Category: Cerita

Lebaran


​Adzan dikumandangkan. Sayup-sayup suara muazin terdengar lirih, pelan, namun bersahaja. Seperti itulah suasana subuh. Namun kali ini lain. Ini adalah hari yang ditunggu seluruh umat Islam. Hari Idul Fitri. Hari yang mana semua manusia akan menyambut hari dengan senyuman. Senyum kemenangan. Tak terkecuali nenek tercinta.

Setelah menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan lamanya, mungkin baru kali ini sang Nenek kembali menjalankan sholat Idul Fitri. Beberapa tahun sebelumnya, nenek lebih banyak berdiam diri di rumah. Maklum, usianya yang semakin senja dan tulang yang mulai rapuh membuat nenek lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi kali ini lain.

Rumah seperti diberondong selongsong peluru. Mulutnya tak henti berkicau. Teriakannya menggema hingga membuat si ayam kesayangannya berkokok berulang kali. Beberapa burung seperti cekikikan. Pino dan Pinta, sepasang kucing yang biasa tidur di kursi tamu langsung keluar rumah. Mungkin kaget. Tak biasanya sang majikan berkicau bak nada mifasol.

Namun, beberapa dari kami justru tersenyum senang. Sang Nenek kembali bergairah, suaranya mengudara, matanya membelalak. Sungguh peristiwa yang jarang dilihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Maklum, sejak ditinggal si kakek, nenek lebih banyak duduk termenung, bahkan berdiam diri. 

“Aku wes kesel, gak pengen mikir-mikir maneh”

Kata-kata tersebut berulang kali diucapkannya ketika beberapa sanak saudara mencium pipi, tangan, dan kakinya. Perbuatan yang lazim kami lakukan ketika bertemu dengan beliau. 

Lantunan ayat suci Al Qur’an mengudara di samping jendela. Sebuah MP3 player sengaja kami persembahkan kepada nenek. Untuk menemani pagi, senja, bahkan malam. Kata nenek, saat ini hanya firman Dia yang mampu menentramkan hati dan menenggelamkan jiwa.

Fajar mulai menyingsing. Matahari perlahan bergerak. Sebagian sanak saudara bersiap dan bergegas menuju lapangan tempat kami menjalankan shalat Ied. Sebagian dari kami yang lain seperti saudara-saudara Nasrani, Katolik, Hindu hingga Buddha menyiapkan aneka kudapan dan minuman. Seperti itulah suasana keluarga kami saat berkumpul. Harmoni dalam kebhinekaan. Kata orang-orang, kami sering disebut keluarga Pancasila.

Nenek berjalan perlahan menuju lapangan. Setapak demi setapak. Sembari digandeng ibu, nenek berbicara banyak hal. Besaran angpau yang akan diberikan kepada anak dan cucu-cucunya, berapa kali beliau ikut buka bersama dengan teman-teman sejawatnya, hingga rumitnya mengurus Pinta karena akan melahirkan lagi sepasang anak kucing. 

Kami yang mendengarnya ikut tersenyum geli. Terkadang tertawa melihat tingkah laku nenek. Beliau banyak menggerakkan tangan-tangannya. Terutama saat bercerita tentang Pinta. Beliau sampai mempraktekkan bagaimana membelai, menggendong, hingga caranya memberi makan. Sungguh lucu.

Nenek duduk di samping ibu. Begitu pula dengan anak dan cucu perempuan lainnya. Kami yang laki-laki duduk tak jauh dari tempat nenek. Menyiapkan sajadah kemudian mengumandangkan takbir. Takbir kemenangan.

Khotbah Ied yang diucapkan sang ustadz berisi pesan-pesan damai. Pesan yang menyejukkan hati. Mendinginkan kepala. Bahwa tiap manusia wajib saling menghargai dan menghormati pendapat manusia lainnya. Bahwa tiap manusia wajib menghormati mayoritas dan melindungi minoritas. Pesan yang epik mengingat akhir-akhir ini banyak manusia suka membenci, menghardik, menghujat hingga menista. 

Khotbah berakhir. Kemudian kami saling bersalam-salaman. Mengucap maaf. Melantunkan kata-kata yang wajib diucapkan. Minal aidzin wal faidzin. 

Beberapa anak tak mau berjalan. Lebih memilih untuk berlari. Kami yang dewasa paham. Waktunya bergegas membali ke rumah. Menyiapkan amplop dan membagikan angao kepada mereka yang belum menikah. 

Tiba di rumah, kami sudah disambut dengan aroma masakan yang sungguh menyegarkan mata. Opor ayam, kupat tahu hingga rendang. Tak terkecuali bubur kacang hijau yang menjadi kudapan wajib selepas shalat Ied. 

Sebelum berbaris mengantri makanan, kami berdiri melingkar. Mulai dari yang tua di ujung kanan hingga yang paling muda di ujung kiri. Kursi-kursi disingkirkan untuk memberi ruang bagi kami yang berdiri. Kecuali nenek, beliau dipersiapkan kursi khusus berada posisi tengah sehingga bisa melihat seluruh sanak saudara. 

Kami mulai berjalan jongkok kemudian bersimpuh di pangkuan nenek. Ritual yang pasti kami lakukan. Ada kata-kata yang diucapkan. Ada doa yang dilantukan. Nenek selalu mengucapkan kata-kata yang sama. Saran sekaligus nasehat.

“Nak, hidup harus penuh dengan doa”

Ketika mendengar kata-kata itu, beberapa dari kami secara tak sadar mengeluarkan air mata. Menangis sesenggukan. Hati dan pikiran kami seakan terngiang pada perkataan almarhum kakek ketika lebaran beberapa tahun silam.

“Baik perkataan, pikiran, ucapan bahkan tindakan harus diawali dan diakhiri dengan doa. Karena doa adalah harapan. Doa adalah jalan Tuhan.”

Ritual tetap berlanjut hingga seorang cucu yang paling muda dicium pipi kanan dan kiri oleh nenek. Sang cucu tertawa. Kami pun ikut tertawa. Seorang dari kami mengabadikan momen tersebut dengan sebuah jepretan foto. 

Yang ditunggu tiba. Angpao dibagikan. Semua senang dan tersenyum. Kami lebih bahagia karena nenek ikut-ikutan memberikan angpao kepada seluruh sanak saudara. Tak terkecuali kami yang sebagian besar sudah berkeluarga. 

Sebelum acara makan-makan dimulai, sang nenek meminta kami berkumpul. Duduk melingkar. Nenek kembali duduk di kursi tengah. Punggungnya disandarkan. Kaki-kakinya yang kecil menapak di lantai. 

Angin berhembus semilir. Sinar matahari menyelinap masuk lewat ventilasi. Kicau burung terdengar nyaring. Pino dan Pinta berlari kesana kemari sebelum akhirnya diambil untuk dimasukkan kembali ke kandang. 

Nenek menghela nafas. Pelan. Kakinya disilangkan dari kiri ke kanan. Tangan kanannya ditaruh di lutut kirinya. Sorot matanya tajam namun sedikit layu. Kerudung yang dikenakannya dibiarkan terbuka. Rambutnya yang putih menyembul diatas dahinya. 

Kami menunggu. Sejenak suasana menjadi hening. Kami tahu, nenek pasti akan membicarakan sesuatu yang maha penting. Tapi tak satupun dari kami tahu apa yang akan dibicarakan. Kami hanya bisa menunggu.

Nenek kembali menghela nafas. Teratur. Ritme yang masih sama. Beliau mengambil gelas berisi air putih. Meminumnya hingga tandas. Kembali mengatur posisi duduk. Kami menunggu.

Nenek mencoba memejamkan mata secara pelan. Kemudian membukanya. Bibirnya agak gemetar ketika akan memberikan sebuah kalimat yang maha penting. Kalimat yang tentu tak akan dilupakan sepanjang hayat hidup kami. 

“Aku wes tuku kapling.”

Selamat Lebaran. Selamat mudik sampai tujuan. Selamat berkumpul dengan keluarga. Sayangilah dan peluklah nenek dan kakekmu selagi masih ada.

PPKN dan Betadine

Tanggal 1 Juni. Semua lini masa pasti lagi ramai tentang obrolan Pancasila. Ya wajar. Ini kan hari Pancasila. Kamu akan dianggap bukan sebagai bangsa Indonesia apabila gak buat status atau cerita tentang Pancasila. Ye, kan?

Nah omong-omong soal Pancasila. Dari kemarin di beranda saya bertebaran tulisan yang berbunyi “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Setahu saya, orang pertama kali yang berucap seperti ini adalah Bapak Presiden Indonesia. Joko Widodo alias Jokowi. Nah, kemudian ditiru netizen seluruh Indonesia hingga dijadikan status nasional.

Ada yang menyetujui. Ada pula yang mengkritik. Ada yang mendukung. Ada pula yang menolak. Ya tidak apa-apa. Sekarang zaman yang mana manusia memiliki hak kebebasan berpendapat. Kebebasan berekspresi. Begitulah yang terangkum dalam pasal 28 D dan E UUD 1945.

Nah, disini saya tidak akan cerita seperti apa makna “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Biarkan orang-orang yang lebih ahli atau pakar dalam menguraikan makna kata-kata tersebut. Toh, Indonesia kan banyak orang hebat. Bakat terpendam, pintar mencuat. Akal tertindas, goblok meluap.

Saya akan bercerita tentang bagaimana pelajaran PPKN adalah pelajaran yang tidak cukup mudah untuk diresapi dan dihayati oleh sebagian kalangan. Terutama anak-anak SD. Hal ini terbukti dengan cerita pendek yang memiliki nilai PPKN. Menurut saya, PPKN adalah pelajaran multitafsir.

Dulu, saat akan ujian caturwulan, setiap mau masuk kelas, kami disuruh berbaris layaknya tentara. Presensi dahulu sesuai abjad. Masuk satu per satu. Kemudian duduk sesuai tempat yang telah diatur.

Kebetulan saat itu, kami sedang menghadapi ujian PPKN. Bagi sebagian anak, mungkin ini ujian termudah dibandingkan mata pelajaran bahasa Indonesia atau matematika. Tapi bagi saya, justru ini adalah mata pelajaran yang amat menjebak.

Kenapa begitu? Jawabannya hampir2 mirip. Jawaban benar atau salah semuanya semu. Abstrak hingga sulit diprediksi. Tak ada yang pasti. Tentu butuh konsentrasi tinggi. Logika yang masuk. Asupan gizi yang baik serta dilengkapi otak encer.

Saya masih ingat saat itu ada 3 bagian pertanyaan. Pertama, jawaban pilihan ganda. Kedua, jawaban isi tanpa perlu penjelasan. Maksudnya singkat, padat, dan jelas. Ketiga, jawaban isi dengan penjelasan.

Kalo bagian pertama, mungkin bagi sebagian anak akan menjawab dengan mudah. Pilihan ganda. Tinggal memilih. A, B, C, atau D. Kalo ga yakin, hitung dengan jari tangan. Ga yakin lagi, hitung dengan kancing baju. Masih ga yakin? Tutup mata. Kemudian jatuhkan pensil dari atas. Kemana pensil jatuh ke huruf terpilih, maka itu jawaban yang dilingkari.

Masih ada ga ya yang menerapkan kayak gitu? Kayaknya udah ga ada ya? Kan semuanya berbasis komputer. Toh sekarang pendidikan semakin berkembang. Jika misal masih ada yang menggunakan metode seperti itu, maka sekolahmu bisa saja dianggap tertinggal.

Nah, saat mengerjakan soal terlihat banyak anak diam. Paling ada beberapa yang gusar dan celingak-celinguk. Toh, wajar. Mungkin anak-anak sedang cari wangsit. Berharap jawaban runtuh dan terisi semua. Seperti saya.

Bagian kedua. Terdiri dari 10 pertanyaan. Jawaban harus secara singkat, padat dan jelas. Kalo bisa jangan lebih dari 5 kata. Kalo yang ini tak butuh jawaban yang ndakik-ndakik atau pakai kata-kata sulit. Asal ada yang terlintas di pikiran, kemudian jawablah dengan yakin. Seyakin-yakinnya.

Bagian ketiga. Nah ini dapat dikatakan tipe soal susah mudah, mudah susah. Karena bisa dipastikan, kita harus pandai mengarang jawaban. Bukan menulis jawaban. Berpikir gimana caranya menjawab dengan terstruktur dan sistematis.

Aneh dan unik. Mungkin karena sejak kecil kita dituntut mengarang cerita, tak heran besarnya kita suka mengarang cerita. Entah benar atau hoaks. Kebetulan efeknya hingga hari ini. Entah sistem pendidikan yang salah atau kami yang kurang pandai menerima sistem pendidikan modern.

Bagian ketiga dilewati dengan susah payah. Dahi lebih banyak mengernyit. Mulut lebih sering mencucu. Mata lebih payah untuk dikucek. Otak lebih cepat panas. Tangan lebih mudah lelah. Tapi, akhirnya semua usai.

Jawaban dikumpulkan. Secepat kilat guru-guru mengkoreksi jawaban kami. Ada yang tersenyum. Ada yang tertawa. Tapi ada pula menahan amarah. Pelbagai macam ekspresi diperlihatkan oleh guru-guru. Mungkin mereka bangga atau justru mereka heran dengan jawaban murid-murid.

Tiba saatnya hasil ujian diumumkan. Rata-rata teman saya mendapat nilai bulat. Antara angka 5-10. Kecuali saya. Ada nilai setengah pada kertas jawaban saya. 7,5.

Saya bingung. Mencari soal dan nomor. Ada salah satu nomor yang dilingkari merah. Tidak biasanya soal dilingkari merah. Jika pun ada yang salah, nomor tersebut akan disilang.  Ah ternyata ada di bagian kedua. Isian langsung. Jawaban saya benar tapi kurang tepat.

Pertanyaannya begini, “Jika kamu melihat temanmu terjatuh, maka kamu harus….”

Nah, jawaban yang tepat adalah “menolong”. Sedangkan jawaban saya berbeda. Apa itu?

“Memberi betadine”.

Makanya saya dapat nilai setengah. Bener sih. Tapi kurang tepat. Ya itulah PPKN. Semuanya multitafsir.

 

Balada Kaki Panjang

Beberapa orang terlahir memiliki kelebihan. Bahkan diantaranya berlebihan. Itu kata-kata teman saya yaitu Samid. Namun dari kata-kata tersebut kalo kamu cermati baik-baik, itu kalimat sarkastik. 

Punya uang banyak hasil jualan. Eh ternyata masih juga korupsi. Punya kitab banyak. Eh bukan dibaca seluruhnya tapi cuman dibaca sepotong. Dijadikan adu domba pula. Punya wajah ganteng. Eh bukannya kalem malah pengen poligami istri orang. Ya begitulah makna kata-kata itu. 

Sebenarnya saya juga demikian. Kebetulan saya punya sepasang kaki. Kebetulan pula bisa digunakan untuk menendang bola. Menyaduk tulang kering. Hingga yang paling fenomenal. Mengaduk mie. 

Kenapa bisa begitu? Mulanya dari sesuatu yang tak sengaja. Kaki saya panjang sebelah. Tak kelihatan kalo dari jauh. Coba kamu ketemu saya. Lihat secara dekat dan jelas. Asal jangan sampai melekat. Bahaya. Nah, nanti kamu tau kalo kaki kanan saya lebih panjang setengah inci daripada kaki kiri. Iya, hanya setengah inci. Tapi itu cukup memberikan perbedaan.

Tidak hanya itu. Jari-jari saya panjangnya diluar kebiasaan masyarakat Indonesia. Lebih panjang daripada kunci sepeda motor Honda. Ini yang membuat saya kesulitan untuk memilih sepatu murah. Hiks. Derita bagi saya.

Sejak SD, saya hanya memiliki sepasang sepatu. Itu saya cari sampai berdarah-darah. Ukuran 43 untuk anak usia 9 tahun adalah sangat fenomenal. Sudah susah dicari, harganya juga tak murah. Akhirnya kadang saya pesan. Dan butuh waktu cukup lama. Hmm.

Kadang saya miris dan hati cukup teriris. Sepatu buatan Indonesia tak ada yang ukuran seperti saya. Kadang impor. Dan pake sepatu impor pun, saya dianggap tidak nasionalis. 

“Sok-sokan le pake sepatu impor, situ ndak nasionalis ya?”

Kadang kalo ada orang yang ngomong kayak gitu, pengen saya bilang.

“Sampeyan pengen dicokot grandong apa distaples lambenya?”

Tapi ya gimana. Kenyataannya begitu. Indonesia tak mengakomodir manusia kebutuhan khusus seperti saya. Malah saya lebih sering bukan dianggap manusia. Mau tau apa mereka menyebutnya? Hobbit. 

Tak jarang saya selalu merawat sepatu dengan baik. Dan juga kaki saya. Hobi saya main bola. Tentu jaman seusia saya kala SD, melakukan tendangan pisang ala David Beckham adalah impian anak bangsa. Tapi tak jarang, banyak yang tak bisa melakukannya.

Berbagai riset dilakukan. Ada lewat teknologi. Ada yang lewat manual. Ada pula yang lewat perdukunan. Yang terakhir mengira bahwa kaki Beckham adalah kaki turunan dari persalinan Mak Lamipr dengan Hulk. Namun faktanya adalah kaki kiri Beckham lebih pendek daripada kaki kanannya. Makanya ia bisa sempurna melakukan tendangan bebas. Seperti saya.

Sungguh suatu anugerah terindah yang pernah kumiliki. Seperti lirik Sheila On 7. Dan kebetulan saya bisa melakukan apa yang dilakukan beckham. 11-14. Cuman bedanya ia lebih ganteng daripada saya. Itu saja. 

Persoalan kaki tak hanya berujung pada bola. Beladiri pun begitu. Saya diminta menendang setinggi-tingginya. Banyak orang yang percaya bahwa saya bisa melakukan apa yang disebut tendangan Bruce Lee. Sayang, saat melakukannya, kaki saya tercantol pagar. Karena saat kembali ke tanah, kaki kanan saya tidak mendarat dengan sempurna. Alias tak seimbang. 

Walaupun begitu, saya kadang tetap bangga dengan kaki saya. Kalo ada perlombaan 17 agustus seperti lompat jauh. Jelas saya pemenangnya. Lha wong jari-jari saya panjangnya naudzubillah kok. Kadang juri heran. Kok bisa ya? Jangan-jangan saya alien dari planet lain. Kalo sudah begitu saya tinggal bilang.

“Afwan, kaki ane keturunan Arab Saudi.”

Nah kalo sudah begitu, saya malah dilarang ikut lomba lompat jauh lagi. Takutnya menang terus. Dikira saya manusia adidaya layaknya Raja Salman. Padahal ya ndak. Atau mungkin dulunya si juri sedang terjangkit Saudiphobia. Mungkin sih.

Menginjak usia dewasa, saya memiliki posisi favorit dalam sepakbola. Gelandang. Seperti Gennaro Gattuso mantan da’inya AC Milan. Di posisi futsal pun saya ditempatkan sebagai breaker alias perusak. Posisi ini baru saya temukan setelah bermain dengan pemain futsal favorit saya. Darmanto Simaepa.

Ia salah satu guru saya dalam bermain futsal. Mengajarkan cara mengambil bola. Merebut bola. Cuma satu yang tak ia ajarkan. Memungut bola. Kaki-kaki saya serasa maksimal. Biasanya saya hanya digunakan mengumpan. Sekarang bisa buat merusak kaki orang. Minimal tulang kering. 

Trik ini saya gunakan ketika bermain futsal tempo lalu. Kebetulan saya satu tim dengan beliau. Kami diajak latih tanding dengan sebuah tim antah berantah. Saya berulang kali ‘sengaja’ menabrakkan diri ke badan lawan. Menungkak tulang kering. Merebut bola secara liar. Tapi tentu saja sesuai dengan peraturan futsal yang berlaku. 

Hingga sampai pertandingan berakhir, mas Darmanto berujar kepada saya.

“Kamu ini, muka Cina, kaki Arab tapi otak Indonesia.” Saya dan beberapa teman kaget mendengarnya. “Kenapa begitu mas?”

“Satu. Matamu yang sipit itu cermat sekali. Tahu kemana arah bola. Tahu cara bermain untung. Kedua, kakimu yang astagfirullah panjangnya itu baik sekali buat merebut maupun mengambil bola. Dan selalu bikin frustasi pemain lawan. Tapi yang terakhir ini. Saya agak kecewa.”

“Kenapa mas?”

“Kamu mudah terkena kartu merah.”

21 Mei

21 Mei. Ini adalah salah satu tanggal yang selalu diingat dan dikenang oleh masyarakat Indonesia. Terutama tanggal 21 Mei 1998. Kenapa begitu? Karena pada tanggal tersebut, wajah Indonesia berubah. Dari orba menjadi reformasi. Ngerti kan reformasi?

Jangan-jangan kamu ga ngerti apa itu reformasi? Jangan-jangan yang kamu ingat bahwa 21 mei bukan hari kelahiran reformasi melainkan hari kelahiran yang lain. Loh, siapa? Secara kebetulan tanggal 21 mei adalah hari kelahiran beberapa orang terkenal. Seperti si pemain Juventus Mario Mandzukic, aktor ganteng Darius Sinarthya dan aktris cantik yang sedang naik daun Tatjana Saphira.

Oh iya kurang satu, penulis cum-idola masa kini. Sama seperti Tatjana, blio juga sedang naik daun. Hingga menghasilkan buku best seller di Indonesia. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Tere Liye. Tau kan? Kalo nggak tau ya kebangetan. Mungkin mainmu kurang jauh dan bacaanmu kebanyakan hoaks. 

Ngomong-ngomong soal reformasi, apa sih sebenarnya reformasi? Saya mencoba menjelenterehkan. Kalo dilihat secara etimologi kan berarti re itu ulang dan formasi itu susunan. Jadi reformasi adalah susunan ulang. Benar begitu? Benar atau salah ya suka-suka saya. Kalo kata reformasi, era sekarang adalah eranya kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ye kan?

Tapi apa yang disusun ulang? Sistem negara Indonesia? Susunan kabinet menteri Indonesia? Atau berita-berita yang semakin hari semakin absurd saja? Yang mana mau direformasi? Salah satunya? Atau justru ketiga-tiganya?

Waw, tunggu dulu. Mari kita bedah satu per satu.

1. Sistem negara Indonesia. Kamu yakin mau menyusun ulang sistem negara Indonesia? Lha, kamu siapa? Mahasiswa yang gemar bakar ban di jalan? Atau rakyat yang suka menyebar kebencian? 

Asal kamu tahu, sistem negara kita berbentuk Republik. Lebih lengkap lagi yang sering didengungkan orang-orang. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi ya wajar beberapa saat yang lalu ada ‘mitos’ pembubaran salah satu ormas yang katanya juga besar di Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia.

Mereka memiliki ide tatanan negara Indonesia harus diganti khilafah. Dengan sistem itu maka rakyat Indonesia dijamin masuk surga. Wow. Sapa yang tak mau sih masuk surga? Enak ya, mereka sudah punya kavling di surga. 

Tapi masalahnya begini, mereka ya dibilang anti Pancasila. Dianggap makar kalo pengen mengubah tatanan negara. Ada lo Undang-undangnya. Kita ini Pancasila. Sila kelima itu jelas. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adil buat yang kaya semakin kaya. Dan yang miskin semakin miskin. Emang khilafah bisa begitu? Kalo iya saya dukung! Serius. Semoga bisa menang di peradilan yaaa.

2. Susunan kabinet menteri Indonesia. Nah kalo ini apanya yang mau disusun ulang? Orang-orang di kabinet? Atau pergantian sebutan nama kementerian? Karena ini era reformasi, mari kita menyalurkan pendapat. Memberikan gagasan. Atau mengeluarkan ekspresi. Sapa tau melalui suara rakyat, susunan kabinet menteri Indonesia bisa berubah. Dari Andrew Gardfiled menjadi Spiderman. Dari Hugh Jackman menjadi Logan. Dari Indonesia Hebat menjadi Indonesia Hebat Sekali. 

Tapi apa mampu suara rakyat bisa tembus ke pemerintahan? Jangan-jangan ada adagium seperti ini. Suara rakyat boleh ditimang tapi suara presiden yang boleh dipegang. Lho kok begitu? Itu mah sama aja fasis. Katanya era reformasi yang demokratis punya slogan dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Mungkin kamu lupa bahwa presiden kan mantan rakyat. Jadi suara kita terwakili oleh presiden. Kan sama saja. 

3. Berita absurd. Nah kalo ini mungkin boleh lah disusun ulang. Banyak berita berseliweran tak jelas dan tak bersumber. Asal denger dari orang, langsung saja diamini bahwa berita tersebut adalah sebuah kebenaran mutlak. Padahal ya belum tentu loh. 

Tapi karena dasarnya kita malas baca atau mengecek sumber-sumber lain makanya langsung saja diputusi kalo berita itu sebuah kebenaran hakiki. Disebar ke grup WA, Line dan sebagainya. BOOM. Sepelemparan pepaya California maka berita tersebut menjadi kebenaran tunggal. 

Boleh dipercaya atau tidak, kita kan malas untuk mengklik 2x. Misal kamu membagikan berita. Judulnya bombastis. “Ahok Masuk Islam”. Trus kamu kasih narasi yang agak provokatif gimana gitu. “Karena masuk Islam, Ahok tak lagi dipenjara.” Wah dijamin berita tersebut menjadi viral di Indonesia bahkan dunia. 

Padahal mungkin saja, saat kita buka beritanya bahwa ternyata Ahok sedang mengunjungi salah satu rumah orang Islam. Atau ternyata Ahok sedang berkunjung ke Masjid. Tapi, tapi, karena fakor kita yang mudah terpukau oleh judul tanpa memperhatikan isi jadilah kita manusia yang absurd juga, 

Benar bahwa, jangan lihat buku dari sampulnya. Ya persis. Jangan lihat berita dari judulnya. 

Toh sebagai masyarakat Indonesia, kita sepatutnya bersyukur. Di era semakin absurdnya keadaan negara, kita masih bisa menikmati kebebasan. Apa itu? Kebebasan menikmati makanan impor. Mengendarai kendaraan impor. Memegang gawai impor hingga mengkritik politisi impor. Maaf, yang terakhir sedang hijrah ke Arab Saudi. 

Dan sesungguhnya jika setiap tanggal 21 Mei kita menyanyikan Darah Juang maka sudah saatnya kita menyanyikan lagu paling ngehits abad ini. Katanya juga lagu impor lho.

“Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya. Ku rela kau dengannya, Asal Kau Bahagia”

Rock

Sejak kecil saya diperkenalkan musik oleh bapak saya. Mungkin saat itu saya baru berusia 6 tahun. Oleh bapak, saya diajak mendengar musik bergenre rock. Macam Deep Purple, Led Zeppelin, Scorpion, dan sebagainya. Saya hanya ikut mengangguk-angguk apabila bapak menggoyangkan kepala. Walaupun saya tak mengerti apa pentingnya tapi saya melihat bapak sangat menikmati ritme musik seperti itu. Terutama lagu Smoke On the Water dari ‘Deep Purple’ dan Rock and Roll dari ‘Led Zeppelin’.

Selain itu, saya juga diajak mendengar lagu-lagu macam Yes atau Genesis. Menurut bapak saya, musik mereka tergolong progressive rock atau prog rock. Bagi saya justru tidak. Nada rumit dan diulang berkali-kali. Membosankan. Tapi sekali lagi musik itu persoalan selera. 

Kala itu saya juga terkagum-kagum dengan petikan gitar Jimmy Page dalam lagu Stairway to Heaven. Konon katanya, jika membaca lirik tersebut dari belakang maka akan terbaca seperti ritual pemujaan setan. Entah itu benar atau salah. Saya pun tak peduli. Saya lebih peduli dengan bapak yang memainkan lagu tersebut cukup fasih dengan gitar kesayangannya. Gitar Yamaha tahun 1977.

Bapak sangat sayang terhadap gitar itu. Saat saya mencoba gitar untuk pertama kalinya, bapak berpesan “Gitar jangan digenjreng, tapi dipetik”. Saya mengiyakan saja. Lagu pertama yang diajarkan oleh bapak yaitu Stairway to Heaven. Aneh. Pemula kok disuruh belajar yang susah-susah. Saya lebih baik mencoba lagu Bintang Kecil atau Ilir-Ilir. Tapi ya gimana, tiap pagi mendengar lagu legendaris itu jadi mau ga mau terus mencoba mendendangkan lagu Stairway to Heaven.

Meskipun begitu tetap saja sampai saat cerita ini dibuat, saya masih tidak fasih memainkan lagu legendaris itu. Kalo dalam film, mungkin kita bisa menyebutkan Shawsank Redemption. Sama-sama legendarisnya.

Pada waktu itu saya bersikeras dan memohon kepada bapak untuk benar-benar bisa bermain gitar. Akhirnya bapak menyuruh saya mendengarkan seorang gitaris ternama. Joe Satriani. Belio adalah guru dari Steve Vai dan Kirk Hammet, gitarisnya Metallica yang mau datang ke Jakarta di tahun ini. 

Pertama kali mendengarkan Joe Satriani saat bapak memutarkan lagu Always with me, Always with you. Menurut saya itu lagu fantastis. Petikan brilian. Dan sekali lagi, bapak mampu memainkannya dengan cukup apik. Saya heran bagaimana bapak bisa sangat fasih memainkan dua lagu tersebut. Dahi saya mengernyit. Ternyata bapak hanya mendengarkan lagu melalui kaset sambil memetik senar untuk mencari nada pas. Otodidak.

Setelah itu, berturut-turut bapak sering memainkan gitarnya dengan lagu-lagu dari ketiganya. Joe Satriani, Deep Purple atau Led Zeppelin. Berulangkali. Kadang saya bosan juga. Lagu kok itu-itu saja. 

Kebosanan tersebut terobati dengan maraknya musik macam Greenday, Blink 182, SID, Netral ataupun Endank Soekamti. Ya, zaman SMP saya berusaha memainkan salah satu lagu dari band tersebut. Mereka tergolong punk rock.

Kalo kalian satu generasi dengan saya, pastinya waktu SMP wajib memainkan lagu-lagu dari mereka. Gaya vokal ala Billy Joe Amstrong, raungan gitar ala Tom DeLonge atau ritme bermain drum ala Travis Barker yang super cepat. Bisa meniru gaya mereka maka level bermainmu sudah level dewa langit.

Tapi kalo anda sedang pegang gitar, anda akan dianggap master jika memainkan melodi ini. Sweet Child O Mine dari Guns N Roses. Ohh, para penonton akan tunduk dan menyembah anda. Zaman saya itu lagu wajib di setiap festival band. Kalo lagu Indonesia, kita harus fasih memainkan melodi dari lagu Jengah-Pas Band. Itu juga lagu wajib untuk para gitaris.

Saya juga mengikuti tren. Mencoba memainkan lagu mereka. Salah satunya Basketcase dari Greenday. Saya langgar aturan dari bapak. Menggenjreng. Eh, tiba-tiba senar paling atas putus. Ah, saya merasa bersalah. Saya malu untuk lapor namun bapak lebih cepat tahu. Bapak hanya berkata “Sejak gitar ini dibeli, baru kali ini bapak ganti senar. Lain kali hati-hati kalo bermain gitar.” Dan itu terjadi tahun 2012. Rentang tahun yang cukup lama.

Sekarang zaman berubah. Rock memang tak semeriah zaman saya dahulu. Banyak band-band baru yang telah menggantikan arena rock. Payung Teduh, Maliq D’Essetials hingga Last Child. Era juga berubah. Rock tak (lagi) menggema.

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba nostalgia dengan memainkan lagu yang bernuansa rock di teman-teman segenerasi saya. Highway to Hell dari AC/DC. Kalo anda penggemar rock, pasti wajib tahu lagu tersebut. Lagu yang membuat gitarisnnya si Angus Young kehabisan oksigen. Saat masuk bait pertama, teman saya nyeletuk, 

“Jangan kamu memainkan lagu itu!”. Suaranya kencang. Pekiknya terdengar nyaring di telinga sebelah kiri. Mungkin dia pikir saya salah nada dasar atau suara saya fals. Ternyata tidak.

“Emang kenapa mas?” Saya coba bertanya secara pelan sembari menghentikan genjrengan gitar.

“Itu lagu setan. Masak lagu menyuruh kita pergi ke neraka. Nanti kamu kafir!!”

Saya terdiam. Celakep plus mingkem. Saya hanya mbatin “ternyata kafir ada dimana-mana.” Daripada merusak suasana dan dikira tidak hormat pada senior maka saya berpikir untuk ganti lagu bukan rock. Lebih woles. Sheila On 7. Grup band paporit dari Yogya.

Saya memilih lagu Bunga di tepi jalan. Mengatur posisi duduk. Menaruh gitar di pangkuan paha. Memulai dengan petikan pertama hingga memasuki reff. Namun tiba-tiba senior saya meletakkan tangan kanannya tepat di bolongan gitar. Saya pun tak dapat menggenjreng.

“Kenapa mas?” Sekali lagi saya bertanya dengan pelan. Semoga tidak tersinggung kali ini.

“Kenapa kamu memainkan lagu itu? Katanya penggemar rock!” Lagi-lagi menghentak dengan suara keras.

“Oh itu.. saya sebenarnya ada lagu mirip kayak gitu cuman ga terlalu hafal lirik dan ga ngerti cara nyanyinya mas. Daripada lupa mending memainkan lagu Bunga di tepi jalan.” Saya mencoba berdiplomasi.

“Emang apa judulnya?” 

“Bunga yang dibakar.” Kemudian hening.

Bela, Bala, Bola Indonesia


Beberapa saat lagi, penikmat layar kaca akan kembali disuguhkan tontonan yang menggairahkan akal sehat dan nafsu batiniah. Apalagi kalo bukan hadirnya liga sepakbola Indonesia. Sebagai salah satu cabang olahraga yang tak kunjung berprestasi, sepakbola masih mendapatkan hati di masyarakat Indonesia yang sedang terbelah.

Kenapa bisa dibilang terbelah? Karena di satu sisi, masyarakat Indonesia ingin segera enyah meninggalkan bulan April akibat kontestasi pilkada yang tak segera usai. Namun disisi lain, saya sebagai suporter garis kanan keras tembok justru segera menantikan bulan April. Ya, semoga dengan bergulirnya kembali liga sepakbola Indonesia maka ini akan menjadi oase di tengah keberagaman masyarakat Indonesia yang sedang terkoyak.

Menyimak gelaran sepakbola Indonesia yang dimulai pertengahan bulan April, ada beberapa catatan menarik yang perlu diperhatikan oleh khalayak. Baik anda sebagai suporter layar kaca maupun saya sebagai suporter layar nyata. Nah, apa saja catatan tersebut, mari kita simak bos.

1. Komentator

Bagi saya, komentator akan menentukan arah jalannya pertandingan. Mengapa begitu? Ya jelas, kalo di Indonesia suara komentator lebih menarik dikomentari daripada tindakan wasit yang masih selalu galau dalam mengambil keputusan. Dan patut kita perhatikan, sejak AFF 2016 ada dua nama komentator yang sedang meroket.

Siapa lagi kalo bukan bung ‘Ahay’ alias Hadi Gunawan dan mister Valentino Simanjuntak. Ledakan suara dan pemilihan kata yang brilian menjadi faktor penting bagi jalannya pertandingan. 

Mulai dari tendangan LDR, tendangan selamat datang, umpan manja, umpan cuek dan gerakan antar propinsi antar kota hingga serangan 7 hari 7 malam akan menjadi kosa kata baru bagi kamus sepakbola Indonesia. 

Kalian bisa lihat sejak kata-kata tersebut muai didengungkan, kini menjadi populer di kalangan generasi milineal. Mulai dari main playstation, sepakbola antar kampung sampai turnamen futsal bergengsi pun kata-kata tersebut sangat jamak dilayangkan oleh teman-teman saya.

Saya sebenarnya mengusulkan daripada PSSI tak kunjung juga memberikan prestasi positif maka lebih baik membuat kamus sepakbola Indonesia versi komentator Indonesia. Siapa tahu FIFA akan memberi sponsor. Dan siapa tau juga justru kamus sepakbola Indonesia versi tersebut akan laik dipakai di liga-liga besar dunia.

2. Marquee player

Nah regulasi yang satu ini benar-benar baru. Syaratnya pun tak main-main. Minimal pernah bermain di salah satu dari tiga edisi Piala Dunia terakhir atau pernah bermain di liga top dunia dalam kurun waktu 8 musim terakhir. Dan bayarannya maksimal 15 milliar rupiah.

Sudah ada 7 pemain yang tergolong marquee player di Indonesia. Diantaranya ada Michael Essien, Carlton Cole (keduanya berseragam Persib Bandung) dan Peter Odemwingie (Madura United). Tentunya akan menjadi sesuatu yang wah dan tontonan yang menarik bagi penonton sepakbola Indonesia.

Namun perlu saya beritahuken kepada mereka bahwa jangan terkejut dengan sistem sepakbola Indonesia. Biasa saja. Kenapa saya bilang begitu? Ini merujuk pada aksi kejar-kejaran Essien kepada Yabes Roni(Bali United) akibat tendangan segitiga ke arah punggung Essien.

Hey bung, itu belum seberapa. Masih banyak yang bakal terjadi. Kalian bertiga jangan kaget jika gaji kalian terlambat. Itu sudah mahfum. Terus jangan bandingkan semua lapangan sepakbola Indonesia seperti Emirates Stadium, San Siro, atau Santiago Bernabue. Kalo disini lebih seperti Santiago Berdebu.

Oh ya, mulai biasakanlah kalian makan nasi bungkus. Kalian jangan mengira asupan gizi terjaga dalam satu musim. Dan bakalan terus bermewah-mewah makan di hotel atau lewat catering. Pasti akan ada saatnya menimati nasi bungkus. Lebih tepatnya nasi rames. 

3. Liga Gojek Traveloka

Ini terobosan paling brilian yang dilakukan oleh PSSI. Di saat beberapa ojek online masih harus berurusan atau tarung dengan ojek offline, maka gojek justru melesat dengan menjadi operator liga. Jelas, ini kabar membahagiakan.

Gojek menjadi transportasi idaman di semua kalangan. Dan ternyata ini berlanjut menyasar ke sepakbola Indonesia. Sepertinya Gojek sangat tahu pangsa pasar bahwa sepakbola adalah olahraga paling digemari di Indonesia.

Dengan adanya gojek, tentu kita tak bakal bisa menyaksikan pertandingan jebolan. Maksudnya tak perlu repot kehabisan tiket. Bagaimana bisa? Setelah ini pasti ada aplikasi go-ticket. Jadi tak perlu repot-repot antri. Cukup klik, maka tiket sudah ada di tangan.

Bukan itu saja, adanya traveloka jelas perjalanan lebih mudah. Setelah ini pasti ada promo tiket perjalanan dengan catatan harus menonton pertandingan bola. Misal promo diskon 50% tiket kereta api Malang-Bandung dengan syarat beli tiket pertandingan. Nah ini pasti menarik minat penonton. Nah segalanya menjadi lebih mudah dan murah bukan? 

4. TNI dan Polri

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah perhelatan sepakbola Indonesia, ada dua tim yang berasal dari anggota TNI dan Polri. PS TNI dan Bhayangkara United. Ini menjadi kebahagiaan bagi kita. Lhoh kenapa begitu?

Kalian jangan mengira jika mereka hanya bisa menangkap teroris, melakukan pembrangusan minuman beralkohol, menjadi presiden atau membuat album musik. Maka saat ini mereka juga mampu terjun ke lapangan hijau. Ya masak baju sudah hitam hijau tapi ga pernah ikut liga profesional. Kan lucu.

Tentu, ini akan menjadi pemandangan menarik. Bagi anggota TNI dan Polri tak perlu izin keluar dengan menggunakan surat atau semacamnya. Tinggal bilang saja, “Lapor Komandan, kami satu kompi ingin mendukung teman dan kesebelasan sepakbola kami!”. Jelas, pasti bakal diijinkan. Ndak mungkin ndak. 

Masak mereka mau kalah dengan Aremania, Bobotoh, Jakmania dan lainnya? Ya jelas mereka bakal menggelotorkan para prajuritnya untuk menyesakkan stadion. Itu sudah jelas.

Lalu bagaimana dengan yel-yel suporter? Lhah, mereka kan sudah punya komandan yang menghasilkan puluhan album. Ya tinggal pakai saja salah satu lagu atau liriknya untuk dijadikan yel-yel. Simpel bukan?

Nah kira-kira itulah yang menjadi catatan penting dalam menikmati sepakbola Indonesia kali inil Oh iya, untuk soal camilan jangan pernah gunakan tahu dan lemper. Itu sudah zaman bahula. 

Mulai saat ini berdayakan ploduk-ploduk Indonesia modern. Nikmatilah pertandingan bola dengan minum kopi sachet dari Torabika atau Kapal Api. Tentunya jangan lupa ngemil dengan kacang garuda dari ploduk Indofood.

Kalo Efek Rumah Kaca bisa menciptakan lagu dengan judul Pasar bisa Diciptakan, Cipta bisa Dipasarkan maka Sepakbola Indonesia bisa menciptakan slogan Sepakbola milik Tentara, Tentara miliki klub Sepakbola.

JEPANG

 Ada 3 hal yang saya ingat tentang Jepang

 1. Karate

Saya dari keluarga karate. Mama memiliki hobi karate. Belio menggeluti karate saat SMA. Ihwal mengikuti karate karena kakek saya paling tidak mau melihat perempuan lemah. Makanya ibu saya ikut latihan karate walaupun hanya sampai sabuk hijau. 

Lain dengan bapak saya. Dari SMA sampai sekarang, bapak saya masih aktif pada seni karate. Belio lebih suka menyebutkan seni atau tradisi daripada olahraga. Menurutnya, karate itu olah rasa dari kepala hingga kaki. Bapak menyuruh saya untuk berhati-hati dengan tradisi karate. Karena karate tidak hanya sekedar pertahanan diri saja. Bahaya jika dibuat untuk berkelahi. Bisa-bisa sampai membunuh manusia. Seperti Chinmi.

2. Detective Conan

Sejak kecil, saya hampir tidak bisa melewatkan serial detektif Conan. Mulai dari Shinichi, Ran, hingga Kogoro Mouri. Saya sampai mengoleksi komik-komiknya dari jilid 1 hingga 18. Sayangnya, rayap sialan memakan kertas-kertas tersebut hingga akhirnya menjadi remah-remah. Tapi untungnya Indonesia menghadirkan internet. Jadi saya tak perlu khawatir untuk tidak melewatkan lagi serial detektif Conan.

Oh iya, saya juga pernah berharap jadi detektif conan. Bisa punya piramida pikiran dan menganalisis masalah dengan rapi. Tapi sayang, S1 saya bukan di UGM. Coba di UGM, mungkin bisa lebih bisa berpikir terstruktur dan sistematis. Ya kan, wok? Hahaha.

3. Miyabi

Apa lagi yang harus dikomentari dari dirinya? Semua pria tahu dia meskipun tak kenal. Tak perlu diragukan lagi, dia adalah wanita terpopuler Jepang untuk kalangan pria. 

Kesalahannya hanya satu. Sampai sekarang saya hanya bisa menonton di layar kaca.