Marah

anak-marah-_120213181059-107

Apa yang terlintas di otak anda jika mendengar kata marah ? Mengerikan ? Menyakitkan ? Bermuka datar/cemberut ? Mulut membuka lebar-lebar sembari berteriak ?Mata memincing ? Mulut seperti orang sewot ? Kuping rasanya panas ? Atau yang lain? Seringkali orang mendengar kata ‘marah’ akan menimbulkan sesuatu yang negatif. Jarang ada orang yang mendengar kata ‘marah’ justru menganggapnya sesuatu yang positif. Begitu pula dengan saya.

Mungkin saya atau anda tidak suka marah. Bukannya apa-apa. Menurut saya, marah adalah sesuatu yang sia-sia. Sesuatu yang tidak membuat keadaan menjadi baik bahkan cenderung ke arah yang buruk. Saya cukup heran dengan orang yang suka sekali marah. Mereka akan mengumpat apapun yang ingin dia katakana. Pokoknya sesuatu yang sifatnya negatif lah. Terkadang seringkali umpatan tersebut berucap nama-nama binatang. Mungkin anda pernah mengatakan juga.

Suatu hari, saya yang tidak pandai marah dipancing oleh teman-teman saya untuk marah. Saya terheran-heran dengan perilaku teman-teman saya yang berusaha membuat saya marah. Mereka makin kesal jika saya hanya diam kemudian tersenyum. Mungkin usaha mereka gagal. Atau mungkin juga mereka kurang pandai mempengaruhi pikiran saya agar bertindak dan bersikap marah.

Saya memang anti marah tapi se-anti-antinya saya, saya juga pernah marah. Saya pikir waktu itu marah adalah sesuatu kewajaran karena menurut saya perbuatan itu sungguh tidak layak. Saya sampai harus membanting pintu dan helm ketika saya marah. Sontak, teman-teman sekitar justru kelimpungan dengan sikap saya yang tiba-tiba (mungkin bisa dihitung jari) marah tak terkendali. Alhasil, pada waktu itu saya hanya meninggalkan kerumunan tanpa mengucapkan pesan.

Marah bukanlah sesuatu yang baik. Alim ulama pun pernah berkata demikian. Jika anda marah dalam keadaan berdiri maka usahakan duduk. Jika dalam keadaan duduk masih saja marah, maka segera berwudhu (bagi yang muslim). Jika berwudhu belum meredakan amarah maka anda berdzikir. Jika masih belum bisa reda, maka lebih baik anda tidur. Ya tidur. Tidur bisa melupakan hampir segala hal termasuk marah.

Seringkali anda melihat sekelompok orang atau sepasang kekasih marah dalam hal tak terkendali di persimpangan jalan ataupun di kantor, mungkin di mall atau di warung. Bahkan mungkin anda sebagai pembaca salah satu aktornya. Anda mungkin bisa berteriak, main tangan, atau mungkin acuh tak acuh kemudian pergi. Ekspresi orang ketika marah bisa pelbagai macam.

Namun belum tentu jika anda bernada tinggi atau mendengarkan sesuatu yang negatif bisa berarti marah. Tengoklah orang-orang Jawa Timur ataupun masyarakat Sulawesi. Mereka bahkan harus ‘mengumpat’ untuk menunjukkan bahwa mereka tidaklah marah melainkan sedang bahagia. Di Jawa Timur mungkin anda sudah sering mendengar umpatan “DJANCOK”. Ya, umpatan khas arek-arek Suroboyo/Malang. Ungkapan tersebut belum tentu umpatan karena tergantung konteks kalimat dan kondisi dimana mereka berada.

Kalo sudah begitu, sebenarnya marah itu seperti apa ? tujuan untuk apa ? bagaimana cara mengungkapkannya ? mengapa marah ?. Sekali lagi itu tergantung konteks dimana anda berada. Kalo anda di Jawa Tengah kemudian berkata “ASU, BAJINGAN” mungkin anda akan dihina bahkan dianggap masyarakat tidak baik. Tapi kalo anda berkata “DJANCOK” di Jawa Timur ya belum tentu dianggap jelek. Namun poin pentingnya adalah anda boleh bersikap marah. Tapi dalam batas yang wajar. Karena lebih baik pernah marah walaupun tidak terlalu sering daripada anda harus marah dengan jangka waktu tiap hari. Sekali lagi itu pilihan anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s