David Grossman: Antara Israel dan Palestina

david grossman

(Sumber foto: zionistideas.org)

Hari ini, saya mencoba menerjemahkan sebuah pidato dari David Grossman saat ia memperoleh Israel Prize, sebulan yang lalu. Beliau adalah seorang penulis berkebangsaan Israel. Bukunya To The End of The Land (2008) menggugah semangat dan membuka mata kepada kita bahwa sebenarnya ada keinginan rakyat Israel-Palestina untuk berdamai dan hidup bersama. Sayangnya, ada tangan-tangan hina yang mencoba mencegahnya.

Berikut adalah terjemahan abal-abal saya. Naskah asli bisa kamu peroleh dari https://www.haaretz.com/…/full-text-speech-by-david-grossma…

***

Israel adalah Benteng, Bukanlah Rumah

Ada banyak kebisingan dan kegemparan di sekeliling perayaan kami tetapi kita tidak melupakan itu di atas segalanya. Ini adalah perayaan tentang kenangan dan kerukunan antarumat beragama. Kebisingan, bahkan jika hari ini, melebihi semuanya saat ini, karena hati di malam ini ada kesunyian yang paling dalam-kesunyian tentang kehampaan yang diciptakan oleh kekosongan.

Keluargaku dan saya kehilangan Uri dalam perang, seorang pemuda yang manis, lucu, dan pintar. Hampir 12 tahun lamanya, kami masih berat untuk membicarakan dia di depan publik.
Kematian seseorang yang dicintai merupakan kematian yang masuk dalam ranah privat dengan segala kepribadian dan kebudayaan yang unik. Dengan bahasa tertentu dan segala rahasianya tak akan pernah tercipta lagi bahkan di kemudian hari.

Ada rasa sakit yang tak dapat dilukiskan. Ada momen di mana segala sesuatu yang kita miliki akhirnya harus sirna. Ini sungguh sulit dan melelahkan jika kita harus melawan gravitasi kehampaan.

Ini sungguh sulit untuk memisahkan kenangan dari rasa sakit. Bahkan untuk mengingat kembali, sakitnya luar biasa tetapi kita harus terus mencoba melupakannya. Dan, betapa mudahnya dalam situasi saat ini, memberikan kebencian, kemarahan, dan hasrat untuk balas dendam.

Tetapi saya menemukan bahwa setiap waktu saya meluapkan kemarahan dan kebencian, saya merasa akan kehilangan kontak dengan anak lelaki saya. Ada sesuatu yang ditutupi. Dan saya harus segera memutuskan, saya membuat sebuah pilihan. Dan saya pikir, pilihan tersebut dibuat malam ini.

Dan saya tahu bahwa dengan segala rasa sakit, ada nafas dan kreativitas untuk mengubah segala sesuatu lebih baik. Ada dukacita yang terisolasi tetapi juga menghubungkan dan menguatkan. Di sini, lawan kami baik Israel maupun Palestina dapat terhubung dengan segala dukacita yang ada
Saya bertemu dengan beberapa keluarga yang sedih karena kehilangan (kematian) pada tahun lalu. Saya berkata pada mereka, dalam pengalaman saya, bahwa ketika kamu merasakan kesedihan mendalam, kamu seharusnya ingat setiap anggota keluarga diizinkan berdukacita sesuai apa yang mereka inginkan, cara yang mereka lalui, dan cara jiwa menyampaikan pada mereka.

Tak ada satu pun instruksi dari orang sekitar tentang bagaimana cara berdukacita. Itu hak privasi bagi sebuah keluarga terlebih keluarga yang ditinggalkan.

Ada perasaan kuat yang saling menghubungkan di antara kami, ada persamaan nasib, dan ada duka yang mendalam sehingga tak ada satu pun kata yang sanggup menggambarkan kesedihan kami pada dunia luar di sana. Itulah mengapa, jika kesedihan yang dialami oleh kami adalah sikap yang tulus dan jujur, tolong hargai kami. Ini tak mudah. Ini nyata dan ada kontradiksi yang berada di sekitar kami. Tetapi, ini adalah jalan kami untuk memberikan makna tentang kematian pada orang-orang yang kami cintai dan kehidupan kami setelah kematian mereka. Kami selalu berharap perang segera berakhir supaya kami dapat memulai hidup kembali, hidup selayaknya seperti dunia luar sana. Bukan hidup dengan intimidasi dari perang ke perang. Dari bencana ke bencana.

Kami, orang-orang Israel dan Palestina, yang telah kehilangan orang-orang yang kami cintai selalu berharap cukuplah nasib seperti ini yang menimpa kami. Jangan lagi ada korban yang bergelimpangan, terserak di tanah perjuangan akibat perang. Kami harus memulai kerjasama untuk meneruskan hidup yang lebih baik.

Saya berpikir bahwa dukacita membuat kami lebih realistis. Kami memiliki penampakan yang jelas tentang hubungan pada batas kekuasaan, hubungan pada ilusi yang selalu menghinggapi pikiran kami tentang suatu kekuasaan.

Dan, kami sangat khawatir, bahkan sebelum bencana itu ada, tentang kebencian yang menjijikan. Kami selalu mengenali orang-orang yang menampilkan kebanggaan bersifat omong kosong, slogan nasionalis yang cenderung arogan, atau pemimpin dengan pernyataan lebih dari sombong. KAMI ALERGI. Minggu ini, kami akan merayakan 70 tahun berdirinya Israel. Kami berharap selalu bersama merayakan dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi, dari anak ke cicit, dan kami selalu mengharapkan Palestina yang independen, damai, aman, serta bisa menjadi tetangga selamanya. Sampai kami jadi tua. Sampai kami jadi debu.

Apa itu rumah?

Rumah adalah tempat yang mana dinding-dinding itu menghadirkan kehangatan dan keceriaan. Tempat yang mana kami menjalin kebersamaan, menciptakan hubungan antartetangga yang selaras, dan itu adalah proyek masa depan.

Dan, kami orang-orang Israel, bahkan setelah 70 tahun ini, kami belum berada di sana. Kami belum merasa ini adalah rumah. Israel didirikan oleh orang-orang Yahudi yang tidak pernah merasakan apa itu rumah, tapi pada akhirnya membuat suatu rumah. Dan sekarang, orang-orang itu (Zionis), setelah 70 tahun justru menghadirkan benteng, bukan rumah.

Solusi untuk mengatasi segala polemik dan konflik yang ada hanya butuh satu formula. Jika orang-orang Palestina tidak memiliki rumah, orang-orang Israel pun tidak boleh memiliki rumah.

Musuh adalah lawan yang nyata. Jika Israel tidak menjadi sebuah rumah, kemudian begitu juga dengan Palestina.

Saya memiliki dua cucu laki-laki. Usia 3 dan 6 tahun. Kepada mereka, saya selalu mengatakan, Israel adalah bukti nyata. Saya mengatakan kepada mereka secara jelas bahwa kita memiliki negara yang memiliki jalan, komputer, sekolah, rumah sakit dan mengajarkan bahasa Hebrew.

Saya termasuk sebuah generasi yang mengalami segala sesuatu taken for granted, dan tempat yang mana saya berbicara kepada kamu. Dari ruang rapuh yang menggambarkan ketakutan nyata dan selalu mengharapkan bahwa kami telah memasuki rumah.

Tetapi, ketika Israel (Zionis) menjajah dan menekan bangsa lain (Palestina) selama lebih dari 51 tahun serta membuat demarkasi yang nyata, kami merasa Israel bukan rumah.
Dan ketika Menteri Pertahanan Lieberman memutuskan untuk mencegah perdamaian dengan Palestina yang kami cintai, Israel bukanlah sebuah rumah.

Ketika Israel (Zionis) membunuh ribuan rakyat Palestina, bahkan di antaranya orang-orang sipil, Israel bukanlah rumah.

Dan ketika pemerintah Israel mencoba untuk menggelar perundingan yang mengada-ada dengan Uganda dan Rwanda tetapi kemudian mengusir mereka karena alasan pencari suaka, Israel bukanlah rumah.

Dan ketika Perdana Menteri memfitnah dan menghasut lembaga HAM agar mencari cara supaya mengajukan hukum tetap pada Pengadilan Tinggi, ketika demokrasi serta pengadilan secara kontinyu dirusak dan dirisak, Israel bukanlah rumah.

Ketika Israel mendiskriminasi pengungsi, melarang mereka untuk memasuki wilayah selatan Tel Aviv, menyuarakan secara lantang dan kasar suara-suara kebencian, terlebih pada orang-orang lemah, renta, tak berdaya, anak-anak yang kehilangan rumah bahkan pada pejuang Holocaust, kami merasa Israel bukanlah rumah.

Dan ketika mereka mendiskriminasi lebih dari 1,5 juta rakyat Palestina, menghilangkan ribuan nyawa yang seharusnya kami bisa berdampingan, Israel bukanlah rumah, baik minoritas maupun mayoritas.

Israel adalah luka untuk kami semua. Sebab, ini bukan rumah yang kami inginkan. Kami menginginkan kebahagiaan dan keceriaan tentang sebuah negara. Kami bangga terhadap segala hal yang kami punya, mulai dari seni dan budaya, teknologi informasi, obat-obatan, dan ekonomi. Tapi, saat ini kami juga merasakan distorsi.

Dan orang-orang yang tergabung hari ini, terutama Forum Keluarga dan Kombatan Untuk Perdamaian selalu berharap suatu hari ada manusia yang memiliki kontribusi nyata dan membuat Israel menjadi rumah.

Dan saya ingin berkata pada kalian semua, setengah dari uang yang saya peroleh dari Israel Prize, dan saya menerimanya hari setelah esok, saya bermaksud untuk mendonasikan dan membagikan kepada Forum Keluarga dan Organisasi Elifelet yang isinya adalah orang-orang yang giat mencari anak-anak pencari suaka. Bagi saya, ada banyak kelompok yang bekerja untuk kemanusiaan daripada pemerintah itu sendiri.

Rumah.

Tempat di mana kami hidup damai dan aman. Bukan kehidupan yang memperbudak anak-anak dengan tujuan menjadi penyelamat atau menyematkan visi nasionalis. Rumah, tempat di mana kami menyalakan sebuah prinsip yang lebih besar dan lebih komprehensif. Kehidupan yang menjangkau rasa kemanusiaan. Kami bangun pagi dan mengenali bahwa itu manusia sesungguhnya. Dan kami berharap hidup di lingkungan anti korupsi, berkelindan, egaliter, lepas dari keberingasan dan kedengkian. Dan itu berharap pada sebuah negara yang seharusnya lebih perhatian kepada manusianya. Bukan menghadirkan rasa anti toleransi hingga membuat kami harus berkata, “Ini bukan Israel sebenarnya”.

Sebuah negara bergerak, bukan hanya karena momen tertentu, bukan karena sebuah trik atau manipulasi, jalan yang berliku, atau investigasi polisi. Secara umum saya berharap pemerintah Israel mengurangi kebencian dan lebih bijaksana. Seseorang dapat bermimpi. Seseorang boleh mengharap sebuah pencapaian. Israel akan bergerak melawan itu semua. Dan saya berharap hal tersebut juga berlaku bagi saudara kami, rakyat Palestina. Kehidupan yang merdeka, bebas dan damai, membangun sesuatu yang baru, bangsa reformasi. Dan dalam 70 tahun ini, kepada cucu saya dan cucu terkasih saya, rakyat Palestina. Kami bergandengan tangan, berdiri, dan meneriakkan dengan nyaring dan lantang lagu kebangsaan kami masing-masing.

Tetapi ada kalimat yang harus digarisbawahi bahwa kami harus bernyanyi bersama, dalam bahasa Ibrani dan Arab. “Menjadi Bangsa Yang Bebas di Tanah Kami”, dan mungkin suatu saat nanti, harapan itu akan menjadi kenyataan untuk kedua bangsa.

Advertisements

Rumah (9)

Memiliki rumah dengan kamar sederhana adalah impian saya. Apalagi, kalo kamarnya tak perlu memiliki ukuran yang luas. Cukup 3×3. Tapi, impian saya baru jadi kenyataan saat saya tinggal di Malang lebih dari enam tahun. Di sana lah saya berada di kamar dengan ukuran 2×3.

Nah, saya tinggal di sebuah rumah lama. Kuno. Dibilang demikian sebab telah berdiri sejak tahun 70an. Kamarnya ada 4. 2 di depan, 1 di lorong, dan 1 di belakang. Nah, saya memilih kamar di belakang.

Di kamar itu terdapat sebuah lemari, meja, dan kasur. Jendela berada di sisi barat. Saya tidur dengan kepala di utara dan kaki di selatan. Pas dua-duanya menyentuh tembok.

Saya memiliki ritual khusus saat masuk kamar baru. Mengucapkan salam dan membatin, “Hai, salam kenal dan aku teman baikmu.” Sebab, saya meyakini pasti ada sesuatu yang pernah tinggal di kamar baru. Entah apa dan siapa pun itu.

Dan benar. Menjelang tidur, kadang saya merasa ada sesuatu yang bergerak di sebelah timur dekat pintu. Kalo saya berbalik, seperti tak ada apa-apa. Tapi, saat di kasur, dan badan menghadap barat, sesuatu itu lari ke sana kemari.

Ternyata, gerakan itu berasal dari celana yang saya gantungkan di pintu. Kadang ke kanan dan kiri. Kadang atas dan ke bawah. Saya memaklumi. Barangkali ucapan selamat datang. Tapi, saya salah sangka.

Suatu kali menjelang magrib, saya masuk kamar. Bau semerbak menghiasi ruangan. Deg. Darah mengalir cepat. Hawa menjadi panas. Takut terjadi apa-apa, saya bergegas mandi. Harapannya, itu hanya bau lewat.

Eh, bukan. Pas magriban, hawa kian panas. Kuping mulai kepanasan. Ada yang tak beres. Gerakan salat kian saya percepat. Setelah salam, saya berzikir. Tapi, tak khusyuk. Saya lari. Keluar rumah.

Malamnya, saya telpon seseorang. Cerita kronologinya. Dia bilang, “Taburkan beras kuning saat magrib. Segera. Mungkin ia mampir. Nostalgia sejenak.” Hah? Nostalgia? Saya kaget. Saya tak segera melakukannya. Tunggu 3 hari.

Lalu, saya buat beras kuning. Dengan tergesa-gesa, saya sembari merapal. Menjelang magrib, dengan hati-hati saya membuka pintu. Menaburkan beras kuning sembari menutup mata. Asal. Saat habis, saya baru membuka mata. Eh, dari belakang bahu saya diinjak. Bau.

Saya kaget. Menoleh ke belakang. Ia hanya bilang, “Maaf, ini Jumat Kliwon.”
.

Rumah (8)

Memang tak mudah menjalani hari jika tiap pagi hingga malam selalu diikuti ke mana-mana oleh makhluk tak bernama. Sampai saat ini, saya masih berpikir dan mencoba bertanya,

“Bro/sis, ndak capek kah ngikutin saya terus?”

Tapi ya gimana mungkin mereka suka mengikuti saya dan juga teman-teman saya.

Suatu sore yang cukup cerah, kami ber15 mau mengadakan rapat besar organisasi. Kalo biasanya kami mengadakan di tempat lapang, kali ini kami mencoba suasana baru. Di rumah saya.

Kami berangkat bersama dari kampus pukul 4 sore. Hawa dingin mulai masuk di kota. Meskipun begitu, awan tetap cerah. Langit berwarna merah agak oranye. Seperti sedang menikmati senja kalo kata anak indie.

Sampai di rumah kira-kira pukul 4 lebih 15 menit. Saat itu, rumah memang kosong. Saudara saya sedang pergi ke Lombok. Menjenguk bude saya. Alhasil, tinggal lah saya sendiri di rumah itu.

Kemudian kami masuk lewat pintu depan. Suasananya seperti biasanya. Singup. Seperti tak ada angin yang masuk. Anak-anak memilih tempat duduk. Namun begitu, ada yang memilih lesehan.

Kami menggelar rapat. Seperti biasa, adu ide dan lempar kritik terjadi. Ya, itu memang kebiasaan organisasi kami baik saat rapat maupun tidak.

Rapat berlangsung sekitar satu jam. Lalu, kami berangkat lagi ke kampus karena beberapa teman motornya masih ditinggal di kampus.

Sampai di sana, salah satu sahabat saya nyeletuk, “Mod, si Y mana? Kok ga kelihatan? Pulang duluan?”

Yang ditanya bingung. Maksudnya apa ya? Setahu saya Y pamit izin tak bisa mengikuti rapat. “Lho, anak itu ndak ikut rapat. Pulang kampung,” ujar saya.

“Lah, ndak mungkin! Wong tadi boncengan sama kamu kok!?”

Kemudian saya menunjukkan sebuah pesan dari gajet. Tertulis izin pulang kampung.

“Waduh, gak mungkin. Terus yang bareng kamu siapa??”

Dahi saya mengernyit. Saya bingung mau jawab apa. Salah satu teman cewe malah menimpali, “Yang kamu lihat pake baju merah, ‘kan, Mas?”

Yang ditanya kaget. “Eh iya, yang sama Moddie itu.”

Hah? Merah? Bonceng sama saya?

“Ga papa, Mas. Ia memang suka begitu kok, maklum ucapan selamat datang.”

Saya berdehem. Malam itu, saya menginap di rumah teman. Gak berani. Takut.

Rumah (7)

Sejak kecil saya diajarkan orangtua untuk membaca doa sebelum tidur. Alasannya sederhana. Agar ketika tidur, saya tidak mendapatkan mimpi aneh, apalagi buruk.

Saran orangtua saya, terus saya praktekan hingga kini. Tak lupa resep orangtua, saya sampaikan ke teman-teman agar bisa tidur nyenyak. Tak mengalami mimpi menyeramkan.

Sayangnya, pada hari itu, salah satu teman saya kelupaan membaca doa sebelum tidur.

Ceritanya begini…

Malam itu kami melakukan aktivitas dengan mengunjungi sebuah tempat di daerah nun jauh dari kota. Di tempat itu diadakan semacam pelatihan bagi anggota baru yang akan mengikuti suatu organisasi.

Kami pergi ke sana sebagai kakak kelas. Yang ingin melihat kesiapan panitia. Yang ingin melihat bagaimana antusiasme adik-adik kelas mengikuti pelatihan tersebut.

Di sana kami bertemu banyak teman lintas angkatan. Ngobrol mulai dari hal kampus hingga sesuatu yang klenik. Bermacam-macam lah pokoknya.

Singkat cerita kami pamit. Pulang ke rumah tercinta pukul 12 malam. Sampai di rumah, kami berebut kasur. Tanpa banyak kata yang perlu diucap, kami segera tertidur. Lelap.

Pukul 05.30 salah satu teman terbangun. Mata belum benar-benar melek. Tiba-tiba dia melihat ada dua orang di sebelah kasurnya. Dua adik kelasnya. Dia tersenyum. Mereka pun tersenyum.

Tapi, senyum mereka terkesan kikuk. Aneh. Lebih aneh lagi, kepala mereka seakan melayang menuju eternit. Terbang. Dan anehnya, tak ada tubuhnya!!

Mereka melayang. Kemudian tertawa menyeringai. Lidahnya menjulur ke bawah. Teman saya kaget. Tangannya menggamit keras tangan teman sebelahnya seraya berteriak, “Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah…”

Seketika teman itu bangun. Memegang kepala teman yang kaget. “Ada apa, rekk?”

Dia tak menjawab. Langsung ngeloyor. Pergi. Saya yang kebetulan tak ada di rumah, diberi kabar, kemudian segera bergegas menemuinya. Dan bertanya apa yang terjadi. Dia hanya menjawab, “Mungkin aku lupa berdoa atau mungkin memang ada yang iseng denganku. Bentuknya aneh. Mengerikan.”

Saya menelan ludah. Melihat wajahnya yang ketakutan, saya mengajaknya ngopi. Agar rileks. Agar tak ada lagi ketakutan.

RUMAH (6)

Malam Jumat. Cuaca begitu adem. Hujan turun. Kadang rintik. Kadang deras. Saya sedang duduk menonton televisi. Ketiga teman saya mengobrol dan membentuk sebuah lingkaran.

Mulanya saya tak acuh obrolan mereka. Obrolan perkuliahan hingga pernikahan. Saya baru tertarik ketika obrolan masuk ke ranah klenik.

“Kemarin di kampus ada gosip. Katanya di lantai 2 di ruang pojok suka ada wanita yang tiba-tiba lari lalu lompat ke bawah.”

Saya berpikir itu bukan gosip. Tapi memang ada. Buktinya banyak kakak kelas, utamanya saat kuliah sore, suka melihat adegan itu. Asal kamu tahu, itu gedung terseram di kampus saya.

“Di kamar mandi perempuan juga ada katanya. Rambut menjuntai hingga menyentuh jempol. Eh, tiba-tiba nangis.”

Setelah itu, saya dan ketiga teman saling tukar cerita tentang gedung itu. Sedang asyik, teman saya tiba-tiba terdiam. Dan nyeletuk, “Kayaknya ada yang nguping deh.”

Saya pun terdiam. Tapi tidak dengan kedua teman saya. Mereka justru mencoba menakut-nakuti kami dengan berpura-pura kesurupan. Mencakar-cakar dan mengaum. Yang satu lagi kepalanya bergerak patah-patah. Cekikikan

“Jangan kayak gitu. Nanti kalo datang beneran, kita yang repot.”

Setelah mengakhiri kalimat, pintu yang tadinya terbuka tiba-tiba menutup. “Brakkk.” Suaranya kencang. Kedua teman saya yang coba-coba kesurupan, berhenti seketika. Hawa bertambah dingin. Saya merapat ke ketiga teman. Takut. “Nah kan, apa saya bilang. Datang, ‘kan?”

Dan, tahu apa yang terjadi?

Seperti sekelebat bayangan melesat. Lampu ruang utama pecah. Listrik mati. Hidup lagi. Mati lagi. Kami mau berteriak tapi takut membangunkan tetangga. Saya ambil bantal untuk menutup muka. Lalu, berteriak sekencang-kencangnya.

Ketiga teman saya lari keluar. Membuka pintu. Saya ikut lari juga. Pintu rumah ditutup namun lupa dikunci.

Kami lari ke warung kopi terdekat. Mengambil gorengan dengan tangan yang gemetar, napas tersengal-sengal.

“Sudah, besok ga usah cerita kayak gitu lagi. Dan ga perlu cerita ini ditulis, takutnya Dia juga ikut membaca ceritanya. Kasihan teman-teman yang membaca.

RUMAH (5)

Setelah mengalami kejadian aneh bin ajaib, saya dan teman-teman mulai terbiasa mendengar suara yang tak diundang atau barang yang tiba-tiba menghilang.

Asalkan dia tak menampakkan diri saja, kami sih tak masalah. Tapi, ternyata harapan tak sesuai kenyataan. Berarti di situ ada masalah!

Dan itu bermula ketika kami (lagi-lagi) diskusi kecil menjelang tengah malam. Sebenarnya kami tak begitu ingin diskusi. Tapi, ada hal penting yang perlu disampaikan. Persoalan kenapa malam itu saat tanding futsal, kami kalah. Telak.

Kami saling menuding satu sama lain. Yang kiper menyalahkan para pemain belakang-depan sering menyia-nyiakan peluang. Sebaliknya, kiper disalahkan karena bolak-balik blunder.

Saat berdiskusi hebat, di sinilah keanehan dimulai. Tiba-tiba salah satu teman lari keluar rumah. Kami kaget. Mungkin kami kira dia mengejar kucing atau tikus. Eh, ternyata bukan.

Dia berdiri. Menghadap utara. Mematung. “Itu kenapa yak?” Teman saya yang memakai baju kuning penasaran. Kami pun demikian.

Tak lama. Dia kembali. Duduk melanjutkan diskusi seolah tak terjadi apa-apa. Aman? Oh, tidak. Angin berembus dari tengkuk menuju kaki. Pelan. Dingin.

Saya duduk menghadap timur. Tepat di depan kaca besar. Tiba-tiba, ada bayangan bergerak. Putih dan bening. Dari selatan menuju utara. Saya mengamati seksama.

Bulu kuduk mendadak berjoget ria. Teman di sebelah kanan dan kiri, anehnya, ikut menoleh ke arah kaca. Jadi, yang melihat bayangan itu bertiga.

Tanpa mengucap sepatah kata, kami berlari ke kamar. Berebut selimut. Teman yang sedang tidur, kaget. “Ada apa, rek?”

Kami tak menjawab. Keringat bercucuran. Dingin. Mencoba menutup mata. Mencoba segera tertidur. Tertidur. Tapi, saat saya tidur, ada mimpi. Mimpi tentang bayangan itu. Yang tak kunjung pergi hingga esok hari

RUMAH (4)

Setelah kejadian yang sungguh tak mengenakkan, kami pun mulai enggan untuk tinggal saat malam hari. Kami takut.

Kami hanya ada di rumah saat siang hari. Kami percaya bahwa makhluk halus tak pernah hadir pada saat terik matahari.

Tapi, kepercayaan kami runtuh.

Suatu kali selepas kuliah, kami berkumpul di rumah. Rencananya, kami ingin masak bersama. Bahan makanan telah disiapkan sejak pagi hari. Dan kami ingin masak sop ayam.

Pemutar musik sudah disiapkan. Lagu-lagu dangdut dipilih agar menyemarakkan suasana. Dan benar, kami pun berjoget ria.

Masakan sudah siap. Kami berkumpul di ruang tengah. Masakan ditata sedemikian rupa. Karena belum zaman foodstagram, kami hanya perlu berdoa dan makan.

Selesai makan, seperti biasa, piring ditumpuk. Begitu pula sendok dan perkakas lainnya. Saya membawa piring kemudian membuang tulang ke tempat sampah yang ada dekat kompor.

Si Z terakhir makan. Saat hendak membuang tulang hasil makanannya, dia berteriak, “Tempat sampah di mana?”

“Dekat kompor!!”

“Kok ndak ada?”

“Lah, aku barusan buang di situ.”

Saya penasaran. Ketika sampai di situ, betapa kagetnya tempat sampah tak ada. Padahal waktu membuang antara saya dengan Z tak lebih dari 10 detik. Aneh.

Setelah ditelusuri, tempat sampah berada di halaman depan. Kami mengira anak-anak iseng. Kami tanya, mereka membantah. Aneh.

Setelah kejadian itu, tiap siang, saat hendak makan, perkakas dapur sering pindah dan letaknya tidak pada tempatnya. Aneh.

Tetangga sebelah bilang, kami punya adik kecil. Jarang memakai baju. Hanya mengenakan cawet. Dia lah yang suka bawa perkakas dapur ke halaman depan. Kami menyanggah. Tak ada anak kecil. Lalu kami berpikir,,,

Siapa dia?