Category: Cerita

Bulan April

Sudah lama saya tak menulis apa pun di laman blog. Mungkin ada baiknya saya menulis lagi di sini sekadar bersua dengan teman-teman yang kebetulan menyukai tulisan saya.

Bulan April kali ini memang menjadi sesuatu yang spesial. Ada rasa kesedihan dan ada rasa kebahagiaan.

Rasa sedih mungkin bisa terlihat dari ‘kekalahan’ Juventus dari Real Madrid. Yah, pada akhirnya hal tersebut menjadi ironi bagi Gianluigi Buffon karena harus mengakhiri Liga Champions lebih cepat.

Ada pula berita tentang kematian Avicii. Sungguh ini berita mengejutkan. Anak muda se-potensial tersebut harus meregang nyawa karena gangguan kesehatan di usia 28 tahun. Lagu-lagunya selalu menghiasi mp3 saya saat kuliah di Malang. Mulai dari The Night hingga Wake Up.

Terakhir, ada berita mundurnya Arsene Wenger dari Arsenal. Lebih dari 20 tahun dedikasinya terhadap Arsenal. Salah satu tulisan yang cukup membuat saya mbrebes mili adalah tulisan dari rekan saya, Yamadipati Seno. Sebagai redaktur Mojok bidang Olahraga dan pengelola Arsenal Kitchen, tulisan tentang Arsene Wenger sungguh bernas.

Di bulan April ini, saya memiliki beberapa proyek buku bersama teman-teman. Semoga salah satunya bisa terwujud tahun ini. Karena saya selalu memiliki tujuan untuk memproduksi sebuah buku dalam tiap tahun.

Doakan ya dan tunggu tanggal mainnya :’)

Advertisements

Toleran Itu Apa?

Sumber: astaga.com

Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi keberagaman. Karena kita hidup dalam suku, agama, dan ras yang berbeda. Tapi ingat, kalo pendapat yang berbeda itu tak bisa dianggap beragam. Karena pendapat yang benar adalah milik penguasa.

Kamu bisa bilang bahwa kita harus memaklumi orang yang bertato. Tidak semua orang bertato adalah orang yang memiliki perangai buruk dan suka mengutuk. Itu bisa jadi benar.

Saya punya tetangga lelaki yang mungkin hanya mata dan telinga yang tidak ditato. Di lingkungan kami, ia sangat disegani. Bukan karena pesona tatonya, melainkan karena kesigapannya. Jika ada orang kena musibah, ia selalu menjadi orang pertama yang hadir untuk memberikan pertolongan.

Kalo kamu bilang orang bertato itu berbahaya, mungkin kamu masih masuk ke dalam alam ORBA yang memang pada waktu itu orang bertato dianggap preman. Dan tentunya meresahkan hingga harus dipisahkan dari dunia nyata. Alias dikembalikan ke alam baka.

Kamu bisa bilang bahwa kita harus memaklumi perempuan yang merokok. Tidak semua perempuan merokok adalah perempuan hina dan pantas untuk dicerca. Itu bisa jadi benar.

Kamu tahu Danilla Riyadi kan? Penyanyi perempuan berkacama bulat dengan suara yang membuat siapa saja yang mendengarnya seakan terbius. Coba dengarkan lagu Berdistraksi atau Senja Diambang Pilu. Kamu akan dibuat melayang dengan suara indahnya.

Konon, ia sering bernyanyi sembari merokok. Ia seakan tak peduli tentang omongan orang bahwa perempuan merokok itu moralnya buruk. Ia pun bisa membuktikan bahwa ia bisa menghasilkan karya yang baik dan bagus.

Kalo kamu bilang perempuan merokok itu hina, mungkin kamu masih masuk ke zaman lampau bahwa rokok itu diciptakan untuk lelaki bukan untuk perempuan. Haduh.

Kamu bisa bilang bahwa perempuan bercadar itu radikal. Padahal tidak semua yang bercadar itu memiliki jiwa radikal. Itu bisa jadi benar.

Sebuah desa di utara kota Jogjakarta ada sekelompok perempuan bercadar yang mengontrak sebuah rumah. Memang, mereka memiliki pengajian yang mungkin hanya bisa dimasuki oleh kelompoknya.

Tapi, jika ada kerja bakti, mereka selalu menyempatkan hadir. Tak jarang mereka sering membagi-bagikan makanan ke tetangga sekitar. Apakah tetangga sekitar merasa terancam? Tidak.

Ya kecuali kalo kamu sedang berada di kampus yang (mungkin) mayoritas tak bercadar dan kebetulan kamu bercadar, lebih baik pindah. Bukan karena kamu nanti bisa dipecat atau disingkirkan, tetapi untuk berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

Cerita-cerita yang saya ungkapkan di atas adalah kisah nyata yang terjadi di Indonesia. Khusus yang terakhir adalah kisah yang baru saja terjadi. Lebih tepatnya di Jogjakarta.

Konon, kampus adalah tempat yang paling netral untuk mengadu pernyataan dan mengaduk pemikiran. Tempat di mana para mahasiswa boleh mengungkapkan pendapatnya.

Tak peduli itu sifatnya provokatif dan agitatif. Tak peduli pula kamu pakai celana jeans belel atau kaos oblong.
Tapi itu dulu. Lain sekarang. Kampus harus memiliki aturan mana aturan yang pantas dipatuhi dan tak boleh dilanggar. Kalo dilanggar? Ya, kamu keluar. Tak peduli sepintar apa isi otakmu. Tak peduli apa sejenius apa ucapanmu.

Tentu kampus yang seperti itu pasti punya alasan tersendiri kenapa mahasiswa harus berpakaian seperti itu. Ingat, mahasiswa yang patuh tercermin dari kampus yang baik.

Jadi semisal di kampus kamu ada larangan bercadar, ya jangan coba-coba untuk pakai cadar. Apalagi setelah ada investigasi dan doktrin yang menyatakan bahwa yang bercadar terindikasi radikal. Ya, kelae urusanmu.

Mau pake alasan kalo kamu bercadar hanya ingin menutupi debu dan asap kendaraan bermotor yang makin berkeliaran di kotamu, atau mungkin kamu bercadar karena kamu takut bahwa jerawat atau komedomu terlalu banyak, tetap saja kamu melanggar aturan.

Lalu kamu mau bilang ini hak berpakaian? Hak untuk kebebasan ekspresi? Apa ini perilaku keberagaman? Loh kamu siapa?

Bercadar kok dianggap keberagaman. Bercadar ya radikal. Titik. Ndak ada kompromi. Ingat, keberagaman itu mayoritas. Bukan milik minoritas.

Kemudian kamu menuntut hak minoritas? Hak untuk hidup? Loh kamu siapa? Emang ada yang mau lembaga HAM membela kamu? Kalo dibilang radikal ya radikal. Kok masih ingin membela diri.

Tapi sekali lagi, tampaknya kamu tak ingin menyerah. Kamu ingin bilang harusnya ini kebhinekaan? Harusnya ini pluralisme?

Ya ampun. Sudah dihakimi kalo kamu radikal kok malah menuntut kebhinekaan? Kebhinekaan itu ya bersifat nusantara dan berkemajuan. Sama seperti pluralisme. Pokoknya tak ada hak bagi kamu untuk membela.

Terus kamu sekarang mau mempertanyakan toleran itu apa?

Toleran itu yang memenuhi harapan penguasa. Bukan memenangi hati penguasa. Ingat, kadang orang yang toleran bisa jadi intoleran. Kadang, tidak selalu kok.

Bus Baker: Dipilih Karena Nyaman, Dipilah Karena Zaman

Dulu, di Jogja, naik bus adalah sebuah keniscayaan. Sebuah ritual transportasi yang harus dilakukan oleh pelajar atau pekerja. Sebuah kewajiban yang pasti dilakukan untuk sekadar belajar di pantai atau naik gunung.

Sekarang, mungkin jarang. Apalagi bus umum yang melintas dengan menggunakan trayek Jalan Kaliurang sampai Terminal Umbulharjo hampir tidak ada. Kalopun ada, itu pasti bus pariwisata.

Dan cerita ini mungkin sedikit nostalgia bagi saya dan kita yang lahir di generasi 90an atau bahkan jauh sebelum itu. Cerita itu bernama bus Baker.

Baker adalah salah satu bus legendaris yang melintas Jalan Kaliurang (Jakal). Saat itu, trayek yang digunakan adalah Jakal-Terminal lama Umbulharjo (kalo sekarang sudah ganti XT Square).

Dengan warna dominan putih gading dan garis-garis biru, bus Baker sering berlalu lalang di Jalan Kaliurang dari pagi buta hingga petang menjelang malam.

Sebenarnya trayek yang digunakan Baker lebih ke arah Godean ataupun antar kota seperti ke Purworejo dan Solo. Namun, bus Baker lebih dikenal masyarakat Jogja sebagai satu-satunya bus yang berani menjelajah jalan dari Selatan hingga Utara. Ya, trayek Jakal tembus hingga pemandian Tlogo Putri bahkan bisa saja sampai batas pendakian Gunung Merapi.

Tak jarang, Baker lebih dikenal sebagai bus pendakian daripada bus umum. Karena waktu itu, cuman Baker yang bisa sampai ke kaki Gunung Merapi. Lainnya? Jarang.
Saya ingat waktu pertama kali pergi bersama teman-teman SD (kayaknya saya kelas 4) ke pemandian Tlogo Putri. Tentu saja, bus yang dipilih adalah Baker.

Awalnya sih mulus-mulus saja. Namun, begitu sampai jalan agak menanjak, ndilalah, bus berhenti. Tak kunjung bergerak naik. Lha ya kami bingung. Takut njempalik.
Kami turun. Dengan sigap, sang kondektur menaruh aksesoris ‘ganjel ban’ yang sepertinya khusus dimiliki Baker di area ban belakang. Bagi saya, kenangan pertama adalah ganjel ban. Dan itu sungguh unik. Tak tergantikan di masanya.

Kenangan kedua adalah bus sekolah. Ya, saat itu seingat saya bus Baker adalah satu-satunya bus yang mengangkut bocah ingusan macam saya untuk berangkat sekolah.

Kalo sudah begitu saya jadi ingat lagu Koes Plus tentang bus sekolah. Dan mungkin liriknya perlu diganti menjadi “bus Baker yang kutunggu, kutunggu, tiada yang datang.”

Ya walaupun sudah harus berangkat pagi-pagi buta, kok ya tetap saja begitu datang, bus Baker selalu penuh! Walah. Ini bukan karena armadanya sedikit lho ya. Armadanya banyak. Bahkan berlebih. Tapi karena kecintaan orang-orang saat itu pada bus Baker, hambok berdiri dari awal hingga akhir ya rela kok! Yang penting naik bus Baker. Titik tanpa terkecuali.

Sejarah dari bus Baker bermula dari PT. Baker (Badan Angkutan Kerjasama Ekonomi Rakyat). Pendirinya adalah H.M. Digdosudarto pada 12 Juli 1950. Bus Baker boleh dibilang transportasi tak tergantikan di Jawa Tengah khususnya masyarakat Jogja. Dan lebih-lebih warga yang bermukim di Jalan Kaliurang.

Bisa anda bayangkan, 40 tahun lamanya bus Baker digunakan sebagai transportasi umum. Sebenarnya ada angkutan desa yang melintas di Jalan Kaliurang. Orang menyebutnya kol (dari kata Colt). Tapi entah kenapa banyak orang lebih memilih naik bus Baker.

Mungkin karena kelihaian supirnya, kecakapan kondekturnya hingga kemantapan busnya. Perlu anda ketahui, bus Baker menggunakan mesin Mercedes Benz. Saat itu, merek tersebut adalah merek terbaik untuk sebuah kendaraan bus. Mewahlah pokoknya.

Kursinya boleh dibilang nyaman. Walaupun tak ‘senyaman’ bus Trans Jogja yang setiap tahun diperbaharui tapi rasanya begitu-begitu saja. Tapi jumlah kursinya sangat banyak. Seperti bus antar kota antar propinsi.
Disediakan beberapa tas plastik yang tergantung di tiang atas. Buat apa? Ya buat kamu yang mabok darat. Biar ndak repot untuk membuang residu muntahmu.

Makanya, banyak orang menggilai bus Baker. Pikir saya, mungkin di bagian pedal gas tertulis “Pejuang.” Sedangkan untuk pedal rem tertulis “Pecundang.” Cepat, Rapat, dan Kuat. Saya yang badannya kecil mungil harus dipeluk erat sama bapak agar tidak munting kesana kemari.

Kalopun nantinya ada penumpang jatuh, bukan busnya yang disalahkan tapi penumpangnya yang dikasih tahu sesama penumpang.

“Makane le, cekelan seng nggenah.” (Makanya nak, pegangan yang benar).

Nah, dikiranya penumpang yang jatuh biasanya dianggap penumpang baru atau tak terbiasa menggunakan bus Baker. Mungkin terbiasa naik angkutan desa. Pelan-pelan tapi tetap jalan.

Sekarang bus Baker sudah jarang. Bahkan menjurus tak ada. Di era millenium atau lebih tepatnya semenjak harga motor murah meriah, bus Baker ditinggalkan. Padahal bus sempat ditransformasi. Diperbarui dengan lebih apik.

Tapi harga bensin yang mungkin mudah sekali terjangkau membuat penumpang berpikir lagi.
Lebih baik mengisi bensin 2500 rupiah tapi bisa awet hingga 2-3 hari daripada menggunakan bus yang sekali jalan bisa merogoh kocek lebih dari 2000 rupiah.

Dan itu sudah terbukti. Bus sebagai transportasi umum hampir punah. Bus Baker tak ada. Jumlah Kopata miris. Kol tak lagi diharapkan. Beruntung masih ada Trans Jogja. Tapi menurut saya, itu hanya sekadar pemanis supaya Jogja dianggap kota yang ramah bagi wisatawan.

Kalo mau naik ke Kaliurang, Tlogo Putri, bahkan Gunung Merapi ya mau tak mau terpaksa sewa mobil. Agak mahal. Tapi apa boleh bikin, tiada yang lain.

Bagi saya, Baker seperti residu kenangan yang melekat. Tidak akan pernah terlewatkan apalagi terlupakan di hati saya. Karena setidaknya saya tahu bahwa Jogja pernah punya transportasi umum yang melegenda.

PNS

Pekan ketiga Oktober 2017 adalah pekan yang menegangkan. Begitulah gambaran yang tepat sebagai ungkapan ekspresi para pegiat CPNS. Ya, sudah sepekan ini tes CPNS dilaksanakan di mana-mana termasuk di kota saya, Yogyakarta.

Kebetulan saya baru saja melaksanakan tes yang boleh dibilang melelahkan dan menegangkan. Bagi saya, ini tes ketiga yang sama menengangkannya setelah UN SMA dan ucapan ijab kabul. Bedanya adalah suasana yang berlangsung di arena tersebut.

Oke mari kita mulai ceritanya.

Saya mendapat jadwal pukul 12 siang. Bagi saya, itu jadwal aneh. Disaat orang-orang seharusnya istirahat, ini malah melaksanakan ujian. Lebih tepatnya ujian negara. Apa jadinya mau jadi calon pengabdi negara malah melawan aturan negara? Tentu saya tak mungkin melakukannya dalam waktu dekat.

Dalam peraturan disebutkan bahwa peserta harus hadir 1 jam sebelum jadwal pelaksanaan dimulai. Saya kira hal tersebut cukup bagus mengingat kalian tahu sendiri bahwa manusia Indonesia lebih suka terlambat daripada tepat waktu. Dan itu sudah mem-budaya dari level atas sampai bawah.

Saya berangkat menggunakan setelan Juventus. Kemeja putih dipadu dengan celana hitam. Saya heran sejak kapan pakaian putih-hitam dianggap sebagai bentuk pakaian bagi para calon anggota baru. Dan sekali lagi hal tersebut telah mem-budaya di pelbagai instansi. Atau jangan-jangan memang para presiden Indonesia adalah fans Juventus? Entahlah~

Sampai di sana, kami dipersilahkan duduk sesuai urutan. Datang paling awal dapat di depan. Kalo datang paling akhir ya dapat paling belakang. Tampak beraneka ekspresi dari para peserta CPNS. Ada yang ngantuk. Muram. Cemas. Bahagia. Dan Woles.

Semua sudah harus mempersiapkan kartu peserta ujian dan KTP. Barang bawaan yang tak perlu harap dimasukkan tas atau dititipkan ke pengawas. Barang tersebut antara lain jam tangan, cincin, kalung, handphone, kunci motor, dan jimat. Untuk yang terakhir, pengawas mengatakan berulang kali. Mungkin takut kejadian tempo lalu bisa terjadi di Yogyakarta.

Daripada kunci motor, kok para pengawas ndak memikirkan sabuk celana. Padahal hal tersebut lebih berbahaya. Dalam berbagai kasus pencurian atau pembegalan biasanya jimat ditaruh di sabuk. Bukan di kunci motor. Mungkin pengawas luput atau mungkin mereka berpikir kalo peserta ndak pakai sabuk justru celananya mlotrok.

Kan ya ndak lucu. Ini mah namanya pencemaran busana rapi.~

Saat melewati pemberkasan, seorang petugas berbicara dengan pelan kepada teman di sebelahnya. “Orang Jogja kalem-kalem yha.” Entah apa maksud dibalik ucapan tersebut. Saya menduganya bahwa mungkin mereka melihat orang-orang Jogja terbiasa menaati peraturan di dalam ruangan. Beda kalo di luar ruangan. Lebih kelam.

Apalagi kalo di jalanan. Pengendara Jogja adalah juaranya. Tak heran para pembalap nasional selalu dari Jogja. Sebut saja Doni Tata, Hendriansyah dan masih banyak lainnya.

Kemudian kami naik ke lantai dua. Kami kembali diperingatkan supaya barang-barang bawaan tak perlu harap dititipkan. Tersedia pelbagai loker yang tersedia. Jadi sekali lagi, kita hanya membawa KTP dan kartu peserta ujian.

Sembari menunggu, kami dihimbau untuk melihat papan layar berisi tata cara pengisian jawaban. Saya menyimak dengan seksama hingga muncul kalimat yang menurut saya janggal. Saya tak begitu ingat susunan katanya. Namun kira-kira seperti ini, “jika para peserta telah selesai, silakan pencet tombol selesai ujian maka muncul halaman score.”
Saya heran. Apa itu score? Hasil akhir? Yawla ini tes CPNS di Indonesia loh. Bukan di Enggres atau Selandia Baru. Andaikan saat itu ada Ivan Lanin, sudah pasti beliyo akan tersenyum sambil berkata, “Maaf saya masih berada di Indonesia kan? Tolong gunakan kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar.”

Azan berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 11.45. Ada seorang peserta yang meminta waktu untuk solat zuhur. Ah, sayang sekali. Permintaan tersebut ditolak dengan alasan bahwa waktu tes CPNS tidak lebih dari 2 jam. Jadi masih ada waktu untuk solat zuhur.

Andaikan peserta tersebut adalah pendukung anti Jokowi, ia pasti akan berkata, “Indonesia adalah negara sekuler. Mau sholat tepat waktu saja tak boleh!!” Tapi ia tak mungkin kuat mengatakan demikian. Ia saja masih berharap pada negara masa mau menghardik negara. Kan ya ndak mungkin toh~

Tapi setelah itu mungkin ia tersenyum.

Begitu masuk ke ruangan, ada yang aneh. Tak ada foto Jokowi dan Jusuf Kalla. Sekelas gedung negara tak ada foto kepala negara kan aneh bin ajaib. Kalo ada pendukung pro Jokowi mungkin mereka akan berteriak, “Ini kok foto kepala negara tak ada, ndak ada hormat-hormatnya. Ini sama saja menghina simbol negara. NKRI Harga Mati!!”

Tapi kan ndak mungkin hal tersebut diucapkan. Muke gile boss!!

Di dalam ruangan tersedia empat kamera pengintai. Dua di depan. Satu di sebelah kanan dan satu di belakang. Ini bagus. Mungkin agar mempersulit kita untuk mencontek. Kemudian terdapat enam pendingin ruangan. Baguslah. Jogja panas beett. Dua kaca besar di belakang. Saya ndak ngerti maksudnya apa ditaruh kaca. Dikira kita mau cukur rambut kali yha~

Sebelum mulai, ada sebuah kejutan berharga. Seorang pejabat yang mewakili sebuah lembaga hadir. Memberi pesan-pesan perjuangan. Tak lupa mengingatkan bahwa kalo jadi PNS harus siap lembur. Jangan dikira PNS itu kerjaannya hanya ngopi dan baca koran.

Batin saya, “wah saya salah masuk lembaga. Harusnya kan PNS emang seperti itu. Apa sudah berubah sejak era Jokowi karena slogan kerja, kerja, dan kerja?” Entahlah.

Selesai memberi pesan-pesan tersebut, tak lupa ia melakukan swafoto. Ingat, sudah sepantasnya pejabat melakukan hal demikian. Biar dianggap kekinian. Masa mau dibilang pejabat ndeso. Itu mah cuma label yang disematkan pada Jokowi. Eh.

Nah. Tes dimulai. 100 soal dengan waktu 90 menit. Tes terdiri dari tiga hal. Wawasan kebangsaan, intelegensi umum, dan karakteristik pribadi. Dari sini mulai terlihat tingkah laku peserta yang unik-unik.

Ada yang selalu memutar “godek”. Ada yang berulangkali lepas kacamata. Ada yang lelah mengatur nafas. Ada yang kedinginan. Tapi dari semua itu ada yang paling aneh. Selalu mencolokkan pensil ke lubang hidung di sebelah kiri. Saya kira itu cuma sekali dua kali. Tapi itu berulang kali. Seriyes.

Mungkin itu semacam jimatnya untuk menjawab soal. Barangkali lho ya.~
Setelah 90 menit, semua peserta tampak ada yang senang dan sedih. Ya itu karena hasil langsung diumumkan. Tapi katanya itu belum menjamin kelulusan karena masih diatur sesuai peringkat. Ini saya yang ndak ngerti.

Ya sudah begitulah ceritanya. Sebenarnya masih banyak cerita-cerita konyol pasca usai tes. Tapi saya sudahi dulu saja yha.

CADAR

Ada banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan Oktober. Belanda gagal lolos Piala Dunia 2018, film Pengabdi Setan dinobatkan sebagai film horor terlaris sepanjang masa, pelantikan Anies-Sandi yang menuai kontroversi gegara kata “pribumi”, hingga pelarangan cadar di berbagai negara.

Saya mau cerita soal cadar. Mulai dari Kanada. 17/10/2017 (kayak angka cantik ya) secara resmi parlemen Kanada membincangkan kembali masalah cadar layak di publik atau tidak. Sebagai negara yang konon katanya menganut prinsip kebebasan, ada pro kontra yang terjadi. Cadar diperbolehkan karena hak individu dan asalkan tidak mengganggu ketertiban umum. Cadar dilarang karena keterkaitan isu terorisme dan islamophobia yang kian menggurita.

Selama ini, Kanada diklaim menerapkan kebebasan bagi seluruh penduduknya. Mau kamu penganut LGBTQ, pemuja setan, penyuka makanan mentah, semua dilindungi. Begitu pula dengan kelompok mbak2 bercadar. Dilindungi atas nama kebebasan berkumpul dan berserikat.
Makanya justru aneh ketika hari ini Quebec, salah satu daerah Kanada meninjau kembali peraturan tentang cadar. Apa ada tekanan dari partai sayap kanan? Entahlah.

Nah, ngobrol soal cadar tentu saja tak bisa lepas dari negara Islam dong. Perdebatan mulai dari kitab suci hingga kitab klasik lagi-lagi menghangat. Ada yang mewajibkan, mensunahkan, hingga tak memperbolehkan.

Saya mau cerita tentang Mesir. Negeri yang baru saja memperoleh tiket Piala Dunia 2018 punya sisi unik soal cadar. Saya mendapat cerita soal cadar dari istri yang kebetulan sedang berada di Mesir. Lebih tepatnya Kairo.
Baru-baru ini, riset dari Thomas Reuters Foundation 2017 menempatkan Kairo sebagai kota tak ramah bagi perempuan pada peringkat pertama dunia. Saya yang baca berita tersebut jujur agak kaget dan risau. Bagaimana mungkin Mesir yang dijunjung dan dikatakan sebagai “Negara Timur Tengah penganut Islam Moderat” oleh sebagian umat Islam di Indonesia bisa mendapatkan label seperti itu?

Tapi setelah membaca berita itu, saya jadi ingat beberapa teman istri saya yang kebetulan sama-sama bertugas di sana beberapa kali mendapatkan “catcalling” oleh orang-orang sana.
Ketika itu kebetulan ada istri saya saat kejadian catcalling yang menimpa temannya, istri saya berteriak dalam bahasa Arab yang intinya “Heh, laki-laki tak beradab! Kaum Firaun!”

Kalian tahu, mereka hanya tersenyum, tertawa, kemudian justru mencoba mengejar rombongan istri dan teman-temannya. Apa reaksi orang-orang sekitar?

Diam saja. Menganggap itu adalah kejadian umum dan sudah biasa.

Setelah kejadian itu, tanggapan saya sederhana. Saya menyarankan istri dan beberapa teman untuk mencoba menggunakan cadar supaya tak diganggu lagi. Tapi agaknya saran itu tak kunjung dilakukan. Toh, alhamdulillah setelah kejadian tersebut, tak ada lagi kejadian serupa.

Nah, kebetulan istri dan beberapa teman ditugaskan untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi mahasiswa dan dosen di Mesir. Ada yang di Pusat Kebudayaan Indonesia, Universitas Ismailiyah, dan Universitas Al Azhar. Kebetulan, istri saya ditempatkan mengajar di Universitas yang disebutkan terakhir.

Betapa kagetnya istri saya, ketika mendapati kelas yang isinya seluruh perempuan memakai cadar. Sejenak ia mbatin, “Kalo di Arab Saudi mungkin wajar, lha ini di Mesir.”
Tentu ini menjadi persoalan sedikit rumit. Ia bertugas tak hanya mengajar kalimat “Ini ibu Ian atau ini ibu sudah pulang” tapi juga bernyanyi atau menari. Mengenalkan aneka budaya Indonesia. Akan tetapi, sayangnya itu tak bisa dilakukan.

Bagi mereka hal tersebut bisa dikatakan ‘haram’. Yang bikin repot pula, mereka tak mau difoto. Padahal kebutuhan laporan mewajibkan ada sesi kelas untuk difoto. Tapi rupanya istri saya tak kehilangan akal. Ia membujuk mereka untuk difoto namun dari belakang. Dan berhasil.

Usut punya usut, selain karena syariat mereka menggunakan cadar karena takut diperlakukan seperti apa yang dialami oleh beberapa teman istri. Dan itu efektif. Sepanjang para wanita menggunakan cadar di Kairo, kemungkinan kecil untuk diganggu. Istri saya sempat bilang kepada saya, “Mungkin ini alasan Allah menempatkan para Nabi di Mesir.”

Tapi tentu saja tak semua wanita Mesir berperilaku seperti itu. Ada juga yang tak mengenakan cadar dan mereka baik-baik saja. Tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.

Di Indonesia, polemik tersebut kembali menghangat pasca ada beberapa kampus negeri yang melarang penggunaan cadar. Ini pasti menimbulkan pro dan kontra. Ada yang berkata itu syariat harus ditegakkan tapi ada pula yang bilang itu budaya Arab. Lantas mana yang benar dan mana yang salah? Saya cuma bilang ketika kebenaran menjadi milik antum, maka kesalahan hanya milik oknum.

Mungkin di era kidz zaman now, agaknya jadi perempuan kekinian sedikit rumit. Berpakaian mini dikira perempuan tak baik-baik, berpakaian maksi dikira anggota teroris. Lha terus perempuan kudu berpakaian macam apa?

Ya, berpakaian layaknya kaum pribumi saja.

MAAF


Demam PKI merebak di mana-mana. Mulai dari grup Whatsapp, media sosial macam Facebook dan Twitter, radio hingga sebuah acara televisi di hari selasa kemarin. 

Bapak saya pernah mengisahkan sebuah peristiwa tentang PKI di tahun 60an. Baginya, PKI begitu mengerikan. Mereka keliling Surabaya tanpa henti dan itu berlangsung hampir tiap hari. 24 jam. Bernyanyi sambil berteriak,

“Dengkul Jaran ayo ran, Rantai Kapal ayo pal, Palu Ariiit…”

Itu sepenggal lirik yang begitu membekas bagi bapak. Saya yang diceritakan seperti itu aja bingung. Cuman bisa bergumam, kok ya ndak capek muter-muter 24 jam tanpa henti? 

Wong, kita aja dengerin konvoi moge dalam sehari aja bisa misuh-misuh ga karuan. Lha ini hampir tiap hari. Tapi waktu itu memang bapak dan sodara-sodara lain memang tak bisa berkutik. PKI memang berkuasa. Apalagi di Jawa Timur, wah jumlahnya tak terkira. 

Memang pesona PKI di Jawa Timur begitu luar biasa. Saking luar biasanya, kalo mereka sudah berkeliaran, banyak warga yang lebih memilih tiarap di rumah. Termasuk bapak saya. 

Ibu saya pun mengamini apa yang dikatakan bapak. Baginya, anggota partai berlambang palu arit sungguh menakutkan. Lebih baik jangan ada obrolan PKI diantara keluarga.

Lucunya, bapak dari ibu saya adalah penggemar Soekarno. Kalo boleh dibilang, kakek saya itu Soekarnoisme. “Urip Mati pokoke Soekarno.” Begitulah kutipan kakek saya. 

Uniknya, adik dari kakek saya adalah anggota TNI yang cukup memiliki pangkat. Saya lupa pangkatnya. Hampir setiap malam, beliau mengunjungi rumah kakek saya. Tujuannya hanya satu. Menjaga supaya kakek saya tidak terciduk oleh teman-temannya adik kakek. 

Sudah begitu rumah kakek dijadikan kumpulan para pemuda-pemuda Marhaen. Semua suku ada, dari Batak, Jawa dan lainnya. Dan kumpulan tersebut terjadi hampir setiap malam. Betapa riuhnya malam hingga membuat nenek saya selalu menyediakan gorengan beserta teh dan kopi. 

Menjelang peristiwa yang sungguh mendebarkan, adik kakek saya selalu datang lebih awal. Kalo biasanya jam 9 ke atas, saat itu selepas maghrib sudah hadir di rumah. 

“Sudah mas, kalo ngobrol politik atau ada unek-unek apa saja dilimpahkan ke saya saja mas. Jangan sampai terdengar ke luar”

Ia benar-benar mencintai kakek. Maklum, mereka hanyalah berdua. Orang tua mereka alias buyut sudah tak ada sejak kecil. Sudah begitu, mereka sempat terpisah satu sama lain hingga akhirnya dipertemukan kembali oleh suatu peristiwa (lain kali saya ceritakan).

***

Malam tadi selepas maghrib, seperti biasa saya, adik, bapak, ibu ngobrol tentang apa saja. Tapi berhubung lini masa dikuasai penuh dengan berita PKI dan semacamnya, alhasil obrolan mengarah ke situ. 

Saya sebenarnya agak malas menanggapi berita-berita macam itu. Apalagi bapak malah nyanyi lagu-lagu PKI yang ternyata unik juga liriknya. Beliau hafal ya karena peristiwa itu. Demo 24 jam tak henti-henti.

Pada akhirnya timbul sebuah pertanyaan ke saya. “Apakah PKI pantas dimaafkan?”

Saya tak bisa menjawab. Tapi kemudian pertanyaan itu saya balik kepada mereka menjadi sebuah analogi. 

“Andaikan saat itu kakek diculik dan dibunuh oleh PKI, kemudian suatu saat bapak dan ibu tahu siapa pembunuhnya. Bahkan sampai tahu anak dari pembunuh tersebut karena notabene sepantaran dengan ibu bapak. Apakah bapak dan ibu bersedia memaafkan pembunuh itu beserta anaknya. Dan apakah bapak ibu (tidak) menyimpan dendam?”

Tak ada jawaban. Bagi saya sendiri itu sungguh pertanyaan sulit. Saya bertanya begitu karena saya memiliki teman-teman di Jawa Timur yang kebetulan banyak buyutnya yang dibunuh dan dibantai oleh PKI. Mereka pun dengan terus terang bahwa mereka masih menyimpan dendam kepada para pembunuh saudara mereka. PKI tak pantas untuk dimaafkan. 

Saya pun memahami posisi mereka. Saya juga tak yakin apakah jika kejadian itu terjadi pada keluarga saya, apakah saya mampu memaafkan pembunuh? Entahlah.

Namun begitu saya juga memiliki teman-teman yang kebetulan dulunya punya hubungan dengan PKI. Keluarga mereka juga dibunuh. Tanpa tahu alasan yang jelas, pokoknya karena punya darah PKI. Ya harus dibunuh. Kalo perlu dibantai.

Saya juga bersimpati kepada mereka. Keluarga mereka dibunuh tanpa sedikitpun melakukan kesalahan. Memang sungguh-sungguh mengerikan peristiwa 65.

Makanya saya salut kepada mereka baik para keluarga yang dulunya pernah terlibat konflik berdarah. Baik dibunuh atau membunuh. Mereka sudah saling melupakan dan mau untuk merajut masa depan yang lebih baik. 

Kata “maaf” adalah sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit untuk diterima. Butuh kesabaran mental, ketahanan tubuh hingga pikiran yang jernih untuk menerima maaf. 

Selamat Tahun Baru Islam 1439 H

Enam Tahun Bersama Penunggu Kamar

Denah oleh Moggie SW

Bagi sebagian anak muda, merantau adalah berkah. Bertemu dengan teman-teman baru. Bergaul dengan lingkungan baru, mencoba makanan asing hingga bertemu dengan makhluk-makhluk asing. Khusus yang terakhir adalah pengalaman saya bersemayam di rumah nenek selama 6 tahun. 

Malang. Kota yang identik dengan salah satu klub sepakbola terbaik di tanah air. Mereka menyebutnya Arema Malang. Selain itu, Malang dikenal sebagai taman bunga. Itu terlihat jika kamu sedang melewati jalan Ijen. Selain taman bunga, daerah ini dikenal sebagai wisata sejarah karena banyak rumah-rumah kolonial yang teronggok di area ijen.

Berjalan ke arah barat pun kamu mungkin takjub dengan pemandangan rumah-rumah mewah bergaya Eropa bak menjulang tinggi ke angkasa. Konon katanya, deretan rumah tersebut hanya dikunjungi pemiliknya setahun sekali. Diantara deretan rumah-rumah mewah, ada rumah sangat sederhana yang ditempati saya, nenek, paman dan almarhum kakek saya. Lebih tepatnya di belakang area Wilis. 

Rumah nenek terbagi menjadi tiga bagian. Ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Ruang depan diisi ruang tamu dan ruang keluarga. Di sebelah ruang keluarga ada dua kamar. Kamar pertama diisi oleh paman saya sedangkan yang kedua diisi oleh nenek saya. Khusus alm.kakek, beliau lebih suka beraktivitas hingga tidur di ruang keluarga. 

Di ruang tengah terdapat satu kamar tidur yang berhadapan langsung dengan kamar mandi. Sedangkan di ruang belakang ada garasi, dapur, dan satu kamar yang nantinya ditempati oleh saya (sekarang jadi ruang tidur tamu/musholla). Diantara ruang tengah menuju ruang belakang ada semacam lorong yang kalo lampu ndak dinyalakan maka gelap gulita. 

Saya mulai menempati rumah nenek saat tahun 2008. Tahun yang mana saya memulai perkuliahan. Saya ditempatkan oleh nenek di kamar bagian ruang belakang. Kata nenek, kamar belakang adalah bekas kamar bapak saya. Jadi untuk mengobati kerinduan kepada Jogja khususnya kepada Bapak, maka rindu bisa dibayar tuntas hanya dengan tidur di kamar tersebut. 

Nyatanya tidak. 

Kamar tersebut seakan menjadi kamar yang memunculkan pesona horror. Suasanya singup seperti tak ada angin yang masuk. Padahal, diatas tempat tidur saya terdapat dua jendela besar. Tapi rasanya percuma. Bukannya angin yang masuk, tapi malah cicak, tawon, hingga tokek menginap di kamar saya. 

Asalkan mereka tak menimbulkan bising sih tak apa-apa. Tapi masalahnya kalo si tokek mengeluarkan suaranya. “Tekkkekkk, Tekkkekkk, Tekkkekkk.” Kamu tahu kan mitos yang berkembang di Jawa? Kalo si tokek bersuara saat dini hari berarti ia sedang berkomunikasi dengan makhluk-tak-kasat-mata di area tersebut. 

Itu yang mengganggu saya, hingga akhirnya saya mau tidak mau menutup jendela supaya hewan-hewan kesayangan tak berkeliaran di kamar saya. 

Namun, ternyata yang berkeliaran tak kunjung usai. Hilang hewan kasat mata, berganti makhluk-tak-kasat-mata muncul sesekali menjelang pukul 01.30-02.30 pagi. Seakan ingin mengabarkan sesuatu. 

“Mas Moddie, saya di sini. Di pojokan. Temani saya yha, uwuwuwu.”

Ia hanya mengganggu saya saat jam segitu. Misal, gantungan baju dan celana dikibaskan. Kadang dibuat jatuh. Tak ada angin dan tak ada petir, tiba-tiba lemari pintu sebelah kiri terbuka dengan sendirinya. Belum lagi ketika saya sedang asyik-asyiknya menonton sepakbola dini hari, televisi mendadak menjadi layar semut. Kemudian gelap.

Mungkin maksudnya baik. Pada jam segitu adalah waktu yang tepat untuk bermunajat ke Tuhan. Shalat Tahajud. Tapi karena iman saya mungkin terlalu lemah, saya lebih suka mangkir dan memilih untuk mengumpat kepada dia. 

“Jancook, ga isok meneng a kon?!!”

Anehnya, kalo sudah dibilang begitu, kok ya mendadak diam. Hening. Tak ada suara. Apa jangan-jangan dia adalah penunggu asli Malang? Entahlah. Saya juga tak peduli. 

Oh iya, sedikit intermeso. Hampir seluruh teman saya menganggap rumah nenek saya adalah rumah kentang. Karena mereka mengganggap hawanya mencekam. Ini ditambah lampu depan teras rumah diberi lampu berwarna merah, kadang-kadang kuning berdaya listrik 5 watt. Mirip rumah seperti film Insidious bukan?

Tak ada satu pun dari teman saya yang berani menginap di rumah nenek. Pernah suatu kali mencoba menginap di kamar saya. Baru satu jam ia memejamkan mata, teman saya itu ingin balik ke kosan lagi. Katanya, ia seperti diajak kejar-kejaran oleh gerombolan anak kecil yang tak terhitung jumlahnya. 

Kalo sudah begitu saya hanya bisa nyengir. Lha, itu sudah menjadi makan malam saya sehari-hari saat tidur. Kalo gak dikejar-kejar mereka ya paling diajak melanglang buana sama si dia-yang-berada-di-pojokan. 

Pernah suatu kali saya mengalami ketakutan yang luar biasa. Saat itu menjelang maghrib. Nenek, alm.kakek dan paman pamit beranjak mau pergi ke masjid yang langsung dilanjut pengajian. Tinggallah saya di rumah. Sendirian. 

Saya beranjak mau mandi mengingat badan sudah mambu keringat mengkudu dicampur ekstrak manggis. Ingat, Jangan pernah mencoba merasakan baunya. Saat itu, saya mau ambil pakaian di kamar. Tapi ada yang aneh begitu memasuki kamar. 

Ada bau yang lebih busuk daripada bau badan saya. Seumur-umur saya tinggal di kamar, baru kali ini ada bau busuk. Dalam sekejap, bulu kuduk merinding. Keringat mengucur deras. Secepat kilat, saya ambil pakaian dan bergegas untuk ke kamar mandi. 

Di dalam kamar mandi, saya hanya bisa bersiul sambil sesekali nyanyi dalam suar fals. Mau bagaimana lagi? Masa’ saya berdoa di dalam kamar mandi? Kan katanya saru. 

Keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk untuk menutupi kemaluan, aya mencoba berjalan senyap menuju kamar. Ternyata baunya tak kunjung hilang. Justru semakin busuk. Perut mual. Kepala puyeng. Saya segera berganti pakaian bergegas meninggalkan rumah. 

Hampir 3 hari lamanya saya tak kembali ke rumah. Karena takut nenek cemas, mau ga mau saya harus balik ke rumah. Tapi terlebih dahulu saya menelpon teman saya yang kebetulan menyambi profesi sebagai “orang pintar”.

Setelah menelepon dan mengutarakan keluh kesah (bukan curhat) tentang kamar, teman saya hanya berkata,

“Kalo kamu balik, cari beras kuning, kemudian lemparkan ke seluruh lantai. Sepertinya kamarmu dulu bekas tempat pemujaan. Nah mungkin saat itu, Ia dan beberapa temannya ingin bernostalgia untuk kembali ke kamarmu.”

Saya hanya bisa membatin “Hancik, kenapa dari dulu bapak ga ngobrol”.

Selepas melaksanakan amanat tersebut, bau sudah tak ada. Gangguan menghilang. Hidup kembali normal. 

3 tahun yang lalu saya wisuda. Bapak dan ibu berkunjung ke rumah nenek. Bercengkrama sembari cerita-cerita masa lalu. Saat asyik bercerita dengan seluruh anggota keluarga, bapak memanggil saya untuk masuk ke kamar saya.

“Alhamdulillah mas, kamu udah wisuda dan udah banyak melewati rintangan serta hambatan. Termasuk untuk kamar ini.”

“Memangnya kenapa pak?”

“Ya jelas kamu bisa melewati tantangan selama 6 tahun untuk kuliah di Malang. Tidur di kamar ini pula.”

“Ada apa sih pak?” Saya penasaran karena bapak tersenyum aneh.

“Disini itu gudangnya hantu. Jadi kalo kamu merasa ada gangguan, ya wajar. Apalagi kalo kamu tidur. Di sebelahmu itu ada yang tidur juga. Kalo ndak genderuwo atau kuntilanak. Jadi kamu hebat mas. Lolos ujian.” Bapak mengakhiri kalimat tersebut sembari menepuk bahu saya sebelah kiri.

Saya hanya terdiam. Bulu kuduk merinding. Mata berkedip berulang kali. Semenjak mendengar perkataan itu, saya tak pernah lagi tidur di kamar. 

Kini kamar tersebut beralih fungsi menjadi musholla. Tapi saya tak tahu apakah dia-yang-tak-kasat-mata masih di sana atau sudah pindah. Toh, saya tak peduli!