Menyambut Bulan Bahasa

Setiap bahasa supaya tidak menjadi langka dibutuhkan penutur bahasa yang prima. Tidak cukup dengan prima, penutur bahasa juga harus secara konsisten dan rajin untuk selalu melestarikan bahasa. Jumlah bahasa di dunia sekitar 6800 bahasa dengan sedikitnya 2000 bahasa termasuk dalam kategori rentan punah.

Dari ribuan bahasa tersebut, Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki ratusan bahasa. Ada 646 bahasa daerah yang tersebar di berbagai daerah seluruh Indonesia. Namun, dari sekian ratusan bahasa terdapat 14 bahasa yang telah punah dan 67 bahasa yang mengalami revitalisasi. Dan rata-rata bahasa yang mengalami kepunahan dan revitalisasi terletak di Maluku dan Papua.

Ada dua faktor yang menyebabkan mengapa bahasa daerah bisa punah. Pertama, para penutur meninggal dunia dan kedua, kawin campur. Banyak penutur asli terutama di daerah Maluku dan Papua telah lanjut usia. Jika mereka meninggal, maka usai sudah bahasa tersebut. Langkah termudah untuk menjaga bahasa mereka tetap ada adalah menikahkan keturunan mereka dari suku yang sama.

Ini penting. Terkadang jika melakukan pernikahan campur, maksudnya antar suku berbeda, ketakutannya adalah hilangnya identitas kebahasaan. Lambat laun mereka lupa hingga alpa kepada bahasa mereka dan pada akhirnya punah.

Tentu saya tak menyarankan kamu, kidz zaman now mengikuti saran dari adult zaman yesterday. Beda zaman, beda perasaan lur.

Oke. Lanjut.

Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang disegani dunia. Disegani dalam artian di tahun 2017, bahasa Indonesia masuk dalam 10 bahasa dunia yang paling sering digunakan. Yang mengejutkan adalah bahasa Sunda dan bahasa Jawa termasuk ke dalam 30 bahasa dunia yang paling sering digunakan. Kenapa bisa demikian?

Faktor internet.

Dalam catatan Internet World Stats, pada bulan Juni 2017 bahasa Indonesia telah dipakai masyarakat dunia sebanyak 157 juta orang. Kamu pasti bertanya, “Loh, bukannya jumlah masyarakat Indonesia sebanyak 250 juta orang? Ini kenapa kok bahasa Indonesia hanya dipakai 157 juta orang? Dan itu sudah termasuk warga seluruh dunia?”

Nah, Jadi begini.

Situs tersebut hanya mendeteksi seberapa banyak cuitan atau tulisan yang menggunakan bahasa Indonesia melalui internet. Bukan melalui lisan. Tidak semua dari 250 juta orang Indonesia pasti menggunakan internet bukan? Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mau dan bisa menggunakan internet.

Akan tetapi jika dilihat dan dihitung seberapa banyak orang yang menggunakan bahasa Indonesia secara lisan, ada sekitar 295 juta orang. Apakah itu banyak? Jika dibandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Tiongkok, maka pengguna mereka masih lebih banyak. Kedua bahasa tersebut telah digunakan oleh masyarakat dunia sebanyak 1,4 miliar. Jika penduduk dunia berjumlah 7 miliar, maka 20% penduduk dunia bisa menggunakan bahasa Inggris dan Tiongkok secara lisan.

Namun, kita ambil sisi positifnya. Perkembangan teknologi yang makin maju utamanya internet ikut membawa dampak yang baik bagi bahasa Indonesia. Setiap orang tergerak untuk menuliskan sesuatu dengan mencoba menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik itu di dunia nyata maupun dunia maya.

Sayangnya, itu tak mudah. Beberapa kali, para warganet terpeleset untuk menuliskan kata dan kalimat dalam bahasa Indonesia. Seperti membedakan kata (di) harus dipisah atau disambung, menuliskan kata silahkan atau silakan, hingga penggunaan kata kids zaman now.

Khusus yang terakhir ini cukup menimbulkan perdebatan banyak warganet. Kenapa harus keminggris? Kenapa kita tidak menggunakan frase anak jaman sekarang? Sampai sekarang saya sendiri juga belum menemukan asal muasal kata tersebut. Kalian bisa search atau you iso ask ke Cinta Laura.

Mungkin penggunaan kata tersebut supaya cuitan kita lebih internesyenel atau lebih kekinian. Bukankah sekarang eranya huruf (i) diganti (y)? Bukankah mencampur adukkan kata antara kata Inggris dan Indonesia sedang populer? Ya, tampaknya demikian.

Maka beruntunglah warganet memiliki Ivan Lanin dan Marno Mbois yang boleh dianggap sebagai polisi dan pelestari bahasa. Mereka senantiasa konsisten menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Mereka setia selalu menanti pertanyaan apapun terkait bahasa. Dan bisa dipastikan mereka senantiasa menjawab pertanyaanmu terutama om Ivan Lanin.

Nah, menurut om Ivan Lanin untuk pertanyaan kenapa huruf (i) diganti (y) itu adanya gejala modifikasi fonetis yang disebut “celoteh bayi”. Maka bisa jadi yang mempopulerkan kata terciduk diganti tercyduk adalah para pengasuh bayi. Karena ada interaksi antara orang dewasa yang mencoba menirukan cara bicara si bayi.

Kalo untuk pertanyaan kenapa kok kita lebih suka menggunakan kalimat keminggris, nah itu masih belum tahu jawabannya. Bisa jadi karena orang-orang yang melakukannya terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, kamu, atau kita mendengarkan orang-orang seperti itu dan merasa jengah pasti bakal berucap, “Mbelgedhes, belagu amat jadi orang!”

Oleh karenanya menyambut bulan Oktober sebagai bulan bahasa, mari kita pergunakan dan lestarikan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Jika ada kesulita menggunakan bahasa tersebut, maka konsultasikan pula dengan pihak-pihak yang berwenang. Kamu bisa tanya ke badan bahasa, Ivan Lanin ataupun Marno Mbois.

Tapi, saran saya jangan juga kamu bertanya sesuatu yang sukar dijawab apalagi dipahami. Seperti salah seorang warganet yang bertanya kepada Marno Mbois.

“Mas, nek rai mlotrok iku artine opo?”
Butuh lebih dari 5 menit bagi beliau untuk menjawab. Dan kemudian,

“Deloken foto profilku, su!”

Advertisements

Aku Punya Mobil, Aku Punya Garasi

Sebuah ilustrasi garasi

Mengamati Jakarta sebagai ibukota selalu memunculkan peristiwa berupa kebijakan menarik. Mulai dari pembatasan sepeda motor di jalan-jalan protokol yang menuai kemacetan, pemberlakuan uang elektronik di tol mulai 1 Oktober 2017 hingga yang paling mutakhir keharusan pemilik mobil memiliki garasi tersendiri. 

Sebenarnya kebijakan yang terakhir adalah produk lama. Kalo mau dicek lebih lanjut ternyata kebijakan tersebut adalah peraturan daerah no 5 tahun 2014. Nah kan! Udah berjalan 3 tahun loh. Kenapa baru heboh sekarang?

Bukan menjadi rahasia umum, tak ada lele maka tak ada air yang bergejolak. Bermula dari sebuah foto yang menghadirkan penempatan mobil mewah di pinggir jalan dan kebetulan memakan ruang jalan, maka peraturan tersebut didongengkan kembali. 

Kok ya kebetulan ruang jalan tersebut adalah ruang biasa dipakai rang-orang untuk lewat kendaraan umum. Yasudah, rang-orang di sekitar daerah situ menjadi heboh. Walaupun sang pemilik kendaraan berkelit sedemikian rupa, alasan hanyalah sekedar alasan. 

Kemunculan foto tersebut di media sosial telah menjadi santapan empuk nan lezat bagi warganet. Mungkin pemilik kendaraan lupa bahwa warganet Indonesia termasuk 5 besar di dunia untuk urusan mengakses media sosial. Jadi dirinya sungguh kaget ada ratusan hingga ribuan baik dukungan maupun cacian kepada dirinya. 

Ada yang mengkaitkan tentang kewajiban pajak bagi mobil mewah. Ada pula yang berusaha menelusuri foto tersebut hoax atau bukan. Ada juga yang mengkritisi layaknya pengamat transportasi bahwa ruang jalan harus diperlebar. Namun dari sekian komentar yang paling lucu adalah ada yang mengkaitkan jalan menjadi sempit karena Ahok turun dari jabatan gubernur DKI.

Duh, rasanya susah juga ya membi(n)asakan kenangan!

Seharusnya kalo mau diteliti lebih seksama, penggunaan garasi memang sangat vital. Bukan hanya untuk menyimpan mobil saja melainkan bisa juga menyimpan motor, uang, maupun tersangka korupsi yang berusaha kabur ke luar negeri. Eh. 

Padahal di dalam perda no 5 tahun 2014 sudah dijelaskan di paragraf 7 tentang pengawasan dan pengendalian angkutan jalan pasal 140 halaman 61 secara jelas dan nyata. Ada 5 poin yaitu 1) Setiap pemilik kendaraan bermotor wajib memiliki garasi. 2) Setiap pemilik kendaraan bermotor dilarang menyimpan kendaraan di ruang jalan. 3) Setiap pemilik kendaraan bermotor wajib punya garasi yang dibuktikan dengan surat kepemilikan garasi dari kelurahan setempat. 4) Surat tersebut menjadi bukti untuk syarat penerbitan surat tanda nomor kendaraan bermotor. 5) Ketentuan lebih lanjut sesuai dengan peraturan gubernur.

Nah, berarti sudah jelas dan terpampang nyata bahwa kalo mau punya mobil maka harus punya garasi. Saya juga memahami perasaan rang-orang yang tersinggung kalo ruang jalan malah dipakai parkir mobil. Kok mobil, kalo ada motor yang dengan sengaja parkir di depan rumah, saya aja agak senewen. 

Makanya ndak heran juga sebagian rumah di Jakarta ada tanda “jangan parkir di depan rumah”. Selain karena mengganggu ruang jalan dan membuat pemandangan menjadi tidak sedap, andaikan kalo kendaraan tiba-tiba hilang maka kita jadi ikut dikaitkan menjadi saksi. Duh jadi saksi aja males apalagi kalo statusnya naik jadi tersangka mending kabur ke luar negeri tapi ga perlu balik lagi. Eh.

Lalu bagaimana solusinya? Soalnya sudah terlanjur banyak DP murah buat beli mobil. Jadi sayang untuk dilewatkan. Selain itu, kasihan juga produsen mobil. Sudah susah-susah buat mobil, DP menjadi ‘sangat’ murah masak ndak ada yang beli. Kasihan juga bagi pemerintah sudah repot-repot buat jalan tol, belum lagi bikin simpang Semanggi yang konon aduhai kan ndak enak juga sama pemerintah. 

Bukankah jalan tol dibuat demi memberikan kenyamanan bagi warga untuk bergegas membeli mobil? Kalo alasannya untuk mengurai kemacetan sebenarnya bisa pakai kendaraan umum. Tapi ternyata bukan itu masalahnya. Kita sudah terlanjur memiliki sifat konsumtif yang cukup tinggi. Ditambah kalo pake kendaraan umum mungkin harus bergonta-ganti. Belum lagi ditambah harus jalan kaki untuk sampai ke tempat tujuan. Patut diingat bahwa kita (utamanya rang-orang Jakarta) adalah masyarakat yang malas jalan kaki. Bukan begitu mas peneliti Standford University?

Jadi alangkah lebih baik kita memanfaatkan lahan kosong sebagai garasi. Masa ya ga mau pemerintah menerbitkan izin penggunaan lahan untuk dialihfungsikan menjadi garasi. Buat apartemen dan hotel saja bisa kok. Eh. 

Menurut saya, ada beberapa lahan yang bisa dimanfaatkan pemerintah untuk menjadi garasi. 

1. Sawah

Kenapa sawah menempati urutan pertama? Karena sawah adalah lahan paling enak buat diperjualbelikan. Apalagi sudah banyak lulusan persawahan malas balik kembali ke sawah. Lebih baik ke bank. Ini saya cuma mengutip pernyataan Bapak Presiden Yang Terhormat (harus pake yang terhormat nanti kalo alpa bisa tercyduk) waktu njenengan pidato di IPB. Lagipula kita sudah menjadi bangsa impor. Beras kita kan sudah impor dari Thailand, apa masih mau impor dari negara yang lain? 

Emang masih ada yang mau ya warga Jakarta balik ke sawah? Rasanya sungguh susah. Kalopun ada, mungkin hanya 0,00001 persen dari total jumlah warga Jakarta. 

2. Lapangan Sepakbola

Ini bisa menjadi opsi kedua bagi pemerintah. Banyak lapangan sepakbola yang malah tidak dimanfaatkan dengan baik. Yang ada rumputnya makin meninggi. Malah yang paling mengenaskan dibuat untuk lahan makan bagi kambing atau sapi. Dih, aneh. 

Lebih baik pemerintah beli saja sebagian lapangan sepakbola yang terbengkalai. Kalo ndak mau mending menyuruh kelurahan setempat untuk mengelolanya. Caranya? Tetapkan iuran yang pantas bagi pemilik mobil yang tak punya garasi. Nah, jadinya kan sama-sama enak. Pemilik mobil lega, kas kelurahan meningkat. Daripada harus repot-repot menyunat dana desa, mending meningkatkan pendapatan dari penyewaan garasi. Mudah bukan?

3. Mall

Loh kok pilihan terakhir ada mall? Tunggu dulu. Ini bukan mall yang diperuntukkan sebagai pusat perbelanjaan. Melainkan untuk dijadikan sebagai pusat pergarasian. Jadi mall khusus untuk penyimpanan mobil. Kalo perlu diperluas menjadi mall penyimpanan kendaraan bermotor. Jadi tak hanya mobil, melainkan motor, bus bahkan truk. 

Nanti disediakan beberapa kios yang dijadikan tempat untuk penyewaan garasi. Jadi para pemilik kendaraan bisa memilih kios mana yang pantas baginya. Mungkin semacam ada pilihan deluxe, premium atau VVVVIIPP. Semuanya sama-sama aman. Cuman yang beda kualitas dan tata letak kenyamanan garasi. Bisa jadi kalo deluxe yang menjaga adalah sipir LP Cipinang sedangkan VVVVIIPP yang menjaga adalah salah satu pengawal Raja Salman. 

Sama-sama aman dan nyaman bukan?

Jadi buat pemilik mobil atau kendaraan bermotor lainnya, jangan khawatir atau ragu-ragu untuk tidak membeli. Beri beban untuk pengurusan garasi pada pemerintah. Biarkan mereka yang berpikir. Kita sudah mau membelanjakan harta untuk kendaraan bermotor kok masih harus mikir buat garasi. 

Oh iya satu lagi. Jangan kasi pajak yang tinggi untuk garasi. Cukup pajak penulis saja yang tinggi. 

Tabik. 

MAAF


Demam PKI merebak di mana-mana. Mulai dari grup Whatsapp, media sosial macam Facebook dan Twitter, radio hingga sebuah acara televisi di hari selasa kemarin. 

Bapak saya pernah mengisahkan sebuah peristiwa tentang PKI di tahun 60an. Baginya, PKI begitu mengerikan. Mereka keliling Surabaya tanpa henti dan itu berlangsung hampir tiap hari. 24 jam. Bernyanyi sambil berteriak,

“Dengkul Jaran ayo ran, Rantai Kapal ayo pal, Palu Ariiit…”

Itu sepenggal lirik yang begitu membekas bagi bapak. Saya yang diceritakan seperti itu aja bingung. Cuman bisa bergumam, kok ya ndak capek muter-muter 24 jam tanpa henti? 

Wong, kita aja dengerin konvoi moge dalam sehari aja bisa misuh-misuh ga karuan. Lha ini hampir tiap hari. Tapi waktu itu memang bapak dan sodara-sodara lain memang tak bisa berkutik. PKI memang berkuasa. Apalagi di Jawa Timur, wah jumlahnya tak terkira. 

Memang pesona PKI di Jawa Timur begitu luar biasa. Saking luar biasanya, kalo mereka sudah berkeliaran, banyak warga yang lebih memilih tiarap di rumah. Termasuk bapak saya. 

Ibu saya pun mengamini apa yang dikatakan bapak. Baginya, anggota partai berlambang palu arit sungguh menakutkan. Lebih baik jangan ada obrolan PKI diantara keluarga.

Lucunya, bapak dari ibu saya adalah penggemar Soekarno. Kalo boleh dibilang, kakek saya itu Soekarnoisme. “Urip Mati pokoke Soekarno.” Begitulah kutipan kakek saya. 

Uniknya, adik dari kakek saya adalah anggota TNI yang cukup memiliki pangkat. Saya lupa pangkatnya. Hampir setiap malam, beliau mengunjungi rumah kakek saya. Tujuannya hanya satu. Menjaga supaya kakek saya tidak terciduk oleh teman-temannya adik kakek. 

Sudah begitu rumah kakek dijadikan kumpulan para pemuda-pemuda Marhaen. Semua suku ada, dari Batak, Jawa dan lainnya. Dan kumpulan tersebut terjadi hampir setiap malam. Betapa riuhnya malam hingga membuat nenek saya selalu menyediakan gorengan beserta teh dan kopi. 

Menjelang peristiwa yang sungguh mendebarkan, adik kakek saya selalu datang lebih awal. Kalo biasanya jam 9 ke atas, saat itu selepas maghrib sudah hadir di rumah. 

“Sudah mas, kalo ngobrol politik atau ada unek-unek apa saja dilimpahkan ke saya saja mas. Jangan sampai terdengar ke luar”

Ia benar-benar mencintai kakek. Maklum, mereka hanyalah berdua. Orang tua mereka alias buyut sudah tak ada sejak kecil. Sudah begitu, mereka sempat terpisah satu sama lain hingga akhirnya dipertemukan kembali oleh suatu peristiwa (lain kali saya ceritakan).

***

Malam tadi selepas maghrib, seperti biasa saya, adik, bapak, ibu ngobrol tentang apa saja. Tapi berhubung lini masa dikuasai penuh dengan berita PKI dan semacamnya, alhasil obrolan mengarah ke situ. 

Saya sebenarnya agak malas menanggapi berita-berita macam itu. Apalagi bapak malah nyanyi lagu-lagu PKI yang ternyata unik juga liriknya. Beliau hafal ya karena peristiwa itu. Demo 24 jam tak henti-henti.

Pada akhirnya timbul sebuah pertanyaan ke saya. “Apakah PKI pantas dimaafkan?”

Saya tak bisa menjawab. Tapi kemudian pertanyaan itu saya balik kepada mereka menjadi sebuah analogi. 

“Andaikan saat itu kakek diculik dan dibunuh oleh PKI, kemudian suatu saat bapak dan ibu tahu siapa pembunuhnya. Bahkan sampai tahu anak dari pembunuh tersebut karena notabene sepantaran dengan ibu bapak. Apakah bapak dan ibu bersedia memaafkan pembunuh itu beserta anaknya. Dan apakah bapak ibu (tidak) menyimpan dendam?”

Tak ada jawaban. Bagi saya sendiri itu sungguh pertanyaan sulit. Saya bertanya begitu karena saya memiliki teman-teman di Jawa Timur yang kebetulan banyak buyutnya yang dibunuh dan dibantai oleh PKI. Mereka pun dengan terus terang bahwa mereka masih menyimpan dendam kepada para pembunuh saudara mereka. PKI tak pantas untuk dimaafkan. 

Saya pun memahami posisi mereka. Saya juga tak yakin apakah jika kejadian itu terjadi pada keluarga saya, apakah saya mampu memaafkan pembunuh? Entahlah.

Namun begitu saya juga memiliki teman-teman yang kebetulan dulunya punya hubungan dengan PKI. Keluarga mereka juga dibunuh. Tanpa tahu alasan yang jelas, pokoknya karena punya darah PKI. Ya harus dibunuh. Kalo perlu dibantai.

Saya juga bersimpati kepada mereka. Keluarga mereka dibunuh tanpa sedikitpun melakukan kesalahan. Memang sungguh-sungguh mengerikan peristiwa 65.

Makanya saya salut kepada mereka baik para keluarga yang dulunya pernah terlibat konflik berdarah. Baik dibunuh atau membunuh. Mereka sudah saling melupakan dan mau untuk merajut masa depan yang lebih baik. 

Kata “maaf” adalah sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit untuk diterima. Butuh kesabaran mental, ketahanan tubuh hingga pikiran yang jernih untuk menerima maaf. 

Selamat Tahun Baru Islam 1439 H

Enam Tahun Bersama Penunggu Kamar

Denah oleh Moggie SW

Bagi sebagian anak muda, merantau adalah berkah. Bertemu dengan teman-teman baru. Bergaul dengan lingkungan baru, mencoba makanan asing hingga bertemu dengan makhluk-makhluk asing. Khusus yang terakhir adalah pengalaman saya bersemayam di rumah nenek selama 6 tahun. 

Malang. Kota yang identik dengan salah satu klub sepakbola terbaik di tanah air. Mereka menyebutnya Arema Malang. Selain itu, Malang dikenal sebagai taman bunga. Itu terlihat jika kamu sedang melewati jalan Ijen. Selain taman bunga, daerah ini dikenal sebagai wisata sejarah karena banyak rumah-rumah kolonial yang teronggok di area ijen.

Berjalan ke arah barat pun kamu mungkin takjub dengan pemandangan rumah-rumah mewah bergaya Eropa bak menjulang tinggi ke angkasa. Konon katanya, deretan rumah tersebut hanya dikunjungi pemiliknya setahun sekali. Diantara deretan rumah-rumah mewah, ada rumah sangat sederhana yang ditempati saya, nenek, paman dan almarhum kakek saya. Lebih tepatnya di belakang area Wilis. 

Rumah nenek terbagi menjadi tiga bagian. Ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Ruang depan diisi ruang tamu dan ruang keluarga. Di sebelah ruang keluarga ada dua kamar. Kamar pertama diisi oleh paman saya sedangkan yang kedua diisi oleh nenek saya. Khusus alm.kakek, beliau lebih suka beraktivitas hingga tidur di ruang keluarga. 

Di ruang tengah terdapat satu kamar tidur yang berhadapan langsung dengan kamar mandi. Sedangkan di ruang belakang ada garasi, dapur, dan satu kamar yang nantinya ditempati oleh saya (sekarang jadi ruang tidur tamu/musholla). Diantara ruang tengah menuju ruang belakang ada semacam lorong yang kalo lampu ndak dinyalakan maka gelap gulita. 

Saya mulai menempati rumah nenek saat tahun 2008. Tahun yang mana saya memulai perkuliahan. Saya ditempatkan oleh nenek di kamar bagian ruang belakang. Kata nenek, kamar belakang adalah bekas kamar bapak saya. Jadi untuk mengobati kerinduan kepada Jogja khususnya kepada Bapak, maka rindu bisa dibayar tuntas hanya dengan tidur di kamar tersebut. 

Nyatanya tidak. 

Kamar tersebut seakan menjadi kamar yang memunculkan pesona horror. Suasanya singup seperti tak ada angin yang masuk. Padahal, diatas tempat tidur saya terdapat dua jendela besar. Tapi rasanya percuma. Bukannya angin yang masuk, tapi malah cicak, tawon, hingga tokek menginap di kamar saya. 

Asalkan mereka tak menimbulkan bising sih tak apa-apa. Tapi masalahnya kalo si tokek mengeluarkan suaranya. “Tekkkekkk, Tekkkekkk, Tekkkekkk.” Kamu tahu kan mitos yang berkembang di Jawa? Kalo si tokek bersuara saat dini hari berarti ia sedang berkomunikasi dengan makhluk-tak-kasat-mata di area tersebut. 

Itu yang mengganggu saya, hingga akhirnya saya mau tidak mau menutup jendela supaya hewan-hewan kesayangan tak berkeliaran di kamar saya. 

Namun, ternyata yang berkeliaran tak kunjung usai. Hilang hewan kasat mata, berganti makhluk-tak-kasat-mata muncul sesekali menjelang pukul 01.30-02.30 pagi. Seakan ingin mengabarkan sesuatu. 

“Mas Moddie, saya di sini. Di pojokan. Temani saya yha, uwuwuwu.”

Ia hanya mengganggu saya saat jam segitu. Misal, gantungan baju dan celana dikibaskan. Kadang dibuat jatuh. Tak ada angin dan tak ada petir, tiba-tiba lemari pintu sebelah kiri terbuka dengan sendirinya. Belum lagi ketika saya sedang asyik-asyiknya menonton sepakbola dini hari, televisi mendadak menjadi layar semut. Kemudian gelap.

Mungkin maksudnya baik. Pada jam segitu adalah waktu yang tepat untuk bermunajat ke Tuhan. Shalat Tahajud. Tapi karena iman saya mungkin terlalu lemah, saya lebih suka mangkir dan memilih untuk mengumpat kepada dia. 

“Jancook, ga isok meneng a kon?!!”

Anehnya, kalo sudah dibilang begitu, kok ya mendadak diam. Hening. Tak ada suara. Apa jangan-jangan dia adalah penunggu asli Malang? Entahlah. Saya juga tak peduli. 

Oh iya, sedikit intermeso. Hampir seluruh teman saya menganggap rumah nenek saya adalah rumah kentang. Karena mereka mengganggap hawanya mencekam. Ini ditambah lampu depan teras rumah diberi lampu berwarna merah, kadang-kadang kuning berdaya listrik 5 watt. Mirip rumah seperti film Insidious bukan?

Tak ada satu pun dari teman saya yang berani menginap di rumah nenek. Pernah suatu kali mencoba menginap di kamar saya. Baru satu jam ia memejamkan mata, teman saya itu ingin balik ke kosan lagi. Katanya, ia seperti diajak kejar-kejaran oleh gerombolan anak kecil yang tak terhitung jumlahnya. 

Kalo sudah begitu saya hanya bisa nyengir. Lha, itu sudah menjadi makan malam saya sehari-hari saat tidur. Kalo gak dikejar-kejar mereka ya paling diajak melanglang buana sama si dia-yang-berada-di-pojokan. 

Pernah suatu kali saya mengalami ketakutan yang luar biasa. Saat itu menjelang maghrib. Nenek, alm.kakek dan paman pamit beranjak mau pergi ke masjid yang langsung dilanjut pengajian. Tinggallah saya di rumah. Sendirian. 

Saya beranjak mau mandi mengingat badan sudah mambu keringat mengkudu dicampur ekstrak manggis. Ingat, Jangan pernah mencoba merasakan baunya. Saat itu, saya mau ambil pakaian di kamar. Tapi ada yang aneh begitu memasuki kamar. 

Ada bau yang lebih busuk daripada bau badan saya. Seumur-umur saya tinggal di kamar, baru kali ini ada bau busuk. Dalam sekejap, bulu kuduk merinding. Keringat mengucur deras. Secepat kilat, saya ambil pakaian dan bergegas untuk ke kamar mandi. 

Di dalam kamar mandi, saya hanya bisa bersiul sambil sesekali nyanyi dalam suar fals. Mau bagaimana lagi? Masa’ saya berdoa di dalam kamar mandi? Kan katanya saru. 

Keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk untuk menutupi kemaluan, aya mencoba berjalan senyap menuju kamar. Ternyata baunya tak kunjung hilang. Justru semakin busuk. Perut mual. Kepala puyeng. Saya segera berganti pakaian bergegas meninggalkan rumah. 

Hampir 3 hari lamanya saya tak kembali ke rumah. Karena takut nenek cemas, mau ga mau saya harus balik ke rumah. Tapi terlebih dahulu saya menelpon teman saya yang kebetulan menyambi profesi sebagai “orang pintar”.

Setelah menelepon dan mengutarakan keluh kesah (bukan curhat) tentang kamar, teman saya hanya berkata,

“Kalo kamu balik, cari beras kuning, kemudian lemparkan ke seluruh lantai. Sepertinya kamarmu dulu bekas tempat pemujaan. Nah mungkin saat itu, Ia dan beberapa temannya ingin bernostalgia untuk kembali ke kamarmu.”

Saya hanya bisa membatin “Hancik, kenapa dari dulu bapak ga ngobrol”.

Selepas melaksanakan amanat tersebut, bau sudah tak ada. Gangguan menghilang. Hidup kembali normal. 

3 tahun yang lalu saya wisuda. Bapak dan ibu berkunjung ke rumah nenek. Bercengkrama sembari cerita-cerita masa lalu. Saat asyik bercerita dengan seluruh anggota keluarga, bapak memanggil saya untuk masuk ke kamar saya.

“Alhamdulillah mas, kamu udah wisuda dan udah banyak melewati rintangan serta hambatan. Termasuk untuk kamar ini.”

“Memangnya kenapa pak?”

“Ya jelas kamu bisa melewati tantangan selama 6 tahun untuk kuliah di Malang. Tidur di kamar ini pula.”

“Ada apa sih pak?” Saya penasaran karena bapak tersenyum aneh.

“Disini itu gudangnya hantu. Jadi kalo kamu merasa ada gangguan, ya wajar. Apalagi kalo kamu tidur. Di sebelahmu itu ada yang tidur juga. Kalo ndak genderuwo atau kuntilanak. Jadi kamu hebat mas. Lolos ujian.” Bapak mengakhiri kalimat tersebut sembari menepuk bahu saya sebelah kiri.

Saya hanya terdiam. Bulu kuduk merinding. Mata berkedip berulang kali. Semenjak mendengar perkataan itu, saya tak pernah lagi tidur di kamar. 

Kini kamar tersebut beralih fungsi menjadi musholla. Tapi saya tak tahu apakah dia-yang-tak-kasat-mata masih di sana atau sudah pindah. Toh, saya tak peduli!

Misteri Angka 7 yang Membayangi Najwa Shihab

Najwa Shihab mengumumkan akan berhenti dari Metro TV. Ia memutuskan untuk rehat, setelah berkarir selama 17 tahun. Dengan begitu, acara ‘Mata Najwa’ bakal berhenti pula. Ada apa ini?

Di berbagai linimasa berseliweran berita tentang mbak Nana, sapaan akrab Najwa Shihab. Tak terkecuali di grup WA keluarga saya. Banyak yang menyayangkan mengapa mbak Nana harus undur diri dan ‘Mata Najwa’ harus berhenti tayang.

Ibu saya yang jarang lihat televisi bahkan ikut berkomentar. “Kae ngopo to le, kok acara Mata Najwa mandeg? Diseneni Jokowi po?” Saya nggak bisa jawab. Wong, saya juga bingung. Bak halilintar yang menyambar, memang berita tersebut cenderung hoax.

Mbak Nana sudah mengumumkan keputusannya melalui akun Twitter pribadinya. Salah satu bunyi kalimat yang begitu menyesakkan: “Namun Agustus bukan hanya menjadi yang terakhir bagi Mata Najwa saja. Menjadi reporter Metro TV pada bulan Agustus 2000, perjalanan saya bersama Metro TV juga akan berakhir pada bulan yang sama. Ini adalah Agustus penghabisan.”

Duh, rasanya mbrebes mili membaca kalimat itu. Saya pertama kali bertemu dengan mbak Nana dalam sebuah acara di Salihara. Melihat sambil menatap matanya, membuat saya gentar. Saya pikir dia adalah salah satu perempuan terbaik yang ada di Indonesia saat ini.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, acara ‘Mata Najwa’ bisa dibilang acara wajib. Tidak hanya kaum terpelajar. Kaum awam pun menikmati acara ini. Konon, ketika ‘Mata Najwa’ hadir mulai pukul 20.00 WIB, beberapa kampung di lingkungan saya rela memadatkan jam belajar yang biasanya pukul 19.00-21.00 menjadi 19.00-20.00.

Mbak Nana seakan mampu membius kalangan masyarakat dari menengah ke bawah hingga ke atas. Mau acara ‘Mata Najwa’ digelar di kampung, balai desa, universitas, hingga di luar negeri sana, acara tersebut selalu dihadiri ribuan pasang mata.

Saya meyakini, mungkin bukan acaranya yang bikin sebagian orang termotivasi untuk menontonnya, melainkan kepiawaian mbak Nana itu sendiri. Ia selalu menghadirkan berbagai pertanyaan yang sarat kontroversi.

Pertanyaan yang cerdas tanpa basa-basi itu bisa positif, bisa juga negatif. Yang pada akhirnya membuat narasumber clakep, mingkem, hingga ndelesep. Tak mampu menjawab pertanyaannya. Harus diakui, selain Raisa dan Isyana, ditambah Via Vallen, pesona mbak Nana warbiyasak.

Banyak spekulasi yang beredar, mungkin berhentinya mbak Nana karena episode ‘Live eksklusif bersama Novel Baswedan’. Mereka mengira mbak Nana ditekan dari segala sudut pandang.

Saya rasa kok itu pikiran cupet sekali. Ha, kalau memang cuma permasalahan seperti itu, mungkin sudah dari dulu mbak Nana berhenti. Wong, masih banyak episode yang lebih menghebohkan sebelum episode Novel Baswedan.

Saya malah berpikir, berhentinya mbak Nana karena pemilihan angka saja. Sekarang begini, mbak Nana berhenti tepat 7 tahun setelah ‘Mata Najwa’ beredar. Mbak Nana juga berhenti tepat 17 tahun, yang mana ia berkarir menjadi reporter di Metro TV sejak tahun 2000.

La kok ndilalah, setelah saya cek di dinas kependudukan dan catatan sipil, mbak Nana ternyata lahir pada 1977. Ia adalah putri kedua Quraish Shihab, Menteri Agama era Kabinet Pembangunan VII.

Yang unik, klub sepakbola favoritnya mbak Nana juga memiliki 7 huruf: ARSENAL. Tau kan? Itu lho klub semenjana yang pelatihnya nggak pernah ganti, dan sudah juara Liga Champions sebanyak 7 kali, eh?

Apakah ini sebuah kebetulan? Bisa ya, bisa tidak. Yang pasti, ia berhenti dari media yang membesarkan namanya saat negeri ini dipimpin oleh presiden ke-7, duaarrr…

Ya namanya juga cocoklogi.

Yang jelas, pada 16 September 2017, ia akan menginjak usia 40 tahun. Tentu, ini usia yang kalau kata orang adalah puncak karir seseorang. Ini penting untuk mengetahui apa yang akan dilakukan setelah ini.

Mbak Nana memang belum kasih jawaban yang sah, sah, sah, dan meyakinkan. Cuma kasih kode-kode gitu, ah mbak… Ia hanya berkata kepada salah satu media, “Tunggu saja setelah 3 minggu.” Maksudnya, setelah produksi ‘Catatan Tanpa Titik’ yang akan ditayangkan pada akhir Agustus, 3 minggu kemudian, ia akan memberi jawaban pasti.

Kalau sudah begini tentu masyarakat dibuat keheranan. Apakah ‘Mata Najwa’ akan kembali dengan konsep ‘Mata Najwa Reborn’ atau mbak Nana akan hadir dengan tampilan yang berbeda? Misalnya, ‘Hijabnya Mbak Nana’, gitu?

Atau, jangan-jangan, ia akan memproklamirkan akan mencalonkan diri sebagai presiden pada 2019? Atau, menjadi ketua partai kayak mbak Grace Natalie? Ya namanya juga spekulasi, sama halnya dengan spekulasi yang canggih-canggih soal di balik pengunduran diri beliau.

Tapi kalau boleh kasih saran, mending mbak Nana benar-benar rehat. Jangan pernah kembali muncul di televisi. Kalau perlu benar-benar menghilang dari seluruh media sosial. Nggak perlu aktif di Instagram, Twitter, ataupun Telegram. Jadi ibu rumah tangga aja, mbak. Lho kok? Baper ini…

Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau mbak Nana sudah benar-benar menghilang lalu tiba-tiba muncul lagi, maka saya akan berkata, “Mbak Nana, yang kamu lakukan ke kami itu, jahat…”

Dimuat di voxpop.id tanggal 9 Agustus 2017. 🙂

Mie Instan: Komoditas Penting Masyarakat


Apa jadinya jika semua makanan Indonesia harus impor? Beras impor, garam impor, gula impor, daging sapi juga ikutan impor. Lalu apa yang tak perlu diimpor? 

Mie instan. 

Mungkin mie instan adalah penemuan terbaik yang pernah ada di dunia. Ditemukan di Jepang oleh Momofuku Ando kemudian mie tersebut menjadi populer di Indonesia. Apa yang membuat mie instan layak digemari? Mudah, praktis, dan rasa menawan. Ketiga faktor tersebut layak dijadikan kunci kenapa mie instan menjadi favorit bagi masyarakat Indonesia. 

Kita boleh berbangga bahwa kita memiliki produk mie instan yang dikenal di luar negeri. Mulai dari Serbia, Maroko, hingga Nigeria. Untuk negara yang terakhir ternyata sudah lebih dari 20 tahun mie instan Indonesia telah berada di sana. Saking lamanya, masyarakat Nigeria lebih menyebutnya makanan asli Nigeria bahkan cenderung menjadi makanan primer. Bukan nasi seperti di Indonesia. 

Tidak hanya di luar negeri. Di negeri kita yang makin senang impor kebutuhan pokok, mie instan layak mendapat sebutan sebagai makanan utama pengganti nasi. Sebagai contoh, dimanapun ada bencana di Indonesia, sudah pasti kebutuhan makanan yang pasti ada di wilayah pengungsian adalah mie instan. Bukan beras. Bukan pula sagu. 

Kalo kamu perhatikan pula posko mudik lebaran, hampir setiap perusahaan mie instan berlomba-lomba mendirikan posko. Dan memang terbukti, banyak pemudik yang memanfaatkan tempat tersebut untuk santap pagi-malam. Ada yang gratis. Ada pula yang berbayar. 

Selain itu, bagi mahasiswa/i yang uang di dompetnya tinggal sehelai daun jeruk, maka mie instan menjadi messias bagi perut yang butuh pemadam kelaparan. Kalopun kamu pergi kemah di gunung ataupun di pantai, sudah pasti di setiap tas minimal terdapat satu bungkus mie instan. Saya berani bilang begitu karena sehabis kemah di pantai/gunung selalu saja ada bungkus mie instan yang berserakan. Mungkin maksudnya meninggalkan kenangan yang berbekas. Eh kenangan apa sampah? 

Mie instan memang layak digemari. Kalo dulu mungkin kamu hanya bisa merasakan rasa ayam goreng dan soto, sekarang sudah bermacam-macam. Ada rendang, pecel, kari dan masih banyak lainnya. Saya masih menunggu akankah ada produk mie instan yang mengandung rasa buah. Rasanya mungkin bisa menjadi solusi bagi mereka yang ingin makan mie tanpa harus menambah pencuci mulut. Mie rasa buah.

Berdasarkan data The World Instan Noodles Association, pada tahun 2015, data penjualan mie instan berada di angka sekitar 97 miliar Jika jumlah seluruh manusia bumi berjumlah sekitar 7,2 miliar pada tahun tersebut, kira-kira setiap manusia bumi menghabiskan 13 bungkus mi instan setiap tahunnya. Luar biasa bukan? 

Di Indonesia, masyarakat yang mengonsumsi mie instan paling sering ada di Bangka Belitung. Kalo masyarakat yang paling jarang mengonsumsinya ada di NTT. Dalam sepekan mereka hanya mengonsumsi tak sampai setengah bungkus mi instan 80 gram. Bandingkan dengan masyarakat Bangka Belitung yang mengonsumsi hampir 2 bungkus dalam sepekan. 

Seharusnya kalo melihat data tersebut, Indonesia bisa dong buat museum. Museum Mie Instan. Ini semata-mata demi menghargai produk lokal. Tapi gimana ya, museum identik dengan benda-benda mati, jadi jarang banget masyarakat Indonesia datang ke museum. Kecuali jika nanti benar-benar ada museum mie instan, tiket masuk jangan hanya karcis tapi ditambah pula mie instan gratis. Dijamin laris. 

Tapi bagaimana jika ada yang berkata mie instan adalah produk membahayakan karena mengandung pengawet? Saya yakin itu manusia yang dengki dan iri. Mungkin dia tidak suka dengan bunyi “slurrrrrp” dari mie instan. Atau mungkin dia takut produk makanannya tersaingi.

Asal kamu tahu ya, Momofuku Ando saat ditanya apa resep makanan bisa tetap sehat hingga usia 90 tahun. Mungkin kamu kaget. Jawabannya sungguh mengagetkan. Menyantap mie setiap hari. Entah dia bercanda atau serius. Yang jelas memang kenyataan ia bisa hidup sampai usia sangat senja. 

Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa mie instan selalu berbohong kepada kita? Bahkan sampai tulisan ini nantinya dimuat, tak ada niat sedikitpun bagi penemu mie atau pemilik perusahaan mie instan memberikan sedikit klarifikasi. Apa kebohongannya?

Ya. Mie instan goreng. Pembuatannya selalu direbus. Kenapa direbus padahal tertulis mie goreng? Pertanyaan ini lebih susah daripada menemukan fakta duluan mana telur atau ayam. Ataupun pertanyaan apakah tomat termasuk buah atau sayuran. 

Sampai sekarang saya masih penasaran. Kenapa ya? Ada yang bisa mengatakan hal sebenarnya? Soalnya ini menjadi bahan lelucon untum masyarakat Indonesia. Ada adagium unik bin aneh. “Kalo cari pasangan hidup, jangan memilih penyuka mie instan, nanti mudah dibohongi.”

Tuh kan. Aneh banget. Padahal hampir sebagian besar masyarakat kita pemuja mie instan. Fans die hard mie instan. Mulai dari anak kecil hingga dewasa. Mulai dari cabe-cabean hingga terong-terongan. Kalo menurut saya adagium tersebut kurang tepat. Ada adagium yang lebih tepat, tajam hingga menusuk. Apa itu?

“Kalo pilih wakil rakyat, jangan memilih penyuka mie instan, nanti mudah dibohongi.”

Benarkah kita malas jalan kaki?


Beberapa hari ini lini masa memberitakan goncangan headline. Mulai dari KPK vs DPR, perseteruan Dinda Tsamara vs Pak Fahri Hamzah, pro dan kontra perppu ormas hingga yang paling kekinian, pemblokiran telegram. Nah dalam esai kali ini, saya tak akan mengangkat tema salah satunya.

Kenapa? Sudah terlalu banyak yang membahas. Mulai dari analisis politik yang mendakik-dakik hingga analisis komedi yang crigas-crigis. Saya mau coba nulis tentang tema berkaitan dengan jalan kaki. Kenapa saya pengen bahas itu? Karena ada sekumpulan orang asing dari Barat yang bilang kalo orang-orang Indonesia malas jalan kaki!!

What?? Apakah ini penistaaan kesehatan internasional? Bisa jadi iya, bisa jadi bukan. 

Dalam jurnal yang katanya internasional ditulis bahwa Indonesia menempati peringkat 46 dari 46 negara untuk urusan jalan kaki. Daripada kamu buka jurnal yang menyesakkan dada dan menguras emosi lebih baik saya jabarkan fakta lain dalam jurnal itu. 

Ehm, jadi begini rata-rata orang Indonesia hanya menghabiskan 3.513 langkah per hari. Saya pikir itu langkah yang cukup banyak. Ternyata ndak toh. Rata-rata langkah kaki masyarakat dunia berjumlah 4.961. Bajilak. Nggilani nemen ternyata…

Kalo yang paling tinggi ya jangan ditanya. Jawabannya orang-orang Hongkong. Mereka bisa menghabiskan langkah sebanyak 6.880 per hari. Banyak bener ya. Hasil penelitian itu membuktikan suatu pernyataan yang sering kita ulang-ulang kalo orang Hongkong memang suka jalan. 

“Cokk, koen mlaku kok suwe nemen? Mlaku teko Hongkong ta?”

Nah itu contohnya. Garing? Yo ben.

Apa kamu ga pengen tahu 3 urutan negara terbawah? Penasaran ndak? Tapi kalo saya kasih tahu, janganlah marah disertai mencak-mencak. Saya takut jika memberitahu ketiga negara terbawah, nanti dikira saya sedang mencoba mengkriminalisasi negara-negara tersebut. Sudah siap? Oke. 

Yang paling bawah adalah Indonesia. Diatasnya ada Arab Saudi dan Malaysia. Ya, insan-insan Arab Saudi dan orang-orang Malaysia langkahnya sehari hanya mencapai 3.807 dan 3.963. 

Wah, ini penelitian apa-apaan?? Kenapa kok hasilnya menyudutkan negara-negara Muslim? Emang negara mayoritas Muslim malas jalan kaki? Yang benar aja. Ini pasti salah. Ndak mungkin. Ndak mungkin. 

Sebagai warga negara Indonesia yang budiman dan selalu berkata NKRIHargaMati, penelitian ini boleh dibilang abal-abal. Saya tak sudi menerima hasil penelitian ini. Bolehkah saya gugat hasil penelitiannya ke PBB karena tulisannya mencemarkan negara baik dan tulisan yang tidak menyenangkan? Boleh lah, masak cuma imam besar umat Islam aja yang boleh gugat ke PBB. Eh. 

Saya kira ini pasti ulah orang-orang Jakarta. Saya ndak yakin subjek penelitiannya bukan orang-orang Jakarta. Kalo memang benar yang diteliti orang-orang Jakarta, ya wajar. Wong, trotoar disana bukan dibuat pejalan kaki tapi buat jalan alternatif, pangkalan ramalan jodoh, dan juga tempat penafsir mimpi. Duh.

Ya apa boleh buat, Jakarta adalah ibukota Indonesia jadi mau ndak mau representasi orang-orang Indonesia adalah orang-orang Jakarta. Lain ceritanya kalo ibukota sudah dipindah ke Palangkaraya atau Jayapura. Sa berani yakin justru Indonesia adalah negara paling rajin untuk kategori jalan kaki. Camkan itu, wong aseng. 

Masalahnya karena berita tersebut sudah terlanjur menyeruak ke dunia ketiga hingga kelima, jadilah Indonesia dilihat sebagai negara terpuruk.

Tapi, tunggu dulu. Dibalik berita yang menyedihkan tersebut ada yang senang juga lho. Siapa dia?

Produsen motor dan mobil. Sa berani yakin mereka bakal membuncah semangatnya begitu tau berita itu. Mereka akan semakin berlomba-lomba meningkatkan produksinya. Produksi ditingkatkan, kredit diberi harga murah. Kalo perlu pake DP 0% kayak beli rumah di Jakarta. Dan ditambah lagi embel-embel kendaraan irit bensin dan ramah lingkungan. Wah ya cucok itu dengan gaya hidup wong Indonesia. 

Pembuat jalan tol. Sa berani yakin kementerian PU semakin senang dan gembira ria. Mobil semakin banyak dan semakin sesak. Maka solusinya ya buat jalan tol. Kalo perlu seluruh Indonesia. Tak peduli kalo itu akan menggerus sawah, ladang, dan lahan semacamnya. Kan sembarang-sembarang kita sudah impor. Jadi ya ndak perlu khawatir kalo akhirnya kita perbanyak jalan tol. Teruskan kerjamu ya pak. 

Ojek online. Wah sa kira ini berita paling membahagiakan bagi mereka. Bakal menguntungkan dan meningkatkan pendapatan mereka. Lha, mereka menyediakan apapun tanpa perlu kita melangkah lebih jauh. Pergi ke kantor, ada ojek. Pesan makanan, ada ojek. Mau bersih-bersih rumah, ada ojek juga. Gilak, merambah semuanya. Ya kita senang-senang aja. Wong zaman sekarang harus dituntut cepat, tepat bahkan kalo perlu sikattt. 

Saya sebenarnya jadi ingat cerita istri saya saat berkunjung ke Tunisia. Ia bilang, para sopir taksi disana tak mau mengantar penumpang ke tempat tujuan jika jaraknya kurang dari 4 km. Kalo disini? Jangankan 3,5 km hambok kurang dari 1 km pun, ojek pun bersedia. 

Sampai kemarin Pak Djarot si Gubernur DKI bilang kepada para khalayak “Sekarang coba masyarakat kita untuk jalan kaki 50 meter aja, aduh susahnya setengah mati.” Nah, dia aja pesimis. Apalagi kita. 

Tapi katanya sekarang akses transportasi Jakarta sudah membaik terutama kereta api. Kalo ada area yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki, maka warganya terpaksa jalan kaki. Yakin pak? Kalo udah klik aplikasi itu gimana? Ya pada wae pak~

Sekarang juga musim-musimnya olahraga jalan sehat. Baik di kota besar maupun kota kecil. Itu saya kira imbauan yang keliru. “Semarakkan jalan sehat di Bundaran HI”. Ndak perlu dikasi tahu jjga kali kalo jalan itu sehat. Yang namanya jalan pasti sehat. Wong, manfaatnya juga banyak. Bisa meredakan stres, menurunkan berat badan, hingga berlatih olah nafas. 

Contohlah mereka yang mengikuti aksi bela ulama. Itu mereka jalannya jauh loh. Ada yang dari Ciamis ke Jakarta. Kaki mereka tak hanya sehat tapi juga membesar. Demi bela ulama, apapun dilakukan.

Contohlah juga Agus Mulyadi yang rela berjalan kaki dari kantor Mojok hingga Angkringan Mojok yang jaraknya (hanya) 6 km. Tapi tentu saja ada motivasinya. Demi bertemu penjual gorengan yang manis dan aduhai sebelah Angmo. Pas gerimis syahdu lagi. Hmm, ada udang dibalik rempeyek. 

Saya kira pemerintah harus kasih motivasi supaya orang-orang Indonesia gemar jalan kaki. Jangan hanya kasi motivasi gemar makan ikan pak. Jalan kaki juga penting. Seperti contoh di bawah ini.

“Semarakkan jalan kaki bersama pembaca Mojok dari Kantor Mojok hingga Bumi Perkemahan Kaliurang”