Category: Uncategorized

Pedoman Bahasa

Kuasai Bahasa Asing

Utamakan Bahasa Indonesia

Lestarikan Bahasa Daerah

9 kata diatas adalah slogan dari salah satu lembaga pemerintah yang memiliki nama Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA).

Di dalam BIPA ada sejumlah pengajar yang bertugas mengajarkan seluk beluk berbahasa Indonesia ke berbagai belahan dunia. Baik secara lisan maupun tulisan.

Belakangan, ada opini yang berkembang bahasa Indonesia tak lagi diminati di dalam negeri. Orang tua~utamanya generasi milineal~lebih suka mengajarkan anaknya untuk berbahasa asing.

Seperti contoh: Inggris, Arab, Mandarin, dan yang paling mutakhir adalah Korea.

Mengapa mereka bisa melakukan hal seperti itu?

Mengutip pernyataan dari AS Laksana dalam tulisannya di Jawa Pos (30/102017) ada harapan atau cita-cita yang dimiliki oleh bahasa asing.

Mereka, para orangtua tersebut merasa dengan menguasai bahasa asing maka memperoleh pergaulan yang lebih luas, tingkat kemapanan yang lebih tinggi, hingga akses ekonomi yang lebih panjang.

Apakah bahasa Indonesia tak memiliki cita-cita? Agaknya hal ini patut diperdebatkan.

Mungkin karena pengajar bahasa Indonesia tak memiliki metode yang berkembang, pengajaran mengenai bahasa Indonesia hanya itu-itu saja, dan kecakapan yang dimiliki pemerintah untuk mengembangkan bahasa Indonesia tak lagi mumpuni.

Makanya banyak orang beralih untuk belajar bahasa asing. Toh, ada anggapan bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu. Jadi selupa-lupanya kita terhadap bahasa ibu, tak butuh waktu lama untuk belajar bahasa Indonesia.

Beruntung, kini media sosial mulai berkembang. Ada orang macam Ivan Lanin, Jarar Siahaan, akun kbbi atau membetulkan dan aplikasi KBBI V yang kian menggiatkan berbahasa Indonesia.

Suatu bahasa menjadi biasa karena terbiasa. Pedoman tersebut seharusnya bisa diimplementasikan agar dunia lebih tahu bahwa bahasa Indonesia kian berkembang. Dari masa lalu menuju masa depan.

Advertisements

Hujan di Jogja

Kamis. Sudah dua hari ini Jogja dilanda hujan. Curah hujan dengan intensitas cukup tinggi. Deras.

Beberapa wilayah di Jogja bagian selatan mengalami kebanjiran. Ada yang rumahnya hanyut, jembatan putus, hingga menimbulkan korban jiwa. Rasa sedih pun menggelayut.

Sedih juga dirasakan oleh para pedagang kaki lima. Mereka, yang terbiasa dengan lesehan tampak cukup sulit menarik pengunjung. Alhasil, produksi menurun.

Sedih juga dirasakan pula para tukang ojek. Mau keluar, hujan sangat deras. Tak keluar, uang makan untuk kebutuhan keluarga sulit didapatkan. Situasi tersebut bagaikan buah simalakama.

Beruntunglah bagi tukang ojek utamanya daring yang masih berkeliaran saat hujan tiba. Apalagi sampai mereka mau menerima pesanan untuk mengantarkan makanan kepada konsumen.

Sungguh beruntung bagi konsumen. Tinggal buka aplikasi. Pilih makanan yang tertera. Kemudian diantarkan ke tempat tujuan.

Maka dari itu sekedar saran. Jika kamu memesan makanan lewat daring, alangkah lebih baiknya kamu memberi tip bagi mereka. Mengapa begitu? Karena saya anggap mereka adalah malaikat.

Sebaik-baiknya Perlawanan Melalui Tulisan

Foto di atas merupakan bentuk penghormatan Mohamed Salah kepada korban pemboman di Mesir setelah mencetak gol ke gawang Chelsea. Sumber: Koran Jakarta

Tak ada tagar #IstandforEgypt atau #PrayForEgypt di lini masa. Sungguh aneh. Mesir, negeri para Firaun tersebut baru saja mengalami teror paling keji sepanjang 2017. Bahkan mungkin teror terbesar dalam satu dekade.

Apakah karena Mesir adalah bagian dari dunia ketiga? Atau apakah Mesir adalah salah satu kota yang tak ramah bagi perempuan sehingga wajar media sosial tak harus berpihak ke negara tersebut? Entahlah.

Sebuah bom meledak disertai penembakan sangat binal dan brutal terjadi di sebuah masjid yang letaknya di Sinai Utara, Mesir. Menewaskan setidaknya 305 orang dan 120 lainnya luka-luka. Yang cukup mengerikan adalah 27 diantaranya adalah anak-anak.

Mereka, anak-anak tersebut hanyalah korban dari kebiadaban sebuah kelompok. Entah itu kelompok tersebut bisa dikatakan radikal atau militan. Yang jelas, kelompok tersebut sangat mengerikan.

Mereka, kelompok tersebut bersuka ria dengan menembaki orang-orang setelah melakukan ibadah shalat Jum’at. Kelompok macam apa yang tega melakukan kekejian saat di mana orang lain sedang mengadu kepada Sang Pencipta?

Memang sampai saat ini belum diketahui siapa yang melakukan kekejian tersebut. Sinyalir terdekat mengarah ke Ikhwanul Muslimin atau Al Qaeda. Namun, kedua kelompok tersebut justru mengutuk apa yang terjadi pada masjid di Sinai Utara.

Lalu siapa yang melakukannya? Hal rasional yang paling memungkinkan jawabannya adalah ISIS. Ya, kelompok tersebut tidak mengklaim bertanggungjawab atas peristiwa tersebut. Namun, di sisi lain ISIS tak menolak jika dikaitkan dengan perlakuan keji tersebut.

Jika memang ISIS melakukannya, apa motifnya? Apa karena masjid tersebut adalah tempat berkumpulnya sufi yang dalam pandangan mereka boleh dikatakan bid’ah? Atau apakah mereka memang melakukannya demi sebuah eksistensi diri?

Jika alasan kedua yang menjadi pernyataan benar maka mari kita ramai-ramai mengutuknya. Tak perlahan melainkan ultimatum secara keras.

Mereka, para kelompok tersebut dengan lihai meneriakkan kalimat takbir sebelum melepaskan tembakan mematikan. Siapa saja yang saat itu masih berdiri, sudah pasti menjadi korban tewas. Mengerikan.

Lalu apa guna kalimat takbir? Apakah itu adalah legitimasi atau sebuah justifikasi untuk melakukan pembunuhan?

Sungguh, kalimat takbir seakan menjadi makna yang peyoratif. Kalimat yang seharusnya sakral diucapkan ketika hari kemenangan kini justru berubah menjadi perilaku kekejian.

Tentu, kita tak hanya menjumpai kalimat tersebut di Mesir. Indonesia, salah satu negara mayoritas muslim pun mengalami hal serupa.
Kalimat takbir seakan menjadi kalimat pembenaran. Digunakan untuk melakukan eksekusi sekaligus persekusi. Tentu, itu digunakan sebagai legitimasi ‘kemenangan’ mereka.

Lantas, jika mereka menganggap itu sebuah kemenangan, apakah korban menganggap kalimat tersebut menjadi sebuah kalimat keji?

Bisa jadi.

Saya tak menampik beberapa teman seakan tampak ngeri jika mendengar kalimat tersebut. Apalagi setelah itu ditambahkan dengan kalimat “Bunuh”,”Bakar”,”Bungkam”.

Beruntung, di Indonesia tak sampai ada peristiwa pembunuhan. Sekeras-kerasnya teriakan tersebut paling banter hanya sampai level pengucilan atau yang mengerikan sampai pengusiran.

Dan itu jamak terjadi di Indonesia.

Bagaimana dengan Mesir? Pembunuhan merupakan hal yang biasa. Terlebih dalam empat tahun terakhir ini.

Korbannya tak hanya kaum minoritas yaitu Kristen Koptik melainkan juga kaum mayoritas seperti kaum Muslim. Tak hanya polisi atau tentara yang menjadi korban melainkan ulama pun menjadi tawanan.

Yang mengerikan adalah mereka, kelompok tersebut melakukan penawanan kepada ulama hanya karena masalah “pemahaman” yang berbeda. Jika ulama tak sanggup memenuhi permintaan kelompok tersebut maka hasilnya lebih mengerikan. Pembunuhan.

Kejam? Iya. Tak punya hati nurani? Jelas. Lalu merasa benar? Sudah pasti.

Dan ini yang jelas membahayakan bagi generasi muda selanjutnya.

Bagaimana jika kaum muda baik di Mesir maupun Indonesia mendengarkan sebuah kalimat yang bisanya digunakan untuk memuji Sang Pencipta namun terdengar seperti kalimat legitimasi untuk perlakuan tidak baik?

Inilah yang sepatutnya dikhawatirkan. Kita tak bisa mengelak bahwa ada pergeseran makna. Kita tak bisa bertindak jika ada peningkatan tindakan. Yang ada, seringkali kita diam. Tak berani bergerak lebih banyak.

Saya khawatir. Dan mungkin kamu merasakannya juga. Akan ada suatu saat di mana berkumpulnya massa untuk bergerak dalam satu komando memekikkan kalimat tersebut. Bukan untuk merayakan hari kemenangan melainkan untuk melahirkan sebuah negara baru. Bahkan gerakan tersebut mungkin sedang terjadi. Dan kian masif.

Melegalkan segala cara demi kebenaran sekelompok kaum, apalagi dengan menggunakan kalimat agung, sungguh merupakan bias pergerakan sekaligus makna.

Saya tak habis pikir. Mengapa mereka dengan mudahnya menggunakan embel-embel kalimat tersebut demi alasan pembenaran untuk melakukan tindakan. Dan justru melahirkan kebencian. Bukannya meraih simpati melainkan menghasilkan antipati.

Kasihan, jika ada sekumpulan manusia yang memang bergerak melakukan takbir dengan tulus dan ikhlas, mengadu kepada Sang Pencipta sembari berkeluh kesah namun kini dianggap aneh dan berbeda.

Kasihan, jika ada sekumpulan manusia yang melakukan takbir karena merayakan kemenangan atau kesenangan setelah meraih hasil yang baik atau kado terindah namun kini dianggap melakukan tindakan persekusi.

Sungguh, jika tak ada media sosial yang mencantumkan “tolong bantu kami dengan mengganti logo Mesir di profil kamu” maka mari kita giatkan dengan sebuah perlawanan.

Karena kata adalah senjata. Maka sebaik-baiknya melawan adalah menggunakan tulisan. Sebarkan kebenaran dengan keragaman. Karena keragaman adalah kunci untuk menghormati perbedaan.

Salam Perdamaian.

Sebuah Cerita Tentang Barista

Tema kali ini tentang barista. Khususnya perempuan. Setelah membaca tulisan teman-teman, saya juga jadi bertanya-tanya kenapa barista selalu identik dengan lelaki?

Sampai hari ini, saya masih belum mampu menjawabnya. Barangkali, jika teman-teman ada yang mengetahui, bisa beri komentar di link saya, nggih.

Saya cuma mau cerita tentang sebuah pengalaman bersama teman-teman saya saat mencicipi kopi di Malang.

Saat itu, kami~yang saat itu~masih menjadi jomblo lapuk ingin menjajal sebuah kedai kopi di bilangan Soekarno Hatta. Kebetulan, kedai tersebut baru buka seminggu yang lalu.

Sebenarnya, kami ingin ke sana bukan karena hasrat mencoba kopi melainkan bertemu dengan seorang barista~yang konon~satu-satunya barista perempuan di Malang.

Mulanya, saya agak skeptis. Apa bisa seorang perempuan menjadi barista? Apa bisa perempuan membuat kopi? Sendoknya yang bergoyang duluan atau cangkirnya yang bergoyang terlebih dahulu?

Entahlah.

Jadi, begitu kami masuk, langsung saja memilih tempat duduk yang berada di pojokan. Supaya kami leluasa untuk melihat secara lamat-lamat sang barista tersebut.

Rambutnya ikal. Sebahu. Ia memakai jam tangan di pergelangan tangan kiri

Kami memesan kopi tubruk. Sengaja. Karena ga begitu paham kopi yang enak itu bagaimana. Kopi ya kopi. Mau dibuat gimana, bagi kami warnanya adalah hitam.

Kopi disajikan. Diminum secara perlahan. Kemudian salah satu teman kami mengajak bermain kartu samgong. Yang nilainya paling kecil wajib berkenalan dengan si barista itu.

Ini menarik. Beberapa teman kami~saat itu kami berenam~adalah orang-orang yang canggung saat berkenalan dengan wanita. Okta, salah satu teman saya adalah anak yang paling grogi. Jangankan berkenalan, menatap mata seorang wanita saja membuat wajahnya menjadi ungu merona.

Permainan dimulai. Tak butuh waktu lama karena permainan samgong hanya sebentar. Paling 5 menit. Dan sudah saya tebak, Okta mendapat nilai terendah. 19.

Alhasil, ia pun harus berkenalan dengan si barista tersebut. Ia maju ke meja sang barista. Berdiri. Dengkul kirinya agak gemetar. Saya berani bertaruh, lewat enam menit, air akan mengalir dari celananya. Itu menjadi sebuah kebiasaannya.

Dugaan saya salah. Ia terus berdiri. Sekarang kaki kanannya ikut gemetar. Mukanya menunduk. Ia berdiri selama hampir 21 menit.

Karena tak kunjung berkenalan, seorang teman memanggil Okta. Kemudian, Okta kembali ke meja kami.

“Kok kamu ga jadi kenalan?” tanya teman A.

“Lha, kan aku sudah ke barista?” jawab Okta sembari berbalik tanya.

“Lho, lha iya. Kok kamu ga bercakap dengan baristanya? Kan peraturannya kalo kalah harus kenalan.” sergah saya.

“Eh, kenalan ya? Aku kira tadi kalian menyuruh aku untuk berbaris. Lha kalian tadi suruh aku kesana dengan sebuah perintah kan? ayo ke baris, Ta! Ya aku berbaris saja!?”

“Kenalan dengan barista. Bukan menyuruh kamu untuk baris, ta. Duh!”

Pembicaraan terhenti. Kemudian kami tertawa ngakak. Betapa sebuah kalimat jika tak diungkapkan dengan tepat maka hasilnya menjadi lain.

Dasar Okta. Pethuk kok tujuh turunan.

Merasa Kreatif, Micin Saja Tak Punya

Micin. Dalam KBBI V, micin berarti vetsin. Sedangkan vetsin berarti bumbu penyedap. Biasanya, vetsin ditambahkan ke dalam makanan supaya makanan lebih enak, sedap, dan menggigit.

Lalu bagaimana jika vetsin dimasukkan ke otak?

Jika dimaknai secara denotatif, tentu tidak mungkin. Tapi bagaimana jika dimaknai secara konotatif?

Nah, mungkin ini yang menjadi problematika.

Kata micin makin populer karena disematkan dalam sebuah generasi. Beberapa penelitian mengatakan bahwa kamu yang lahir di tahun 2000an termasuk generasi micin.

Saya ndak ngerti mengapa patokan awal di tahun 2000. Bisa jadi pergantian nama generasi karena pergantian abad. Atau bisa jadi pemberian nama generasi micin berdasarkan pergantian dekade.

Toh, itu tak menjadi soal.

Yang perlu diperhatikan adalah generasi micin merupakan generasi ideal di masa yang akan datang. Pembawa perubahan. Penggerak zaman. Pencipta keadaan.

Kamu bisa lihat bagaimana generasi micin yang mampu beradaptasi media sosial dengan sangat baik. Mampu menjadikan media sosial menjadi ladang pemasukan.

Sebagai contoh instagram. Mereka, tak perlu lagi bekerja “nine to five” untuk menghasilkan uang bulanan. Cukup eksis di instagram. Entah sebagai perias foto makanan, pelaku foto wisata hingga menjadi buzzer.

Sungguh kreatif.

Banyak profesi pekerjaan yang dulunya tak terpikirkan, kini sedikit demi sedikit mulai terwujud. Mau gaji 40 juta/bulan? Cobalah eksis di instagram. Tak perlu ikut MLM. Apalagi jika kamu menjadi pegawai negeri. Duh susah kaya.

Generasi yang mengolok-olok generasi micin, sungguhlah bedebah. Mereka tak mampu berpikir jenius layaknya generasi micin. Lebih baik duduk, melakukan pekerjaan berulang kemudian terima gaji.

Ingat? Bangsa ini butuh indeks perekonomian tinggi. Saat ini baru di kisaran 5,2%. Pemerintah berharap indeks perekonomian meningkat setidaknya menjadi 6% di akhir periode Jokowi.

Lalu siapa yang bisa diharapkan Jokowi? Ya generasi micin. Masak mau generasi 2008? Ndak bisa. Generasi 1998? Duh, apalagi itu.

Ingat, cuma generasi micin yang mampu mengimplementasikan harapan Jokowi.

Generasi micin adalah generasi yang mampu beradaptasi dengan globalisasi. Misal, penggunaan bahasa Inggeris. Itu justeru bagus. Menaikkan derajat dan martabat kita di mata internasional.

Mulailah berbicara bahasa Inggeris sejak kecil. Ajaklah orangtua, kerabat, teman dekat maupun sahabat sering-sering berbahasa Inggeris.

Apa kamu tidak tahu kenapa Freeport mampu membelah bumi Papua? Apa kamu tidak sadar kenapa Newmont mampu mengakuisisi Sumbawa?

Ya, itu karena generasi saya bahkan sebelumnya tak pandai berbahasa Inggris. Jadi waktu tanda tangan perjanjian, yang penting nilainya cocok. Jadilah mereka membuat Indonesia menjadi kaya. Setidaknya kepada generasi kita. Sebelum dari kita.

Coba kalo pandai bahasa Inggeris, kita kan bisa mengibuli dunia luar. Mau bukti?

Tuh lihaat, ada orang Indonesia yang sangat pandai hingga menjadi ahli teknik di luar negeri. Dapat penghargaan di mana-mana.

Media kita menjunjung beliyo. Walaupun ternyata dianggap bersalah, setidaknya karena bisa bahasa Inggeris dan mendayagunakan micin dengan baik maka dunia internasional tunduk.

Bukan hanya itu saja. Baru-baru ini, ada mahasiswa yang DO dari salah satu universitas terbesar di Indonesia. Tapi, secara jenius ia mampu melanjutkan studi di negeri seberang.

Tidak hanya S1, melainkan ditawarkan hingga S3. Luar biasa kreatif bukan? Punya penghargaan. Diakui luar negeri pula. Wih apa ga bikin bangga orangtua hingga tanah kampung?

Itu semua karena mereka mampu berbahasa Inggeris. Selain itu, karena mereka sadar, generasi micin adalah tumpuan bangsa. Jadi mereka harus berpikir se-kreatif mungkin.

Menjadikan Indonesia maju. Menjadi harum namanya. Wangi semerbak di mata penguasa.

Jadi buat yang mengolok generasi micin, mereka harus diingatkan. Betul-betul diperhatikan.

Merasa Kreatif, Micin Saja Tak Punya.

Ini 4 Kuliner Jogja Di Atas Jam 12 Malam

Hujan tak kunjung reda. Saya menunggu reda mulai dari pagi sampai malam ini, tetap saja hujan masih ada.

Hujan membuat saya ingin tidur pulas. Tapi karena ada deadline untuk segera menulis, saya pun ingin membuat ulasan singkat tentang makanan.

Bagi kamu yang tinggal di Jogja, sudah saatnya menghabiskan waktu untuk jelajah kuliner. Di bawah ini hanya sekadar saran macam-macam kuliner yang musti kamu coba. Kuliner favorit saya selepas jam 12 malam.

1. Angkringan Padang Malioboro

Saya pernah mengulasnya di situs minumkopi.com, di sini saya hanya ingin kembali menyegarkan tulisan saya. Menurut saya, kamu bisa mendapatkan harga makanan murah di bawah 10ribu rupiah di sini.

Banyak jenis makanan. Ada T2 (telor,teri), JT (jengkol,teri), ayam, dan masih banyak lainnya.

Letaknya berada tepat di seberang pintu masuk Mal Malioboro. Buka selepas jam 10 malam. Saya jamin kamu akan ketagihan.

2. Gudeg Tekluk

Letaknya berada di Jl. Gejayan. Buka selepas jam 10 malam. Kunjungan paling rame di atas jam 12 malam.

Kamu jangan kaget jika mendapati ibu si penjual tersebut. Beliyo sering terkantuk-kantuk ketika melayani pembeli. Tak heran, ibu tersebut diberi nama Bu Tekluk.

Cita rasa gudeg terbaik hanya kamu dapatkan di Gudeg Tekluk. Percayalah.

3. Nasi Campur Demangan

Kuliner yang satu ini wajib dicoba. Letaknya pas di perempatan pasar demanga. Pojok sebelah toko cat.

Rasanya yang pedas membuat kamu selalu kangen ingin mencoba makanan ini. Terlebih, makanan ini sudah melegenda.

Menurut saya, kuliner nasi campur adalah kuliner terpedas yang pernah saya coba selama di Jogja. Rasa bintang lima, harga kaki lima.

4. Mie Burjo

Di saat hujan mendera, tanggal tak kunjung muda, maka yang kamu harapkan makanan murah meriah nan bergizi. Apa itu? Mie rebus burjo.

Tak ada yang tak enak dengan mie burjo. Kamu sudah tau kan mitos yang berkembang? Bahwa mie burjo selalu lebih ladiid daripada mie buatan sendiri.

Tak butuh penjelasan lagi lebih detail. Karena mie burjo adalah kunci penambal skripsi, tesis maupun disertasi.

Riza Pahlevi

Membincangkan dangdut vs K-Pop adalah sesuatu yang sulit dibandingkan. Keduanya, menurut saya adalah aliran musik yang sama enaknya. Baik dari segi musik maupun dari segi lirik. Sama-sama mendayu.

Kalo ngomongin soal ini, saya jadi ingat seorang teman. Namanya Riza Pahlevi. Ketika tulisan ini terbit, ia sedang berjuang menyelesaikan tesis di jurusan Kajian Budaya dan Media UGM.

Saya mau cerita sederhana tentang kegemaran beliyo. Ia~yang kata teman-teman kuliahnya, tingkat kegantengannya selevel dengan Nabi Yusuf~adalah penggemar kedua aliran tersebut.

Mulanya saya tak percaya. Tapi saya baru percaya ketika berkunjung ke sebuah kamar petak di bilangan Karangjati. Saat itu tahun 2015. Saya berkunjung ke sana bersama teman kuliahnya, Hair.

Sebenarnya, saya cuman penasaran di mana letak kamar~yang katanya menghasilkan banyak inspirasi~kosnya. Begitu saya dan Hair memasuki kamarnya, alangkah terkagetnya saya.

Di sebelah kanan dekat meja belajarnya, terdapat sekumpulan majalah. Dugaan saya, itu adalah majalah impor. Semacam playboy. Ternyata benar. Itu adalah setumpuk majalah Korean Pop.

Wah luar biasa juga koleksinya.

Tidak hanya sampai itu saja, ketika membuka desktop komputernya ada sekumpulan wajah wanita. Belakangan, saya baru tahu bahwa itu adalah wajah-wajah SNSD.

Gue ngefans mereka udah dari lama, Mod.” Ucap Levi untuk meredakan kagetnya saya.

Belum sampai situ kekagetan saya. Ada yang lebih membuat saya kaget. Sekaligus ngakak. Ia menyimpan sejumlah video musik baik girl band maupun boy band Korea. Kapasitasnya pun tak main-main. 20gb.

Mendapat fakta yang demikian ini, saya jadi tak heran lagi. Pantas saja kalo ngobrol bersama anak-anak KBM penyuka Korea macam Mbak Rhea dan Mbak Fina, ia hafal di luar kepala. Baik lirik maupun nama artisnya.

“Tapi, aku juga suka ini, Mod, Ir.” Ia menunjukkan sebuah folder yang diberi nama aneh. “Nuram”

Saat dibuka, ternyata adalah lagu-lagu dangdut Indonesia. Ada Rita Sugiarto, Meggy Z, Elvie Sukaesih, dan masih banyak lainnya.

“Lha terus, kok namanya Nuram. Itu apa maksudnya?”

Sambik terkekeh, ia mengarahkan kursor ke sebuah folder. Judulnya “Legenda Nuram”.

Kalian tahu, ternyata folder tersebut berisi lagu-lagu milik Inul Daratista dan Rhoma Irama.

Asli. Saya dan Hair ngakak. Levi~yang katanya juga penggemar Glenn Fredly~adalah penggemar berat dangdut.

Jujur saya nggak nyangka aja. Kenapa tesisnya malah mengambil tentang game. Saya berani jamin. Andaikan ia mengambil tesis dengan tema pergolakan musik dangdut vs Korea, pasti lebih cepat selesai.

Tapi ia memiliki idealisme tinggi. Ia cuman ingin membuktikan bahwa tesis yang baik adalah tema tesis yang jauh dari kenyamanan. Makanya, ia mengambil tema game.

Semoga tesismu cepat selesai, Lev. Nah sekadar saran teman-teman BBKU. Untuk membuktikan kejujuran dalam tulisan ini, saya memohon para admin BBKU untuk mengadakan temu penulis BBKU.

Acaranya sederhana. Bincang-bincang santai. Namun yang pasti, saya meminta Levi untuk menyanyikan sebuah lagu~yang selalu ia nyanyikan di kamar mandi~dari Meggy Z. Apa itu?

Sakit Gigi.