Category: Uncategorized

Apalah arti menulis

Menjadi penulis itu tidaklah mudah. Butuh ketekunan, kedisiplinan, dan ketelatenan dalam berlatih menulis. Saya merasakan dan mencoba itu semua. Walaupun tentu saja menurut saya hasil tulisan belum begitu baik. Bagus atau buruknya tulisan kita, silakan diserahkan pada pembaca yang menilai. 

Saya belajar nulis karena tak ada keahlian lain yang saya bisa. Kebetulan medio September 2016, saya bertemu dengan Rusdi Mathari. Wartawan senior sekaligus penulis idola saya. Saya banyak belajar dari beliau. Pesannya kalo mau menulis, ya menulis aja. Jangan sambil membaca apalagi mengedit. Selesaikan tulisanmu baru dibaca. Selain itu baginya menulis adalah mendongeng dalam bentuk kata-kata. 

Saat ini, saya hidup dari menulis. Mengirimkan ke banyak media. Walaupun tentu saja ada yang ditolak tapi ada juga yang diterima. Tak apa-apa. Proses pembelajaran. 

Taj semua orang mau dan ingin hidup dari menulis. Kenapa? Karena honorarium tak menentu dan selalu terbayarkan di luar tenggat. Ada yang beberapa hari tulisan dimuat, langsung dibayar. Tapi ada pula yang harus menunggu seminggu, sebulan bahkan berbulan-bulan. 

Itu yang saya khawatirkan. Mengingat dapur harus terus mengepul, saya harus banyak menulis. Sayangnya, kalopun udah dikabarkan dimuat ya kembali itu tadi. Agak seret dalam pembayarannya. 

Dilema bagi saya. Karena kebetulan saya menyandang master. Dan seharusnya saya jadi dosen. Tapi apa mau dikata hingga saat ini saya pun belum bisa jadi dosen. Mungkin saya bisa hidup dari menulis. Namun baik ortu maupun mertua berpandangan lain. 

“Jadilah dosen. Jadilah PNS, maka duniamu aman.”

Kalimat yang selalu mengganggu hati dan pikiran saya. Beberapa kali saya pernah terlibat proyek tulis menulis. Honorarium lumayan. Namun tetap saja, saya masih dianggap pengangguran. Bahkan suatu kali saya bertemu dengan kawan lama, saya pun dibilang pengangguran yang produktif.

Hey, apa saya salah menggantungkan hidup dari menulis? Mungkin iya. Sampai saat ini hidup penulis terkesan aman. Tapi tidak kaya. Begitulah kata orang-orang zaman lampau. Status pekerjaan sebagai penulis pun tak akan mampu mengangkat harkat dan martabatmu. Setidaknya itulah yang saya alami sekarang. 

Di dalam doa, saya selalu berharap kepada Tuhan. “Jadikanlah saya penulis”. Saya ingin mencari nafkah sesuai passion. Bisa jadi saya dikatakan egois. Tapi bolehkah kita berharap seperti itu? Toh juga saya tidak melakukan pekerjaan negatif. 

Teman saya pernah berkata, “manusia baru dikatakan pengangguran ketika ia berhenti berpikir”. Dan saya mencoba berpikir. Setidaknya pikiran itu saya tuangkan ke dalam tulisan. Termasuk tulisan yang saya tulis saat ini. 

Setelah Tomat ditetapkan sebagai Sayuran

​Sejak lahirnya Adam hingga wafatnya Muhammad. Sejak runtuhnya Konstantinopel hingga bangkitnya kejayaan Eropa. Sejak runtuhnya Tembok Berlin hingga kemerdekaan Indonesia. Dan sejak munculnya demo 212 hingga kepergian sang Imam Besar dan Bapak Reformasi kita, maka diputuskan bahwa tomat adalah sayuran. Tak lagi bisa disebut buah.

Perdebatan apakah tomat termasuk sayuran atau buah memang mengalami pergulatan panjang dan tak kenal lelah. Hal tersebut diikuti pula dengan teman-teman nabatinya. Sebut saja timun, labu, dan paprika. Tak ketinggalan juga buah yang menjadi buah bibir di ensiklopedia perdebatan panjang abad 21. Terong dan cabai. 

Andaikan terong dan cabai juga termasuk sayuran, mungkin tak ada lagi sebutan terong-terongan ataupun cabai-cabaian. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Keputusan tomat menjadi sayuran tak lepas peran dari para petani, tengkulak, hingga eksportir maupun importir di Amerika. Ya, beberapa hari yang lalu menjelang memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan, Mahkamah Agung Amerika memutuskan untuk menetapkan tomat sebagai sayuran. Mengapa bisa begitu? Jika tomat masih tergolong buah, maka tomat akan dikenakan pajak impor 10%. Beda dengan sayuran. Tak ada persen-persenan seperti itu. 

Selain itu, jika tomat masih mahal maka masyarakat Amerika khawatir akan kondisi nutrisi kulitnya. Selain buat kesehatan mata, tomat juga berguna untuk memutihkan kulit dalam satu malam. Tak percaya? Cari saja di yutub dengan kata kunci “tomat memutihkan dan menghaluskan kulit”. Saya yakin hampir sebagian penontonnya bukan orang-orang Amerika. Melainkan Indonesia. 

Karena kita masih berpikir rasis. Bahwa hitam adalah hina dan putih adalah cita-cita. Kalo hitam adalsh cita-cita maka seharusnya iklan di Indonesia adalah krim menghitamkan kulit dan wajah. Ada yang berani? Saya malah yakin bahwa iklan tersebut akan menuai sorotan dari KPI.

Saya mulai berpikir bahwa perjuangan yang dilakukan Amerika patut diapresiasi.  Anda tahu sendiri kan bahwa AS adalah negara adidaya. Jika Amerika menetapkan sebuah keputusan maka negara-negara seluruh dunia akan mengikutinya. Percaya kan? Kalo belum saya kasih contoh terbaru. 

Amerika Serikat menetapkan bahwa Arab Saudi sebagai pusat anti radikalisme dan terorisme. Kemudian Iran dan Qatar adalah negara teroris. Nah, akhirnya semua negara pun mengikuti keinginan Amerika bahwa Iran dan Qatar harus dibumihanguskan. Mirip peristiwa Bandung Lautan Api di masa silam.

Nah kembali ke soal tomat.

Kalo tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka saya yakin Indonesia akan memberlakukan keputusan serupa. Indonesia kan negara pengikut dan toleran sama Amerika. Bukan begitu? Lha ya kalo ndak toleran, kan ndak mungkin Freeport bisa mengambil emas sejak zaman Bahula. Dipersilakan mengambil sebanyak-banyaknya. Kalo ada peraturan yang perlu diubah, segera diubah. Jangan ditunggu. Apalagi ditunda. Hukumnya haram kalo ndak tunduk sama Amerika.

Begitu toh?

Saya juga berpikir bahwa dengan tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka Amerika bisa menginspirasi Indonesia bahwa banyak perdebatan panjang yang perlu diteliti. Indonesia bisa belajar bagaimana menampilkan perdebatan panjang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tak perlu lagi ada perdebatan Al Maidah, Obrolan Porno, Kriminalisasi ulama, hingga soal tulisan warisan. Indonesia bisa mencari perdebatan panjang yang lain. 

Misal apakah Hamish Daud pantas sebagai calon suami Raisa. Eh bukan ding. Misal kayak penentuan apakah wajah bulan itu berupa kelinci atau kepiting. Itu lebih layak.

Mungkin juga perdebatan macam telur dan ayam. Mana yang lebih dulu ada. Telur atau ayam? Kalo pake logika ekonomi seharusnya telur lebih dulu daripada ayam. Karena harga telur lebih murah daripada ayam. Saya berkata begini karena sudah update masalah harga menjelang lebaran. 

Atau mungkin Indonesia cari perdebatan yang lebih layak. Seperti apakah mobil Esemka baik untuj mobil kepresidenan atau tidak. Apakah listrik kedondong baik untuk kebutuhan listrik atau tidak. Itu kan lebih prinsipil dan siapa yang tahu jika penemuan dari anak bangsa justru mengharumkan nama Indonesia di cakrawala dunia.

Namun, sekali lagi semua yang ada di dunia ini tak lepas dari kepentingan ekonomi. Tomat ditetapkan sayuran karena masalah ekonomi. Reformasi 98 karena masalah ekonomi. Arab Saudi menyerang Qatar juga karena masalah ekonomi. Dan yang paling gres. Persoalan baik atau buruknya sekolah 5 hari juga terkait dengan ekonomi.

Karena kita selalu mengacu bahwa beda pendapat adalah beda pendapatan maka segala perdebatan yang ada di dunia ini tak lepas dari masalah ekonomi. 

Pelajaran dari Pilkada DKI


Kontestasi pemilukada Indonesia telah berakhir. Tanggal 19 April adalah waktu terakhir bagi masyarakat Indonesia khususnya Jakarta untuk gegap gempita memadati keriuhan pilkada. DKI adalah daerah terakhir yang akan melaksanakan pemilu. Harapannya setelah pilkada berakhir, tidak adanya percecokan, perselisihan hingga perpecahan. Semua ingin berakhir aman, damai, dan tentram.

Berkaca dari pilkada khususnya di DKI Jakarta, ada banyak pelajaran penting sekaligus menarik. Pelajaran ini harus disambut dengan pikiran positif supaya kita tak selalu hanyut dalam pertikaian. Gaung perselisihan memang sempat panas sejak putaran I pilkada DKI. Semakin mendekati akhir bukannya kita harus tampil dewasa namun justru saling berburuk sangka. 

Lalu apa pelajaran yang bisa dipetik dari Pilkada DKI kali ini? Mari kita simak.

1. Tak butuh sarjana politik atau doktor kajian media.

Melihat beberapa bulan belakangan ini, sesungguhnya ada semacam pertautan unik di kalangan masyarakat Indonesia. Kita pandai sekali berkomentar, menganalisis kemudian membeberkan fakta maupun kenyataan. Entah itu benar atau salah, segala hiruk pikuk pilkada dapat dikomentari. 

Uniknya, yang memberi komentar atau yang dimintai pendapat bukan kapasitasnya sebagai ahli politik maupun ahli media. Melainkan warga biasa yang sering menangkap gambar kemudian dibagikan ke lini masa dan menjadi viral. Biasanya orang tersebut akan populer dan media cetak maupun elektronik akan menganggapnya sebagai pakar. 

Menurut saya, itu gejala aneh. Bukan kapasitasnya untuk berbicara politik namun dipaksa bahkan menjadi terbiasa berbicara politik. Tapi tak apa-apa. Mungkin karena kita terbiasa dengan dagelan politik hingga yang diminta berbicara pun harus beretorika layaknya politisi Senayan.

2. Munculnya kaum moderat ekstrimis.

Jujur saja, ini fenomena menarik khususnya dalam pilkada DKI. Orang-orang yang diklaim bahkan mengklaim dirinya kaum modrat justru terlihat ikut ‘mencaci’ bahkan ‘memaki’ satu sama lain. Dengan dalih pembenaran bahwa mereka yang harus menanggulangi radikalisme dan sebagainya maka secara tidak langsung mereka berhak mengklaim bahwa mereka yang ‘benar’.

Kita ketahui bahwa dalam pilkada DKI tercipta dua kubu yaitu kubu yang mencaci dan kubu yang dicaci. Tak perlu disebutkan mana yang mencaci dan mana yang dicaci, namun tentunya anda lebih paham mana kubu-kubu tersebut. Sayangnya, kedua kubu sama-sama mengklaim bahwa merekalah yang mengabarkan kebenaran dan menyebarkan pembenaran. Alhasil, bukannya saling tabayyun terlebih dahulu melainkan saling serang tanpa jeda. Saling hina tanpa berkaca.

Tak heran, masyarakat pun dibuat bingung. Siapa yang sebenarnya radikal? Siapa yang sebenarnya moderat? Ataukah sebenarnya mereka hanya memanfaatkan momen untuk menunjukkan siapa mereka? 

3. Fluktuasi harga pangan.

Ini cukup penting. Beberapa saat yang lalu saya ditanya seorang kawan, apakah benar efek pilkada DKI membuat perekonomian lesu khususnya dalam bidang peternakan? Saya pun dibuat bingung. Namun kemudian ia menjelaskan bahwa kondisi politik di ibukota benar-benar membuat harga pangan macam ayam potong, cabai bahkan bawang merah berflutkuasi tanpa arah yang jelas. Entah ada sangkut pautnya atau tidak namun kenyataannya begitu.

Hargai cabai sempat menembus 120.000/kg. Begitu pula harga daging sapi sempat mencapai 200.000/kg. Harga tomat malah satu keranjang hanya dihargai 1000 rupiah. Harga bawang merah hanya 8000/kg yang biasanya bisa mencapai 30000-40000/kg. Mengenaskan. Entah mereka sadari atau tidak, seperti ada efek domino dari Pilkada DKI. Maklum saja, pikiran orang-orang pintar teralihkan pada kontestasi pilkada DKI sehingga melupakan peristiwa yang dialami kalangan pedagang

Para pedagang, peternak, bahkan petani berharap agar pilkada DKI segera berakhir. Segera enyahlah bulan April. Tapi masalahnya apa iya cukup sampai 2 ronde? Jangan-jangan bisa sampai 5 ronde. Sekali lagi itu tergantung kesepakatan penguasa.

4. Permasalahan pribumi (indigineous people)

Poin keempat sempat mengemuka ketika tak henti-hentinya ada yang mengklaim bahwa mereka lah yang sebenarnya pribumi. Ini menjadi soal apakah itu klaim atau memang fakta sejarah? Tentu sudah banyak analisis dari para pakar sejarah yang mengemukakan bahwa kedua-duanya bisa dikatakan pribumi. 

Namun yang menjadi soal adalah saling benci sehingga menyebabkan SARA. Ini yang menjadi mengerikan. Indonesia yang merupakan model dunia sebagai negara dengan suku terbanyak di seluruh dunia ternyata masih menyimpan sentimen sepele hingga berujung ujaran kebencian. 

Andaikan benar-benar hanya pribumi yang boleh berkuasa di Indonesia, bagaimana dengan nasib suku mante, suku anak dalam, kepercayaan amatoa ataupun kepercayaan kaharingan? Seharusnya jika mereka mau bersuara maka mereka lah gang lebih berhak untuk mengklaim dirinya adalah pribumi. Tapi, sepertinya mereka lebih memilih sibuk menjaga kelestarian alam daripada mengikuti kegiatan pilkada yang tak kunjung usai.

5. Belajar dari 4 poin diatas.

Gara-gara Al Maidah, umat Islam kembali menelaah Al Qur’an. Gara-gara pribumi, masyarakat Indonesia kembeli menengok sejarah. Gara-gara pembangunan, orang-orang ikut memikirkan kelestarian alam.

Sebenarnya ada hal-hal positif yang perlu diambil dari kontestasi Pilkada DKI. Ketiga hal diatas adalah contoh-contoh bahwa tak perlu melulu ujaran-ujaran kebencian yang didahulukan melainkan obrolan dan pemikiran yang berujung kemaslahatan itu lebih baik.

Namun, kita lebih sering melihat 1 keburukan daripada menelisik 10 kebaikan. Berkaca dari pilkada DKI, kejadian SARA, ujaran kebencian seharusnya tak perlu terulang kembali. Ingat, Indonesia akan mengalami ledakan penduduk pada 2030. Andaikan hal-hal ujaran kebencian selalu didengungkan utamanya pada pilkada, lantas bagaimana nasib generasi muda mendatang? 

Ajarkan kami rasa cinta dan kasih sayang

Di lini masa beredar foto beberapa anak kecil sedang sholat. Bukan gerakan sholatnya yang disorot. Melainkan arah kiblatnya yang dihujat. Tidak menghadap ke kiblat (barat) melainkan ke arah utara.
Sudah begitu mereka sholat bukan di tempat yang suci. Melainkan di tangga-tangga. Tempat dimana sandal/sepatu diletakkan. 

Andaikan itu terjadi di Jogja dan yang melakukan adalah orang-orang dewasa maka jelas orang-orang tersebut akan dicap sesat. Jelas, karena menyembah gunung merapi. Atau yang lebih ekstrim menyembah (alm) Mbah Maridjan.

Untunglah, mereka hanyalah anak-anak kecil.

Mereka hanya ingin mempraktekkan kewajibannya sebagai umat muslim. Tapi ya itu tadi mungkin karena tidak dapat tempat. Jadinya malah sholat tidak di tempat semestinya. Ah, namanya juga anak-anak.

Mengingat kelakukan anak-anak kecil berbuat seperti itu, saya jadi ingin menunjuk diri saya sendiri. Tentunya berbagi kisah. Saya pun pernah melakukan hal serupa. Bahkan menurut saya, hal yang saya lakukan dengan teman-teman lebih konyol. Dan saya yakin, kamu pun pernah melakukan hal serupa.

Waktu itu kita lagi enak-enaknya atau sedang menggandrungi sholat sholat bahkan kalo boleh dibilang sedang khusyuk. Sekhusyuk-khusyuknya anak kecil tetap saja tertawa dan menoleh kanan-kiri. Nah, pas sujud, saat itu juga salah satu kaki teman ditarik. Entah kiri atau kanan yang jelas membuat ia tersungkur. 

Kami tertawa. Hingga ia membalas hal serupa kepada teman yang lain. Alhasil, jamaah sholat pun menjadi gaduh. Setelah itu, kami dihukum. Tapi toh ndak papa. Hukumannya mengulangi sholat. Bahkan itu lebih baik. Karena harus sholat berjamaah dan bacaannya dilafalkan dengan keras. Setidaknya itu membekas di ingatan saya. Bahkan hal tersebut yang justru membuat saya hafal bacaan sholat. Hmm.

Ada lagi keusilan yang lain. Suatu ketika saya duduk tahiyat akhir. Telunjuk direntangkan. Sembari umak-umik baca doa, eh kok ndilalah teman sebelah saya memiliki ide kreatif yang luar biasa. Secara tiba-tiba, ia merentangkan jempolnya dan seraya berkata, “Maaf kamu kalah, telunjukmu harap ditutup kembali”. 

Suaranya dimirip-miripkan seperti kita sedang menelepon seseorang namun tak ada yang menjawab. “Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk”. Nah seperti itu. Gelak tawa muncul kembali. Menghebohkan jamaah sekitar.

Hukumannya? Ya sama persis. Mengulangi sholat, berjamaah, dengan bacaan dilafalkan keras. Sesekali agak tertawa kecil. Tapi ketika pak guru melihatnya, kami langsung kembali fokus. Gimana ndak fokus. Ini baca Al Kafirun. Kalo kebalik-balik kan repot juga. Sejak saat itu, jadilah kami hafal seutuhnya tanpa terbolak-balik jika membaca surah itu.

Sudah 2 keusilan. Ini ada lagi. Kalo menurut saya ini juga konyol. Karena kesalahan serupa seperti diatas, kami disuruh sholat berjamaah. Teman saya jadi imam. Semula tak ada yang aneh. Berjalan seperti biasa dan kami mencoba khusyuk sebisa mungkin. Kalo perlu bacaan dilagukan. Walaupun fals. Panjang pendek kacau tak beraturan.

Ketika rakaat kedua, ia membacakan Al Fatihah, lantas kami mengucapkan serempak “AMIIN” maka tau apa yang diucapkan teman saya berikutnya?

Ia menoleh ke belakang dan berkata, “Kompaknya kalian semua.”

Jelas saja, kami menengadah. Melongo. Begitu pula dengan bapak guru kami. Kemudian kami tertawa. Tapi tidak dengan guru kami. Ia hanya menggeleng kepala hingga membuat peci hitamnya terjatuh. Tentu saja, kami mengulangi sholat berjamaah lagi. 

Toh tak apa-apa. Setidaknya kami jadi lebih paham cara sholat yang baik. 

Kami kadang merasa bersalah sekaligus tertawa kalo mengingat kejadian itu. Terutama pada guruku. Tapi guruku tidak. Selalu saja menaikkan sedikit bahunya sambil geleng-geleng kepala. Bahkan kadang tersenyum kecil. Entah beliau tidak bisa marah atau justru mengenang pula karena pernah mengalaminya. Yang jelas saat itu kami tak berani bertanya. Sungkan lek.

Suatu ketika saat kami lulus, kami memberanikan diri bertanya kepada guru tersebut. Hanya satu pertanyaannya. Mengapa beliau tak memarahi kami saat melakukan kejadian konypl tersebut. Apalagi ini dilakukan pas sholat.

Kalian tahu jawabannya? 

“Mengajarkan ibadah harus dengan cinta dan kasih sayang. Karena dengan kedua hal tersebut maka hati menjadi tenang dan tentram. Tidak boleh ada rasa kesal meskipun anak-anak seperti kalian kreatif yang luar biasa.”

Kami tersentak. Malah dikatakan kreatif. Rupanya, beliau mengganti padanan kata dari bandel menjadi kreatif. Beliau lakukan supaya ingin mengubah paradigma jika apa yang dilakukan anak-anak adalah sesuatu hal yang wajar. Dan oleh sebab itu, untuk memberitahukannya lewat rasa cinta dan kasih sayang.

Sayangnya, hal yang dilakukan guru saya mulai jarang terjadi di era sekarang. Anak-anak justru dibentak, dihardik, bahkan dipukul. Sesuatu yang aneh. Bukannya diberi tahu dengan sopan. Justru dimaki dengan cacian. Tak heran jika nanti kalo sudah dewasa, banyak orang di kemudian hari lebih suka mengobarkan kebencian daripada menabur kebaikan. Ah, dunia sudah semakin aneh ya.

Mengenang menjadi anak kecil adalah hal paling romantis. Karena itu tak akan terulang kembali. Dan jika mengenang hal tersebut rasanya yang kami katakan cuma satu. Kami tak ingin segera tumbuh dewasa. 

DOA

​​

Beberapa hari ini saya sering mengunjungi pasar. Entah itu mengantar istri ataupun mengantar ibu. Yang jelas bukan sidak macam operasi pasar.
Di dalam pasar tentunya ada penjual, pembeli, renternir, makelar, tukang parkir, dan sebagainya. Di pasar juga terjadi transaksi jual dan beli. Hal yang menjadi sesuatu umum di pasar. Tentunya ada yang menjual sayuran. Ada pula buah-buahan. Dan ada pula tanaman. Yang tidak ada hanya satu. Kenangan.

Di dalam pasar juga beraneka ragam macam rupa. Tersenyum. Merengut. Bahagia. Dan juga sedih. Pokoknya bermacam-macam ekspresi terbentuk di dalam pasar. Ketika saya mencoba mendekati salah satu penjual, tentu saja mereka akan menawarkan seperti,

“Mas, ayo mas dibeli, dipilih aja biar jadi laris.”

Kalimat tersebut jamak ditemukan. Tidak dilakukan hanya satu penjual melainkan semua penjual yang saya lewati dan temui akan berkata seperti itu. Meskipun redaksinya agak sedikit berbeda. Namun maknanya berarti satu tujuan. Laris.

Harapan untuk laris mereka rapalkan berulang kali seperti doa. Semua itu dilakukan dengan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena memang Tuhan yang mampu menentukan apakah itu menjadi berkahnya atau bukan. Yang jelas seperti sebuah pepatah bahwa tiap perkataan adalah doa.

Uniknya, meskipun perkataannya sama, jualannya sama, namun hasil yang didapatkan berbeda. Itu mungkin sudah menjadi kodrat alam dan sudah ada Tangan Tuhan yang ‘bergerak’. Namun yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah bagaimana mekanisme doa itu berjalan?

Saya bukan Ibn Arabi, Jalaludin Rumi bahkan Al Hallaj yang mampu menenggelamkan doa ke dalam jiwa kemudian diungkapkan dengan syair. Saya bukan pula Al Ghazali yang dengan ilmu filsafat mampu mengejawantahkan doa. Atau yang pasti saya bukan Syekh Siti Jenar yang punya konsep Manunggaling Kawula Gusti yang jika berdoa dianggap mampu ‘bercinta’ dengan Tuhan.

Tidak, saya tak mampu menjadi mereka. Cuman ya itu, sekali lagi bagaimana mekanisme doa berjalan?

Seorang sahabat pernah berkata, asalkan kita dalam suasana hening dan khusyuk maka apapun doa yang diucapkan pasti akan dikabulkan. Apakah benar begitu?

Seringkali kata khusyuk justru menjadi beban pikiran. Kadang kalo sudah berharap khusyuk, ada saja yang terlintas di pikiran. Entah itu pakaian jemuran yang belum kering. Masakan yang belum matang. Hutang yang belum terbayar. Atau kenangan yang sengaja terlintas lewat alam bawah sadar. Ya pokoknya ada saja.

Bahkan doa yang dikabulkan itu apakah memang menjadi doa baik atau doa buruk. Jangan salah, kita ga bisa menerka doa itu menjadi baik atau buruk. Namun kita selalu saja berharap doa kita akan dikabulkan. Masalahnya tak semua orang bisa berharap doa tersebut menjadi baik atau buruk.

Seorang pencuri berharap bahwa malam ini pekerjaan mencurinya sukses. Itu ia lakukan supaya esoknya pencuri bisa memberikan nafkah bagi keluarganya. Tentu, ia akan berharap dan mengatakan bahwa semoga bisa mendapatkan hasil yang baik.

Seorang pengusaha berharap bahwa malam ini tidurnya nyenyak. Itu ia lakukan supaya esoknya pengusaha mampu bekerja semaksimal mungkin agar mampu menafkahi keluarganya. Tentunya ia akan berharap dan mengatakan semoga tidurnya berkualitas dan esok menjadi hari yang lebih baik.

Lalu bagaimana Tuhan mengabulkan doa tersebut? Tentu tak ada yang bisa memastikan. Kalo pun pencuri itu berhasil mencuri maka pengusaha tak bisa memberikan nafkah bagi keluarganya keesokan hari. Kalo pengusaha dapat tidur nyenyak, berarti pencuri yang tak berhasil memberikan nafkah bagi keluarganya.

Sama halnya jika kamu berdoa dan berharap balik ke pelukan mantan. Namun mantanmu berharap dan berdoa agar dirinya akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirimu. Lalu bagaimana? Doanya bertabrakan gitu?

Akan menjadi aneh jika ternyata harapan pengusaha dan pencuri gagal semua. Sama anehnya pula jika yang diharapkan para penjual di pasar menjadi tidak laris. Dan juga aneh jika ternyata kamu dan mantanmu sama-sama tidak mendapatkan harapan yang sesuai.

Tapi justru menjadi lucu dan menggelikan jika kita mengerti bagaimana mekanisme doa itu berjalan.

Sedikit-sedikit, jika doa ternyata hampir tidak berhasil diharapkan, maka kita mencoba mengintervensi doa. Mengganti doa di tengah perjalanan supaya menjadi berhasil.

Kalo begitu caranya, kok kita tamak sekali pada Tuhan? Berharap selalu doa dikabulkan. Memang kita siapa? Tapi bukankah kita memang selalu begitu? Selalu mencoba bahkan dengan berbagai cara agar doa kita dikabulkan.
Tapi kalo memang ada yang sanggup bernegoisasi dengan Tuhan melalui doa maka saya cuman minta satu hal.

Hentikan segala omong kosong antara pejabat publik di Indonesia.

Semut

​Pgimgs.com

Beberapa hari ini segerombolan semut menyerang dan mengutil segala macam makanan dan minuman yang ada di rumah. Mulai dari kue kering, kue basah, sayuran, gula, merica, tempe goreng, air mineral hingga nasi. Saya tidak cukup mengerti mengapa segerombolan semut mencoba semua makanan dan minuman. Mereka tidak menghabiskan melainkan hanya mengutil dari satu makanan ke makanan yang lain. Mencicipi rasa minuman dari pelbagai merek.
Saya pikir penyebabnya adalah cuaca. Tapi ternyata bukan. Panas atau dingin sama saja. Tetap saja semut menggerayangi seluruh makanan dan minuman. Aneh. Tak biasanya mereka berkelakuan seperti itu. Saya kira jika semut adalah penyuka gula maka teori itu terbantahkan untuk saat ini. 

Semut termasuk jenis serangga. Anggota dari Formicidae dan termasuk bangsa Hymenoptera. Semut termasuk serangga sosial. Mengapa dikatakan seperti itu? Karena semut terdiri dari beberapa kelompok. Ada ratu semut, semut pekerja, semut pejantan. Mereka punya koloni-koloni yang membentuk kesatuan. 

Ukurannya memang kecil. Tidak lebih besar dari ukuran biji sawi. Tapi jangan salah, semut termasuk hewan yang memiliki kekuatan yang hebat. Mereka mampu mengangkat beban 50x lebih berat dari berat badannya. Mereka unggul dari gajah yang ‘hanya’ mampu mengangkat beban 2x lebih berat daripada berat badannya sendiri. Luar biasa bukan?

Keunikan dari semut adalah jika ia bertemu dengan semut dari suku lain, maka mereka salin menempelkan antenanya. Dan ini jarang ditemukan pada spesies hewan lainnya. Dan mungkin hanya semut yang dapat melakukannya.

Semut mengajarkan kepada kita (manusia) bahwa mereka selalu menjunjung etos kerja, ketaatan pada pemimpin, kebersamaan dengan koloninya, tekun dalam menghadapi rintangan bahkan kepekaan. Dan ini diterangkan dalam AlKitab Amsal 6:6-11. 

Dalam Islam diajarkan pula bahwa kita tidak diajarkan untuk tidak membunuh semut. Dan ini dijelaskan pula dalam riwayat Abu Huraihah, Nabi Muhammad pernah bersabda “Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu lantas kamu membinasakan satu umat yang selalu bertasbih?” Dan mungkinkah karena semut merupakan hewan yang luar biasa sehingga diagungkan dalam surat An Naml? Setidaknya hal tersebut benar adanya.

Ketika ingat perihal tersebut, saya jadi sungkan untuk membunuh segerombolan semut ini. Akhirnya saya mencari cara tradisional untuk ‘menghilangkan’ para semut. Maksudnya menghindarkan mereka dari makanan dan minuman. Caranya? Gunakan daun sirih merah. Dioleskan ke beberapa jalur yang biasanya dilewati. Dan hasilnya? Berhasil.

Sayangnya, keberhasilan tersebut hanya berlangsung selama 3 jam. Para semut kembali menghampiri dan mengutili makanan dan minuman. Tapi anehnya, hanya satu makanan yang tak mereka sentuh. Apa itu?

Kurma. Aneh bukan? Padahal rasanya manis sekali. Lantas saya mencoba taruh kurma di beberapa tempat. Hasilnya? Tak seekor semut pun mencuil bahkan menyentuh kurma-kurma yang saya letakkan. 

Lantas saya mencoba mengikuti mereka. Kemudian jongkok. Berhadapan dengan gerombolan semut. Mengajukan sebuah pertanyaan. 

“Hey semut, kenapa dirimu beserta teman-temanmu tak memakan kurma?”

Kalian tahu jawabannya?

“Kami lebih cinta ploduk-ploduk Indonesia.”

Radio

Di Indonesia, untuk mendapatkan berita, mendengarkan lagu, maupun menumpahkan curahan hati dapat melalui bermacam-macam alat komunikasi. Ada televisi, telepon genggam dan radio. Dari sekian alat tersebut, entah kenapa saya jatuh cinta kepada radio. Mungkin karena radio adalah alat komunikasi pertama yang dikenalkan oleh ibu kepada saya.

Saya menggemari radio sejak kecil. Lebih tepatnya saat menginjak usia 8 tahun. Setiap pagi menjelang berangkat sekolah, saya selalu menyempatkan diri untuk mendengarkan siaran radio. Isinya adalah lagu-lagu nostalgia. Macam The Beatles dan Koes Plus. Kebetulan, salah satu radio di Jogjakarta selalu memutarkan tembang kenangan tersebut. Tepat setelah subuh hingga pukul 7 pagi. 

Selain itu, menantikan ucapan uluk salam dari teman sejawat, saudara bahkan gebetan adalah hal yang paling dinantikan. Hari terasa bahagia apabila mendengar ucapan salam dari gebetan. Walaupun tetap saja yang memberi salam si penyiar radio. Bukan gebetan.

Sejak saat itu, saya tidak pernah lepas dari radio. Saking gandrungnya dengan radio, ibu membelikan saya radio berukuran mini yang mampu dibawa kemana-mana. Cukup diletakkan di kantong celana maka saya akan tetap tenang menjalani hari sekolah.

Selain lagu-lagu seperti diatas, saya juga paling senang mendengarkan siaran pertandingan sepakbola dan kisah-kisah misteri. Betul itu. Kedua-duanya mirip. Menegangkan dan mengagetkan.

Contoh dalam siaran langsung pertandingan sepakbola. Kalimat seperti “angkat bola ke tengah gawang”, “aah aah aah gawangnya masih perawan” atau “sekali lagi tendangannya mentiung ke cakrawala” membuat para pendengar tertawa geli. Sebelum booming macam presenter-presenter kondang di televisi, maka penyiar radio lebih dahulu mempopulerkan kata-kata tersebut. Sayangnya saat itu belum ada media sosial membincangkan keunikan penyiar radio. Beda dengan sekarang.

Itu siaran sepakbola. Kalo kisah-kisah misteri lebih unik lagi. Kalimat seperti “wuush, angin mamiri menggelayuti ventilasi”, “tampak sesosok anak kecil di balik pintu” atau “sekelebat bayangan putih lewat” lebih membuat bulu kuduk berdiri. Sebelum acara televisi macam dunia lain atau misteri pemburu hantu kondang, maka penyiar radio pada sesi kisah misteri lebih dahulu tenar. Suaranya pun akan selalu serak-serak basah. Itu dilakukan supaya membuat pendengar berimajinasi. Kalimat-kalimatnya dibuat tak beraturan. Beda dengan di televisi. 

Sejak dari dulu, saya memang sudah terpesona dengan radio. Saya pikir radio adalah simbol anti hoax. Karena dari radio, kita mendengarkan fakta dan kenyataan yang tidak dibuat-buat.

Dari radio, kita mendapatkan berita kekalahan Jerman dari Inggris pada Perang Dunia ke 2. Dari radio, kita mendapatkan berita kekalahan Jepang dari Sekutu. Dari radio, kita mendapatkan pula orasi lantang Bung Tomo kepada arek-arek Suroboyo. Dan dari radio pula kita mendengarkan berita kemerdekaan Indonesia.

Kalo kamu mengalami kejadian gempa Jogja pada 27 Mei 2006 seperti saya, maka tentu kamu akan ingat dengan radio. Ya. Disaat listrik susah menyala, sinyal handphone menghilang entah kemana maka siaran radio tetap mengudara. Dan pada saat itu radio merupakan satu-satunya alat komunikasi untuk mengabarkan mana berita hoax dan mana berita kenyataan. Kita harus mengapresiasi tinggi pada bapak penyiar radio tersebut. 

Maka benar jika ada sebuah adagium yang mengatakan betapa pentingnya kegunaan radio. “Selama radio masih mengudara, maka Republik Indonesia masih milik kita”. 

Namun sekarang, terkadang radio dipinggirkan. Manusia modern lebih menyukai berita dari televisi maupun media sosial macam facebook atau twitter. Beritanya pun tak jelas. Bisa jadi hoax. Bisa jadi tidak. Tapi yang jelas lebih kebanyakan berita asu daripada berita bermutu.

Mungkin radio dianggap sudah mulai usang. Kehadirannya sedikit terpinggirkan. Bahkan beberapa alat komunikasi macam telepon genggam tak menyediakan lagi fitur radio di dalamnya. Apakah memang radio sudah tergilas oleh zaman?

Saya kira jangan terlalu dini menilainya. Radio bukanlah alat komunikasi yang mudah dihilangkan. Radio bukanlah alat komunikasi yang mudah dilenyapkan. Apalagi diasingkan.

Keberadaan radio masih dibutuhkan untuk menangkal virus-virus hoax yang bertebaran. Kita merasa miris dengan berita hoax di ranah media sosial atau televisi namun kita tidak boleh pesimis jika berita tersebut didengungkan lewat radio. Karena kita selalu merindukan keberadaan radio. Seperti lirik Sheila On 7.

“Lewat Radio, aku sampaikan kerinduan yang lama terpendam”.