ada 11 sampai 12 ojek online yang wara-wiri di kedai tersebut. 

“Calon pengusaha sukses” ujar saya kepada Yasu. Yang dipuji hanya tersenyum sembari menundukkan kepala dan mengucap kata “Amin”. 

Tak terasa, sembari makan dan ngobrol ngalor ngidul berbagai hal, malam semakin larut. Kami harus mengakhiri obrolan panjang sebelum jam 00.00. Kedai tersebut tutup tepat dini hari. Obrolan yang menyenangkan disambut dengan kudapan yang membahagiakan. Paduan yang pas untuk mengisi super reuni saat Lebaran. 

Gib-Gib adalah salah satu contoh kedai yang merangkak dari usaha gerobak hingga menjadi sebuah kedai. Suatu usaha yang harus diapresiasi. Tak mudah bagi seorang pengusah untuk jatuh kemudian bangkit kembali secara simultan. Butuh tekad dan mental yang kuat. Pilihan berbisnis dan cita rasa yang disajikan adalah kunci untuk mempertahankan sebuah bisnis makanan. Dan Kedai Gib-Gib telah mengajarkan kepada saya sebuah hal. “Jangan pernah ragu untuk berbisnis.”

Dimuat di minumkopi.com 7/7/2017

Selamat Ulang Tahun, Amerika Serikat

Di hari Selasa yang nan berbahagia, salah satu negara yang dirahmati Tuhan Yang Maha Esa berulang tahun. Siapa dia? Tak lain dan Tak bukan ialah Amerika Serikat. Hari ini, 4 Juli 2017, Amerika Serikat merayakan ulang tahunnya yang ke 241 tahun. 

Ada banyak harapan dan tantangan pada usianya yang sungguh-sungguh sangat sepuh (S4). Kami dari segenap warga Indonesia yang sangat memuja Amerika Serikat memiliki ekspektasi tinggi pada Amerika Serikat. Semoga kami tak salah memilih Amerika Serikat sebagai pujaan. Dan semoga kami selalu menjunjung tinggi keberadaan Amerika Serikat. Negara Adidaya. Negara yang akan selaku menciptakan dan mengelola kekerasan bin perdamaian dunia.

1. Harapan pada Donald Trump

Saya menuliskan harapan kepada kamyu bukanlah main-main. Saya tahu tak banyak yang berani menuliskan surat seperti ini ke kamyu. Terlebih kamyu adalah presiden tersohor sekaligus terkaya di seantero langit bumi dan Namec. 

Saya adalah bagian dari penggemarmu. Sama halnya seperti bapak Dewan yang katanya terhormat, Bapak Fadli Zon dan bapak Dewan Direksi yang katanya televisi perjuangan umat, Harry Tanoe. Saya berterima kasih kepada Bapak telah menciptakan terobosan-terobosam yang luar biasa. Bapak tak hanya janji saat berkampanye. Tapi benar-benar melaksanakan janji tersebut saat terpilih jadi presiden. 

Bapak berjanji ingin membuat demarkasi terhadap umat muslim. Eh, la kok begitu terpilih bapak langsung membuat larangan berpergian kepada tujuh negara muslim untuk pergi ke Amerika Serikat. Bapak berjanji menolak untuk meratifikasi perubahan iklim. Eh, la kok bener ya, bapak benar-benar membuktikannya saat memboikot perjanjian tersebut dan ngacir ke Amriki Syerikat. 

Itu baru dua janji dari sekian janji yang telah bapak penuhi. Masih ada banyak janji seperti membangun tembok besar “Great Wall” dengan negara-negara Amerika Latin. Kalo itu dipenuhi juga, wah sepertinya Bapak Presiden kita yang terhormat harus mengikuti jejak anda. Dulu berjanji mau menuntaskan kasus HAM, kok ya nyatanya ndak bisa-bisa sampai sekarang. Sibuk mengurus infrastruktur Indonesia. Mungkin. 

Saya berharap, presiden Indonesia benar-benar meniru apa yang dicapai Presiden Amerika Serikat, Mas Donald Trump. Minimal pelaksanaan janjinya. Bukan tingkah laku apalagi tindakannya. 

2. Harapan untuk produk pendukung LGBT

Saya tahu belakangan kasus produk pendukung LGBT marak dikecam di Indonesia. Salah satunya Starbucks. Ini mengherankan. Di Amerika Serikat soal beginian tidak dilarang. Namun malah bertambah subur. Seharusnya Indonesia kan ya mengikuti toh tingkah laku Amerika Serikat.

Ingat, selain Arab Saudi, Amerika Serikat adalah pujaan sebagian masyarakat Indonesia. Wong, kita masih banyak yang pakai produk Unilever dan Apple. Situ tau kan dua produk tersebut produk pendukung LGBT? Kalo belum tahu, ini barusan saya kasih tahu.

Saya harap kalo kita mau membenci dan menghina ya pakai riset dulu. Jangan asal. Jangan juga pakai standar ganda. Situ ga mau minum kopi Starbucks tapi tentengan kuliah kemana-mana pakai Apple. Dan kamu tau kan salah satu universitas terbaik di Indonesia menggunakan piranti Apple untuk perpustakaannya. Jangan bilang ndak tahu nanti kamu dimarahin para pemuja jaket kuning. 

Saya hanya bisa berharap, tolong Amerika Serikat benar-benar membekengi produk pendukung LGBT di Indonesia. Ingat, kami adalah kawan, sahabat, sekaligus kerabat dekat kamu ya. Jangan dilupakan. Apalagi sekarang presiden Amerika Serikat dan Presiden Indonesia adalah produk serupa tapi tak sama. Selalu menggunakan dasi berwarna merah tapi anti pada baju warna merah (baca:komunis).

3. Harapan untuk Timur Tengah

Saya tahu mungkin harapan yang terakhir adalah harapan yang kabur sekaligus semu. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba menuliskan. 

Jadi begini, sebagian masyarakat Indonesia adalah pemuja Amerika Serikat sekaligus Arab Saudi. Dan AS benar-benar tahu mengambil hati rakyt kami. Agar tidak kelimpungan mendukung, maka kamyu Amerika Serikat dan Arab Saudi (kok ya inisialnya sama-sama AS!!) melakukan perjanjian anti radikalisme di Riyadh, Arab Saudi. 

Saya yakin kok kamu dan Arab Saudi tak mungkin melakukan tindakan radikalisme. Kalo ada yang bilang AS adalah penyebar terorisme, wah itu pelecehan kebebasan internasional. Kalo ada yang bilang AS adalah mesin propaganda ISIS wah ini pelecehan kekerasan internasional. Kalo pun ada yang bilang AS adalah pencipta perdamaian Internasional, nah ini baru bener. Patut dipuji dan diberi bantuan banyak kayak sekutu-sekutu kamu. 

Saya tahu mungkin banyak dari masyarakat kami yang nyinyir terhadap AS. Tapi, kadang kami lupa kalo kami rindu terhadap perlakuan AS di Timur Tengah. Berkatmu, terjadi Arab Spring hingga akhirnya menurunkan penguasa yang katanya diktaktor. Berkatmu, akan ada penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan cara pemindahan ibu kota Israel dari tel Aviv ke Jerusalem. Duh, banyak banget pencapaianmu kepada Timur Tengah. 

Tolong dilanjutken.

4. Harapan untuk beasiswa Amerika Serikat.

Eh, ternyata masih ada harapan terakhir. Ini sangat krusial dan sangat penting. Kami tahu 8 dari 10 universitas terbaik dunia ada di Amerika Serikat. Tapi, kami sadar. Kami tak mampu kesana tanpa bantuanmu, Amerika Serikat. 

Maka dari itu beasiswa-beasiswa yang kamu gelontorkan akan sangat berguna. Mulai dari Aminef, US Aid, hingga Ford Foundation. Tolong beasiswa ini sangat berguna bagi kami. Kamu tahu AS? Sudah banyak masyarakat kami yang terbantukan atas beasiswa tersebut. Sudah banyak pula LSM yang terbantukan dari perusahaan tersebut. Jadi tolong jangan pernah berhenti membantu kami.

Terlebih kami adalah negara berkembang. Ajari kami jadi negara maju. Mungkin dengan bantuan secara kontinyu, bangsa kami menjadi maju. Siapa tahu lo ya. Kan kita cuma bisa berencana. Cuma Amerika Serikat yang bisa menentukan. 

Sekali lagi pekikkan, Hail America!!! (Tolong jangan dengarkan lagu Greenday-American Idiot) nanti kamu kena ujaran kebencian. Ya kan, Mas Donald Trump

Apalah arti menulis

Menjadi penulis itu tidaklah mudah. Butuh ketekunan, kedisiplinan, dan ketelatenan dalam berlatih menulis. Saya merasakan dan mencoba itu semua. Walaupun tentu saja menurut saya hasil tulisan belum begitu baik. Bagus atau buruknya tulisan kita, silakan diserahkan pada pembaca yang menilai. 

Saya belajar nulis karena tak ada keahlian lain yang saya bisa. Kebetulan medio September 2016, saya bertemu dengan Rusdi Mathari. Wartawan senior sekaligus penulis idola saya. Saya banyak belajar dari beliau. Pesannya kalo mau menulis, ya menulis aja. Jangan sambil membaca apalagi mengedit. Selesaikan tulisanmu baru dibaca. Selain itu baginya menulis adalah mendongeng dalam bentuk kata-kata. 

Saat ini, saya hidup dari menulis. Mengirimkan ke banyak media. Walaupun tentu saja ada yang ditolak tapi ada juga yang diterima. Tak apa-apa. Proses pembelajaran. 

Taj semua orang mau dan ingin hidup dari menulis. Kenapa? Karena honorarium tak menentu dan selalu terbayarkan di luar tenggat. Ada yang beberapa hari tulisan dimuat, langsung dibayar. Tapi ada pula yang harus menunggu seminggu, sebulan bahkan berbulan-bulan. 

Itu yang saya khawatirkan. Mengingat dapur harus terus mengepul, saya harus banyak menulis. Sayangnya, kalopun udah dikabarkan dimuat ya kembali itu tadi. Agak seret dalam pembayarannya. 

Dilema bagi saya. Karena kebetulan saya menyandang master. Dan seharusnya saya jadi dosen. Tapi apa mau dikata hingga saat ini saya pun belum bisa jadi dosen. Mungkin saya bisa hidup dari menulis. Namun baik ortu maupun mertua berpandangan lain. 

“Jadilah dosen. Jadilah PNS, maka duniamu aman.”

Kalimat yang selalu mengganggu hati dan pikiran saya. Beberapa kali saya pernah terlibat proyek tulis menulis. Honorarium lumayan. Namun tetap saja, saya masih dianggap pengangguran. Bahkan suatu kali saya bertemu dengan kawan lama, saya pun dibilang pengangguran yang produktif.

Hey, apa saya salah menggantungkan hidup dari menulis? Mungkin iya. Sampai saat ini hidup penulis terkesan aman. Tapi tidak kaya. Begitulah kata orang-orang zaman lampau. Status pekerjaan sebagai penulis pun tak akan mampu mengangkat harkat dan martabatmu. Setidaknya itulah yang saya alami sekarang. 

Di dalam doa, saya selalu berharap kepada Tuhan. “Jadikanlah saya penulis”. Saya ingin mencari nafkah sesuai passion. Bisa jadi saya dikatakan egois. Tapi bolehkah kita berharap seperti itu? Toh juga saya tidak melakukan pekerjaan negatif. 

Teman saya pernah berkata, “manusia baru dikatakan pengangguran ketika ia berhenti berpikir”. Dan saya mencoba berpikir. Setidaknya pikiran itu saya tuangkan ke dalam tulisan. Termasuk tulisan yang saya tulis saat ini. 

Lebaran


‚ÄčAdzan dikumandangkan. Sayup-sayup suara muazin terdengar lirih, pelan, namun bersahaja. Seperti itulah suasana subuh. Namun kali ini lain. Ini adalah hari yang ditunggu seluruh umat Islam. Hari Idul Fitri. Hari yang mana semua manusia akan menyambut hari dengan senyuman. Senyum kemenangan. Tak terkecuali nenek tercinta.

Setelah menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan lamanya, mungkin baru kali ini sang Nenek kembali menjalankan sholat Idul Fitri. Beberapa tahun sebelumnya, nenek lebih banyak berdiam diri di rumah. Maklum, usianya yang semakin senja dan tulang yang mulai rapuh membuat nenek lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi kali ini lain.

Rumah seperti diberondong selongsong peluru. Mulutnya tak henti berkicau. Teriakannya menggema hingga membuat si ayam kesayangannya berkokok berulang kali. Beberapa burung seperti cekikikan. Pino dan Pinta, sepasang kucing yang biasa tidur di kursi tamu langsung keluar rumah. Mungkin kaget. Tak biasanya sang majikan berkicau bak nada mifasol.

Namun, beberapa dari kami justru tersenyum senang. Sang Nenek kembali bergairah, suaranya mengudara, matanya membelalak. Sungguh peristiwa yang jarang dilihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Maklum, sejak ditinggal si kakek, nenek lebih banyak duduk termenung, bahkan berdiam diri. 

“Aku wes kesel, gak pengen mikir-mikir maneh”

Kata-kata tersebut berulang kali diucapkannya ketika beberapa sanak saudara mencium pipi, tangan, dan kakinya. Perbuatan yang lazim kami lakukan ketika bertemu dengan beliau. 

Lantunan ayat suci Al Qur’an mengudara di samping jendela. Sebuah MP3 player sengaja kami persembahkan kepada nenek. Untuk menemani pagi, senja, bahkan malam. Kata nenek, saat ini hanya firman Dia yang mampu menentramkan hati dan menenggelamkan jiwa.

Fajar mulai menyingsing. Matahari perlahan bergerak. Sebagian sanak saudara bersiap dan bergegas menuju lapangan tempat kami menjalankan shalat Ied. Sebagian dari kami yang lain seperti saudara-saudara Nasrani, Katolik, Hindu hingga Buddha menyiapkan aneka kudapan dan minuman. Seperti itulah suasana keluarga kami saat berkumpul. Harmoni dalam kebhinekaan. Kata orang-orang, kami sering disebut keluarga Pancasila.

Nenek berjalan perlahan menuju lapangan. Setapak demi setapak. Sembari digandeng ibu, nenek berbicara banyak hal. Besaran angpau yang akan diberikan kepada anak dan cucu-cucunya, berapa kali beliau ikut buka bersama dengan teman-teman sejawatnya, hingga rumitnya mengurus Pinta karena akan melahirkan lagi sepasang anak kucing. 

Kami yang mendengarnya ikut tersenyum geli. Terkadang tertawa melihat tingkah laku nenek. Beliau banyak menggerakkan tangan-tangannya. Terutama saat bercerita tentang Pinta. Beliau sampai mempraktekkan bagaimana membelai, menggendong, hingga caranya memberi makan. Sungguh lucu.

Nenek duduk di samping ibu. Begitu pula dengan anak dan cucu perempuan lainnya. Kami yang laki-laki duduk tak jauh dari tempat nenek. Menyiapkan sajadah kemudian mengumandangkan takbir. Takbir kemenangan.

Khotbah Ied yang diucapkan sang ustadz berisi pesan-pesan damai. Pesan yang menyejukkan hati. Mendinginkan kepala. Bahwa tiap manusia wajib saling menghargai dan menghormati pendapat manusia lainnya. Bahwa tiap manusia wajib menghormati mayoritas dan melindungi minoritas. Pesan yang epik mengingat akhir-akhir ini banyak manusia suka membenci, menghardik, menghujat hingga menista. 

Khotbah berakhir. Kemudian kami saling bersalam-salaman. Mengucap maaf. Melantunkan kata-kata yang wajib diucapkan. Minal aidzin wal faidzin. 

Beberapa anak tak mau berjalan. Lebih memilih untuk berlari. Kami yang dewasa paham. Waktunya bergegas membali ke rumah. Menyiapkan amplop dan membagikan angao kepada mereka yang belum menikah. 

Tiba di rumah, kami sudah disambut dengan aroma masakan yang sungguh menyegarkan mata. Opor ayam, kupat tahu hingga rendang. Tak terkecuali bubur kacang hijau yang menjadi kudapan wajib selepas shalat Ied. 

Sebelum berbaris mengantri makanan, kami berdiri melingkar. Mulai dari yang tua di ujung kanan hingga yang paling muda di ujung kiri. Kursi-kursi disingkirkan untuk memberi ruang bagi kami yang berdiri. Kecuali nenek, beliau dipersiapkan kursi khusus berada posisi tengah sehingga bisa melihat seluruh sanak saudara. 

Kami mulai berjalan jongkok kemudian bersimpuh di pangkuan nenek. Ritual yang pasti kami lakukan. Ada kata-kata yang diucapkan. Ada doa yang dilantukan. Nenek selalu mengucapkan kata-kata yang sama. Saran sekaligus nasehat.

“Nak, hidup harus penuh dengan doa”

Ketika mendengar kata-kata itu, beberapa dari kami secara tak sadar mengeluarkan air mata. Menangis sesenggukan. Hati dan pikiran kami seakan terngiang pada perkataan almarhum kakek ketika lebaran beberapa tahun silam.

“Baik perkataan, pikiran, ucapan bahkan tindakan harus diawali dan diakhiri dengan doa. Karena doa adalah harapan. Doa adalah jalan Tuhan.”

Ritual tetap berlanjut hingga seorang cucu yang paling muda dicium pipi kanan dan kiri oleh nenek. Sang cucu tertawa. Kami pun ikut tertawa. Seorang dari kami mengabadikan momen tersebut dengan sebuah jepretan foto. 

Yang ditunggu tiba. Angpao dibagikan. Semua senang dan tersenyum. Kami lebih bahagia karena nenek ikut-ikutan memberikan angpao kepada seluruh sanak saudara. Tak terkecuali kami yang sebagian besar sudah berkeluarga. 

Sebelum acara makan-makan dimulai, sang nenek meminta kami berkumpul. Duduk melingkar. Nenek kembali duduk di kursi tengah. Punggungnya disandarkan. Kaki-kakinya yang kecil menapak di lantai. 

Angin berhembus semilir. Sinar matahari menyelinap masuk lewat ventilasi. Kicau burung terdengar nyaring. Pino dan Pinta berlari kesana kemari sebelum akhirnya diambil untuk dimasukkan kembali ke kandang. 

Nenek menghela nafas. Pelan. Kakinya disilangkan dari kiri ke kanan. Tangan kanannya ditaruh di lutut kirinya. Sorot matanya tajam namun sedikit layu. Kerudung yang dikenakannya dibiarkan terbuka. Rambutnya yang putih menyembul diatas dahinya. 

Kami menunggu. Sejenak suasana menjadi hening. Kami tahu, nenek pasti akan membicarakan sesuatu yang maha penting. Tapi tak satupun dari kami tahu apa yang akan dibicarakan. Kami hanya bisa menunggu.

Nenek kembali menghela nafas. Teratur. Ritme yang masih sama. Beliau mengambil gelas berisi air putih. Meminumnya hingga tandas. Kembali mengatur posisi duduk. Kami menunggu.

Nenek mencoba memejamkan mata secara pelan. Kemudian membukanya. Bibirnya agak gemetar ketika akan memberikan sebuah kalimat yang maha penting. Kalimat yang tentu tak akan dilupakan sepanjang hayat hidup kami. 

“Aku wes tuku kapling.”

Selamat Lebaran. Selamat mudik sampai tujuan. Selamat berkumpul dengan keluarga. Sayangilah dan peluklah nenek dan kakekmu selagi masih ada.

Setelah Tomat ditetapkan sebagai Sayuran

‚ÄčSejak lahirnya Adam hingga wafatnya Muhammad. Sejak runtuhnya Konstantinopel hingga bangkitnya kejayaan Eropa. Sejak runtuhnya Tembok Berlin hingga kemerdekaan Indonesia. Dan sejak munculnya demo 212 hingga kepergian sang Imam Besar dan Bapak Reformasi kita, maka diputuskan bahwa tomat adalah sayuran. Tak lagi bisa disebut buah.

Perdebatan apakah tomat termasuk sayuran atau buah memang mengalami pergulatan panjang dan tak kenal lelah. Hal tersebut diikuti pula dengan teman-teman nabatinya. Sebut saja timun, labu, dan paprika. Tak ketinggalan juga buah yang menjadi buah bibir di ensiklopedia perdebatan panjang abad 21. Terong dan cabai. 

Andaikan terong dan cabai juga termasuk sayuran, mungkin tak ada lagi sebutan terong-terongan ataupun cabai-cabaian. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Keputusan tomat menjadi sayuran tak lepas peran dari para petani, tengkulak, hingga eksportir maupun importir di Amerika. Ya, beberapa hari yang lalu menjelang memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan, Mahkamah Agung Amerika memutuskan untuk menetapkan tomat sebagai sayuran. Mengapa bisa begitu? Jika tomat masih tergolong buah, maka tomat akan dikenakan pajak impor 10%. Beda dengan sayuran. Tak ada persen-persenan seperti itu. 

Selain itu, jika tomat masih mahal maka masyarakat Amerika khawatir akan kondisi nutrisi kulitnya. Selain buat kesehatan mata, tomat juga berguna untuk memutihkan kulit dalam satu malam. Tak percaya? Cari saja di yutub dengan kata kunci “tomat memutihkan dan menghaluskan kulit”. Saya yakin hampir sebagian penontonnya bukan orang-orang Amerika. Melainkan Indonesia. 

Karena kita masih berpikir rasis. Bahwa hitam adalah hina dan putih adalah cita-cita. Kalo hitam adalsh cita-cita maka seharusnya iklan di Indonesia adalah krim menghitamkan kulit dan wajah. Ada yang berani? Saya malah yakin bahwa iklan tersebut akan menuai sorotan dari KPI.

Saya mulai berpikir bahwa perjuangan yang dilakukan Amerika patut diapresiasi.  Anda tahu sendiri kan bahwa AS adalah negara adidaya. Jika Amerika menetapkan sebuah keputusan maka negara-negara seluruh dunia akan mengikutinya. Percaya kan? Kalo belum saya kasih contoh terbaru. 

Amerika Serikat menetapkan bahwa Arab Saudi sebagai pusat anti radikalisme dan terorisme. Kemudian Iran dan Qatar adalah negara teroris. Nah, akhirnya semua negara pun mengikuti keinginan Amerika bahwa Iran dan Qatar harus dibumihanguskan. Mirip peristiwa Bandung Lautan Api di masa silam.

Nah kembali ke soal tomat.

Kalo tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka saya yakin Indonesia akan memberlakukan keputusan serupa. Indonesia kan negara pengikut dan toleran sama Amerika. Bukan begitu? Lha ya kalo ndak toleran, kan ndak mungkin Freeport bisa mengambil emas sejak zaman Bahula. Dipersilakan mengambil sebanyak-banyaknya. Kalo ada peraturan yang perlu diubah, segera diubah. Jangan ditunggu. Apalagi ditunda. Hukumnya haram kalo ndak tunduk sama Amerika.

Begitu toh?

Saya juga berpikir bahwa dengan tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka Amerika bisa menginspirasi Indonesia bahwa banyak perdebatan panjang yang perlu diteliti. Indonesia bisa belajar bagaimana menampilkan perdebatan panjang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tak perlu lagi ada perdebatan Al Maidah, Obrolan Porno, Kriminalisasi ulama, hingga soal tulisan warisan. Indonesia bisa mencari perdebatan panjang yang lain. 

Misal apakah Hamish Daud pantas sebagai calon suami Raisa. Eh bukan ding. Misal kayak penentuan apakah wajah bulan itu berupa kelinci atau kepiting. Itu lebih layak.

Mungkin juga perdebatan macam telur dan ayam. Mana yang lebih dulu ada. Telur atau ayam? Kalo pake logika ekonomi seharusnya telur lebih dulu daripada ayam. Karena harga telur lebih murah daripada ayam. Saya berkata begini karena sudah update masalah harga menjelang lebaran. 

Atau mungkin Indonesia cari perdebatan yang lebih layak. Seperti apakah mobil Esemka baik untuj mobil kepresidenan atau tidak. Apakah listrik kedondong baik untuk kebutuhan listrik atau tidak. Itu kan lebih prinsipil dan siapa yang tahu jika penemuan dari anak bangsa justru mengharumkan nama Indonesia di cakrawala dunia.

Namun, sekali lagi semua yang ada di dunia ini tak lepas dari kepentingan ekonomi. Tomat ditetapkan sayuran karena masalah ekonomi. Reformasi 98 karena masalah ekonomi. Arab Saudi menyerang Qatar juga karena masalah ekonomi. Dan yang paling gres. Persoalan baik atau buruknya sekolah 5 hari juga terkait dengan ekonomi.

Karena kita selalu mengacu bahwa beda pendapat adalah beda pendapatan maka segala perdebatan yang ada di dunia ini tak lepas dari masalah ekonomi.