Korea Utara dalam Pusaran Konflik

Sekali lagi dunia internasional terhenyak. Fenomena ISIS di Timur Tengah yang tak kunjung usai kini bergeser ke daerah Asia Pasifik. Sekitar awal Maret 2017 hingga kini, Semenanjung Korea berada di titik kulminasi konflik. Akankah terjadi perang dunia III?

Memanasnya konflik di Semenanjung Korea ditengarai oleh uji coba peluncuran rudal yang dilakukan oleh Korea Utara sejak awal Maret 2017. Alasan mendasar Korut melakukannya adalah ingin menunjukkan kekuatan kepada dunia internasional dan menjaga kedaulatan serta menjaga keamanan wilayahnya. Namun, jika dilihat lebih lanjut, alasan Korut yang lain adalah masifnya kekuatan Amerika Serikat dalam membombardir Timur Tengah. Salah satunya dengan mengeluarkan ibu dari segala bom yang dijatuhkan di Afghanistan beberapa waktu yang lalu.

Aksi yang dilakukan Korut menuai reaksi dan ancaman keras dari dunia internasional. Diantaranya Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang. Ketiga negara tersebut bahkan mengancam jika Korut terus melakukan ujicoba nuklir maka peristiwa Libya dan Ukraina dapat terulang kembali. Perlu anda ketahui kasus di Libya dan Ukraina terjadi karena kedua negara tersebut mempunyai nuklir dan kepemilikannya melanggar aturan PBB.

Namun, tampaknya ancaman tersebut hanya dianggap oleh omong kosong belaka. Ujicoba nuklir terus dilakukan sampai berjumlah 6 kali hingga saat ini. Pada Selasa (25/4) bertepatan dengan ulang tahun angkatan bersenjatanya, Korut telah menembakkan artileri secara masif di wilayah Wonsan. Hal ini diluar dugaan karena banyak pengamat yang memperkirakan Korut akan meluncurkan rudal pada hari tersebut. Namun, tetap saja ancaman nyata akan terpampang karena Korea Utara memiliki kemampuan untuk memproduksi dan meluncurkan nuklir.

Konflik Korut dan Korsel

Konflik yang terjadi antara Korut dan Korsel sejatinya sudah berlangsung sejak lama. Ingatan tentang konflik tersebut mengarah pada Perang yang Terlupakan (Forgotten War) pada 25 Juni 1950-27 Juli 1953. Konflik tersebut dianggap salah satu yang terbesar di Asia karena hampir merenggut nyawa 2,5 juta jiwa.

Mulanya, konflik tersebut ditengarai invasi Korut ke wilayah Korsel. Kedua negara tersebut didukung oleh negara-negara besar yang saling bertolak belakang. Korut didukung oleh China dan Rusia sedangkan Korsel didukung oleh Amerika Serikat dan 21 negara besar lainnya. Alhasil, terjadilah perang yang pada akhirnya benar-benar memisahkan wilayah antara Korea Utara dengan Korea Selatan.

Pasca perang tersebut, Korut diisolasi oleh pihak Barat sedangkan Korsel dilindungi oleh Amerika Serikat sehingga mampu menikmati gemerlap sistem perdagangan internasional. Korut pun menjadi negara komunis yang dipimpin oleh diktaktor yang kaku yaitu Kim Il Sung. Inilah perbedaan yang menjadikan Korut ditangan pihak komunis sedangkan Korsel ditangan pihak kapitalis. 

Pada tahun 2000an, konflik yang ada sempat menjadi cair karena adanya pertemuan tingkat tinggi. Pada pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang dinamakan dengan Sunshine Policy. Maksud dari kebijakan tersebut adalah adanya pemberian bantuan kemanusiaan dan bantuan ekonomi dari Korsel untuk Korut (Levin dan Yong-Sup Han, 2002). Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan menurunkan intensitas konflik dan dibukanya kembali hubungan harmonis antara kedua negara.

Selain itu, sempat pula terjadi pertemuan enam pihak yang biasa sering disebut Six Party Talks yang terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, Jepang, China, Korea Utara, dan Korea Selatan untuk bersepakat mengakhiri konflik. Bahkan keenam negara tersebut optimis akan terjadi simbiosis mutualisme dengan berhentinya produksi nuklir dan mengembalikan perdamaian dunia (Martin, 2008).

Namun, pada tahun 2008 Presiden Korsel yaitu Lee Myung Bak mengambil langkah keras terhadap Korut terkait nuklir. Korsel menganggap nuklir yang diproduksi oleh Korut sengaja dipersiapkan demi memperluas ancaman ke tetangga sekitar. Korut pun berusaha membantah namun dunia internasional bereaksi terlalu cepat sehingga menghakimi bahwa Korut dianggap melakukan provokasi tidak hanya ke Korsel melainkan dunia internasional. 

Nuklir Korea Utara

Ujicoba nuklir yang dilakukan oleh Korut sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru. Sudah dari sejak zaman Kim Il Sung, Korut menegaskan ingin mengembangkan nuklir. Hal ini diperkuat dengan adanya kebijakan yang dicanangkan oleh presiden baru mereka yaitu Kim Jong Un. Ia mencanangkan two-track policy (the byujing line) yaitu melakukan perkembangan ekonomi dan menegaskan perkembangan senjata nuklir (Chanlett-Avery, dkk, 2016).

Jadi, memang tidak aneh jika Korut selalu mengembangkan produksi senjata nuklir. Namun yang menjadi problematika adalah apakah nuklir yang diproduksi oleh Korut hanya untuk menjada kedaulatan wilayah atau justru menjadi senjata pemusnah massal seperti di Iran, Libya dan Ukraina? Dalam laporan yang dirilis oleh the Institute for Foreign Policy Analysis (IFPA) mengenai Denuclearizing North Korea pada September 2011 sejatinya ada 3 hal yang menjadi titik permasalahan nuklir Korut.

Pertama, Korut mengembangkan dan meningkatkan senjata nuklir dan missil berpotensi menjadikan senjata pembunuh massal. Kedua, pergantian estafet kepemimpinan dari Kim Jong Il ke Kim Jong Un menuai reaksi negatif. Kim Jong Un dipandang lebih sering mengeluarkan kebijakan agresif dan tak terduga seperti penyerangan Korut ke Pulau Cheonan dan Yeonpyeong pada tahun 2010. Ketiga, kondisi Semenanjung Korea yang tak stabil dan tekanan politik dari masyarakat ke pemerintah membuat pemerintah Korut cenderung melakukan agresi dan tindakan ofensif. 

Laporan tersebut seakan menegaskan rangkaian peristiwa yang terjadi pada medio Maret-April ini. Masifnya rudal, nuklir, hingga yang terbaru artileri Korut membuktikan bahwa laporan tersebut benar adanya. Namun, dalih Korut adalah masuknya kapal induk USS Carl Vinson dari AL Amerika Serikat ditengarai menambah makin panasnya krisis Semenanjung Korea. Ditambah pula kapal USS Michigan yang telah tiba di Busan untuk berjaga-jaga siaga menghadapai perang. 

Amerika Serikat tidak henti-hentinya menyebutkan slogan bahwa demi menjaga perdamaian dunia, maka Amerika Serikat harus bertindak lebih jauh. Apakah benar Amerika Serikat benar-benar menjaga perdamaian dunia? Atau jangan-jangan Amerika Serikat sengaja turun dan hadir agar dapat mengelola konflik di Semenanjung Korea? Namun telah menjadi rahasia umum, selama negara belahan dunia manapun tidak tunduk pada Amerika Serikat maka Amerika Serikat akan berusaha dengan segala cara masuk ke wilayah tersebut. 

Sekali lagi, demi kestabilan dunia yang lebih baik maka Amerika ‘wajib’ menjaganya. Tidak hanya di Timur Tengah melainkan juga di Semenanjung Korea utamanya Korea Utara.

Referensi

Chanlett-Avery, Emma, dkk, 2016, North Korea: U.S. Relations, Nuclear Diplomacy, and Internal Situation, Congressional Research Service

Konishi, Weston S., 2011, Denulearizing North Korea: Exploring Multilateral Approaches to Risk Reduction and Peace Regime Buliding, The Institute for Foreign Policy Analysis. 

Levin, Norman D. dan Yong-Sup Han, 2002, Sunshine in Korea: The South Korean Debate over Policies Toward North Korea, RAND: Center for Asia Pasific Policy.

Martin, Matthew, 2008, The Six-Party Talks and New Opportunities to Strengthen Regional Nonproliferation and Disarmament Effort, The Institute for Foreign Policy Analysis.

Tulisan ini dimuat di edunews.id tanggal 8 mei 2017

Rock

Sejak kecil saya diperkenalkan musik oleh bapak saya. Mungkin saat itu saya baru berusia 6 tahun. Oleh bapak, saya diajak mendengar musik bergenre rock. Macam Deep Purple, Led Zeppelin, Scorpion, dan sebagainya. Saya hanya ikut mengangguk-angguk apabila bapak menggoyangkan kepala. Walaupun saya tak mengerti apa pentingnya tapi saya melihat bapak sangat menikmati ritme musik seperti itu. Terutama lagu Smoke On the Water dari ‘Deep Purple’ dan Rock and Roll dari ‘Led Zeppelin’.

Selain itu, saya juga diajak mendengar lagu-lagu macam Yes atau Genesis. Menurut bapak saya, musik mereka tergolong progressive rock atau prog rock. Bagi saya justru tidak. Nada rumit dan diulang berkali-kali. Membosankan. Tapi sekali lagi musik itu persoalan selera. 

Kala itu saya juga terkagum-kagum dengan petikan gitar Jimmy Page dalam lagu Stairway to Heaven. Konon katanya, jika membaca lirik tersebut dari belakang maka akan terbaca seperti ritual pemujaan setan. Entah itu benar atau salah. Saya pun tak peduli. Saya lebih peduli dengan bapak yang memainkan lagu tersebut cukup fasih dengan gitar kesayangannya. Gitar Yamaha tahun 1977.

Bapak sangat sayang terhadap gitar itu. Saat saya mencoba gitar untuk pertama kalinya, bapak berpesan “Gitar jangan digenjreng, tapi dipetik”. Saya mengiyakan saja. Lagu pertama yang diajarkan oleh bapak yaitu Stairway to Heaven. Aneh. Pemula kok disuruh belajar yang susah-susah. Saya lebih baik mencoba lagu Bintang Kecil atau Ilir-Ilir. Tapi ya gimana, tiap pagi mendengar lagu legendaris itu jadi mau ga mau terus mencoba mendendangkan lagu Stairway to Heaven.

Meskipun begitu tetap saja sampai saat cerita ini dibuat, saya masih tidak fasih memainkan lagu legendaris itu. Kalo dalam film, mungkin kita bisa menyebutkan Shawsank Redemption. Sama-sama legendarisnya.

Pada waktu itu saya bersikeras dan memohon kepada bapak untuk benar-benar bisa bermain gitar. Akhirnya bapak menyuruh saya mendengarkan seorang gitaris ternama. Joe Satriani. Belio adalah guru dari Steve Vai dan Kirk Hammet, gitarisnya Metallica yang mau datang ke Jakarta di tahun ini. 

Pertama kali mendengarkan Joe Satriani saat bapak memutarkan lagu Always with me, Always with you. Menurut saya itu lagu fantastis. Petikan brilian. Dan sekali lagi, bapak mampu memainkannya dengan cukup apik. Saya heran bagaimana bapak bisa sangat fasih memainkan dua lagu tersebut. Dahi saya mengernyit. Ternyata bapak hanya mendengarkan lagu melalui kaset sambil memetik senar untuk mencari nada pas. Otodidak.

Setelah itu, berturut-turut bapak sering memainkan gitarnya dengan lagu-lagu dari ketiganya. Joe Satriani, Deep Purple atau Led Zeppelin. Berulangkali. Kadang saya bosan juga. Lagu kok itu-itu saja. 

Kebosanan tersebut terobati dengan maraknya musik macam Greenday, Blink 182, SID, Netral ataupun Endank Soekamti. Ya, zaman SMP saya berusaha memainkan salah satu lagu dari band tersebut. Mereka tergolong punk rock.

Kalo kalian satu generasi dengan saya, pastinya waktu SMP wajib memainkan lagu-lagu dari mereka. Gaya vokal ala Billy Joe Amstrong, raungan gitar ala Tom DeLonge atau ritme bermain drum ala Travis Barker yang super cepat. Bisa meniru gaya mereka maka level bermainmu sudah level dewa langit.

Tapi kalo anda sedang pegang gitar, anda akan dianggap master jika memainkan melodi ini. Sweet Child O Mine dari Guns N Roses. Ohh, para penonton akan tunduk dan menyembah anda. Zaman saya itu lagu wajib di setiap festival band. Kalo lagu Indonesia, kita harus fasih memainkan melodi dari lagu Jengah-Pas Band. Itu juga lagu wajib untuk para gitaris.

Saya juga mengikuti tren. Mencoba memainkan lagu mereka. Salah satunya Basketcase dari Greenday. Saya langgar aturan dari bapak. Menggenjreng. Eh, tiba-tiba senar paling atas putus. Ah, saya merasa bersalah. Saya malu untuk lapor namun bapak lebih cepat tahu. Bapak hanya berkata “Sejak gitar ini dibeli, baru kali ini bapak ganti senar. Lain kali hati-hati kalo bermain gitar.” Dan itu terjadi tahun 2012. Rentang tahun yang cukup lama.

Sekarang zaman berubah. Rock memang tak semeriah zaman saya dahulu. Banyak band-band baru yang telah menggantikan arena rock. Payung Teduh, Maliq D’Essetials hingga Last Child. Era juga berubah. Rock tak (lagi) menggema.

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba nostalgia dengan memainkan lagu yang bernuansa rock di teman-teman segenerasi saya. Highway to Hell dari AC/DC. Kalo anda penggemar rock, pasti wajib tahu lagu tersebut. Lagu yang membuat gitarisnnya si Angus Young kehabisan oksigen. Saat masuk bait pertama, teman saya nyeletuk, 

“Jangan kamu memainkan lagu itu!”. Suaranya kencang. Pekiknya terdengar nyaring di telinga sebelah kiri. Mungkin dia pikir saya salah nada dasar atau suara saya fals. Ternyata tidak.

“Emang kenapa mas?” Saya coba bertanya secara pelan sembari menghentikan genjrengan gitar.

“Itu lagu setan. Masak lagu menyuruh kita pergi ke neraka. Nanti kamu kafir!!”

Saya terdiam. Celakep plus mingkem. Saya hanya mbatin “ternyata kafir ada dimana-mana.” Daripada merusak suasana dan dikira tidak hormat pada senior maka saya berpikir untuk ganti lagu bukan rock. Lebih woles. Sheila On 7. Grup band paporit dari Yogya.

Saya memilih lagu Bunga di tepi jalan. Mengatur posisi duduk. Menaruh gitar di pangkuan paha. Memulai dengan petikan pertama hingga memasuki reff. Namun tiba-tiba senior saya meletakkan tangan kanannya tepat di bolongan gitar. Saya pun tak dapat menggenjreng.

“Kenapa mas?” Sekali lagi saya bertanya dengan pelan. Semoga tidak tersinggung kali ini.

“Kenapa kamu memainkan lagu itu? Katanya penggemar rock!” Lagi-lagi menghentak dengan suara keras.

“Oh itu.. saya sebenarnya ada lagu mirip kayak gitu cuman ga terlalu hafal lirik dan ga ngerti cara nyanyinya mas. Daripada lupa mending memainkan lagu Bunga di tepi jalan.” Saya mencoba berdiplomasi.

“Emang apa judulnya?” 

“Bunga yang dibakar.” Kemudian hening.

Pelajaran dari Pilkada DKI


Kontestasi pemilukada Indonesia telah berakhir. Tanggal 19 April adalah waktu terakhir bagi masyarakat Indonesia khususnya Jakarta untuk gegap gempita memadati keriuhan pilkada. DKI adalah daerah terakhir yang akan melaksanakan pemilu. Harapannya setelah pilkada berakhir, tidak adanya percecokan, perselisihan hingga perpecahan. Semua ingin berakhir aman, damai, dan tentram.

Berkaca dari pilkada khususnya di DKI Jakarta, ada banyak pelajaran penting sekaligus menarik. Pelajaran ini harus disambut dengan pikiran positif supaya kita tak selalu hanyut dalam pertikaian. Gaung perselisihan memang sempat panas sejak putaran I pilkada DKI. Semakin mendekati akhir bukannya kita harus tampil dewasa namun justru saling berburuk sangka. 

Lalu apa pelajaran yang bisa dipetik dari Pilkada DKI kali ini? Mari kita simak.

1. Tak butuh sarjana politik atau doktor kajian media.

Melihat beberapa bulan belakangan ini, sesungguhnya ada semacam pertautan unik di kalangan masyarakat Indonesia. Kita pandai sekali berkomentar, menganalisis kemudian membeberkan fakta maupun kenyataan. Entah itu benar atau salah, segala hiruk pikuk pilkada dapat dikomentari. 

Uniknya, yang memberi komentar atau yang dimintai pendapat bukan kapasitasnya sebagai ahli politik maupun ahli media. Melainkan warga biasa yang sering menangkap gambar kemudian dibagikan ke lini masa dan menjadi viral. Biasanya orang tersebut akan populer dan media cetak maupun elektronik akan menganggapnya sebagai pakar. 

Menurut saya, itu gejala aneh. Bukan kapasitasnya untuk berbicara politik namun dipaksa bahkan menjadi terbiasa berbicara politik. Tapi tak apa-apa. Mungkin karena kita terbiasa dengan dagelan politik hingga yang diminta berbicara pun harus beretorika layaknya politisi Senayan.

2. Munculnya kaum moderat ekstrimis.

Jujur saja, ini fenomena menarik khususnya dalam pilkada DKI. Orang-orang yang diklaim bahkan mengklaim dirinya kaum modrat justru terlihat ikut ‘mencaci’ bahkan ‘memaki’ satu sama lain. Dengan dalih pembenaran bahwa mereka yang harus menanggulangi radikalisme dan sebagainya maka secara tidak langsung mereka berhak mengklaim bahwa mereka yang ‘benar’.

Kita ketahui bahwa dalam pilkada DKI tercipta dua kubu yaitu kubu yang mencaci dan kubu yang dicaci. Tak perlu disebutkan mana yang mencaci dan mana yang dicaci, namun tentunya anda lebih paham mana kubu-kubu tersebut. Sayangnya, kedua kubu sama-sama mengklaim bahwa merekalah yang mengabarkan kebenaran dan menyebarkan pembenaran. Alhasil, bukannya saling tabayyun terlebih dahulu melainkan saling serang tanpa jeda. Saling hina tanpa berkaca.

Tak heran, masyarakat pun dibuat bingung. Siapa yang sebenarnya radikal? Siapa yang sebenarnya moderat? Ataukah sebenarnya mereka hanya memanfaatkan momen untuk menunjukkan siapa mereka? 

3. Fluktuasi harga pangan.

Ini cukup penting. Beberapa saat yang lalu saya ditanya seorang kawan, apakah benar efek pilkada DKI membuat perekonomian lesu khususnya dalam bidang peternakan? Saya pun dibuat bingung. Namun kemudian ia menjelaskan bahwa kondisi politik di ibukota benar-benar membuat harga pangan macam ayam potong, cabai bahkan bawang merah berflutkuasi tanpa arah yang jelas. Entah ada sangkut pautnya atau tidak namun kenyataannya begitu.

Hargai cabai sempat menembus 120.000/kg. Begitu pula harga daging sapi sempat mencapai 200.000/kg. Harga tomat malah satu keranjang hanya dihargai 1000 rupiah. Harga bawang merah hanya 8000/kg yang biasanya bisa mencapai 30000-40000/kg. Mengenaskan. Entah mereka sadari atau tidak, seperti ada efek domino dari Pilkada DKI. Maklum saja, pikiran orang-orang pintar teralihkan pada kontestasi pilkada DKI sehingga melupakan peristiwa yang dialami kalangan pedagang

Para pedagang, peternak, bahkan petani berharap agar pilkada DKI segera berakhir. Segera enyahlah bulan April. Tapi masalahnya apa iya cukup sampai 2 ronde? Jangan-jangan bisa sampai 5 ronde. Sekali lagi itu tergantung kesepakatan penguasa.

4. Permasalahan pribumi (indigineous people)

Poin keempat sempat mengemuka ketika tak henti-hentinya ada yang mengklaim bahwa mereka lah yang sebenarnya pribumi. Ini menjadi soal apakah itu klaim atau memang fakta sejarah? Tentu sudah banyak analisis dari para pakar sejarah yang mengemukakan bahwa kedua-duanya bisa dikatakan pribumi. 

Namun yang menjadi soal adalah saling benci sehingga menyebabkan SARA. Ini yang menjadi mengerikan. Indonesia yang merupakan model dunia sebagai negara dengan suku terbanyak di seluruh dunia ternyata masih menyimpan sentimen sepele hingga berujung ujaran kebencian. 

Andaikan benar-benar hanya pribumi yang boleh berkuasa di Indonesia, bagaimana dengan nasib suku mante, suku anak dalam, kepercayaan amatoa ataupun kepercayaan kaharingan? Seharusnya jika mereka mau bersuara maka mereka lah gang lebih berhak untuk mengklaim dirinya adalah pribumi. Tapi, sepertinya mereka lebih memilih sibuk menjaga kelestarian alam daripada mengikuti kegiatan pilkada yang tak kunjung usai.

5. Belajar dari 4 poin diatas.

Gara-gara Al Maidah, umat Islam kembali menelaah Al Qur’an. Gara-gara pribumi, masyarakat Indonesia kembeli menengok sejarah. Gara-gara pembangunan, orang-orang ikut memikirkan kelestarian alam.

Sebenarnya ada hal-hal positif yang perlu diambil dari kontestasi Pilkada DKI. Ketiga hal diatas adalah contoh-contoh bahwa tak perlu melulu ujaran-ujaran kebencian yang didahulukan melainkan obrolan dan pemikiran yang berujung kemaslahatan itu lebih baik.

Namun, kita lebih sering melihat 1 keburukan daripada menelisik 10 kebaikan. Berkaca dari pilkada DKI, kejadian SARA, ujaran kebencian seharusnya tak perlu terulang kembali. Ingat, Indonesia akan mengalami ledakan penduduk pada 2030. Andaikan hal-hal ujaran kebencian selalu didengungkan utamanya pada pilkada, lantas bagaimana nasib generasi muda mendatang? 

Bela, Bala, Bola Indonesia


Beberapa saat lagi, penikmat layar kaca akan kembali disuguhkan tontonan yang menggairahkan akal sehat dan nafsu batiniah. Apalagi kalo bukan hadirnya liga sepakbola Indonesia. Sebagai salah satu cabang olahraga yang tak kunjung berprestasi, sepakbola masih mendapatkan hati di masyarakat Indonesia yang sedang terbelah.

Kenapa bisa dibilang terbelah? Karena di satu sisi, masyarakat Indonesia ingin segera enyah meninggalkan bulan April akibat kontestasi pilkada yang tak segera usai. Namun disisi lain, saya sebagai suporter garis kanan keras tembok justru segera menantikan bulan April. Ya, semoga dengan bergulirnya kembali liga sepakbola Indonesia maka ini akan menjadi oase di tengah keberagaman masyarakat Indonesia yang sedang terkoyak.

Menyimak gelaran sepakbola Indonesia yang dimulai pertengahan bulan April, ada beberapa catatan menarik yang perlu diperhatikan oleh khalayak. Baik anda sebagai suporter layar kaca maupun saya sebagai suporter layar nyata. Nah, apa saja catatan tersebut, mari kita simak bos.

1. Komentator

Bagi saya, komentator akan menentukan arah jalannya pertandingan. Mengapa begitu? Ya jelas, kalo di Indonesia suara komentator lebih menarik dikomentari daripada tindakan wasit yang masih selalu galau dalam mengambil keputusan. Dan patut kita perhatikan, sejak AFF 2016 ada dua nama komentator yang sedang meroket.

Siapa lagi kalo bukan bung ‘Ahay’ alias Hadi Gunawan dan mister Valentino Simanjuntak. Ledakan suara dan pemilihan kata yang brilian menjadi faktor penting bagi jalannya pertandingan. 

Mulai dari tendangan LDR, tendangan selamat datang, umpan manja, umpan cuek dan gerakan antar propinsi antar kota hingga serangan 7 hari 7 malam akan menjadi kosa kata baru bagi kamus sepakbola Indonesia. 

Kalian bisa lihat sejak kata-kata tersebut muai didengungkan, kini menjadi populer di kalangan generasi milineal. Mulai dari main playstation, sepakbola antar kampung sampai turnamen futsal bergengsi pun kata-kata tersebut sangat jamak dilayangkan oleh teman-teman saya.

Saya sebenarnya mengusulkan daripada PSSI tak kunjung juga memberikan prestasi positif maka lebih baik membuat kamus sepakbola Indonesia versi komentator Indonesia. Siapa tahu FIFA akan memberi sponsor. Dan siapa tau juga justru kamus sepakbola Indonesia versi tersebut akan laik dipakai di liga-liga besar dunia.

2. Marquee player

Nah regulasi yang satu ini benar-benar baru. Syaratnya pun tak main-main. Minimal pernah bermain di salah satu dari tiga edisi Piala Dunia terakhir atau pernah bermain di liga top dunia dalam kurun waktu 8 musim terakhir. Dan bayarannya maksimal 15 milliar rupiah.

Sudah ada 7 pemain yang tergolong marquee player di Indonesia. Diantaranya ada Michael Essien, Carlton Cole (keduanya berseragam Persib Bandung) dan Peter Odemwingie (Madura United). Tentunya akan menjadi sesuatu yang wah dan tontonan yang menarik bagi penonton sepakbola Indonesia.

Namun perlu saya beritahuken kepada mereka bahwa jangan terkejut dengan sistem sepakbola Indonesia. Biasa saja. Kenapa saya bilang begitu? Ini merujuk pada aksi kejar-kejaran Essien kepada Yabes Roni(Bali United) akibat tendangan segitiga ke arah punggung Essien.

Hey bung, itu belum seberapa. Masih banyak yang bakal terjadi. Kalian bertiga jangan kaget jika gaji kalian terlambat. Itu sudah mahfum. Terus jangan bandingkan semua lapangan sepakbola Indonesia seperti Emirates Stadium, San Siro, atau Santiago Bernabue. Kalo disini lebih seperti Santiago Berdebu.

Oh ya, mulai biasakanlah kalian makan nasi bungkus. Kalian jangan mengira asupan gizi terjaga dalam satu musim. Dan bakalan terus bermewah-mewah makan di hotel atau lewat catering. Pasti akan ada saatnya menimati nasi bungkus. Lebih tepatnya nasi rames. 

3. Liga Gojek Traveloka

Ini terobosan paling brilian yang dilakukan oleh PSSI. Di saat beberapa ojek online masih harus berurusan atau tarung dengan ojek offline, maka gojek justru melesat dengan menjadi operator liga. Jelas, ini kabar membahagiakan.

Gojek menjadi transportasi idaman di semua kalangan. Dan ternyata ini berlanjut menyasar ke sepakbola Indonesia. Sepertinya Gojek sangat tahu pangsa pasar bahwa sepakbola adalah olahraga paling digemari di Indonesia.

Dengan adanya gojek, tentu kita tak bakal bisa menyaksikan pertandingan jebolan. Maksudnya tak perlu repot kehabisan tiket. Bagaimana bisa? Setelah ini pasti ada aplikasi go-ticket. Jadi tak perlu repot-repot antri. Cukup klik, maka tiket sudah ada di tangan.

Bukan itu saja, adanya traveloka jelas perjalanan lebih mudah. Setelah ini pasti ada promo tiket perjalanan dengan catatan harus menonton pertandingan bola. Misal promo diskon 50% tiket kereta api Malang-Bandung dengan syarat beli tiket pertandingan. Nah ini pasti menarik minat penonton. Nah segalanya menjadi lebih mudah dan murah bukan? 

4. TNI dan Polri

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah perhelatan sepakbola Indonesia, ada dua tim yang berasal dari anggota TNI dan Polri. PS TNI dan Bhayangkara United. Ini menjadi kebahagiaan bagi kita. Lhoh kenapa begitu?

Kalian jangan mengira jika mereka hanya bisa menangkap teroris, melakukan pembrangusan minuman beralkohol, menjadi presiden atau membuat album musik. Maka saat ini mereka juga mampu terjun ke lapangan hijau. Ya masak baju sudah hitam hijau tapi ga pernah ikut liga profesional. Kan lucu.

Tentu, ini akan menjadi pemandangan menarik. Bagi anggota TNI dan Polri tak perlu izin keluar dengan menggunakan surat atau semacamnya. Tinggal bilang saja, “Lapor Komandan, kami satu kompi ingin mendukung teman dan kesebelasan sepakbola kami!”. Jelas, pasti bakal diijinkan. Ndak mungkin ndak. 

Masak mereka mau kalah dengan Aremania, Bobotoh, Jakmania dan lainnya? Ya jelas mereka bakal menggelotorkan para prajuritnya untuk menyesakkan stadion. Itu sudah jelas.

Lalu bagaimana dengan yel-yel suporter? Lhah, mereka kan sudah punya komandan yang menghasilkan puluhan album. Ya tinggal pakai saja salah satu lagu atau liriknya untuk dijadikan yel-yel. Simpel bukan?

Nah kira-kira itulah yang menjadi catatan penting dalam menikmati sepakbola Indonesia kali inil Oh iya, untuk soal camilan jangan pernah gunakan tahu dan lemper. Itu sudah zaman bahula. 

Mulai saat ini berdayakan ploduk-ploduk Indonesia modern. Nikmatilah pertandingan bola dengan minum kopi sachet dari Torabika atau Kapal Api. Tentunya jangan lupa ngemil dengan kacang garuda dari ploduk Indofood.

Kalo Efek Rumah Kaca bisa menciptakan lagu dengan judul Pasar bisa Diciptakan, Cipta bisa Dipasarkan maka Sepakbola Indonesia bisa menciptakan slogan Sepakbola milik Tentara, Tentara miliki klub Sepakbola.

Jogjakarta Rasa Padang

​Foto: Dokumen Pribadi

Barang dagangan mulai digelar. Nasi bungkus berbentuk kerucut tertata dengan rapi. Delapan ke bawah dan lima ke samping. Total ada 40 buah. Selain itu, ada pula sate-sate yang tersusun dengan epik. Ada sate puyuh dan sate usus. Sungguh menggoda mata dan memanjakan lidah. Apalagi ditambah tempe kemul yang berukuran telapak tangan dewasa. Lengkap sudah sajian pada malam itu. 

Letaknya berada di pusat kota Yogyakarta. Kamu tak perlu repot untuk mencarinya. Tunggu saja pukul 11 malam. Maka lapak mulai digelar tepat di depan pintu Mall Malioboro. Tak ada papan nama. Tak ada papan petunjuk. Namun orang seringkali menyebutnya Angkringan Padang.

Diberi julukan Padang pun oleh para pelanggannya. Usut punya usut, penjualnya asli orang Padang. Tak hanya itu, jika kamu membeli nasi bungkus maka yang tersaji didalamnya adalah nasi dan lauk angkringan pada umumnya. Perbedaannya hanya satu yaitu menggunakan sambal merah khas Padang. Lauknya pun berbagai macam. Ada T2, TB, TJ, dan masih banyak lainnya. Apa itu?

Kamu mungkin bingung. Saya pun demikian. Setelah saya menanyakan singkatan tersebut pada sang pemilik maka saya menemukan jawabannya. T2 berarti Teri dan Telur, TB berarti Telur Balado, TJ berarti Teri/Telur Jengkol. Sebenarnya masih banyak variannya. Sayangnya, karena saya sangat lapar maka saya hanya memperhatikan ketiga menu tersebut.

Duduk lesehan arah melingkar. Seperti sedang berdiskusi. Tapi kali ini lain. Dihadapan saya ada satu buah nasi T2, 3 tempe kemul dan es teh tawar. Saya hanya ingin menikmatinya. Suapan demi suapan. Gigitan demi gigitan. Dan tegukan tegukan. Menikmati teri, nasi dan menyantap telor secara bersamaan. Setelah sedikit penuh didorong dengan es teh tawar khas angkringan Padang. Sempurna.

Saya benar-benar merasakan suasana Jogjakarta di malam itu. Rame tapi tak berisik. Cerah tapi tak berawan. Sibuk tapi tak sendiri. Semua berkelindan menjadi satu. Saling tegur sapa. Saling memberikan informasi baik. Ini yang mungkin diucapkan oleh Joko Pinurbo bahwa Jogja terdiri dari 3 hal. Rindu, Pulang, dan Angkringan.

Saya benar-benar menghayati apa itu Jogjakarta. Sesuai dengan slogannya. Berhati nyaman dan istimewa. Kalo kata Kla Project, ada setangkup haru dalam rindu. Rindu Jogjakarta itu rindu dengan kesederhanaan orang-orangnya. Saling senyum tanpa ada intrik. Saling tertawa tanpa ada tabir kepalsuan. 

Inikah yang dinamakan pulang ke Jogjakarta ? Ya, tepat sekali. Menyusuri loronh dari rel kereta api menuju benteng Vredeburg. Melewati lintasan pedagang yang mulai berkemas. Menikmati sajian musik lokal dari para musisi jalanan. Sungguh ini malam yang istimewa bagi saya.

Saya berani bertaruh, suasana seperti ini tidak bisa dinikmati setiap malam. Terlebih Jogjakarta berkembang pesat. Malioboro yang pada sejarahnya merupakan taman bunga telah berubah menjadi taman kota. Tempat duduk lebih banyak daripada bunga-bunga yang ditanam. Simbol kebesaran tentang bunga-bunga telah tergantikan dengan simbol kemoderenan tentang tempat singgah. 

Toh, sebenarnya itu juga baik. Jogjakarta memang harus mengikuti perkembangan zaman. Manusia semakin banyak. Kepadatan penduduk makin bertambah. Predikat Jogjakarta sebagai kota dengan tempat tinggal ternyaman di Indonesia menjadi salah satu akarnya. Orang-orang yang memasuki usia senja lebih mengakhirkan hidupnya di Jogjakarta.

Tapi tak semua perkembangan zaman harus diikuti. Jogjakarta yang terkenal dengan sajian alam, jangan sampai mengekor kota lain dengan sajian beton. Cukup alam yang menjadi primadona. Bukan beton yang menjadi daya tariknya.

Namun tampaknya terlambat. Jogjakarta telah berjalan dengan cepat. Mau tak mau daripada selalu dikatakan tertinggal dari kota besar lainnya maka Jogja harus berkembang. Ini bukan permasalahan peningkatan hunian beton. Ini masalah penyesuaian. Memang masih ada yang mau tinggal dalam rumah kayu seperti zaman raja dahulu? 

Nah, kalo soal rasa, bolehlah berubah. Terkadang lidah selalu ingin mencoba makanan yang baru. Apalagi angkringan ini. Mana ada yang menawarkan makanan macam ini. Saya kira Pakde (sebutan untuk pemilik Angkringan Padang) memang ingin mengakuluturasi lidah masyarakat Jogja. Terbiasa dengan nasi sekepalan tangan namun dipadu dengan sambal merah khas Padang. Akulturasi yang berhasil. Cita rasa lidah Jogja dibarengi dengan pedasnya sambal. 

Seorang teman berkata, “setelah malam ini, mungkin aku akan menjadwalkan makan di angkringan ini seminggu 3x”. Namun saya berseloroh, “kalo dirimu seminggu 3x, maka aku akan kesini tiap malam”.

Pakde berhasil memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bahwa tak hanya busana yang melalui proses akulturasi melainkan juga makanan pun mampu. Itu semua hanya tersaji di Angkringan khas Padang milik Pakde.
Nb: Tersenyumlah ketika melihat Pakde karena belio adalah mantan orang penting di Indonesia.

JEPANG

 Ada 3 hal yang saya ingat tentang Jepang

 1. Karate

Saya dari keluarga karate. Mama memiliki hobi karate. Belio menggeluti karate saat SMA. Ihwal mengikuti karate karena kakek saya paling tidak mau melihat perempuan lemah. Makanya ibu saya ikut latihan karate walaupun hanya sampai sabuk hijau. 

Lain dengan bapak saya. Dari SMA sampai sekarang, bapak saya masih aktif pada seni karate. Belio lebih suka menyebutkan seni atau tradisi daripada olahraga. Menurutnya, karate itu olah rasa dari kepala hingga kaki. Bapak menyuruh saya untuk berhati-hati dengan tradisi karate. Karena karate tidak hanya sekedar pertahanan diri saja. Bahaya jika dibuat untuk berkelahi. Bisa-bisa sampai membunuh manusia. Seperti Chinmi.

2. Detective Conan

Sejak kecil, saya hampir tidak bisa melewatkan serial detektif Conan. Mulai dari Shinichi, Ran, hingga Kogoro Mouri. Saya sampai mengoleksi komik-komiknya dari jilid 1 hingga 18. Sayangnya, rayap sialan memakan kertas-kertas tersebut hingga akhirnya menjadi remah-remah. Tapi untungnya Indonesia menghadirkan internet. Jadi saya tak perlu khawatir untuk tidak melewatkan lagi serial detektif Conan.

Oh iya, saya juga pernah berharap jadi detektif conan. Bisa punya piramida pikiran dan menganalisis masalah dengan rapi. Tapi sayang, S1 saya bukan di UGM. Coba di UGM, mungkin bisa lebih bisa berpikir terstruktur dan sistematis. Ya kan, wok? Hahaha.

3. Miyabi

Apa lagi yang harus dikomentari dari dirinya? Semua pria tahu dia meskipun tak kenal. Tak perlu diragukan lagi, dia adalah wanita terpopuler Jepang untuk kalangan pria. 

Kesalahannya hanya satu. Sampai sekarang saya hanya bisa menonton di layar kaca.

Aliran

Ilustrasi oleh Djarwo

Ketika saya berkuliah di Malang, teman saya pernah berujar “Hati-hati terhadap aliran Wahabi mod. Bahaya. Nanti kita ndak boleh tahlilan dan ziarah kubur.” Saya belum ngerti maksudnya. Toh kebetulan saya adalah orang awam yang jarang tersentuh dan mendengar aliran-aliran seperti itu. Jadi saya hanya berkata kepada teman saya, “Oke, saya akan hati-hati.”

Kemudian, suatu saat kembali ke Jogja, ketika reuni dengan teman-teman masa kecil, salah satu teman berkata, “Gimana kuliah di Malang mod? Pokoknya tetap waspada dan hati-hati. Terutama dengan aliran Syiah. Itu bukan ajaran Islam.” Saya hanya mengangguk saja dan sejurus kemudian berkata, “Oke, saya akan hati-hati.”

Secara kebetulan, cerita pertama adalah obrolan saya dengan sahabat NU. Cerita kedua adalah obrolan saya dengan kawan Muhammadiyah.
Sampai sekarang pun saya nggak ngerti mana yang lebih sesat. Wahabi atau Syiah? Atau kedua-keduanya sama-sama sesat? Atau justru kedua-keduanya sama-sama benar? Mungkin kamu lebih paham.

Suatu hari, seorang dosen pernah mengatakan sesuatu kepada saya. Kalo NU itu Syiah kultural. Maksudnya adalah beberapa kultur seperti memukul bedug, tahlilan, ziarah kubur agaknya lebih dekat dengan budaya Syiah. Makanya tak heran budaya tersebut sampai sekarang masih dilestarikan oleh sahabat-sahabat NU. Toh asal tujuan itu baik, saya pikir tak apa-apa. Bagus.

Kemudian, beliau juga pernah mengatakan seperti ini kepada saya. Kalo Muhammadiyah itu Wahabi Organisasi. Maksudnya adalah kawan-kawan muhammadiyah lebih dekat dengan gaya organisasi macam Wahabi. Kayak memajukan lembaga pendidikan, rumah sakit, dan sebagainya. Makanya tak heran secara organisasi modern, Muhammadiyah dianggap mampu mengendalikan itu semua. Toh asal tujuan itu baik, saya kira juga tak apa-apa. Bagus.

Benar atau salah ucapan dosen saya itu, saya kira memang demikian adanya. Kalo menteri agama ya jatahnya NU dan kalo menteri pendidikan ya jatahnya Muhammadiyah. Itu sudah kepastian tak tertulis. Eh.

Yang saya bikin sedih adalah terkadang bahkan sampai sekarang, ‘mereka’ sama-sama meyakini bahwa alirannya paling ‘tepat’ dan ‘benar’. Kayak contohnya begini, “Islam Indonesia adalah Islam Nusantara yang Berkemajuan.” Nah yang satu lagi ga mau kalah. Bilangnya begini,” Islam Indonesia adalah Islam Berkemajuan yang bersifat Nusantara.” Nah kan. Kalo sudah begini gimana? Apa ya iya masih selalu saja saling mengunggulkan slogan tersebut?

Mbok ya itu dilihat, ada beberapa tokoh agama dipenjara akibat membela soal tanah di Lampung. Itu juga dilihat bagaimana suku Anak Dalam sudah mulai hilang tempat tinggalnya karena pembalakan liar di Riau. Atau itu lihat nasib suku Amungme Papua yang terlempar dari tanahnya sendiri akibat urusan Freeport ndak kelar-kelar.

Atau itu aja wes, masalah semen di Rembang. Mbok ya advokasi sana. Jangan malah silat lidah di media sosial aja. Atau jangan-jangan ‘mereka’ malah mendukung pembangunan pabrik semen?

Kalo soal gini aja diem. Mungkin benar kita lebih disibukkan mengkafirkan yang Islam daripada mengIslamkan yang kafir. Tetapi, siapa yang dianggap kafir?

Kalo menurut saya, Siapa saja yang menutup perintah Tuhan untuk membantu dan menolong sesama manusia.