Ini 4 Kuliner Jogja Di Atas Jam 12 Malam

Hujan tak kunjung reda. Saya menunggu reda mulai dari pagi sampai malam ini, tetap saja hujan masih ada.

Hujan membuat saya ingin tidur pulas. Tapi karena ada deadline untuk segera menulis, saya pun ingin membuat ulasan singkat tentang makanan.

Bagi kamu yang tinggal di Jogja, sudah saatnya menghabiskan waktu untuk jelajah kuliner. Di bawah ini hanya sekadar saran macam-macam kuliner yang musti kamu coba. Kuliner favorit saya selepas jam 12 malam.

1. Angkringan Padang Malioboro

Saya pernah mengulasnya di situs minumkopi.com, di sini saya hanya ingin kembali menyegarkan tulisan saya. Menurut saya, kamu bisa mendapatkan harga makanan murah di bawah 10ribu rupiah di sini.

Banyak jenis makanan. Ada T2 (telor,teri), JT (jengkol,teri), ayam, dan masih banyak lainnya.

Letaknya berada tepat di seberang pintu masuk Mal Malioboro. Buka selepas jam 10 malam. Saya jamin kamu akan ketagihan.

2. Gudeg Tekluk

Letaknya berada di Jl. Gejayan. Buka selepas jam 10 malam. Kunjungan paling rame di atas jam 12 malam.

Kamu jangan kaget jika mendapati ibu si penjual tersebut. Beliyo sering terkantuk-kantuk ketika melayani pembeli. Tak heran, ibu tersebut diberi nama Bu Tekluk.

Cita rasa gudeg terbaik hanya kamu dapatkan di Gudeg Tekluk. Percayalah.

3. Nasi Campur Demangan

Kuliner yang satu ini wajib dicoba. Letaknya pas di perempatan pasar demanga. Pojok sebelah toko cat.

Rasanya yang pedas membuat kamu selalu kangen ingin mencoba makanan ini. Terlebih, makanan ini sudah melegenda.

Menurut saya, kuliner nasi campur adalah kuliner terpedas yang pernah saya coba selama di Jogja. Rasa bintang lima, harga kaki lima.

4. Mie Burjo

Di saat hujan mendera, tanggal tak kunjung muda, maka yang kamu harapkan makanan murah meriah nan bergizi. Apa itu? Mie rebus burjo.

Tak ada yang tak enak dengan mie burjo. Kamu sudah tau kan mitos yang berkembang? Bahwa mie burjo selalu lebih ladiid daripada mie buatan sendiri.

Tak butuh penjelasan lagi lebih detail. Karena mie burjo adalah kunci penambal skripsi, tesis maupun disertasi.

Advertisements

Riza Pahlevi

Membincangkan dangdut vs K-Pop adalah sesuatu yang sulit dibandingkan. Keduanya, menurut saya adalah aliran musik yang sama enaknya. Baik dari segi musik maupun dari segi lirik. Sama-sama mendayu.

Kalo ngomongin soal ini, saya jadi ingat seorang teman. Namanya Riza Pahlevi. Ketika tulisan ini terbit, ia sedang berjuang menyelesaikan tesis di jurusan Kajian Budaya dan Media UGM.

Saya mau cerita sederhana tentang kegemaran beliyo. Ia~yang kata teman-teman kuliahnya, tingkat kegantengannya selevel dengan Nabi Yusuf~adalah penggemar kedua aliran tersebut.

Mulanya saya tak percaya. Tapi saya baru percaya ketika berkunjung ke sebuah kamar petak di bilangan Karangjati. Saat itu tahun 2015. Saya berkunjung ke sana bersama teman kuliahnya, Hair.

Sebenarnya, saya cuman penasaran di mana letak kamar~yang katanya menghasilkan banyak inspirasi~kosnya. Begitu saya dan Hair memasuki kamarnya, alangkah terkagetnya saya.

Di sebelah kanan dekat meja belajarnya, terdapat sekumpulan majalah. Dugaan saya, itu adalah majalah impor. Semacam playboy. Ternyata benar. Itu adalah setumpuk majalah Korean Pop.

Wah luar biasa juga koleksinya.

Tidak hanya sampai itu saja, ketika membuka desktop komputernya ada sekumpulan wajah wanita. Belakangan, saya baru tahu bahwa itu adalah wajah-wajah SNSD.

Gue ngefans mereka udah dari lama, Mod.” Ucap Levi untuk meredakan kagetnya saya.

Belum sampai situ kekagetan saya. Ada yang lebih membuat saya kaget. Sekaligus ngakak. Ia menyimpan sejumlah video musik baik girl band maupun boy band Korea. Kapasitasnya pun tak main-main. 20gb.

Mendapat fakta yang demikian ini, saya jadi tak heran lagi. Pantas saja kalo ngobrol bersama anak-anak KBM penyuka Korea macam Mbak Rhea dan Mbak Fina, ia hafal di luar kepala. Baik lirik maupun nama artisnya.

“Tapi, aku juga suka ini, Mod, Ir.” Ia menunjukkan sebuah folder yang diberi nama aneh. “Nuram”

Saat dibuka, ternyata adalah lagu-lagu dangdut Indonesia. Ada Rita Sugiarto, Meggy Z, Elvie Sukaesih, dan masih banyak lainnya.

“Lha terus, kok namanya Nuram. Itu apa maksudnya?”

Sambik terkekeh, ia mengarahkan kursor ke sebuah folder. Judulnya “Legenda Nuram”.

Kalian tahu, ternyata folder tersebut berisi lagu-lagu milik Inul Daratista dan Rhoma Irama.

Asli. Saya dan Hair ngakak. Levi~yang katanya juga penggemar Glenn Fredly~adalah penggemar berat dangdut.

Jujur saya nggak nyangka aja. Kenapa tesisnya malah mengambil tentang game. Saya berani jamin. Andaikan ia mengambil tesis dengan tema pergolakan musik dangdut vs Korea, pasti lebih cepat selesai.

Tapi ia memiliki idealisme tinggi. Ia cuman ingin membuktikan bahwa tesis yang baik adalah tema tesis yang jauh dari kenyamanan. Makanya, ia mengambil tema game.

Semoga tesismu cepat selesai, Lev. Nah sekadar saran teman-teman BBKU. Untuk membuktikan kejujuran dalam tulisan ini, saya memohon para admin BBKU untuk mengadakan temu penulis BBKU.

Acaranya sederhana. Bincang-bincang santai. Namun yang pasti, saya meminta Levi untuk menyanyikan sebuah lagu~yang selalu ia nyanyikan di kamar mandi~dari Meggy Z. Apa itu?

Sakit Gigi.

Buku Perdana

Jadi, ini buku perdana saya. Isinya kumpulan celoteh saya.

Kalo ada dana, bolehlah kamu membeli buku saya. Kalo ada dana berlebih, bolehlah kamu mendonasikan ke rekening saya. Lho.

Sekadar saran, belilah buku yang berabab tapi memiliki adab. Seperti apa buku tersebut? Kamu akan menemukannya dalam tulisan-tulisan yang terangkum di buku saya. He-he-he.

Oh iya, sesuai pesan dari teman-teman BBKU, yang mendapatkan poin tertinggi nanti dapat hadiah dari saya. Hadiahnya berupa buku perdana saya. Gratis.

Gimana? Tertarik? Yuk, mari kita menulis.

Erix Soekamti

Sebelum menuliskan apa saluran favorit youtube saya, ada baiknya saya mengucapkan selamat kepada televisi. Hari ini, tanggal 21 November adalah hari televisi sedunia.

Perayaan tersebut bermula dari keputusan PBB tentang resolusi PBB No.51/205 pada 17 Desember 1996. Mulanya keputusan PBB ditentang banyak pihak yang menurutnya hanya diperuntukkan bagi orang kaya.

Agaknya anggapan tersebut hanya berlaku sesaat. Televisi berkembang secara cepat dan pesat. Televisi tidak hanya dinikmati oleh kalangan atas tetapi juga kalangan bawah.

Namun itu dulu. Semenjak acara televisi lebih banyak didominasi gosip artis hingga berita hoaks, pesona televisi kian pudar.

Acara televisi hanya mengejar rating. Memuakkan. Menyebalkan. Menyedihkan.

Kegundahan tentang pesona televisi yang menurun direpresentasikan oleh sejumlah pelaku seni. Utamanya yang bergelut dalam bidang musik.

Sebagai contoh grup band Naif. Dalam lagunya yang berjudul televisi, ada lirik lagu yang menggelitik. “Aku ingin muncul di tv, buat acara sendiri, bukan gosipnya selebriti, harus yang lebih berisi.”

Ada lagi band lokal Jogja, Melancholic B1tch. Pada lagunya yang berjudul Mars Penyembah Berhala, mereka menyebut televisi sebagai penghacur imajinasi. “Siapa yang membutuhkan imajinasi jika kita punya televisi.”

Beruntung, tak semua imajinasi berakhir buruk. Ada beberapa acara televisi yang menurut saya masih layak ditonton. Seperti acara jelajah kuliner, keliling nusantara, musik dan tentu saja siaran sepakbola.

Nah, mari kita sudahi saja omong kosong tentang televisi. Mari kita beralih ke media kekinian. Youtube.

Jujur, mulanya saya tak memiliki saluran favorit di youtube. Biasanya saya membuka youtube hanya untuk mencari highlight atau cuplikan pertandingan sepakbola. Tapi itu dulu.

Sekarang saya menikmati saluran dari mas Erix Soekamti. Saya tak mengikutinya dari awal. Mulanya, saya hanya mencari Sheila On 7, band favorit saya.

Namun dalam “recommended for you” yang biasanya muncul di sebelah kanan, disarankan ke video “Erix Soekamti: Sheila ON 7.” Maka meluncurlah saya ke video tersebut.

Dan… Saya terharu atas pengakuan mas Erix (saya juga ikut terharu mas :’)). Semenjak melihat video itu, saya malah melihat video lainnya dari Mas Erix. Akhirnya saya keranjingan menonton di saluran Erix Soekamti. Sampai saat ini.

Melalui youtube, saya menemukan kesenangan yang tak ditemukan di televisi. Dan bagi saya, ide dan imajinasi bisa muncul dari youtube.

Oh iya, saya lampirkan video Sheila ON 7 dari saluran Erix Soekamti. Sila dinikmati di #DOES eps 90

Malas Sekali

Koala

Ini Koala

Seharian ini hujan. Hujan kok seharian. Seharian ini tidur. Tidur kok seharian. Seharian ini melamun. Melamun kok seharian.

Hujan membuat saya males gerak. Gaya gravitasi kasur tampaknya lebih memikat daripada sekadar duduk memandang ke laptop. Hujan membuat saya males belajar. Daya tarik mimpi lebih menarik daripada sekadar rebahan untuk membaca buku.

Aktivitas saya terlampau kaku. Seakan tak ada gairah. Hilang. Musnah. Penyebabnya sederhana. Tim sepakbola saya yaitu Juventus mengalami kekalahan. Kalah 3-2 dari tim semenjana. Duh, gitu kok ya mau menang lawan Barcelona besok malam.

Juventus seperti tidak bergairah. Apakah ini efek domino dari tak lolosnya Italia ke Piala Dunia 2018? Bisa jadi. Dalam sebuah artikel yang ditulis panditfootball.com hari ini, Juventus bukan melemah melainkan kompetitor mereka yang lebih bergairah. Sinyal bahaya. Waspada.

Acara yang membuat saya agak lebih bergairah hanya satu. Waktu Indonesia Bercanda. Saya tertawa terpingkal-pingkal melihat pertanyaan dan jawaban yang selalu aneh bin ajaib. Kok ya bisa berpikir sampai ke sana?

Sebagai contoh: “Jika di dalam rumah, mobil biasanya di….?” Ada enam kotak. Kotak kedua berhuruf A. Kira-kira apa hayo? Yang tahu jawabannya, silakan kirim komentar ya. Tapi sebelumnya maaf, yang berhak menjawab adalah peserta BBKU mini jilid III.

Hadiahnya menarik. Pulsa 10ribu rupiah. Tertarik? Silakan menjawab ya.

Fyi: Karena Setnov jadi tersangka, Pertamax sudah naik jadi RP8.400,-. Harap bersabar.

Lagi Dan Lagi

Sore yang teduh di Selomartani. Angin semilir berhembus sepi. Tak ada rintik. Apalagi gemericik. Semuanya berlalu sedang tanpa ada halang.

“Lestarikan lah bumi ini lur.”

Kalimat pertama menyambut para pengunjung di depan pintu masuk. Lestari itu sederhana. Menjaga tanpa pamrih. Demi keamanan dan kebersihan bumi.

Melangkah secara pelan. Tak perlu terburu-buru. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Terhampar para penjaja makanan dan minuman. Menengadah ke atas. Tampak umbul-umbul setinggi 4,5 meter. Sebuah kalimat tersusun dari 4 kata. Sederhana tapi dalam.

“Wani Ngejazz Luhur Wekasane”

Siapa yang berani mengalah akan mendapat kemuliaan.

Seakan-akan ngayogjazz ingin menyentil seseorang. Ah, bukan. Tapi mereka. Mereka yang haus akan egonya. Menghalalkan segala cara demi mendapatkan kepuasan pribadi. Bejat.

Ada 5 panggung. Serbu. Gerilya. Markas. Doorstod. Merdeka. Namun sore itu saya memilih merdeka. Bukan karena kata itu yang melekat di pikiran saya. Tapi karena mereka. Endah n Rhesa.

Mungkin saya terlambat. Hanya bisa menikmati sebuah lagu. Liburan indie. Namun, bagi saya lebih dari cukup. Menikmati petikan gitar dari Endah. Mendengarkan betotan bas dari Rhesa.

Seperti mendapatkan nafas baru. Semangat baru. Harapan baru.
Selalu suka dengan riuh pengunjung. Saya, kamu, atau kalian mungkin seperti asing dengan musik jazz. Toh, di era zaman now, genre tak lagi penting.

Mendengarkan musik tanpa paham siapa yang tampil, akan lebih membuat musisi tersebut dihargai. Dihormati, sekaligus disayangi.
Hentakan kaki. Anggukan kepala. Bibir yang sesekali bergumam.

Mungkin itu beberapa tanda bahwa kita menikmati apa yang disajikan sang musisi. Ya, kita larut pada setiap kata maupun nada.

Hmm, pentas ini masih belum berakhir. Saya ingin selalu menikmati ngayogjazz. Dari tahun ke tahun. Lagi dan lagi.

Ruang Bersalin

444649432502

Sumber: suarapedia.com

Roda-roda berdecit lirih saat memasuki lorong panjang. “Ciit… ciit…” begitu bunyinya. Bangku-bangku kosong terhampar di sebelah kanan dan kiri lorong itu. Setelah memasuki tikungan pertama, ada sepasang orang tua menunggu. Duduk dalam diam dan khusyuk.

Sesekali ibu membuka mata. Menggenggam erat tangan bapak yang mulai berkeringat dingin. Bapak tersenyum dan berkata, “Sabar ya, sebentar lagi.” Ibu melanjutkan nafas. Sedikit teratur namun agak menggebu.

Wajar. Karena di hari itu adalah pengalaman pertama dalam hidupnya. Hari yang bisa memunculkan sebuah perjudian. Hidup atau Mati.

Setelah memasuki ruangan baru, Ibu berganti tempat tidur. Ruangan tersebut lebih nyaman. Luas. Hanya untuk satu orang. Ada kursi panjang yang mampu digunakan sebagai tempat tidur. Televisi terpasang di atas pintu. Tapi, tampaknya bapak enggan menghidupkannya.

Toh, jika televisi dihidupkan, bapak enggan melihat hanya wajah dan ucapan seorang menteri. Yang selalu hadir setiap jam 10 malam. Dan selalu bicara tentang hari-hari omong kosong. Bedebah.

Dokter dan dua perawat datang secara bersamaan. Disambut dengan senyuman ramah oleh bapak. Kemudian mereka menyiapkan segala peralatan untuk memulai sebuah ritual. Ada gunting, pisau bedah, dan aneka peralatan lainnya.

Ibu kembali mengatur nafas. Diiringi aba-aba oleh dokter. Sesekali ibu mengucap sumpah serapah. Kalimat tasbih dan takbir diucapkan secara bergiliran. Bapak mengelus-elus rambut ibu. Sesekali mengecup kening. Dan juga memegang tangan kiri Ibu.

Bapak sadar mengenai rasa sakit yang dialami oleh perempuan dihadapannya. Rasa sakitnya bisa mencapai 57 Del. Atau setara dengan dipatahkannya 20 tulang secara serentak. Umumnya, manusia hanya mampu merasakan sampai 45 Del. Maka tak heran, hari itu adalah sebuah perjudian. Hidup atau Mati.

Ibu melenguh. Berteriak. Kemudian bertakbir. Dokter membimbing perlahan-lahan. Bapak menguatkan semangat ibu sembari mulutnya umak-umik. Para perawat berdiri di sebelah dokter. Agak terpekur namun menunjukkan kewaspadaan tinggi.

23.55. Seorang anak laki-laki teriak sekencang-kencangnya. Entah kaget, senang, sedih atau bahagia. Yang jelas teriakannya tak kalah dengan teriakan Bung Karno saat mengumandangkan “Ganyang Malaysia.”

Ibu menutup mata. Bapak sedikit lemas. Terkesiap sehingga memanggil ibu agak lantang. “Ma… ma… ma…!!” Ibu kaget. Membuka sebelah mata. Rupanya agak kecapekan. Seorang perawat menggendong anak tersebut keluar kamar. Dokter bernafas lega. Satu pekerjaan telah usai.

Perawat itu kembali. Memanggil nama bapak kemudian menyerahkan seorang bayi mungil, lucu, nan luar biasa putih. Ditambah lagi dengan mata kecilnya. Sipit.  Lagi-lagi bapak terkesiap.

“Ndak mungkin ini anak saya.” Ujar bapak.

“Lho gimana sih bapak, ini benar-benar anak bapak.” Bantah perawat itu.

Sempat berdebat cukup alot. Namun si perawat berusaha meyakinkan bapak dengan sejumlah alasan. Setelah bapak menatap secara lamat-lamat, bapak akhirnya berdehem. Kemudian mengumandangkan azan di telinga kanan. Dan iqomah di telinga kiri.

“Mau diberi nama siapa pak?” tanya perawat itu.

“Sebentar saya berpikir.” Ujar bapak.

Sembari menengok ke dalam ruangan dan melihat kondisi ibu, bapak mulai mengingat-ingat sebuah perjanjian dengan ibu. Jika anak tersebut perempuan, diberi nama dengan awalan P. Namun jika laki-laki, diberi nama dengan awalan M.

Berhubung waktu itu adalah hari Senin, idealnya mengkaitkan nama yang ada hubungannya dengan hari Senin. Selain itu, bapak ingin mendedikasikan pengalaman kerja di Manado menjadi sebuah nama anak. Sempat terpekur kemudian sedikit bergumam sesuatu. Moddie.

Dulu, ketika berkonsultasi dengan dokter, ibu terkesima dengan pelayanan seorang dokter. Alvianto namanya. Cepat dan tanggap. Ibu pun merasa yakin apabila persalinannya dibantu oleh sang dokter maka akan lancar dan selamat. Dan benar sesuai dugaan. Dia lah yang membantu persalinan Ibu sampai tuntas.

Kemudian Ibu dan Bapak sudah berkomitmen ingin memiliki anak dan menjadikan anak-anaknya bijaksana dan berwibawa. Karena saat itu adalah yang pertama bagi mereka, dipilihlah kata bijaksana. Namun agak sedikit dimodifikasi menjadi wicaksono.

“Moddie Alvianto Wicaksono.” Ujar bapak cukup lantang.

Suster menulisnya dengan cekatan. Bapak tersenyum sembari melihat Ibu yang ikut tersenyum lega. Dan sebuah nama tercipta di ruang itu. Ruang bersalin.