Month: February 2016

Untaian Asmara Moddie & Novia (1)

Tak kusangka saya akan memasuki fase menjadi seorang suami. Saya akan menjadi suami bagi istri dan insya Allah bagi calon anak-anak saya kelak. Tak kusangka, saya menjemput fase tersebut pada usia yang insya Allah cukup matang yaitu usia 25. Semoga saya mampu menempatkan fase tersebut sesuai dengan kapasitas saya dan mampu menempuh fase yang lebih lanjut dan lebih baik. Insya Allah.

10 September 2014. Seingat saya, tanggal tersebut bertepatan dengan hari Selasa. Hari kedua saya untuk menempuh pendidikan S2 KTT (Kajian Timur Tengah) di UGM. Saya bertemu dengan teman-teman baru. Rata-rata mereka adalah lulusan Sastra Asia Barat UGM. Dan yang paling membedakan dari saya diantara mereka adalah anak-anak tersebut mampu menggunakan (lanyah) bahasa Arab dengan baik. Eh, mereka juga pernah mengenyam di pondok pesantren kecuali saya tentunya. Saya masih ingat waktu itu saya mendapatkan mata kuliah Teori Agama Masyarakat yang diampu oleh salah satu dosen CRCS yaitu Pak Anchu. Perkenalan pun dimulai. Masing-masing tiap anak memperkenalkan identitas nama, asal S1, dan asli darimana termasuk saya. Kuliah pun segera dilangsungkan hingga menjelang sore.

Saya menjalani kuliah seperti biasanya. Maksudnya seperti S1 pada umumnya. Selesai kuliah, saya santai sejenak dan menjalankan ritual ngopi dengan tridente KBM yaitu Hair, Samid, dan Djarwo hingga menjelang dini hari. Begitulah ritual yang sangat sering saya lakukan pada semester 1. Kuliah berlanjut seperti biasa hingga presentasi awal S2 dimulai. Saya ingat, itu adalah hari rabu dengan mata pelajaran Agama-Agama Dunia yang diampu oleh dosen FIB yaitu Pak Mundjid. Saya berpartner dengan seorang perempuan yang selalu tersenyum ramah. Namanya Novia Rakhma Ramdhani. Panggilannya adalah Novia. Ia menjelaskan tentang Agama Hindu dan saya menjelaskan tentang agama Buddha. Saya cukup terkesima dengan penjelasan dan penalarannya. Saya pikir ia adalah seorang ustadzah yang cukup rajin saat kuliah S1 di Sastra Asia Barat UGM. Dan saya amat yakin bahwa anak tersebut akan menjadi wanita yang cukup pintar di jurusan KTT.

Sekali lagi, mata kuliah agama-agama dunia kembali menyatukan saya dengan Novia saat presentasi kelompok. Saya masih ingat satu kelompok bersama Shinta, Novia dan Aufa untuk menelaah agama Buddha. Presentasi tersebut cukup sukses dan berlanjut pada nilai yang sangat memuaskan pada mata kuliah tersebut. Alhamdulillah.

Anak-anak KTT 2014 sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat wisata. Diantaranya adalah Dieng Wonosobo, Pantai Pok Tunggal Gunungkidul, Makam Imogiri, Air Terjun Sidoharjo Kulonprogo dan masih banyak yang lain. Nanti akan saya ceritakan yang tentunya kisah saya dengan Novia.

Awal mulai kedekatan saya dengan Novia ketika saya dipinjami motornya pada saat melakukan silaturahmi ke rumah Pak Syamsul Hadi. Pada saat pulangnya, saya memboncengnya hingga menuju ke rumah saya di belakang RS Sardjito UGM. Kemudian perjalanan berikutnya ketika kami anak-anak KTT 2014 ke Dieng Wonosobo. Saya duduk paling belakang pas sebelah kanan saya adalah Novia. Banyak cerita pada malam itu termasuk salah satunya ia menunjukkan jalan ke arah rumahnya kepada kita yang berada di Parakan. Ia sempat membujuk saya untuk berteman pada aplikasi media sosial yaitu Path. Namun saya menolak pada waktu itu, karena saya ingin membatasi teman-teman saya. Jaim rek. Hahaha. Walaupun pada akhirnya saya berteman di Path pada saat kita berada di alun-alun Magelang selepas dari Dieng.

Perjalanan berikutnya adalah ketika kami anak-anak KTT 2014 melakukan perjalanan ke air terjun Sidoharjo Kulonprogo. Saya membonceng Novia menggunakan motor butut saya. Meskipun tersesat dan melenceng jauh hingga saya dihujat habis-habisan oleh anak-anak, pada akhirnya kami tiba di lokasi tersebut. Bukan hanya melenceng jauh, kamera HP saya yang masih VGA menjadi satu-satunya alat untuk mengabadikan momen-momen luar biasa anak-anak termasuk saya dan Novia. Alhamdulillah.

Saya dekat dengan Novia hanya sekedar teman biasa. Itu pada awalnya. Mengapa begitu ? Karena ia telah mendeklarasikan kepada anak-anak bahwa dirinya akan menikah tepat 4 hari setelah saya ultah. Kami cukup antusias tapi dari hati kecil, saya berharap bahwa orang Jogjakarta yang dimaksud adalah saya. Walupun tentu saja, harapan tersebut kecil kecuali tangan Tuhan hadir untuk mengolah harapan saya.

Allah itu memiliki sifat Maha. Sifat yang tidak akan mampu disamai oleh ciptaanNya. Saya mulai sedikit demi sedikit mengirim pesan melalui WA. Awal mula percakapan tentang tembakau hingga pada akhirnya ia curhat bahwa ia telah selesai dengan calonnya. Bak durian runtuh. Saya percaya bahwa Allah hadir dengan tangan-tangan ajaibNya. Dan mungkin doa saya dapat diolah oleh Allah dengan sempurna. Saya girang tapi tidak dengan Novia. Ia sempat memberikan skrinsut percakapan terakhir dengan mantannya. Saya tersenyum. Namun untungnya, ia tak melihat senyuman saya. Kok senang diatas penderitaan orang lain. Tapi itulah yang terjadi pada saya saat itu.

Hari-hari berikutnya, saya mulai sering mengirim pesan ke Novia. Dan juga mulai mengajak jalan. Seingat saya, saya ada 4-5x keluar dengan dirinya. Salah satunya, saya mengajak makan bersama orangtua dan sodara-sodara saya di daerah RS Panti Rapih. Namun, percakapan paling lama dan berlanjut malam berada di Cuppajo daerah Seturan. Saya baru tahu kalo ia adalah alumni Gontor dan ia juga baru tahu kalo saya adalah anak HmI. Hari-hari berikutnya terjadi perdebatan yang mana saya sering memuja-muja HmI. Begitu juga dengan ia yang sangat membanggakan anak-anak Gontor. Pada akhirnya saya berkenalan dengan teman-temannya yang berada di Jogja seperti Reisa dan Hanifa.

Manusia yang cukup andil dalam kelangsungan saya dengan Novia adalah Nilna. Ia yang berusaha membujuk saya agar segera melamar Novia. Saya pun sempat gundah gulana. Hal itu ia katakan ketika anak-anak Grup tahajud (Nilna, Rapuncil, dan Sherly) pergi ke kebun buah Mangunan dan hutan pinus Imogiri. Terlebih saya diberitahu jika Novia akan melaksanakan rukun Islam yang ke 5 yaitu Haji. Saya sempat berpikir cukup dalam dan apa yang harus segera saya lakukan. Tuhan Maha Memberi Petunjuk.

26 Juli 2015. Ini adalah pertama kalinya saya bertandang ke rumah Novia yang letaknya di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Cerita kedatangan tersebut bermula dari tantangan Novia saat H+2 lebaran yang mengatakan bahwa jika ingin serius maka segera datanglah ke rumah. Saya pernah bertemu bapaknya dalam kondisi informal di kantor imigrasi Yogyakarta. Namun obrolan hanya bincang-bincang biasa dan tak ada yang menjurus ke arah serius. Oke Lanjut. Perjalanan menuju Parakan dapat ditempuh selama 2½ jam. Beruntung, karena di Malang saya sudah terbiasa melakukan survey maka saya tidak menempuh kesulitan dalam menemukan rumah Novia. Alhamdulillah.

Flashback sebentar. Sebelum saya bertandang ke rumah Novia, saya harus dilatih berbicara sama Novia. Ya, Mengapa Begitu ? Katanya, bapaknya lebih menghendaki jika obrolan menggunakan bahasa krama alus. Nah, Novia menyangsikan saya bahwa saya kurang mampu menggunakan bahasa tersebut apalagi saya lama di Malang dan terbiasa menggunakan kata-kata yang menurutnya kasar dan kurang enak didengar. Selain itu, saya juga diwanti-wanti jika pria-pria sebelum saya adalah orang-orang  yang pernah belajar di pondok pesantren, mampu mengaji kitab kuning, baca Al-Qur’an juga lanyah dan sebagainya. Sedangkan saya pernah mengenyam pondok pesantren yang kilat (3 hari). Itu pun karena saya pernah mengenyam pendidikan SD Muhammadiyah Sagan. Urusan mengaji yaa insya allah bisa namun ndak selancar yang di televisi biasa anda saksikan. Nah, kalo mengaji kitab kuning. Saya sama sekali belum pernah. Saya hanya bisa berdoa dan pasrah semoga saya diberi kelancaran, kelapangan, dan kemudahan dalam melakukan kunjungan ke rumah Novia.

Setelah sampai di rumah, saya disambut oleh bapaknya dengan ramah. Alhamdulillah saya pikir. Kemudian basa-basi sejenak dengan menggunakan bahasa krama alus. Seperti yang telah saya duga sebelumnya. Untung karena telah dilatih oleh Ustadzah Novia maka alhamdulillah saya mampu berbincang cukup lama dan baik. Menjelang zuhur tiba, saya, bapak, dan adiknya Novia beranjak ke Masjid. Saya sebenarnya diwanti-wanti sama Novia jika ke masjid menggunakan sarung. Tapi karena pada waktu itu bapak ga menyuruh menggunakan sarung ya saya hanya pakai celana panjang favorit. Setelahnya, kita makan siang bersama.

Nah, menjelang pukul 2 siang, ini yang ditunggu-tunggu. Kami semua berkumpul di ruang tamu denga duduk berhadap-hadapan. Dengan berpikir agar olahan kata saya cukup baik, satu tarikan nafas maka saya berujar, “Bapak, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena sudah diperkenankan singgah dan dijamu dengan aneka makanan dan minuman. Alhamdulillah. Kedua, saya menyampaikan salam dari bapak dan ibu dari Jogja, semoga pada lain waktu dapat singgah ke rumah bapak. Ketiga, saya dan mbak Novia sudah cukup kenal hampir selama satu tahun di UGM. Alangkah baiknya, jika ingin menginjak hubungan yang lebih serius maka saya siap menjalankan sunnah Nabi. Insya Allah jika berpijak surat Ibrahim ayat 7 tentang nikmat syukur dan al Hujurat 13 tentang manusia yang kodratnya berpasang-pasangan antara lelaki dan perempuan maka saya siap untuk menjalin hubungan serius dengan mbak Novia.” Begitulah perkataan saya dan uniknya saya menggunakan bahasa Indonesia. Subhanallah.

Bapak hanya mengatakan jika ingin serius maka disegerakan. Perkara rezeki itu datangnya dari Allah dan yang penting saya hanya fokus dengan kuliah saya. Begitulah isi pesan dari Bapak Ahmad Romadlon kepada saya. Setelah pembicaraan serius tersebut, maka saya beranjak pamit undur diri dan ingin melanjutkan perjalanan ke Jogja. Tak lupa sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang begitu besar kepada keluarga Bapak Romadlon. Singkat cerita , saya sampai di Jogja dengan selamat.

Novia cukup takjub sekaligus heran, kok bapaknya ndak nyuruh saya pake sarung, ndak nanya sudah ngaji sampai mana, ndak nanya bisa bahasa Arab atau ndak. Ia hanya mengatakan bapakanya senang dengan niat dan maksud kehadiran saya. Ini bukan klaim. Monggo nanti ditanyakan ke Novia. Hehehe. Saya ditanya macam-macam oleh ayah dan mama saya. Saya jawab demikian adanya. Luar biasa tanggapan ayah dan mama. Minggu depannya kita langsung balik lagi ke Parakan !!!.

Bersambung

Advertisements

Sudahkah Rambutmu Bergaransi ?

37638_large

Mencukur rambut adalah kebiasaan yang pasti kamu lakukan kecuali kamu pecinta musik reggae. Manusia perlu mencukur rambut karena merasa sudah tidak tampil menawan di mata pasangannya. Ini buat yang sudah punya pasangan, mblo. Perlunya mencukur rambut supaya lebih terlihat modis dan pantas untuk disandingkan dengan pasangan kamu. Kecuali kamu adalah KW 1 Reza Rahardian, Nicholas Saputra, ataupun Chico Jericho. Sayangnya, dari pilihan tersebut bisa dipastikan kamu tidak memenuhi kriteria diatas.

Cukur Rambut. Begitulah sebutannya. Kalo potong rambut kesannya rambut kamu seperti rumput. Makanya dinamakan dengan cukur rambut. Jarang ada di barbershop yang menggunakan kata potong rambut. Kecuali kalo si pemilik menyamar sebagai tukang potong rumput atau jagal hewan. Nah, rambut yang saya maksud ini adalah rambut yang ada tepat di atas kepala kamu. Bukan di samping apalagi di bawah. Kalo saya sebutkan yang lain nanti takutnya tulisan saya disensor oleh KPI.

Tren cukur rambut sangat modern. Di Indonesia lebih tepatnya di Jogjakarta, anda dapat menemukan cukur rambut khusus pria/lelaki. Mungkin awalnya hanya di Jogja yang mempunyai tempat spesialis cukur rambut pria sebelum menjamur ke kota-kota lain. Ini bukan berarti Jogja hanya mengakomodir kaum lelaki. Kalo cukur rambut perempuan kan sebutannya tidak elegan. Pasti namanya salon. Kalo ada salon lelaki, nah itu patut ditanyakan. Kira-kira apa yang di-salon-kan ? rambutnya, pipinya, atau ah sudahlah. Nanti dikira saya pendukung LGBT.

Mungkin hanya di Jogjakarta yang memiliki cukur rambut pria bergaransi. Lho kok bergaransi ? Kamsudnya gimana ?. Maksudnya jika cukuran rambutmu ternyata ndak sesuai sama wajahmu maka anda bisa mengajukan gratifikasi, eh garansi. Pokoknya batas garansi tidak lebih dari 3 hari. Jadi kam cukup lapor trus dicukur ulang sampai benar-benar sesuai dengan wajahmu. Kecuali kamu adalah kembaran Agus Mulyadi.

Di Jogjakarta yang anak-anak mudanya kian modis, setelah saya survey, hampir semua pria lebih sreg dengan tempat cukur rambut bergaransi. Selain murah dan cepat, kamu akan mendapatkan pijatan ‘halus’ dari tukang cukur dan ndasmu akan diberi handuk yang telah diberi air hangat. Dengan membayar 8rb-11rb maka kamu akan ganteng overload. Ada beberapa tempat cukur rambut yang bisa direkomendasikan.

  1. KOMPAK

Nah ini, tempat cukur rambut legendaris yang ada di belakang MM UGM. Tempat duduknya ada 7 termasuk tempat duduk khusus anak-anak yang berbentuk mobil-mobilan. Tukang cukurnya ndak banyak omong. Kualitas terjamin. Dan yang paling hebat, apapun jenis rambutmu maka hampir dipastikan cukuran rambutmu selesai ±10 menit. Mantap Surantap.

 

  1. Azzam

Ini tempat cukur yang religius. Maksudnya jika telah memasuki waktu adzan maka semua tukang cukurnya berhenti. Melakukan ibadah lebih diutamakan daripada mencukur rambut. Ini salah satu tukang cukur rambut favorit saya. Kualitas terbaik. Dan jika kamu memasuki azzam yang berada di jl.monjali, maka channel televisnya hanya dua metro tv dan tv one. Ga tau para tukang cukur selalu saja berdebat masalah mana stasiun televisi yang paling baik. Mungkin karena sama-sama saling terdepan dalam mengabarkan.

 

  1. Metro barber

Nah ini, tempat cukur rambut yang cukup rame. Letaknya di selatan Toga Mas Gejayan, depannya Pom Bensin yang ga pernah difungsikan semenjak SBY lengser. Tempat cukur ini memiliki 5-6 kursi. Kualitas bintang lima, harga kaki lima. Para artis tersohor Jogja sering terlihat di tempat cukur. Namun, yang paling menggemaskan dari tempat cukur ini adalah salah satu tukang cukurnya mukanya KW 2nya Dodit Mulyanto. Bedanya ia sangat pandai berbicara sedangkan seniornya sangat irit berbicara. Kamu harus berpengetahuan tinggi untuk menghadapi tukan cukur yang satu ini. Mungkin hanya punggawa-punggawa Mojok yang sanggup menghadapinya. Mas Agus Mulyadi, jangan lupa mampir ke tempat tersebut. Saya kira anda rekan yang cucok.

 

  1. T

Begitulah namanya. Cukup satu huruf. Letaknya di persimpangan jembatan baru UGM dan jl. Monjali. Tempat cukur rambut yang memiliki dua lantai. Sangat digemari orang lanjut usia dan anak-anak. Termasuk bapak saya. Antrinya luar biasa. Yang paling menarik adalah pijatan yang super dan air hangat yang cukup panas. Nah loh pie kui jal ? Saya kira di dunia ini hanya tempat cukur tersebut yang memiliki nama satu huruf. Percayalah oh percayalah.

 

Saya kira pilihan tempat cukur rambut tersebut sangat selektif. Mungkin masih banyak tempat cukur rambut lain yang berkenan di benak kamu sekalian. Kalo ndak setuju, ya ndak papa. Sekali lagi saya ndak promosi. Hanya mengenalkan. Sapa tau kamu semua yang selama ini jomblo, bisa mendapatkan referensi mana tempat cukur rambut yang paling pas untuk memikat pasangan. Kalo ndak bisa cewek ya lainnya laah yaa..

 

Sekali lagi pilihan-pilihan diatas hanya tempat cukur rambut yang bergaransi. Mungkin ada yang bertanya kenapa tukang cukur Madura ndak disertakan. Heh, mbok diwoco. Ini yang bergaransi. Kalo ndak bergaransi mungkin ada tulisan yang berikutnya.

 

Oh iya, omong-omong sekarang lagi Valentine lho. Sudahkah anda potong, eh cukur rambut mblo ?

Karcis Parkir

Karcis atau tiket adalah alat untuk menitipkan barang/benda yang bentuknya berupa sehelai kertas. Karcis biasanya digunakan dalam nonton atau parkir. Namun nama dan maknanya berbeda. Karcis parkir dan tiket nonton. Tidak ada (setahu saya) yang penyebutannya tiket parkir dan karcis nonton. Ada makna dan relasi kuasa yang menyebutkan bahwa makna kata tiket lebih tinggi daripada makna kata karcis. Hal ini bisa disebabkan karena nilai beli tiket tentu bahkan pasti lebih mahal daripada nilai beli karcis. Entah sejak kapan padanan kata tersebut mulai digunakan. Yang jelas jika anda menyebutkan karcis nonton dan tiket parkir maka telinga anda (mungkin) akan terganggu atau kedengarannya wagu (aneh).

Karcis parkir adalah salah satu benda brilian yang diciptakan oleh pemilik toko, warung, mal, ataupun perusahaan. Dengan menggunakan karcis, anda tidak perlu mengeluarkan STNK. Orang-orang biasanya menaruh STNK di dalam dompet bahkan di sela-sela dompet yang membuat anda terkadang kesulitan untuk mengeluarkannya. Nah, karcis biasa anda taruh di saku celana atau saku baju. Tentu maksudnya biar anda mengeluarkannya lebih mudah. Di beberapa mal ataupun toko besar biasanya tertera karcis wajib dikembalikan petugas. Jika hilang maka anda akan terkena denda yang jumlahnya bisa 2-10x lipat dari harga karcis tersebut. Mungkin harga pembuatan karcis mahal atau bisa jadi karcis dapat digunakan kembali.

Lain halnya jika anda menggunakan karcis yang tersedia di alun-alun. Ketika anda menyerahkan karcis tersebut maka karcisnya akan dibuang oleh petugasnya. Toh, mereka sedia stok yang cukup. Jikapun karcisnya hilang, anda tinggal menunjukkan STNK walaupun mungkin anda agak sulit mengeluarkan dari dompet. Lalu bagaimana penggunaan karcis di universitas atau sekolah ?

Salah satu universitas ternama di Malang menggunakan karcis sebagai tanda masuk ke universitas tersebut. Biaya yang dikeluarkan cukup ‘murah’. Anda hanya cukup mengeluarkan seribu rupiah. Jika anda ingin bebas masuk maka tunjukkan kartu identitas bahwa anda pegawai/mahasiswa di universitas tersebut. Nah, jika anda keluar kampus maka anda harus mengeluarkan STNK. Jika anda mahasiswa dan tidak membawa STNK, anda akan dicatat di buku dan KTM anda akan disita oleh petugas yang berwenang. Kecuali jika anda memiliki karcis, maka karcis tersebut dikasi ke petugas dan petugas mengecek apakah nomor yang tertera sesuai dengan plat nomor kendaraan anda.

Lain halnya dengan salah satu universitas ternama dan terpopuler di Jogjakarta. Ada beberapa pintu masuk tempat parkir yang tidak memakai karcis. Anda cukup masuk saja namun jika keluar anda membubuhkan KTM di tempat scan atau mengeluarkan STNK. Ide yang cukup bagus. Namun ada beberapa pintu masuk yang masih menggunakan karcis. Gratis namun ‘sedikit membahayakan’. Mengapa saya berkata begitu ? Jika anda keluar dari kampus tersebut, maka anda menyerahkan karcis tersebut dan petugas tidak pernah mengecek keabsahan karcis tersebut. Maksudnya tidak mencocokkan apakah nomor yang tertera pada karcis tersebut sesuai dengan plat nomor kendaraan anda. Cukup berbahaya dan akhirnya kejadian pencurian terjadi. Kok bisa ? Disini kelemahannya.

Misal anda adalah orang awam kemudian masuk ke kampus tersebut dengan mendapatkan karcis yang diberikan petugas. Kemudian anda cukup keluar dengan menggunakan karcis tersebut. Tidak harus dirapikan. Mau anda buntal atau bungkus atau sedikit sobek maka pasti petugasnya akan menerima. Kan ndak perlu dicek keabsahannya. Di salah satu gedung yang menerapkan model tersebut pernah kecolongan. SI pencuri menggunakan keahlian dan kecerdikan dengan membawa sepeda motor curiannya melewati pemeriksaan hanya bermodal karcis sembarangan yang entah darimana ia dapat. Langgeng dan lolos. Si pemilik kaget dan lapor kepada petugas bahwa sepeda motornya hilang. Dia menunjukkan STNK dan kunci motor yang ia miliki. Petugas kalang kabut.  Atasannya memarahi petugas karena di gedung tersebut pula si petugas tidak pernah mengecek keabsahan karcis tersebut ketika pengguna kendaraan keluar dari gerbang.

Suatu kali, ada kawan saya yang kehilangan karcis di gedung tersebut. Namun kawan saya bersikap santai karena toh dia membawa STNK. Jadi dia berpikir mudah saja untuk akses keluar dari gedung tersebut. Namun nasib berkata lain. Ketika dia memberi STNK malah dia diperingatkan oleh petugas-petugas kalo karcis jangan sampe hilang. Namun kawan saya juga bekata ”Biasanya kalo karcis hilang kan gantnya nunjukkin STNK pak, lagian karcis juga ga pernah dicek keabsahannya”. Perdebatan kecil terjadi. Dia dibebaskan dengan peringatan jangan diulangi lagi untuk besok.

Pelajaran bagi manusia adalah terlena membuat kebijakan namun terkadang tidak memperhatikan perbuatan yang sederhana. Mengecek keabsahan karcis sederhana namun memang melelahkan. Namun jika kebijakan tersebut adalah hal yang paling mudah dilakukan seharusnya para petugas ikut menyukseskan dan bertanggung jawab atas tugasnya. Toh , mereka juga digaji tetap dan bulanan. Bayangkan petugas karcis parkir  di kawasan Malioboro yang belum tentu penghasilannya bahkan kadang harus memberi setoran. Namun petugas-petugas tersebut tetap komitmen dengan mengecek keabsahan karcis tersebut.

Konsisten dan komitmen. Mudah dikatakan namun rumit dilaksanakan.

Pelajaran bagi petugas. Pelajaran bagi pemangku kebijakan. Pelajaran bagi kita semua. Selesai.

Ketakutan

Tiap manusia pasti memiliki ketakutan. Ketakutan terhadap sesuatu. Sesuatu itu dapat berarti benda ataupun bukan benda. Sifatnya bisa fisik ataupun non fisik. Rasa takut biasanya muncul ketika manusia merasa dirinya minder atau berada di titik bawah dalam hidup. Ketika tiba-tiba rasa takut anda muncul karena sesuatu hal maka anda merasa lebih baik jika anda menghindar ataut tidaak menghadapinya. Apakah hal itu benar ? Atau justru salah ? Atau lebih baik ketakutan dihilangkan da dimusnahkan saja. Tidak semudah itu niat anda akan terlaksana. Anda membutuhkan trik-trik tertentu dan keberanian untuk melawan rasa takut. Setidaknya ada tiga hal yang harus ada dalam benak anda. Keberanian, percaya diri, dan optimis.

Beberapa minggu yang lalu, saya berjumpa dengan kawan lama. Kawan saya ini adalah manusia yang memiliki humor tinggi namun memiliki rasa takut yang cukup unik. Dia tidak pede dengan postur tubuhnya. Ia merasa postur tubuhnya tidak mendukung untuk mendekati wanita. Ia menganggap wanita tersebut hanya menyukai orang-orang yang memiliki postur ideal. Saya bilang ke dia kalo anggapan dia berlebihan. Kita harus menyadari bahwa wanita pasti mendambakan sosok pria yang memiliki postur ideal. Lantas untuk mendapatkan postur tubuh ideal, butuh waktu lama. Apalagi ternyata dia tidak begitu menyukai olahraga. Sulit rasanya. Saya hanya mengatakan jadilah diri sendiri. Tampil apa yang sesuai dengan ciri khasnya. Berpikir positif, PD, dan berani. Tidak mudah memang menerapkannya terlebih dia terkadang minder dengan lawan jenisnya. Namun yang paling penting dia harus menjadi diri sendiri. Apapun caranya. Sampai sekarang saya belum mendapat tanggapan dari ia. Saya hanya bisa berharap semoga ia berhasil mendapatkan lawan jenisnya.

Jika ketakutan yang diatas mungkin bisa dihadapi dengan tiga hal lalu bagaimana jika anda mengalami fobia. Fobia bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihilangkan. Terlebih jika anda mengalami fobia sejak kecil. Seperti anda sejak kecil fobia dengan balon. Jika anda melihat balon maka anda akan berteriak. Mungkin itu tidak disadari. Respon yang seketika dan rasa fobia seperti itu bisa saja muncul karena kesalahan sejak kecil. Misal anda pernah sekali melihat balon pecah tepat di mata anda hingga menimbulkan pusing yang luar biasa. Nah mungkin jadinya anda bisa mengalami fobia karena hal tersebut. Lalu bagaimana menyembuhkannya ? Butuh proses yang panjang untuk menyembuhkan fobia. Lantas dengan dunia global yang semakin cepat dan membutuhkan sesuatu yang instan maka pasti ada jalan lain.

Jika di Indonesia, jalan lain tersebut anda bertandang ke salah satu stasiun televisi swasta. Anda temui Uya Kuya. Niscaya anda akan sembuh dari fobia seketika. Tidak percaya ? Silakan buktikan sendiri. Selesai.

Halalkah menjadi politisi ?

“Tidak adakah perbuatan baik yang diperhatikan padaku ?” tanya Cage.

“Tidak jika kau adalah seorang politisi.” jawab Kate.

Petikan kalimat percakapan diatas terdapat pada film The Runner yang dibintangi Nicholas Cage. Kalimat diatas seharusnya menyindir wajah perpolitikan di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia melainkan di belahan dunia manapun jika kamu adalah seorang politisi maka susah untuk berbuat baik. Tidak perlu membicarakan negara lain. Mari kita bicarakan wajah perpolitikan di Indonesia.

Kita harus jujur bahwa untuk menjadi politisi di Indonesia itu rumit. Jika anda berbuat baik maka anda akan dianggap melakukan pencitraan. Namun, jika anda melakukan perbuatan buruk maka anda akan dikecam habis-habisan oleh rakyat. Jadi, politisi yang benar-benar baik sangat sulit ditemukan di era reformasi ini. Kasus korupsi dan skandal seks adalah berita yang selalu menghinggapi layar kaca Indonesia. Anda akan merasa kesulitan jika ingin menemukan politisi yang baik. Hal tersebut dapat terjadi karena wacana yang berkembang pada media bahwa menjadi politisi adalah lawan bagi rakyat.

Wacana tentang politisi selalu saja dikaitkan dengan praktik-praktik yang kotor. Alhasil, daya nalar rakyat Indonesia tercipta bahwa politisi tidak berguna bagi rakyat Indonesia. Toh akhirnya dapat anda bayangkan jika pemilih golput akan lebih banyak terjadi dalam 20 tahun ke depan. Mungkin saja perkiraan saya salah, mungkin saja perkiraan saya benar. Jadi politisi itu rumit apalgi jika anda menjadikan politisi sebagai status dalam KTP anda. Dalam benak masyarakat bahwa politisi pasti memiliki modal yang cukup besar. Padahal ya nggak juga. Ada juga politisi yang memang benar dari kalangan biasa. Sayangnya, politisi seperti itu tidak terlalu nampak di media. Jika memang ada, pasti jarang muncul di headline.

Jika memang anda ingin menjadi politisi, alangkah lebih baiknya anda sudah mapan dan tuntas untuk mengurusi masalah finansial. Jadinya, tidak terbebani. Tapi kalo anda masih korupsi tentang uang, wah anda ya kebacut. Tugas setan hanya menggoda, namun manusia yang menyelesaikan godaan. Jadi jangan pernah salahkan setan. Kalo memang terbukti korupsi yaa jangan salahkan setan namun salahkan diri anda. Kasihan, setan pasti masuk neraka. Kalo anda menyalahkan setan, trus setan harus masuk mana ? Sekali lagi setan hanya menggoda, keputusan tetap di tangan anda. Jadilah politisi yang berperilaku setan. Maksudnya menggoda teman sesama politisi jangan sampai korupsi. Jangan sampai kesetanan untuk menjadi politisi. Ntar malah gangguan kejiwaan.

Omong-omong, menjadi politisi perlu mendapatkan label halal ga ya ? Selesai.

Jogja, kok kamu macet sih ?

Keadaan semakin menggila di Jogjakarta. Macet terjadi dimana-mana. Diantaranya di perempatan jakal, perempatan condongcatur, perempatan monjali, perempatan XXI. Sebenarnya masih banyak lagi daerah yang macet. Namun alangkah lebih baiknya mengerucut kepada keempat daerah tersebut. Daerah tersebut sering dilanda macet pada jam berangkat dan pulang manusia-manusia kerja. Sejatinya macet ada pelbagai sebab. Salah satunya jumlah kendaraan bermotor kian membludak. Transportasi yang minim, DP kendaraan motor yang kian murah, dan masih banyak hal lagi. Tapi tahukah kamu , sejatinya ada beberapa hal yang luput dari pandangan orang-orang. Mari kita simak.

Pertama, waktu lampu hijau terasa singkat. Coba anda perhatikan. Di keempat daerah yang saya sebutkan diatas tidak ada waktu yang lebih dari 25 detik. Hampir semuanya kurang dari 25 detik. Kecuali di perempatan condongcatur yang berasal dari arah barat menuju ke timur. Disana waktunya berkisar 30-40 detik. Namun yang paling krusial adalah waktu kurang dari 25 detik hanya terjadi saat pukul 16.30-17.30. Setelahnya normal kembali. Bayangkan jika ada mobil yang berderet panjang minimal 3 saja. Jika lampu sudah hijau maka waktu yang dihabiskan berkisar 15 detik. Alhasil, kemacetan panjang tak terelakkan. Apalagi pengendara motor Jogja yang tidak mau ngalah. Coba anda cek.

Kedua, barisan polisi yang siaga. Menurut saya, sejatinya polisi yang bertugas pada waktu kemacetan tidak menghasilkan apa-apa. Toh, kalo ndak macet bukan dari polisinya melainkan pengendaranya sadar diri. Kenapa saya bilang sadar diri. Karena di pos polisi, sudah siap motor dengan kondisi menyala yang jika ada pengendara melewati sedikit saja lampu kuning/oranye. Maka habislah pengendara tersebut. Sekali lagi, ketertiban bukan karena polisi namun manusia yang sadar diri. Sadar diri bahwa polisi pasti menilang anda apapun kesalahannya. Ndak percaya ? Coba anda cek selain keempat daerah tersebut ada dua daerah SETAN yaitu pertigaan Malioboro dan pertigaan UNY. Polisi disana luar biasa awasnya. Maklum harga bahan pokok kian melambung jadi wajar cari penghasilan tambahan.

Ketiga, nah ini yang paling krusial. Pengamen dan pengemis. Karena pengemis adalah alasan mengapa pemerintah Jogja mengeluarkan perda dilarang memberi uang kepadanya. Sejatinya jika disimak bukan karena biar menyadarkan diri para pengemis tersebut tapi ya itu menghambat laju kendaraan bermotor. Dikasi salah tapi ndak dikasih ya kasihan. Kan serba repot. Mbok yaa kalo jadi pengemis kayak Budiyono atau Pieter Lennon yang selalu menghibur mahasiswa/i.

Jadi, sekali lagi jangan sekali-kali salahkan banyaknya kendaraan bermotor yang makin membludak. Manusia ndak pernah salah beli. La wong Freud juga bilang manusia harus menguasai id, ego, dan super ego. Jadi jangan salahkan sales yaa. Salahkan ketiga hal tersebut bro.

Btw, kendaraan bermotor di rumah/kos anda jumlahnya berapa ? Selesai.

Belajar dari anak kecil

Pada abad 21 , tingkat intelektualitas anak-anak semakin maju. Utamanya mereka yang lahir pada tahun 2000an. Tentunya usia saat ini mereka menginjak remaja. Tingkat melek teknologinya sudah taraf dewasa. Lihat saja anak-anak usia SMP bahkan SD sudah terampil menggunakan gawai. Bahkan sudah mahfum jika anak2 seusia mereka pacaran ?. Pacaran ? Iyaa. Contoh ini saya temui mereka saat berusia 10 tahun.

Sebut saja namanya Diaz. Dia berasal dari sebuah planet yang bernama Jakarta. Kegemarannya adalah membaca dan bermain di taman Jonggol. Saat ini, dia menempuh pendidikan kelas 4 di salah satu SD swasta terkenal di daerah ring road utara. Anaknya cukup rajin dan giat belajar bahkan dia ditunjuk menjadi ketua kelas selama 2 tahun. Begitulah profil Diaz.

Diaz tergolong anak yang saleh. Meskipun dianggap saleh oleh teman-temannya, ia masih menganggap ada yang kurang. Kekurangannya adalah dia JOMBLO. Ia merasa tersiksa dengan julukan tersebut. Apalagi jika senior kelas 6 berkata “Cieee, Diaz JOMBLO” maka ia lebih baik menyendiri. Dia bertekad akan mempunyai pacar sebelum jadwal puasa Ramadhan tiba. Begitulah curhatan Diaz kepada saya. Heran ? Yaa heran , kok bisa anak seusia ia miris mendengar hinaan JOMBLO. Seharusnya anak seusia Diaz lebih banyak bermain dan belajar. Yang harusnya miris yaa buat kamu seusia saya tapi masi Jomblo. Saya hanya berkata pada Diaz, “Tenang , kalo soal Jodoh nanti juga dateng sendiri kok”. Walaupun begitu ia tetap muram dengan istilah Jomblo.

Nah, yang unik dari Diaz adalah ia sudah mengerti Path. Tau ? Path adalah semacam media sosial untuk eksis. Yaa wajar kalo yang di posting sesuatu yang dianggap keren bahkan membelalakkan mata. Memang Path dibuat dengan tujuan seperti itu. Eksis. Ternyata Diaz juga punya path. Bahkan dengan entengnya ia mengatakan jika ndak punya path maka kamu ndak dianggap eksis. Wah , luar biasa cara berpikirnya. Ini yang makin pintar teknologinya, kecerdasan anaknya , atau salah Kak Seto dalam merumuskan kurikulum pendidikan anak-anak ? Entahlah.

Yang jelas pernyataan yang akhirnya bikin Diaz kesal sama saya adalah ” Cieee Jomblo tapi ngePath, mau eksis apa mau iklan ? ” . Tertawalah saya. Hahaha. Selesai.