Arab Saudi x Indonesia

Arogan. Barangkali itu kata pertama yang paling tepat untuk mengungkapkan perasaan saya atas eksekusi yang dilakukan pemerintah Arab Saudi terhadap Tuti Tursilawati, perempuan Indonesia tiga hari lalu di kota Ta’if.

Muak. Barangkali itu kata kedua yang paling tepat untuk mengungkapkan perasaan saya karena Tuti adalah orang Indonesia yang menjadi korban ke enam terkait hukuman mati sepanjang sepuluh tahun terakhir di Arab Saudi.

Dan sampai saat ini, masih ada 13 WNI yang terancam hukuman mati. Entah itu bisa diselamatkan atau tidak, yang jelas saya hanya bisa berharap pemerintah Indonesia memiliki kekuatan absolut untuk menghentikan kebengisan Arab Saudi.

Sebab, sudah jelas apa yang dilakukan Arab Saudi melanggar konvensi Wina tahun 1963. Konvensi itu mengatur negara yang melakukan penahanan, penyelidikan hingga eksekusi terhadap warga negara asing perlu diberitahukan terlebih dahulu.

Tapi, ya itu. Arab Saudi tetaplah Arab Saudi. Susah untuk mendengarkan opini atau nasihat dari negara lain seperti Indonesia. Apalagi kalo diberikan perintah untuk mematuhi aturan macam konvensi Wina. Kecuali yang kasi tiga hal demikian adalah Amerika Serikat.
Nahhh, itu lain cerita.

Namun, begini, saya punya cerita tentang buruh migran kita. Cerita yang selalu saya ingat. Sebab, ink hanyalah cerita minor yang barangkali jarang ada di Indonesia.

Suatu kali saya mendapatkan sebuah kesempatan untuk magang di sebuah lembaga di salah satu kota yang ada di Jawa Timur. Saat itu kebetulan saya menangani hal-hal yang berhubungan dengan pemberdayaan perempuan.

Suatu ketika, saya mendapat sebuah tugas ke salah satu daerah, yang katanya, penghasil (maaf) pekerja seks komersial (PSK). Mereka, para PSK itu nantinya akan dikirim ke Timur Tengah. Dan salah satu negara yang dituju adalah Arab Saudi.
Tentu saja, saya tak percaya cerita-yang-katanya, sampai nanti menemukan fakta yang benar-benar ada.

Ketika saya ke sana, tak tampak daerah itu adalah penghasil PSK. Malah saya seperti diajak kembali ke lingkungan rumah. Damai, asri, dan tenteram.

Kemudian saya dan seorang teman berkunjung ke salah satu toko di ujung jalan. Dari data yang saya peroleh, toko itu merupakan tempat bermukim salah seorang perempuan, yang lagi-lagi katanya, bekerja sebagai PSK.

Toko itu adalah toko kelontong. Menjajakan aneka bahan-bahan pokok dan juga bensin eceran. Secara tampilan pokoknya tampak rapi.
Seorang perempuan datang menyambut saya. Mungkin dia pikir saya akan membeli makanan macam snack gulai ayam atau akan mengisi bensin.

Saya menyampaikan maksud kedatangan ke perempuan itu. Berkenalan dengan beliau dan berbincang banyak hal. Dia mendengarkan saksama. Manggut-manggut. Namun, tiba-tiba airmata mengucur deras hingga membasahi pipinya.

Saya kaget. Saya khawatir. Apakah saya salah ucap, atau bagaimana ya. Kok ujug-ujug menangis. Kemudian saya bertanya, “Ada apa, Bu?”

“Anak itu memang bandel. Susah diberitahu.”

Lagi-lagi saya kaget mendengar ucapan beliau. Terhenyak sih lebih tepatnya.

Ibu yang saya ajak obrol adalah budenya. Dan anak yang baru saja dikatakan bandel adalah keponakannya. Kalo tidak salah, anak itu usianya belum genap 17 tahun.
Kemudian si Ibu bercerita. Anak itu sudah melanglang buana ke Timur Tengah. Alasannya ingin mencari kerja. Entah kerja apa yang dimaksud. Pokoknya kerja menghasilkan uang.

Si Ibu merelakannya karena anak itu sudah ditinggalkan orangtuanya. Tanpa sebab. Dan anak itu masih harus mengurus adiknya yang berjumlah dua.

Maka si Ibu pun mengiyakan saja saat anak itu pergi cari kerja di Timur Tengah. Dari beberapa negara Timur Tengah yang dikunjungi, Arab Saudi lah yang membuatnya betah. Sebab, di sana bergelimangan uang. Banyak.
Kemudian saya bertanya lagi. “Kerja apa, Bu?”

Si Ibu belum menjawab. Beliau tampak berulangkali menghela nafas. Airmata kembali membasahi wajahnya.

“Dia menjual tubuhnya.”

Glek. Saya terhenyak. Tubuh saya mendadak jadi panas. Mungkin saja darah mengalir menjadi lebih cepat dari biasanya.

Kemudian si Ibu bercerita kalo anak itu pernah ditangkap polisi Arab Saudi karena tidak memiliki dokumen legal. Dijebloskan ke penjara. Menjalani hukuman. Kemudian menanti “dipulangkan” alias deportasi.

Beruntung, saat itu pemerintah Indonesia sigap. Karena masih di bawah umur, anak itu diselamatkan dari hukuman yang lebih berat. Anak itu pun dibawa pulang oleh pemerintah Indonesia.

Setelahnya, anak itu diberi modal agar mendirikan suatu usaha. Dan modal itu digunakan untuk mendirikan toko kelontong. Toko yang saat itu saya kunjungi bersama seorang teman.

Namun, usaha tersebut tidak dilanjutkan. Dia menyerahkan usahanya kepada budenya. Dia pun lebih memilih untuk kembali ke Arab Saudi. Alasannya sederhana.

“Di sana enak, tiap malam bisa dapat uang banyak. Berlimpah pula. Lah, di sini? Boro-boro dapat uang banyak. Untung aja susah. Lebih banyak ruginya.”

Blarrr. Si Ibu bercerita seperti mendapat angin puting beliung. Tak menyangka keponakannya itu bisa menjawab hal demikian. Di luar logika, menurutnya.

Saya pun mau menggelengkan kepala kok ya gimana. Saya hanya diam saat si Ibu mengulang kalimat itu. Saya juga heran. Kok ya ada anak yang berpikiran seperti itu.

Ini mengerikan. Jelas. Uang memang menjadi salah satu pemuas kebutuhan manusia. Namun, jika uang dicari dengan hal seperti itu, tentu saja tidak elok. Apalagi dilakukan oleh anak di bawah umur.

Saya percaya di luar sana banyak TKI yang benar-benar menggantungkan hidupnya pada negara macam Arab Saudi. Di awal tahun 2018, Zaini menjadi korban karena ia dituduh membunuh majikannya, padahal faktanya tidak demikian.

Dan di akhir tahun 2018, Indonesia kembali berduka. Tuti yang pergi untuk mencari nafkah, harus dieksekusi karena (lagi-lagi) dituduh membunuh majikannya. Padahal Tuti dipaksa untuk mengikuti birahi majikannya namun Tuti menolak.

Dua cerita di atas adalah gambaran. Sebagai makhluk hidup, kita harus terus hidup. Membingkai kehidupan dengan berbagai cara. Salah satunya menyelami kehidupan dengan hijrah ke luar negeri.

Mereka sama-sama mencari nafkah namun dengan tujuan yang berbeda. Kita tidak bisa menebak jalan pikir seseorang. Yang perlu dilakukan adalah mengolah jalan pikir seseorang agar tidak menyimpang. Mulai dari lingkup terkecil adalah keluarga, dan yang paling penting adalah pemerintah juga ikut serta.

Saya percaya buruh migran adalah pahlawan kita. Pahlawan devisa. Dan mereka adalah salah satu ujung tombak diplomasi Indonesia.

Namun, salah satu cerita di atas adalah suatu bentuk anomali yang, sekali lagi, sangat jarang dijumpai di Indonesia.

Advertisements

Sumur

Jogja sedang panas. Kalo malam, suhu bisa mencapai 32 derajat celcius. Kalo siang, lebih tinggi lagi. Bisa sampe 38 derajat celcius. Dan itu terjadi tanggal 13 Oktober kemarin. Saking panasnya dan juga matahari tepat pas di kepala kita, hari itu dinobatkan sebagai hari tanpa bayangan.

Tapi, patut diingat, sepanas-panasnya Jogja, lebih panas lagi Jakarta. Dan tentu saja, lebih panas lagi, kota di sebelah Jakarta. Bekasi.

Cuman begini. Panas, tentu saja membuat badan bikin gerah, tak jarang emosi mudah meletup dan juga membuat manusia gampang gusar. Dikit-dikit ngambek. Dikit-dikit marah. Kayak mereka, yang pesannya tidak dibalas kurang dari lima menit, kok kita diblok. Duh.

Salah satu fenomena itu bisa kamu jumpai di Jogja. Ada banyak orang gusar karena suatu sebab. Salah satunya permasalahan sumur. Menjadi kering. Beberapa hari ini banyak mengeluhkan sumur tak bisa lagi diakses.

Tidak hanya sumur melainkan juga selokan. Kalo kamu selow, cobalah mengitari selokan mataram dari Jalan Magelang hingga daerah Babarsari. Di situ benar-benar tak ada lagi air tersisa.

Karena tak ada air, maka plastik, bungkusan makanan, hingga kondom jemumbul di daerah selokan. Sampah berserakan. Kadang menimbulkan bau tak sedap. Sebenarnya, dengan adanya kejadian ini, bisa menjadi hal yang dipandang positif.

Mumpung belum hujan, masyarakat bikin gerakan memungut sampah sepanjang selokan. Saya mau lho ikut terjuan. Saya juga yakin kok, pasti banyak yang mendukung gerakan ini. Apalagi, kalo ada caleg punya sikap yang demikian. Berani jamin, popularitas dan elektabilitas akan meningkat.

Masak selokan ramenya cuman pas lomba mancing ikan seperti beberapa saat lalu.

Tapi, pertanyaannya, siapa yang berani mewujudkan gagasan demikian?

Kembali ke sumur. Di daerah lingkungan saya, orang-orang mulai mengumpat. Menggerutu karena tak bisa melakukan mandi ataupun cuci pakaian. Orang-orang juga mulai menyesalkan keberadaan apartemen dan hotel yang kian menjamur.

Menurut mereka, hotel dan apartemen lah yang menyebabkan sumur mereka menjadi asat (kering). Katanya, sebuah hotel membutuhkan kedalaman sumur setidaknya 100 meter lebih. Bandingkan dengan rumah biasa yang paling membutuhkan 8-20 meter. Duh kah.

Namun, di balik kegundahan masyarakat, ada beberapa orang yang justru mendapatkan berkah. Dia bisa dibilang penggali/pengebor/penyuntik sumur. Kebetulan beberapa tetangga saya, ada yang bekerja seperti itu.

Orang dengan profesi demikian kian laris dipanggil banyak orang. Dan boleh dibilang, mereka adalah messias di lingkungan kami.
Mereka bisa bekerja 24 jam. Tergantung permintaan. Kebetulan sumur di rumah kontrakan saya sedang asat. Sudah dua hari ini, dia mencoba pelbagai cara agar air kembali tumpah dan melebur seperti sedia kala.

Dia bercerita bahwa dalam sehari, dia bisa menerima panggilan 8-10 kali. Dan itu pengerjaannya dengan jangka waktu berbeda-beda. Pernah suatu kali, dia harus bekerja hingga pukul satu pagi.

Memastikan sumur si empunya mengalir. Agar bisa mandi dan melakukan aktivitas seperti biasanya.
Tak mudah bagi para penggali sumur memastikan air mudah mengalir. Jika di dasar sumur adalah pasir, mudah baginya untuk menyuntik lebih dalam lagi. Tapi, jika di dasar sumur adalah banyak batunya, mau tidak mau sumur harus dibor.

Dan kegiatan itu merupakan keahlian khusus yang bisa jadi tak akan bisa digantikan oleh era revolusi industri 4.0. Revolusi yang mensyaratkan apa saja otomatisasi digital.

Tapi ya bisa jadi, suatu saat ada sistem yang mudah mendeteksi sumur asat, kemudian tinggal “klik” maka sumur menjadi berguna lagi. Ya siapa tahu.

Bertemu para ahli sumur membuat saya belajar banyak hal baru. Mereka bercerita musim kemarau adalah musim rezeki. Musim panen untuk menggali sumur yang asat. Kalo saya berharap segera hujan, mereka sebaliknya.

“Ya, nanti saja toh mas. Hujannya menjelang tahun baru. Jadi, saya dan keluarga bisa menikmati tahun baru dengan kemeriahan seperti rang-orang pada umumnya.”

Ada hal-hal yang terkadang membuat kita gerah, sedih justru menjadi berkah bagi sebagian orang. Contoh lain, jika ada orang meninggal, para penggali tanah akan mendapatkan rezeki yang bisa digunakan untuk kepentingan keluarganya.

Saya belajar bahwa suatu peristiwa apa pun ada positif dan negatif. Peristiwa harus dipandang dua sisi. Kita tidak bisa egois. Toh, kita makhluk sosial. Ada saatnya dibantu dan ada saatnya membantu.

Kecuali kalo kamu memilih menjadi makhluk antisosial, ya itu lain cerita.

Eh, tapi ada ya?

TTS

“Kalo mau lulus ujian Bahasa Indonesia, banyakin isi TTS.”

Itulah pesan Bapak suatu kali ketika saya menghadapi ujian Bahasa Indonesia. Pesan yang hingga saat ini sering saya lakukan tiap Kamis dan Minggu. Maklum saja, pada hari-hari itu, beberapa media cetak seperti koran selalu menghadirkan TTS di satu halaman.

Mulanya, TTS atau yang sering biasa disebut Teka-Teki Silang hadir karena pada tahun 1913 sebuah perusahaan di Amerika Serikat membutuhkan permainan yang membuat karyawannya bahagia. Sebab, direktur itu menilai karyawannya banyak yang suntuk bahkan tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaan.

Arthur Wynne adalah pemuda brilian yang menciptakan permainan itu. Dia ditunjuk oleh direkturnya membuat permainan yang unik. Kemudian, ia merancang sebuah permainan. Permainan seperti teka-teki. Mengisi dalam beberapa kotak. Ada yang tersusun secara menurun dan ada yang mendatar. Dia berhasil membuat para karyawan bahagia. Lalu, permainan itu populer.

Akhirnya, salah satu media cetak ternama di Amerika Serikat, New York Times menduplikasikan permainan itu ke halaman khusus. Rubrik TTS. Mereka membuat tatanan baku. Minimal harus ada tiga huruf yang terisi pada kotak.

Seiring berjalannya waktu, tidak harus tiga. Bahkan, dua huruf pun boleh. Dan itu bisa kita lihat pada TTS di media cetak hari ini.

Mulanya, saya hanya melihat kesibukan Bapak menyelesaikan TTS saban Minggu siang. Mengisi dan menyusun kata demi kata agar bisa tersusun dengan baik. Saya pun nimbrung.

Melihat saya yang sepertinya ingin mencoba mengisi TTS, Bapak langsung memberikan koran itu kepada saya. Memberikan satu kata. Kotak berjumlah lima. Dengan kotak ketiga berhuruf T.

Petunjuknya, tiga mendatar. MATA. Saya berpikir keras. Apa ini maksudnya? Lima huruf yang ada hubungannya dengan mata dan ada huruf T di kota ketiga.

Karena saat itu belum zaman bertanya kepada Mbah Google, saya mencoba mencari di tumpukan koran yang berada di meja. Ketika saya akan meraihnya, bapak menahan tangan saya.

“Gak boleh, kamu harus berpikir. Coba, kira-kira kata apa yang berhubungan dengan mata.”

Saya berpikir. Cukup lama. Wong, hampir lebih dari 15 menit. Dan hasilnya nihil. Saya pun tak bisa mengisi kotak itu.

Bapak hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Makanya banyak baca. Apa pun itu. Ga hanya baca koran atau buku. Ga semua yang ada di situ, bisa membantu kamu mengisi TTS. Bisa aja dari kertas di botol obat atau dari iklan di tiang listrik, kamu bisa menemukan kata yang jarang terdengar.”

Saya termenung. Hanya bisa menundukkan kepala. Kemudian, Bapak mengambil pulpen dan mengisi kotak yang saya pikirkan.
NETRA.

Brilian! Saya kagum sekaligus heran. Kok ya saya ndak kepikiran dengan kata itu. Dalam pikiran saya, mata berhubungan dengan bulu, lensa, atau kelopak. Ga pernah terpikir untuk menyebut kata netra.

Padahal netra dari kata tuna netra. Orang yang tidak bisa melihat. Dan itu identik dengan mata.

Semenjak itu, agar mahir dan menguasai banyak kata, saya selalu mencoba mengisi TTS. Walaupun tentu saja, kalo ada kata-kata yang tidak mengerti, saya akan bertanya kepada Bapak. Sebab, bagi saya, Bapak adalah kamus berjalan. Sepertinya segala kata pun, dia paham. Macam Ivan Lanin, kalo era sekarang.

Selain TTS di koran, kadang saya juga mengisi TTS di buku yang berkaver mbak-mbak seksi nan semlohay. Saya ga tahu sejak kapan buku TTS di Indonesia identik dengan kaver yang seperti itu.

Yang jelas, pertama kali membelinya di kios daerah Terban. Dekat dengan tempat saya melanjutkan pendidikan di esempe. Sayangnya, kios itu kini tutup. Sudah beralih menjadi ruko.
Waktu itu, harganya cukup murah. Dengan embel-embel “Berhadiah”, saya membeli dengan harapan tinggi. Mengisinya hingga tuntas kemudian dapat hadiah. Minimal sepeda. Saya sih berharap kalo TTS ini sepertinya lebih mudah daripada di koran.

Ternyata nggak juga. Susah, mylov~

Ada 10-15 TTS. Dan sebagian besar pertanyaannya berbeda. Saya kira seharusnya kita patut memberikan apresiasi tinggi kepada pembuat TTS ini.

Gak mudah lo membuat TTS. Menurut saya, pembuatnya harus memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Sebab, tak mudah membuat 20-30 pertanyaan. Mendatar dan menurun. Kemudian bisa jadi satu kesatuan.
Saya pun hanya dua kali dari puluhan buku dan koran untuk menyelesaikan sebuah TTS. Cukup menyedihkan. Dan mengisi TTS adalah pelajaran melelahkan.

Fakta itu bisa jadi benar untuk saya. Tapi tidak untuk Keira Knightley dalam film Imitation Game. Dia adalah salah satu orang dan satu-satunya wanita yang berhasil menyelesaikan tantangan dari Benedict Cumberbatch. Luar biasa, salah satu ujian untuk menjadi pendamping si Benedict adalah mengisi TTS! Film yang diadaptasi dari buku berjudul The Enigma: Alan Turing ini, saya kira sungguh brilian.

Dan saya selalu percaya, jika orang yang pandai mengisi TTS, pasti pintar bahasa Indonesia karena mampu menguasai banyak kata. Itu juga seperti yang Bapak katakan, “mampu mengisi TTS, maka mudah mengerjakan ujian Bahasa Indonesia.”

Selain itu, andai mengisi TTS adalah salah satu ujian dalam CPNS, barangkali tak banyak pemuda-pemudi Indonesia yang mau mendaftarkan diri jadi PNS~

Dan bisa jadi, yang diterima adalah orang-orang yang cakap, cakrawala pengetahuan luas, dan tepat dalam pengambilan keputusan.

Setujukah kalian jika TTS dimasukkan dalam ujian CPNS?

MUNDUK

Akhirnya saya menginjakkan kaki di Bali lagi setelah lima tahun lamanya. Saat itu, saya mengunjungi Gianyar untuk menghadiri pernikahan kakak sepupu. Kalo kali ini, kedatangan saya membawa misi. Jelajah kretek.


Saya diberitahu oleh teman-teman bahwa di Bali, lebih tepatnya di Munduk, terdapat perkebunan cengkeh. Luasnya lebih dari 350 hektar. Saya membayangkan apabila berkunjung ke sana pasti asyik sekali. Menghirup dedaunan cengkeh sembari menikmati pemandangan pohon-pohon cengkeh.


Di hari pertama, kami mengunjungi Danau Tamblingan, sebuah danau yang terletak di Buleleng. Di sana kami menjelajahi hampir seluruh area dan dipandu oleh Bli Putu Ardana. Cukup asyik menikmati penjelasan beliau. Menyenangkan sekaligus menambah wawasan baru.

Di hari kedua, kami menjelajahi perkebunan cengkeh. Dipandu oleh Bli Bondol dan Bli Komang Armada, kami seperti mendaki gunung lewati lembah. Kadang naik, kadang turun. Selain dipandu oleh mereka, kami juga belajar bersama Bli Putu Wijaya. Di sini kami diceritakan tentang cengkeh di Munduk.


Tahun ini, panen cengkeh terbilang cukup baik. Dengan kisaran harga 85-95ribu per kilogram, para petani cengkeh menikmati hasil sebesar 70%. Namun, tidak sampai 100% karena kekurangan pemetik cengkeh. Kekurangannya diambil dari orang-orang di luar Munduk bahkan ada yang dari Jawa.

Meskipun begitu, panen adalah berkah. Tidak hanya bagi masyarakat Munduk, melainkan juga Bali. Untuk kamu ketahui, panen cengkeh hanya bisa dilakukan setahun sekali. Berapa hasil panennya? Yang jelas banyak dan dalam hitungan rupiah. Bukan dolar ya. Kalo dolar, nanti utang Indonesia bisa lunas dan itu yang membayarnya cukup para petani cengkeh di Munduk~

Selain itu, beliau sedikit bercerita tentang dilema pada perkebunan cengkeh. Yaitu, tentang daun cengkeh yang jatuh dari pohon. Sebagian kecil masyarakat awam, akan mengambil daun cengkeh itu kemudian dijual lagi dan memang menghasilkan nilai ekonomi. Nilainya mungkin tak seberapa. Tapi, ini berkah. Berkah masyarakat.

Akan tetapi, berkah itu kemudian cenderung menjadi masalah. Daun cengkeh yang jatuh seharusnya tidak diambil. Sebab, hal tersebut merugikan secara ekologi. Kelembaban tanah tak dijaga. Humus akan hilang. Dan akhirnya, terjadi eksploitasi berlebihan.

Para pemilik sudah memberikan pengetahuan demikian, utamanya kepada pengambil daun cengkeh. Namun jika berbenturan dengan nilai ekonomi, mereka tidak bisa melarang. Sebab, sampai saat ini, belum ada solusi yang apik nan cerdik untuk mengedukasi mereka.

Ada semacam keyakinan bagi pemilik kebun cengkeh. Apabila cengkeh mengarah ke laut, kualitasnya cenderung baik. Selain itu, secara spiritual ada penghormatan kepada tanaman cengkeh. Namanya Dewa Samhara (kalo salah, mohon dibenarkan) sebagai manifestasi Tuhan dalam konteks merawat tanaman.

Cerita-cerita yang sedemikian rupa membuat kelelahan kami selama perjalanan menjadi hilang. Kami diajak berpikir dan belajar. Merawat dan meruwat tanaman cengkeh.
Selepas cerita, kami menelusuri salah satu air terjun terbaik di Munduk. Namanya Labuan Kebo. Tingginya lebih dari 15 meter. Di sini, kami boleh mencari titik mana yang paling pas untuk berfoto. Seperti contoh, Mz Iqbal yang berfoto telanjang dada, Mz Reza yang asyik tenggelam sembari sesekali menyibakkan rambut super bleaching, atau milord Eswe yang berpose tiduran menghadap dua bule perempuan berbikini sembari berteriak ke muka mereka,

“Hi, my lov”~. Rang anih.

Di hari ketiga, kami menjelajah ke luar Munduk. Bergabung bersama Teater Kalangan yang dikomandoi milord Eswe, sang Mat Kretek. Di sana, kami menyuarakan nada, “Selamatkan Kretek Kita, Selamatkan Indonesia” dan menyiarkan kata #selamatkankretek #negerikretek dan #tolakpact.


Kami sadar upaya kami hanya mampu menjaring melalui media sosial. Tapi, kami yakin melalui media sosial, sebuah pesan akan tersampaikan.

Di Munduk kami menghargai setiap detik demi detik kebersamaan sebuah keluarga. Di Munduk kami menikmati setiap makanan yang disajikan oleh tuan rumah. Makanan yang membuat kami betah dan selalu latah karena ingin terus melahap. Lagi dan lagi.


Di Munduk kami menangkap kebahagiaan, merawat harapan, hingga menautkan cita-cita. Di Munduk kami akan kembali. Bersama lagi.


Tabik!

USIA

Gelaran Asian Games (AG) 2018 dibicarakan oleh banyak pihak. Mulai dalam negeri hingga luar negeri. Mulai dari yang mendukung hingga yang menyindir. Lengkap.

Namun, dari semua itu ada fakta yang menarik. Sekadar informasi, atlit termuda di Asian Games 2018 berasal dari Indonesia. Namanya Aqqila (9 tahun). Ia akan mewakili Indonesia dari cabang papan luncur.

Tak ada target yang dibebankan pada Aqqila di AG. Selain karena usianya masih muda, olahraga papan luncur baru dipertandingkan pada Asian Games tahun ini.

Yang penting, mereka bisa meraih pengalaman dan memperkuat mental bertanding. Namun, menurut wawancara yang telah diulas di Beritagar.id, Aqqila menargetkan tembus di babak paling akhir. Kalo beruntung, ya dapat medali.

Selain atlit termuda, Indonesia juga menyumbang salah satu atlet tertua di AG. Namanya Michael Bambang Hartono yang berlaga di cabang Bridge. Kalo mendengar kata Hartono, yang ada di benak saya adalah mall dan rokok.

Dan memang, beliau adalah bos dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Bos Djarum.

Yang perlu kamu ketahui adalah, beliau salah satu manusia yang cukup antusias dalam memajukan bridge di Indonesia. Dan jangan salah, beliau sudah jauh-jauh hari menyiapkan mental dan fisik untuk mengikuti ajang empat tahunan ini.

Usianya memang tak lagi muda. 78 tahun. Tapi semangatnya membara. Bahkan, beliau menargetkan berani meraih dua medali emas. Kalo beruntung, ya bisa lebih.

Nah, yang menarik lagi adalah, beliau akan mewariskan hadiah medali emas (1,5 Miliar) untuk pendidikan atlit selanjutnya. Lha, 1,5 M bagi bos Djarum cuma sepersekian upil dari total pendapatan Djarum, lurr. Apalagi menurut riset Majalah Forbes, beliau merupakan orang terkaya kedua di Indonesia~

Apakah ini berarti bisa digeneralisasi bahwa Djarum ingin memberikan sesuatu yang berguna bagi pendidikan atlet? Yang jelas, saat saya kuliah, beasiswa Djarum adalah salah satu capaian mahasiswa paling bergengsi.

Eh kemarin, ia baru saja memperoleh medali perunggu. Luar biasa. Selamat, Pak Bambang Hartono. Tua-tua keladi, makin tua makin jadi.

Yang menjadi pelajaran bagi kita adalah, usia tak akan menghalangi seseorang untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Dan barangkali, melihat keberhasilan Bambang Hartono, membuat si calon presiden dan wakil presiden Indonesia untuk periode selanjutnya akan semakin pede.

Dunia Masa Kecil

Kembali ke masa kecil adalah impian saya. Bermain layang-layang, sepak bola, adu tangkas kelereng, petak umpet, dan masih banyak permainan lainnya. Bermain sejak pulang sekolah hingga sore hari bahkan menjelang magrib, adalah kepuasan bagi saya saat itu.

Saya tak pernah berpikir tentang kelelahan, dehidrasi, cedera, atau segala sesuatu yang bersifat negatif. Bagi saya, permainan itu menimbulkan keceriaan, tawa yang lepas, dan hati yang bungah.

Saya tak pernah berpikir apakah malam setelah bermain, saya mampu mengerjakan tugas sekolah–yang kadang terlalu banyak. Yang penting dalam benak saya setelah bermain, saya akan makan enak dan perut akan kenyang.

Saya tak pernah berpikir apakah bermain hingga magrib, nantinya diberi teguran oleh orang tua. Toh, dalam benak saya, jika saya ditegur, teman-teman yang ikut bermain dengan saya juga akan ditegur.

Dalam dunia masa kecil, kami hanya ingin meluapkan kebahagiaan, menyemai kebersamaan, meramu keceriaan, merekam kemenangan hingga tertawa tanpa batas.

Kami tak peduli nantinya selepas menjalani masa kecil, kami akan melihat kekejaman, kesombongan, hingga kengerian dunia luar. Dan, barangkali dunia luar akan membuat kami menjadi liar.

Kami tak peduli tentang omongan orang-orang yang lebih tua bahwa dunia luar akan banyak bahaya yang mengintai ataupun kejahatan yang dibingkai. Yang kami pedulikan hanyalah tanah yang lapang tanpa perlu ada gangguan, rintangan atau hambatan.

Lapangan yang bisa kami manfaatkan untuk beragam aneka permainan. Hari ini sepak bola, besok bermain layang-layang, dan lusa bermain gobag sodor.

Tapi, jikalau saya sekarang meminta kembali ke masa kecil kepada Sang Pencipta, apakah akan dituruti keinginan saya?

Jikalau dituruti, ternyata Sang Pencipta berkata, “Engkau boleh kembali ke masa kecil, tapi masa kecil yang sedang dihadapi oleh anak-anak milenium.” Apakah saya akan menyanggupi permintaan itu? Jikalau menyanggupi, apakah saya akan menikmati bermain bersama mereka?

Di lubuk hati yang paling dalam, saya justru tak yakin. Bukan berarti tak mau meleburkan kebersamaan dengan mereka, namun agaknya saya akan mengalami kegagapan. Baik dari metode berinteraksi maupun beragam permainan yang dimanfaatkan.

Saya khawatir malah akan merusak kebersamaan. Saya khawatir tak mampu menyamai level permainan mereka. Saya khawatir.

Dalam benak saya, anak-anak milenium menikmati lapangan yang ukurannya jauh lebih kecil daripada lapangan yang saya mainkan. Jikalau saya bisa bermain dalam ukuran 6×10 meter, dalam dunia milenium, saya hanya bisa bermain lapangan dengan ukuran 5 inci.

Saya tak bisa membayangkan apakah dunia yang mereka mainkan akan menularkan kebahagiaan, merawat interaksi antarmuka, atau menyumbang keceriaan. Dengan ukuran 5 inci, saya membayangkan dunia yang sungguh sempit.
Namun, dalam dunia yang saya jalani saat ini, saya melihat mereka tetap mengeluarkan tawa walaupun kadang sumir, tetap berteriak walaupun kadang terpaksa.

Tapi saya tak tahu apakah mereka tertawa dengan penuh kelapangan hati, atau berteriak dengan lantang tanpa hambatan yang berarti. Yang saya tahu mereka mengeluarkan ekspresi begitu saja. Tanpa terkendali.
Saya malah berpikir seperti ini. Jangan-jangan mereka menggunakan dan mencoba memanfaatkan lapangan dengan ukuran 5 inci, hanya karena saat ini mereka tak bisa menemukan lapangan yang pernah saya mainkan saat dunia masa kecil.

Lapangan yang kini sudah berubah menjadi hutan beton. Hutan yang tak lagi menyediakan keteduhan secara alami melainkan hanya menyajikan ketentraman, walaupun sesaat.

Kalaupun masih ada lapangan yang tersisa, barangkali waktu penggunaan tak tahan lama. Orang-orang dewasa lebih suka mengalih fungsikan lapangan menjadi sesuatu yang bersifat materi.

Menarik minat kaum awam supaya menginvestasikan dana. Banyak. Bahkan cenderung berlebih. Sehingga lapangan untuk anak-anak berkurang. Bahkan bisa dikatakan hilang. Tanpa jejak.

Kalau sudah begitu, saya tak heran jika anak-anak milenium mungkin tak akan mengerti bagaimana rasanya menerbangkan layang-layang, menghilang dan muncul kembali seperti petak umpet, atau bermain kejar-kejaran seperti di gobag sodor.

Saya akan mencoba memahami dan mulai untuk menikmati bagaimana rasanya bermain dalam lapangan dengan ukuran 5 inci. Saya akan mencoba mencari cara untuk melarutkan kesenangan dalam dunia permainan daring.

Tapi, saya tak yakin. Saya masih berharap akan bermain seperti biasa saat dunia masa kecil. Bermain tanpa lelah. Bersama teman-teman hingga tak kenal waktu. Saya masih berharap.

Dan, semoga harapan itu akan saya peram. Sebab, suatu saat saya masih ingin bermimpi kembali ke masa kecil. Entah bagaimanapun caranya. Bukan begitu, kawan-kawan kecilku?

Dipublikasikan pertama kali di FKY 30 oleh Bunda Kata

HAJI

Pertengahan tahun adalah jadwal sibuk bagi Kementerian Agama (Kemenag). Pasalnya, mereka harus siap dan sedia melayani ribuan umat muslim yang akan melaksanakan ibadah haji tahun 2018.

Saya mendapat kabar jika tahun ini, masyarakat Indonesia yang berangkat mencapai 204 ribu orang. Kabar tersebut dari salah satu teman yang kebetulan mendapatkan amanah sebagai petugas media untuk liputan haji.

Dalam dua tahun terakhir, Kemenag rupanya ingin meningkatkan pelayanan dari sisi media. Salah satunya dengan melibatkan youtuber kelas wahid. Kalo ga salah, namanya Dodi. Hal ini dimaksudkan supaya ekspos terhadap pelayanan haji menjadi maksimal.

Ini juga dengan maksud agar keluarga yang ditinggalkan merasa lebih aman dan tidak khawatir dengan hadirnya petugas yang lebih kredibel dalam urusan media. Tidak lebay dalam menyiarkan berita. Dan, tidak kelikbayit dalam membuat judul.

Apalagi beredar berita bahwa adanya seruan boikot haji yang dilakukan sebagian negara-negara Timur Tengah. Hal ini disebabkan beredar kabar bahwa dana haji dibutuhkan oleh Arab Saudi untuk agresi Yaman dan Suriah.

Apakah benar demikian? Kenyataan bahwa Arab Saudi menyerang Yaman dan Suriah, iya. Namun, fakta bahwa dana haji yang disumbangkan untuk menyerang Yaman dan Suriah, bisa diperdebatkan. Kemungkinannya kecil.

Dana haji sebanyak apa pun itu (menurut saya) tak akan mampu menyumbang dana agresi yang mencapai 90 miliar dollar. Kalo saya tidak salah baca data, dana haji hanya mencapai 22 miliar dollar. Lalu dari mana dana agresi? Sejauh yang saya pahami, tetap minyak masih berperan menyumbang dana agresi itu.

Tapi, tak perlu banyak bahas itu. Arab Saudi ya memang begitu. Kadang membuat kita cinta, tapi kadang membikin kita benci.

Saya sebenarnya khawatir jika dugaan saya salah. Kok ternyata dana haji disumbangkan untuk agresi ke Yaman. Seperti dugaan saya salah ketika saya memuja Harun Yahya sejak kecil (FYI, saya koleksi seluruh kaset elektroniknya) eh ternyata mbelgedhes.

Begitulah ketika sedang sayang-sayangnya, tapi ternyata perasaan sayang malah diselewengkan. Hadeh.

Saya juga khawatir dengan orang-orang yang telah bermimpi untuk berhaji, menambung sekian tahun lamanya, eh ternyata dana diselewengkan. Tragis.

Barangkali, sebagian orang-orang Indonesia memang tak sampai memikirkan hal seperti itu. Yang mereka pahami, naik haji adalah melaksanakan rukun Islam yang ke lima dan berdoa segera bertemu Sang Pencipta. Titik.

Ini serius. Banyak orang-orang tua yang justru berharap dengan sangat bahwa ketika berhaji, mereka akan wafat di Tanah Suci. Saya tidak sekali-dua kali menemukan harapan seperti itu. Berkali-kali.

Mereka, yang sudah lanjut usia, bersemangat dan berharap seakan Tanah Suci adalah tanah terakhir di dunia yang akan disinggahinya. Sudah tak ada lagi keinginan apa-apa, selain bertemu dengan Sang Pencipta.

Maka tak heran, jika orang yang akan berhaji, ia akan diantar tidak hanya satu keluarga melainkan satu desa. Hal tersebut masih dapat dilihat di sebagian wilayah Indonesia.

Yang mengantar pun berharap kelak akan mendapatkan kesempatan serupa. Walaupun kita tahu antrian haji sekarang bisa mencapai 10-12 tahun. Tergantung daerah masing-masing.

Saya menemukan keseruan itu kemarin. Orang-orang berbondong-bondong mengantarkan mereka yang berhaji. Ada yang mengantarkan dengan mobil pribadi, menyewa bus, bahkan menyewa pick up. Namun, saat hendak naik bus keberangkatan yang mengantarkan ke bandara, di situlah momen magis nan liris tercipta.

Ada tangisan, ada harapan, ada kesedihan, ada kebahagiaan, semua rasa berkelindan. Semua rasa tumpah ruah.

Ada anak yang sengaja tak mau bersalaman dengan bapaknya, dan ia lebih memilih melarikan diri saat si bapak mencoba memeluknya. Ada anak yang memeluk erat orangtuanya seakan hari itu adalah hari terakhir ia menemui orangtuanya. Ada yang berkumpul bersama, kemudian berdoa secara lirih. Pelan hingga tak muncul suara.

Dan, ada ajang titip doa. Seakan menjadi tradisi, titip doa yang dituliskan di kertas kemudian diberikan saat bersalaman dengan orang yang berhaji, adalah sesuatu yang jamak dilakukan oleh masyarakat Indonesia .

Kalo sekarang, mungkin sudah agak lain. Dituliskan via pesan teks, dikirimkan ke orang yang berhaji kemudian nanti dibacakan saat di depan Ka’bah. Banyak yang percaya (dan termasuk saya) bahwa hal tersebut menjadi cara paling ampuh agar harapan kita dikabulkan oleh Sang Pencipta.

Cara tersebut mulai dipraktikkan karena dahulu tak jarang banyak kertas yang ditempelkan atau diselipkan di Ka’bah ataupun makam Nabi Muhammad. Memang iseng. Wajar. Sebab, tak semua orang diberikan ingatan lebih untuk membaca seluruh doa yang dititipkan. Beruntunglah ada teknologi.

Teknologi pula yang memudahkan kita untuk memonitori pelayanan haji. Semoga semua negara, utamanya Arab Saudi saling bekerjasama untuk menghadirkan pelayanan haji terbaik.

Selamat bertugas, Kemenag. Dan, selamat bertugas pula para pramugari dan pramugara yang senantiasa sabar dalam menghadapi orang tua kami.