Month: March 2017

Larangan dalam aksi 313

gudang-mobile.blogspot.co.id

Jumat adalah tanggal baik. Bagi sebagian masyarakat Indonesia percaya bahwa Jumat adalah hari paling baik. Apalagi hari Jumat tanggalnya juga ciamik nan menggelitik. 313. Tentunya banyak yang berharap semoga hari Jumat benar-benar memberi kebaikan untuk semua.

Di lini masa sudah beredar bahwa akan ada aksi 313. Banyak yang bilang aksi 313 adalah kelanjutan dari aksi 411, 112, dan 212. Menarik memang. Secara kebetulan beberapa saat yang lalu aksi juga terjadi di hari Jumat. Dan kini kembali aksi serupa akan berulang pada hari Jumat.

Kalo begitu, akankan lebih baik menerbitkan surat edaran atau bahkan surat keputusan jika hari jumat diperingati sebagai hari aksi? Ah itu biarkan saja urusan pemerintah. Toh kita pun hanya bisa menekan pemerintah melalui situs change.org

Daripada mengutak-atik antara angka dan hari, saya akan memberi tips kepada kalian. Apa itu? Ya. Tips bagi kalian yang akan mengikuti aksi 313.

Kali ini, saya akan memberi tips, hal-hal apa saja yang tak boleh dilakukan saat aksi 313. Mari kita simak dan jelenterehkan.

1. Jangan lewat

Ini penting bagi kaleyan semua. Jangan sekali-kali melewati jalan-jalan utama yang dilalui massa aksi. Jelas, disana akan bergerombol massa aksi yang diperkirakan lebih dari 7 juta manusia. Itu belum termasuk tumbuhan macam pepohonan dan hewan semut atau kucing.

Bayangkan jika mereka berkumpul di satu atau beberapa titik. Berapakah jumlah makhluk hidup yang hadir dalam aksi 313? Tentu akan menjadi sangat muacet dan padat.

Pagi hari saja, Jakarta sudah membawa kemacetan tanpa ada aksi massa. Lha ini. Sudah aksi massa ditambah lagi hari Jumat. Hari terpendek bagi umat manusia yang bekerja kantoran di seantero Indonesia terlebih Jakarta. Jelas pengguna jalan tambah kemrungsung dan lebih mengerikan.

Saran saya, anda jangan melewati jalan darat. Lebih baik lewat jalan udara. Masak situ kalah sama anak mantan menteri yang hampir telat datang sekolah kemudian naik helikopter? Ditirulah.

Minimal jika ga bisa beli atau nyewa helikopter. Kamu bisa naik forklift trus loncat kesana kemari. Mumpung Jakarta lagi bangun MRT.

2. Bawa senjata 

Wa ini jangan macam-macam. Lebih baik anda membawa sari roti yang cukup mengenyangkan perut. Atau bawa air mineral 240 ml.

Jangan sekali-kali bawa senjata. Apapun bentuknya. Baik senjata tumpul maupun senjata tajam. Baik yang lonjong maupun yang bergerigi. Baik yang padat maupun yang pipih. Jangan sekali-kali dibawa.

Lha situ sudah siap berhadapan dengan satpol PP? Polisi? Atau tentara. Ingat yang boleh membawa senjata ya cuman pihak yang berwenang. Lha kaleyan siapa? Massa aksi saja bung. Belum tentu juga dapat izin dari mereka. 

Terlebih lho ya, kaleyan membawa senjata macam palu dan arit. Lha kaleyan mau bikin rumah? Kok pake palu? Atau kaleyan mau tanam padi dan jagung? Kaleyan lupa ini di jalan! Bukan di ladang!

Apalagi jika kaleyan ternyata bawa kedua alat tersebut kemudian ditaruh di jalan. Lantas disilangkan. Waduh, sudah aksi terancam tak dikasi izin, eh malah berujung ke hotel prodeo. 

Lho kok bisa? Tanya saja pada janggut yang bergoyang.

3. Menggunakan jersey

Nah ini harus diperhatikan dengan benar dan seksama. Jangan sekali-kali mengikuti anjuran tersebut. Sudah jelas bukan bahwa yang dipakai adalah gamis, baju koko, atau pokoknya pakaian yang berwarna putih.

Jadi jangan pernah memakai jersey Arema, Persija, Persebaya, atau Persib. Sudah jelas mereka berwarna biru, oranye dan hijau. Apalagi kan itu jersey sepakbola. Bukan pakaian aksi. 

Tapi nanti anda bisa berkilah bukan? Bukankah orang Indonesia memang tercipta untuk berkilah dan bersilat lidah? Pasti ada saja nanti orang yang memakai jersey putih.

Kalo anda memang ngotot begitu dan keras kepala tak berujung, ya sudah. Tak apa-apa. Saya beri toleran. Tapi tolong sekali saja jangan mengabaikan pesan saya yang satu ini. Serius. Tolong disimak.

Jangan sekali-kali pakai corak yang kotak-kotak. Kenapa? Ya karena bumi itu bulat. Kalo kotak ya harus penjara. Ya kan?

4. Jangan chat dengan selingkuhan

Kalo saran yang ini juga cukup penting. Masa pemimpin atau masa aksi sedang mengobarkan semangat api perjuangan. Melontarkan kata dan kalimat. Bahkan sampai menata kata-kata. Eh kaleyan lagi main gawai.

Ya dikira nanti kaleyan adalah penyusup. Semua orang sibuk mengepalkan dan mengacungkan tangan kiri, eh, kanan sambil berteriak. Weh, malah kaleyan sedang asyik mojok sambil pegang gawai.

Iya sih, kaleyan mungkin bisa berkilah kalo sedang mengirimkan pesan berantai agar khalayak semakin ramai mengikuti aksi. Atau mungkin sedang menata kata dan memberi untaian kata supaya terlibat aksi. Tak apa-apa.

Tapi tolong sekali lagi, kalo memang kaleyan melakukan hal demikian maka cukup sampai disitu saja. Jangan lebih. Memang beberapa orang terlahir memiliki kelebihan bahkan diantaranya berlebihan.

Berlebihan yang bagaimana? Jangan sekali-kali saat aksi sibuk chat dengan selingkuhan. Kelewat batas bung. Ini namanya demokrasi kebablasan.

5. Berciuman

Apa perlu dijelaskan tentang tips terakhir? Ya mikir dong. Ini aksi jilid sekian bukan aksi perayaan LGBT! 

Pokoknya jangan sampe melakukan kejadian bodoh. Melakukan di dunia maya saja sudah bisa menjadi viral hanya dalam beberapa menit saja. Palagi kaleyan melakukan di dunia nyata. Waduh dalam sepersekian detik maka besok wajah kaleyan akan terpampang di media massa. Sudah dihujat, dihina ditambah lagi yang sekarang lagi ngetren. Dibuat meme.

Nanti bisa dibuat begini. “Di saat kami lagi aksi jilid sekian, kaleyan malah asyik berciuman”. Duh. 

Ya sudah. Itu adalah tips yang tidak boleh dilakukan saat kaleyan ikut aksi 313. Ingat! Tidak boleh dilakukan. Ini bukan makruh. Tapi haram!

Boleh kan bilang haram? Masak dari kemarin kafir melulu.

Advertisements

Tak ada Minyak di Masa Depan

Kemarin sore, saya pergi ke warung langganan untuk beli gorengan. Sekedar ​kudapan untuk menemani saya menonton film di tengah malam. Sesampainya di warung tersebut, sang ibu penjual berkata, “Mas, harga gorengannya naik ya.”

“Lho, kenapa naik bu?” Tanya saya.

“Harga minyak lagi naik mas, makanya saya terpaksa menaikkan harga gorengannya.” Ujar ibu tersebut dengan wajah sedikit memelas.

Saya sedikit tertegun. Belum sampai 1 minggu, harga cabai telah meroket. Kini, masyarakat kembali dibuat pusing dengan harga minyak yang juga ikut-ikutan naik. Biasanya, saya membeli gorengan 2000 dapat 3, kini naik menjadi 2500 baru dapat 3. Sepintas mungkin kenaikan tersebut tak seberapa. Tapi bagi saya dan masyarakat kecil lainnya, kenaikan harga tersebut membuat otak harus lebih banyak berpikir. 

Minyak memang menjadi kebutuhan umat. Tak hanya bagi masyarakat kecil. Kaum aristokrat hingga negara kelas kakap pun masih membutuhkan minyak. Kita tentu masih ingat beberapa saat lalu kedatangan Raja ‘Minyak’ Salman berhasil menghebohkan jutaan pasang mata masyarakat Indonesia. 

Kedatangannya dalam rangka menanamkan investasi di Indonesia. Sang Raja sadar bahwa Arab Saudi tak bisa menggantungkan harapannya ke komoditi minyak. Diprediksi minyak akan mulai langka pada 40 tahun ke depan di Arab Saudi. Tak heran, Raja Salman bersafari ke seluruh dunia. Dan yang paling mencengangkan, beliau ‘rela’ menjual saham Aramco (perusahaan minyak Arab Saudi) sebesar 5% kepada China ataupun Jepang demi kebutuhan hidup masyarakat Arab Saudi. 

Di Indonesia minyak pun menjadi kebutuhan populer bagi masyarakat. Tidak hanya minyak tanah dan minyak goreng saja, melainkan minyak dalam kebutuhan kendaraan bermotor. Dalam hal ini kita sebut sebagai bensin. Mungkin dari ratusan negara, Indonesia adalah salah satu negara yang masih boleh memperjualbelikan premium secara bebas.

Tapi tentu saja, premium pun dibatasi. Kita bisa melihat beberapa pom bensin mulai tidak menyediakan premium. Beberapa diantaranya bertuliskan “dilarang membeli premium dalam bentuk jirigen.”

Bahkan para penjual eceran pun mulai tak lagi menyediakan premium. Lebih banyak menyediakan pertalite atau pertamax. Sesungguhnya ini menjadi sesuatu yang bisa disambut positif melainkan juga negatif. 

Dibilang positif, karena pada akhirnya kita harus sadar bahwa minyak bukanlah sumber daya alam yang akan terus ada sampai cicit-cicit kita hadir. Adakalanya minyak akan langka dan menjadi punah. Mungkin kita harus meniru Maroko atau Tunisia yang mulai mengganti sumber daya minyak menjadi sumber daya angin. 

Dibilang negatif, karena masyarakat kita masih sangat ketergantungan terhadap minyak. Tak ada premium atau harga premium naik, kita bisa protes 7 hari 7 malam. Bahkan segala macam makanan apapun yang kita makan semuanya berhubungan dengan minyak. Terutama gorengan.

Mungkin kita bangga dengan berita macam Pertamina yang berusaha mengakuisisi perusahaan asing Exxon ataupun Total. Bahkan digadang-gadang mulai tahun 2018, kedua perusahaan itu bakalan angkat kaki dari Indonesia. Banyak yang bilang ini langkah berani dari Pertamina. Tidak memperpanjang kontrak dan lebih baik mengolah minyaknya sendiri.n

Tapi apa benar begitu kenyataannya? Mungkin mereka sadar bahwa minyak di Indonesia memang sudah menuju level langka. Dengan alasan diakuisisi Pertamina, maka kedua perusahaan tersebut enyah dari bumi pertiwi. Padahal sudah banyak pakar minyak berkata bahwa Indonesia seperti Arab Saudi. Minyak menjadi langka dalam jangka waktu 40 tahun ke depan. 

Apakah ini persoalan serius? Bisa iya bisa tidak. Ya tergantung kita memaknai keberadaan minyak. Bisa iya, karena orang-orang yang hidup di perkotaan lebih sering menggunakan minyak dalam bentuk apapun. Bahkan cenderung berlebihan. 

Tapi jika kamu tinggal di desa, maka ada atau tidaknya minyak tak berpengaruh signifikan pada kebutuhan hidup rumah tangga. Mereka bisa menggunakan kayu bakar dalam hal masak memasak. Mereka bisa menggunakan sepeda kayuh untuk berpergian. Gimana? Jadi benar kan tergantung bagaimana kita melihat minyak akan menjadi seperti apa.

Tapi kalo kita memang benar-benar membutuhkan minyak maka kita bisa mencoba satu hal. Mencoba negoisasi dengan satu orang. Seseorang yang diklaim bisa mengelola minyak dengan baik. Dan konon katanya, orang tersebut levelnya sama dengan Raja ‘Minyak’ Salman. Siapa dia?

Siapa lagi kalo bukan Raja Minyak ‘Poltak’ dari Medan. Ah tapi berharap kepada blio sepertinya hanya menjadi angan-angan saja. Lha gimana? Sudah seperti kutu loncat dan sekarang lebih sibuk mengurusi Pilkada DKI Jakarta.

Ah, era sekarang memang kekinian. Keinginan perut lebih mulia daripada kebutuhan umat.

Berwisata di Klaten: dari Soto Mbah Gito hingga Sabung Ayam

​Suasana Soto Mbah Gito ⊙ Moddie Alvianto Wicaksono

Hingar bingar pilkada yang ramai di seluruh Indonesia membuat kepala saya terkadang terasa pening. Cuitan demi cuitan hingga pernyataan demi pernyataan saling silang dan saling sulut antar warga. Tak hanya pada situasi nyata, melainkan di media sosial. Hal ini yang membuat saya gerah dan muak. Harapan saya pun cuma satu; hentikan segala omong kosong ini.

Di saat lamunan saya mengambang di antara kepulan asap, salah seorang kenalan mengajak saya pergi ke Klaten pada saat hari H pilkada. Ia berencana mengajak saya berkeliling kota Klaten selama setengah hari. Ajakan tersebut langsung saya sambut dengan antusias. Alangkah menarik jika saya mengisi kekosongan pada hari libur dengan berkeliling kota secara gratis cuma-cuma. Apalagi ternyata Klaten sedang tidak dirundung pilkada.

Berangkat pagi hari dari Jogja adalah sebuah pilihan yang tepat. Hanya butuh waktu 1 jam, saya sudah sampai di Klaten. Letaknya yang bersebelahan dengan Jogja dan jalanan yang kosong melompong, membuat perjalanan saya lebih cepat dari biasanya.

Terik matahari menyapa dengan bahagia ketika saya telah sampai pada destinasi pertama. Semesta sepertinya mendukung saya dan beberapa teman untuk menikmati dan menyelami riak air di wahana ini, Pemandian Jolotundo. Letaknya tidak jauh dari kota Klaten. Hanya berkisar 20 menit perjalanan. Jika Anda sedikit bingung, temukanlah petunjuk ke arah Pasar Jatinom, Anda akan cepat menemukan tempat ini.

Kenalan saya berkata, “ini airnya asli dari pegunungan. Rasakan kesegarannya, Mas.” Perkataannya mengingatkan saya pada sebuah iklan produk yang berlatar belakang suara Cak Lontong.

Tepat sekali pernyatannya. Ketika jempol kaki kiri menyentuh air, seketika rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Terlebih ketika kepala terendam seluruhnya di Jolotundo, mak brrrr rasanya. Sejuk dan dingin berkelindan menjadi satu.

Wahana pun penuh. Mulai dari orang tua, muda, orang dewasa, hingga anak kecil berkumpul di tempat ini. Wajar, karena ini hari libur. Harga masuk ke pemandian Jolotundo cukup murah yaitu 3 ribu saja. Di area sekitar kolam pun banyak penjaja makanan dan minuman, tentu juga dibanderol dengan sangat murah. Inilah yang menjadi daya tarik orang-orang untuk mengunjungi pemandian Jolotundo. Dan itu baik bagi pariwisata Klaten.

Kalau sudah begini, rasanya kami pun tak ingin cepat usai. Berendam lama-lama demi mendinginkan badan dan menjernihkan pikiran. Bayang-bayang karut marut politik pilkada pun seketika lenyap. Namun, tentu saja kami harus beranjak untuk melanjutkan destinasi lain. Satu setengah jam dirasa cukup.

Setelah berenang dan berendam cukup lama, rasa lapar jelas merongrong di perut kami. Kami langsung beranjak ke Pasar Jatinom. Kami ingin menyantap salah satu soto terbaik di pasar itu. Letaknya tepat bersebelahan dengan pasar manuk (burung) Jatinom, Soto Mbah Gito.

Ada yang spesial dari Soto Mbah Gito. Soto tersebut hanya buka pada saat Legi (kalender Jawa). Jadi dalam sebulan bisa jadi hanya dibuka selama 4x. Dan soto tersebut dipandang orang-orang sebagai soto legenda. Pemiliknya adalah Mbah Gito yang merupakan generasi pertama. Saat kami berkunjung, beliau masih tampak sehat di usia menjelang 90. Terkadang masih melayani pembeli dan bahkan mengajak kami mengobrol.

“Lenggah rumiyin nggih, Nak (duduk dulu ya nak),”ucap Mbah Gito kepada kami.

Warungnya cukup sederhana. Hanya terdiri dari beberapa kursi dan beberapa meja. Peralatan masak pun masih menggunakan kayu. Sesuatu yang jarang ditemui di era saat ini. Dan ini yang menjadi kekhasan dari Soto Mbah Gito.

Anda mungkin kaget. Jika biasanya soto disajikan dengan mangkok ayam jago, kali ini Anda akan mendapatkan piring ayam jago. Dan ini sudah dilakukan sejak warung ini berdiri.

Ketika soto datang, saya kembali kaget. Porsinya cukup banyak. Dan Anda tahu harganya? Hanya Rp10 ribu. Saya sampai menggelengkan kepala. Mungkin kalau soto ini disajikan di daerah ibukota maka harga bisa 2-3 kali lipat.

Kudapannya juga cukup beragam. Tentu yang paling diserbu adalah gorengan. Mulai dari tahu, tempe, bakwan, hingga pisang. Mengapa banyak diserbu? Selain rasanya maknyusss, harganya cukup Rp500 saja per item. Saya kembali menggelengkan kepala sembari tertawa kecil. Seakan tak percaya. Hahaha

Jangan tanya rasanya. Tapi daripada Anda penasaran, perlu saya beritahu. Rasanya enak, gurih, dan mantap surantap. Beberapa teman bahkan harus nambah 1 porsi lagi karena luar biasa enaknya soto Mbah Gito. Dilengkapi dengan remah-remah gorengan yang bertaburan di atas soto, maka tuntaslah rasa lapar yang merongrong di perut kami. Rasanya puas dan bisa dikatakan harga kaki lima rasa bintang lima. Bahkan kalau perlu lebih dari bintang lima.

“Mangke mbok menawi mriki malih, seng isuk rawuhe nggih, Mas (Lain kali kalo datang kesini, lebih pagi ya Mas),” ujar Mbah Gito saat kami ingin bersalam-salaman, pamit, dan berfoto ria dengan beliau.

Ketika kami keluar dari warung Mbah Gito, kami disambut dengan hiruk pikuk penonton. Oh, ternyata sabung ayam. Waw, di saat budaya ini mulai punah. Tampak di Pasar Jatinom, sabung ayam masih dilestarikan. Ayam yang dipilih pun tidak main-main. Harganya pun bisa melonjak jika memenangkan sebuah pertarungan. Ini yang menjadi minat penonton. Sesekali teriak “Ayo” atau pun tepuk tangan menghiasi arena sabung ayam.

“Ini hanya terjadi pada saat Legi, Mas. Dan ini demi kearifan lokal,” ujar Pak Dul yang mengantarkan kami berkeliling melihat arena sabung ayam.

Saya kira itu pernyataan yang tepat. Memang, banyak agama dan budaya yang saling bersinggungan. Ada yang boleh, ada pula yang dilarang. Namun kearifan lokal sejatinya memang harus dijaga dan dikontrol. Hal ini supaya kita sebagai generasi milineal tak tercerabut dari akar budaya Indonesia. Dan Klaten masih menjaga pesona kearifan lokal tersebut.

Kami kemudian diajak berkeliling pasar Jatinom. Di sana banyak barang yang dijajakan, mulai dari stagen yang merupakan barang paling dicari oleh wisatawan. Di bagian depan terdiri dari pakaian macam jas, batik, maupun stagen. Di bagian tengah terdiri dari penjaja makanan seperti sate maupun gule kambing. Tak ketinggalan pula penjaja tembakau linting masih banyak tersedia di pasar tersebut.

Sedangkan di belakang terdiri dari alat-alat dapur maupun alat-alat besi macam palu dan arit, eheem. Ini serius. Malah hampir di setiap sudut terdapat palu dan arit. Hal ini sesuatu yang wajar karena banyak dari masyarakat Jatinom bekerja sebagai petani.

Rasanya sungguh puas. Mengelilingi Klaten. Mengunjungi destinasi menarik. Menyantap makanan lezat dan menikmati sabung ayam. Dan ini menjadi poin penting bagi pariwisata Klaten. Setidaknya slogan Klaten Bersinar dapat wangi dan harum menyerbak melalui pariwisata bukan melalui dinasti politik oligarkinya.

Tukisan ini dimuat di minumkopi.com pada tanggal 26 Februari 2017.

2008

                                 http://leadingandlovingit.com

Dulu, tak pernah terpikirkan bagi saya untuk melanjutkan kuliah di kota Malang. Apalagi di Universitas Brawijaya. Sebagai orang Jogja, tentunya keinginan berkuliah tak jauh-jauh dari sebuah pilihan rasional. UGM. Sayangnya, undian dari Tuhan mengharuskan saya berkuliah di kota Bakso.

Begitu keterima di fisip, saya sempat syok. Bagaimana tidak? Ternyata fisip belum mempunyai gedung. Saya dan teman-teman 2008 lainnya diharuskan berkuliah di tempat yang konon katanya sedikit sinyal namun banyak ‘teman’ khayal. Gedung Kuliah Bersama (GKB). Itu artinya ruangan belajar kami harus berbagi dengan mahasiswa-mahasiswa dari fakultas lain. 

Saat ospek, kami pun baru sadar. Ternyata kami termasuk generasi ke 5. Artinya fakultas kami baru berumur balita. Sepertinya nasib sial sedang mengarungi kami. Sudah keterima di UB, belum punya gedung sendiri, eh kok ndilalah fisip seperti manusia baru belajar berjalan. Seperti memecah rasa dan penuh dengan nelangsa.

Tak ayal, terkadang kami berkeluh kesah dan sedikit dongkol. Bayar mahal tapi fasilitas tak sepadan. Kelas digilir. Markas LSO pun hanya satu. Tapi kami tak pernah patah semangat. Kami mencoba melalui hari demi hari di fisip dengan penuh tawa dan semangat bahagia. Meskipun kadang sedih dan tangis datang silih berganti.

Generasi kami memang unik. Awal-awal perkuliahan, kami berkelindan dengan mahasiswa-mahasiswi jurusan lain di fisip. Disatukan menjadi kelas paralel. Itu berlangsung hingga 3 semester. Jadi kami bisa kenal dekat dengan orang-orang komunikasi, sosiologi, politik, psikologi maupun HI tanpa ada sekat. Itulah terkadang yang membuat pertemanan diantara kami selalu erat hingga kini. 

Dalam 3 semester saja, kami sudah mengalami dan melakukan tindakan-tindakan konyol. Menghindari dosen macam muka Einstein, mengelabui dosen dengan metode titip absen dan mengoleksi surat dokter dari seluruh rumah sakit di Malang Raya hanya untuk membolos. Bahkan untuk yang terakhir, beberapa dari kami mencoba untuk mengkliping sebagai bahan kenangan. 

Kami cukup sadar banyak diantara anak-anak 2008 tidak begitu unggul secara akademis. Mungkin dari seluruh anak-anak angkatan 2008 dapat dihitung jari yang pernah mencicipi IP 4. Kalo anak-anak yang memiliki predikat nasakom dan adakom cukup banyak. Bahkan tidak bisa dihitung. Seperti jumlah kutu rambutmu. 

Tapi kalo di dunia non akademik, bolehlah kami sedikit jumawa. Banyak dari kami yang memiliki sederet prestasi di dunia non akademik. Tak tehitung jumlahnya. Mulai dari sepakbola, basket, bulutangkis, hingga catur. Kenapa bisa begitu? Karena kami memiliki dua keunggulan. kolektivitas dan kreatifitas. 

Kalo boleh kami mengingat, banyak organisasi dalam kampus yang menuai prestasi di tangan-tangan generasi kami. Sebagai contoh ada Homeband dengan Afut yang berhasil menelurkan ide-idenya dalam mengeluarkan album kompilasi. Hingga kini pun masih berlanjut ke generasi selanjutnya. Atau Dany dengan Societonya yang berhasil menelurkan film-film indie berkualitas di Malang Raya. Bahkan di Indonesia.

Itu baru dua contoh. Ada lagi macam pecinta alam Kompas dengan twin tower, Bung Rendra dan Bayu Gundul. Mixth dengan Mas Hilla dan Mbak Beldon. Atau mungkin organisasi macam Himasigi yang terkenal akan kekompakannya. Himapsi dengan para pengurus dan anggota-anggotanya yang kece badai. Himanika dengan acara-acaranya yang luar biasa meriah. Himahi yang dananya tak pernah seret. Ataupun himapolitik dengan segala aksi dan orasinya.

Belum lagi ada organisasi luar kampus macam HMI, PMII, KAMMI, maupun GMNI. Di tangan generasi kami, keempat organisasi tersebut menjadi lebih hidup. Walaupun terkadang konflik, itu hal biasa. Toh itu hanya di dalam kampus. Kalo di luar kampus sudah seperti sahabat dan kawan. 

Oh ya sekadar nostalgia pula, berawal dari para pendukung Liverpudlian seperti Bhe, Rian, Okky, Koko, maupun Pitik akhirnya kami bisa mendirikan Stand Up Comedy pertama di Brawijaya. Bahkan nama yang terakhir disebut saat ini sudah dianggap sebagai komedian senior di Malang Raya. 

Tentunya masih banyak lagi organisasi dalam maupun luar kampus yang tak saya sebutkan disini. Cukup banyak. Dan di tangan generasi kami, organisasi-organisasi tersebut dapat membawa pesan dan menghasilkan kesan yang cukup baik.

Generasi 2008 selalu memiliki motivasi untuk belajar banyak hal. Menyingkap perbedaan. Menyiasati kekecewaan. Menyatukan kegalauan. Menorehkan kebahagiaan. Dan paling penting adalah menjalin persaudaraan. Itulah watak dan karakter generasi kami.

Kadang saya bertanya, kok ya bisa pertemanan diantara teman-teman 2008 begitu erat? Saya juga tak tahu. Apakah ini berkaitan dengan angka? Bisa jadi. Karena kita generasi ke 5 makanya selalu dinaungi kemujuran. Asal kalian tahu angka 5 adalah angka krusial bagi masyarakat Indonesia. Itu sudah saya jelaskan di status-status saya sebelumnya. 

Saat ini, banyak diantara kami sedang memasuki rentang usia emas. Antara 27-29 tahun. Usia produktif untuk melakukan berbagai macam kegiatan. Diantara kami pula ada yang sudah berkeluarga. Memiliki anak. Namun ada pula yang masih setia dengan kesendirian. Menunggu untuk dilamar atau sedang persiapan untuk melamar. Tenang, semua pasti akan ada waktunya. Bersabarlah.

Kami selalu yakin bahwa banyak diantara kami akan menuai kesuksesan pada waktu mendatang. Apapun bentuk dan jenis kesuksesan tersebut. Kami selalu percaya akan hal itu. 

Kalo pun Manchester United memiliki generasi emas yang disebut Class of 92 maka kami pun segera menyamainya. Jika mereka hanya melakukannya dengan segelintir orang maka kami akan melampauinya. Tak hanya segelintir melainkan seluruhnya. Kenapa begitu?

Karena kami adalah generasi 2008.

Bahas Bahasa Jokowi di Australia

Kehadiran Jokowi di tanah Australia dianggap lawatan penting dalam kinerja pemerintahannya. Pasang surut hubungan Indonesia-Australia pada beberapa tahun terakhir tidak membuat Jokowi untuk berpaling dari Australia. Bom Bali tahun 2002, skandal narkoba yang melingkupi Corby, eksekusi Andrew Chan, dan Myurun Sukamaran, skandal telepon presiden disadap hingga penghinaan terhadap Pancasila adalah beberapa peristiwa penting dalam sejarah hubungan bilateral Indonesia-Australia. Namun, membangun hubungan dengan tetangga-tetangga dekat adalah cara Jokowi untuk menaikkan reputasi dan meningkatkan integritas Indonesia di mata dunia. 

Jika Jokowi dikenal dengan gaya ‘blusukan’ di Indonesia, maka Jokowi melakukan pendekatan berbeda di Australia. Beberapa media baik nasional dan internasional mengatakan bahwa Jokowi melakukan diplomasi ‘Jalan Pagi’ kepada PM Australia, Malcolm Turnbull. Mengelilingi danau hingga diakhiri swafoto bersama adalah cara ampuh untuk menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Australia sangat erat. Perlu anda ketahui, Indonesia adalah negara Asia pertama yang dikunjungi Turnbull sejak ia terpilih sebagai Perdana Menteri. 

Dalam lawatan Jokowi selama 2 hari di Australia, Jokowi membawa beberapa agenda penting. Diantaranya meningkatkan kerjasama dalam bidang pariwisata, ekonomi, perdagangan, politik, dan pendidikan. Pada bidang pariwisata ditekankan bahwa Australia menjadi turis asing paling dominan dalam hal berkunjung di Indonesia. Pada tahun 2016, Bali merupakan destinasi favorit dengan jumlah wisatawan Australia sebanyak 1 juta orang. Dalam hal ini, Jokowi ingin melebarkan dan mengenalkan potensi pariwisata Indonesia yang tidak melulu kepada Bali. Lombok, Sulawesi, dan Yogyakarta diharapkan menjadi destinasi favorit bagi wisatawan Australia pada tahun-tahun berikutnya. 

Pada bidang ekonomi, Indonesia-Australia sepakat untuk membangun kemitraan dengan menyiapkan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership (IACEPA) pada akhir 2017. Pada bidang perdagangan, Indonesia meminta adanya penghapusan biaya tarif dan non-tarif untuk produk Indonesia khususnya kertas dan minyak kelapa. Pada bidang politik, kerjasama dalam pemberantasan terorisme dan penguatan Trans Organizational Crime adalah hal penting dalam menjaga keamanan dan perdamaian. 

Pada bidang pendidikan, Indonesia ingin meningkatkan pengajaran bahasa Indonesia di Australia. Caranya adalah membangun lebih banyak balai bahasa Indonesia. Perlu diketahui saat ini jumlah balai bahasa Indonesia di Australia ada 3 yaitu Perth, Canberra, dan Melbourne. Jika balai bahasa Indonesia ditambahkan, maka ini peluang bagi bahasa Indonesia untuk lebih dikenalkan dan dipopulerkan lebih jauh. Terlebih pada tahun 2016 saja, ada sekitar 19.000 pelajar Indonesia di Australia. Para pelajar tersebut diharapkan tidak hanya sekadar menjadi pelajar namun juga sebagai duta Indonesia. 

Dalam hal ini, sejak tahun 2014 Jokowi beserta Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah membangun dan mengenalkan program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Sejatinya program tersebut sudah hadir lama yaitu sejak tahun 70an. Namun program tersebut mulai terlembagakan sejak dibentuknya Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK). Tujuannya adalah mengenalkan dan mengupayakan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional. 

Menurut K.A. Sander Adalaar pada laporan konperensi BIPA se-Australia yang kedua, Australia adalah pusat BIPA paling besar di dunia. Menariknya, Bahasa Indonesia telah diajarkan di sekolah maupun universitas sejak tahun 1955. Jumlah pelajar dan pengajarnya pun paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Grafik pelajar memang mengalami pasang surut. Namun sejak tahun 1991, pelajar Australia yang ingin belajar bahasa Indonesia mencapai tingkat 82,54%. Bahkan hal tersebut terus bertambah hingga akhir tahun 2016. 

Selain itu, Indonesia adalah tujuan utama bagi para pelajar maupun pekerja Australia untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman kerja. Di bawah New Colombo Plan (NCP), Indonesia-Australia membangun kerjasama pendidikan antar universitas maupun sekolah. UGM, UI, dan UPI adalah beberapa universitas yang diajak kerjasama melalui NCP. Dalam NCP, pelajar Australia diharapkan mendapatkan pemahaman lebih tentang kawasan Indo-Pasifik khususnya Indonesia. Bahkan, pemerintah Australia menanggung sepenuhnya bagi para pelajar Australia yang ingin melanjutkan studi di Indonesia melalui NCP. 

NCP dan BIPA merupakan terobosan penting bagi Jokowi untuk meningkatkan pengaruh Indonesia di kawasan Pasifik khususnya Australia. Selain itu, membangun jalur pendidikan dan kebahasaan melalui NCP dan BIPA adalah salah satu upaya membina hubungan Indonesia dan Australia. Menariknya, jika BIPA memang didesain untuk mengenalkan dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional maka apa langkah selanjutnya bagi Jokowi dalam mengenalkan bahasa Indonesia ke seluruh dunia? Apakah dengan membangun jurusan Studi Indonesia di tiap universitas? Ataukah memperbanyak balai bahasa Indonesia di seluruh dunia? 

Namun yang pasti, Jokowi ingin mengirimkan pesan bahwa sudah saatnya bahasa Indonesia menjadi barometer bagi dunia internasional. Jokowi ingin mengabarkan pula bahwa tidak seharusnya kita yang distandarisasi oleh bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Arab maupun China melainkan bahasa Indonesia yang menjadi standar bagi masyarakat dunia. 

Menguasai bahasa asing memang penting namun mengutamakan bahasa Indonesia jauh lebih mulia. Dan itu sedang dilakukan pemerintah Indonesia. Terutama pemerintahan Joko Widodo.