Category: Uncategorized

Misteri Angka 7 yang Membayangi Najwa Shihab

Najwa Shihab mengumumkan akan berhenti dari Metro TV. Ia memutuskan untuk rehat, setelah berkarir selama 17 tahun. Dengan begitu, acara ‘Mata Najwa’ bakal berhenti pula. Ada apa ini?

Di berbagai linimasa berseliweran berita tentang mbak Nana, sapaan akrab Najwa Shihab. Tak terkecuali di grup WA keluarga saya. Banyak yang menyayangkan mengapa mbak Nana harus undur diri dan ‘Mata Najwa’ harus berhenti tayang.

Ibu saya yang jarang lihat televisi bahkan ikut berkomentar. “Kae ngopo to le, kok acara Mata Najwa mandeg? Diseneni Jokowi po?” Saya nggak bisa jawab. Wong, saya juga bingung. Bak halilintar yang menyambar, memang berita tersebut cenderung hoax.

Mbak Nana sudah mengumumkan keputusannya melalui akun Twitter pribadinya. Salah satu bunyi kalimat yang begitu menyesakkan: “Namun Agustus bukan hanya menjadi yang terakhir bagi Mata Najwa saja. Menjadi reporter Metro TV pada bulan Agustus 2000, perjalanan saya bersama Metro TV juga akan berakhir pada bulan yang sama. Ini adalah Agustus penghabisan.”

Duh, rasanya mbrebes mili membaca kalimat itu. Saya pertama kali bertemu dengan mbak Nana dalam sebuah acara di Salihara. Melihat sambil menatap matanya, membuat saya gentar. Saya pikir dia adalah salah satu perempuan terbaik yang ada di Indonesia saat ini.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, acara ‘Mata Najwa’ bisa dibilang acara wajib. Tidak hanya kaum terpelajar. Kaum awam pun menikmati acara ini. Konon, ketika ‘Mata Najwa’ hadir mulai pukul 20.00 WIB, beberapa kampung di lingkungan saya rela memadatkan jam belajar yang biasanya pukul 19.00-21.00 menjadi 19.00-20.00.

Mbak Nana seakan mampu membius kalangan masyarakat dari menengah ke bawah hingga ke atas. Mau acara ‘Mata Najwa’ digelar di kampung, balai desa, universitas, hingga di luar negeri sana, acara tersebut selalu dihadiri ribuan pasang mata.

Saya meyakini, mungkin bukan acaranya yang bikin sebagian orang termotivasi untuk menontonnya, melainkan kepiawaian mbak Nana itu sendiri. Ia selalu menghadirkan berbagai pertanyaan yang sarat kontroversi.

Pertanyaan yang cerdas tanpa basa-basi itu bisa positif, bisa juga negatif. Yang pada akhirnya membuat narasumber clakep, mingkem, hingga ndelesep. Tak mampu menjawab pertanyaannya. Harus diakui, selain Raisa dan Isyana, ditambah Via Vallen, pesona mbak Nana warbiyasak.

Banyak spekulasi yang beredar, mungkin berhentinya mbak Nana karena episode ‘Live eksklusif bersama Novel Baswedan’. Mereka mengira mbak Nana ditekan dari segala sudut pandang.

Saya rasa kok itu pikiran cupet sekali. Ha, kalau memang cuma permasalahan seperti itu, mungkin sudah dari dulu mbak Nana berhenti. Wong, masih banyak episode yang lebih menghebohkan sebelum episode Novel Baswedan.

Saya malah berpikir, berhentinya mbak Nana karena pemilihan angka saja. Sekarang begini, mbak Nana berhenti tepat 7 tahun setelah ‘Mata Najwa’ beredar. Mbak Nana juga berhenti tepat 17 tahun, yang mana ia berkarir menjadi reporter di Metro TV sejak tahun 2000.

La kok ndilalah, setelah saya cek di dinas kependudukan dan catatan sipil, mbak Nana ternyata lahir pada 1977. Ia adalah putri kedua Quraish Shihab, Menteri Agama era Kabinet Pembangunan VII.

Yang unik, klub sepakbola favoritnya mbak Nana juga memiliki 7 huruf: ARSENAL. Tau kan? Itu lho klub semenjana yang pelatihnya nggak pernah ganti, dan sudah juara Liga Champions sebanyak 7 kali, eh?

Apakah ini sebuah kebetulan? Bisa ya, bisa tidak. Yang pasti, ia berhenti dari media yang membesarkan namanya saat negeri ini dipimpin oleh presiden ke-7, duaarrr…

Ya namanya juga cocoklogi.

Yang jelas, pada 16 September 2017, ia akan menginjak usia 40 tahun. Tentu, ini usia yang kalau kata orang adalah puncak karir seseorang. Ini penting untuk mengetahui apa yang akan dilakukan setelah ini.

Mbak Nana memang belum kasih jawaban yang sah, sah, sah, dan meyakinkan. Cuma kasih kode-kode gitu, ah mbak… Ia hanya berkata kepada salah satu media, “Tunggu saja setelah 3 minggu.” Maksudnya, setelah produksi ‘Catatan Tanpa Titik’ yang akan ditayangkan pada akhir Agustus, 3 minggu kemudian, ia akan memberi jawaban pasti.

Kalau sudah begini tentu masyarakat dibuat keheranan. Apakah ‘Mata Najwa’ akan kembali dengan konsep ‘Mata Najwa Reborn’ atau mbak Nana akan hadir dengan tampilan yang berbeda? Misalnya, ‘Hijabnya Mbak Nana’, gitu?

Atau, jangan-jangan, ia akan memproklamirkan akan mencalonkan diri sebagai presiden pada 2019? Atau, menjadi ketua partai kayak mbak Grace Natalie? Ya namanya juga spekulasi, sama halnya dengan spekulasi yang canggih-canggih soal di balik pengunduran diri beliau.

Tapi kalau boleh kasih saran, mending mbak Nana benar-benar rehat. Jangan pernah kembali muncul di televisi. Kalau perlu benar-benar menghilang dari seluruh media sosial. Nggak perlu aktif di Instagram, Twitter, ataupun Telegram. Jadi ibu rumah tangga aja, mbak. Lho kok? Baper ini…

Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau mbak Nana sudah benar-benar menghilang lalu tiba-tiba muncul lagi, maka saya akan berkata, “Mbak Nana, yang kamu lakukan ke kami itu, jahat…”

Dimuat di voxpop.id tanggal 9 Agustus 2017. 🙂

Mie Instan: Komoditas Penting Masyarakat


Apa jadinya jika semua makanan Indonesia harus impor? Beras impor, garam impor, gula impor, daging sapi juga ikutan impor. Lalu apa yang tak perlu diimpor? 

Mie instan. 

Mungkin mie instan adalah penemuan terbaik yang pernah ada di dunia. Ditemukan di Jepang oleh Momofuku Ando kemudian mie tersebut menjadi populer di Indonesia. Apa yang membuat mie instan layak digemari? Mudah, praktis, dan rasa menawan. Ketiga faktor tersebut layak dijadikan kunci kenapa mie instan menjadi favorit bagi masyarakat Indonesia. 

Kita boleh berbangga bahwa kita memiliki produk mie instan yang dikenal di luar negeri. Mulai dari Serbia, Maroko, hingga Nigeria. Untuk negara yang terakhir ternyata sudah lebih dari 20 tahun mie instan Indonesia telah berada di sana. Saking lamanya, masyarakat Nigeria lebih menyebutnya makanan asli Nigeria bahkan cenderung menjadi makanan primer. Bukan nasi seperti di Indonesia. 

Tidak hanya di luar negeri. Di negeri kita yang makin senang impor kebutuhan pokok, mie instan layak mendapat sebutan sebagai makanan utama pengganti nasi. Sebagai contoh, dimanapun ada bencana di Indonesia, sudah pasti kebutuhan makanan yang pasti ada di wilayah pengungsian adalah mie instan. Bukan beras. Bukan pula sagu. 

Kalo kamu perhatikan pula posko mudik lebaran, hampir setiap perusahaan mie instan berlomba-lomba mendirikan posko. Dan memang terbukti, banyak pemudik yang memanfaatkan tempat tersebut untuk santap pagi-malam. Ada yang gratis. Ada pula yang berbayar. 

Selain itu, bagi mahasiswa/i yang uang di dompetnya tinggal sehelai daun jeruk, maka mie instan menjadi messias bagi perut yang butuh pemadam kelaparan. Kalopun kamu pergi kemah di gunung ataupun di pantai, sudah pasti di setiap tas minimal terdapat satu bungkus mie instan. Saya berani bilang begitu karena sehabis kemah di pantai/gunung selalu saja ada bungkus mie instan yang berserakan. Mungkin maksudnya meninggalkan kenangan yang berbekas. Eh kenangan apa sampah? 

Mie instan memang layak digemari. Kalo dulu mungkin kamu hanya bisa merasakan rasa ayam goreng dan soto, sekarang sudah bermacam-macam. Ada rendang, pecel, kari dan masih banyak lainnya. Saya masih menunggu akankah ada produk mie instan yang mengandung rasa buah. Rasanya mungkin bisa menjadi solusi bagi mereka yang ingin makan mie tanpa harus menambah pencuci mulut. Mie rasa buah.

Berdasarkan data The World Instan Noodles Association, pada tahun 2015, data penjualan mie instan berada di angka sekitar 97 miliar Jika jumlah seluruh manusia bumi berjumlah sekitar 7,2 miliar pada tahun tersebut, kira-kira setiap manusia bumi menghabiskan 13 bungkus mi instan setiap tahunnya. Luar biasa bukan? 

Di Indonesia, masyarakat yang mengonsumsi mie instan paling sering ada di Bangka Belitung. Kalo masyarakat yang paling jarang mengonsumsinya ada di NTT. Dalam sepekan mereka hanya mengonsumsi tak sampai setengah bungkus mi instan 80 gram. Bandingkan dengan masyarakat Bangka Belitung yang mengonsumsi hampir 2 bungkus dalam sepekan. 

Seharusnya kalo melihat data tersebut, Indonesia bisa dong buat museum. Museum Mie Instan. Ini semata-mata demi menghargai produk lokal. Tapi gimana ya, museum identik dengan benda-benda mati, jadi jarang banget masyarakat Indonesia datang ke museum. Kecuali jika nanti benar-benar ada museum mie instan, tiket masuk jangan hanya karcis tapi ditambah pula mie instan gratis. Dijamin laris. 

Tapi bagaimana jika ada yang berkata mie instan adalah produk membahayakan karena mengandung pengawet? Saya yakin itu manusia yang dengki dan iri. Mungkin dia tidak suka dengan bunyi “slurrrrrp” dari mie instan. Atau mungkin dia takut produk makanannya tersaingi.

Asal kamu tahu ya, Momofuku Ando saat ditanya apa resep makanan bisa tetap sehat hingga usia 90 tahun. Mungkin kamu kaget. Jawabannya sungguh mengagetkan. Menyantap mie setiap hari. Entah dia bercanda atau serius. Yang jelas memang kenyataan ia bisa hidup sampai usia sangat senja. 

Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa mie instan selalu berbohong kepada kita? Bahkan sampai tulisan ini nantinya dimuat, tak ada niat sedikitpun bagi penemu mie atau pemilik perusahaan mie instan memberikan sedikit klarifikasi. Apa kebohongannya?

Ya. Mie instan goreng. Pembuatannya selalu direbus. Kenapa direbus padahal tertulis mie goreng? Pertanyaan ini lebih susah daripada menemukan fakta duluan mana telur atau ayam. Ataupun pertanyaan apakah tomat termasuk buah atau sayuran. 

Sampai sekarang saya masih penasaran. Kenapa ya? Ada yang bisa mengatakan hal sebenarnya? Soalnya ini menjadi bahan lelucon untum masyarakat Indonesia. Ada adagium unik bin aneh. “Kalo cari pasangan hidup, jangan memilih penyuka mie instan, nanti mudah dibohongi.”

Tuh kan. Aneh banget. Padahal hampir sebagian besar masyarakat kita pemuja mie instan. Fans die hard mie instan. Mulai dari anak kecil hingga dewasa. Mulai dari cabe-cabean hingga terong-terongan. Kalo menurut saya adagium tersebut kurang tepat. Ada adagium yang lebih tepat, tajam hingga menusuk. Apa itu?

“Kalo pilih wakil rakyat, jangan memilih penyuka mie instan, nanti mudah dibohongi.”

Benarkah kita malas jalan kaki?


Beberapa hari ini lini masa memberitakan goncangan headline. Mulai dari KPK vs DPR, perseteruan Dinda Tsamara vs Pak Fahri Hamzah, pro dan kontra perppu ormas hingga yang paling kekinian, pemblokiran telegram. Nah dalam esai kali ini, saya tak akan mengangkat tema salah satunya.

Kenapa? Sudah terlalu banyak yang membahas. Mulai dari analisis politik yang mendakik-dakik hingga analisis komedi yang crigas-crigis. Saya mau coba nulis tentang tema berkaitan dengan jalan kaki. Kenapa saya pengen bahas itu? Karena ada sekumpulan orang asing dari Barat yang bilang kalo orang-orang Indonesia malas jalan kaki!!

What?? Apakah ini penistaaan kesehatan internasional? Bisa jadi iya, bisa jadi bukan. 

Dalam jurnal yang katanya internasional ditulis bahwa Indonesia menempati peringkat 46 dari 46 negara untuk urusan jalan kaki. Daripada kamu buka jurnal yang menyesakkan dada dan menguras emosi lebih baik saya jabarkan fakta lain dalam jurnal itu. 

Ehm, jadi begini rata-rata orang Indonesia hanya menghabiskan 3.513 langkah per hari. Saya pikir itu langkah yang cukup banyak. Ternyata ndak toh. Rata-rata langkah kaki masyarakat dunia berjumlah 4.961. Bajilak. Nggilani nemen ternyata…

Kalo yang paling tinggi ya jangan ditanya. Jawabannya orang-orang Hongkong. Mereka bisa menghabiskan langkah sebanyak 6.880 per hari. Banyak bener ya. Hasil penelitian itu membuktikan suatu pernyataan yang sering kita ulang-ulang kalo orang Hongkong memang suka jalan. 

“Cokk, koen mlaku kok suwe nemen? Mlaku teko Hongkong ta?”

Nah itu contohnya. Garing? Yo ben.

Apa kamu ga pengen tahu 3 urutan negara terbawah? Penasaran ndak? Tapi kalo saya kasih tahu, janganlah marah disertai mencak-mencak. Saya takut jika memberitahu ketiga negara terbawah, nanti dikira saya sedang mencoba mengkriminalisasi negara-negara tersebut. Sudah siap? Oke. 

Yang paling bawah adalah Indonesia. Diatasnya ada Arab Saudi dan Malaysia. Ya, insan-insan Arab Saudi dan orang-orang Malaysia langkahnya sehari hanya mencapai 3.807 dan 3.963. 

Wah, ini penelitian apa-apaan?? Kenapa kok hasilnya menyudutkan negara-negara Muslim? Emang negara mayoritas Muslim malas jalan kaki? Yang benar aja. Ini pasti salah. Ndak mungkin. Ndak mungkin. 

Sebagai warga negara Indonesia yang budiman dan selalu berkata NKRIHargaMati, penelitian ini boleh dibilang abal-abal. Saya tak sudi menerima hasil penelitian ini. Bolehkah saya gugat hasil penelitiannya ke PBB karena tulisannya mencemarkan negara baik dan tulisan yang tidak menyenangkan? Boleh lah, masak cuma imam besar umat Islam aja yang boleh gugat ke PBB. Eh. 

Saya kira ini pasti ulah orang-orang Jakarta. Saya ndak yakin subjek penelitiannya bukan orang-orang Jakarta. Kalo memang benar yang diteliti orang-orang Jakarta, ya wajar. Wong, trotoar disana bukan dibuat pejalan kaki tapi buat jalan alternatif, pangkalan ramalan jodoh, dan juga tempat penafsir mimpi. Duh.

Ya apa boleh buat, Jakarta adalah ibukota Indonesia jadi mau ndak mau representasi orang-orang Indonesia adalah orang-orang Jakarta. Lain ceritanya kalo ibukota sudah dipindah ke Palangkaraya atau Jayapura. Sa berani yakin justru Indonesia adalah negara paling rajin untuk kategori jalan kaki. Camkan itu, wong aseng. 

Masalahnya karena berita tersebut sudah terlanjur menyeruak ke dunia ketiga hingga kelima, jadilah Indonesia dilihat sebagai negara terpuruk.

Tapi, tunggu dulu. Dibalik berita yang menyedihkan tersebut ada yang senang juga lho. Siapa dia?

Produsen motor dan mobil. Sa berani yakin mereka bakal membuncah semangatnya begitu tau berita itu. Mereka akan semakin berlomba-lomba meningkatkan produksinya. Produksi ditingkatkan, kredit diberi harga murah. Kalo perlu pake DP 0% kayak beli rumah di Jakarta. Dan ditambah lagi embel-embel kendaraan irit bensin dan ramah lingkungan. Wah ya cucok itu dengan gaya hidup wong Indonesia. 

Pembuat jalan tol. Sa berani yakin kementerian PU semakin senang dan gembira ria. Mobil semakin banyak dan semakin sesak. Maka solusinya ya buat jalan tol. Kalo perlu seluruh Indonesia. Tak peduli kalo itu akan menggerus sawah, ladang, dan lahan semacamnya. Kan sembarang-sembarang kita sudah impor. Jadi ya ndak perlu khawatir kalo akhirnya kita perbanyak jalan tol. Teruskan kerjamu ya pak. 

Ojek online. Wah sa kira ini berita paling membahagiakan bagi mereka. Bakal menguntungkan dan meningkatkan pendapatan mereka. Lha, mereka menyediakan apapun tanpa perlu kita melangkah lebih jauh. Pergi ke kantor, ada ojek. Pesan makanan, ada ojek. Mau bersih-bersih rumah, ada ojek juga. Gilak, merambah semuanya. Ya kita senang-senang aja. Wong zaman sekarang harus dituntut cepat, tepat bahkan kalo perlu sikattt. 

Saya sebenarnya jadi ingat cerita istri saya saat berkunjung ke Tunisia. Ia bilang, para sopir taksi disana tak mau mengantar penumpang ke tempat tujuan jika jaraknya kurang dari 4 km. Kalo disini? Jangankan 3,5 km hambok kurang dari 1 km pun, ojek pun bersedia. 

Sampai kemarin Pak Djarot si Gubernur DKI bilang kepada para khalayak “Sekarang coba masyarakat kita untuk jalan kaki 50 meter aja, aduh susahnya setengah mati.” Nah, dia aja pesimis. Apalagi kita. 

Tapi katanya sekarang akses transportasi Jakarta sudah membaik terutama kereta api. Kalo ada area yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki, maka warganya terpaksa jalan kaki. Yakin pak? Kalo udah klik aplikasi itu gimana? Ya pada wae pak~

Sekarang juga musim-musimnya olahraga jalan sehat. Baik di kota besar maupun kota kecil. Itu saya kira imbauan yang keliru. “Semarakkan jalan sehat di Bundaran HI”. Ndak perlu dikasi tahu jjga kali kalo jalan itu sehat. Yang namanya jalan pasti sehat. Wong, manfaatnya juga banyak. Bisa meredakan stres, menurunkan berat badan, hingga berlatih olah nafas. 

Contohlah mereka yang mengikuti aksi bela ulama. Itu mereka jalannya jauh loh. Ada yang dari Ciamis ke Jakarta. Kaki mereka tak hanya sehat tapi juga membesar. Demi bela ulama, apapun dilakukan.

Contohlah juga Agus Mulyadi yang rela berjalan kaki dari kantor Mojok hingga Angkringan Mojok yang jaraknya (hanya) 6 km. Tapi tentu saja ada motivasinya. Demi bertemu penjual gorengan yang manis dan aduhai sebelah Angmo. Pas gerimis syahdu lagi. Hmm, ada udang dibalik rempeyek. 

Saya kira pemerintah harus kasih motivasi supaya orang-orang Indonesia gemar jalan kaki. Jangan hanya kasi motivasi gemar makan ikan pak. Jalan kaki juga penting. Seperti contoh di bawah ini.

“Semarakkan jalan kaki bersama pembaca Mojok dari Kantor Mojok hingga Bumi Perkemahan Kaliurang” 

Apalah arti menulis

Menjadi penulis itu tidaklah mudah. Butuh ketekunan, kedisiplinan, dan ketelatenan dalam berlatih menulis. Saya merasakan dan mencoba itu semua. Walaupun tentu saja menurut saya hasil tulisan belum begitu baik. Bagus atau buruknya tulisan kita, silakan diserahkan pada pembaca yang menilai. 

Saya belajar nulis karena tak ada keahlian lain yang saya bisa. Kebetulan medio September 2016, saya bertemu dengan Rusdi Mathari. Wartawan senior sekaligus penulis idola saya. Saya banyak belajar dari beliau. Pesannya kalo mau menulis, ya menulis aja. Jangan sambil membaca apalagi mengedit. Selesaikan tulisanmu baru dibaca. Selain itu baginya menulis adalah mendongeng dalam bentuk kata-kata. 

Saat ini, saya hidup dari menulis. Mengirimkan ke banyak media. Walaupun tentu saja ada yang ditolak tapi ada juga yang diterima. Tak apa-apa. Proses pembelajaran. 

Taj semua orang mau dan ingin hidup dari menulis. Kenapa? Karena honorarium tak menentu dan selalu terbayarkan di luar tenggat. Ada yang beberapa hari tulisan dimuat, langsung dibayar. Tapi ada pula yang harus menunggu seminggu, sebulan bahkan berbulan-bulan. 

Itu yang saya khawatirkan. Mengingat dapur harus terus mengepul, saya harus banyak menulis. Sayangnya, kalopun udah dikabarkan dimuat ya kembali itu tadi. Agak seret dalam pembayarannya. 

Dilema bagi saya. Karena kebetulan saya menyandang master. Dan seharusnya saya jadi dosen. Tapi apa mau dikata hingga saat ini saya pun belum bisa jadi dosen. Mungkin saya bisa hidup dari menulis. Namun baik ortu maupun mertua berpandangan lain. 

“Jadilah dosen. Jadilah PNS, maka duniamu aman.”

Kalimat yang selalu mengganggu hati dan pikiran saya. Beberapa kali saya pernah terlibat proyek tulis menulis. Honorarium lumayan. Namun tetap saja, saya masih dianggap pengangguran. Bahkan suatu kali saya bertemu dengan kawan lama, saya pun dibilang pengangguran yang produktif.

Hey, apa saya salah menggantungkan hidup dari menulis? Mungkin iya. Sampai saat ini hidup penulis terkesan aman. Tapi tidak kaya. Begitulah kata orang-orang zaman lampau. Status pekerjaan sebagai penulis pun tak akan mampu mengangkat harkat dan martabatmu. Setidaknya itulah yang saya alami sekarang. 

Di dalam doa, saya selalu berharap kepada Tuhan. “Jadikanlah saya penulis”. Saya ingin mencari nafkah sesuai passion. Bisa jadi saya dikatakan egois. Tapi bolehkah kita berharap seperti itu? Toh juga saya tidak melakukan pekerjaan negatif. 

Teman saya pernah berkata, “manusia baru dikatakan pengangguran ketika ia berhenti berpikir”. Dan saya mencoba berpikir. Setidaknya pikiran itu saya tuangkan ke dalam tulisan. Termasuk tulisan yang saya tulis saat ini. 

Setelah Tomat ditetapkan sebagai Sayuran

​Sejak lahirnya Adam hingga wafatnya Muhammad. Sejak runtuhnya Konstantinopel hingga bangkitnya kejayaan Eropa. Sejak runtuhnya Tembok Berlin hingga kemerdekaan Indonesia. Dan sejak munculnya demo 212 hingga kepergian sang Imam Besar dan Bapak Reformasi kita, maka diputuskan bahwa tomat adalah sayuran. Tak lagi bisa disebut buah.

Perdebatan apakah tomat termasuk sayuran atau buah memang mengalami pergulatan panjang dan tak kenal lelah. Hal tersebut diikuti pula dengan teman-teman nabatinya. Sebut saja timun, labu, dan paprika. Tak ketinggalan juga buah yang menjadi buah bibir di ensiklopedia perdebatan panjang abad 21. Terong dan cabai. 

Andaikan terong dan cabai juga termasuk sayuran, mungkin tak ada lagi sebutan terong-terongan ataupun cabai-cabaian. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Keputusan tomat menjadi sayuran tak lepas peran dari para petani, tengkulak, hingga eksportir maupun importir di Amerika. Ya, beberapa hari yang lalu menjelang memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan, Mahkamah Agung Amerika memutuskan untuk menetapkan tomat sebagai sayuran. Mengapa bisa begitu? Jika tomat masih tergolong buah, maka tomat akan dikenakan pajak impor 10%. Beda dengan sayuran. Tak ada persen-persenan seperti itu. 

Selain itu, jika tomat masih mahal maka masyarakat Amerika khawatir akan kondisi nutrisi kulitnya. Selain buat kesehatan mata, tomat juga berguna untuk memutihkan kulit dalam satu malam. Tak percaya? Cari saja di yutub dengan kata kunci “tomat memutihkan dan menghaluskan kulit”. Saya yakin hampir sebagian penontonnya bukan orang-orang Amerika. Melainkan Indonesia. 

Karena kita masih berpikir rasis. Bahwa hitam adalah hina dan putih adalah cita-cita. Kalo hitam adalsh cita-cita maka seharusnya iklan di Indonesia adalah krim menghitamkan kulit dan wajah. Ada yang berani? Saya malah yakin bahwa iklan tersebut akan menuai sorotan dari KPI.

Saya mulai berpikir bahwa perjuangan yang dilakukan Amerika patut diapresiasi.  Anda tahu sendiri kan bahwa AS adalah negara adidaya. Jika Amerika menetapkan sebuah keputusan maka negara-negara seluruh dunia akan mengikutinya. Percaya kan? Kalo belum saya kasih contoh terbaru. 

Amerika Serikat menetapkan bahwa Arab Saudi sebagai pusat anti radikalisme dan terorisme. Kemudian Iran dan Qatar adalah negara teroris. Nah, akhirnya semua negara pun mengikuti keinginan Amerika bahwa Iran dan Qatar harus dibumihanguskan. Mirip peristiwa Bandung Lautan Api di masa silam.

Nah kembali ke soal tomat.

Kalo tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka saya yakin Indonesia akan memberlakukan keputusan serupa. Indonesia kan negara pengikut dan toleran sama Amerika. Bukan begitu? Lha ya kalo ndak toleran, kan ndak mungkin Freeport bisa mengambil emas sejak zaman Bahula. Dipersilakan mengambil sebanyak-banyaknya. Kalo ada peraturan yang perlu diubah, segera diubah. Jangan ditunggu. Apalagi ditunda. Hukumnya haram kalo ndak tunduk sama Amerika.

Begitu toh?

Saya juga berpikir bahwa dengan tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka Amerika bisa menginspirasi Indonesia bahwa banyak perdebatan panjang yang perlu diteliti. Indonesia bisa belajar bagaimana menampilkan perdebatan panjang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tak perlu lagi ada perdebatan Al Maidah, Obrolan Porno, Kriminalisasi ulama, hingga soal tulisan warisan. Indonesia bisa mencari perdebatan panjang yang lain. 

Misal apakah Hamish Daud pantas sebagai calon suami Raisa. Eh bukan ding. Misal kayak penentuan apakah wajah bulan itu berupa kelinci atau kepiting. Itu lebih layak.

Mungkin juga perdebatan macam telur dan ayam. Mana yang lebih dulu ada. Telur atau ayam? Kalo pake logika ekonomi seharusnya telur lebih dulu daripada ayam. Karena harga telur lebih murah daripada ayam. Saya berkata begini karena sudah update masalah harga menjelang lebaran. 

Atau mungkin Indonesia cari perdebatan yang lebih layak. Seperti apakah mobil Esemka baik untuj mobil kepresidenan atau tidak. Apakah listrik kedondong baik untuk kebutuhan listrik atau tidak. Itu kan lebih prinsipil dan siapa yang tahu jika penemuan dari anak bangsa justru mengharumkan nama Indonesia di cakrawala dunia.

Namun, sekali lagi semua yang ada di dunia ini tak lepas dari kepentingan ekonomi. Tomat ditetapkan sayuran karena masalah ekonomi. Reformasi 98 karena masalah ekonomi. Arab Saudi menyerang Qatar juga karena masalah ekonomi. Dan yang paling gres. Persoalan baik atau buruknya sekolah 5 hari juga terkait dengan ekonomi.

Karena kita selalu mengacu bahwa beda pendapat adalah beda pendapatan maka segala perdebatan yang ada di dunia ini tak lepas dari masalah ekonomi. 

Pelajaran dari Pilkada DKI


Kontestasi pemilukada Indonesia telah berakhir. Tanggal 19 April adalah waktu terakhir bagi masyarakat Indonesia khususnya Jakarta untuk gegap gempita memadati keriuhan pilkada. DKI adalah daerah terakhir yang akan melaksanakan pemilu. Harapannya setelah pilkada berakhir, tidak adanya percecokan, perselisihan hingga perpecahan. Semua ingin berakhir aman, damai, dan tentram.

Berkaca dari pilkada khususnya di DKI Jakarta, ada banyak pelajaran penting sekaligus menarik. Pelajaran ini harus disambut dengan pikiran positif supaya kita tak selalu hanyut dalam pertikaian. Gaung perselisihan memang sempat panas sejak putaran I pilkada DKI. Semakin mendekati akhir bukannya kita harus tampil dewasa namun justru saling berburuk sangka. 

Lalu apa pelajaran yang bisa dipetik dari Pilkada DKI kali ini? Mari kita simak.

1. Tak butuh sarjana politik atau doktor kajian media.

Melihat beberapa bulan belakangan ini, sesungguhnya ada semacam pertautan unik di kalangan masyarakat Indonesia. Kita pandai sekali berkomentar, menganalisis kemudian membeberkan fakta maupun kenyataan. Entah itu benar atau salah, segala hiruk pikuk pilkada dapat dikomentari. 

Uniknya, yang memberi komentar atau yang dimintai pendapat bukan kapasitasnya sebagai ahli politik maupun ahli media. Melainkan warga biasa yang sering menangkap gambar kemudian dibagikan ke lini masa dan menjadi viral. Biasanya orang tersebut akan populer dan media cetak maupun elektronik akan menganggapnya sebagai pakar. 

Menurut saya, itu gejala aneh. Bukan kapasitasnya untuk berbicara politik namun dipaksa bahkan menjadi terbiasa berbicara politik. Tapi tak apa-apa. Mungkin karena kita terbiasa dengan dagelan politik hingga yang diminta berbicara pun harus beretorika layaknya politisi Senayan.

2. Munculnya kaum moderat ekstrimis.

Jujur saja, ini fenomena menarik khususnya dalam pilkada DKI. Orang-orang yang diklaim bahkan mengklaim dirinya kaum modrat justru terlihat ikut ‘mencaci’ bahkan ‘memaki’ satu sama lain. Dengan dalih pembenaran bahwa mereka yang harus menanggulangi radikalisme dan sebagainya maka secara tidak langsung mereka berhak mengklaim bahwa mereka yang ‘benar’.

Kita ketahui bahwa dalam pilkada DKI tercipta dua kubu yaitu kubu yang mencaci dan kubu yang dicaci. Tak perlu disebutkan mana yang mencaci dan mana yang dicaci, namun tentunya anda lebih paham mana kubu-kubu tersebut. Sayangnya, kedua kubu sama-sama mengklaim bahwa merekalah yang mengabarkan kebenaran dan menyebarkan pembenaran. Alhasil, bukannya saling tabayyun terlebih dahulu melainkan saling serang tanpa jeda. Saling hina tanpa berkaca.

Tak heran, masyarakat pun dibuat bingung. Siapa yang sebenarnya radikal? Siapa yang sebenarnya moderat? Ataukah sebenarnya mereka hanya memanfaatkan momen untuk menunjukkan siapa mereka? 

3. Fluktuasi harga pangan.

Ini cukup penting. Beberapa saat yang lalu saya ditanya seorang kawan, apakah benar efek pilkada DKI membuat perekonomian lesu khususnya dalam bidang peternakan? Saya pun dibuat bingung. Namun kemudian ia menjelaskan bahwa kondisi politik di ibukota benar-benar membuat harga pangan macam ayam potong, cabai bahkan bawang merah berflutkuasi tanpa arah yang jelas. Entah ada sangkut pautnya atau tidak namun kenyataannya begitu.

Hargai cabai sempat menembus 120.000/kg. Begitu pula harga daging sapi sempat mencapai 200.000/kg. Harga tomat malah satu keranjang hanya dihargai 1000 rupiah. Harga bawang merah hanya 8000/kg yang biasanya bisa mencapai 30000-40000/kg. Mengenaskan. Entah mereka sadari atau tidak, seperti ada efek domino dari Pilkada DKI. Maklum saja, pikiran orang-orang pintar teralihkan pada kontestasi pilkada DKI sehingga melupakan peristiwa yang dialami kalangan pedagang

Para pedagang, peternak, bahkan petani berharap agar pilkada DKI segera berakhir. Segera enyahlah bulan April. Tapi masalahnya apa iya cukup sampai 2 ronde? Jangan-jangan bisa sampai 5 ronde. Sekali lagi itu tergantung kesepakatan penguasa.

4. Permasalahan pribumi (indigineous people)

Poin keempat sempat mengemuka ketika tak henti-hentinya ada yang mengklaim bahwa mereka lah yang sebenarnya pribumi. Ini menjadi soal apakah itu klaim atau memang fakta sejarah? Tentu sudah banyak analisis dari para pakar sejarah yang mengemukakan bahwa kedua-duanya bisa dikatakan pribumi. 

Namun yang menjadi soal adalah saling benci sehingga menyebabkan SARA. Ini yang menjadi mengerikan. Indonesia yang merupakan model dunia sebagai negara dengan suku terbanyak di seluruh dunia ternyata masih menyimpan sentimen sepele hingga berujung ujaran kebencian. 

Andaikan benar-benar hanya pribumi yang boleh berkuasa di Indonesia, bagaimana dengan nasib suku mante, suku anak dalam, kepercayaan amatoa ataupun kepercayaan kaharingan? Seharusnya jika mereka mau bersuara maka mereka lah gang lebih berhak untuk mengklaim dirinya adalah pribumi. Tapi, sepertinya mereka lebih memilih sibuk menjaga kelestarian alam daripada mengikuti kegiatan pilkada yang tak kunjung usai.

5. Belajar dari 4 poin diatas.

Gara-gara Al Maidah, umat Islam kembali menelaah Al Qur’an. Gara-gara pribumi, masyarakat Indonesia kembeli menengok sejarah. Gara-gara pembangunan, orang-orang ikut memikirkan kelestarian alam.

Sebenarnya ada hal-hal positif yang perlu diambil dari kontestasi Pilkada DKI. Ketiga hal diatas adalah contoh-contoh bahwa tak perlu melulu ujaran-ujaran kebencian yang didahulukan melainkan obrolan dan pemikiran yang berujung kemaslahatan itu lebih baik.

Namun, kita lebih sering melihat 1 keburukan daripada menelisik 10 kebaikan. Berkaca dari pilkada DKI, kejadian SARA, ujaran kebencian seharusnya tak perlu terulang kembali. Ingat, Indonesia akan mengalami ledakan penduduk pada 2030. Andaikan hal-hal ujaran kebencian selalu didengungkan utamanya pada pilkada, lantas bagaimana nasib generasi muda mendatang? 

Ajarkan kami rasa cinta dan kasih sayang

Di lini masa beredar foto beberapa anak kecil sedang sholat. Bukan gerakan sholatnya yang disorot. Melainkan arah kiblatnya yang dihujat. Tidak menghadap ke kiblat (barat) melainkan ke arah utara.
Sudah begitu mereka sholat bukan di tempat yang suci. Melainkan di tangga-tangga. Tempat dimana sandal/sepatu diletakkan. 

Andaikan itu terjadi di Jogja dan yang melakukan adalah orang-orang dewasa maka jelas orang-orang tersebut akan dicap sesat. Jelas, karena menyembah gunung merapi. Atau yang lebih ekstrim menyembah (alm) Mbah Maridjan.

Untunglah, mereka hanyalah anak-anak kecil.

Mereka hanya ingin mempraktekkan kewajibannya sebagai umat muslim. Tapi ya itu tadi mungkin karena tidak dapat tempat. Jadinya malah sholat tidak di tempat semestinya. Ah, namanya juga anak-anak.

Mengingat kelakukan anak-anak kecil berbuat seperti itu, saya jadi ingin menunjuk diri saya sendiri. Tentunya berbagi kisah. Saya pun pernah melakukan hal serupa. Bahkan menurut saya, hal yang saya lakukan dengan teman-teman lebih konyol. Dan saya yakin, kamu pun pernah melakukan hal serupa.

Waktu itu kita lagi enak-enaknya atau sedang menggandrungi sholat sholat bahkan kalo boleh dibilang sedang khusyuk. Sekhusyuk-khusyuknya anak kecil tetap saja tertawa dan menoleh kanan-kiri. Nah, pas sujud, saat itu juga salah satu kaki teman ditarik. Entah kiri atau kanan yang jelas membuat ia tersungkur. 

Kami tertawa. Hingga ia membalas hal serupa kepada teman yang lain. Alhasil, jamaah sholat pun menjadi gaduh. Setelah itu, kami dihukum. Tapi toh ndak papa. Hukumannya mengulangi sholat. Bahkan itu lebih baik. Karena harus sholat berjamaah dan bacaannya dilafalkan dengan keras. Setidaknya itu membekas di ingatan saya. Bahkan hal tersebut yang justru membuat saya hafal bacaan sholat. Hmm.

Ada lagi keusilan yang lain. Suatu ketika saya duduk tahiyat akhir. Telunjuk direntangkan. Sembari umak-umik baca doa, eh kok ndilalah teman sebelah saya memiliki ide kreatif yang luar biasa. Secara tiba-tiba, ia merentangkan jempolnya dan seraya berkata, “Maaf kamu kalah, telunjukmu harap ditutup kembali”. 

Suaranya dimirip-miripkan seperti kita sedang menelepon seseorang namun tak ada yang menjawab. “Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk”. Nah seperti itu. Gelak tawa muncul kembali. Menghebohkan jamaah sekitar.

Hukumannya? Ya sama persis. Mengulangi sholat, berjamaah, dengan bacaan dilafalkan keras. Sesekali agak tertawa kecil. Tapi ketika pak guru melihatnya, kami langsung kembali fokus. Gimana ndak fokus. Ini baca Al Kafirun. Kalo kebalik-balik kan repot juga. Sejak saat itu, jadilah kami hafal seutuhnya tanpa terbolak-balik jika membaca surah itu.

Sudah 2 keusilan. Ini ada lagi. Kalo menurut saya ini juga konyol. Karena kesalahan serupa seperti diatas, kami disuruh sholat berjamaah. Teman saya jadi imam. Semula tak ada yang aneh. Berjalan seperti biasa dan kami mencoba khusyuk sebisa mungkin. Kalo perlu bacaan dilagukan. Walaupun fals. Panjang pendek kacau tak beraturan.

Ketika rakaat kedua, ia membacakan Al Fatihah, lantas kami mengucapkan serempak “AMIIN” maka tau apa yang diucapkan teman saya berikutnya?

Ia menoleh ke belakang dan berkata, “Kompaknya kalian semua.”

Jelas saja, kami menengadah. Melongo. Begitu pula dengan bapak guru kami. Kemudian kami tertawa. Tapi tidak dengan guru kami. Ia hanya menggeleng kepala hingga membuat peci hitamnya terjatuh. Tentu saja, kami mengulangi sholat berjamaah lagi. 

Toh tak apa-apa. Setidaknya kami jadi lebih paham cara sholat yang baik. 

Kami kadang merasa bersalah sekaligus tertawa kalo mengingat kejadian itu. Terutama pada guruku. Tapi guruku tidak. Selalu saja menaikkan sedikit bahunya sambil geleng-geleng kepala. Bahkan kadang tersenyum kecil. Entah beliau tidak bisa marah atau justru mengenang pula karena pernah mengalaminya. Yang jelas saat itu kami tak berani bertanya. Sungkan lek.

Suatu ketika saat kami lulus, kami memberanikan diri bertanya kepada guru tersebut. Hanya satu pertanyaannya. Mengapa beliau tak memarahi kami saat melakukan kejadian konypl tersebut. Apalagi ini dilakukan pas sholat.

Kalian tahu jawabannya? 

“Mengajarkan ibadah harus dengan cinta dan kasih sayang. Karena dengan kedua hal tersebut maka hati menjadi tenang dan tentram. Tidak boleh ada rasa kesal meskipun anak-anak seperti kalian kreatif yang luar biasa.”

Kami tersentak. Malah dikatakan kreatif. Rupanya, beliau mengganti padanan kata dari bandel menjadi kreatif. Beliau lakukan supaya ingin mengubah paradigma jika apa yang dilakukan anak-anak adalah sesuatu hal yang wajar. Dan oleh sebab itu, untuk memberitahukannya lewat rasa cinta dan kasih sayang.

Sayangnya, hal yang dilakukan guru saya mulai jarang terjadi di era sekarang. Anak-anak justru dibentak, dihardik, bahkan dipukul. Sesuatu yang aneh. Bukannya diberi tahu dengan sopan. Justru dimaki dengan cacian. Tak heran jika nanti kalo sudah dewasa, banyak orang di kemudian hari lebih suka mengobarkan kebencian daripada menabur kebaikan. Ah, dunia sudah semakin aneh ya.

Mengenang menjadi anak kecil adalah hal paling romantis. Karena itu tak akan terulang kembali. Dan jika mengenang hal tersebut rasanya yang kami katakan cuma satu. Kami tak ingin segera tumbuh dewasa.