Month: June 2016

AREMA, AGAMA KEDUA SAYA

Logo_Arema_Malang

Foto diambil dari http://logos.wikia.com

Agama adalah sesuatu yang didalamnya terdapat cinta, kasih, dan perdamaian. Begitulah kalimat pernyataan yang diungkapkan oleh Komaruddin Hidayat, salah seorang  guru besar UIN Syarif hidayatullah Jakarta. Saya percaya dengan pernyataan tersebut. Saya merasa dengan beragama maka saya memiliki kekuatan hidup dalam belajar, berpikir, bertindak maupun bersikap.  Itulah hal yang saya rasakan ketika akhirnya menetap selama 6 tahun di Malang. Saya memilih AREMA sebagai “agama” kedua saya.

Malang adalah salah satu kota terbesar di Jawa Timur. Kota yang terkenal dengan pelbagai macam kuliner, hawa dingin, bahasa  walikan, dan tentunya sepakbola. Sepakbola menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Malang. Tanpa sepakbola, Malang boleh dikatakan sepi kehidupan. Begitulah kiranya. Saya pikir sepakbola juga yang menghidupi hampir separuh lebih kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Malang.

Di Malang terdapat dua klub sepakbola yang tersohor. Persema Malang dan Arema Malang. Persema dengan jersey merah sedangkan Arema dengan jersey warna biru. Persema memiliki homebase di area perkotaan yaitu Stadion Gajayana sedangkan Arema memiliki homebase di daerah kabupaten Malang yaitu Stadion Kanjuruhan. Ada banyak dimensi perbedaan diantara keduanya. Termasuk untuk urusan popularitas, prestasi dan suporternya.

Arema berdiri pada tahun 1987. Beda 3 tahun dari usia saya saat ini. Arema memiliki logo Singa sehingga klub tersebut dijuluki “Singo Edan”. Kalopun anda sempat berkunjung ke Malang dengan menggunakan kereta api maka ketika anda tiba di stasiun, anda akan disambut dengan patung singa berukuran besar dengan warna kuning keemasan.

Arema memiliki supporter yang boleh disebut fanatik. Sebutan untuk supporter Arema yaitu Aremania dan Aremanita. Kalo dihitung berapa jumlah aremania dan aremanita saat ini, wah bisa dipastikan ratusan ribu atau mungkin hampir jutaan. Aremani(t)a tidak kemana-kemana tetapi ada dimana-mana. Itulah semboyan yang selalu dikumandangkan para supporter tersebut. Bisa anda lihat jika arema sedang bertandang. Pasti ada kelompok arema seperti aremania borneo ataupun aremania Jakarta.

Agama Kedua

Saya ‘resmi’ memproklamirkan Arema sebagai agama kedua saya setelah selama setahun saya mengikuti seluk beluk perkembangan sepakbola Malang pada tahun 2010. Tahun yang mana boleh dibilang tahun keemasan bagi masyarakat Malang. Pada tahun 2010, Arema meraih gelar supremasi tertinggi sebagai kampiun Liga Indonesia. Tahun yang mana melahirkan bintang baru bagi kancah persepakbolaan Indonesia seperti Zulkifli Syukur, Dendi Santoso, Benny Wahyudi dan Ahmad Bustomi.

Sejatinya saya mengikuti perkembangan sepakbola Arema sejak SMP. Sejak era Nanang Supriadi, Sutaji, hingga Firman Utina yang mampu membawa Arema menjadi kampiun di Copa Indonesia. Kalo anda lahir di tahun 90an, mungkin anda pernah merasakan permainan “bola kertas”. Pemainnya dibuat dari kertas yang dilipat kemudian diberi nama dan no.punggung. Begitu juga dengan gawangnya. Sedangkan bola cukup diuntir-untir supaya bisa “ditendang” oleh pemain. Nah pada saat itu, satu-satunya klub Indonesia yang pernah saya miliki adalah Arema Malang.

Saya pertama kali menginjakkan kaki di Stadion Kanjuruhan ketika Arema melawan Persipura. Saya masih ingat betul susunan pemain pada waktu itu. Mulai dari penjaga gawang bertubuh jangkung Kurnia Meiga, Zulkifli Syukur, Mantan pemain Kamerun di Piala Dunia 1998 yaitu Pierre Njanka, Purwaka Yudhi, dan Benny Wahyudi. Itu pos bagian belakang. Untuk bagian tengahnya diisi oleh Esteban Gullien, Ahmad Bustomi, pemain swiwi dengan kecepatan super yaitu M.Ridhuan, Mas Roman Chamelo, dan M.Fahrudin. Bagian  penyerang adalah pemain keturunan Bawean yaitu Noh Alam Shah. Sejak kemenangan Arema atas Persipura dengan skor 2-1, saya tidak pernah absen menonton Arema di Kanjuruhan.

Bagi saya, Arema adalah Malang dan Malang adalah Arema. Anda bisa buktikan sendiri bila anda bertemu orang Malang. Atau ketika anda melihat persiapan masyarakat untuk menyambut pertandingan Arema. Para pekerja pulang lebih awal. Termasuk dosen saya yang ‘lebih baik’ membatalkan kuliahnya demi nonton Arema. Begitu juga dengan saya. “Lebih baik” titip absen daripada ketinggalan nonton Arema. Hampir seluruh kota Malang cukup ‘sunyi’ ketika Arema bertanding. Apalagi kalo pertandingan Arema disiarkan televisi. Mungkin bagi anda yang bukan pecinta sepakbola Arema dapat tidur di jalanan. Ya itulah mungkin dapat dikatakan jalan sunyi untuk menemui “Tuhan” Arema.

Di dalam stadion, ribuan bahkan puluh ribu manusia menyesaki bangku penonton. Dengan atribut berwarna biru dan berlogo singa hampir bisa dipastikan lautan biru penuh sesak di Kanjuruhan. Seakan menanti kehadiran “Tuhan’, anda bisa berdzikir. Tentunya bukan dengan tasbih, melainkan tahu dan kacang. Makanan yang pasti tersedia di Stadion Kanjuruhan. Anda bisa melihat tua-muda, laki-perempuan, dewasa-anak kecil, TNI-polisi atau lainnya semua tergabung dengan melebur menjadi satu untuk satu kebanggaan. AREMA

Begitu lagu Bagimu Negeri dikumandangkan, semua penonton berdiri sambil bernyanyi. Ada yang mengepalkan tangan, mata tertutup, meletakkan tangan pada simbol Arema dan masih banyak lainnya. Begitu selesai dikumandangkan, semua bunyi dipersembahkan kepada sang “Tuhan” Arema. Terompet, tepuk tangan, siulan, dan lainnya. Iringan nada bersatu dengan gerakan sang orchestra Yuli Sumpil menambah khusyuknya kita untuk mendekatkan diri pada sang “Tuhan”.

Kami Arema, Salam Satu Jiwa

Di Indonesia, kan slalu ada

Selalu bersama untuk kemenangan

Hoy, kami Arema

Salah satu ‘zikir’ favorit yang selalu saya ucapkan ketika Arema bermain. Bentuk ‘zikir’ tersebut biasa dinyanyikan menjelang usai pertandingan. Dan terkadang membuat saya menitikkan air mata karena haru dan khidmatnya dalam menonton Arema. Terlebih jika Arema meraih kemenangan. Ada rasa puas sekaligus bahagia.

Saat selesai, semua berbaris rapi sembari berjalan pulang ke tempat peraduannya. Esoknya, hampir semua masyarakat Malang memiliki topik Arema. Di sekolah, kantor, warung, atau dimanapun. Semua tampak klop jika mengobrol tentang Arema walaupun tidak saling kenal. Ya itulah Arema. Arema mampu menghadirkan ketenangan batin, kehangatan raga dan kesunyian jiwa. Arema mampu mengejawantahkan ’petunjuk’ baik secara horizontal maupun vertikal. Dan mengutip kata Gus Mus bahwa Arema mampu mengajarkan arti dari kesalehan secara sosial dan ritual. SALAM SATU JIWA. AREMA !!!

 

Moddie Alvianto Wicaksono

Komunitas Gaspolian ( Gerakan Suka Sepakbola, Politik, Kopi, Film dan Lainnya )

Bisa diikuti di @moddiealdieano

Advertisements

Marah

anak-marah-_120213181059-107

Apa yang terlintas di otak anda jika mendengar kata marah ? Mengerikan ? Menyakitkan ? Bermuka datar/cemberut ? Mulut membuka lebar-lebar sembari berteriak ?Mata memincing ? Mulut seperti orang sewot ? Kuping rasanya panas ? Atau yang lain? Seringkali orang mendengar kata ‘marah’ akan menimbulkan sesuatu yang negatif. Jarang ada orang yang mendengar kata ‘marah’ justru menganggapnya sesuatu yang positif. Begitu pula dengan saya.

Mungkin saya atau anda tidak suka marah. Bukannya apa-apa. Menurut saya, marah adalah sesuatu yang sia-sia. Sesuatu yang tidak membuat keadaan menjadi baik bahkan cenderung ke arah yang buruk. Saya cukup heran dengan orang yang suka sekali marah. Mereka akan mengumpat apapun yang ingin dia katakana. Pokoknya sesuatu yang sifatnya negatif lah. Terkadang seringkali umpatan tersebut berucap nama-nama binatang. Mungkin anda pernah mengatakan juga.

Suatu hari, saya yang tidak pandai marah dipancing oleh teman-teman saya untuk marah. Saya terheran-heran dengan perilaku teman-teman saya yang berusaha membuat saya marah. Mereka makin kesal jika saya hanya diam kemudian tersenyum. Mungkin usaha mereka gagal. Atau mungkin juga mereka kurang pandai mempengaruhi pikiran saya agar bertindak dan bersikap marah.

Saya memang anti marah tapi se-anti-antinya saya, saya juga pernah marah. Saya pikir waktu itu marah adalah sesuatu kewajaran karena menurut saya perbuatan itu sungguh tidak layak. Saya sampai harus membanting pintu dan helm ketika saya marah. Sontak, teman-teman sekitar justru kelimpungan dengan sikap saya yang tiba-tiba (mungkin bisa dihitung jari) marah tak terkendali. Alhasil, pada waktu itu saya hanya meninggalkan kerumunan tanpa mengucapkan pesan.

Marah bukanlah sesuatu yang baik. Alim ulama pun pernah berkata demikian. Jika anda marah dalam keadaan berdiri maka usahakan duduk. Jika dalam keadaan duduk masih saja marah, maka segera berwudhu (bagi yang muslim). Jika berwudhu belum meredakan amarah maka anda berdzikir. Jika masih belum bisa reda, maka lebih baik anda tidur. Ya tidur. Tidur bisa melupakan hampir segala hal termasuk marah.

Seringkali anda melihat sekelompok orang atau sepasang kekasih marah dalam hal tak terkendali di persimpangan jalan ataupun di kantor, mungkin di mall atau di warung. Bahkan mungkin anda sebagai pembaca salah satu aktornya. Anda mungkin bisa berteriak, main tangan, atau mungkin acuh tak acuh kemudian pergi. Ekspresi orang ketika marah bisa pelbagai macam.

Namun belum tentu jika anda bernada tinggi atau mendengarkan sesuatu yang negatif bisa berarti marah. Tengoklah orang-orang Jawa Timur ataupun masyarakat Sulawesi. Mereka bahkan harus ‘mengumpat’ untuk menunjukkan bahwa mereka tidaklah marah melainkan sedang bahagia. Di Jawa Timur mungkin anda sudah sering mendengar umpatan “DJANCOK”. Ya, umpatan khas arek-arek Suroboyo/Malang. Ungkapan tersebut belum tentu umpatan karena tergantung konteks kalimat dan kondisi dimana mereka berada.

Kalo sudah begitu, sebenarnya marah itu seperti apa ? tujuan untuk apa ? bagaimana cara mengungkapkannya ? mengapa marah ?. Sekali lagi itu tergantung konteks dimana anda berada. Kalo anda di Jawa Tengah kemudian berkata “ASU, BAJINGAN” mungkin anda akan dihina bahkan dianggap masyarakat tidak baik. Tapi kalo anda berkata “DJANCOK” di Jawa Timur ya belum tentu dianggap jelek. Namun poin pentingnya adalah anda boleh bersikap marah. Tapi dalam batas yang wajar. Karena lebih baik pernah marah walaupun tidak terlalu sering daripada anda harus marah dengan jangka waktu tiap hari. Sekali lagi itu pilihan anda.

Kereta Api

Mesin berjalan. Saya menyebutnya seperti itu. Mesin ini bisa berarti mobil, motor, pesawat, kapal, ataupun kereta api. Namun kali saya ingin bercerita tentang kereta api. Bukannya apa-apa. Mesin yang satu ini memberikan warna dan makna bagi kehidupan saya. Mulai dari umur balita hingga menjelang usia 26 tahun. Dari semua transportasi umum, yang paling favorit adalah kereta api !!

Kereta api mengalami transformasi dar tahun ke tahun. Pelbagai peningkatan baik fasilitas dan layanan terus diperbaiki. Kereta api yang dulunya hanya terdiri dari ekonomi, bisnis, dan eksekutif kini bertambah menjadi kereta wisata. Lorong dan gerbong kereta api juga mengalami perubahan. Apalagi pelayanannya, sekarang tidak ada penjaja makanan dan minuman bebas sembarangan berkeliaran di lorong kereta api. Hampir semua gerbong kereta api kini memiliki AC (Air Conditioner) bukan Angin Tjendela. Tiket kereta api bisa dipesan online dan juga anda memperoleh boarding pass. Suatu kemajuan yang baik bagi transportasi umum di Indonesia.

Saya dulu masih ingat bahwa saya bisa masuk tanpa memesan tiket kereta api terlebih dahulu. Jadi bayar diatas kereta. Saya juga masih ingat ketika menaiki Argo Lawu ada layanan spesial berupa makan siang dengan wujud nasi goreng + telor. Saya juga masih ingat bahwa saya pernah membuat malu orangtua karena pernah ngompol di kursi kereta. Peristiwa yang menggelikan. Pernah pula, saya tidur dibawah kursi karena orang tua saya tidak mampu membeli tiket lebih. Bau tapi menyenangkan.

Di kereta api, anda dapat menemukan pelbagai macam tipe orang. Ada yang sejak awal duduk sampai tiba di tempat tujuan menggunakan headset. Ada yang langsung tertidur dengan menggunakan penutup mata. Ada yang suka ngemil sepanjang perjalanan. Ada pula yang berbekal buku/koran/majalah. Ada pula yang suka ngobrol dengan lawan di depan/sampingnya. Sedangkan saya termasuk golongan yang lain. Saya lebih suka mengisi TTS dengan buku yang covernya gambar aduhai.

Saya lebih menyukai perjalanan kereta api saat pagi. Saya bisa menikmati pemandangan sawah, sungai, mobil yang beradu kecepatan dengan kereta api bahkan anak-anak kecil yang suka melempari batu ke kaca kereta api. Bukannya apa-apa. Jika malam tiba di stasiun, ada suasana yang bercampur senang dan haru. Apalagi jika stasiun yang dituju adalah Stasiun Kota Baru Malang dan Stasiun Tugu Yogyakarta. Kalo sampai di stasiun Tugu, anda akan disambut oleh sergapan tukang becak yang siap mengantar anda keliling Malioboro. Kalo sampai di stasiun Malang, anda akan disambut puluhan angkot berwarna biru yang siap mengantar anda keliling kota Malang. Menurut saya dua stasiun tersebut boleh dibilang nyeni.

Saya juga menyukai perjalanan kereta api karena disitu saya bisa duduk melamun, kontemplasi dan mengeksploitasi kepribadian orang-orang. Saya pikir kereta api mampu menghadirkan tawa, tangis, harapan, dan kenangan. Andaikan ada kesempatan untuk menjadi Duta Kereta Api Indonesia maka saya harus mendaftarkan diri !!.

Jayalah terus kereta api Indonesia

 

JUNI

 

Juni adalah bulan dengan penuh gelaran seni

Gelaran seni yang mengangkat tema berani

Berani bukan karena kita saling mengerti

Namun kita lebih sibuk untuk memaki

 

Juni adalah bulan yang pasti dinanti

Dinanti karena juni selalu terpuji

Terpuji bukan karena kita saling menghormati

Namun kita lebih sibuk untuk mencaci

 

Juni adalah bulan dengan penuh basa-basi

Basa-basi yang mengangkat cerita komunis

Komunis bukan karena kita saling memahami

Namun kita lebih sibuk untuk menodai

 

Juni adalah bulan yang pasti dilematis

Dilematis karena juni selalu melankolis

Melankolis bukan karena kita sering menangis

Namun kita lebih sibuk untuk menganalisis

 

Juni adalah bulan dengan penuh cerita mimpi

Mimpi yang mengangkat tema anti korupsi

Anti Korupsi bukan karena kita saling memerangi

Namun kita lebih sibuk untuk mencederai

 

Juni adalah bulan yang terbiasa dikasihani

Dikasihani karena juni terkadang meratapi

Meratapi bukan karena kita saling sadar diri

Namun kita lebih sibuk untuk lupa diri

 

Juni adalah bulan yang selalu misteri

Misteri yang membawa cerita berseri

Berseri bukan karena kita saling hati-hati

Namun kita lebih sibuk untuk menghakimi

 

Juni adalah bulan yang memasuki zona religi

Religi yang nanti mengajak kita mawas diri

Mawas diri sebab kita wajib mensyukuri

Mensyukuri karena Ramadan hadir kembali.