Month: February 2017

Tuan, ajari saya politik santun


Beberapa bulan belakangan ini, Indonesia seperti dilanda wabah politik. Atau mungkin lebih tepatnya virus politik. Dimana-mana semua orang ngomongin tentang politik. Mulai dari warung kopi, pusat perbelanjaan, kampus, hingga pasar pun seakan-akan pembicaraan tentang politik di Indonesia tak akan pernah ada habisnya. Sebenarnya gejala orang-orang ngobrolin tentang politik baru intensif dalam 2 tahun belakangan ini. Lebih tepatnya menjelang dan setelah pemilu 2014.

Disadari atau tidak, intensitas orang berbicara tentang politik setelah pemilu 2014 meningkat pesat. Kita bisa lihat pada status-status lini masa seorang teman, sahabat bahkan mungkin di lingkungan keluarga. Pembicaraan tentang politik tak akan ada habisnya. 

“Eh tau nggak bro, si A katanya ternyata tersangkut korupsi lo.”

“Eh jeng, ini lo masak kemarin si B saya pilih karena janjinya mau hilangkan pengangguran, kok ternyata dusta belakaaa.”

“Ini kenapa sih, pemerintah kok ga becus, gini aja ga bisa, mending balik ajalah zaman dulu.”

Kalimat-kalimat diatas mungkin sudah terdengar tidak asing lagi di telinga kita. Sebenarnya boleh dibilang, itu termasuk sinyal yang baik. Artinya bahwa banyak masyarakat Indonesia mulai melek dengan kondisi perpolitikan Indonesia yang tak kunjung membaik. Tidak sedikit dari teman-teman saya yang tiba-tiba sama sekali tak suka politik, malah jadi sering membagi tautan tentang politik. Hal itu cukup baik meningkatkan rasa sadar bahwa politik memang dibutuhkan di Indonesia. 

Tetapi masalahnya adalah seperti yang dikatakan salah satu penulis yaitu Zen Rs, orang-orang Indonesia lebih banyak suka berkomentar dari pada banyak membaca. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.”

Ini benar-benar terjadi lho. Hanya karena ingin dianggap orang yang ngerti politik maka dibagikanlah tautan-tautan yang menurutnya keren tetapi mengandung provokatif dan intimidatif. Akhirnya perang komentar pun terjadi. Ada yang memaki dan membenci namun ada pula yang memuji bahkan menghargai. Tak pelak, twitwar terjadi. Bisa dari subuh hingga subuh lagi. Dan ini pernah terjadi di timeline media sosial saya.

Duh, rasanya ngeri sekaligus ngenes. Maksudnya peduli akan situasi politik di Indonesia, eh kok jadinya benci satu sama lain. Ujung-ujungnya terjadi unfollow bahkan unfriend. Iya kan?

Mbok ya kalo benar-benar pengen jadi orang yang ngerti politik ya syaratnya satu, baca. Kalo katamu buku mahal, bisa download yang gratisan. Tanya mbah google. Masak yang di download gratis cuman video porno dan lagu bajakan aja? Ngaku ndak? Iya kan? Ini serius. Biar kita paham dan nggak asal bicara.

Kan banyak tuh buku-buku macam Machiavelli ataupun Sun Tzu. Atau kalo kamu anggap mereka kafir, ya baca aja Ibnu Taimiyah. Kan bisa tho? Jadi kalo mau gontok-gontokkan di media sosial bisa lebih arif dan bijaksana. Kalo kalah ya jangan memaki. Kalo menang ya jangan meninggi.

Kan kalo kata pemimpin-pemimpin kita saat ini, “Kita harus berpolitik secara santun dan arif serta menjunjung etika.” 

Lho ya, ini pemimpin lho yang bilang. Lha situ rakyat sipil kan? Belum pernah merasakan jadi kayak mereka kan? Mereka itu, maksud saya para pemimpin itu sudah banyak baca dan pengalaman makanya sah mereka berpolitik.

“Mas, kalo mereka banyak baca dan berpengalaman, trus bilang harus berpolitik secara santun, nah ini kok malah lempar-lemparan kursi, saling lapor bahkan tuduh-menuduh hingga ke pihak berwajib. Apakah mereka pantas disebut pemimpin?”

Duh. Saya ndak habis pikir kenapa ada orang yang ngomong kayak gitu. Itu yang ngomong nggak punya akal kah? Ini artinya sama saja nggak percaya sama kualitas pemimpin kita. Menghina pemimpin bahkan bisa saja disebut menistakan pemimpin. Nanti ujung-ujungnya kita bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik.

“Mas, kalo mereka salah ya kita ingatkan. Masak di kritik, malah dianggap pencemaran nama baik. Ini bukan Orde Baru mas.”

Nah, kalo sampe ada yang ngomong kayak gini nih, berarti ndak tau sejarah perpolitikan di Indonesia. Belum baca banyak buku malah udah berkomentar kayak gitu. Kita harus sadar diri, mereka yang jadi pemimpin itu sudah berproses sejak lama. Bahkan mungkin sebelum kamu lahir. Atau malah mungkin saat orangtuamu masih pacaran. Bener nggak?

Kita harus mempercayai mereka bahwa para pemimpin pasti akan membawa kita selalu ke jalan yang benar. Tidak mungkin mereka sekolah tinggi-tinggi, kuliah di luar negeri, hanya ingin membawa kita ke jalan yang sesat. Itu jelas mustahil. Mereka pun pasti paham cara berpolitik. Kalopun ada yang sampe melakukan lempar kursi atau saling lapor, maka boleh dibilang itu seni. Atau lebih tepatnya nyeni.

“Mas, setau saya seni itu ya seni lukis, seni musik, dan seni tari. Masak ada seni politik? Ada-ada saja sampeyan ini.”

Nah kan, lagi-lagi orang-orang seperti itu memang benar-benar jarang atau malah mungkin belum membaca. Yang penting komentar lebih diutamakan. Jadi begini, politik adalah seni. Dan itu sudah terjadi sejak zaman Romawi kuno dan Yunani. Bahkan dulu ada yang dinamakan dengan art politica (seni berpolitik). Kalo zaman sekarang bisa dikatakan art of possibility (seni segala kemungkinan).

“Mas, maksudnya gimana kok bisa pakai kata kemungkinan?”

Dalam politik, apapun bisa terjadi. Yang benar bisa jadi salah, yang salah bisa jadi benar. Maka tak heran, ada anekdot “kesalahan yang berulang-ulang bisa menjadi kebenaran umum.” Kenapa dikatakan berpolitik harus secara arif dan santun? Karena biar kita bisa mengedepankan akal dan hati nurani. Berpikir dahulu, kemudian tahu, dan akhirnya paham supaya kita bisa benar-benar waras dalam berpolitik.

“Hah? Waras? Emang kalo salah berpolitik bisa jadi gila?”

Gila atau ndak gila, itu tergantung individu. Biasanya kalo orang sudah memilih jalur politik berarti mereka sudah harus siap mental dan fisik. Dan artinya orang yang ingin berpolitik, benar-benar memiliki jiwa sehat dan raga kuat.

“Mas, jadi balik lagi kan pertanyaannya. Kalo mereka punya jiwa sehat dan raga kuat, ngapain mereka saling tuduh menuduh, lempar kursi bahkan pukul memukul?”

Duh. Repot. Banyak tanya. Bedhil Ndasmu!!

Trump dan Putin

Kemenangan Donald Trump yang menjadikannya presiden ke 45 bagi Amreika Serikat seakan menjadi titik nadir demokrasi bagi negara tersebut. Di saat beberapa negara maju dan berkembang berusaha mencontoh Amerika Serikat sebagai model negara demokrasi, maka untuk saat ini bagi masyarakat Amerika Serikat, demokrasi menjadi paradoks. Menghasilkan Presiden macam Donald Trump seakan membuat simpul demokrasi Amerika Serikat tercoreng.

Sejak terpilihnya Trump beberapa minggu silam, demonstrasi merebak hampir seluruh wilayah Amerika Serikat. Trump dinilai tidak mencerminkan sebagai orang Amerika Serikat yang menjunjung kebebasan dan menganut nilai-nilai demokrasi. Masyarakat Amerika Serikat terlanjur menilai bahwa Trump adalah tokoh ultra-konservatif yang mengusung kebencian dan menumbuhkan permusuhan. Tidak hanya bagi masyarakat Amerika Serikat namun juga masyarakat seluruh dunia. Salah satu kebijakan kontroversinya adalah kebijakan Trump melarang imigran dari 7 negara kawasan Timur Tengah.

Kebijakan tersebut (executive order) ditentang oleh dunia internasional. Alhasil, nada kecaman berupa aksi dan wacana pun dilontarkan secara kontinyu dari warga Amerika Serikat pasca ditetapkannya kebijakan tersebut. Namun, kebijakan Trump dianggap masih menuai pujian dari beberapa negara sekutu seperti Arab Saudi. Komitmennya dalam melaksanakan janji bukanlah isapan jempol belaka. Selain itu, Trump juga didukung oleh dua kekuatan besar dunia yaitu Inggris dan Rusia. Bukan menjadi rahasia umum lagi, pasca Brexit, Inggris lebih merapat ke Amerika Serikat daripada Uni Eropa. Begitu pula Rusia yang tampaknya semakin mendekat untuk menghangatkan kembali hubungan kedua sahabat lama. Vladimir Putin dan Donald Trump.

Telah menjadi perbincangan publik bahwa Trump adalah sahabat lama Putin utamanya dalam hal bisnis. Sebagai contoh, Trump menjadikan Moskow sebagai lini kekayaan dengan mendirikan hotel pada tahun 2007. Dan tentu saja hal tersebut mendapat dukungan Putin selaku penguasa Rusia. Selain itu, jika kita menilik dalam 2 tahun terakhir (2015-2016), Trump dan Putin saling melontarkan pujian. 

Jika dilihat sejak tahun 2015, setidaknya Putin mengeluarkan pujian pada Trump sebanyak 2x secara beruntun pada tanggal 17 Desember 2015. Sedangkan di tahun yang sama Trump melontarkan pujian sebanyak 3x yaitu tanggal 30 Juli 2015, 1 Desember 2015, 17 Desember 2015. Seperti contoh pada tanggal 30 Juli 2015, Trump mengungkapkan bahwa bersama Putin maka Amerika Serikat dapat menjalin kerjasama yang lebih baik. 

Pada tahun 2016, Putin mengeluarkan pujian kepada Trump sebanyak 4x yatu pada tanggal 14 Januari 2016, 12 April 2016, 22 Juni 2016 dan 27 Juli 2016. Sebagai contoh pada tanggal 27 July 2016, Putin melontarkan pujian bahwa Trump adalah partner kooperatif dalam usaha membinasakan ISIS yang dianggap sebagai ancaman utama. Sedangkan Trump memuji Putin sebanyak 2x pada tanggal 22 Maret 2016 dan 27 Juli 2016. 

Hubungan Trump-Putin seakan tidak pernah luntur. Jalinan komunikasi makin intens. Rasa saling hormat dan menaruh kepercayaan terus ditingkatkan. Hal terbaru yang dikatakan oleh Trump pada tanggal 15 Januari 2017 kepada media adalah kita harus percaya Putin.

Pernyataan tersebut tentunya sedikit menyakitkan bagi masyarakat Amerika Serikat seperti tim dari Hillary Clinton. Mereka menuduh Rusia turut campur tangan dalam pemilu Amerika Serikat. Jauh-jauh hari sebelum pemilu berlangsung, mereka menuduh Rusia meretas Pos-el Hilary Clinton yang bocor kepada publik. Hal tersebut menyebabkan kepercayaan warga Amerika Serikat pada Hillary menurun sehingga berbuah kemenangan Trump. Intelijen AS pun berusaha menyingkap isu yang beredar. Apakah benar Rusia berusaha meretas pos-el milik Hillary? Namun yang terjadi, Trump justru menyangkal informasi tersebut. Bahkan di kemudian hari, Trump menuduh intelijen AS salah memberikan informasi.

Alhasil dengan kemenangan Trump ini menjadi angin segar bagi Rusia. Putin berharap akan mendapatkan peluang untuk dibebaskannya sanksi dari AS. Seperti telah diketahui, pada tahun 2014 Rusia dijatuhkan sanksi akibat berusaha menganeksasi Krimea. Tindakan yang dilakukan untuk mencaplok Krimea dan Semenanjung Ukraina dianggap perbuatan ilegal oleh Amerika Serikat dan beberapa negara Barat. Selain itu, Rusia dianggap mendukung pasukan separatis Rusia yang berada di Ukrania Timur. Hal ini sepertinya memang dilakukan Putin karena ingin mengembalikan dan menguatkan pengaruh Rusia seperti era Stalin dan Lenin. 

Baru-baru ini pula, Dubes AS untuk PBB, Nikki Haley mengutuk perbuatan Rusia yang menyerang Ukraina Timur pada 29 Januari 2017. Dalam perang tersebut, korban tewas mencapai 13 orang. Ia juga menyesalkan bahwa penyerangan Rusia terhadap Ukraina Timur melanggar kesepakatan Minsk. Kesepakatan yang isinya merupakan gencatan senjata antara kedua belah pihak. Namun hingga saat ini, Trump belum memberikan tanggapan atas penyerangan Rusia. Apakah ini berarti Trump menganggap bahwa tindakan Rusia adalah sesuatu yang legal?

Jika memang Trump benar-benar mendukung Putin, maka seharusnya ini menjadi alarm buruk bagi Uni-Eropa. Di saat kebijakan perlindungan imigran ditegakkan, kaum minoritas seharusnya tidak diabaikan maka Trump justru membalikkan harapan dan tujuan dari Uni Eropa. Uniknya, Putin mendukung pula apa yang dilakukan Trump dari segi kebijakan apapun.

Kebijakan yang paling layak ditunggu dari Trump adalah rencana memindahkan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem. Tentunya jika terjadi maka akan mengacaukan konstelasi dunia internasional. Perdamaian yang dirancang oleh PBB dengan menempatkan Jerusalem sebagai kota internasional akan hancur berantakan. Apakah Trump benar-benar akan melakukannya?

Berkaca dari sejarah, sejatinya yang dilakukan Trump adalah mengekor kebijakan dari pendahulu-pendahulunya. Sejak tahun 1922, AS selalu mendukung Israel untuk menjadikan Jerusalem sebagai ibukota. Pada tahun 1947 melalui resolusi PBB nomor 181 (III) AS dan Uni Soviet sama-sama mendukung Palestina untuk dibagi menjadi dua negara. Satu untuk negara Arab dan satu negara Yahudi (Kuncahyono, 2008). Namun perundingan tersebut gagal dilaksanakan. 

Begitu pula dengan resolusi 242 pada tahun 1967 yang menyerukan Israel mundur dari Palestina. Namun sekali lagi, resolusi tersebut dihiraukan begitu saja. Bahkan pada tahun 1980, Dubes AS untuk PBB, Arthur Goldberg menyatakan bahwa status Jerusalem masih dapat dibicarakan lag dan menganggap bahwa Jerusalem bukan wilayah kependudukan. Ini artinya AS memang masih menghendaki Jerusalem untuk menjadi ibukota Israel. 

Tidak berakhir hanya pada tahun 1980 saja. Pada tahun 1994, wapres Al Gore pun menyatakan sebaiknya Jerusalem bersatu dengan ibu kota Israel. Jika Dewan Keamanan PBB menghendaki bahwa Jerusalem sebagai bagian dari wilayah kependudukan maka, AS akan memveto resolusi tersebut. Hal-hal tersebut yang makin meyakinkan bagi Trump untuk segera memindahkan Tel Aviv dan menegaskan Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin konstelasi di Timur Tengah akan berubah. Hangatnya hubungan Trump dan Putin juga akan membingungkan Turki dan Iran yang notabene menjadi sekutu Rusia untuk saat ini. Pada perang Suriah yang tak kunjung henti, koalisi AS-Israel-Arab Saudi membela oposisi. Sedangkan Rusia-Iran membela petahana yaitu Bashar Al Assad. Hal ini tentunya akan menjadi paradoks bagi Trump dan Putin.

Di saat Putin menggandeng Iran karena hubungan ekonomi terkait produksi nuklir. Putin menganggap dengan pasokan nuklir yang berlebih dari Iran maka Rusia akan kembali menjadi digdaya seperti Uni Soviet. Selain itu, satu-satunya pangkalan militer Rusia tersisa pada kawasan Timur Tengah berada di Suriah.

Namun, Trump memandang lain. Sejak dahulu, Iran dianggap ancaman bagi Amerika Serikat. Terlebih pasca disetujuinya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dengan Iran era Obama. Trump menganggap nuklir Iran akan menjadi ancaman bagi dunia internasional. Selain itu, pasokan nuklir Iran menjadi tantangan nyata bagi sekutu Amerika Serikat yaitu Israel. Benjamin Netanyahu pula yang meminta agar Trump membatalkan kesepakatan nuklir tersebut.

Disinilah polemik yang akan berlangsung. Tentunya Trump dan Putin akan berupaya menyamakan visi dan misi supaya jalinan kepentingan baik dari segi politik maupun ekonomi dapat bertemu. Upaya yang dilakukan sejauh ini oleh mereka adalah sama-sama menyepakati bahwa ISIS adalah musuh nyata bagi dunia internasional. Jadi bagaimana kelanjutan hubungan Trump dan Putin? Menarik ditunggu.

Tulisan ini muncul di edunews.id pada tanggal 24 Februari 2017

212

Langit cerah dengan awan merekah terjadi lagi di Malang pada pagi ini. Sudah hampir seminggu peristiwa tersebut terjadi secara kontinyu. Kalo sudah menjelang siang agaknya Dewa Hujan sudah siap untuk memberi berkah berupa hujan. Baik itu panas maupun hujan tetap saja kita harus bersyukur. Toh itu ciptaan Dia. 

Membuka pintu depan di rumah Nenek. Selalu saja ada penjual pepaya yang hanya membawa 15 buah per harinya. Ia selalu berjaga mulai pukul 7.30. Kalo sudah menjelang pukul 10.00, ia sudah melenggang balik ke tempat peraduannya. Ia hanya membutuhkan waktu 2 1/2 jam untuk meraih rezeki. Memang jalan rezeki sudah ada yang atur. Asal mau berusaha dan kerja keras saja. 

Bicara soal angka, urutan 212 adalah hal yang menarik belakangan ini. Mulai dari aksi bela Islam jilid 1 dan sekarang mulai masuk jilid 2, kemudian serial legendaris Wiro Sableng yang segera disiarkan salah satu televisi Internasional hingga ukuran waktu seseorang (baca: penjual pepaya) untuk meraih rezeki. 

Kadang sulit rasanya mengaitkan sebuah kebetulan dengan keberuntungan. Ada kalanya kata-kata tersebut berkelindan namun ada kalanya kata tersebut berjauhan. Namun yang pasti, tidak hanya manusia, melainkan hewan atau tumbuhan pun pernah mengalami hal seperti itu. Hanya proses dan hasilnya saja yang berbeda. 

Bagi saya angka 212 adalah angka yang magis. Angka yang menaikkan derajat kehidupan baru. Meniti kehidupan menarik, unik sekaligus menggelitik.

Pagi itu saya terbangun pukul 02.00. Membuka hape. Membalas beberapa pesan. Kemudian membuka peramban. Mencari dan menghapalkan kata-kata yang akan dilantunkan pada jam 08.30. Setelah umak amik sejenak, saya mengambil air wudhu. Sholat tahajud dan bertafakur sejenak. Berharap pagi saat matahari menyingsing semua dalam keadaan baik-baik saja. 

Sudah menjelang subuh. Saya keluar dari kamar kemudian menuju dapur. Memanaskan air kemudian membuat kopi hitam pekat. Tentu saja harus dalam rasa pahit. Saya mencoba menghabiskan kopi pahit. Berharap dengan habisnya kopi pahit tersebut maka tuntas pula kepahitan dunia dalam status saya sebagai seorang pria. 

Orang-orang mulai terbangun. Bapak, ibu, adik, sanak saudara, dan ketiga rekan yang saya banggakan mulai bergegas memantaskan diri. Menjadi rapi sekaligus wangi. Begitu pula dengan saya. 

Kemudian kami sarapan dalam satu meja. Makanan tersedia dengan menu favorit saya. Bebek Goreng. Sayang seribu sayang. Agaknya perut kurang berkompromi sehingga saya gagal menghabiskan menu favorit saya. Ketiga teman saya mencoba menawarkan kopi dan rokok. Saya menolaknya. Perut kembung dan saya pun tidak merokok. Entahlah maksud mereka apa. Mungkin hanya ingin menghibur dan menenangkan saya. 

Jam 07.00. Kami sudah berkumpul di luar rumah. Berbaris. Merapikan rambut. Menyiapkan minyak wangi dan penghilang bau mulut. Berfoto sejenak. Ambil barisan kemudian terdengar suara sedikit nyaring. Cekrak. Cekrik. Mungkin ada 5-6 kali. Posenya sama. Berdiri. Namun dengan raut muka yang berbeda. Tawa dan bahagia. 

Setelah usai, pukul 07.30 kami bergegas menuju sebuah rumah. Tempat dimana saya akan menghabiskan waktu yang cukup singkat. Namun dengan perasaan berdebar sekaligus bahagia. Begitu sampai, saya digandeng oleh nenek di sebelah kanan dan ayah di sebelah kiri. Bergegas masuk kemudian diikuti yang lain. Menebar simpul senyum di samping kanan dan kiri.

Kemudian duduk bersimpuh di depan meja yang telah disediakan. Sebelah kanan ada ayah dan sebelah kiri ada beberapa saudara. Di dekat jendela samping kolam ada pakde, bude, tante, dan paman. Belakang saya adalah barisan wanita berseragam yang siap melantunkan doa-doa secara serentak. 

Acara dimulai. Dari sambutan, seserahan, hingga khotbah. Tak begitu panjang namun juga tak begitu pendek. Namun yang pasti acara berlangsung khidmat dan khusyuk. Hal paling intim akan terjadi sesaat lagi. 

Bapak berpeci hitam memberikan arahan kepada saya. Begitu pula dengan salah seorang petugas yang berada di sebelah kanannya. Bernegosiasi sambil mengarahkan supaya semuanya berjalan lancar.

Inilah saatnya. Sang Kiai mengucapkan sepotong kalimat yang terdengar magis. Rasanya darah mengalir begitu cepat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jantung pun rasanya berdetak sangat pelan. Hingga akhirnya beliau menggoyangkan tangan saya. Reaksi selanjutnya, saya kehilangan fokus. Terdiam. Kerongkongan tercekat. Mulut terkunci. 

Sekeliling saya bukannya kaget dan bingung namun justru tertawa kecil. Mungkin mereka mengerti kalo saya agak kehilangan kendali. Sang Kiai kembali mengungkapkan kata-kata yang sama. Kali ini saya sepenuhnya dapat kontrol diri. Jantung berdetak sempurna. Keringat tak lagi mengucur deras. Dalam hati, bait shalawat terus saya lantunkan. 

Dan pada saat itulah, saya mengucapkan kalimat yang akan mengubah status dan jalan kehidupan. Kemudian semua orang tersenyum dan mengucapkan kata paling menggetarkan jantung dan hati. Sah.

Di saat itulah, muncul sosok wanita anggun dan cantik yang muncul dari balik pintu. Seperti pintu khayangan. Saya menyambutnya diiringi shalawat yang menggema di seluruh ruangan. Saya meraih tangan kirinya perlahan. Mendekatkan ke tubuhku dengan amat pelan. Kemudian saya mencium keningnya seraya melafalkan doa-doa. Berdoa agar selalu beruntung baik dunia dan akhirat.

Tetes air mata berkelindan dengan tawa bahagia. Seluruh orang lega dan bahagia. Tak terkecuali saya dan wanita itu. Simpul senyum bahagia dirajut dengan doa dari kerabat membuat hari terasa lapang dan terang. Dan pada hari itu saya resmi menjadi suami dari istri saya. Novia Rakhma Ramdhani.

                                                                ***

Disclaimer: Ini bukan aksi bela Islam jilid 1 dan 2. Ini bukan pula aksi bela Wiro Sableng. Ini adalah aksi bela cinta 212. 21 Februari 2016-21 Februari 2017. 1 tahun pernikahan saya dan Novia Rakhma Ramdhani.

Reuni di Omah Luwak

Blue Batak V60 bersama Aleppo
Blue Batak V60 bersama Aleppo | © Moddie Alvianto Wicaksono

Malang sedang tak bersahabat. Sejak tiba pagi tadi, hujan belum juga reda di kota Bunga itu. Awalnya gerimis, lebat bercampur angin, kembali gerimis, dan lebat lagi. Namun bagi warga Malang, hujan justru membawa berkah. Kenapa? Dengan hujan, Malang seperti kembali di tahun 60an. Sejuk dan dingin. Hawa yang mungkin jarang dirasakan warga Malang seiring masifnya pembangunan ruko dan padatnya lalu lintas kendaraan.

Dingin pun harus segera disiasati. Tentu ada banyak cara untuk sekedar mengusir dingin, dan saya memilih menyeduh kopi. Menikmati secangkir kopi pekat dengan obrolan ringan bersama beberapa kawan lama menjadi ‘perlawanan’ yang cukup tepat. Menurut saya, minum kopi adalah usaha untuk membunuh dingin dari guyuran hujan yang tak tahu kapan akan minggat.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya diajak oleh kawan-kawan menuju sebuah kedai kopi yang terletak di pusat kota Malang. Letaknya berada di kawasan Soekarno Hatta. Lebih tepatnya berada di belakang Pesantren Al Hikam. Namanya Omah Luwak.

Kedai kopi dengan desain sederhana ini menawarkan beragam jenis kopi nusantara yang membentang dari kepulauan Sumatra hingga Papua. Kita bisa menemui nama-nama kopi seperti: Blue Batak, Flores Manggarai, Papua Amungme, kopi bajing dari Sidoarjo dan tentu saja favorit saya; Aceh Gayo. Tapi saat itu saya memilih Blue batak. Alasannya sederhana saja: karena saya belum pernah mencicipi.

Daftar menu kopi nusantara
Daftar menu kopi nusantara | © Moddie Alvianto Wicaksono
Papan Nama Omah Luwak
Papan Nama Omah Luwak | © Moddie Alvianto Wicaksono

Omah luwak menyediakan kopi dengan penyajian tubruk, Vietnam drip, French press, maupun V60. Saat itu, saya memesan Blue Batak dengan penyajian V60. Kenapa? Karena baristanya lah yang menyarankan. Dan kawan saya pun mengiyakan saran tersebut.

Beruntungnya, saya mendapat kopi itu secara gratis. Tanpa perlu dibayar. Itu bonus yang diberikan oleh Omah Luwak kepada pemilik kartu BPJS dan tidak pernah mengalami tunggakan. Beruntung, saya memenuhi persyaratan yang dibuat oleh Omah Luwak.

Sembari menyeduh kopi perlahan, seorang pelanggan datang. Ia langsung masuk ke dalam dan membuat kopi Padang Solok. Saya sedikit terheran-heran mengapa barista tidak melarangnya. Malah sang barista tersenyum sembari mengamati pelanggan tersebut. Usut punya usut, ternyata barista itu memperbolehkan bagi siapa saja yang mau membuat kopi sesuai selera. Namun tetap harus ada seorang barista yang mengamatinya.

Di Omah luwak terdapat tiga barista. Ada Agus, Peter, dan Teguh. Nama terakhir adalah pemilik dari Omah Luwak. Ada pula barista pemula yaitu Ivan. Ia sedang belajar untuk serius menekuni dunia kopi kepada Agus. Siapapun pelanggan yang ingin belajar mengenal dan membuat kopi akan dijelaskan secara langsung oleh Agus. Beliau akan mengedukasi bagaimana cara memilih biji kopi, mengenal jenis kopi maupun membuat kopi yang sesuai standar.

Interaksi-interaksi yang dilakukannya memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung ke Omah Luwak. Tak heran baik pelajar, mahasiswa, maupun pekerja sering mampir untuk sekadar minum sembari belajar membuat kopi.

“Saya hampir seminggu 4 kali, Mas kesini. Selain tempatnya nyaman, saya sering ajak kawan-kawan sembari ngobrol mengenang masa kuliah,” ujar Agung, pekerja kreatif asli Sampang yang kini tinggal di Tulungagung.

Seorang Pelanggan (putih) sedang membuat kopi
Seorang Pelanggan (berbaju putih) sedang membuat kopi | © Moddie Alvianto Wicaksono

Omah luwak juga memiliki kreasi kopi sendiri. Selain mengunggulkan kopi luwak, mereka juga menyediakan kopi Bajing. Kalo kopi luwak berasal dari kotorannya, sedangkan bajing berasal dari muntahannya yang kemudian di fermentasi. Rasanya? Menurut saya, aneh bin unik. Sekali lagi itu sesuai cecap lidah saya. Tapi saya sarankan, kamu harus mencobanya jika berkunjung ke Omah Luwak.

Soal harga jangan khawatir, memuaskan untuk kantong mahasiswa. Bahkan uniknya harga segelas teh hampir sama dengan harga secangkir kopi. Menurut Agus, supaya pengunjung lebih menikmati kopi daripada teh. Dan supaya pengunjung bisa mengenal aneka macam kopi Nusantara.

Untuk urusan pengusir rasa lapar, ada beberapa kudapan macam kentang goreng, tahu tuna, atau pun risol mayo. Nama yang disebut terakhir merupakan kudapan andalan dari Omah Luwak.

Hujan mulai berangsur reda. Tak terasa saya menghabiskan 4 jam dan telah menandaskan tiga cangkir kopi. Begitulah jika bertemu dengan kawan-kawan lama. Ngobrol, berbincang kenangan atau seputar kehidupan sehari masa kini. Apalagi sembari minum kopi berkualitas dari racikan barista yang berintegritas. Dan itu bisa kamu temukan dan rasakan di kota Malang. Terutama di Omah Luwak.

Tulisan ini dimuat di minumkopi pada tanggal 8 Februari 2017.

Menikmati Panggung Sandiwara Senikmat-nikmatnya

Panggung Sandiwara

sumber: http://fathiyahthia.blogspot.co.id

Dunia ini Panggung Sandiwara. Begitulah penggalan lirik pertama yang dinyanyikan oleh Achmad Albar Sang Vokalis God Bless. Panggung yang seringkali menyajikan drama bernuansa puitik mau pun bersajak analitik. Ya. Seperti di Indonesia. Khususnya menjelang Pilkada.

Akhir-akhir ini kita dapat melihat banyak pasangan calon bergerilya menarik simpati masyarakat. Tujuannya hanya satu. Meraih kursi. Memang apalagi yang diinginkan selain kursi kehormatan? Kursi kehormatan yang katanya akan memberi kenikmatan dan kenyamanan bagi siapa saja yang mampu merengkuhnya.

Tapi apa iya mereka hanya ingin meraih kursi kehormatan? Siapa tau mereka juga ingin memiliki kekuasaan. Katanya dengan kekuasaan, apapun bisa didapatkan. Seperti Benito Mussolini yang memberi perintah kepada tim nasional Italia juara Piala Dunia pada tahun 1934. Jika hal itu tak terjadi, maka hukuman untuk para pemain dan pelatihnya hanya satu. Mati. Beruntungnya, Italia menjadi juara Piala Dunia pada tahun 1934. Senanglah hati Mussolini.

Tapi, apa benar mereka hanya ingin meraih kekuasaan? Bagaimana jika ingin memperkaya diri? Ya, karena ketika dua hal tersebut dapat diraih maka otomatis mereka akan memperkaya diri. Itu sudah hal lumrah. Sudah menjadi naluri kebinatangan manusia.

Bahkan saking obsesinya, manusia mencoba segala cara untuk mendapatkannya. Seorang teman pernah berkata hal seperti ini, “jadi pemimpin itu enak. Bisa ngatur-ngatur dan bisa kaya. Makanya, saya rela jual ladang, kalau perlu jual rumah biar dapat modal jadi pemimpin. Toh, nanti juga balik modal. Malah untung loh.”

Jadi jangan heran, jika banyak sawah atau ladang mulai berkurang di Indonesia. Salah satunya buat modal (baca:uang) politik demi berlaga di kancah Pilkada. Dan mungkin mereka pula yang akhirnya menjadi penyebab harga pangan naik, kemudia ‘mengharuskan’ negara untuk impor. Hmm.

Jika mereka punya modal politik, apa lantas bisa langsung jadi pemimpin? Oh, tunggu dulu. Mereka harus punya modal sosial. Tanpa modal sosial, mereka tak akan bisa jadi pemimpin. Masalahnya, tak semua calon pemimpin punya modal sosial yang baik. Baik menurut yang akan dipimpin lo ya. Menurut saya, kamu, bahkan pembaca budiman.

Robert Putnam pernah berkata dalam bukunya Bowling Alone, kalau modal sosial adalah bagian dari hidup yang memerlukan jaringan, norma dan kepercayaan, sehingga mengajak kita ikut membangun dan mencapai tujuan bersama-sama.

Sekarang, apa benar mereka yang sedang berlaga itu punya modal sosial? Jangan-jangan sebenarnya mereka tak punya, tapi ‘diciptakan’ seolah punya. Kan mereka punya ‘atasan’.

Emang bisa? Bisa banget. Teknologi informasi coba dimanfaatkan. Banyak buzzer-buzzer politik berkeliaran. Bisa disewa dan dibayar. Wong sekarang zamannya manusia menunduk kok. Tapi beda sama pepatah ya, makin menunduk makin berisi. Itu kan artinya rendah hati.

Kalau sekarang, makin menunduk makin tersaji. Yaps, tersaji di lini masa kalo mereka adalah orang berjiwa sosial, dekat dengan rakyat, dan pokoknya yang baik-baik lah. Kalau sudah begini, jadi benar lirik lanjutan yang dinyanyikan oleh Achmad Albar. Ceritanya mudah berubah.

Wes jaman tambah edan. Manusia banyak berlomba, tapi kok jadi pemimpin. Padahal kan jadi pemimpin harus jujur, mampu menyampaikan, amanah, dan cerdas. Lha kalau sekarang, lihat realitanya yang sering direkam layar kaca bagaimana? Ah, sudahlah silakan kamu simpulkan sendiri.

Lalu, kita harus gimana? Ya mau tak mau tetap memilih supaya jadi warga negara yang baik. Tapi kalau tak mau milih bagaimana? Ya tak apa-apa. Asal jangan jadi pesimis. Setiap orang punya peranan. Mau memilih atau tidak.

Duh, lagi-lagi bener kan lirik lanjutan dari Ahmad Albar. Dunia ini penuh peranan, ada peran wajar dan ada peran berpura-pura. Memang jenius God Bless.

Eh, tapi sejenius-jeniusnya God Bless tetap saja lirik buatannya tak terdengar di telinga mereka. Wongmereka pandai berceloteh dan bersilat lidah. Namanya juga politisi.

Sudah, sudah, biarkan mereka berlaga. Kok kita kerjaannya kritik. Bersyukur saja jika mereka mau bertempur. Biarkan mereka berjuang atas nama rakyat. Ya iyalah berjuang. Masak ya bersandiwara?

Tugas kita cuma satu. Menyiapkan kursi yang lain. Konon katanya, jika mereka tidak bisa merengkuh kursi kehormatan maka mereka mengincar kursi yang lain. Dan sudah menjadi rahasia publik jika mereka akan ‘berlomba’ mendapatkan kursi itu setelah Pilkada usai. Lantas, kursi apakah itu?

Ya. Kursi Pesakitan.

Tulisan ini dimuat di sediksi pada tanggal 8 Februari 2017

Janji Donald Trump (Ternyata) Bukan Omong Kosong

Imam Mohammad Ali Elahi (2ndL) talks about a temporary travel ban signed by U.S. President Donald Trump in an executive order during a protest in Dearborn, Michigan, U.S., January 29, 2017. REUTERS/Rebecca Cook *** Local Caption *** Imam Mohammad Ali Elahi (ke-2 kiri) berbicara tentang larangan perjalanan sementara yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perintah eksekutif di sebuah protes di Dearborn, Michigan, Amerika Serikat, Minggu (29/1). ANTARA FOTO/REUTERS/Rebecca Cook/cfo/17

Imam Mohammad Ali Elahi (ke-2 kiri) berbicara dan memprotes larangan perjalanan sementara yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perintah eksekutif di Dearborn, Michigan, Amerika Serikat, Minggu (29/1). ANTARA FOTO/REUTERS/Rebecca Cook/cfo/17.

Belum genap 100 hari bekerja, Donald Trump sudah mulai menepati janji-janji kampanyenya. Tidak seperti politikus kebanyakan yang hanya berjanji tanpa ada realisasinya. Setelah beberapa minggu lalu, Trump memutuskan untuk menghentikan kerjasama Trans-Pasifik, kali ini Trump mengeluarkan kebijakan untuk “menormalisasi” imigran.

Trump mengeluarkan kebijakan tersebut karena dianggap dunia sedang tidak baik. Kejahatan di mana-mana, terutama tentang terorisme. Dan kebanyakan pelaku terorisme berasal dari kawasan Timur Tengah. Ada 7 negara yang penduduknya “untuk sementara” dilarang memasuki kawasan Amerika Serikat, yakni Suriah, Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman. Ada perlakukan yang berbeda dari tiap-tiap negara. Suriah dikenakan larangan selama 120 hari, sedangkan keenam negara lainnya hanya diberlakukan larangan selama 90 hari.

Namun, yang menjadi persoalan adalah tidak hanya penduduk ilegal yang tidak diperbolehkan masuk Amerika Serikat, melainkan juga penduduk legal. Seperti pemegang visa yang sah, penduduk yang memiliki identitas legal, dan pemegang paspor hijau. Tentunya yang dimaksud adalah orang-orang yang berasal dari enam negara tersebut.

Hal tersebut sontak mengejutkan masyarakat Amerika Serikat dan menyulut beragam aksi sipil. Negara yang katanya menjamin kebebasan dan demokrasi malah justru mengeluarkan kebijakan yang inkonstitusional seperti itu. Hal ini sebetulnya dapat dipahami, mengingat 1 dari 8 warga Amerika Serikat adalah imigran. Populasi mereka di Amerika Serikat sudah mencapai 13%. Ditambah lagi kebanyakan imigran adalah Muslim.

Oleh karena itu, kebijakan ini menunjukkan bahwa sentimen yang dieskpresikan oleh Trump di sepanjang masa kampanye bukanlah main-main. Dapat kita simpulkan bahwa Trump kini benar-benar menegaskan dirinya Islamophobic dan Xenophobic.

Meskipun kebijakan ini menuai protes di dalam wilayah AS, termasuk di New York dan Washington DC, ada sejumlah petinggi Eropa yang sejak lama mendukung sikap Trump, terutama dari kalangan ultranasionalis seperti Jean Marie Le Pen (Prancis), Geert Wilders (Belanda), dan Vlaams Belang (Belgia). Sementara itu, PM Inggris Theresa May sudah menyatakan kepada publik bahwa dirinya dengan tegas menolak kebijakan tersebut. Di Inggris sendiri telah berlangsung serentetan aksi massa menolak kebijakan tersebut.

Negara-negara yang notabene Muslim tentu dengan terang mengutuk kebijakan Trump, baik yang baru diwacanakan maupun yang telah direalisasikan. Salah satunya Hassan Hourani, yang dengan jelas menyebutkan bahwa Trump sama saja membangun tembok Berlin. Bahkan ia akan mengeluarkan kebijakan serupa, yaitu mengendalikan bahkan melarang hingga mengusir penduduk Amerika Serikat dari tanah Iran. Hal serupa dikatakan pula oleh para pemimpin di negara sekuler, seperti Turki dan Kanada.

Erdogan menegaskan bahwa tidak bisa jika menyelesaikan masalah hanya dengan membangun dinding. Senada dengan apa yang diucapkan Erdogan, PM Kanada Justin Trudeau mengungkapkan bahwa ia akan selalu membuka pintu selebar-lebarnya bagi pengungsi. Bahkan ia membuat hashtag khusus untuk sikapnya ini, yaitu #WelcomeToCanada.

Trump tidak seharusnya menjalankan kebijakan itu, karena selain inkonstitusional, akan terjadi diskriminasi dan membuat disparitas yang sangat besar. Namun, Trump tetap gigih dan teguh pendirian bahwa kebijakannya hanya sementara dan tidak akan membuat disparitas antara minoritas dan mayoritas, Muslim dan non-muslim. Bahkan ia menyayangkan dan sedikit kesal ke beberapa media yang tak mengerti maksud dari kebijakan dirinya.

Terlepas dari protes maupun argumentasi yang sedang berkembang terkait kebijakan ini, telah banyak yang terkena dampak atas pemberlakuannya. Antara lain, lima penumpang Irak dan satu orang dari Yaman gagal untuk pergi ke AS dari Mesir dengan menggunakan maskapai EgyptAir. Belum lagi, menguatnya sentimen anti-muslim termanifestasi dalam insiden pembakaran masjid di Texas. Selain itu, di Quebec juga terjadi penembakan di sekitar area masjid hingga mengakibatkan enam orang terbunuh dan beberapa lainnya terluka. PM Kanada sudah menyebut insiden tersebut sebagai aksi terorisme yang menyerang Muslim.

Berkaca pada sejarah AS, kebijakan Trump bukanlah sesuatu yang baru. Kebijakan mengendalikan populasi imigran sudah ada sejak era Presiden Calvin Coolidge pada 1924 yang mengatur gelombang imigran. Uniknya, slogan yang dikatakan Coolidge hampir mirip dengan apa yang dikatakan Trump saat kampanye. Jika Trump memiliki slogan “Make America Great Again”, maka Coolidge mengatakan “America must remain American”. Namun, kebijakan tersebut telah dicabut 4 dekade setelahnya oleh Presiden Lyndon B. Johnson. Johnson menganggap kebijakan tersebut hanya mengakibatkan diskriminasi yang berbasis phobia rasial.

Kebijakan Trump juga mirip dengan apa yang telah dilakukan oleh Perdana Menteri Prancis Nicholas Sarkozy. Sarkozy menggunakan EU Immigrant Policy untuk mengendalikan populasi imigran Muslim (Moddie, 2014). Alasannya pada saat itu, Sarkozy menganggap imigran, utamanya Muslim, adalah penyebab terjadinya pengangguran yang merajalela. Fenomenanya terjadi di pinggiran-pinggiran kota Prancis, seperti Lille. Namun perbedaannya, jika Sarkozy takut akan pengangguran, Trump takut akan terorisme. Hanya persamaannya satu: Mereka seakan “mengintimidasi” Muslim. Terlebih, kaum muslim baik di Prancis maupun Amerika adalah minoritas.

Ketakutan Sarkozy terhadap Muslim bisa jadi juga sejalan dengan beredarnya buku-buku provokatif pasca tragedi 9/11. Antara lain, Bruce Bower dengan bukunya While Europe Slept: How Radical Islam is Destroying the West from Within, Bat Ye’or dengan bukunya Eurabia: The Euro-Arab Axis, Melanie Phillips dengan bukunya Londonistan, dan Patrick J. Buchanan, dengan bukunya yang menjadi best-seller di Eropa dan Amerika, yaitu The Death of the West: How Dying Populations and Immigrant Invasions Imperil our Country and Civilization.

Tak heran melalui penyebaran buku tersebut, sentimen negatif terhadap imigran meningkat. Hal ini juga ditambah dengan konflik Arab Spring yang melanda sebagian dari kawasan Timur Tengah yang tidak kunjung reda, dan berkontribusi pada dominasi Muslim dalam “kaum asing” yang sedang ditakuti di tanah Barat.

Sebagai “kaum asing” sekaligus minoritas kadang tak mengenakkan. Bahkan kadang menjadi sasaran intimidasi. Jika di Amerika kaum minoritas diwakili oleh kaum Muslim, maka di Indonesia kaum minoritas diwakili oleh kaum non-muslim dan Muslim yang dianggap berbeda. Kita ketahui bahwa kasus Syiah di Sampang, pembakaran gereja di Singkil, pengusiran Jemaah Ahmadiyah merupakan cermin bagaimana kelompok mayoritas di Indonesia kurang melindungi kelompok minoritas.

Satu hal yang pasti, kebijakan Trump memang layak dikecam karena mengabaikan sisi humanisme dan menyebabkan diskriminasi terhadap imigran Muslim. Namun, di sisi lain, kita harus mengapresiasi Trump sebagai Presiden AS yang benar-benar menepati janji-janji kampanyenya. Kini, tinggal kita tunggu saja satu-per satu realisasinya.

Tulisan ini dimuat di geotimes pada tanggal 1 Februari 2017.

Menyantap Cita Rasa Nasi Goreng Tembakau

 

Nasi Goreng Tembakau | © Moddie Alvianto Wicaksono

Apa yang kamu ketahui tentang Temanggung? Kopi? Tembakau? Jika kamu menyebutkan keduanya, maka jawabannya tepat sekali. Kalo boleh dibilang, kopi dan tembakau menjadi dua komoditi penting bagi Temanggung.

Kamu bisa lihat bahwa Temanggung termasuk dalam 10 penghasil kopi terbaik di Indonesia. Ada beberapa daerah di Temanggung yang termasuk penghasil kopi, seperti Kandangan, Lereng Sindoro, Lereng Sumbing, atau Wonotirto. Nama daerah yang disebut terakhir berhasil meraih juara dua kontes kopi di SCAA Expo 2016 USA dengan varietas kopi arabika Wonotirto.

Jika kamu masih mengingat nama Mukidi pada awal tahun 2016, tentu kamu tidak bisa meninggalkan ingatan tentang Temanggung. Ya, Mukidi adalah pria asal Temanggung. Dan Mukidi memiliki Rumah Kopi Temanggung. Ia juga menjual berbagai varietas kopi termasuk kopi asli Temanggung.

Selain kopi, tembakau menjadi hal paling penting dari Temanggung. Tembakau pula yang menggerakkan perekonomian Temanggung. Tak heran, sempat beberapa tahun silam ada demo dari petani Tembakau menyangkut isu tembakau yang kurang sehat. Dan itu jelas mengganggu perekonomian mereka.

Banyak masyarakat yang bergantung dari tembakau. Dan dari tembakau pula banyak olahan yang dihasilkan. Kita mungkin mengenal bahwa tembakau hanya digunakan untuk rokok. Namun dari Temanggung, kita mengenal olahan lain. Apa itu? Nasi Goreng Tembakau.

Saya tak pernah membayangkan bagaimana jadinya ketika tembakau dicampurkan dengan nasi goreng. Sepengetahuan saya, tembakau hanya digunakan untuk rokok. Tak ada yang lain. Tapi masyarakat mengolahnya dalam bentuk lain.

Sesungguhnya bagaimana rasanya? Pahit? Manis? Lalu baunya seperti apa? Wangi? Apek? Saya pun tak bisa menduga-duga. Apalagi saya juga tak pernah sekali pun mencoba untuk merokok. Tentu akan menjadi pengalaman menarik bagi saya jika mencoba tembakau. Dan itu akan menjadi pengalaman pertama seumur hidup saya untuk mencoba tembakau. Tentunya dalam bentuk nasi goreng.

Pengalaman tersebut saya coba ketika rasa lapar menyerang secara tiba-tiba di malam minggu kemarin. Kebetulan saat itu, saya dan istri sedang berada di kota Temanggung untuk suatu urusan. Sang istri menyarankan saya untuk menyantap kuliner unik Temanggung. Namanya nasi goreng tembakau. Saya hanya sedikit tersenyum sembari mengernyitkan dahi. Unik dan aneh.

Tapi karena perut berbunyi berulangkali, apa boleh buat saya terima tawaran istri saya. Mencoba nasi goreng tembakau.

Letaknya hanya sejauh tendangan Tsubasa Ozora dari alun-alun kota Temanggung. Lebih tepatnya sebelah barat alun-alun tersebut. Namun untuk menuju tempatnya, kamu harus hati-hati. Kenapa? Karena letaknya tepat di pertigaan yang jalannya curam ke bawah. Boleh dibilang, tempatnya berada di daerah tusuk sate.

Kalau pun masih bingung, carilah tulisan Temanggung Bersenyum dengan blok warna merah. Kalo ndak ketemu juga? Ya sudah tanya Mbah Google. Dijamin ketemu.

Begitu masuk ke ruangannya (saya lebih suka menyebut kedai), mungkin Anda sedikit terkagum-kagum. Warna kuning dan merah mendominasi. Di sebelah kiri ada beberapa foto artis. Salah satunya penari Indonesia yaitu Didik Nini Thowok. Di sebelah kanan ada 21 foto mantan bupati Temanggung. Mulai dari bupati pertama yaitu Raden Tumenggung Ario Djojo Negoro hingga bupati saat ini yaitu Bambang Sukarno.

Jika masuk lebih dalam maka kamu akan menemukan televisi kuno dan beberapa majalah dan buku tentang sejarah maupun pesona Temanggung.

Kedai Temanggung Bersenyum sudah ada sejak 3 tahun silam. Kedai ini terdiri dari dua lantai. Banyak orang lebih memilih di lantai dua. Mungkin supaya mereka lebih leluasa untuk mengobrol dan menikmati hawa yang cukup dingin pada malam itu. Saya dan istri sengaja memilih di lantai pertama. Alasannya, lebih dekat dengan dapur dan lebih mudah mencium bau masakan.

Istri saya memesan nasi goreng jawa sedangkan saya tentu saja memesan nasi goreng tembakau. Sebenarnya ada yang lebih khusus lagi, nasi goreng tembakau srintil. Namun karena saya belum pernah mencoba tembakau dan biar ndak kaget maka saya mencoba nasi goreng tembakau saja.

Hanya perlu menunggu tidak lebih dari 15 menit saja, nasi goreng tembakau hadir tepat di hadapan saya. Baunya harum. Wangi. Tapi bagaimana rasanya? Suapan pertama, biasa saja. Suapan kedua, ya sama saja seperti pada suapan pertama. Kemudian saya mencoba mencampurkan tembakau yang diletakkan di atas nasi goreng.

Oh, hmm, ada sensasi unik di mulut saya. Sedikit pahit namun baunya tetap wangi. Dan secara tak sadar saya menghabiskan nasi goreng tembakau tersebut kurang dari 5 menit.

Ternyata enak juga. Saya tak menyangka jika nasi goreng ditambahkan tembakau ada sensasi tersendiri di mulut. Dan kita harus menghargai kreativitas masyarakat Temanggung dalam meracik tembakau. Fantastista.

Soal harga, kamu akan mendapatkan harga yang pantas. Cukup 14 ribu saja. Tapi jika kamu ingin mencoba menu lain maka ada lumpia, bakpao, ataupun dimsum. Ada pula minuman macam Bir Plethok maupun Wedang Uwuh.

Namun, tetap saja alangkah sayang sekali jika kamu melewatkan kuliner unik dari Temanggung yang satu ini. Nasi Goreng Tembakau.

Tulisan ini dimuat di minumkopi pada tanggal 2/2/2017.