Month: July 2016

Proses-Masalah-Hasil

Mana yang lebih penting ? Proses atau Hasil ? Ada yang bilang “Yang paling penting adalah hasilnya baik entah prosesnya kayak gimana”. Namun ada pula yang bilang “pelajari dulu prosesnya nanti kita akan menuai hasil yang baik”. Perkataan atau pernyataan tersebut seringkali menyita perhatian dan menelusuri alam pikiran bahwa hal tersebut layak diperdebatkan.

Katakanlah itu sepakbola. Terkadang penonton lebih mementingkan hasil daripada proses. Bermain cantik itu urusan no.2 sedangkan kemenangan itu urusan no.1. Apalagi jika anda mengamati sepakbola Indonesia. Kalah dicaci dan menang dipuji. Disadari atau tidak, penikmat bola Indonesia pasti akan berkata seperti itu. Kalo saya salah, mungkin anda hanya menyanggah.

Katakanlah itu cinta. Ada manusia yang jomblo menahun. Manusia tersebut bukannya mengecilkan proses melainkan hasilnya yang kurang mujur. Ada pula manusia yang gonta-ganti pacar. Manusia tersebut bukannya menghidupkan proses melainkan kemujuran selalu berada di pihak dirinya. Jomblo atau tidak jomblo itu tidak selalu melewati proses. Memang manusia jomblo diciptakan untuk membuat (nilai) daripada hasil (selalu) buruk. Ngerti, mblo ?

Katakanlah itu ujian. Contoh, anda belajar terus menerus demi mendapatkan hasil yang maksimal. Ternyata ekspektasi anda meleset. Bandingkan dengan teman anda yang notabene malas tapi ternyata ekspektasi di luar dugaan baik. Lalu siapa yang harus disalahkan ? Proses atau hasil ? Kalo kata masyarakat Indonesia, “Kita sudah berusaha maksimal, sayangnya hasil kurang memuaskan semua pihak”.

Anda tentunya ingin melalui proses yang baik kemudian mendapatkan hasil yang baik. Semua orang pasti inginnya begitu. Namun pelaksanaannya terkadang tidak sesuai harapan. Jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan maka muncul masalah. Alhasil bisa saja diantara proses menuju hasil, ada yang namanya masalah.

Masalah. Manusia lebih suka menyimpan masalah daripada mempersoalkan masalah. Menurut saya masalah itu penting. Bahkan cukup penting. Terkadang manusia lupa bahwa masalah itu bisa datang kapan saja. Kalo datang di akhir pasti banyak yang berkata ‘Nasi sudah menjadi Bubur’. Keterlambatan dalam mempersoalkan masalah yang membuat hasil kurang memuaskan. Masalah lebih suka dihindari daripada dihadapi. Jujur, terkadang saya pun melakukannya. Anda pasti juga pernah melakukannya bukan ? Tidak semua ucapan dari motivator mampu diimplementasikan dengan baik oleh pendengar.

Lalu, kalo sudah ketemu masalah, masihkah kita memperdebatkan mana yang lebih penting antara proses atau hasil ? Lebih baik tanya ke lubuk hati yang paling dalam karena tidak semua urusan harus memperdebatkan proses atau hasil. Ya. Tanya lubuk hatimu.

Advertisements

Belanja THR

Akhir puasa di bulan Ramadan adalah hal yang paling menyenangkan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Mengapa begitu ? Karena ada 3 huruf yang membuat masyarakat Indonesia senang. THR atau biasa kita sebut Tunjangan Hari Raya. Mekanisme THR biasanya adalah 1/2 kali gaji bahkan 2 kali gaji pokok. Jika sudah mendapatkan THR maka kewajiban yang harus dilakukannya adalah belanja THR.

Anda bisa lihat di toko atau pusat keramaian, banyak masyarakat Indonesia berjubel demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Saya termasuk orang yang menemani kewajiban tersebut. Maksudnya orang lain yang belanja, saya hanya menemani orang-orang tersebut. Saya memang tidak suka belanja. Bukannya saya adalah orang desa atau gimana. Tetapi ya memang saya tidak suka. Tetapi saya suka menemani orang-orang belanja.

Istri saya adalah orang yang cukup senang belanja. Maksudnya belanja buat kebutuhan saya. Mulai dari pakaian atas sampai bawah. Saya cukup senang dengan perhatian istri saya. Tetapi dasar sifat keras kepala saya. Meskipun sudah dibelikan pakaian yang bagus dari istri saya, saya tetap memakai pakaian lama. Makanya saya tidak begitu suka belanja. Dan pakaian saya hanya itu-itu saja.

Menjelang Lebaran, saya dan istri saya menemani saudara saya berbelanja di salah satu pusat mall Jogjakarta. Beberapa kali saudara saya menawarkan pakaian buat saya. Tapi saya menolak secara halus karena ya itu saya ngerasa belum saatnya memperbarui pakaian. Sedangkan saudara saya cukup banyak membelanjakan THRnya. Ndak papa, itu hak saudara saya. Lha wong juga itu duitnya dia kok. Hahaha.

THR memang menjadi sesuatu yang magis buat orang-orang Indonesia. Ada sekelompok kecil masyarakat yang sampai demo jika tidak mendapatkan THR. Yang paling penting adalah bagaimana jika anda mendapat THR maka membelanjakannya dengan baik. Nah, kalo ndak dapet THR, ya berharap saja semoga kalian yang mendapat THR membagikan kepada orang2 yang membutuhkan THR. Karena THR adalah kunci bagi suksesnya anda berlebaran.

Plat Nomor

Tau Plat Nomor ? Itu yang ditaruh di depan dan di belakang kendaraan bermotor anda. Kalo sudsh tau monggo disimak tulisan ini. Kalo ndak berarti ya ndak usah dibaca. Kalo berarti, alhamdulillah bermanfaat bagi anda.

Di Indonesia bahkan di dunia, Plat Nomor kendaraan bisa dikatakan sebagai identitas seseorang. Ndak perlu melihat KTP, seseorang dapat menggambarkan identitas pribadi anda melalui plat nomor kendaraan. Anda pasti pernah mengalami kejadian seperti saya.

Contoh, secara tidak sengaja anda bertatap muka atau lebih parahnya kendaraan anda terserempet dengan kendaraan orang lain, maka pertama kali orang tersebut akan melihat (secara tidak sadar) plat nomor anda. (Mungkin) hanya ingin memastikan anda berasal dari daerah mana. Kalo kebetulan anda adalah orang Jogja, mungkin yang menabrak anda justru minta maaf. La wong jelas, orang Jogja itu paling ahli dalam berkendara, la kok ditabrak. Kalo anda adalah orang Jawa Timur utamanya Surabaya/Malang, maka yang menabrak anda justru lebih baik melarikan diri daripada duel. Sapa coba yang ndak kenal dengan arek2 Surabaya/Malang. Bisa digilas yang menabrak anda.

Tapi (terkadang) semua sepakat. Jika yang menabrak anda adalah orang yang berasal dari daerah ibukota maka lebih baik diajak berduel. Saya juga ndak ngerti. Entah kenapa beberapa orang non ibukota umumnya sinis dengan pengendara dari Ibukota. Entah mungkin cara berkendaranya atau memang watak dari orang-orang ibukota. Tentu anda sudah tau kan plat nomor mana yang saya maksud. Saya ndak rasis, cuman kenyataannya begitu. Coba saja kamu bertanya kepada orang-orang non Ibukota.

Di Indonesia ada beberapa plat nomor yang tiap daerah harus berbagi dengan daerah yang lain. Contoh plat AG. Plat tersebut melingkupi Kediri, Tulungagung, Blitar. Plat S melingkupi Jombang, Mojokerto, Mojokerto, Bojonegoro dan masih banyak lainnya. Uniknya, hanya orang yang berasal dari daerah tersebut yang benar2 tau arti plat tersebut.

Ketentuan bahwa orang tersebut adalah orang asli Kediri atau Blitar maka dilihat dari huruf belakangnya. Contoh AG xxxx EC. Pemilik plat tersebut kemungkinan daerah kota Kediri. Yang saya belum paham adalah penentuan bahwa huruf E adalah orang Kediri atau AG xxxx MN adalah orang Tulungagung. Apakah hal tersebut berdasarkan kasta, sejarah, politik, atau hanya asal2an. Mungkin anda lebih tau.