Lebaran


​Adzan dikumandangkan. Sayup-sayup suara muazin terdengar lirih, pelan, namun bersahaja. Seperti itulah suasana subuh. Namun kali ini lain. Ini adalah hari yang ditunggu seluruh umat Islam. Hari Idul Fitri. Hari yang mana semua manusia akan menyambut hari dengan senyuman. Senyum kemenangan. Tak terkecuali nenek tercinta.

Setelah menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan lamanya, mungkin baru kali ini sang Nenek kembali menjalankan sholat Idul Fitri. Beberapa tahun sebelumnya, nenek lebih banyak berdiam diri di rumah. Maklum, usianya yang semakin senja dan tulang yang mulai rapuh membuat nenek lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi kali ini lain.

Rumah seperti diberondong selongsong peluru. Mulutnya tak henti berkicau. Teriakannya menggema hingga membuat si ayam kesayangannya berkokok berulang kali. Beberapa burung seperti cekikikan. Pino dan Pinta, sepasang kucing yang biasa tidur di kursi tamu langsung keluar rumah. Mungkin kaget. Tak biasanya sang majikan berkicau bak nada mifasol.

Namun, beberapa dari kami justru tersenyum senang. Sang Nenek kembali bergairah, suaranya mengudara, matanya membelalak. Sungguh peristiwa yang jarang dilihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Maklum, sejak ditinggal si kakek, nenek lebih banyak duduk termenung, bahkan berdiam diri. 

“Aku wes kesel, gak pengen mikir-mikir maneh”

Kata-kata tersebut berulang kali diucapkannya ketika beberapa sanak saudara mencium pipi, tangan, dan kakinya. Perbuatan yang lazim kami lakukan ketika bertemu dengan beliau. 

Lantunan ayat suci Al Qur’an mengudara di samping jendela. Sebuah MP3 player sengaja kami persembahkan kepada nenek. Untuk menemani pagi, senja, bahkan malam. Kata nenek, saat ini hanya firman Dia yang mampu menentramkan hati dan menenggelamkan jiwa.

Fajar mulai menyingsing. Matahari perlahan bergerak. Sebagian sanak saudara bersiap dan bergegas menuju lapangan tempat kami menjalankan shalat Ied. Sebagian dari kami yang lain seperti saudara-saudara Nasrani, Katolik, Hindu hingga Buddha menyiapkan aneka kudapan dan minuman. Seperti itulah suasana keluarga kami saat berkumpul. Harmoni dalam kebhinekaan. Kata orang-orang, kami sering disebut keluarga Pancasila.

Nenek berjalan perlahan menuju lapangan. Setapak demi setapak. Sembari digandeng ibu, nenek berbicara banyak hal. Besaran angpau yang akan diberikan kepada anak dan cucu-cucunya, berapa kali beliau ikut buka bersama dengan teman-teman sejawatnya, hingga rumitnya mengurus Pinta karena akan melahirkan lagi sepasang anak kucing. 

Kami yang mendengarnya ikut tersenyum geli. Terkadang tertawa melihat tingkah laku nenek. Beliau banyak menggerakkan tangan-tangannya. Terutama saat bercerita tentang Pinta. Beliau sampai mempraktekkan bagaimana membelai, menggendong, hingga caranya memberi makan. Sungguh lucu.

Nenek duduk di samping ibu. Begitu pula dengan anak dan cucu perempuan lainnya. Kami yang laki-laki duduk tak jauh dari tempat nenek. Menyiapkan sajadah kemudian mengumandangkan takbir. Takbir kemenangan.

Khotbah Ied yang diucapkan sang ustadz berisi pesan-pesan damai. Pesan yang menyejukkan hati. Mendinginkan kepala. Bahwa tiap manusia wajib saling menghargai dan menghormati pendapat manusia lainnya. Bahwa tiap manusia wajib menghormati mayoritas dan melindungi minoritas. Pesan yang epik mengingat akhir-akhir ini banyak manusia suka membenci, menghardik, menghujat hingga menista. 

Khotbah berakhir. Kemudian kami saling bersalam-salaman. Mengucap maaf. Melantunkan kata-kata yang wajib diucapkan. Minal aidzin wal faidzin. 

Beberapa anak tak mau berjalan. Lebih memilih untuk berlari. Kami yang dewasa paham. Waktunya bergegas membali ke rumah. Menyiapkan amplop dan membagikan angao kepada mereka yang belum menikah. 

Tiba di rumah, kami sudah disambut dengan aroma masakan yang sungguh menyegarkan mata. Opor ayam, kupat tahu hingga rendang. Tak terkecuali bubur kacang hijau yang menjadi kudapan wajib selepas shalat Ied. 

Sebelum berbaris mengantri makanan, kami berdiri melingkar. Mulai dari yang tua di ujung kanan hingga yang paling muda di ujung kiri. Kursi-kursi disingkirkan untuk memberi ruang bagi kami yang berdiri. Kecuali nenek, beliau dipersiapkan kursi khusus berada posisi tengah sehingga bisa melihat seluruh sanak saudara. 

Kami mulai berjalan jongkok kemudian bersimpuh di pangkuan nenek. Ritual yang pasti kami lakukan. Ada kata-kata yang diucapkan. Ada doa yang dilantukan. Nenek selalu mengucapkan kata-kata yang sama. Saran sekaligus nasehat.

“Nak, hidup harus penuh dengan doa”

Ketika mendengar kata-kata itu, beberapa dari kami secara tak sadar mengeluarkan air mata. Menangis sesenggukan. Hati dan pikiran kami seakan terngiang pada perkataan almarhum kakek ketika lebaran beberapa tahun silam.

“Baik perkataan, pikiran, ucapan bahkan tindakan harus diawali dan diakhiri dengan doa. Karena doa adalah harapan. Doa adalah jalan Tuhan.”

Ritual tetap berlanjut hingga seorang cucu yang paling muda dicium pipi kanan dan kiri oleh nenek. Sang cucu tertawa. Kami pun ikut tertawa. Seorang dari kami mengabadikan momen tersebut dengan sebuah jepretan foto. 

Yang ditunggu tiba. Angpao dibagikan. Semua senang dan tersenyum. Kami lebih bahagia karena nenek ikut-ikutan memberikan angpao kepada seluruh sanak saudara. Tak terkecuali kami yang sebagian besar sudah berkeluarga. 

Sebelum acara makan-makan dimulai, sang nenek meminta kami berkumpul. Duduk melingkar. Nenek kembali duduk di kursi tengah. Punggungnya disandarkan. Kaki-kakinya yang kecil menapak di lantai. 

Angin berhembus semilir. Sinar matahari menyelinap masuk lewat ventilasi. Kicau burung terdengar nyaring. Pino dan Pinta berlari kesana kemari sebelum akhirnya diambil untuk dimasukkan kembali ke kandang. 

Nenek menghela nafas. Pelan. Kakinya disilangkan dari kiri ke kanan. Tangan kanannya ditaruh di lutut kirinya. Sorot matanya tajam namun sedikit layu. Kerudung yang dikenakannya dibiarkan terbuka. Rambutnya yang putih menyembul diatas dahinya. 

Kami menunggu. Sejenak suasana menjadi hening. Kami tahu, nenek pasti akan membicarakan sesuatu yang maha penting. Tapi tak satupun dari kami tahu apa yang akan dibicarakan. Kami hanya bisa menunggu.

Nenek kembali menghela nafas. Teratur. Ritme yang masih sama. Beliau mengambil gelas berisi air putih. Meminumnya hingga tandas. Kembali mengatur posisi duduk. Kami menunggu.

Nenek mencoba memejamkan mata secara pelan. Kemudian membukanya. Bibirnya agak gemetar ketika akan memberikan sebuah kalimat yang maha penting. Kalimat yang tentu tak akan dilupakan sepanjang hayat hidup kami. 

“Aku wes tuku kapling.”

Selamat Lebaran. Selamat mudik sampai tujuan. Selamat berkumpul dengan keluarga. Sayangilah dan peluklah nenek dan kakekmu selagi masih ada.

Setelah Tomat ditetapkan sebagai Sayuran

​Sejak lahirnya Adam hingga wafatnya Muhammad. Sejak runtuhnya Konstantinopel hingga bangkitnya kejayaan Eropa. Sejak runtuhnya Tembok Berlin hingga kemerdekaan Indonesia. Dan sejak munculnya demo 212 hingga kepergian sang Imam Besar dan Bapak Reformasi kita, maka diputuskan bahwa tomat adalah sayuran. Tak lagi bisa disebut buah.

Perdebatan apakah tomat termasuk sayuran atau buah memang mengalami pergulatan panjang dan tak kenal lelah. Hal tersebut diikuti pula dengan teman-teman nabatinya. Sebut saja timun, labu, dan paprika. Tak ketinggalan juga buah yang menjadi buah bibir di ensiklopedia perdebatan panjang abad 21. Terong dan cabai. 

Andaikan terong dan cabai juga termasuk sayuran, mungkin tak ada lagi sebutan terong-terongan ataupun cabai-cabaian. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Keputusan tomat menjadi sayuran tak lepas peran dari para petani, tengkulak, hingga eksportir maupun importir di Amerika. Ya, beberapa hari yang lalu menjelang memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan, Mahkamah Agung Amerika memutuskan untuk menetapkan tomat sebagai sayuran. Mengapa bisa begitu? Jika tomat masih tergolong buah, maka tomat akan dikenakan pajak impor 10%. Beda dengan sayuran. Tak ada persen-persenan seperti itu. 

Selain itu, jika tomat masih mahal maka masyarakat Amerika khawatir akan kondisi nutrisi kulitnya. Selain buat kesehatan mata, tomat juga berguna untuk memutihkan kulit dalam satu malam. Tak percaya? Cari saja di yutub dengan kata kunci “tomat memutihkan dan menghaluskan kulit”. Saya yakin hampir sebagian penontonnya bukan orang-orang Amerika. Melainkan Indonesia. 

Karena kita masih berpikir rasis. Bahwa hitam adalah hina dan putih adalah cita-cita. Kalo hitam adalsh cita-cita maka seharusnya iklan di Indonesia adalah krim menghitamkan kulit dan wajah. Ada yang berani? Saya malah yakin bahwa iklan tersebut akan menuai sorotan dari KPI.

Saya mulai berpikir bahwa perjuangan yang dilakukan Amerika patut diapresiasi.  Anda tahu sendiri kan bahwa AS adalah negara adidaya. Jika Amerika menetapkan sebuah keputusan maka negara-negara seluruh dunia akan mengikutinya. Percaya kan? Kalo belum saya kasih contoh terbaru. 

Amerika Serikat menetapkan bahwa Arab Saudi sebagai pusat anti radikalisme dan terorisme. Kemudian Iran dan Qatar adalah negara teroris. Nah, akhirnya semua negara pun mengikuti keinginan Amerika bahwa Iran dan Qatar harus dibumihanguskan. Mirip peristiwa Bandung Lautan Api di masa silam.

Nah kembali ke soal tomat.

Kalo tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka saya yakin Indonesia akan memberlakukan keputusan serupa. Indonesia kan negara pengikut dan toleran sama Amerika. Bukan begitu? Lha ya kalo ndak toleran, kan ndak mungkin Freeport bisa mengambil emas sejak zaman Bahula. Dipersilakan mengambil sebanyak-banyaknya. Kalo ada peraturan yang perlu diubah, segera diubah. Jangan ditunggu. Apalagi ditunda. Hukumnya haram kalo ndak tunduk sama Amerika.

Begitu toh?

Saya juga berpikir bahwa dengan tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka Amerika bisa menginspirasi Indonesia bahwa banyak perdebatan panjang yang perlu diteliti. Indonesia bisa belajar bagaimana menampilkan perdebatan panjang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tak perlu lagi ada perdebatan Al Maidah, Obrolan Porno, Kriminalisasi ulama, hingga soal tulisan warisan. Indonesia bisa mencari perdebatan panjang yang lain. 

Misal apakah Hamish Daud pantas sebagai calon suami Raisa. Eh bukan ding. Misal kayak penentuan apakah wajah bulan itu berupa kelinci atau kepiting. Itu lebih layak.

Mungkin juga perdebatan macam telur dan ayam. Mana yang lebih dulu ada. Telur atau ayam? Kalo pake logika ekonomi seharusnya telur lebih dulu daripada ayam. Karena harga telur lebih murah daripada ayam. Saya berkata begini karena sudah update masalah harga menjelang lebaran. 

Atau mungkin Indonesia cari perdebatan yang lebih layak. Seperti apakah mobil Esemka baik untuj mobil kepresidenan atau tidak. Apakah listrik kedondong baik untuk kebutuhan listrik atau tidak. Itu kan lebih prinsipil dan siapa yang tahu jika penemuan dari anak bangsa justru mengharumkan nama Indonesia di cakrawala dunia.

Namun, sekali lagi semua yang ada di dunia ini tak lepas dari kepentingan ekonomi. Tomat ditetapkan sayuran karena masalah ekonomi. Reformasi 98 karena masalah ekonomi. Arab Saudi menyerang Qatar juga karena masalah ekonomi. Dan yang paling gres. Persoalan baik atau buruknya sekolah 5 hari juga terkait dengan ekonomi.

Karena kita selalu mengacu bahwa beda pendapat adalah beda pendapatan maka segala perdebatan yang ada di dunia ini tak lepas dari masalah ekonomi. 

PPKN dan Betadine

Tanggal 1 Juni. Semua lini masa pasti lagi ramai tentang obrolan Pancasila. Ya wajar. Ini kan hari Pancasila. Kamu akan dianggap bukan sebagai bangsa Indonesia apabila gak buat status atau cerita tentang Pancasila. Ye, kan?

Nah omong-omong soal Pancasila. Dari kemarin di beranda saya bertebaran tulisan yang berbunyi “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Setahu saya, orang pertama kali yang berucap seperti ini adalah Bapak Presiden Indonesia. Joko Widodo alias Jokowi. Nah, kemudian ditiru netizen seluruh Indonesia hingga dijadikan status nasional.

Ada yang menyetujui. Ada pula yang mengkritik. Ada yang mendukung. Ada pula yang menolak. Ya tidak apa-apa. Sekarang zaman yang mana manusia memiliki hak kebebasan berpendapat. Kebebasan berekspresi. Begitulah yang terangkum dalam pasal 28 D dan E UUD 1945.

Nah, disini saya tidak akan cerita seperti apa makna “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Biarkan orang-orang yang lebih ahli atau pakar dalam menguraikan makna kata-kata tersebut. Toh, Indonesia kan banyak orang hebat. Bakat terpendam, pintar mencuat. Akal tertindas, goblok meluap.

Saya akan bercerita tentang bagaimana pelajaran PPKN adalah pelajaran yang tidak cukup mudah untuk diresapi dan dihayati oleh sebagian kalangan. Terutama anak-anak SD. Hal ini terbukti dengan cerita pendek yang memiliki nilai PPKN. Menurut saya, PPKN adalah pelajaran multitafsir.

Dulu, saat akan ujian caturwulan, setiap mau masuk kelas, kami disuruh berbaris layaknya tentara. Presensi dahulu sesuai abjad. Masuk satu per satu. Kemudian duduk sesuai tempat yang telah diatur.

Kebetulan saat itu, kami sedang menghadapi ujian PPKN. Bagi sebagian anak, mungkin ini ujian termudah dibandingkan mata pelajaran bahasa Indonesia atau matematika. Tapi bagi saya, justru ini adalah mata pelajaran yang amat menjebak.

Kenapa begitu? Jawabannya hampir2 mirip. Jawaban benar atau salah semuanya semu. Abstrak hingga sulit diprediksi. Tak ada yang pasti. Tentu butuh konsentrasi tinggi. Logika yang masuk. Asupan gizi yang baik serta dilengkapi otak encer.

Saya masih ingat saat itu ada 3 bagian pertanyaan. Pertama, jawaban pilihan ganda. Kedua, jawaban isi tanpa perlu penjelasan. Maksudnya singkat, padat, dan jelas. Ketiga, jawaban isi dengan penjelasan.

Kalo bagian pertama, mungkin bagi sebagian anak akan menjawab dengan mudah. Pilihan ganda. Tinggal memilih. A, B, C, atau D. Kalo ga yakin, hitung dengan jari tangan. Ga yakin lagi, hitung dengan kancing baju. Masih ga yakin? Tutup mata. Kemudian jatuhkan pensil dari atas. Kemana pensil jatuh ke huruf terpilih, maka itu jawaban yang dilingkari.

Masih ada ga ya yang menerapkan kayak gitu? Kayaknya udah ga ada ya? Kan semuanya berbasis komputer. Toh sekarang pendidikan semakin berkembang. Jika misal masih ada yang menggunakan metode seperti itu, maka sekolahmu bisa saja dianggap tertinggal.

Nah, saat mengerjakan soal terlihat banyak anak diam. Paling ada beberapa yang gusar dan celingak-celinguk. Toh, wajar. Mungkin anak-anak sedang cari wangsit. Berharap jawaban runtuh dan terisi semua. Seperti saya.

Bagian kedua. Terdiri dari 10 pertanyaan. Jawaban harus secara singkat, padat dan jelas. Kalo bisa jangan lebih dari 5 kata. Kalo yang ini tak butuh jawaban yang ndakik-ndakik atau pakai kata-kata sulit. Asal ada yang terlintas di pikiran, kemudian jawablah dengan yakin. Seyakin-yakinnya.

Bagian ketiga. Nah ini dapat dikatakan tipe soal susah mudah, mudah susah. Karena bisa dipastikan, kita harus pandai mengarang jawaban. Bukan menulis jawaban. Berpikir gimana caranya menjawab dengan terstruktur dan sistematis.

Aneh dan unik. Mungkin karena sejak kecil kita dituntut mengarang cerita, tak heran besarnya kita suka mengarang cerita. Entah benar atau hoaks. Kebetulan efeknya hingga hari ini. Entah sistem pendidikan yang salah atau kami yang kurang pandai menerima sistem pendidikan modern.

Bagian ketiga dilewati dengan susah payah. Dahi lebih banyak mengernyit. Mulut lebih sering mencucu. Mata lebih payah untuk dikucek. Otak lebih cepat panas. Tangan lebih mudah lelah. Tapi, akhirnya semua usai.

Jawaban dikumpulkan. Secepat kilat guru-guru mengkoreksi jawaban kami. Ada yang tersenyum. Ada yang tertawa. Tapi ada pula menahan amarah. Pelbagai macam ekspresi diperlihatkan oleh guru-guru. Mungkin mereka bangga atau justru mereka heran dengan jawaban murid-murid.

Tiba saatnya hasil ujian diumumkan. Rata-rata teman saya mendapat nilai bulat. Antara angka 5-10. Kecuali saya. Ada nilai setengah pada kertas jawaban saya. 7,5.

Saya bingung. Mencari soal dan nomor. Ada salah satu nomor yang dilingkari merah. Tidak biasanya soal dilingkari merah. Jika pun ada yang salah, nomor tersebut akan disilang.  Ah ternyata ada di bagian kedua. Isian langsung. Jawaban saya benar tapi kurang tepat.

Pertanyaannya begini, “Jika kamu melihat temanmu terjatuh, maka kamu harus….”

Nah, jawaban yang tepat adalah “menolong”. Sedangkan jawaban saya berbeda. Apa itu?

“Memberi betadine”.

Makanya saya dapat nilai setengah. Bener sih. Tapi kurang tepat. Ya itulah PPKN. Semuanya multitafsir.

 

Balada Kaki Panjang

Beberapa orang terlahir memiliki kelebihan. Bahkan diantaranya berlebihan. Itu kata-kata teman saya yaitu Samid. Namun dari kata-kata tersebut kalo kamu cermati baik-baik, itu kalimat sarkastik. 

Punya uang banyak hasil jualan. Eh ternyata masih juga korupsi. Punya kitab banyak. Eh bukan dibaca seluruhnya tapi cuman dibaca sepotong. Dijadikan adu domba pula. Punya wajah ganteng. Eh bukannya kalem malah pengen poligami istri orang. Ya begitulah makna kata-kata itu. 

Sebenarnya saya juga demikian. Kebetulan saya punya sepasang kaki. Kebetulan pula bisa digunakan untuk menendang bola. Menyaduk tulang kering. Hingga yang paling fenomenal. Mengaduk mie. 

Kenapa bisa begitu? Mulanya dari sesuatu yang tak sengaja. Kaki saya panjang sebelah. Tak kelihatan kalo dari jauh. Coba kamu ketemu saya. Lihat secara dekat dan jelas. Asal jangan sampai melekat. Bahaya. Nah, nanti kamu tau kalo kaki kanan saya lebih panjang setengah inci daripada kaki kiri. Iya, hanya setengah inci. Tapi itu cukup memberikan perbedaan.

Tidak hanya itu. Jari-jari saya panjangnya diluar kebiasaan masyarakat Indonesia. Lebih panjang daripada kunci sepeda motor Honda. Ini yang membuat saya kesulitan untuk memilih sepatu murah. Hiks. Derita bagi saya.

Sejak SD, saya hanya memiliki sepasang sepatu. Itu saya cari sampai berdarah-darah. Ukuran 43 untuk anak usia 9 tahun adalah sangat fenomenal. Sudah susah dicari, harganya juga tak murah. Akhirnya kadang saya pesan. Dan butuh waktu cukup lama. Hmm.

Kadang saya miris dan hati cukup teriris. Sepatu buatan Indonesia tak ada yang ukuran seperti saya. Kadang impor. Dan pake sepatu impor pun, saya dianggap tidak nasionalis. 

“Sok-sokan le pake sepatu impor, situ ndak nasionalis ya?”

Kadang kalo ada orang yang ngomong kayak gitu, pengen saya bilang.

“Sampeyan pengen dicokot grandong apa distaples lambenya?”

Tapi ya gimana. Kenyataannya begitu. Indonesia tak mengakomodir manusia kebutuhan khusus seperti saya. Malah saya lebih sering bukan dianggap manusia. Mau tau apa mereka menyebutnya? Hobbit. 

Tak jarang saya selalu merawat sepatu dengan baik. Dan juga kaki saya. Hobi saya main bola. Tentu jaman seusia saya kala SD, melakukan tendangan pisang ala David Beckham adalah impian anak bangsa. Tapi tak jarang, banyak yang tak bisa melakukannya.

Berbagai riset dilakukan. Ada lewat teknologi. Ada yang lewat manual. Ada pula yang lewat perdukunan. Yang terakhir mengira bahwa kaki Beckham adalah kaki turunan dari persalinan Mak Lamipr dengan Hulk. Namun faktanya adalah kaki kiri Beckham lebih pendek daripada kaki kanannya. Makanya ia bisa sempurna melakukan tendangan bebas. Seperti saya.

Sungguh suatu anugerah terindah yang pernah kumiliki. Seperti lirik Sheila On 7. Dan kebetulan saya bisa melakukan apa yang dilakukan beckham. 11-14. Cuman bedanya ia lebih ganteng daripada saya. Itu saja. 

Persoalan kaki tak hanya berujung pada bola. Beladiri pun begitu. Saya diminta menendang setinggi-tingginya. Banyak orang yang percaya bahwa saya bisa melakukan apa yang disebut tendangan Bruce Lee. Sayang, saat melakukannya, kaki saya tercantol pagar. Karena saat kembali ke tanah, kaki kanan saya tidak mendarat dengan sempurna. Alias tak seimbang. 

Walaupun begitu, saya kadang tetap bangga dengan kaki saya. Kalo ada perlombaan 17 agustus seperti lompat jauh. Jelas saya pemenangnya. Lha wong jari-jari saya panjangnya naudzubillah kok. Kadang juri heran. Kok bisa ya? Jangan-jangan saya alien dari planet lain. Kalo sudah begitu saya tinggal bilang.

“Afwan, kaki ane keturunan Arab Saudi.”

Nah kalo sudah begitu, saya malah dilarang ikut lomba lompat jauh lagi. Takutnya menang terus. Dikira saya manusia adidaya layaknya Raja Salman. Padahal ya ndak. Atau mungkin dulunya si juri sedang terjangkit Saudiphobia. Mungkin sih.

Menginjak usia dewasa, saya memiliki posisi favorit dalam sepakbola. Gelandang. Seperti Gennaro Gattuso mantan da’inya AC Milan. Di posisi futsal pun saya ditempatkan sebagai breaker alias perusak. Posisi ini baru saya temukan setelah bermain dengan pemain futsal favorit saya. Darmanto Simaepa.

Ia salah satu guru saya dalam bermain futsal. Mengajarkan cara mengambil bola. Merebut bola. Cuma satu yang tak ia ajarkan. Memungut bola. Kaki-kaki saya serasa maksimal. Biasanya saya hanya digunakan mengumpan. Sekarang bisa buat merusak kaki orang. Minimal tulang kering. 

Trik ini saya gunakan ketika bermain futsal tempo lalu. Kebetulan saya satu tim dengan beliau. Kami diajak latih tanding dengan sebuah tim antah berantah. Saya berulang kali ‘sengaja’ menabrakkan diri ke badan lawan. Menungkak tulang kering. Merebut bola secara liar. Tapi tentu saja sesuai dengan peraturan futsal yang berlaku. 

Hingga sampai pertandingan berakhir, mas Darmanto berujar kepada saya.

“Kamu ini, muka Cina, kaki Arab tapi otak Indonesia.” Saya dan beberapa teman kaget mendengarnya. “Kenapa begitu mas?”

“Satu. Matamu yang sipit itu cermat sekali. Tahu kemana arah bola. Tahu cara bermain untung. Kedua, kakimu yang astagfirullah panjangnya itu baik sekali buat merebut maupun mengambil bola. Dan selalu bikin frustasi pemain lawan. Tapi yang terakhir ini. Saya agak kecewa.”

“Kenapa mas?”

“Kamu mudah terkena kartu merah.”

21 Mei

21 Mei. Ini adalah salah satu tanggal yang selalu diingat dan dikenang oleh masyarakat Indonesia. Terutama tanggal 21 Mei 1998. Kenapa begitu? Karena pada tanggal tersebut, wajah Indonesia berubah. Dari orba menjadi reformasi. Ngerti kan reformasi?

Jangan-jangan kamu ga ngerti apa itu reformasi? Jangan-jangan yang kamu ingat bahwa 21 mei bukan hari kelahiran reformasi melainkan hari kelahiran yang lain. Loh, siapa? Secara kebetulan tanggal 21 mei adalah hari kelahiran beberapa orang terkenal. Seperti si pemain Juventus Mario Mandzukic, aktor ganteng Darius Sinarthya dan aktris cantik yang sedang naik daun Tatjana Saphira.

Oh iya kurang satu, penulis cum-idola masa kini. Sama seperti Tatjana, blio juga sedang naik daun. Hingga menghasilkan buku best seller di Indonesia. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Tere Liye. Tau kan? Kalo nggak tau ya kebangetan. Mungkin mainmu kurang jauh dan bacaanmu kebanyakan hoaks. 

Ngomong-ngomong soal reformasi, apa sih sebenarnya reformasi? Saya mencoba menjelenterehkan. Kalo dilihat secara etimologi kan berarti re itu ulang dan formasi itu susunan. Jadi reformasi adalah susunan ulang. Benar begitu? Benar atau salah ya suka-suka saya. Kalo kata reformasi, era sekarang adalah eranya kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ye kan?

Tapi apa yang disusun ulang? Sistem negara Indonesia? Susunan kabinet menteri Indonesia? Atau berita-berita yang semakin hari semakin absurd saja? Yang mana mau direformasi? Salah satunya? Atau justru ketiga-tiganya?

Waw, tunggu dulu. Mari kita bedah satu per satu.

1. Sistem negara Indonesia. Kamu yakin mau menyusun ulang sistem negara Indonesia? Lha, kamu siapa? Mahasiswa yang gemar bakar ban di jalan? Atau rakyat yang suka menyebar kebencian? 

Asal kamu tahu, sistem negara kita berbentuk Republik. Lebih lengkap lagi yang sering didengungkan orang-orang. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi ya wajar beberapa saat yang lalu ada ‘mitos’ pembubaran salah satu ormas yang katanya juga besar di Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia.

Mereka memiliki ide tatanan negara Indonesia harus diganti khilafah. Dengan sistem itu maka rakyat Indonesia dijamin masuk surga. Wow. Sapa yang tak mau sih masuk surga? Enak ya, mereka sudah punya kavling di surga. 

Tapi masalahnya begini, mereka ya dibilang anti Pancasila. Dianggap makar kalo pengen mengubah tatanan negara. Ada lo Undang-undangnya. Kita ini Pancasila. Sila kelima itu jelas. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adil buat yang kaya semakin kaya. Dan yang miskin semakin miskin. Emang khilafah bisa begitu? Kalo iya saya dukung! Serius. Semoga bisa menang di peradilan yaaa.

2. Susunan kabinet menteri Indonesia. Nah kalo ini apanya yang mau disusun ulang? Orang-orang di kabinet? Atau pergantian sebutan nama kementerian? Karena ini era reformasi, mari kita menyalurkan pendapat. Memberikan gagasan. Atau mengeluarkan ekspresi. Sapa tau melalui suara rakyat, susunan kabinet menteri Indonesia bisa berubah. Dari Andrew Gardfiled menjadi Spiderman. Dari Hugh Jackman menjadi Logan. Dari Indonesia Hebat menjadi Indonesia Hebat Sekali. 

Tapi apa mampu suara rakyat bisa tembus ke pemerintahan? Jangan-jangan ada adagium seperti ini. Suara rakyat boleh ditimang tapi suara presiden yang boleh dipegang. Lho kok begitu? Itu mah sama aja fasis. Katanya era reformasi yang demokratis punya slogan dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Mungkin kamu lupa bahwa presiden kan mantan rakyat. Jadi suara kita terwakili oleh presiden. Kan sama saja. 

3. Berita absurd. Nah kalo ini mungkin boleh lah disusun ulang. Banyak berita berseliweran tak jelas dan tak bersumber. Asal denger dari orang, langsung saja diamini bahwa berita tersebut adalah sebuah kebenaran mutlak. Padahal ya belum tentu loh. 

Tapi karena dasarnya kita malas baca atau mengecek sumber-sumber lain makanya langsung saja diputusi kalo berita itu sebuah kebenaran hakiki. Disebar ke grup WA, Line dan sebagainya. BOOM. Sepelemparan pepaya California maka berita tersebut menjadi kebenaran tunggal. 

Boleh dipercaya atau tidak, kita kan malas untuk mengklik 2x. Misal kamu membagikan berita. Judulnya bombastis. “Ahok Masuk Islam”. Trus kamu kasih narasi yang agak provokatif gimana gitu. “Karena masuk Islam, Ahok tak lagi dipenjara.” Wah dijamin berita tersebut menjadi viral di Indonesia bahkan dunia. 

Padahal mungkin saja, saat kita buka beritanya bahwa ternyata Ahok sedang mengunjungi salah satu rumah orang Islam. Atau ternyata Ahok sedang berkunjung ke Masjid. Tapi, tapi, karena fakor kita yang mudah terpukau oleh judul tanpa memperhatikan isi jadilah kita manusia yang absurd juga, 

Benar bahwa, jangan lihat buku dari sampulnya. Ya persis. Jangan lihat berita dari judulnya. 

Toh sebagai masyarakat Indonesia, kita sepatutnya bersyukur. Di era semakin absurdnya keadaan negara, kita masih bisa menikmati kebebasan. Apa itu? Kebebasan menikmati makanan impor. Mengendarai kendaraan impor. Memegang gawai impor hingga mengkritik politisi impor. Maaf, yang terakhir sedang hijrah ke Arab Saudi. 

Dan sesungguhnya jika setiap tanggal 21 Mei kita menyanyikan Darah Juang maka sudah saatnya kita menyanyikan lagu paling ngehits abad ini. Katanya juga lagu impor lho.

“Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya. Ku rela kau dengannya, Asal Kau Bahagia”

Setelah Emmanuel Macron Menang Telak

Setelah melalui pergulatan panjang sejak 24 April hingga 8 Mei 2017, akhirnya pada putaran kedua pemilu, Prancis mendapatkan pemimpin baru. Ia adalah Emmanuel Macron, penggerak partai En Marche! (Bergerak!).

Macron memenangkan perolehan suara dengan hasil cukup telak dari Marine Le Pen, kandidat dari Front National. Macron mendapatkan suara sebanyak 65,1 %, sedangkan Le Pen mendapatkan suara 34,9%. Hasil ini tidaklah mengejutkan jika melihat pada jajak pendapat sebelumnya bahwa Macron diprediksi menang dengan suara lebih dari 60%.

Kemenangan Macron diklaim banyak pihak berhasil membuktikan praduga sebelumnya bahwa Prancis memang membutuhkan pemimpin yang membangun nilai-nilai Republik. Dengan slogan liberte, egalite, fraternite (kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan), Macron dianggap sebagian besar masyarakat Prancis mampu mengejawantahkan nilai-nilai sebenarnya dari Prancis.

Jika dilihat lebih jauh, sejatinya kemenangan Prancis bisa dicermati pada beberapa faktor. Pertama, faktor kebersamaan masyarakat Prancis dan dunia internasional untuk menolak Le Pen sebagai pemimpin Prancis. Usai kemenangan Macron pada putaran pertama yang berlangsung pada 24 April, tim kampanyenya bergerak untuk mencari dan mencoba mendulang suara dari kandidat yang tersisih. Ada tiga kandidat yang tersisih: Francois Fillon, Benoit Hamon, dan Nicolas Dupont Aignan.

Fillon dan Hamon berkomitmen tidak akan memberikan suara kepada Le Pen. Namun berbeda dengan Aignan yang melakukan tindakan sebaliknya. Tampaknya Macron berhasil mengendalikan situasi, kondisi serta pesonanya untuk mendulang suara dengan bantuan dari pendukung Fillon dan Hamon hingga memperoleh kemenangan mutlak.

Masyarakat Prancis lebih jeli dalam melihat situasi pemilu kali ini jika dibandingkan pada tahun 2002. Mereka tidak ingin terjebak pada situasi yang telah dialami Inggris dan Amerika Serikat. Macron berusaha menjelaskan pengaruhnya bahwa tidak ada jalan bagi orang-orang rasis dan radikal untuk menguasai Prancis. Secara tidak langsung, Macron menunjuk kepada kedua pemimpin dunia, yaitu Theresa May dan Donald Trump.

Kedua, munculnya pemimpin muda dunia. Pasca Swedia dan Kanada, kini Macron menjadi bagian dari ketiga pemimpin muda dunia. Dilihat pada sejarah Prancis pun, mantan Menteri Urusan Keuangan, Digital, Media era Hollande dinobatkan menjadi presiden termuda Prancis. Saat pemilihan telah selesai dilakukan, Macron menjadi presiden dengan usia 39 tahun.

Efek domino yang ditimbulkan dari ketiga negara tersebut tampaknya berhasil menginspirasi masyarakat Prancis untuk melakukan tindakan serupa. Kejenuhan dengan calon pemimpin tua, kebaruan pada pemimpin muda, semangat serta gairah pemimpin yang menyala membuat Macron dapat terpilih menjadi pemimpin Prancis. Hal tersebut seakan menjadi penanda bahwa partai-partai baru semacam En Marche! bisa juga menjadi pionir bagi kemunculan partai baru di belahan dunia lainnya.

Janji-janji Macron
Janji-janji yang telah diucapkan Macron sebenarnya bukan ide baru dan segar bagi masyarakat Prancis. Peningkatan pasar bebas, reformasi bisnis, hingga mengatasi masalah sosial adalah janji-janji yang juga diucapkan oleh rival-rivalnya. Namun keuntungan Macron adalah janji bahwa dirinya akan mereformasi UU Buruh. Undang-undang tersebut diklaim yang menjadi biang kerok bagi menurunnya tingkat perekonomian Prancis.

Hal ini diperparah pula dengan meningkatnya pengangguran di Prancis menjadi 10%. Pada akhirnya menyebabkan naiknya angka kriminalitas, utamanya di kota-kota pinggiran.
Selain itu, banyak pengusaha yang ikut mendukung Macron karena ia menjanjikan penurunan pajak bagi pengusaha. Ini menjadi anomali karena sebelumnya Macron adalah anggota partai sosialis yang tergabung dalam pemerintahan Hollande.

Saat Hollande memimpin, pajak pengusaha cukup tinggi sehingga pengusaha agak kesulitan mengembangkan usahanya. Hal inilah yang menjaddi titik poin mengapa ia keluar dari partai sosialis kemudian mendirikan En Marche!

Ketiga, kemampuan bahasa Prancis bagi pelamar suaka. Ini bukan hal baru. Sejak era Sarkozy telah ada kebijakan serupa yang dinamakan dengan French Immigration and Integration Law. Tampaknya Macron mengantisipasi dan memperkuat argumen yang pernah dikeluarkan oleh Le Pen tentang gelombang imigran. Masalah imigran adalah masalah bersama bagi masyarakat Prancis.

Jika Le Pen dan Fillon dengan jelas menolak dan menganggap kaum imigran adalah biang kerok dari kriminalitas dan meningkatnya kaum ekstrimis di Prancis, Macron melakukan hal serupa namun agak lebih ‘soft’.

Terakhir adalah kebijakan pemerintah tentang Uni Eropa. Selama kampanye berlangsung, Macron mendengungkan bahwa Prancis adalah bagian dari Uni Eropa dan selamanya akan tetap mendukung Uni Eropa. Janji tersebut yang menarik perhatian bagi pemimpin dunia macam Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Komisi Uni Eropa Jean Claude Junker untuk selalu mendukung Macron.

Respons terhadap janji tersebut diungkapkan ketika Macron secara resmi terpilih menjadi pemimpin baru Prancis. Angela Merkel mengatakan bahwa ini kemenangan bagi Eropa yang kuat dan bersatu. Sedangkan Jean Claude Junker mengungkapkan bahwa pemilih Perancis telah memilih masa depan Eropa.

Meskipun Macron secara resmi terpilih sebagai presiden Prancis, masih ada jalan terjal yang menanti. Di antaranya adalah memastikan dukungan mayoritas di Parlemen pada pemilu legislatif Juni mendatang. Bukan tidak mungkkin, Le Pen dan Melechon akan berusaha mengimbangi pergerakan Macron dengan meraih suara mayoritas di Parlemen. Dengan begitu, ada perimbangan baik di kekuasaan eksekutif dan legislatif.

Selain itu, apakah benar janji yang diucapkan tentang masalah pengangguran, kriminalitas, hingga ekstrimis mampu diselesaikan dalam lima tahun mendatang? Janji-janji itulah yang akan terus ditagih oleh masyarakat Prancis. Berkaca dari pemilu Amerika Serikat, sebaiknya Macron belajar dari Trump untuk mengimplementasikan janji kampanye dengan baik.

Meski janji Trump dilihat oleh dunia internasional menimbulkan perpecahan konflik, setidaknya Trump berhasil membuktikan janjinya. Hal inilah yang akan dibutuhkan oleh Macron jika dirinya tidak ingin bernasib buruk seperti yang telah dialami pendahulunya, Francois Hollande.

Tulisan ini dimuat di geotimes tanggal 15 Mei 2017

Korea Utara dalam Pusaran Konflik

Sekali lagi dunia internasional terhenyak. Fenomena ISIS di Timur Tengah yang tak kunjung usai kini bergeser ke daerah Asia Pasifik. Sekitar awal Maret 2017 hingga kini, Semenanjung Korea berada di titik kulminasi konflik. Akankah terjadi perang dunia III?

Memanasnya konflik di Semenanjung Korea ditengarai oleh uji coba peluncuran rudal yang dilakukan oleh Korea Utara sejak awal Maret 2017. Alasan mendasar Korut melakukannya adalah ingin menunjukkan kekuatan kepada dunia internasional dan menjaga kedaulatan serta menjaga keamanan wilayahnya. Namun, jika dilihat lebih lanjut, alasan Korut yang lain adalah masifnya kekuatan Amerika Serikat dalam membombardir Timur Tengah. Salah satunya dengan mengeluarkan ibu dari segala bom yang dijatuhkan di Afghanistan beberapa waktu yang lalu.

Aksi yang dilakukan Korut menuai reaksi dan ancaman keras dari dunia internasional. Diantaranya Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang. Ketiga negara tersebut bahkan mengancam jika Korut terus melakukan ujicoba nuklir maka peristiwa Libya dan Ukraina dapat terulang kembali. Perlu anda ketahui kasus di Libya dan Ukraina terjadi karena kedua negara tersebut mempunyai nuklir dan kepemilikannya melanggar aturan PBB.

Namun, tampaknya ancaman tersebut hanya dianggap oleh omong kosong belaka. Ujicoba nuklir terus dilakukan sampai berjumlah 6 kali hingga saat ini. Pada Selasa (25/4) bertepatan dengan ulang tahun angkatan bersenjatanya, Korut telah menembakkan artileri secara masif di wilayah Wonsan. Hal ini diluar dugaan karena banyak pengamat yang memperkirakan Korut akan meluncurkan rudal pada hari tersebut. Namun, tetap saja ancaman nyata akan terpampang karena Korea Utara memiliki kemampuan untuk memproduksi dan meluncurkan nuklir.

Konflik Korut dan Korsel

Konflik yang terjadi antara Korut dan Korsel sejatinya sudah berlangsung sejak lama. Ingatan tentang konflik tersebut mengarah pada Perang yang Terlupakan (Forgotten War) pada 25 Juni 1950-27 Juli 1953. Konflik tersebut dianggap salah satu yang terbesar di Asia karena hampir merenggut nyawa 2,5 juta jiwa.

Mulanya, konflik tersebut ditengarai invasi Korut ke wilayah Korsel. Kedua negara tersebut didukung oleh negara-negara besar yang saling bertolak belakang. Korut didukung oleh China dan Rusia sedangkan Korsel didukung oleh Amerika Serikat dan 21 negara besar lainnya. Alhasil, terjadilah perang yang pada akhirnya benar-benar memisahkan wilayah antara Korea Utara dengan Korea Selatan.

Pasca perang tersebut, Korut diisolasi oleh pihak Barat sedangkan Korsel dilindungi oleh Amerika Serikat sehingga mampu menikmati gemerlap sistem perdagangan internasional. Korut pun menjadi negara komunis yang dipimpin oleh diktaktor yang kaku yaitu Kim Il Sung. Inilah perbedaan yang menjadikan Korut ditangan pihak komunis sedangkan Korsel ditangan pihak kapitalis. 

Pada tahun 2000an, konflik yang ada sempat menjadi cair karena adanya pertemuan tingkat tinggi. Pada pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang dinamakan dengan Sunshine Policy. Maksud dari kebijakan tersebut adalah adanya pemberian bantuan kemanusiaan dan bantuan ekonomi dari Korsel untuk Korut (Levin dan Yong-Sup Han, 2002). Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan menurunkan intensitas konflik dan dibukanya kembali hubungan harmonis antara kedua negara.

Selain itu, sempat pula terjadi pertemuan enam pihak yang biasa sering disebut Six Party Talks yang terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, Jepang, China, Korea Utara, dan Korea Selatan untuk bersepakat mengakhiri konflik. Bahkan keenam negara tersebut optimis akan terjadi simbiosis mutualisme dengan berhentinya produksi nuklir dan mengembalikan perdamaian dunia (Martin, 2008).

Namun, pada tahun 2008 Presiden Korsel yaitu Lee Myung Bak mengambil langkah keras terhadap Korut terkait nuklir. Korsel menganggap nuklir yang diproduksi oleh Korut sengaja dipersiapkan demi memperluas ancaman ke tetangga sekitar. Korut pun berusaha membantah namun dunia internasional bereaksi terlalu cepat sehingga menghakimi bahwa Korut dianggap melakukan provokasi tidak hanya ke Korsel melainkan dunia internasional. 

Nuklir Korea Utara

Ujicoba nuklir yang dilakukan oleh Korut sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru. Sudah dari sejak zaman Kim Il Sung, Korut menegaskan ingin mengembangkan nuklir. Hal ini diperkuat dengan adanya kebijakan yang dicanangkan oleh presiden baru mereka yaitu Kim Jong Un. Ia mencanangkan two-track policy (the byujing line) yaitu melakukan perkembangan ekonomi dan menegaskan perkembangan senjata nuklir (Chanlett-Avery, dkk, 2016).

Jadi, memang tidak aneh jika Korut selalu mengembangkan produksi senjata nuklir. Namun yang menjadi problematika adalah apakah nuklir yang diproduksi oleh Korut hanya untuk menjada kedaulatan wilayah atau justru menjadi senjata pemusnah massal seperti di Iran, Libya dan Ukraina? Dalam laporan yang dirilis oleh the Institute for Foreign Policy Analysis (IFPA) mengenai Denuclearizing North Korea pada September 2011 sejatinya ada 3 hal yang menjadi titik permasalahan nuklir Korut.

Pertama, Korut mengembangkan dan meningkatkan senjata nuklir dan missil berpotensi menjadikan senjata pembunuh massal. Kedua, pergantian estafet kepemimpinan dari Kim Jong Il ke Kim Jong Un menuai reaksi negatif. Kim Jong Un dipandang lebih sering mengeluarkan kebijakan agresif dan tak terduga seperti penyerangan Korut ke Pulau Cheonan dan Yeonpyeong pada tahun 2010. Ketiga, kondisi Semenanjung Korea yang tak stabil dan tekanan politik dari masyarakat ke pemerintah membuat pemerintah Korut cenderung melakukan agresi dan tindakan ofensif. 

Laporan tersebut seakan menegaskan rangkaian peristiwa yang terjadi pada medio Maret-April ini. Masifnya rudal, nuklir, hingga yang terbaru artileri Korut membuktikan bahwa laporan tersebut benar adanya. Namun, dalih Korut adalah masuknya kapal induk USS Carl Vinson dari AL Amerika Serikat ditengarai menambah makin panasnya krisis Semenanjung Korea. Ditambah pula kapal USS Michigan yang telah tiba di Busan untuk berjaga-jaga siaga menghadapai perang. 

Amerika Serikat tidak henti-hentinya menyebutkan slogan bahwa demi menjaga perdamaian dunia, maka Amerika Serikat harus bertindak lebih jauh. Apakah benar Amerika Serikat benar-benar menjaga perdamaian dunia? Atau jangan-jangan Amerika Serikat sengaja turun dan hadir agar dapat mengelola konflik di Semenanjung Korea? Namun telah menjadi rahasia umum, selama negara belahan dunia manapun tidak tunduk pada Amerika Serikat maka Amerika Serikat akan berusaha dengan segala cara masuk ke wilayah tersebut. 

Sekali lagi, demi kestabilan dunia yang lebih baik maka Amerika ‘wajib’ menjaganya. Tidak hanya di Timur Tengah melainkan juga di Semenanjung Korea utamanya Korea Utara.

Referensi

Chanlett-Avery, Emma, dkk, 2016, North Korea: U.S. Relations, Nuclear Diplomacy, and Internal Situation, Congressional Research Service

Konishi, Weston S., 2011, Denulearizing North Korea: Exploring Multilateral Approaches to Risk Reduction and Peace Regime Buliding, The Institute for Foreign Policy Analysis. 

Levin, Norman D. dan Yong-Sup Han, 2002, Sunshine in Korea: The South Korean Debate over Policies Toward North Korea, RAND: Center for Asia Pasific Policy.

Martin, Matthew, 2008, The Six-Party Talks and New Opportunities to Strengthen Regional Nonproliferation and Disarmament Effort, The Institute for Foreign Policy Analysis.

Tulisan ini dimuat di edunews.id tanggal 8 mei 2017