Category: Uncategorized

Revolusi Makanan Berasal Dari Keju


Revolusi makanan telah dimulai. Bagi generasi milineal, cita rasa makanan tak lagi manis, pedas, asin, maupun gurih. Ada rasa makanan yang diutak-atik sedemikian rupa hingga menjadi sebuah keunikan tersendiri.

Dan rasa makanan tersebut dihasilkan dari keju.

Hari ini, keju menjadi bahan makanan kelas papan atas. Semua makanan jika dicampur dengan keju akan bernilai tinggi. Lebih mahal.

Mulai dari ayam geprek keju, singkong keju, chicken mozarella, martabak mozarella hingga babi panggang parmesan.

Sebagai bukti, kamu lihat di seluruh kota, para pebisnis makanan mulai mencari keuntungan dari keju. Bagi mereka, hanya keju yang akan menjadi daya tarik rasa bagi generasi milineal.

Sah-sah saja jika pebisnis mengatakan demikian. Karena keju memiliki banyak manfaat. Diantaranya memenuhi kebutuhan kalsium, fosfor, protein, dan juga vitamin.

Selain itu, keju juga diklaim sebagai bahan makanan yang paling banyak disenangi dan dikonsumsi oleh orang di seluruh dunia. Bahkan produksi keju melebihi dari gabungan produksi kakao, kopi, teh, maupun tembakau di seluruh dunia. Hebat, bukan?

Mau bukti lagi? Coba kamu cek di aplikasi Cookpad. Itu lo aplikasi yang memudahkan kamu agar pandai memasak. Saya kasih tahu. Sedikitnya ada 54.140 resep keju. Dan sampai hari ini, belum ada yang melampaui keju. Luar biasa bukan?

Dan asal kamu tahu bahwa keju pertama tercatat tahun 6000 SM. Itulah kenapa keju layak diberikan harga yang begitu mahal.

Selain itu, yang harus kamu tahu ternyata adalah keju berasal dari Arab. Bukan Eropa seperti yang didengung-dengungkan sebelumnya. Mulanya, ada pedagang Arab yang menuangkan cairan susu ke kantung perut domba. Kemudian, ia bersama dombanya berkelana menyusuri gurun.

Malamnya, pedagang mengecek keadaan susu. Ndilalah, matanya terbelalak. Mulutnya terkunci. Susu tersebut tak lagi sama. Ada dadih dan cairan yang terpisah. Hal ini disebabkan oleh rennit, enzim yang ditemukan di perut hewan mamalia. Diduga, suhu panas juga berperan besar dalam pembuatan keju.

Akhirnya, dibawalah keju hingga ke Romawi dan menyebar ke seantero Eropa. Ini bukan hoax lo. Sudah ada garansi dari Centre National Interprofessionnel de lÉconomie Laitiere (CNIEL) dan European Union.

Cuman begini.

Konon, kelezatan keju hanya bisa ditandingi oleh lezatnya buah kuldi. Saking lezatnya, ada penelitian yang bilang kalo makan keju sebelum tidur ada kebaikan dan keburukan.

Baiknya adalah membantu tidur anda lebih baik. Buruknya adalah mimpi kamu akan aneh. Benar atau tidaknya, itu penelitian yang dihasilkan oleh British Cheese Board tahun 2005. 12 tahun silam.

Mungkin kalo sekarang mimpinya berbeda. Tapi tetap saja, mimpinya jadi dua. Pertama, mimpi tentang radikalisme di mana-mana. Kedua, mimpi tentang intoleransi juga di mana-mana. Dan tentu saja penelitian ini hanya bisa dihasilkan oleh Rasa Kuliner dengan mengambil sampel masyarakat Indonesia Zaman Now.

Oke. Kembali soal rasa.

Dalam Global Innovation Index tahun 2016, Indonesia menempati peringkat ke enam untuk olahan kreatif dan inovatif. Saya sangat percaya akan hal itu. Apa yang menjadi hambatan masyarakat Indonesia khususnya dalam pengolahan makanan? Sama sekali tak ada.

Nasi tak dipakai, keringkan, bisa jadi karak. Kerupuk terlanjur basah, bisa jadi seblak. Gula dan garam usang, impor, kemudian mulut menjadi nyablak. Lihat, kan? Itu sudah kejadian.

Lha kalo keju? Kalo gula dan garam impor, kita ngamuk tapi kalo keju impor ya kita umuk. Bisa kamu lihat dalam campuran makanan, dikit-dikit keju. Sekarang pun juga menambah ke area minuman, banyak-banyak keju.

Ketakutan saya begini. Ada rasa makanan yang seharusnya tak dicampur keju, malah dipaksakan dilumuri keju. Alasannya sederhana. Biar terlihat melted. Halah, gedabrus.

Emang situ mau, rujak cingur yang termasuk satu dari lima makanan favorit almarhum Bondan Winarno dilumuri keju? Yek. Rasanya jadi apa~
Lha ini katanya juga ada lotek mozarella. Weks. Rasanya gimana itu? Maunya mencicipi rasa keju malah berujung lidah menjadi kelu.

Belum lagi, konon katanya di Magelang mau ada tempat makan yang mengolah jengkol menjadi cita rasa Barat. Ya apalagi kalo bukan dicampur keju. Bukan keju biasa. Tapi mozarella dan parmesan.

Itu maksudnya apa? Mengubah bau kencing karena jengkol menjadi tidak jijik? Ya ampun. Itu sama saja menghilangkan keotentikan bau dari jengkol sendiri.

Ya sudahlah, kalo keju ya dicampur sama roti dan kue. Itu udah paling bener. Kalo yang lain? Menurut saya sih tak layak.

Tapi apa boleh bikin, di era revolusi makanan semakin berkembang, jika makanan tak mengikuti perkembangan zaman ya bukan tidak mungkin makanan tersebut sirna. Bahkan menjurus punah.

Lihat kan? Beberapa makanan tradisional kadang sulit ditemukan. Ya mungkin karena ketiadaan keju di dalam makanan tersebut. Jadinya susah me-nasional apalagi masuk standar internasional.

Tapi, sekadar saran sih. Toh saya bukan chef. Bukan pula ahli icip-icip makanan. Cuman kalo mau merevolusi makanan mbok ya jangan aneh-aneh.

Keju adalah keju. Biarkan keju memilih makanan yang pantas supaya menjadi pas rasanya. Menjadi lezat paparampa.

Gitu kok mau masukin keju ke gudeg. Bukan Mak Nyuss. Tapi jadi Mak Pettt.

Advertisements

Nasionalismu atau Nasionalisku?

Menjelang berakhir tahun 2017, banyak peristiwa baik dari internasional maupun nasional yang sangat mengejutkan.

Pertama, keputusan Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Kedua, jika pernyataan pertama salah maka Trump mengancam akan membekukan dana bantuan AS kepada negara-negara yang tak mendukung kebijakannya. Indonesia, Pakistan, Jerman, Iran, dan masih banyak lainnya mengecam. Arab Saudi bagaimana? Ya tau sendiri lah kira-kira jawabannya bagaimana.

Ketiga, keputusan Edy Rahmayadi selaku ketua PSSI untuk melarang Evan Dimas dan Ilham Udin untuk bermain di Malaysia. Selain alasannya adalah ketakutan Om Edy karena kemungkinan kedua pemain tersebut tidak bisa mengikuti pelatnas jangka panjang Asian Games 2018.

Namun, alasan yang terakhir menjadi perdebatan. Takut kalo kedua pemain tersebut dimata-matai oleh para pemain Malaysia. Dan yang paling mutakhir adalah dianggap tidak nasionalis.

Lagi-lagi nasionalisme digelorakan kembali. Padahal seharusnya bulan Desember akan memasuki bulan ritual boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal. Eh kok ini masih masuk nasionalisme.

Lantas, apa ukuran seorang warga negara yang tidak dianggap nasionalis?

Apakah mereka yang berusaha mempertahankan tanah Papua, Kendeng, dan Kulonprogo bisa tidak dianggap nasionalis karena tak patuh pada pemerintah? Atau apakah mereka yang menjadi buruh migran di Malaysia, Taiwan, bahkan Tiongkok untuk menghadirkan devisa bagi negara tapi tak dianggap nasionalis karena tak mau bekerja di negaranya sendiri?

Atau apakah mereka yang sudah berjuang mati-matian memerdekakan Indonesia macam Tan Malaka tapi malah dicap komunis? Atau jangan-jangan ukuran orang berjiwa nasionalis adalah mereka yang mampu melanggengkan dana masyarakat menjadi dana pribadi? Yang mana sebenarnya nasionalis?

Gini ya. Kalo kamu masih ngomongin persoalan nasionalisme dengan mengaitkan berita pesepakbola Indonesia di Malaysia tapi kamu tak tahu bahwa di perbatasan Indonesia-Malaysia yaitu Entikong, mereka berusaha mati-matian membeli bahan makanan Indonesia yang jauh 3x lebih mahal dari Malaysia, padahal mereka bisa saja beli di Malaysia maka diam saja ya. Simpan Argumenmu. Kalo perlu ga usah banyak bacot.

Nasionalisme seakan menjadi kata semu bagi mereka yang bersusah payah membangun imaji bahwa masyarakat Indonesia bisa mengharumkan nama Indonesia di luar negeri. Coba Om Edy berpikir terbalik. Andaikan Evan Dimas dan Ilham Udin bermain di Malaysia bukankah itu berarti mereka akan mampu melihat bentuk dan pola para pesepakbola Malaysia. Kalo perlu, sekalian saja belajar ke Malaysia.

Ndak usah gengsi. Secara peringkat timnas sepakbola, kita masih kalah. Secara kompetisi, kita masih kalah. Lalu apa yang bisa kita banggakan? Ya apalagi kalo bukan secara luas wilayah dan tingkat korupsi yang tinggi.

Kita selalu mengobarkan pesan-pesan nasionalis. Pakailah produk-produk dalam negeri! Boikot produk asing! Ganyang Malaysia! Tapi apa yakin kamu ga butuh produk asing? Apa iya kita mau meniru Kuba, Venezuela, atau Korea Utara? Kalo meniru mereka malah dianggap sosialis. Ujung-ujungnya komunis. Lhah.

Tapi mau gimana lagi ya. Om Edy memang boleh berkata demikian. Dengan predikat sebagai tentara, sebuah kewajaran jika ia harus menjaga dan menjunjung jiwa nasionalis. Jelas selain khawatir karena permainan mereka terbaca oleh Malaysia, siapa tau nanti malah mereka dinaturalisasi. Biarkan usaha pemain naturalisasi menjadi milik Filipina dan Indonesia. Lhah.

Toh, seharusnya santai saja Om. Kalopun beliyo gagal, ia masih bisa mencalonkan diri sebagai cagabener, eh cagubernur Sumur. Kan enak. Malah mungkin bakal lebih kaya jika terpilih jadi gabener eh gubernur daripada tetap sebagai ketua PSSI.

Kalo saya yang jadi ketua PSSI, saya malah membuka pintu selebar-lebarnya bagi negara-negara lain untuk merekrut pemain Indonesia. Kenapa? Ya biar kita bisa menyerap ilmu dari negara lain. Siapa tahu setelah berpetualang, mereka bisa membuat Indonesia berbicara di Piala Asia bahkan jika memungkinkan bisa masuk ke Piala Dunia.

Bukan hanya sekedar mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Asia maupun Piala Dunia. Tapi dasar kita suka yang instan, apapun dilakukan dan coba untuk direalisasikan.
Mereka juga bisa belajar bagaimana negara lain mengelola sebuah tim sepakbola. Bukan hanya mengganti nama tim, berpindah-pindah homebase atau mendidik junior. Kan kita selalu beralasan harus ada regenerasi dan pembibitan usia sejak dini.

Lhah gimana mau pembinaan, kalo kompetisi sepakbola kian tak jelas. Masa depan sepakbola boleh dibilang suram. Beruntungnya, sepakbola seperti agama sekunder bagi masyarakat Indonesia. Seburuk-buruknya permainan, se-jarang-jarangnya tak pernah mendapatkan tropi, tetap sepakbola Indonesia selalu saja memikat mata dan hati masyarakat Indonesia.

Atau jangan-jangan dengan dalih nasionalisme, sebenarnya Om Edy takut kalo pendapatan televisi menurun seiring hijrahnya para pemain Indonesia ke Malaysia. Kalo pendapatan televisi turun, bisa jadi pendapatan Om Edy ikut menciut. Kalo gitu, nanti ga bisa mencalonkan diri jadi gubernur. Lhah.

Saya hanya bisa mengatakan bahwa janganlah jiwa nasionalis diukur dari jauh atau dekat, pergi atau kembali, hijrah atau menetap, tetapi lihatlah apa yang telah mereka perbuat bagi kebanggaan dan kemakmuran masyarakat Indonesia.

Yang paling penting adalah jika dipanggil karena tugas dari negara maka segeralah berangkat. Jangan niru yang lain. Dipanggil berulangkali ke Indonesia, malah berniat bikin KTP negara sana. Mungkin dia tahu, kalo bikin KTP di sini harus bisa sampai lima purnama.

Pedoman Bahasa

Kuasai Bahasa Asing

Utamakan Bahasa Indonesia

Lestarikan Bahasa Daerah

9 kata diatas adalah slogan dari salah satu lembaga pemerintah yang memiliki nama Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA).

Di dalam BIPA ada sejumlah pengajar yang bertugas mengajarkan seluk beluk berbahasa Indonesia ke berbagai belahan dunia. Baik secara lisan maupun tulisan.

Belakangan, ada opini yang berkembang bahasa Indonesia tak lagi diminati di dalam negeri. Orang tua~utamanya generasi milineal~lebih suka mengajarkan anaknya untuk berbahasa asing.

Seperti contoh: Inggris, Arab, Mandarin, dan yang paling mutakhir adalah Korea.

Mengapa mereka bisa melakukan hal seperti itu?

Mengutip pernyataan dari AS Laksana dalam tulisannya di Jawa Pos (30/102017) ada harapan atau cita-cita yang dimiliki oleh bahasa asing.

Mereka, para orangtua tersebut merasa dengan menguasai bahasa asing maka memperoleh pergaulan yang lebih luas, tingkat kemapanan yang lebih tinggi, hingga akses ekonomi yang lebih panjang.

Apakah bahasa Indonesia tak memiliki cita-cita? Agaknya hal ini patut diperdebatkan.

Mungkin karena pengajar bahasa Indonesia tak memiliki metode yang berkembang, pengajaran mengenai bahasa Indonesia hanya itu-itu saja, dan kecakapan yang dimiliki pemerintah untuk mengembangkan bahasa Indonesia tak lagi mumpuni.

Makanya banyak orang beralih untuk belajar bahasa asing. Toh, ada anggapan bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu. Jadi selupa-lupanya kita terhadap bahasa ibu, tak butuh waktu lama untuk belajar bahasa Indonesia.

Beruntung, kini media sosial mulai berkembang. Ada orang macam Ivan Lanin, Jarar Siahaan, akun kbbi atau membetulkan dan aplikasi KBBI V yang kian menggiatkan berbahasa Indonesia.

Suatu bahasa menjadi biasa karena terbiasa. Pedoman tersebut seharusnya bisa diimplementasikan agar dunia lebih tahu bahwa bahasa Indonesia kian berkembang. Dari masa lalu menuju masa depan.

Hujan di Jogja

Kamis. Sudah dua hari ini Jogja dilanda hujan. Curah hujan dengan intensitas cukup tinggi. Deras.

Beberapa wilayah di Jogja bagian selatan mengalami kebanjiran. Ada yang rumahnya hanyut, jembatan putus, hingga menimbulkan korban jiwa. Rasa sedih pun menggelayut.

Sedih juga dirasakan oleh para pedagang kaki lima. Mereka, yang terbiasa dengan lesehan tampak cukup sulit menarik pengunjung. Alhasil, produksi menurun.

Sedih juga dirasakan pula para tukang ojek. Mau keluar, hujan sangat deras. Tak keluar, uang makan untuk kebutuhan keluarga sulit didapatkan. Situasi tersebut bagaikan buah simalakama.

Beruntunglah bagi tukang ojek utamanya daring yang masih berkeliaran saat hujan tiba. Apalagi sampai mereka mau menerima pesanan untuk mengantarkan makanan kepada konsumen.

Sungguh beruntung bagi konsumen. Tinggal buka aplikasi. Pilih makanan yang tertera. Kemudian diantarkan ke tempat tujuan.

Maka dari itu sekedar saran. Jika kamu memesan makanan lewat daring, alangkah lebih baiknya kamu memberi tip bagi mereka. Mengapa begitu? Karena saya anggap mereka adalah malaikat.

Sebaik-baiknya Perlawanan Melalui Tulisan

Foto di atas merupakan bentuk penghormatan Mohamed Salah kepada korban pemboman di Mesir setelah mencetak gol ke gawang Chelsea. Sumber: Koran Jakarta

Tak ada tagar #IstandforEgypt atau #PrayForEgypt di lini masa. Sungguh aneh. Mesir, negeri para Firaun tersebut baru saja mengalami teror paling keji sepanjang 2017. Bahkan mungkin teror terbesar dalam satu dekade.

Apakah karena Mesir adalah bagian dari dunia ketiga? Atau apakah Mesir adalah salah satu kota yang tak ramah bagi perempuan sehingga wajar media sosial tak harus berpihak ke negara tersebut? Entahlah.

Sebuah bom meledak disertai penembakan sangat binal dan brutal terjadi di sebuah masjid yang letaknya di Sinai Utara, Mesir. Menewaskan setidaknya 305 orang dan 120 lainnya luka-luka. Yang cukup mengerikan adalah 27 diantaranya adalah anak-anak.

Mereka, anak-anak tersebut hanyalah korban dari kebiadaban sebuah kelompok. Entah itu kelompok tersebut bisa dikatakan radikal atau militan. Yang jelas, kelompok tersebut sangat mengerikan.

Mereka, kelompok tersebut bersuka ria dengan menembaki orang-orang setelah melakukan ibadah shalat Jum’at. Kelompok macam apa yang tega melakukan kekejian saat di mana orang lain sedang mengadu kepada Sang Pencipta?

Memang sampai saat ini belum diketahui siapa yang melakukan kekejian tersebut. Sinyalir terdekat mengarah ke Ikhwanul Muslimin atau Al Qaeda. Namun, kedua kelompok tersebut justru mengutuk apa yang terjadi pada masjid di Sinai Utara.

Lalu siapa yang melakukannya? Hal rasional yang paling memungkinkan jawabannya adalah ISIS. Ya, kelompok tersebut tidak mengklaim bertanggungjawab atas peristiwa tersebut. Namun, di sisi lain ISIS tak menolak jika dikaitkan dengan perlakuan keji tersebut.

Jika memang ISIS melakukannya, apa motifnya? Apa karena masjid tersebut adalah tempat berkumpulnya sufi yang dalam pandangan mereka boleh dikatakan bid’ah? Atau apakah mereka memang melakukannya demi sebuah eksistensi diri?

Jika alasan kedua yang menjadi pernyataan benar maka mari kita ramai-ramai mengutuknya. Tak perlahan melainkan ultimatum secara keras.

Mereka, para kelompok tersebut dengan lihai meneriakkan kalimat takbir sebelum melepaskan tembakan mematikan. Siapa saja yang saat itu masih berdiri, sudah pasti menjadi korban tewas. Mengerikan.

Lalu apa guna kalimat takbir? Apakah itu adalah legitimasi atau sebuah justifikasi untuk melakukan pembunuhan?

Sungguh, kalimat takbir seakan menjadi makna yang peyoratif. Kalimat yang seharusnya sakral diucapkan ketika hari kemenangan kini justru berubah menjadi perilaku kekejian.

Tentu, kita tak hanya menjumpai kalimat tersebut di Mesir. Indonesia, salah satu negara mayoritas muslim pun mengalami hal serupa.
Kalimat takbir seakan menjadi kalimat pembenaran. Digunakan untuk melakukan eksekusi sekaligus persekusi. Tentu, itu digunakan sebagai legitimasi ‘kemenangan’ mereka.

Lantas, jika mereka menganggap itu sebuah kemenangan, apakah korban menganggap kalimat tersebut menjadi sebuah kalimat keji?

Bisa jadi.

Saya tak menampik beberapa teman seakan tampak ngeri jika mendengar kalimat tersebut. Apalagi setelah itu ditambahkan dengan kalimat “Bunuh”,”Bakar”,”Bungkam”.

Beruntung, di Indonesia tak sampai ada peristiwa pembunuhan. Sekeras-kerasnya teriakan tersebut paling banter hanya sampai level pengucilan atau yang mengerikan sampai pengusiran.

Dan itu jamak terjadi di Indonesia.

Bagaimana dengan Mesir? Pembunuhan merupakan hal yang biasa. Terlebih dalam empat tahun terakhir ini.

Korbannya tak hanya kaum minoritas yaitu Kristen Koptik melainkan juga kaum mayoritas seperti kaum Muslim. Tak hanya polisi atau tentara yang menjadi korban melainkan ulama pun menjadi tawanan.

Yang mengerikan adalah mereka, kelompok tersebut melakukan penawanan kepada ulama hanya karena masalah “pemahaman” yang berbeda. Jika ulama tak sanggup memenuhi permintaan kelompok tersebut maka hasilnya lebih mengerikan. Pembunuhan.

Kejam? Iya. Tak punya hati nurani? Jelas. Lalu merasa benar? Sudah pasti.

Dan ini yang jelas membahayakan bagi generasi muda selanjutnya.

Bagaimana jika kaum muda baik di Mesir maupun Indonesia mendengarkan sebuah kalimat yang bisanya digunakan untuk memuji Sang Pencipta namun terdengar seperti kalimat legitimasi untuk perlakuan tidak baik?

Inilah yang sepatutnya dikhawatirkan. Kita tak bisa mengelak bahwa ada pergeseran makna. Kita tak bisa bertindak jika ada peningkatan tindakan. Yang ada, seringkali kita diam. Tak berani bergerak lebih banyak.

Saya khawatir. Dan mungkin kamu merasakannya juga. Akan ada suatu saat di mana berkumpulnya massa untuk bergerak dalam satu komando memekikkan kalimat tersebut. Bukan untuk merayakan hari kemenangan melainkan untuk melahirkan sebuah negara baru. Bahkan gerakan tersebut mungkin sedang terjadi. Dan kian masif.

Melegalkan segala cara demi kebenaran sekelompok kaum, apalagi dengan menggunakan kalimat agung, sungguh merupakan bias pergerakan sekaligus makna.

Saya tak habis pikir. Mengapa mereka dengan mudahnya menggunakan embel-embel kalimat tersebut demi alasan pembenaran untuk melakukan tindakan. Dan justru melahirkan kebencian. Bukannya meraih simpati melainkan menghasilkan antipati.

Kasihan, jika ada sekumpulan manusia yang memang bergerak melakukan takbir dengan tulus dan ikhlas, mengadu kepada Sang Pencipta sembari berkeluh kesah namun kini dianggap aneh dan berbeda.

Kasihan, jika ada sekumpulan manusia yang melakukan takbir karena merayakan kemenangan atau kesenangan setelah meraih hasil yang baik atau kado terindah namun kini dianggap melakukan tindakan persekusi.

Sungguh, jika tak ada media sosial yang mencantumkan “tolong bantu kami dengan mengganti logo Mesir di profil kamu” maka mari kita giatkan dengan sebuah perlawanan.

Karena kata adalah senjata. Maka sebaik-baiknya melawan adalah menggunakan tulisan. Sebarkan kebenaran dengan keragaman. Karena keragaman adalah kunci untuk menghormati perbedaan.

Salam Perdamaian.

Sebuah Cerita Tentang Barista

Tema kali ini tentang barista. Khususnya perempuan. Setelah membaca tulisan teman-teman, saya juga jadi bertanya-tanya kenapa barista selalu identik dengan lelaki?

Sampai hari ini, saya masih belum mampu menjawabnya. Barangkali, jika teman-teman ada yang mengetahui, bisa beri komentar di link saya, nggih.

Saya cuma mau cerita tentang sebuah pengalaman bersama teman-teman saya saat mencicipi kopi di Malang.

Saat itu, kami~yang saat itu~masih menjadi jomblo lapuk ingin menjajal sebuah kedai kopi di bilangan Soekarno Hatta. Kebetulan, kedai tersebut baru buka seminggu yang lalu.

Sebenarnya, kami ingin ke sana bukan karena hasrat mencoba kopi melainkan bertemu dengan seorang barista~yang konon~satu-satunya barista perempuan di Malang.

Mulanya, saya agak skeptis. Apa bisa seorang perempuan menjadi barista? Apa bisa perempuan membuat kopi? Sendoknya yang bergoyang duluan atau cangkirnya yang bergoyang terlebih dahulu?

Entahlah.

Jadi, begitu kami masuk, langsung saja memilih tempat duduk yang berada di pojokan. Supaya kami leluasa untuk melihat secara lamat-lamat sang barista tersebut.

Rambutnya ikal. Sebahu. Ia memakai jam tangan di pergelangan tangan kiri

Kami memesan kopi tubruk. Sengaja. Karena ga begitu paham kopi yang enak itu bagaimana. Kopi ya kopi. Mau dibuat gimana, bagi kami warnanya adalah hitam.

Kopi disajikan. Diminum secara perlahan. Kemudian salah satu teman kami mengajak bermain kartu samgong. Yang nilainya paling kecil wajib berkenalan dengan si barista itu.

Ini menarik. Beberapa teman kami~saat itu kami berenam~adalah orang-orang yang canggung saat berkenalan dengan wanita. Okta, salah satu teman saya adalah anak yang paling grogi. Jangankan berkenalan, menatap mata seorang wanita saja membuat wajahnya menjadi ungu merona.

Permainan dimulai. Tak butuh waktu lama karena permainan samgong hanya sebentar. Paling 5 menit. Dan sudah saya tebak, Okta mendapat nilai terendah. 19.

Alhasil, ia pun harus berkenalan dengan si barista tersebut. Ia maju ke meja sang barista. Berdiri. Dengkul kirinya agak gemetar. Saya berani bertaruh, lewat enam menit, air akan mengalir dari celananya. Itu menjadi sebuah kebiasaannya.

Dugaan saya salah. Ia terus berdiri. Sekarang kaki kanannya ikut gemetar. Mukanya menunduk. Ia berdiri selama hampir 21 menit.

Karena tak kunjung berkenalan, seorang teman memanggil Okta. Kemudian, Okta kembali ke meja kami.

“Kok kamu ga jadi kenalan?” tanya teman A.

“Lha, kan aku sudah ke barista?” jawab Okta sembari berbalik tanya.

“Lho, lha iya. Kok kamu ga bercakap dengan baristanya? Kan peraturannya kalo kalah harus kenalan.” sergah saya.

“Eh, kenalan ya? Aku kira tadi kalian menyuruh aku untuk berbaris. Lha kalian tadi suruh aku kesana dengan sebuah perintah kan? ayo ke baris, Ta! Ya aku berbaris saja!?”

“Kenalan dengan barista. Bukan menyuruh kamu untuk baris, ta. Duh!”

Pembicaraan terhenti. Kemudian kami tertawa ngakak. Betapa sebuah kalimat jika tak diungkapkan dengan tepat maka hasilnya menjadi lain.

Dasar Okta. Pethuk kok tujuh turunan.

Merasa Kreatif, Micin Saja Tak Punya

Micin. Dalam KBBI V, micin berarti vetsin. Sedangkan vetsin berarti bumbu penyedap. Biasanya, vetsin ditambahkan ke dalam makanan supaya makanan lebih enak, sedap, dan menggigit.

Lalu bagaimana jika vetsin dimasukkan ke otak?

Jika dimaknai secara denotatif, tentu tidak mungkin. Tapi bagaimana jika dimaknai secara konotatif?

Nah, mungkin ini yang menjadi problematika.

Kata micin makin populer karena disematkan dalam sebuah generasi. Beberapa penelitian mengatakan bahwa kamu yang lahir di tahun 2000an termasuk generasi micin.

Saya ndak ngerti mengapa patokan awal di tahun 2000. Bisa jadi pergantian nama generasi karena pergantian abad. Atau bisa jadi pemberian nama generasi micin berdasarkan pergantian dekade.

Toh, itu tak menjadi soal.

Yang perlu diperhatikan adalah generasi micin merupakan generasi ideal di masa yang akan datang. Pembawa perubahan. Penggerak zaman. Pencipta keadaan.

Kamu bisa lihat bagaimana generasi micin yang mampu beradaptasi media sosial dengan sangat baik. Mampu menjadikan media sosial menjadi ladang pemasukan.

Sebagai contoh instagram. Mereka, tak perlu lagi bekerja “nine to five” untuk menghasilkan uang bulanan. Cukup eksis di instagram. Entah sebagai perias foto makanan, pelaku foto wisata hingga menjadi buzzer.

Sungguh kreatif.

Banyak profesi pekerjaan yang dulunya tak terpikirkan, kini sedikit demi sedikit mulai terwujud. Mau gaji 40 juta/bulan? Cobalah eksis di instagram. Tak perlu ikut MLM. Apalagi jika kamu menjadi pegawai negeri. Duh susah kaya.

Generasi yang mengolok-olok generasi micin, sungguhlah bedebah. Mereka tak mampu berpikir jenius layaknya generasi micin. Lebih baik duduk, melakukan pekerjaan berulang kemudian terima gaji.

Ingat? Bangsa ini butuh indeks perekonomian tinggi. Saat ini baru di kisaran 5,2%. Pemerintah berharap indeks perekonomian meningkat setidaknya menjadi 6% di akhir periode Jokowi.

Lalu siapa yang bisa diharapkan Jokowi? Ya generasi micin. Masak mau generasi 2008? Ndak bisa. Generasi 1998? Duh, apalagi itu.

Ingat, cuma generasi micin yang mampu mengimplementasikan harapan Jokowi.

Generasi micin adalah generasi yang mampu beradaptasi dengan globalisasi. Misal, penggunaan bahasa Inggeris. Itu justeru bagus. Menaikkan derajat dan martabat kita di mata internasional.

Mulailah berbicara bahasa Inggeris sejak kecil. Ajaklah orangtua, kerabat, teman dekat maupun sahabat sering-sering berbahasa Inggeris.

Apa kamu tidak tahu kenapa Freeport mampu membelah bumi Papua? Apa kamu tidak sadar kenapa Newmont mampu mengakuisisi Sumbawa?

Ya, itu karena generasi saya bahkan sebelumnya tak pandai berbahasa Inggris. Jadi waktu tanda tangan perjanjian, yang penting nilainya cocok. Jadilah mereka membuat Indonesia menjadi kaya. Setidaknya kepada generasi kita. Sebelum dari kita.

Coba kalo pandai bahasa Inggeris, kita kan bisa mengibuli dunia luar. Mau bukti?

Tuh lihaat, ada orang Indonesia yang sangat pandai hingga menjadi ahli teknik di luar negeri. Dapat penghargaan di mana-mana.

Media kita menjunjung beliyo. Walaupun ternyata dianggap bersalah, setidaknya karena bisa bahasa Inggeris dan mendayagunakan micin dengan baik maka dunia internasional tunduk.

Bukan hanya itu saja. Baru-baru ini, ada mahasiswa yang DO dari salah satu universitas terbesar di Indonesia. Tapi, secara jenius ia mampu melanjutkan studi di negeri seberang.

Tidak hanya S1, melainkan ditawarkan hingga S3. Luar biasa kreatif bukan? Punya penghargaan. Diakui luar negeri pula. Wih apa ga bikin bangga orangtua hingga tanah kampung?

Itu semua karena mereka mampu berbahasa Inggeris. Selain itu, karena mereka sadar, generasi micin adalah tumpuan bangsa. Jadi mereka harus berpikir se-kreatif mungkin.

Menjadikan Indonesia maju. Menjadi harum namanya. Wangi semerbak di mata penguasa.

Jadi buat yang mengolok generasi micin, mereka harus diingatkan. Betul-betul diperhatikan.

Merasa Kreatif, Micin Saja Tak Punya.