Bulan April

Sudah lama saya tak menulis apa pun di laman blog. Mungkin ada baiknya saya menulis lagi di sini sekadar bersua dengan teman-teman yang kebetulan menyukai tulisan saya.

Bulan April kali ini memang menjadi sesuatu yang spesial. Ada rasa kesedihan dan ada rasa kebahagiaan.

Rasa sedih mungkin bisa terlihat dari ‘kekalahan’ Juventus dari Real Madrid. Yah, pada akhirnya hal tersebut menjadi ironi bagi Gianluigi Buffon karena harus mengakhiri Liga Champions lebih cepat.

Ada pula berita tentang kematian Avicii. Sungguh ini berita mengejutkan. Anak muda se-potensial tersebut harus meregang nyawa karena gangguan kesehatan di usia 28 tahun. Lagu-lagunya selalu menghiasi mp3 saya saat kuliah di Malang. Mulai dari The Night hingga Wake Up.

Terakhir, ada berita mundurnya Arsene Wenger dari Arsenal. Lebih dari 20 tahun dedikasinya terhadap Arsenal. Salah satu tulisan yang cukup membuat saya mbrebes mili adalah tulisan dari rekan saya, Yamadipati Seno. Sebagai redaktur Mojok bidang Olahraga dan pengelola Arsenal Kitchen, tulisan tentang Arsene Wenger sungguh bernas.

Di bulan April ini, saya memiliki beberapa proyek buku bersama teman-teman. Semoga salah satunya bisa terwujud tahun ini. Karena saya selalu memiliki tujuan untuk memproduksi sebuah buku dalam tiap tahun.

Doakan ya dan tunggu tanggal mainnya :’)

Advertisements

Toleran Itu Apa?

Sumber: astaga.com

Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi keberagaman. Karena kita hidup dalam suku, agama, dan ras yang berbeda. Tapi ingat, kalo pendapat yang berbeda itu tak bisa dianggap beragam. Karena pendapat yang benar adalah milik penguasa.

Kamu bisa bilang bahwa kita harus memaklumi orang yang bertato. Tidak semua orang bertato adalah orang yang memiliki perangai buruk dan suka mengutuk. Itu bisa jadi benar.

Saya punya tetangga lelaki yang mungkin hanya mata dan telinga yang tidak ditato. Di lingkungan kami, ia sangat disegani. Bukan karena pesona tatonya, melainkan karena kesigapannya. Jika ada orang kena musibah, ia selalu menjadi orang pertama yang hadir untuk memberikan pertolongan.

Kalo kamu bilang orang bertato itu berbahaya, mungkin kamu masih masuk ke dalam alam ORBA yang memang pada waktu itu orang bertato dianggap preman. Dan tentunya meresahkan hingga harus dipisahkan dari dunia nyata. Alias dikembalikan ke alam baka.

Kamu bisa bilang bahwa kita harus memaklumi perempuan yang merokok. Tidak semua perempuan merokok adalah perempuan hina dan pantas untuk dicerca. Itu bisa jadi benar.

Kamu tahu Danilla Riyadi kan? Penyanyi perempuan berkacama bulat dengan suara yang membuat siapa saja yang mendengarnya seakan terbius. Coba dengarkan lagu Berdistraksi atau Senja Diambang Pilu. Kamu akan dibuat melayang dengan suara indahnya.

Konon, ia sering bernyanyi sembari merokok. Ia seakan tak peduli tentang omongan orang bahwa perempuan merokok itu moralnya buruk. Ia pun bisa membuktikan bahwa ia bisa menghasilkan karya yang baik dan bagus.

Kalo kamu bilang perempuan merokok itu hina, mungkin kamu masih masuk ke zaman lampau bahwa rokok itu diciptakan untuk lelaki bukan untuk perempuan. Haduh.

Kamu bisa bilang bahwa perempuan bercadar itu radikal. Padahal tidak semua yang bercadar itu memiliki jiwa radikal. Itu bisa jadi benar.

Sebuah desa di utara kota Jogjakarta ada sekelompok perempuan bercadar yang mengontrak sebuah rumah. Memang, mereka memiliki pengajian yang mungkin hanya bisa dimasuki oleh kelompoknya.

Tapi, jika ada kerja bakti, mereka selalu menyempatkan hadir. Tak jarang mereka sering membagi-bagikan makanan ke tetangga sekitar. Apakah tetangga sekitar merasa terancam? Tidak.

Ya kecuali kalo kamu sedang berada di kampus yang (mungkin) mayoritas tak bercadar dan kebetulan kamu bercadar, lebih baik pindah. Bukan karena kamu nanti bisa dipecat atau disingkirkan, tetapi untuk berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

Cerita-cerita yang saya ungkapkan di atas adalah kisah nyata yang terjadi di Indonesia. Khusus yang terakhir adalah kisah yang baru saja terjadi. Lebih tepatnya di Jogjakarta.

Konon, kampus adalah tempat yang paling netral untuk mengadu pernyataan dan mengaduk pemikiran. Tempat di mana para mahasiswa boleh mengungkapkan pendapatnya.

Tak peduli itu sifatnya provokatif dan agitatif. Tak peduli pula kamu pakai celana jeans belel atau kaos oblong.
Tapi itu dulu. Lain sekarang. Kampus harus memiliki aturan mana aturan yang pantas dipatuhi dan tak boleh dilanggar. Kalo dilanggar? Ya, kamu keluar. Tak peduli sepintar apa isi otakmu. Tak peduli apa sejenius apa ucapanmu.

Tentu kampus yang seperti itu pasti punya alasan tersendiri kenapa mahasiswa harus berpakaian seperti itu. Ingat, mahasiswa yang patuh tercermin dari kampus yang baik.

Jadi semisal di kampus kamu ada larangan bercadar, ya jangan coba-coba untuk pakai cadar. Apalagi setelah ada investigasi dan doktrin yang menyatakan bahwa yang bercadar terindikasi radikal. Ya, kelae urusanmu.

Mau pake alasan kalo kamu bercadar hanya ingin menutupi debu dan asap kendaraan bermotor yang makin berkeliaran di kotamu, atau mungkin kamu bercadar karena kamu takut bahwa jerawat atau komedomu terlalu banyak, tetap saja kamu melanggar aturan.

Lalu kamu mau bilang ini hak berpakaian? Hak untuk kebebasan ekspresi? Apa ini perilaku keberagaman? Loh kamu siapa?

Bercadar kok dianggap keberagaman. Bercadar ya radikal. Titik. Ndak ada kompromi. Ingat, keberagaman itu mayoritas. Bukan milik minoritas.

Kemudian kamu menuntut hak minoritas? Hak untuk hidup? Loh kamu siapa? Emang ada yang mau lembaga HAM membela kamu? Kalo dibilang radikal ya radikal. Kok masih ingin membela diri.

Tapi sekali lagi, tampaknya kamu tak ingin menyerah. Kamu ingin bilang harusnya ini kebhinekaan? Harusnya ini pluralisme?

Ya ampun. Sudah dihakimi kalo kamu radikal kok malah menuntut kebhinekaan? Kebhinekaan itu ya bersifat nusantara dan berkemajuan. Sama seperti pluralisme. Pokoknya tak ada hak bagi kamu untuk membela.

Terus kamu sekarang mau mempertanyakan toleran itu apa?

Toleran itu yang memenuhi harapan penguasa. Bukan memenangi hati penguasa. Ingat, kadang orang yang toleran bisa jadi intoleran. Kadang, tidak selalu kok.

Bus Baker: Dipilih Karena Nyaman, Dipilah Karena Zaman

Dulu, di Jogja, naik bus adalah sebuah keniscayaan. Sebuah ritual transportasi yang harus dilakukan oleh pelajar atau pekerja. Sebuah kewajiban yang pasti dilakukan untuk sekadar belajar di pantai atau naik gunung.

Sekarang, mungkin jarang. Apalagi bus umum yang melintas dengan menggunakan trayek Jalan Kaliurang sampai Terminal Umbulharjo hampir tidak ada. Kalopun ada, itu pasti bus pariwisata.

Dan cerita ini mungkin sedikit nostalgia bagi saya dan kita yang lahir di generasi 90an atau bahkan jauh sebelum itu. Cerita itu bernama bus Baker.

Baker adalah salah satu bus legendaris yang melintas Jalan Kaliurang (Jakal). Saat itu, trayek yang digunakan adalah Jakal-Terminal lama Umbulharjo (kalo sekarang sudah ganti XT Square).

Dengan warna dominan putih gading dan garis-garis biru, bus Baker sering berlalu lalang di Jalan Kaliurang dari pagi buta hingga petang menjelang malam.

Sebenarnya trayek yang digunakan Baker lebih ke arah Godean ataupun antar kota seperti ke Purworejo dan Solo. Namun, bus Baker lebih dikenal masyarakat Jogja sebagai satu-satunya bus yang berani menjelajah jalan dari Selatan hingga Utara. Ya, trayek Jakal tembus hingga pemandian Tlogo Putri bahkan bisa saja sampai batas pendakian Gunung Merapi.

Tak jarang, Baker lebih dikenal sebagai bus pendakian daripada bus umum. Karena waktu itu, cuman Baker yang bisa sampai ke kaki Gunung Merapi. Lainnya? Jarang.
Saya ingat waktu pertama kali pergi bersama teman-teman SD (kayaknya saya kelas 4) ke pemandian Tlogo Putri. Tentu saja, bus yang dipilih adalah Baker.

Awalnya sih mulus-mulus saja. Namun, begitu sampai jalan agak menanjak, ndilalah, bus berhenti. Tak kunjung bergerak naik. Lha ya kami bingung. Takut njempalik.
Kami turun. Dengan sigap, sang kondektur menaruh aksesoris ‘ganjel ban’ yang sepertinya khusus dimiliki Baker di area ban belakang. Bagi saya, kenangan pertama adalah ganjel ban. Dan itu sungguh unik. Tak tergantikan di masanya.

Kenangan kedua adalah bus sekolah. Ya, saat itu seingat saya bus Baker adalah satu-satunya bus yang mengangkut bocah ingusan macam saya untuk berangkat sekolah.

Kalo sudah begitu saya jadi ingat lagu Koes Plus tentang bus sekolah. Dan mungkin liriknya perlu diganti menjadi “bus Baker yang kutunggu, kutunggu, tiada yang datang.”

Ya walaupun sudah harus berangkat pagi-pagi buta, kok ya tetap saja begitu datang, bus Baker selalu penuh! Walah. Ini bukan karena armadanya sedikit lho ya. Armadanya banyak. Bahkan berlebih. Tapi karena kecintaan orang-orang saat itu pada bus Baker, hambok berdiri dari awal hingga akhir ya rela kok! Yang penting naik bus Baker. Titik tanpa terkecuali.

Sejarah dari bus Baker bermula dari PT. Baker (Badan Angkutan Kerjasama Ekonomi Rakyat). Pendirinya adalah H.M. Digdosudarto pada 12 Juli 1950. Bus Baker boleh dibilang transportasi tak tergantikan di Jawa Tengah khususnya masyarakat Jogja. Dan lebih-lebih warga yang bermukim di Jalan Kaliurang.

Bisa anda bayangkan, 40 tahun lamanya bus Baker digunakan sebagai transportasi umum. Sebenarnya ada angkutan desa yang melintas di Jalan Kaliurang. Orang menyebutnya kol (dari kata Colt). Tapi entah kenapa banyak orang lebih memilih naik bus Baker.

Mungkin karena kelihaian supirnya, kecakapan kondekturnya hingga kemantapan busnya. Perlu anda ketahui, bus Baker menggunakan mesin Mercedes Benz. Saat itu, merek tersebut adalah merek terbaik untuk sebuah kendaraan bus. Mewahlah pokoknya.

Kursinya boleh dibilang nyaman. Walaupun tak ‘senyaman’ bus Trans Jogja yang setiap tahun diperbaharui tapi rasanya begitu-begitu saja. Tapi jumlah kursinya sangat banyak. Seperti bus antar kota antar propinsi.
Disediakan beberapa tas plastik yang tergantung di tiang atas. Buat apa? Ya buat kamu yang mabok darat. Biar ndak repot untuk membuang residu muntahmu.

Makanya, banyak orang menggilai bus Baker. Pikir saya, mungkin di bagian pedal gas tertulis “Pejuang.” Sedangkan untuk pedal rem tertulis “Pecundang.” Cepat, Rapat, dan Kuat. Saya yang badannya kecil mungil harus dipeluk erat sama bapak agar tidak munting kesana kemari.

Kalopun nantinya ada penumpang jatuh, bukan busnya yang disalahkan tapi penumpangnya yang dikasih tahu sesama penumpang.

“Makane le, cekelan seng nggenah.” (Makanya nak, pegangan yang benar).

Nah, dikiranya penumpang yang jatuh biasanya dianggap penumpang baru atau tak terbiasa menggunakan bus Baker. Mungkin terbiasa naik angkutan desa. Pelan-pelan tapi tetap jalan.

Sekarang bus Baker sudah jarang. Bahkan menjurus tak ada. Di era millenium atau lebih tepatnya semenjak harga motor murah meriah, bus Baker ditinggalkan. Padahal bus sempat ditransformasi. Diperbarui dengan lebih apik.

Tapi harga bensin yang mungkin mudah sekali terjangkau membuat penumpang berpikir lagi.
Lebih baik mengisi bensin 2500 rupiah tapi bisa awet hingga 2-3 hari daripada menggunakan bus yang sekali jalan bisa merogoh kocek lebih dari 2000 rupiah.

Dan itu sudah terbukti. Bus sebagai transportasi umum hampir punah. Bus Baker tak ada. Jumlah Kopata miris. Kol tak lagi diharapkan. Beruntung masih ada Trans Jogja. Tapi menurut saya, itu hanya sekadar pemanis supaya Jogja dianggap kota yang ramah bagi wisatawan.

Kalo mau naik ke Kaliurang, Tlogo Putri, bahkan Gunung Merapi ya mau tak mau terpaksa sewa mobil. Agak mahal. Tapi apa boleh bikin, tiada yang lain.

Bagi saya, Baker seperti residu kenangan yang melekat. Tidak akan pernah terlewatkan apalagi terlupakan di hati saya. Karena setidaknya saya tahu bahwa Jogja pernah punya transportasi umum yang melegenda.

Revolusi Makanan Berasal Dari Keju


Revolusi makanan telah dimulai. Bagi generasi milineal, cita rasa makanan tak lagi manis, pedas, asin, maupun gurih. Ada rasa makanan yang diutak-atik sedemikian rupa hingga menjadi sebuah keunikan tersendiri.

Dan rasa makanan tersebut dihasilkan dari keju.

Hari ini, keju menjadi bahan makanan kelas papan atas. Semua makanan jika dicampur dengan keju akan bernilai tinggi. Lebih mahal.

Mulai dari ayam geprek keju, singkong keju, chicken mozarella, martabak mozarella hingga babi panggang parmesan.

Sebagai bukti, kamu lihat di seluruh kota, para pebisnis makanan mulai mencari keuntungan dari keju. Bagi mereka, hanya keju yang akan menjadi daya tarik rasa bagi generasi milineal.

Sah-sah saja jika pebisnis mengatakan demikian. Karena keju memiliki banyak manfaat. Diantaranya memenuhi kebutuhan kalsium, fosfor, protein, dan juga vitamin.

Selain itu, keju juga diklaim sebagai bahan makanan yang paling banyak disenangi dan dikonsumsi oleh orang di seluruh dunia. Bahkan produksi keju melebihi dari gabungan produksi kakao, kopi, teh, maupun tembakau di seluruh dunia. Hebat, bukan?

Mau bukti lagi? Coba kamu cek di aplikasi Cookpad. Itu lo aplikasi yang memudahkan kamu agar pandai memasak. Saya kasih tahu. Sedikitnya ada 54.140 resep keju. Dan sampai hari ini, belum ada yang melampaui keju. Luar biasa bukan?

Dan asal kamu tahu bahwa keju pertama tercatat tahun 6000 SM. Itulah kenapa keju layak diberikan harga yang begitu mahal.

Selain itu, yang harus kamu tahu ternyata adalah keju berasal dari Arab. Bukan Eropa seperti yang didengung-dengungkan sebelumnya. Mulanya, ada pedagang Arab yang menuangkan cairan susu ke kantung perut domba. Kemudian, ia bersama dombanya berkelana menyusuri gurun.

Malamnya, pedagang mengecek keadaan susu. Ndilalah, matanya terbelalak. Mulutnya terkunci. Susu tersebut tak lagi sama. Ada dadih dan cairan yang terpisah. Hal ini disebabkan oleh rennit, enzim yang ditemukan di perut hewan mamalia. Diduga, suhu panas juga berperan besar dalam pembuatan keju.

Akhirnya, dibawalah keju hingga ke Romawi dan menyebar ke seantero Eropa. Ini bukan hoax lo. Sudah ada garansi dari Centre National Interprofessionnel de lÉconomie Laitiere (CNIEL) dan European Union.

Cuman begini.

Konon, kelezatan keju hanya bisa ditandingi oleh lezatnya buah kuldi. Saking lezatnya, ada penelitian yang bilang kalo makan keju sebelum tidur ada kebaikan dan keburukan.

Baiknya adalah membantu tidur anda lebih baik. Buruknya adalah mimpi kamu akan aneh. Benar atau tidaknya, itu penelitian yang dihasilkan oleh British Cheese Board tahun 2005. 12 tahun silam.

Mungkin kalo sekarang mimpinya berbeda. Tapi tetap saja, mimpinya jadi dua. Pertama, mimpi tentang radikalisme di mana-mana. Kedua, mimpi tentang intoleransi juga di mana-mana. Dan tentu saja penelitian ini hanya bisa dihasilkan oleh Rasa Kuliner dengan mengambil sampel masyarakat Indonesia Zaman Now.

Oke. Kembali soal rasa.

Dalam Global Innovation Index tahun 2016, Indonesia menempati peringkat ke enam untuk olahan kreatif dan inovatif. Saya sangat percaya akan hal itu. Apa yang menjadi hambatan masyarakat Indonesia khususnya dalam pengolahan makanan? Sama sekali tak ada.

Nasi tak dipakai, keringkan, bisa jadi karak. Kerupuk terlanjur basah, bisa jadi seblak. Gula dan garam usang, impor, kemudian mulut menjadi nyablak. Lihat, kan? Itu sudah kejadian.

Lha kalo keju? Kalo gula dan garam impor, kita ngamuk tapi kalo keju impor ya kita umuk. Bisa kamu lihat dalam campuran makanan, dikit-dikit keju. Sekarang pun juga menambah ke area minuman, banyak-banyak keju.

Ketakutan saya begini. Ada rasa makanan yang seharusnya tak dicampur keju, malah dipaksakan dilumuri keju. Alasannya sederhana. Biar terlihat melted. Halah, gedabrus.

Emang situ mau, rujak cingur yang termasuk satu dari lima makanan favorit almarhum Bondan Winarno dilumuri keju? Yek. Rasanya jadi apa~
Lha ini katanya juga ada lotek mozarella. Weks. Rasanya gimana itu? Maunya mencicipi rasa keju malah berujung lidah menjadi kelu.

Belum lagi, konon katanya di Magelang mau ada tempat makan yang mengolah jengkol menjadi cita rasa Barat. Ya apalagi kalo bukan dicampur keju. Bukan keju biasa. Tapi mozarella dan parmesan.

Itu maksudnya apa? Mengubah bau kencing karena jengkol menjadi tidak jijik? Ya ampun. Itu sama saja menghilangkan keotentikan bau dari jengkol sendiri.

Ya sudahlah, kalo keju ya dicampur sama roti dan kue. Itu udah paling bener. Kalo yang lain? Menurut saya sih tak layak.

Tapi apa boleh bikin, di era revolusi makanan semakin berkembang, jika makanan tak mengikuti perkembangan zaman ya bukan tidak mungkin makanan tersebut sirna. Bahkan menjurus punah.

Lihat kan? Beberapa makanan tradisional kadang sulit ditemukan. Ya mungkin karena ketiadaan keju di dalam makanan tersebut. Jadinya susah me-nasional apalagi masuk standar internasional.

Tapi, sekadar saran sih. Toh saya bukan chef. Bukan pula ahli icip-icip makanan. Cuman kalo mau merevolusi makanan mbok ya jangan aneh-aneh.

Keju adalah keju. Biarkan keju memilih makanan yang pantas supaya menjadi pas rasanya. Menjadi lezat paparampa.

Gitu kok mau masukin keju ke gudeg. Bukan Mak Nyuss. Tapi jadi Mak Pettt.

Nasionalismu atau Nasionalisku?

Menjelang berakhir tahun 2017, banyak peristiwa baik dari internasional maupun nasional yang sangat mengejutkan.

Pertama, keputusan Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Kedua, jika pernyataan pertama salah maka Trump mengancam akan membekukan dana bantuan AS kepada negara-negara yang tak mendukung kebijakannya. Indonesia, Pakistan, Jerman, Iran, dan masih banyak lainnya mengecam. Arab Saudi bagaimana? Ya tau sendiri lah kira-kira jawabannya bagaimana.

Ketiga, keputusan Edy Rahmayadi selaku ketua PSSI untuk melarang Evan Dimas dan Ilham Udin untuk bermain di Malaysia. Selain alasannya adalah ketakutan Om Edy karena kemungkinan kedua pemain tersebut tidak bisa mengikuti pelatnas jangka panjang Asian Games 2018.

Namun, alasan yang terakhir menjadi perdebatan. Takut kalo kedua pemain tersebut dimata-matai oleh para pemain Malaysia. Dan yang paling mutakhir adalah dianggap tidak nasionalis.

Lagi-lagi nasionalisme digelorakan kembali. Padahal seharusnya bulan Desember akan memasuki bulan ritual boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal. Eh kok ini masih masuk nasionalisme.

Lantas, apa ukuran seorang warga negara yang tidak dianggap nasionalis?

Apakah mereka yang berusaha mempertahankan tanah Papua, Kendeng, dan Kulonprogo bisa tidak dianggap nasionalis karena tak patuh pada pemerintah? Atau apakah mereka yang menjadi buruh migran di Malaysia, Taiwan, bahkan Tiongkok untuk menghadirkan devisa bagi negara tapi tak dianggap nasionalis karena tak mau bekerja di negaranya sendiri?

Atau apakah mereka yang sudah berjuang mati-matian memerdekakan Indonesia macam Tan Malaka tapi malah dicap komunis? Atau jangan-jangan ukuran orang berjiwa nasionalis adalah mereka yang mampu melanggengkan dana masyarakat menjadi dana pribadi? Yang mana sebenarnya nasionalis?

Gini ya. Kalo kamu masih ngomongin persoalan nasionalisme dengan mengaitkan berita pesepakbola Indonesia di Malaysia tapi kamu tak tahu bahwa di perbatasan Indonesia-Malaysia yaitu Entikong, mereka berusaha mati-matian membeli bahan makanan Indonesia yang jauh 3x lebih mahal dari Malaysia, padahal mereka bisa saja beli di Malaysia maka diam saja ya. Simpan Argumenmu. Kalo perlu ga usah banyak bacot.

Nasionalisme seakan menjadi kata semu bagi mereka yang bersusah payah membangun imaji bahwa masyarakat Indonesia bisa mengharumkan nama Indonesia di luar negeri. Coba Om Edy berpikir terbalik. Andaikan Evan Dimas dan Ilham Udin bermain di Malaysia bukankah itu berarti mereka akan mampu melihat bentuk dan pola para pesepakbola Malaysia. Kalo perlu, sekalian saja belajar ke Malaysia.

Ndak usah gengsi. Secara peringkat timnas sepakbola, kita masih kalah. Secara kompetisi, kita masih kalah. Lalu apa yang bisa kita banggakan? Ya apalagi kalo bukan secara luas wilayah dan tingkat korupsi yang tinggi.

Kita selalu mengobarkan pesan-pesan nasionalis. Pakailah produk-produk dalam negeri! Boikot produk asing! Ganyang Malaysia! Tapi apa yakin kamu ga butuh produk asing? Apa iya kita mau meniru Kuba, Venezuela, atau Korea Utara? Kalo meniru mereka malah dianggap sosialis. Ujung-ujungnya komunis. Lhah.

Tapi mau gimana lagi ya. Om Edy memang boleh berkata demikian. Dengan predikat sebagai tentara, sebuah kewajaran jika ia harus menjaga dan menjunjung jiwa nasionalis. Jelas selain khawatir karena permainan mereka terbaca oleh Malaysia, siapa tau nanti malah mereka dinaturalisasi. Biarkan usaha pemain naturalisasi menjadi milik Filipina dan Indonesia. Lhah.

Toh, seharusnya santai saja Om. Kalopun beliyo gagal, ia masih bisa mencalonkan diri sebagai cagabener, eh cagubernur Sumur. Kan enak. Malah mungkin bakal lebih kaya jika terpilih jadi gabener eh gubernur daripada tetap sebagai ketua PSSI.

Kalo saya yang jadi ketua PSSI, saya malah membuka pintu selebar-lebarnya bagi negara-negara lain untuk merekrut pemain Indonesia. Kenapa? Ya biar kita bisa menyerap ilmu dari negara lain. Siapa tahu setelah berpetualang, mereka bisa membuat Indonesia berbicara di Piala Asia bahkan jika memungkinkan bisa masuk ke Piala Dunia.

Bukan hanya sekedar mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Asia maupun Piala Dunia. Tapi dasar kita suka yang instan, apapun dilakukan dan coba untuk direalisasikan.
Mereka juga bisa belajar bagaimana negara lain mengelola sebuah tim sepakbola. Bukan hanya mengganti nama tim, berpindah-pindah homebase atau mendidik junior. Kan kita selalu beralasan harus ada regenerasi dan pembibitan usia sejak dini.

Lhah gimana mau pembinaan, kalo kompetisi sepakbola kian tak jelas. Masa depan sepakbola boleh dibilang suram. Beruntungnya, sepakbola seperti agama sekunder bagi masyarakat Indonesia. Seburuk-buruknya permainan, se-jarang-jarangnya tak pernah mendapatkan tropi, tetap sepakbola Indonesia selalu saja memikat mata dan hati masyarakat Indonesia.

Atau jangan-jangan dengan dalih nasionalisme, sebenarnya Om Edy takut kalo pendapatan televisi menurun seiring hijrahnya para pemain Indonesia ke Malaysia. Kalo pendapatan televisi turun, bisa jadi pendapatan Om Edy ikut menciut. Kalo gitu, nanti ga bisa mencalonkan diri jadi gubernur. Lhah.

Saya hanya bisa mengatakan bahwa janganlah jiwa nasionalis diukur dari jauh atau dekat, pergi atau kembali, hijrah atau menetap, tetapi lihatlah apa yang telah mereka perbuat bagi kebanggaan dan kemakmuran masyarakat Indonesia.

Yang paling penting adalah jika dipanggil karena tugas dari negara maka segeralah berangkat. Jangan niru yang lain. Dipanggil berulangkali ke Indonesia, malah berniat bikin KTP negara sana. Mungkin dia tahu, kalo bikin KTP di sini harus bisa sampai lima purnama.

Pedoman Bahasa

Kuasai Bahasa Asing

Utamakan Bahasa Indonesia

Lestarikan Bahasa Daerah

9 kata diatas adalah slogan dari salah satu lembaga pemerintah yang memiliki nama Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA).

Di dalam BIPA ada sejumlah pengajar yang bertugas mengajarkan seluk beluk berbahasa Indonesia ke berbagai belahan dunia. Baik secara lisan maupun tulisan.

Belakangan, ada opini yang berkembang bahasa Indonesia tak lagi diminati di dalam negeri. Orang tua~utamanya generasi milineal~lebih suka mengajarkan anaknya untuk berbahasa asing.

Seperti contoh: Inggris, Arab, Mandarin, dan yang paling mutakhir adalah Korea.

Mengapa mereka bisa melakukan hal seperti itu?

Mengutip pernyataan dari AS Laksana dalam tulisannya di Jawa Pos (30/102017) ada harapan atau cita-cita yang dimiliki oleh bahasa asing.

Mereka, para orangtua tersebut merasa dengan menguasai bahasa asing maka memperoleh pergaulan yang lebih luas, tingkat kemapanan yang lebih tinggi, hingga akses ekonomi yang lebih panjang.

Apakah bahasa Indonesia tak memiliki cita-cita? Agaknya hal ini patut diperdebatkan.

Mungkin karena pengajar bahasa Indonesia tak memiliki metode yang berkembang, pengajaran mengenai bahasa Indonesia hanya itu-itu saja, dan kecakapan yang dimiliki pemerintah untuk mengembangkan bahasa Indonesia tak lagi mumpuni.

Makanya banyak orang beralih untuk belajar bahasa asing. Toh, ada anggapan bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu. Jadi selupa-lupanya kita terhadap bahasa ibu, tak butuh waktu lama untuk belajar bahasa Indonesia.

Beruntung, kini media sosial mulai berkembang. Ada orang macam Ivan Lanin, Jarar Siahaan, akun kbbi atau membetulkan dan aplikasi KBBI V yang kian menggiatkan berbahasa Indonesia.

Suatu bahasa menjadi biasa karena terbiasa. Pedoman tersebut seharusnya bisa diimplementasikan agar dunia lebih tahu bahwa bahasa Indonesia kian berkembang. Dari masa lalu menuju masa depan.

Hujan di Jogja

Kamis. Sudah dua hari ini Jogja dilanda hujan. Curah hujan dengan intensitas cukup tinggi. Deras.

Beberapa wilayah di Jogja bagian selatan mengalami kebanjiran. Ada yang rumahnya hanyut, jembatan putus, hingga menimbulkan korban jiwa. Rasa sedih pun menggelayut.

Sedih juga dirasakan oleh para pedagang kaki lima. Mereka, yang terbiasa dengan lesehan tampak cukup sulit menarik pengunjung. Alhasil, produksi menurun.

Sedih juga dirasakan pula para tukang ojek. Mau keluar, hujan sangat deras. Tak keluar, uang makan untuk kebutuhan keluarga sulit didapatkan. Situasi tersebut bagaikan buah simalakama.

Beruntunglah bagi tukang ojek utamanya daring yang masih berkeliaran saat hujan tiba. Apalagi sampai mereka mau menerima pesanan untuk mengantarkan makanan kepada konsumen.

Sungguh beruntung bagi konsumen. Tinggal buka aplikasi. Pilih makanan yang tertera. Kemudian diantarkan ke tempat tujuan.

Maka dari itu sekedar saran. Jika kamu memesan makanan lewat daring, alangkah lebih baiknya kamu memberi tip bagi mereka. Mengapa begitu? Karena saya anggap mereka adalah malaikat.