Month: April 2016

Arti dari Huruf T

T. Huruf ini menggambarkan perjalanan hidup saya selama 25 tahun. Ada beberapa kata yang dimulai dari huruf T yng cukup berarti pada hidup saya. Diantaranya adalah :

1. Tidur. Perilaku ini adalah hal yang paling saya senangi. Cukup mudah melakukan perilaku ini. Hanya dengan memejamkan mata, cari tempat yang nyaman maka saya akam mudah tertidur. Namun, gara-gara perilaku tidur, saya mendapat banyak masalah seperti ;

a. Ketika menginjak usia 14 tahun, saya selalu tidur setelah pulang sekolah. Pulang jam 1 siang dan baru bangun jam 5 sore. 4 jam lebih lamanya saya tertidur. Ayah saya bahkan harus menginterogasi karena dikira saya telah mengkonsumsi narkoba. Lha, saya sudah kurus dan betah tidur makanya dikira ayah, saya terjangkit narkoba :))))

b. Peristiwa yang satu ini lebih elok lagi. Saat itu saya harus begadang hingga menjelang subuh. Maklum Juventus sedang bertanding. Paginya usai sholat subuh, saya diajak ortu untuk olahraga. Ya karena hari minggu makanya saya diwajibkan olahraga. Walaupun kantung mata sudah mulai lapuk namun karena ini kewajiban makanya saya harus melaksanakannya.

Mengelilingi GSP, makan di depan fakultas filsafsat, dan belanja camilan di Sunmor UGM. Pulang dari UGM, saya masuk ke kamar mandi untuk buang hajat. Tak disangka, ternyata saya tertidur di kamar mandi hingga 2 jam. Ayah mama sudah menangis karena mereka kira saya telah wafat. Lha, pintu dibobol, saya dibangunkan juga takkunjung bangun. Untung kepala saya disiram air, jadinya saya bangun lagi :))))

2. Toilet. Nah tempat ini adalah salah satu tempat favorit saya untuk berkontemplasi. Saya bisa sampe 1 jam lebih hanya sekedar ‘nongkrong’ di toilet. Barang yang selalu saya bawa adalah koran/majalah. Terkadang hape juga ikut dibawa namun karena pernah kecemplung makanya saya trauma.

3. Tina-tini. Mungkin anda terasa asing mendengar kata ini. Ya, kata-kata ini melekat pada diri saya ketika saya masih menjadi mahasiswa di Malang. Ndak ngerti juga asal muasal kata tersebut. Pokoknya, ketika saya menjabat sebagai pengurus pada organisasi mahasiswa ekstra, saya sering dianggap melakukan tipu-tipu. Tina-tini disebut dengan tipu sana tipu sini. Saya dianggap paling ahli dalam mengelabui kawan maupun lawan bahkan junior atau senior. Sampai saat ini, saya masih dianggap pakar tersebut. Bahkan 2 bulan sebelum menikah, saya sampai dikunjungi junior-junior untuk belajar Kajian Tina-Tini. Huuft.

4. Temanggung. Nah Temanggung adalah kata yang sangat berarti dalam hidup saya. Boleh dibilang karena Temanggung akhirnya saya mendapatkan jodoh. Sebelumnya yang saya tahu dari Temanggung adalah Bakso Uleg dan lirik lagu ‘Temanggung Udane Deres’. Namun ternyata Temanggung memiliki sesosok perempuan yang bernama Novia. Novia lah yang kemudian menjadi istri saya. Tak heran Temanggung memiliki slogan Temanggung Bersenyum. Karena Temanggung selalu menghadirkan senyuman bagi siapa saja yang pernah singgah di kota ini.

Itu dia, huruf T yang berkesan bagi Moddie. Well well well..

Panasnya Korupsi dan Pedasnya Cabe di Indonesia

Kamu pecinta makanan pedas ? Penggila cabe ? Penggila lombok ? Pernah lomboken (kondisi ketika kamu selesai makan makanan pedas maka tangan terasa kepanasan) ? Kalo anda suka pedas berarti anda memiliki sifat sabar yang cukup tinggi.

La kok iso ? Bukannya seharusnya muntab atau ngamuk ?

Coba kamu tanya orang-orang luar negeri yang pernah ke Indonesia pasti mereka selalu bilang…

“Wah orang-orang Indonesia itu selalu ramah.”

“Orang-orang Indonesia itu jika diminta bantuan selalu tulus.”

Kamu pasti pernah bukan menjumpai kalimat seperti itu? Entah di jalanan, kafe, ruang seminar, toilet, bahkan mungkin di pemakaman umum. Tau alasannya ? Ya itu karena orang-orang Indonesia pecinta makanan pedas !!!

Coba kamu lihat di setiap warung atau kedai, pemiliknya pasti akan menyediakan sambal, atau saos, kalo ndak ada ya mentok-mentoknya kudapan cabe ijo.

Sekarang, hampir setiap kota di Indonesia pasti banyak warung atau kedai yang menyediakan makanan pedas. Persamaan dari setiap warung tersebut mereka sama-sama menggunakan bahan cabe. Perbedaannya hanya terletak di nama warung dan level pedas.

Contoh di Malang. Ada Mie Setan. Mie pertama yang berani menyajikan buuanyak cabe di setiap levelnya. Level 1 aja ada 25 cabe. Bayangkan jika kamu makan mie setan dengan level 3. Mungkin bibir kamu jadi sejontor-jontornya mas Agus Mulyadi.

Ada lagi Mie Tom Cat di daerah Jl. Soekarno Hatta yang menyajikan level PAUD sampai Profesor. Lek awakmu isok mangan mie tom cat tekan level profesor, mesti wetengmu teko aluminium (Jika kamu bisa makan mie tom cat sampai level professor, pasti perutmu terbuat dari aluminium).

Lain Malang, lain Jogja. Meskipun kelihatannya makanan Jogja ini manis namun jangan salah bahwa SS (Spesial Sambal) pertama kali ada di Jogja. Tepatnya di lesehan area dekat Graha Sabha Pramana UGM. Slogannya bahkan luar biasa. Kalo sambal nggak pedas maka garansi uang kembali. Hebat bukan. Ada lagi Penyetan Mas Kobis atau Oseng-oseng Mercon. Dua warung makan yang menjadi santapan pedas bagi masyarakat Jogjakarta. Kalo itu pedesnya tergantung selera. Tapi konon ada yang pernah mencoba sampai 100 cabe. Saya ndak bisa mbayangkan berapa kali dia harus PP ke toilet. Huft.

Uniknya, mereka yang suka makanan pedas adalah orang-orang yang jarang untuk muntab. Bahkan mereka justru tertawa riang, gembira, dan yang jelas ndak galauan kayak kamu. Ada yang bercucuran keringet tapi bukan nangis sedih melainkan nangis bahagia. Mau muntab gimana ? La wong mereka lebih sibuk cari minuman anti pedas. Biasanya es teh/es jeruk buat pereda kepedasan. Jadi yaa ndak sempat buat ngamuk.

Nah, kalo orang yang suka ngamuk kayak di tipi-tipi itu gimana ? Ya bisa dipastikan mereka ndak suka makanan pedas. Orang-orang yang suka korupsi pasti juga ndak suka makanan pedas. Lantas apa hubungannya ? Begini lho,

Orang-orang yang suka ngamuk di tipi-tipi pasti pikirannya emosi, kacau, dan panas. Kalo mereka sudah panas ndak mungkin makan cabe. Wong, cabe aja bikin kepanasan. La kalo ngamuk+suka makan pedas ? Wah RSJ bisa tambah penuh bosss..

Orang-orang yang suka korupsi gimana ? Ya jelas ndak suka makanan pedas boss. Wong, orang-orang tersebut suka makan “uang panas”. Jadi ya nggak mungkin makan makanan pedas. Kalo mereka udah doyan korupsi njuksuka makanan pedas ? Buang aja ke laut biar jadi asin.

Jadi saran saya kepada bapak/ibu yang suka ngamuk dan doyan korupsi, wes tho, lebih baik mencoba makanan pedas. Sapa tau karena sudah pernah mencoba makanan pedas, maka otak dan perilakumu menjadi sabar dan suka tertawa. Percaya deh, pedas dan panasnya cabe itu tidak seperti panasnya neraka. La kalo pedas dan panasnya cabe, taekmu itu ujung-ujungnya dikeluarin di toilet trus pantatmu disiram deh pake air dingin. La kalo panasnya neraka ? Mungkin panasnya bisa lebih dari tujuh turunan. Ndak cuma pantat, melainkan gigimu bahkan pentilmu ya bakal kepanasan.

Nah, maka dari itu cobalah makan makanan yang telah saya sebutkan. Sekali lagi, sapa tau orang-orang tersebut menjadi penyuka makanan pedas maka meminimalisir kegiatan  orang-orang ngamuk dan menekan angka korupsi.  Bosen woy tiap hari liat telenovela gak selesai-selesai !!! Sinetron Tersanjung aja ada batasnya kok.

Kalo rang-orang tersebut ndak pengen juga mencoba makanan pedas ? Duh Gusti, tak panggilkan om Tukul biar nyuwek-nyuwek lambemu (sobek-sobek mulutmu).

 

 

 

 

Merenda Tawa bersama Clara

Perjalanan ke Bandung adalah salah satu perjalanan yang tak terlupakan.Disana saya bertemu dengan orang-orang baru dengan semangat baru pula. Disana saya juga saling bertukar cerita dengan teman-teman baru saya. Teman-teman baru yang saya maksud adalah teman istri saya yakni sekumpulan putri yang pernah bermukim di Pondok Pesantren Gontor, sehingga mereka memiliki ikatan kebersamaan selama lebih dari 7 tahun. Mereka menyebut geng mereka dengan Clearesta atau Clara. Belakangan disebut juga Clara Forever, sesuai dengan nama yang ada di grup Whatsapp mereka.

Acara jalan-jalan ke Bandung sejatinya tak pernah terpikirkan di benak saya. Soalnya, saya dan Novia (yang kini telah menjadi istri saya) hanya ingin menghadiri pernikahan Teh Nipong dan Kang Amal di Padalarang (semua mahal jika diartikan ke bahasa jawa). Alkisah, kang Amal dan teh Nipong adalah pasangan yang telah bergelut di ranah asmara selama kurang lebih 2 tahun. Alhamdulillah kini mereka telah sah menjadi pasangan suami istri. Selamat Menikmati …. Hehehe

Jalan-jalan ke Bandung disponsori oleh tim Reisa Garage yang terdiri dari Abraham “Keenan” Hahijary dan Reisa bukan Adriani. Tak lupa kami (maksudnya saya dan Novia) ikut menemani perjalanan dari Jogja ke Bandung. Eh, Tak lupa kita juga ditemani oleh Hiday day dayatus Sholichah yang rela melakukan perjalanan dari Surabaya kemudian singgah di Jogja dan dilanjutkan ke Bandung. Kita melakukan perjalanan dari Jogja-Bandung selama 12 jam. Itu termasuk transit sejenak sebanyak 3x untuk leyeh-leyeh.

Sesampainya di Bandung, kita rehat sejenak di sebuah penginapan sembari menanti timbulnya matahari. Alhamdulillah, kita bangun di waktu yang tepat. Nyubuh, mandi, keramas, gosok gigi dan secepat kilat segera memakai pakaian yang telah disiapkan sejak dari Jogja. Saya pakai baju favorit warna ijo, Aham memakai kemeja putih, dan tiga srikandi (Novia, Reisa, dan Hiday) mengenakan brukat warna peach. Mungkin maksudnya biar dikira Charlie Angels. Meskipun belum sarapan, kita langsung tancap gas ke tempat pernikahan teh Nipong dan Kang Amal di Wisma Ciremai Padalarang.

Ketika tiba di wisma ciremai, acara sedang berlangsung. Saya dan Aham segera ambil posisi untuk melihat bagaimana “tegang”nya Kang Amal di hadapan penghulu. Sebelumnya, saya dikenalkan oleh Novia kepada dua sahabat Clara yaitu Dwiyanti “Setiana Dewi” atau biasa dipanggil Uwie dan Tasiah Nasirah atau biasa dipanggil Ci’a atau Lala (mungkin temennya Dipsy atau Po). Memang unik teman-teman Clara. Nama aslinya siapa, dipanggilnya siapa. Mungkin dengan sapaan tersebut, mereka terlihat lebih akrab.

Ucapan kata SAH yang telah diucapkan penghulu mampu melegakan Kang Amal. Seketika itu juga Teh Nipong keluar dari persembunyian untuk segera bertemu Kang Amal. Acara penuh haru biru. Mulai dari cipokan Kang Amal ke dahi Teh Nipong, hingga tangisan dari bapak ibu kepada kedua mempelai. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan tradisi setempat. Tari-tarian dengan seloroh sedikit jahil dan nakal dipraktikkan kedua penari. Tak lupa prosesi suap nasi tumpeng, lempar permen, hingga gigitan ayam dari kedua mempelai mampu menyedot animo pengunjung hingga ratusan orang.

Ketika prosesi telah usai, nah, sahabat Clara yang lain mulai berdatangan. Dengan menggunakan taksi biru, munculah mami AgusTina – “Toon”, si bongsor Rani”ke Koesherawati”, si mungil Isti “Shidqia” dan sang biduan Renny “Ting-Ting”. Selang beberapa menit kemudian, datanglah sepasang kekasih yaitu Mas Nunuk “Yasser” Arafat dan ibu pejabat Anne “Diah Pitaloka”. Nah, kalo sahabat-sahabat Clara sudah berkumpul, itu tandanya para lelaki lebih baik pindah posisi dan menyantap kudapan-kudapan yang telah disediakan.

Hampir 3 jam lamanya, sahabat-sahabat Clara berkumpul, bersenda gurau dan saling tukar cerita tentang kisah-kisah ma’had. Terlebih mereka setidaknya berswafoto/selfie hampir di setiap sudut ruangan di wisma ciremai. Menjelang acara selesai, kami disuguhkan penampilan epic dari duo penyanyi ngetop yaitu Isti “Shidqia” dan Renny “Ting-Ting”. Acara ditutup dengan penampilan dari mbak penyanyi (lupa namanya) yang menyanyikan lagu Sambalado. Sejatinya, kami ingin membawa zuppa yang terlampau enak. Namun apa daya mengingat pepatah “berhentilah sebelum kenyang dan makanlah sebelum lapar” maka, kami urungkan niat tersebut.

IMG-20160417-WA0002

Clara Forever

Kemudian kami diajak ke tempat oleh-oleh yaitu Kartika Sari. Ruamenya ruarrr biasa. Mungkin karena hari minggu. Setelah itu, kami beralih ke tempat ngopi di daerah perkotaan Bandung. Nama tempatnya “Ngopi Dulu” (Tempat yang pas buat kamu untuk melepas penat dan mengerjakan tugas). Mengingat waktu yang sedikit, kami bergegas mengantarkan Rani dan Ci’a ke stasiun Bandung.

Nah, disinilah tragedi terjadi. Bisikan-bisikan “Malaikat” dari Reisa, Novia, Saya, Aham, dan Hiday membuat Ci’a plin-plan. Dilema antara ingin liburan di Bandung atau bertugas sebagai dokter yang dicitrakan baik di Jogja. Sampai di stasiun, Ci’a masih juga bingung. Namun akhirnya, setelah kegalalauan yang cukup lama, ia memutuskan untuk menukar tiketnya jadi besok malam dengan jam dan kereta yang serupa. Di saat kami akan balik, voila! muncul Uwie yang ternyata dia kehabisan tiket kereta. Jaket yang sempat tertinggal memaksa Uwie untuk balik esok siang. Akhirnya Ci’a dan Uwie ikut ke rombongan untuk beranjak ke tempat berikutnya.

Selepas isya, kami diajak Mas Nunuk untuk meluncur ke Punclut dimana kami akan santap makan malam. Sekilas tempat tersebut mirip Bukit Bintang Jogjakarta atau Payung Malang, namun bedanya terletak pada makanannya. Lalapan dengan aneka macam dedaunan yang wangi ditambah pula sambal pedasnya yang memekakkan telinga dan membuat lidah sempoyongan. Teh hangat, alunan musik jalanan, dan dinginnya Punclut menambah syahdunya pertemuan sahabat Clara pada Minggu malam.

Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam. Kami harus segera istirahat. Kami berpisah dengan rombongan Mas Nunuk, Anne, Tina, Rani, Renny, dan Isti. Cia menemukan gubuk penginapan di daerah Ciumbeuleuit. Lumayan untuk tempat peristirahatan. Setidaknya istirahat malam tersebut lebih panjang daripada hari kemarin. Saya dan istri bergegas tidur. Begitu pula dengan Aham. Akan tetapi tidak bagi Reisa, Hiday, Uwie, dan Lala. Mereka sanggup ngobrol sampai menjelang waktu setan berkeliaran.

Pukul 05.00 pagi, semua awak telah bangun. Luar biasa!. Saya kira perjalanan selanjutnya akan telat. Novia, Hiday, dan Cia bergegas untuk mencari sarapan. Eh, lha kok ternyata sebagian dari mereka hanya bangun kemudian minum air putih dan lanjut tidur lagi. Saya juga ikut tidur lagi. Hehehe. Akhirnya kami semua benar-benar bangun pukul 09.30 pagi. Aktivitas mandi dan sarapan segera dilakukan. Setelah menimbang dan berdiskusi maka perjalanan selanjutnya adalah Float Market dan Farm House di Lembang.

Perjalanan dari tempat penginapan menuju float market cukup dekat. Setidaknya hanya dibutuhkan waktu selama 20 menit. Sesampainya disana kami disuguhkan pemandangan yang cukup apik. Guratan langit yang cerah dan hamparan seperti danau buatan tersaji pada tatapan kami. Sejuk, teduh, dan syahdu. 3 kata itu cukup menggambarkan bagaimana kesan kami saat bertandang ke float market Lembang. Terdapat banyak titik-titik buat berfoto maupun berswafoto di daerah tersebut.

IMG-20160417-WA0003

Kunjungan Clara Forever ke Float Market Lembang

Kami santai sejenak di daerah pemberhentian makanan dan minuman. Uwie, salah satu sahabat Clara sekali lagi harus membatalkan dan memindahkan jadwal travel menjadi malam hari. Hal ini disebabkan rayuan dari Hiday dan Cia yang mengajaknya pulang bareng di waktu bersamaan. Setelah berulangkali menelpon akhirnya Uwie mendapat travel jam 7 malam. Alhamdulillah. Dua jam lamanya bersantai di daerah tersebut. Kami memutuskan untuk pindah ke area farmhouse yang letaknya hanya beberapa ratus meter saja dari float market.

Saya pikir hari senin adalah hari yang cukup sepi karena banyak masyarakat yang pergi bekerja. Namun kenyataannya tidak untuk di farm house Lembang. Parkiran penuh. Kerumunan orang menumpuk di loket. bagaimana tidak? Harga tiket cukup terjangkau. Anda hanya membayar 25rb maka anda gratis parkir, tiket masuk, dan mendapatkan fasilitas antara minum susu atau makan sosis. Wah, harga tiket sebanding dengan tempat-tempat yang dikunjungi. Menurut saya, desain baik eksterior maupun interior sangatlah baik.

Ada rumah-rumah hobbit seperti yang terdapat pada film The Hobbit, gembok cinta tempat anda menancapkan janji, dining house yang cukup cozy, dan tempat penangkaran hewan seperti burung dan domba.

Nah, sebelum kami mengahiri tour farm house kami, ada kisah lucu. Jadi waktu itu, Novia bersama saya sedang mengamati domba-domba yang kebetulan sedang diliput oleh Trans 7 bersama seorang presenter. Nah, entah ide jahil darimana, rasanya saya ingin mengajak teman-teman yang sudah berada di luar untuk melihat domba-domba ber-pampers yang menjadi pemandangan novia saat itu. Seketika saya menghampiri aham dan teman2 Clara yang di luar sembari agak tergopoh “itu lho novia foto sama Reza Rahadian”, tak disangka, dalam hitungan detik Reisa, C’ia, hiday, dan Uwie berlari kencang ke area tempat novia menikmati pemandangannya. Dan ternyata…. Zonk!!!!!. HAHAHAHA. Hanya domba-domba dan seorang presenter yang kita semua tidak tahu namanya siapa. HEHEHE.

Menginjak pukul 16.30, kami beralih lagi ke tempat tujuan terakhir yaitu Trans Studio. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika anda sedang jalan-jalan ke Bandung. Sayangnya, waktu yang kami punya tidak berbanding lurus dengan kebutuhan liburan kami, maka kami hanya lewat dan kemudian masuk ke pusat perbelanjaan. Well, kami cari tempat makan terdekat karena perut sudah berbunyi. Nah, waktu menunjukkan pukul 18.00. Itu artinya kami harus mengantarkan ketiga teman yaitu Uwie, Ci’a dan Hiday. Namun apa yang terjadi  ?

Lagi dan lagi, Ci’a kembali bingung dengan keputusan mau berangkat naik kereta atau ikut di mobil. Berulang kali dia masih bingung sampai tak sadar bahwa stasiun yang dia tuju sudah terlewatkan. Bandung semakin macet. Sedangkan Uwie harus tiba di tempat pemberhentian jam 19.00. Rute yang harus dilalui mengantarkan Hiday kemudian Uwie. Jalannya berkelok dan hanya mengandalkan GPS. Namun, kredit khusus pantas disematkan kepada Boss Aham. Komat-kamit yang keluar dari sahabat-sahabat Clara berupa Shalawat Nabi mampu memberikan resep yang mujarab. Hiday berhasil diantarkan dan Uwie berhasil dipulangkan. Sukses!.

Akhirnya Ci’a terpaksa ikut ke rombongan kami. Aham dan Reisa di depan. Saya, Novia dan Ci’a berada dibelakangnya. Jalanan di tol untuk menembus Jawa Tengah cukup jauh. Hujan super deras dan suasana gelap disertai kondisi jalan licin menambah suramnya perjalanan pulang. Bukannya berdoa untuk keselamatan, malah Ci’a memberikan ‘warna’ dalam mobil yaitu Cerita Horror (kemudian kami mengerti, inilah hikmah ci’a ikut kembali dengan mobil kami).

Cerita yang gelap, suram, dan kelam. Kisah-kisahnya saat menjadi dokter di berbagai rumah sakit menjadikan suasana  disekitar kita lebih dingin dan mencekam. Cerita ci’a seputar anak yang terlahir sungsang, tersesat di kamar mayat, berinteraksi dengan jenazah, dll. Novia dan Reisa menambahkan cerita dengan plot yang lebih ngeri. berbekal khazanah tontonan flm-horror-Thailand-mereka, yaitu; wanita yang selingkuh dengan suami orang kemudian mati dengan mengenaskan. Matinya perempuan tersebut diakibatkan roh istri dari suami tersebut merasuk ke tubuh perempuan tersebut. Saya pun tak mau kalah. Saya menceritakan bagaimana teman saya diculik oleh Mbak Kunti sewaktu saya dan teman saya mengikuti turnamen futsal di Surabaya.

Namun dari semua itu, kisah Aham yang lebih heroik. ia mengaku ditelepon oleh orang yang telah meninggal dan cap tangan ‘anak kecil’ di mobil. Bodohnya cap tangan tersebut ternyata melekat di mobil yang kita tumpangi. Ci’a teriak cukup keras, kaki-kaki Novia langsung beralih ke pangkuan saya, Reisa pura-pura tertidur namun saya dan Aham justru tertawa terbahak-bahak.

Alhamdulillah, walaupun banyak cerita-cerita horror sepanjang perjalanan namun kami semua selamat sampai Jogjakarta. Kami semua tiba di Jogjakarta pukul 05.30 pagi. Perjalanan selama 3 hari membuat saya sangat terhibur. Apalagi dengan karakter-karakter unik dari sahabat-sahabat Clara. Sampai jumpa di lain kesempatan. Jangan lupa mendengarkan lagu “Ingatlah Hari Ini “ dari lagu Project Pop untuk mengenang kisah-kisah di Bandung.

IMG-20160417-WA0004

Papah Moddie dan Bunda Novia

Untaian Cinta Moddie dan Novia (4)

Tibalah acara yang ditunggu-tunggu. Pernikahan saya dengan Novia di tanggal 21 Februari 2016. Perasaan deg-degan, keringat dingin yang memicu adrenalin saya menghinggapi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dibuatkan kopi pada pagi hari hanya saya minum dua tegukan. Diberi kudapan favorit, saya hanya menyantapnya sebanyak 3x. Demi melegakan tenggorokan dan perut, maka saya menghabiskan setidaknya 3 gelas tanggung yang berisi air mineral.

Pukul 06.30, saya beserta orangtua dan rombongan berangkat menuju rumah Novia. Sesampainya di sana,  banyak manusia telah menunggu kedatangan kita baik lelaki maupun perempuan. Saya beserta rombongan bergegas untuk masuk ke dalam rumah sekaligus persiapan menjelang ijab kabul. Tentunya kondisi di dalam rumah sangat ramai. Pelbagai persiapan dilakukan dengan sangat teliti dan matang.

Pembawa acara memulai prosesi acara. Acara demi acara terlewati. Saya hanya bisa berdoa semoga acara inti segera dilaksanakan. Nama saya disebutkan dan dipanggil untuk segera melakukan acara inti (ijab kabul). Deg-degan dan saya hanya berdoa semoga lancar.

DCIM100GOPROG0140649.
Acara ijab kabul

Ijab Kabul Sah. Saya lega dan semuanya lega. Tangis bahagia ada diantara keluarga. Ucapan selamat mengiringi saya dan Novia. Kemudian saya berfoto-foto sejenak dengan keluarga dan teman-teman saya. Setelahnya, saya dan Novia harus berganti pakaian karena resepsi akan dimulai pukul 11.00. Ada kejadian unik. Disaat kami mau berganti pakaian, ternyata Novia lupa menanda tangani buku nikahnya. Kan ndak lucu, sudah sah secara de facto, namun de jure kok belum hehehe.

IMG_3584

Saya dan Novia

IMG_3641

Keluarga Besar Moddie Alvianto Wicaksono

IMG_3655

Teman Moddie dan Novia (1)

Acara resepsi berlangsung selama 3½ jam. Cukup capek namun bahagia karena acara berlangsung sukses dan lancar. Saya dan berterimakasih dengan keluarga besar yang telah hadir di Parakan dan khususnya kepada Hair, Samid, Jarwo, Aham, Reisa, Amal, Nipong, Hiday, Chemi, dan Hana karena dari awal sampai akhir telah menemani acara ijab kabul hingga resepsi. Terimakasih, Syukron, Danke, dan Matur Nuwun.

IMG_4532

Keluarga Besar Novia Rakhma Ramdhani

IMG_4592

Foto Candid

IMG_4600

Team Reisa Garage dan Amirul Hedi

Selesai.

 

Untaian Cinta Moddie dan Novia (3)

Ini bulan Desember. Bulan yang penuh penantian. Bulan yang mana menjadi penentu akankah saya menikah sebelum tesis atau setelah tesis. Tempo lalu, bapak sudah ngendikan bahwa akan mencoba meyakinkan mama saya supaya anaknya dan saya menikah sebelum tesis. Tekad yang cukup kuat dari bapak.

Seingat saya itu tanggal 16 Desember, bapak,ibu, asyhar dan Novia bertandang ke rumah Jogja. Mereka disambut oleh keluarga Jogja dengan ramah dan sopan. Karena sudah cukup malam, maka kami mempersilakan keluarga Parakan untuk segera menikmati hidangan makan malam yang tersedia. Seingat saya, hari itu juga dilangsungkan pertandingan bola antara Arema Cronus vs aaah saya lupa, toh juga tidak penting saya ceritakan.

Selepas menikmati makan malam, pembicaraan baru dimulai, bapak dan ibu saling berhadapan dengan ayah dan mama. Sedangkan saya, Asyhar, dan Novia duduk sembari sesekali melihat pertandingan bola di televisi. Perbincangan cukup alot. Terlebih saling adu argumen antara bapak dengan ayah. Lempar wacana. Mulut sayapun hanya bisa berkomat-kamit sembari membaca doa semoga terjadi solusi yang menguntungkan antara kedua belah pihak. Televisi pun akhirnya dimatikan. Pembicaraan mulai mengerucut. Ayah tersenyum. Bibir mama ikut menyungging. Begitu juga dengan lainnya.

Ternyata bapak ingin meyakinkan kepada keluarga Jogja bahwa apakah benar – benar serius untuk meminang anaknya. Ketika ayah menjawab serius, maka ada baiknya segera dilaksanakan mengingat usia, anak perempuan satu-satunya, status haji, dan masih banyak hal lainnya. Ayah berpikir sedikit lebih dalam hingga akhirnya menanyakan kepada saya apakah benar-benar siap menjadi suami dari Novia. Saya jawab “Insya Allah Saya siaaap”

Setelah perbincangan detail tersebut, obrolan lebih mengalir secara santai. Santainya obrolan bukan berarti perbincangan serius usai. Masih ada pembicaraan serius namun lebih sifatnya dibawa ke arah informal. Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam. Meskipun kota Jogja baru saja menggeliat terlebih saat itu adalah malam minggu namun keluarga Parakan ingin pamit karena waktu sudah larut malam. Semua tersenyum. Saya berterimakasih begitu pula dengan Novia.

Hari-hari berikutnya lebih krusial. Menjelang Januari, saya dan Novia segera menentukan tanggal pernikahan. Pilihannya kalo ndak Februari atau April mengingat kemungkinan Bapak akan kembali ke Mekkah sekitar Januari atau akhir Maret. Setelah berdiskusi dan membolak-balikkan tanggal, maka kami sepakat untuk memilih tanggal 21 Februari. Tanggal yang nantinya akan menjadi sejarah bagi kita. Deg-degan rasanyaaa ..

Pelbagai persiapan segera dilakukan. Konsep acara segera dicanangkan. Keluarga Jogja kembali ke Parakan untuk mendiskusikan bagaimana acara akan dilangsungkan. Diskusi cukup panjang. Di rumah Parakan selain ada keluarga Novia, ada pula keluarga bulek Nurul yaitu adik dari ibunya Novia. Bapak memberitahukan kepada semua bahwa konsep acara dibuat sederhana. Hanya akad nikah atau ijab qabul. Jadi kegiatan inti hanya berlangsung 2 jam. Mendengar pernyataan bapak, saya lega karena tidak harus melewati perayaan yang epik.

Meskipun begitu, ayah dan mama masih terus bertanya apa benar hanya mengadakan ijab qabul mengingat relasi bapak yang cukup banyak. Namun berulangkali bapak menyatakan bahwa kegiatan akan berlangsung sederhana. Mendengar keyakinan dari bapak, maka kami dari keluarga Jogja juga akan mengadakan kegiatan seperti di Parakan. Bukan ‘ngunduh mantu’ namun hanya memperkenalkan mempelai perempuan kepada khalayak ramai. Tepatnya di tanggal 28 Januari. Undangan pun sifatnya terbatas. Setelah semua sepakat akan hal tersebut maka kami keluarga Jogja balik ke Jogja untuk mempersiapkan segala hal.

Saya dan Novia segera menyiapkan beberapa hal. Mulai dari pakaian di Parakan, di Jogja, undangan, beserta sajian makanan baik di Parakan maupun di Jogja dan juga tamu undangan. Kami mempersiapkan pakaian sedini mungkin. Ada beberapa teman Novia yang diberi pakaian khusus. Begitu pula dengan teman-teman saya. Khusus undangan, kami mempercayakan kepada tim dari Reisa Garage. Setelah semua ditata dan dipersiapkan secara matang maka selebihnya biarlah Tuhan yang menentukan.

Hari berganti hari. Memasuki akhir Januari persiapan dilakukan lebih matang. Undangan sudah jadi. Begitupula dengan pakaian yang sudah sedemikian ganteng dan cantik buat kami berdua. Tiap-tiap detail acara sudah matang. Tinggal menunggu hari H. Kami lebih banyak bertawakkal kepada Allah SWT. Akhirnya Novia pun balik ke Parakan untuk menyiapkan segala hal. Sesampainya di Parakan, tiba-tiba kabar yang mungkin bisa dibilang mengagetkan semua termasuk saya. Konsep acara berubah total !!!

Mak gelegar. Hari tinggal hitungan hari namun konsep acara berubah total. Bisa dibayangkan betapa bingungnya saya dan Novia pada saat mendengar kabar tersebut. Undangan sudah siap namun ternyata undangan harus ditambah dan ada beberapa yang perlu diperbaiki. Pakaian di Parakan ikut berubah. Akhirnya bapak luluh dan mendengar dari para sesepuh untuk mengadakan resepsi. Gedung pun harus segera dicari, dekorasi panggung, pakaian manten, dan lain-lainnya.

Alhasil semua terlihat bingung. Sembari dikejar waktu persiapan disegerakan. Jogja-Parakan, Parakan Jogja. Komunikasi semakin intensif. Alhamdulillah, kok ya segala sesuatu seperti dimudahkan. Meskipun ada yang tersendat namun semua berjalan lancar. Namun sekali lagi, ada yang berubah. Pakaian manten yang sudah dipesan tiba-tiba diganti oleh bapak h-4. Saya pun belum sempat mencoba pakaian tersebut. Fitting tidak dilakukan. Saya hanya bisa pasrah. Begitu juga dengan ayah dan mama.

Uniknya, sodara-sodara dari mama banyak yang ingin datang ke Parakan. Ingin merasakan dinginnya Parakan. Persiapan harus dimaksimalkan semaksimal mungkin. Pelbagai persiapan sudah dilakukan. Tinggal mental yang berbicara. Saya harus akui kurang cukup tidur karena banyaknya pergantian konsep dan acara. Tapi sekali lagi Allah bersama kita dan berharap baik di tanggal 21 Februari dan 28 Februari cuaca cerah. Kalo pun hujan lebih baik selepas acara selesai. Hehehe.

Bersambung…