Maju Buntu, Mundur Gagal: Sebuah Kisah tentang Penjual Mie Ayam di Kotagede

Namanya Dawi. Pria beruban dengan postur sedikit membungkuk. Jalannya agak tertatih. Tangannya gemetaran saat memberikan semangkuk mie ayam kepada saya.

Itu mangkuk yang kedua bagi saya. Sebelumnya, saya memesan semangkuk mie ayam bakso+tetelan. Karena di lidah cocok, saya memesan lagi. Kali ini, hanya mie ayam biasa.

Dokumen pribadi

Saat pengunjung hanya tersisa saya dan seorang teman, beliau mengambil tempt duduk, membenahi posisi, dan mulai bercerita.

“Saya ini dagang udah 34 tahun. 28 tahun keliling dan 6 tahun di sini.”

Kata di sini yang dimaksud adalah sebuah gubug—walaupun aslinya tak terlihat gubug namun beliau lebih suka menyebutnya demikian.

“Dagangan saya mulanya bukan mie ayam. Dulu, bakso. Ganti soto. Ganti lagi mie ayam. Mbalik ke bakso. Eh, rejekinya mungkin di mie ayam.”

“28 tahun keliling mana aja, Pak?”

“Cuma keliling sekitar sini. Jagalan, Watu Gilang, Pasar, ya sekitar situ-situ lah, Mas. Gak pernah jauh.”

“Kenapa gak pernah jauh, Pak?”

“Ga tahu. Mungkin hokinya di sini.”

Dawi masuk ke Kotagede tahun 1970. Beliau datang dari Wonosari. Saat tiba di Kotagede, situasi sepi. Tak banyak orang. Jika malam, lebih sering melihat makhluk yang tak kasat mata.

“Wah di sini itu dulu gelap sekali. Tiap belokan pasti ada aja yang kayak begitu (baca: hantu). Apalagi hampir di setiap gang ada kuburannya.”

Saya mengamati sekitar. Duh, kok ya kebetulan gubug ini tepat di belakang kuburan. Makanya, tak heran ketika mencari mie ayam ini melalui Google Maps, saat kami tiba, posisinya pas di pintu kuburan.

Sumber: beritasatu.com (ilustrasi)

Beliau kembali bercerita. Untuk urusan bertemu bahkan berdialog dengan makhluk halus, beliau mengisahkan ceritanya bisa lebih dari dua malam. Terlalu banyak.

“Saya itu pernah, Mas. Dari pukul 23.00-02.30 gak bisa keluar dari tempat itu. Gerobak saya ga bisa maju dan ga mampu mundur. Saya mengucap apa pun yang saya bisa. Tetep aja ga bisa. Saya cuman pasrah.”

Dia mengucapkan nama tempat itu yang saya belum pernah melewatinya.

“Kalo ada yang berani keliling di atas jam 9. Ampuh banget, Mas!”

Teman saya memegang lehernya. Mungkin dia merasa bulu kuduknya merinding, atau ada yang meniup tepat di tengkuk lehernya. Saya menelan ludah dan mencoba menerka di mana tempat itu.

“Dulu, waktu awal-awal buka mie ayam, saya sempat punya harapan besar, Mas. Punya tempat pas lalu lalang kendaraan. Di Kotagede juga. Apalagi sewa tempat kok ya kebetulan dapat murah. Tapi…”

“Tapi kenapa, Pak?”

“Tetap aja diganggu, Mas!”

“Seperti apa gangguannya, Pak?”

Beliau berkisah pernah suatu kali menemukan sekeranjang bunga mawar. Merah dan putih. Itu disebar tepat di bawah panci, tempat untuk memanaskan kuah.

“Anak saya yang menemukannya, Mas. Saya bilang disingkirkan aja.”

Pada waktu yang lain, beliau kembali menemukan barang serupa. Kali ini, beliau temukan di dalam panci. Beliau baru menyadari saat mengangkat mie dari panci.

“Saya sampai mengucap astagfirullah, cari rezeki kok ada saja yang menghalangi.”

Bahkan, para tetangganya pun heran. Ketika hendak membeli dagangannya saat siang, warungnya selalu tertutup. Padahal, menurutnya, tak pernah tutup kecuali kalo sudah malam.

“Tetangga itu sampai bilang kalo dagangan kok mesti tutup. Saya juga heran. Tiap orang mau memarkirkan motor, copot helm, eh helmnya dipake lagi. Ga jadi beli.”

Beliau mengisahkan sembari menatap langit-langit gubug. Kemudian beliau mengalihkan pandangan ke gubugnya.

“Saya kalo ingat itu, rasanya kesel, Mas. Tapi ya buat apa saya bales kayak gitu. Toh ga ada gunanya.”

Saya menyeruput es teh yang esnya mulai mencair. Teman saya menyulut rokok. Menyemburkan asap ke langit-langit.

“Kalo sekarang, sudah ga begitu gelap. Cuman tetep aja suasana seram pasti ada.”

Beliau berbicara sembari merapikan mangkuk-mangkuk yang berserakan. Dua gelas digamit dan ditumpuk menjadi satu.

“Mas, doyan pusaka?”

“Maksudnya, Pak?”

“Kalo iya, tiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, bisa pergi ke gudang pusaka. Gak jauh dari sini. Dekat Watu Gilang.”

Tawarannya menarik. Kebetulan saya lagi suka mendalami hal-hal mistis. Dan tentu saja, saya akan ke sana bersama teman saya ini.

“Gak banyak orang tahu, lho, Mas. Padahal di situ gudangnya. Bagi orang-orang yang percaya, ya sudah pasti bisa narik pusakanya.”

Tapi, menarik pusaka tidak semudah yang dibayangkan orang. Ada yang memang bisa dengan kekuatan diri. Ada yang perlu berdialog dengan pemilik pusaka. Ada juga yang perlu bantuan dari jin lain untuk menariknya.

Kalo kamu masih ingat salah satu adegan film “Keramat”, ada adegan pria gundul berkacamata mendapatkan berkah pusaka. Merah delima.

Namun, karena tidak bisa menguasai, dia terseret dan masuk ke alam lain. Meskipun itu film, dan biasanya fiksi, mendapatkan pusaka, kalo tidak benar-benar menguasai, yang hadir makhluk lain menguasai tubuhmu.

Pelanggan datang lagi. Wadi menundukkan kepala kepada kami dan bergegas melayaninya.

Tinggal dua suap lagi, mie ayam saya habis. Beruntungnya, saya masih menyisakan tetelan yang rasanya mak legender.

Ketika mengangkatnya dan hendak memakannya, tiba-tiba imajinasi saya menjadi liar. Tetelan tersebut berubah menjadi sepotong jari kelingking sebelah kiri.

Potongannya persis seperti salah satu adegan drama Korea yang hits. Kingdom sesi pertama. Saat itu, si perawat kaget karena ketika ingin mengambil kuah, tersangkut sebuah jari—yang ternyata adalah korban tewas karena zombie.

Lalu, saya jadi khawatir, apakah setelah memakan tetelan itu, saya akan menjadi zombie pula?

Entahlah. Sampai saat ini, saya masih merasa baik-baik saja. Begitu pula dengan teman saya. Yang jelas, saya akan mengulangi makan mie ayam Pak Wadi. Lha enak benget, lurr.

Tentu saja lain waktu pada siang hari. Sebab, jika malam hari, saya enggan bertemu hantu. Yang kadang suka berkeliaran di daerah ini. Dan suka menemani di kala kamu membaca cerita misteri.

Nabil di Antara Karisma Iqbal dan Inteligensi Agung

Hari lebaran pada malam hari saya habiskan bersama dua teman. Yang pertama adalah Agung Widyantoro. Dia biasa dipanggil Agung. Semasa kuliah di Malang, sebutannya adalah Agung Syi’ah. Disebut demikian karena mengenal dan memahami luar dan dalam tentang Syi’ah.

Yang kedua adalah Nabil Lintang Pamungkas. Dia biasa dipanggil Nabil. Perawakannya besar, berbehel. Kalo di kampus, dia salah satu mahasiswa yang disegani baik kalangan dosen maupun mahasiswi.

Mereka berdua adalah dua dari sekian perantau yang terjebak di Jogja. Dari 80 anak kos-an, tinggal berdelapan. Dan mereka dua dari delapan.

Mengisi jadwal karantina hanya dengan mengerjakan tugas dari kampus. Terkadang, karena bosan, mereka berdua masak. Seusai masak, memfoto makanan kemudian mengunggahnya ke status WA. Foto sama persis.

Kadang, karena saking gabutnya di kos, Agung mengendarai motor. Keliling kota Jogja. Pernah suatu ketika, Agung kangen dengan masjid. Dia bergegas ke salah satu masjid tertua di Jogja, daerah Kotagede.

Di sana, dia seorang diri. Seperti uji nyali, masuk menelusuri masjid hingga tempat istirahat terakhir para raja-raja. Nabil pernah mengatakan Agung itu aneh. Kadang suka menyendiri di tempat-tempat yang tak biasa.

Menurut saya, Agung tak aneh. Dia itu sufi.

Berbeda dengan Agung, Nabil lebih banyak di kosan. Luapan rindu terhadap kota Malang kadang dilampiaskan dengan menelepon pacarnya, Risma. Kadang, kalo senggang, dia malah lebih sering bertukar kabar dengan kakak angkatnya, Iqbal.

Iqbal adalah teman seangkatan Agung. Bak pohon kembar, mereka selalu berdiskusi menghabiskan puluhan kopi dan puluhan lembar kertas untuk menemukan konsep demokrasi yang hakiki. Sedangkan Nabil lebih banyak menyimak.

Hasil pergulatan pikiran di warung kopi selama hampir tujuh tahun berbuah hasil. Kemampuan baca yang meningkat diaplikasikan pada kegiatan tulis-menulis.

Sejauh ini, dua jurnal telah dituntaskan baik Iqbal maupun Nabil. Satu jurnal dari Agung. Ketiganya pun menjadi idola bagi adik-adiknya di Malang. Karisma dan intelegensi menjadi alasan mengapa mereka layak digemari.

Kini, Agung dan Nabil menempuh pendidikan lagi di Jogja. Sedangkan Iqbal di Surabaya. Ketiganya berjanji. Ketika usai sekolah, mereka membangun negara.

Negara dengan Cerita Coro-Coro di Warung Kopi.

Lebaran

Gimana ya rasanya berkumpul dengan keluarga?

Jika ingatan saya tak berkhianat, selepas adek pertama wisuda, kami bisa berkumpul. Itu dua tahun lalu. Setelahnya, kami berpisah. Kembali ke pekerjaan masing-masing. Mencari rezeki di tanah rantau.

Dan ternyata, hingga lebaran kali ini, kami tak bisa berkumpul juga. Berbagai faktor yang menjadi penyebabnya.

Lebaran di saat pandemi memang membuat kita benar-benar harus belajar sabar. Tak bisa bertemu dengan adik dan kakak. Tak bisa bersua dengan bapak dan ibu.

Lebaran tahun 2020, saya terpisah sejauh ratusan kilometer dari dua adik. Kebetulan mereka berada di ibu kota. Juga, saya terpisah dengan istri, yang sedang mengandung anak kedua kami, dan anak pertama kami.

Lebaran kali ini saya cukup dengan Mama. Sebenarnya ini pilihan yang sangat sulit. Di satu sisi, saya tak enak hati dengan istri karena sedang hamil tua. Di sisi lain, saya sungkan meninggalkan Mama seorang diri saat begini.

Maklum, untuk pertama kalinya, Mama tidak berlebaran dengan Bapak. Beliau telah berpaling ke dunia lain, di atas sana, empat bulan yang lalu.

Pagi tadi, saya bangun pukul 07.30. Seharusnya saya tidak tidur selepas subuh. Tapi, melihat Mama yang seusai subuh menangis sembari bersimpuh, saya sedih sekali. Saya pun masuk kamar dan tak terasa tidur kembali.

Ketika bangun, saya langsung mandi kemudian mengajak Mama bergegas mengunjungi rumah adek saya yang kedua dan Bapak.

Alhamdulillah rumahnya masih terawat baik. Tanah sebagai pijakan cukup gembur. Sinar matahari bisa masuk melalui ventilasi tanah. Dindingnya sedikit kotor namun dengan sigap Mama membersihkannya.

Di situ kami berdoa. Agar Bapak dan adek selalu sehat di rumah barunya. Unik memang. Adik pertama dan ketiga berkumpul di Jakarta. Saya dan Mama berkumpul di Jogja. Bapak dan adek kedua berkumpul di Barzah.

Mau melaksanakan silaturahmi virtual kayak orang-orang, ternyata memang bisa. Sarana yang digunakan tak mampu meretas batas di antara kami semua. Hanya silaturahmi melalui doa yang bisa kami lakukan.

Sehat dan bahagia selalu untuk semuanya. Semoga kita bisa berjumpa dan berkumpul bersama seperti sedia kala di lain kesempatan. Amin.

Berbahagialah yang masih bisa berkumpul dengan keluarga. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya. Sebab, kita tak tahu kapan jarak dan waktu akan memisahkan.

Mohon maaf lahir dan batin.

Minyak Kucing

Hari ini genap 40 hari kampung kami melakukan sistem buka tutup. Dibuka setiap pukul 5 pagi dan ditutup pukul 9 malam. Di antara pukul 21-05, kampung memberlakukan ronda. Meskipun, pada praktiknya cukup memantau aktivitas keluar masuk manusia dari pukul 21-02.30. Selebihnya, kita pasrahkan saja pada ayam, kucing, dan anjing.

Setiap Kamis malam, saya kebagian tugas jaga. Saya memilih hari itu karena orang lain enggan. Alasannya, malam Jumat adalah keramat. Malam yang keramat untuk memanjatkan doa. Seperti ini teksnya.

“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna”.

Oleh karenanya, sebagai pemuda yang dianggap sudah menjadi bapak, tetapi disebut bapak juga wagu karena kontur wajahnya sejenis Xabiru, saya mengalah.

Toh, dengan memilih hari itu, barangkali saya mendapatkan ide untuk menulis cerita misteri di rubrik Malam Jumat di Mojok dot co. Setidaknya, hingga saat ini, dua tulisan yang telah tayang di sana berkat aktivitas ronda pada malam Jumat.

Tadi malam, saya datang agak awal. Sesuai kebiasaan yang telah berlaku, setiap orang yang berjaga atau sekadar mampir, wajib makan malam di pos. Kebetulan, ada opor ayam. Berkah dalem.

Sebelumnya, bergiliran mulai dari sop, soto, nasi uduk, nasi kuning, hingga sayur lodeh. Sebenarnya, itu menu berbuka puasa di masjid. Tetapi, karena ditiadakan, dipindah ke malam saat orang-orang kebagian menjaga pos.

Seperti biasa, sembari makan, kami mengobrol apa saja. Kalo malam itu, obrolan dimulai dari sebuah kejadian di daerah Sorogenen, Jogja. Konon, seorang pria berbaju merah dan bercelana jeans 3/4 yang positif COVID-19 kabur dari ambulans.

Namun, Humas Pemda DIY membantah kebenaran berita tersebut. Melalui Twitter, mereka mengabarkan, itu hanyalah simulasi.

Sayangnya, kabar tersebut seperti busa bantal yang terkoyak. Terlanjur tersebar ke langit. Sehingga susah untuk ditangkap. Apalagi kondisi seperti ini.

Saat menandaskan opor ayam, dan meletakkan piring di ember, saya melihat seekor kucing hendak menyebrang. Ia tampak ragu-ragu. Maju atau mundur.

Eh, mendadak lari. Alhasil, sebuah sepeda motor Astrea Grand yang melaju cukup kencang dari utara menuju selatan menabrak.

Kucing terpental kira-kira lima meter. Pengendaranya berusaha lari. Namun, salah seorang dari kami meneriaki.

“Malam Jumat, Suuuu!”

Entah kaget karena teriakan atau dikira hendak dihakimi massa, dia putar balik. Yang meneriaki, memegang leher kucing dan membawanya ke trotoar.

Bentuknya seperti huruf C. Meringkuk. Kaki depan sebelah kanan bergetar.

“Kayake sakaratul maut,” ujar bapak di sebelah kiri saya.

Kucingnya dibelai. Seakan ingin mengucapkan kata perpisahan, mulut kucing terbuka. Wajah pria yang menabrak tampak tegang.

Dari belakang saya, seorang pria berperawakan Hulk datang kemudian jongkok dan mendekati kucing itu. Seketika dia mengeluarkan botol. Isinya minyak.

Saya mendekatinya. Dari baunya, saya mengenali minyak ini.

“Kutus-kutus, Pak?”

“Iyo, Mas.”

Saya kaget. Memangnya kutus-kutus manjur untuk hewan?

Sumber foto: ibusegalatau.com

Di sebelah kiri saya, dua orang serempak berucap, “Woh yo bener nek dikei kutus-kutus.” Yang lain mengangguk.

“Dua pekan lalu, kucing ini terjatuh dari loteng. Lumpuh. Dua hari kemudian, karena pemiliknya bingung, seluruh tubuhnya diolesi minyak kutus-kutus. Ajaib, Mas. Setelahnya bisa jalan bahkan lari!”

Batin saya, ampuh juga khasiat kutus-kutus.

Dan, keajaiban itu tak terjadi hanya sekali. Untuk kedua kalinya, kaki dan tubuhnya kembali luwes. Kucing melompat. Menggoyangkan kepala dan berjalan seperti biasa. Lagi.

Kami menggelengkan kepala. Kucing sakti. Apakah kucing memang dianugerahi nyawa berjumlah 9? Ataukah karena efek minyak kutus-kutus?

Saya tak tahu pasti. Saya juga belum pernah menemukan penelitian dampak minyak kutus-kutus terhadap kucing. Yang jelas, sepemahaman saya, khasiatnya hanya untuk manusia. Dan itu terbukti di mana-mana. Sila cari di Google.

Rambut

Sudah hampir 3 bulan, saya tak memangkas rambut. Biasanya, per dua bulan, saya pergi ke tempat potong rambut. Kalo melihat di cermin, rambut saya cukup panjang. Hal ini mengingatkan saya pada tahun 2009. Zaman itu, rambut bisa menyentuh bahu.

Saya bukannya tidak mau potong rambut. Bukan juga karena alasan pandemi. Sebab, kalo boleh jujur, ada tempat potong rambut yang menarik perhatian. Letaknya hanya sepelemparan jambu dari rumah saya. Tapi, saya memang ingin memanjangkan rambut alias gondrong.

Dulu, saat gondrong, ada sebutan yang cukup populer. Gondrong Ndeso alias gondes. Menurut saya, sematan tersebut diberikan karena tak sesuai dengan bentuk muka dan postur tubuh. Muka saya, memang tak bisa dibilang ganteng. Tubuh saya, cekingnya luar biasa. Tapi, nekat saja jadi gondrong. Maklum, pelampiasan selepas SMA.

Sekarang, agaknya saya percaya diri. Motivasi mempertahankan rambut panjang adalah memompa diri agar tubuh lebih berisi. Setidaknya, bisa macam Duta Sheila On 7 era 2018-2019, Virzha, atau Once Mekel.

Makanya, sehari-hari, selain push-up, saya menggunakan benda yang membangkitkan dan membentuk otot bisep. Mulanya, saya hanya mampu menekan maksimal lima kali, baik tangan kanan maupun kiri. Kini, bisa mencapai lima belas kali. Pencapaian yang cukup lumayan.

Meskipun begitu, tampaknya belum cukup memengaruhi badan saya. Maksudnya, ketika mencoba timbangan badan, naik tak sampai satu kilogram. Sungguh berat rasanya. Mungkin, setelah Ramadan usai, berat badan bisa bertambah.

Oleh karena itu, saya bertaruh dengan istri. Andaikan dalam waktu dua bulan ke depan, berat badan saya tak bertambah, mau tidak mau, saya harus potong rambut.

Ucapkan Amin dalam hati, Teman-teman. Semoga saya bisa menuntaskan tantangan ini.  

Kamis

Siang ini Jogja kembali hujan. Sudah beberapa hari turun air dari langit pada bulan Ramadan. Cukup unik. Biasanya cobaan hawa panas yang membuat es degan atau est teh terasa menggoda. Kalo sekarang, boro-boro tergoda, yang ada hanya tidur. Bahkan, waktu tidur lebih banyak siang daripada malam.

Grup wasap Bapak-bapak mulai rame lagi. Beberapa orang mengkhawatirkan jika pariwisata DIY benar-benar buka. Ada yang berandai-andai akan terjadi manusia bergelimpangan di jalan. Beberapa dari mereka malah bercanda,

“Daging giling dengan rasa gado-gado semakin menjamur.”

Agak cringe guyonannya. Sungguh saya tak menduga. Beberapa dari mereka mengingatkan bahwa ada baiknya kualitas ronda perlu ditingkatkan.

“Kalo merasa laki-laki, ya ikut ronda. Gak usah terlalu lama. Minimal ketok rupane.”

Ya sebagai makhluk sosial, memang sudah seharusnya ikut. Bukan himbauan tapi keharusan. Dari warga untuk warga oleh warga. Begitulah kira-kira.

Seharian ini saya mantengin taimlen. Tidak ada keributan yang berfaedah. Rata-rata masih aman. Tadi juga saya sempat melakukan pertemuan lewat Zoom. Alhamdulillah, masih ada yang menawari pekerjaan. Berkah dalem rasanya.

Malam setelah berbuka, saya menyempatkan pergi ke salah satu toko buah. Rencananya, besok pagi saya akan mengantarkannya ke daerah Bantul. Oleh-oleh untuk Pakde saya. Beliau salah satu orang yang berjasa dalah hidup saya. Sejak kecil, walaupun tak terlalu sering ke sana, selalu banyak canda dan tawa. Padahal, obrolan yang sering dilontarkan berbau politik. Entah kenapa menyenangkan saja.

Begitulah cerita hari ini. Besok Kamis libur. Para pekerja juga menghentikan pekerjaan untuk sementara. Setidaknya, tanggal merah di kalender mengingatkan pada kita.

Merah tandanya berhenti. Bukan hati-hati. Apalagi berjalan terus.

Jogja: New Normal

harian jogja

Sumber foto: https://twitter.com/Ternoda_/status/1262600008144052224?s=20

Seharusnya tulisan ini terbit kemarin. Akan tetapi, karena suatu hal, hari ini saya akan mengunggah dua tulisan.

Kemarin, akhirnya saya pergi ke kantor. Terakhir kali ke sana, kalo tidak salah, pada awal Mei. Saya ke sana pun bukan ingin menjelajahi atau mengetahui jalanan Sleman lengang atau padat, tapi ingin bertemu dengan seorang teman.

Dia ingin berzakat fitrah melalui saya. Sebenarnya, bisa saja lewat m-banking. Tapi dirinya merasa kurang afdol kalo belum ketemu saya.

Inginnya saya berangkat pagi. Namun, karena perlu membetulkan gawai yang agak ribet, saya baru beranjak dari halaman depan rumah pukul 10.30.

Mengendarai motor dengan kecepatan lamban. 40km/jam. Jadi, perjalanan yang sejatinya hanya 20 menit, dengan kecepatan itu, saya sampai di kantor pukul 11.00. Tiba di sana, saya kira, saya adalah orang terakhir. Ternyata tidak. Saya orang kedua yang tiba di kantor.

Usut punya usut, anak-anak baru tiba menjelang zuhur. Waktu tidur yang agak terbalik menjadi penyebabnya. Meskipun begitu, pekerjaan pun tetap baik dan kondisi lingkungan kantor cukup terjaga.

Di kantor, seperti biasa, saling berbagi cerita dan gibah. Apalagi, kalo udah lama tidak bertemu. Dasar manusia!

Pukul 14.00 kami rapat. Menentukan arah dan strategi pascalebaran. Akan seperti apa kehidupan new normal? Tunggu kejutannya! Yang jelas, seusai rapat, kami pesan makan. Bukan untuk dimakan saat itu juga, melainkan saat berbuka puasa.

Pilihan makanan terlalu banyak. Hal ini disebabkan rangkaian dan lomba diskon dari masing-masing platform ojek daring. Menyenangkan bagi pembeli, pengemudi ojek, dan warung. Tapi tak tahu apakah itu juga merupakan keuntungan dari platformnya. Yang penting, kami senang.

Pulang ke rumah pukul 16.00. Tiba di rumah, gerimis menyambut. Tak lama, hujan deras. Jogja, dalam tigah hari ini, sering terjadi hujan. Kadang deras. Kadang disertai angin kencang. Kemarin malah sempat terjadi gempa kecil di Pacitan. Terasa hingga Bantul.

Apakah bumi baik-baik saja? Semoga iya. Yang jelas, Jogja aman. Tingkat keamanan terhadap warganya sungguh luar biasa. Buktinya, mulai Juni, pariwisata DIY dibuka kembali. Selamat datang, Jogja New Normal.

Peti Jenazah

“Aku ki nek wes ketemu Kiai, wes tentrem atiku. Rasah ngomong, wong ragane Kiai ki wes dakwah je.”

Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah 2 bulan lebih kami tak bertemu. Dia bilang bahwa minggu lalu baru saja pergi ke Solo. Di sana sebenarnya dia ingin bertamu ke pendopo Kiai, tapi apa boleh bikin, tiba di sana malah disuruh putar balik karena daerah yang dituju sedang dilokdon. Ga beruntung.

Dia stress, karena yang biasanya berinteraksi dengan manusia secara tatap muka, harus diurungkan. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di teras rumah, alih-alih di dalam rumah. Jika ada tetangga lewat, sebisa mungkin mereka diminta singgah. Ngobrol, ngopi, rokokan. Semua disediakan.

Anak-anak kos di belakang rumahnya tentu saja senang. Meski dia bukan pemilik kos, dia mempersilakan orang-orang untuk datang, namun tetap menyesuaikan protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan pakai masker.

Baginya, agaknya aneh jika melihat orang diam di rumah selama berbulan-bulan tanpa ada interaksi tatap muka. Sebagai makhluk sosial, sudah fitrahnya berbicara satu dengan yang lain. Di keluarganya, hanya dia, istri, dan anak pertamanya yang benar-benar cukup aneh dengan kondisinya. Sedangkan anak keduanya menikmati saja kondisi seperti ini. Asalkan internet lancar, kuota aman, segalanya menjadi mudah. Anak khas masa kini.

Sebenarnya, dia memiliki sebuah warung kopi di dekat kampus. Cukup ramai jika tak ada pandemi. Begitu ada pandemi, segalanya menjadi ambyar. Pernah suatu kali, dia memaksa untuk buka pada akhir Maret. Hari pertama dibuka dari pukul 10 pagi hingga 8 malam. Ada pelanggan. Satu orang. Hari kedua dan ketiga, tak ada pelanggan. Tak ada pemasukan.

“Kenapa ga mencoba jualan online? Pake konsep literan kayak sekarang?”

Dia membetulkan posisi duduknya. Kemudian berkata,

“Ada yang lebih penting daripada sekadar mencari materi. Sakralitas warung kopi.”

Saya mengernyitkan dahi. Dia mengisap kretek dalam-dalam.

“Di luar sana, Jerman, kafe itu diciptakan agar orang-orang kayak kita berdiskusi. Mencari inspirasi, menciptakan tradisi hingga kalo perlu mengkritik oligarki.

Mati. Kreteknya. Mungkin angin oligarki yang tidak menghendaki kata itu keluar dari mulut. Dia menyalakan korek, mengisap kretek lagi, dan melanjutkan kalimat berikutnya.

“Betul kalo saya jualan online, barangkali pemasukan kembali stabil. Tetapi, hati tetap gak ayem. Tak ada transaksi riil, tak ada senyum kepuasan, tak ada raut muka orang-orang bingung. Meskipun itu telah tergantikan teknologi, ada yang berbeda.”

“Jogja ini juga kota pelajar dan wisata. Perekonomian pun bisa bergerak karena mereka. Jika mereka tak berwisata dan belajar di sini, ya Jogja ambyar. Coba lihat beberapa toko/warung besar (Dia sempat menyebutkan nama sebuah warung sangat terkenal dan sekarang tutup). Benar-benar terpuruk karena target pelanggannya adalah mereka.”

Kaki kanannya mulai diangkat ke atas. Membetulkan posisi duduknya. Di saat begitu, seekor tikus besar lewat. Membawa tulang ikan. Kucing di depannya hanya memperhatikannya. Mungkin sama-sama paham. Saat pandemi begini, berbagi adalah kunci untuk melanjutkan hidup.

“Orang Jogja disuruh konsumtif? Ya, ndak mungkin. Dapat gaji UMR aja sudah bersyukur, kok disuruh memenuhi kebutuhan sekunder, apalagi tersier. Edan, po?”

Saya mau tertawa ngakak, tapi saya tahan. Nanti dikira membuat keributan. Apalagi saat masuk ke daerahnya, ada tulisan,

“Neng omah wae, rasah mrene. Ngeyel? Ndogmu sempal!!”

Ndogmu sempal itu kalimat yang ditujukan lelaki kepada lelaki atau perempuan kepada lelaki atau perempuan kepada perempuan atau yang lain? Assh embuh. Biar orang-orang itu, yang kapan hari viral di Twitter, yang punya otoritas berbicara hal kayak begini.

Obrolan semalam berlangsung empat jam lebih. Isinya pun lebih banyak curhatan ataupun sambatan. Memang, kita sama-sama tidak mencari kesimpulan. Bertemu dan saling berbagi sambat adalah pelampiasan yang paling baik. Yah, di antara sambat dan curhat, tentu saja ada gibah. Itu sudah pasti.

Yang menarik adalah sebuah pertanyaan yang saya ajukan untuk mengakhiri pembicaraan.

“Setelah era masker dan hand sanitizer, bisnis apa yang bisa dibuat untung dalam waktu singkat pada saat ini?”

Peti jenazah.

peti jenazah  Sumber foto: Kompas.com

Bola Kita, Bola yang Kaya Cerita

bola-kitaKedua penulis menyajikan banyak sisi sepak bola Indonesia. Mulai berupa analisis sampai cerita yang sangat personal.

SEPAK BOLA di Indonesia, tulis Ahmad Syauqi Soeratno dalam kata pengantar buku ini, bukan sekadar permainan yang melibatkan dua puluh dua orang yang bertanding di atas lapangan hijau, namun secara historis memikul tanggung jawab sosial sebagai alat perjuangan bangsa.

Kalimat itu seperti membawa ingatan kita kembali ke berdekade silam, pada 19 April 1930. Saat ada 17 pemuda yang berkumpul di Gedung Hadiprojo, Jogjakarta, dan membuat cemas pemerintah kolonial karena dikhawatirkan memicu tumbuhnya bibit kebangsaan. Tanggal itu pun kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya PSSI.

Nukilan historis itu memperlihatkan demikian banyaknya sisi sepak bola di sini. Begitu kaya cerita. Jauh melampaui 90 menit.

Dan keragaman kandungan sepak bola kita itulah yang dihadirkan oleh Fajar Junaedi dan Miftakhul Fahamsyah dalam buku ini. Dengan latar belakangnya sebagai akademisi, Fajar berusaha mengamati dan membingkai tiap tulisan agar renyah dibaca. Sedangkan Miftakhul, lewat panjangnya pengalaman sebagai wartawan, menyajikan sesuatu yang dekat, baik tentang suporter, pemain, maupun pelatih.

Buku ini terbagi ke dalam tiga bab. Bab pertama menganalisis apakah klub sepak bola di Indonesia mampu menjadi klub profesional. Bab kedua menggambarkan kelindan hubungan sepak bola dan fans. Lalu, bab ketiga menceritakan bagaimana media mewartakan sepak bola, terjalinnya antarkomunitas, dan menyatunya sisi kemanusiaan di sepak bola.

Dibangun di atas fondasi kapitalisme semu, sepak bola Indonesia terus dipaksa menjadi sepak bola profesional (halaman 7). Lewat Kapitalisme Semu dan Kegagalan Swastanisasi Sepak Bola Indonesia, Fajar berusaha menjelaskan bahwa ada sikap ketergesa-gesaan dari PSSI yang menggabungkan kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia hampir tiga dekade silam. Dampaknya masih terasa sampai sekarang, berupa masih banyaknya salah kaprah dalam pengelolaan klub.

Bergantungnya setiap klub pada APBD pun terasa berdampak hingga kini. Ketika APBD dilarang untuk pembiayaan, banyak klub yang kemudian bertumbangan. Sebab, sepak bola di Indonesia masih berwatak perserikatan yang mengedepankan egoisme kedaerahan (halaman 15).

Padahal, kalau dikelola dengan benar, sepak bola kita punya potensi besar. Miftakhul menyoroti hal itu dalam Ketika ’Anak Baru’ Itu Melantai di Bursa Saham yang membahas upaya Bali United untuk mengembangkan bisnis sepak bola. Sebab, klub yang berbasis di Bali itu percaya bahwa sepak bola Indonesia bisa dijual.

Ada hal-hal positif yang bisa diperlihatkan kepada publik daripada sekadar keributan ataupun tawuran. Dan mereka percaya, sepak bola lebih dari 90 menit.

Kata ”tawuran”, ”keributan”, ”kerusuhan”, atau apa pun namanya, apa boleh buat, cukup lekat dalam perbincangan sepak bola kita. Tulisan Jangan Ada Rantis di Antara Kita adalah gambaran yang tepat tentang bagaimana perselisihan antarsuporter sering terjadi.

Acap kali pemain terpaksa diangkut dengan rantis, alih-alih menggunakan bus. Padahal, sepak bola bukan medan perang (halaman 50).

Karena rivalitas suporter yang masih kental, mitigasi bencana pada tiap pertandingan sepak bola harus dihadirkan. Mitigasi yang perlu dilakukan, pembangunan fisik stadion yang memadai, pemberian informasi tentang mitigasi bencana, penyediaan fasilitas medis seperti ambulans dan pemadam kebakaran, serta yang tak kalah penting adalah sikap panitia pelaksana pertandingan dalam pengelolaan pertandingan (halaman 37).

Tulisan yang sangat personal bisa ditemukan dalam cerita Miftakhul tentang dua orang. Pertama, Yunan Helmi, asisten pelatih Barito Putera. Kedua, almarhum Choirul Huda, sang legenda Persela Lamongan.

Yang disebut pertama baru saja pulih dari Covid-19. Sedangkan yang kedua telah wafat pada 15 Oktober 2017. Cerita yang dihadirkan menguras emosi, seakan pembaca hadir dalam setiap peristiwa yang telah terjadi.

Cerita-cerita seperti itulah yang perlu lebih banyak dituliskan untuk kian membuka mata siapa saja bahwa banyak sisi lain dalam sepak bola kita. Dan, pada sisi inilah letak kelebihan buku Bola Kita.

Nilai lebih lainnya, kedua penulis bersepakat untuk mendonasikan seluruh royalti hasil penjualan kepada korban terdampak pandemi Covid-19 melalui Lazismu. (*)


JUDUL BUKU: Bola Kita
PENULIS: Fajar Junaedi & Miftakhul F.S.
TAHUN TERBIT: 2020
UKURAN: 13×19 cm
HALAMAN: 144
PENERBIT: Fandom Indonesia

Tulisan ini telah terbit pada 17 Mei 2020 di sini.