MUNDUK

Akhirnya saya menginjakkan kaki di Bali lagi setelah lima tahun lamanya. Saat itu, saya mengunjungi Gianyar untuk menghadiri pernikahan kakak sepupu. Kalo kali ini, kedatangan saya membawa misi. Jelajah kretek.


Saya diberitahu oleh teman-teman bahwa di Bali, lebih tepatnya di Munduk, terdapat perkebunan cengkeh. Luasnya lebih dari 350 hektar. Saya membayangkan apabila berkunjung ke sana pasti asyik sekali. Menghirup dedaunan cengkeh sembari menikmati pemandangan pohon-pohon cengkeh.


Di hari pertama, kami mengunjungi Danau Tamblingan, sebuah danau yang terletak di Buleleng. Di sana kami menjelajahi hampir seluruh area dan dipandu oleh Bli Putu Ardana. Cukup asyik menikmati penjelasan beliau. Menyenangkan sekaligus menambah wawasan baru.

Di hari kedua, kami menjelajahi perkebunan cengkeh. Dipandu oleh Bli Bondol dan Bli Komang Armada, kami seperti mendaki gunung lewati lembah. Kadang naik, kadang turun. Selain dipandu oleh mereka, kami juga belajar bersama Bli Putu Wijaya. Di sini kami diceritakan tentang cengkeh di Munduk.


Tahun ini, panen cengkeh terbilang cukup baik. Dengan kisaran harga 85-95ribu per kilogram, para petani cengkeh menikmati hasil sebesar 70%. Namun, tidak sampai 100% karena kekurangan pemetik cengkeh. Kekurangannya diambil dari orang-orang di luar Munduk bahkan ada yang dari Jawa.

Meskipun begitu, panen adalah berkah. Tidak hanya bagi masyarakat Munduk, melainkan juga Bali. Untuk kamu ketahui, panen cengkeh hanya bisa dilakukan setahun sekali. Berapa hasil panennya? Yang jelas banyak dan dalam hitungan rupiah. Bukan dolar ya. Kalo dolar, nanti utang Indonesia bisa lunas dan itu yang membayarnya cukup para petani cengkeh di Munduk~

Selain itu, beliau sedikit bercerita tentang dilema pada perkebunan cengkeh. Yaitu, tentang daun cengkeh yang jatuh dari pohon. Sebagian kecil masyarakat awam, akan mengambil daun cengkeh itu kemudian dijual lagi dan memang menghasilkan nilai ekonomi. Nilainya mungkin tak seberapa. Tapi, ini berkah. Berkah masyarakat.

Akan tetapi, berkah itu kemudian cenderung menjadi masalah. Daun cengkeh yang jatuh seharusnya tidak diambil. Sebab, hal tersebut merugikan secara ekologi. Kelembaban tanah tak dijaga. Humus akan hilang. Dan akhirnya, terjadi eksploitasi berlebihan.

Para pemilik sudah memberikan pengetahuan demikian, utamanya kepada pengambil daun cengkeh. Namun jika berbenturan dengan nilai ekonomi, mereka tidak bisa melarang. Sebab, sampai saat ini, belum ada solusi yang apik nan cerdik untuk mengedukasi mereka.

Ada semacam keyakinan bagi pemilik kebun cengkeh. Apabila cengkeh mengarah ke laut, kualitasnya cenderung baik. Selain itu, secara spiritual ada penghormatan kepada tanaman cengkeh. Namanya Dewa Samhara (kalo salah, mohon dibenarkan) sebagai manifestasi Tuhan dalam konteks merawat tanaman.

Cerita-cerita yang sedemikian rupa membuat kelelahan kami selama perjalanan menjadi hilang. Kami diajak berpikir dan belajar. Merawat dan meruwat tanaman cengkeh.
Selepas cerita, kami menelusuri salah satu air terjun terbaik di Munduk. Namanya Labuan Kebo. Tingginya lebih dari 15 meter. Di sini, kami boleh mencari titik mana yang paling pas untuk berfoto. Seperti contoh, Mz Iqbal yang berfoto telanjang dada, Mz Reza yang asyik tenggelam sembari sesekali menyibakkan rambut super bleaching, atau milord Eswe yang berpose tiduran menghadap dua bule perempuan berbikini sembari berteriak ke muka mereka,

“Hi, my lov”~. Rang anih.

Di hari ketiga, kami menjelajah ke luar Munduk. Bergabung bersama Teater Kalangan yang dikomandoi milord Eswe, sang Mat Kretek. Di sana, kami menyuarakan nada, “Selamatkan Kretek Kita, Selamatkan Indonesia” dan menyiarkan kata #selamatkankretek #negerikretek dan #tolakpact.


Kami sadar upaya kami hanya mampu menjaring melalui media sosial. Tapi, kami yakin melalui media sosial, sebuah pesan akan tersampaikan.

Di Munduk kami menghargai setiap detik demi detik kebersamaan sebuah keluarga. Di Munduk kami menikmati setiap makanan yang disajikan oleh tuan rumah. Makanan yang membuat kami betah dan selalu latah karena ingin terus melahap. Lagi dan lagi.


Di Munduk kami menangkap kebahagiaan, merawat harapan, hingga menautkan cita-cita. Di Munduk kami akan kembali. Bersama lagi.


Tabik!

Advertisements

USIA

Gelaran Asian Games (AG) 2018 dibicarakan oleh banyak pihak. Mulai dalam negeri hingga luar negeri. Mulai dari yang mendukung hingga yang menyindir. Lengkap.

Namun, dari semua itu ada fakta yang menarik. Sekadar informasi, atlit termuda di Asian Games 2018 berasal dari Indonesia. Namanya Aqqila (9 tahun). Ia akan mewakili Indonesia dari cabang papan luncur.

Tak ada target yang dibebankan pada Aqqila di AG. Selain karena usianya masih muda, olahraga papan luncur baru dipertandingkan pada Asian Games tahun ini.

Yang penting, mereka bisa meraih pengalaman dan memperkuat mental bertanding. Namun, menurut wawancara yang telah diulas di Beritagar.id, Aqqila menargetkan tembus di babak paling akhir. Kalo beruntung, ya dapat medali.

Selain atlit termuda, Indonesia juga menyumbang salah satu atlet tertua di AG. Namanya Michael Bambang Hartono yang berlaga di cabang Bridge. Kalo mendengar kata Hartono, yang ada di benak saya adalah mall dan rokok.

Dan memang, beliau adalah bos dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Bos Djarum.

Yang perlu kamu ketahui adalah, beliau salah satu manusia yang cukup antusias dalam memajukan bridge di Indonesia. Dan jangan salah, beliau sudah jauh-jauh hari menyiapkan mental dan fisik untuk mengikuti ajang empat tahunan ini.

Usianya memang tak lagi muda. 78 tahun. Tapi semangatnya membara. Bahkan, beliau menargetkan berani meraih dua medali emas. Kalo beruntung, ya bisa lebih.

Nah, yang menarik lagi adalah, beliau akan mewariskan hadiah medali emas (1,5 Miliar) untuk pendidikan atlit selanjutnya. Lha, 1,5 M bagi bos Djarum cuma sepersekian upil dari total pendapatan Djarum, lurr. Apalagi menurut riset Majalah Forbes, beliau merupakan orang terkaya kedua di Indonesia~

Apakah ini berarti bisa digeneralisasi bahwa Djarum ingin memberikan sesuatu yang berguna bagi pendidikan atlet? Yang jelas, saat saya kuliah, beasiswa Djarum adalah salah satu capaian mahasiswa paling bergengsi.

Eh kemarin, ia baru saja memperoleh medali perunggu. Luar biasa. Selamat, Pak Bambang Hartono. Tua-tua keladi, makin tua makin jadi.

Yang menjadi pelajaran bagi kita adalah, usia tak akan menghalangi seseorang untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Dan barangkali, melihat keberhasilan Bambang Hartono, membuat si calon presiden dan wakil presiden Indonesia untuk periode selanjutnya akan semakin pede.

Dunia Masa Kecil

Kembali ke masa kecil adalah impian saya. Bermain layang-layang, sepak bola, adu tangkas kelereng, petak umpet, dan masih banyak permainan lainnya. Bermain sejak pulang sekolah hingga sore hari bahkan menjelang magrib, adalah kepuasan bagi saya saat itu.

Saya tak pernah berpikir tentang kelelahan, dehidrasi, cedera, atau segala sesuatu yang bersifat negatif. Bagi saya, permainan itu menimbulkan keceriaan, tawa yang lepas, dan hati yang bungah.

Saya tak pernah berpikir apakah malam setelah bermain, saya mampu mengerjakan tugas sekolah–yang kadang terlalu banyak. Yang penting dalam benak saya setelah bermain, saya akan makan enak dan perut akan kenyang.

Saya tak pernah berpikir apakah bermain hingga magrib, nantinya diberi teguran oleh orang tua. Toh, dalam benak saya, jika saya ditegur, teman-teman yang ikut bermain dengan saya juga akan ditegur.

Dalam dunia masa kecil, kami hanya ingin meluapkan kebahagiaan, menyemai kebersamaan, meramu keceriaan, merekam kemenangan hingga tertawa tanpa batas.

Kami tak peduli nantinya selepas menjalani masa kecil, kami akan melihat kekejaman, kesombongan, hingga kengerian dunia luar. Dan, barangkali dunia luar akan membuat kami menjadi liar.

Kami tak peduli tentang omongan orang-orang yang lebih tua bahwa dunia luar akan banyak bahaya yang mengintai ataupun kejahatan yang dibingkai. Yang kami pedulikan hanyalah tanah yang lapang tanpa perlu ada gangguan, rintangan atau hambatan.

Lapangan yang bisa kami manfaatkan untuk beragam aneka permainan. Hari ini sepak bola, besok bermain layang-layang, dan lusa bermain gobag sodor.

Tapi, jikalau saya sekarang meminta kembali ke masa kecil kepada Sang Pencipta, apakah akan dituruti keinginan saya?

Jikalau dituruti, ternyata Sang Pencipta berkata, “Engkau boleh kembali ke masa kecil, tapi masa kecil yang sedang dihadapi oleh anak-anak milenium.” Apakah saya akan menyanggupi permintaan itu? Jikalau menyanggupi, apakah saya akan menikmati bermain bersama mereka?

Di lubuk hati yang paling dalam, saya justru tak yakin. Bukan berarti tak mau meleburkan kebersamaan dengan mereka, namun agaknya saya akan mengalami kegagapan. Baik dari metode berinteraksi maupun beragam permainan yang dimanfaatkan.

Saya khawatir malah akan merusak kebersamaan. Saya khawatir tak mampu menyamai level permainan mereka. Saya khawatir.

Dalam benak saya, anak-anak milenium menikmati lapangan yang ukurannya jauh lebih kecil daripada lapangan yang saya mainkan. Jikalau saya bisa bermain dalam ukuran 6×10 meter, dalam dunia milenium, saya hanya bisa bermain lapangan dengan ukuran 5 inci.

Saya tak bisa membayangkan apakah dunia yang mereka mainkan akan menularkan kebahagiaan, merawat interaksi antarmuka, atau menyumbang keceriaan. Dengan ukuran 5 inci, saya membayangkan dunia yang sungguh sempit.
Namun, dalam dunia yang saya jalani saat ini, saya melihat mereka tetap mengeluarkan tawa walaupun kadang sumir, tetap berteriak walaupun kadang terpaksa.

Tapi saya tak tahu apakah mereka tertawa dengan penuh kelapangan hati, atau berteriak dengan lantang tanpa hambatan yang berarti. Yang saya tahu mereka mengeluarkan ekspresi begitu saja. Tanpa terkendali.
Saya malah berpikir seperti ini. Jangan-jangan mereka menggunakan dan mencoba memanfaatkan lapangan dengan ukuran 5 inci, hanya karena saat ini mereka tak bisa menemukan lapangan yang pernah saya mainkan saat dunia masa kecil.

Lapangan yang kini sudah berubah menjadi hutan beton. Hutan yang tak lagi menyediakan keteduhan secara alami melainkan hanya menyajikan ketentraman, walaupun sesaat.

Kalaupun masih ada lapangan yang tersisa, barangkali waktu penggunaan tak tahan lama. Orang-orang dewasa lebih suka mengalih fungsikan lapangan menjadi sesuatu yang bersifat materi.

Menarik minat kaum awam supaya menginvestasikan dana. Banyak. Bahkan cenderung berlebih. Sehingga lapangan untuk anak-anak berkurang. Bahkan bisa dikatakan hilang. Tanpa jejak.

Kalau sudah begitu, saya tak heran jika anak-anak milenium mungkin tak akan mengerti bagaimana rasanya menerbangkan layang-layang, menghilang dan muncul kembali seperti petak umpet, atau bermain kejar-kejaran seperti di gobag sodor.

Saya akan mencoba memahami dan mulai untuk menikmati bagaimana rasanya bermain dalam lapangan dengan ukuran 5 inci. Saya akan mencoba mencari cara untuk melarutkan kesenangan dalam dunia permainan daring.

Tapi, saya tak yakin. Saya masih berharap akan bermain seperti biasa saat dunia masa kecil. Bermain tanpa lelah. Bersama teman-teman hingga tak kenal waktu. Saya masih berharap.

Dan, semoga harapan itu akan saya peram. Sebab, suatu saat saya masih ingin bermimpi kembali ke masa kecil. Entah bagaimanapun caranya. Bukan begitu, kawan-kawan kecilku?

Dipublikasikan pertama kali di FKY 30 oleh Bunda Kata

HAJI

Pertengahan tahun adalah jadwal sibuk bagi Kementerian Agama (Kemenag). Pasalnya, mereka harus siap dan sedia melayani ribuan umat muslim yang akan melaksanakan ibadah haji tahun 2018.

Saya mendapat kabar jika tahun ini, masyarakat Indonesia yang berangkat mencapai 204 ribu orang. Kabar tersebut dari salah satu teman yang kebetulan mendapatkan amanah sebagai petugas media untuk liputan haji.

Dalam dua tahun terakhir, Kemenag rupanya ingin meningkatkan pelayanan dari sisi media. Salah satunya dengan melibatkan youtuber kelas wahid. Kalo ga salah, namanya Dodi. Hal ini dimaksudkan supaya ekspos terhadap pelayanan haji menjadi maksimal.

Ini juga dengan maksud agar keluarga yang ditinggalkan merasa lebih aman dan tidak khawatir dengan hadirnya petugas yang lebih kredibel dalam urusan media. Tidak lebay dalam menyiarkan berita. Dan, tidak kelikbayit dalam membuat judul.

Apalagi beredar berita bahwa adanya seruan boikot haji yang dilakukan sebagian negara-negara Timur Tengah. Hal ini disebabkan beredar kabar bahwa dana haji dibutuhkan oleh Arab Saudi untuk agresi Yaman dan Suriah.

Apakah benar demikian? Kenyataan bahwa Arab Saudi menyerang Yaman dan Suriah, iya. Namun, fakta bahwa dana haji yang disumbangkan untuk menyerang Yaman dan Suriah, bisa diperdebatkan. Kemungkinannya kecil.

Dana haji sebanyak apa pun itu (menurut saya) tak akan mampu menyumbang dana agresi yang mencapai 90 miliar dollar. Kalo saya tidak salah baca data, dana haji hanya mencapai 22 miliar dollar. Lalu dari mana dana agresi? Sejauh yang saya pahami, tetap minyak masih berperan menyumbang dana agresi itu.

Tapi, tak perlu banyak bahas itu. Arab Saudi ya memang begitu. Kadang membuat kita cinta, tapi kadang membikin kita benci.

Saya sebenarnya khawatir jika dugaan saya salah. Kok ternyata dana haji disumbangkan untuk agresi ke Yaman. Seperti dugaan saya salah ketika saya memuja Harun Yahya sejak kecil (FYI, saya koleksi seluruh kaset elektroniknya) eh ternyata mbelgedhes.

Begitulah ketika sedang sayang-sayangnya, tapi ternyata perasaan sayang malah diselewengkan. Hadeh.

Saya juga khawatir dengan orang-orang yang telah bermimpi untuk berhaji, menambung sekian tahun lamanya, eh ternyata dana diselewengkan. Tragis.

Barangkali, sebagian orang-orang Indonesia memang tak sampai memikirkan hal seperti itu. Yang mereka pahami, naik haji adalah melaksanakan rukun Islam yang ke lima dan berdoa segera bertemu Sang Pencipta. Titik.

Ini serius. Banyak orang-orang tua yang justru berharap dengan sangat bahwa ketika berhaji, mereka akan wafat di Tanah Suci. Saya tidak sekali-dua kali menemukan harapan seperti itu. Berkali-kali.

Mereka, yang sudah lanjut usia, bersemangat dan berharap seakan Tanah Suci adalah tanah terakhir di dunia yang akan disinggahinya. Sudah tak ada lagi keinginan apa-apa, selain bertemu dengan Sang Pencipta.

Maka tak heran, jika orang yang akan berhaji, ia akan diantar tidak hanya satu keluarga melainkan satu desa. Hal tersebut masih dapat dilihat di sebagian wilayah Indonesia.

Yang mengantar pun berharap kelak akan mendapatkan kesempatan serupa. Walaupun kita tahu antrian haji sekarang bisa mencapai 10-12 tahun. Tergantung daerah masing-masing.

Saya menemukan keseruan itu kemarin. Orang-orang berbondong-bondong mengantarkan mereka yang berhaji. Ada yang mengantarkan dengan mobil pribadi, menyewa bus, bahkan menyewa pick up. Namun, saat hendak naik bus keberangkatan yang mengantarkan ke bandara, di situlah momen magis nan liris tercipta.

Ada tangisan, ada harapan, ada kesedihan, ada kebahagiaan, semua rasa berkelindan. Semua rasa tumpah ruah.

Ada anak yang sengaja tak mau bersalaman dengan bapaknya, dan ia lebih memilih melarikan diri saat si bapak mencoba memeluknya. Ada anak yang memeluk erat orangtuanya seakan hari itu adalah hari terakhir ia menemui orangtuanya. Ada yang berkumpul bersama, kemudian berdoa secara lirih. Pelan hingga tak muncul suara.

Dan, ada ajang titip doa. Seakan menjadi tradisi, titip doa yang dituliskan di kertas kemudian diberikan saat bersalaman dengan orang yang berhaji, adalah sesuatu yang jamak dilakukan oleh masyarakat Indonesia .

Kalo sekarang, mungkin sudah agak lain. Dituliskan via pesan teks, dikirimkan ke orang yang berhaji kemudian nanti dibacakan saat di depan Ka’bah. Banyak yang percaya (dan termasuk saya) bahwa hal tersebut menjadi cara paling ampuh agar harapan kita dikabulkan oleh Sang Pencipta.

Cara tersebut mulai dipraktikkan karena dahulu tak jarang banyak kertas yang ditempelkan atau diselipkan di Ka’bah ataupun makam Nabi Muhammad. Memang iseng. Wajar. Sebab, tak semua orang diberikan ingatan lebih untuk membaca seluruh doa yang dititipkan. Beruntunglah ada teknologi.

Teknologi pula yang memudahkan kita untuk memonitori pelayanan haji. Semoga semua negara, utamanya Arab Saudi saling bekerjasama untuk menghadirkan pelayanan haji terbaik.

Selamat bertugas, Kemenag. Dan, selamat bertugas pula para pramugari dan pramugara yang senantiasa sabar dalam menghadapi orang tua kami.

Cek Kesehatan

Minggu selalu menarik bagi sebagian pekerja. Dengan Minggu, mereka bisa melepas penat setelah menghabiskan waktu di kantor. Saya pun demikian.

Tadi pagi, selepas subuh saya olahraga kecil agar tubuh saya segar. Jika orang memandang bahwa olahraga digunakan sebagai penurun kolestrol, saya menganggapnya lain. Saya berolahraga karena saya ingin makan enak. Itu penting.

Setelah berolahraga, saya keluar rumah. Sejenak mendengar suara burung dan menghirup udara pagi yang segar. Tapi, para tetangga sudah mulai sibuk. Masing-masing orang sudah membawa peralatan yang sepertinya digunakan untuk kerja bakti.

Benar dugaan saya. Kampung yang saya tinggali, Nologaten, sedang dikunjungi oleh salah satu pejabat. Ia adalah Menteri BUMN, Rini Soemarno. Rupanya, ada makna di balik kunjungan tersebut. Menabur benih ikan yang di antaranya ikan bawal dan nila, di Sungai Gajah Wong. Kebetulan, kampung saya berdekatan dengan sungai itu.

Selepas kerja bakti yang dirasa cukup singkat, saya melakukan kunjungan rutin, yaitu ke Sunday Morning UGM. Tempat di mana kamu bisa membeli jajanan atau pakaian.

Sebelum ke sana, terlebih dahulu istri mengajak saya untuk berkunjung ke Graha Sabha Pramana. Sekadar untuk lari mengelilingi satu-dua putaran. Namun, ternyata ada maksud tertentu dari istri.

“Kamu kalo sampe GSP harus cari tempat cek kesehatan, buat cek gula kamu.”

Saya sendiri sebenarnya malas. Terlebih, saya malas untuk melihat hasilnya. Sebenarnya imbauan tersebur sudah berulangkali. Tak hanya diucapkan oleh istri, tapi juga mama. Dasar imbauan tersebut adalah luka kaki kiri mulai dari dengkul hingga menuju tulang kering tak kunjung sembuh. Selalu berdarah bahkan bernanah.

Berulangkali saya mengatakan bahwa lukanya butuh proses. Jadi mungkin agak lama. Namun mereka tak percaya. Demi melegakan hatinya, saya pun mau mengikuti cek kesehatan.

Di sudut barat laut tampak beberapa anak-anak yang menawarkan cek kesehatan. Saya bergegas ke sana. Kemudian oleh anak itu ditanya nama dan umur. Lalu saya dicek tinggi badan, berat badan, dan lain-lain.

Hasilnya?

Normal. Antara tinggi dan berat badan pun ideal. Yang menggembirakan adalah usia sel saya. 18 tahun. Itu artinya 10 tahun lebih muda dari usia saya. Kemudian saya menuju tempat cek gula darah.

“Kok tangannya dingin, Mas?” tanya mbak itu.

Saya ingin menjawab, “Grogi ketemu kamu, mbak.” Namun saya hanya membatin.

Saat dicek, diambil darahnya, saya menunggu dengan hati berdebar. Takut hasilnya tak sesuai harapan. Ternyata harapan itu masih ada. Hasilnya normal. Angka 78 adalah angka yang sangat normal, karena aturannya di bawah angka 200. Lega hati saya.

Sedangkan istri saya justru mendapatkan hasil di luar dugaan. Lemaknya cukup tinggi dan usia sel lima tahun lebih tua. Si Mbak itu memberitahukan bahwa ia harus lebih banyak mengonsumsi buah dan sayur.

Saya tersenyum simpul. Ini artinya dana keuangan bisa lebih hemat, karena tak harus banyak mengonsumsi ayam apalagi kambing. Namun, demi membahagiakan istri, agaknya saya mengabaikan imbauan mbak itu.

Saya mengajak istri untuk makan di Tengkleng Pangestu. Untuk terakhir kalinya, karena mungkin saya tak lagi ke situ bersamanya sebelum lemak dan usia sel normal.

Kecuali kalo dibelikan kantor, itu lain cerita.

Diplomasi Makanan Dua Korea

Dunia sedang menanti harapan baru. Bersatunya Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) setelah 65 tahun tak berdamai. Apakah hari ini 27 April benar-benar akan terjadi Uni Korea? Tentu, banyak pertanyaan disertai prediksi yang mengemuka.

Awal tahun 2018, lebih tepatnya bulan Januari adalah sebuah momen yang mana kedua negara itu akhirnya mau bersua. Momen yang dimaksud adalah Olimpiade Musim Dingin. Tak disangka, Kim Jong Un yang selama ini sangat tertutup terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Korea Selatan, mengirim perwakilan dan sejumlah delegasi untuk mengikuti Olimpiade tersebut.

Apakah hal tersebut bisa dijadikan sebagai upaya perdamaian? Bisa jadi, karena untuk pertama kalinya sejak 2008, pemimpin kedua negara tersebut enggan untuk berjumpa.

Berbagai manuver kemudian dilakukan kedua negara. Kim Jong Un pun tak segan untuk berkunjung ke negara lain, yaitu Tiongkok. Tanpa diketahui banyak pihak, Kim Jong Un bertemu dengan Xi Jinping sang Presiden Cina.

Tentu saja, pertemuan yang terbilang singkat, seakan menjadi “pembukaan” menuju Uni Korea. Ini tak lepas karena faktor Tiongkok sebagai negara tetangga yang selalu mengajukan ide Uni Korea.
Pertemuan tersebut pun akhirnya tercium oleh beberapa negara besar. Salah satunya Amerika Serikat (AS). Donald Trump bahkan secara khusus memuji langkah Kim Jong Un yang berani menemui Xi Jinping. AS menganggap pertemua itu penting. Selain karena hubungan bilateral yang baik antara Tiongkok dan Korut, pertemuan tersebut diharapkan sebagai langkah awal untuk denuklirisasi.

Namun, apakah semudah itu Korut akan melakukan denuklirisasi? Belum tentu, karena mengingat salah satu pendongkrak ekonomi Korut melalui nuklir. Butuh eksplanasi lebih jauh untuk meyakinkan Korut akan melakukan denuklirisasi.

Menanti Jawaban Korut

Pertemuan Korut dan Korsel pada tanggal 27 April tidak akan dapat ditempuh apabila para utusan kedua negera sebelumnya tidak bertemu berulang kali. Baik utusan Korsel maupun Korut sama-sama berusaha meyakinkan bahwa pertemuan tersebut nantinya akan menghasilkan simbiosis mutualisme. Benarkah begitu?

Tunggu dulu.

Ada tiga hal yang menjadi pokok pembicaraan antarkedua negara tersebut. Pertama, denuklirisasi dan ini berhubungan erat dengan Korut. Kedua, saling meredakan ketegangan militer. Ketiga, merevolusi hubungan antar-Korea.

Dari ketiganya, ada satu pokok bahasan yang benar-benar menjadi sakral. Denuklirisasi. Korsel seakan menjadi ujung tombak dari kepentingan berbagai negara. Salah duanya adalah AS dan Jepang. AS benar-benar sangat mewaspadai nuklir milik Korut. Tahun lalu, bahkan melalui PBB, AS mengancam akan memblokade seluruh investasi yang masuk Korut.

Sedangkan Jepang, ada persoalan lain. Sejak ujicoba nuklir beberapa kali pada tahun lalu, Jepang menjadi waswas. Apalagi, nuklir tersebut sempat mencapai pulau terluar milik Jepang. Tentunya, hal tersebut akan mengancam keselamatan Jepang. Begitu pula dengan Korsel yang sangat khawatir bila benar-benar nuklir digunakan untuk mengancam dunia.

Akan tetapi, keinginan negara-negara tersebut tidak akan terlaksana apabila mereka ‘memaksa’ Korsel. Ada keputusan yang harus diambil secara matang. Terlebih, Korut pun tidak akan main-main. Keinginan Korut sebenarnya sederhana. Jika nantinya program nuklir diberhentikan, keamanan Korut harus benar-benar terjamin. Tanpa terkecuali.

Bahkan, bukan hanya itu. Ada kekhawatiran yang lebih nyata. Penggerusan ideologi komunis. Korut, yang telah lama menggeluti komunisme, akan menjadi sangat khawatir apabila ada ideologi lain yang masuk ke dalam tubuh masyarakat Korut.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Lintasan sejarah masa lampau seakan menyeruak. Perlu diingat, selepas Perang Korea tahun 1953, sempat ada upaya perdamaian. Namun, invasi AS yang berlebihan terutama untuk menghapus idelogi komunis membuat perdamaian batal. Pada akhirnya, Korut bergabung dengan Uni Soviet dan Korsel berafiliasi kepada AS.

Lalu apakah pertemuan tersebut akan berlangsung sesuai yang diharapkan yaitu perdamaian?

Diplomasi Makanan Korea

Awal Maret, menjadi pertemuan yang cukup unik. Terjadi perjamuan makan malam yang berada di Korea Utara. Saat itu, setelah melakukan pertemuan penting, Kim Jong Un beserta istri mengundang delegasi Korsel untuk makan malam di kediamannya.

Pada awalnya pertemuan terbilang hangat namun ketika salah seorang pejabat Korsel menegur kebiasaan Kim Jong Un yang merokok setelah makan, suasana menjadi tegang. Kekhawatirannya adalah Kim Jong Un menjadi marah dan pertemuan tersebut menjadi suasana yang tidak enak.

Beruntung, teguran tersebut sepertinya tak dihiraukan atau mungkin Kim Jong Un sedang terlena dengan sajian makanan khas Korut. Yang jelas, tampaknya hingga saat ini belum ada upaya untuk mengendurkan semangat perdamaian antarkedua negara.

Menginjak pertemuan yang nantinya akan diselenggarakan di rumah perdamaian yang terletak di zona demiliterisasi, akan disajikan parade makanan.

Korut akan menyajikan makanan khasnya yang berupa mie dingin ditambah dengan daging segar dan sayuran sedangkan Korsel akan menyajikan makanan berupa bulgogi yaitu daging yang dipotong hingga menjadi lembaran tipis.

Diplomasi makanan digunakan oleh berbagai pejabat untuk memudahkan jalannya diskusi. Apalagi jika nantinya akan menghasilkan kesepakatan bilateral. Indonesia di era Retno Marsudi dalam menyambut tamu negaranya selalu menyediakan kerupuk dalam sajian makanan. Selain memang camilan favorit Bu Retno, adanya kerupuk dianggap sebagai salah satu ‘elemen’ kesuksesan diplomasi Indonesia ke berbagai negara.

Makanan merupakan hal penting saat diplomasi antarpejabat negara. Tak hanya makanan, kopi atau teh juga sebagai sarana ampuh untuk mencairkan suasana apabila diskusi menemui jalan buntu.

Akankah sajian mie dingin ala Korut atau Bulgogi ala Korsel mampu meredakan ketegangan kedua negara? Menarik disimak dan kita selalu berharap terjadi perdamaian antarkedua negara.

Bulan April

Sudah lama saya tak menulis apa pun di laman blog. Mungkin ada baiknya saya menulis lagi di sini sekadar bersua dengan teman-teman yang kebetulan menyukai tulisan saya.

Bulan April kali ini memang menjadi sesuatu yang spesial. Ada rasa kesedihan dan ada rasa kebahagiaan.

Rasa sedih mungkin bisa terlihat dari ‘kekalahan’ Juventus dari Real Madrid. Yah, pada akhirnya hal tersebut menjadi ironi bagi Gianluigi Buffon karena harus mengakhiri Liga Champions lebih cepat.

Ada pula berita tentang kematian Avicii. Sungguh ini berita mengejutkan. Anak muda se-potensial tersebut harus meregang nyawa karena gangguan kesehatan di usia 28 tahun. Lagu-lagunya selalu menghiasi mp3 saya saat kuliah di Malang. Mulai dari The Night hingga Wake Up.

Terakhir, ada berita mundurnya Arsene Wenger dari Arsenal. Lebih dari 20 tahun dedikasinya terhadap Arsenal. Salah satu tulisan yang cukup membuat saya mbrebes mili adalah tulisan dari rekan saya, Yamadipati Seno. Sebagai redaktur Mojok bidang Olahraga dan pengelola Arsenal Kitchen, tulisan tentang Arsene Wenger sungguh bernas.

Di bulan April ini, saya memiliki beberapa proyek buku bersama teman-teman. Semoga salah satunya bisa terwujud tahun ini. Karena saya selalu memiliki tujuan untuk memproduksi sebuah buku dalam tiap tahun.

Doakan ya dan tunggu tanggal mainnya :’)