Category: Cerita

PNS

Pekan ketiga Oktober 2017 adalah pekan yang menegangkan. Begitulah gambaran yang tepat sebagai ungkapan ekspresi para pegiat CPNS. Ya, sudah sepekan ini tes CPNS dilaksanakan di mana-mana termasuk di kota saya, Yogyakarta.

Kebetulan saya baru saja melaksanakan tes yang boleh dibilang melelahkan dan menegangkan. Bagi saya, ini tes ketiga yang sama menengangkannya setelah UN SMA dan ucapan ijab kabul. Bedanya adalah suasana yang berlangsung di arena tersebut.

Oke mari kita mulai ceritanya.

Saya mendapat jadwal pukul 12 siang. Bagi saya, itu jadwal aneh. Disaat orang-orang seharusnya istirahat, ini malah melaksanakan ujian. Lebih tepatnya ujian negara. Apa jadinya mau jadi calon pengabdi negara malah melawan aturan negara? Tentu saya tak mungkin melakukannya dalam waktu dekat.

Dalam peraturan disebutkan bahwa peserta harus hadir 1 jam sebelum jadwal pelaksanaan dimulai. Saya kira hal tersebut cukup bagus mengingat kalian tahu sendiri bahwa manusia Indonesia lebih suka terlambat daripada tepat waktu. Dan itu sudah mem-budaya dari level atas sampai bawah.

Saya berangkat menggunakan setelan Juventus. Kemeja putih dipadu dengan celana hitam. Saya heran sejak kapan pakaian putih-hitam dianggap sebagai bentuk pakaian bagi para calon anggota baru. Dan sekali lagi hal tersebut telah mem-budaya di pelbagai instansi. Atau jangan-jangan memang para presiden Indonesia adalah fans Juventus? Entahlah~

Sampai di sana, kami dipersilahkan duduk sesuai urutan. Datang paling awal dapat di depan. Kalo datang paling akhir ya dapat paling belakang. Tampak beraneka ekspresi dari para peserta CPNS. Ada yang ngantuk. Muram. Cemas. Bahagia. Dan Woles.

Semua sudah harus mempersiapkan kartu peserta ujian dan KTP. Barang bawaan yang tak perlu harap dimasukkan tas atau dititipkan ke pengawas. Barang tersebut antara lain jam tangan, cincin, kalung, handphone, kunci motor, dan jimat. Untuk yang terakhir, pengawas mengatakan berulang kali. Mungkin takut kejadian tempo lalu bisa terjadi di Yogyakarta.

Daripada kunci motor, kok para pengawas ndak memikirkan sabuk celana. Padahal hal tersebut lebih berbahaya. Dalam berbagai kasus pencurian atau pembegalan biasanya jimat ditaruh di sabuk. Bukan di kunci motor. Mungkin pengawas luput atau mungkin mereka berpikir kalo peserta ndak pakai sabuk justru celananya mlotrok.

Kan ya ndak lucu. Ini mah namanya pencemaran busana rapi.~

Saat melewati pemberkasan, seorang petugas berbicara dengan pelan kepada teman di sebelahnya. “Orang Jogja kalem-kalem yha.” Entah apa maksud dibalik ucapan tersebut. Saya menduganya bahwa mungkin mereka melihat orang-orang Jogja terbiasa menaati peraturan di dalam ruangan. Beda kalo di luar ruangan. Lebih kelam.

Apalagi kalo di jalanan. Pengendara Jogja adalah juaranya. Tak heran para pembalap nasional selalu dari Jogja. Sebut saja Doni Tata, Hendriansyah dan masih banyak lainnya.

Kemudian kami naik ke lantai dua. Kami kembali diperingatkan supaya barang-barang bawaan tak perlu harap dititipkan. Tersedia pelbagai loker yang tersedia. Jadi sekali lagi, kita hanya membawa KTP dan kartu peserta ujian.

Sembari menunggu, kami dihimbau untuk melihat papan layar berisi tata cara pengisian jawaban. Saya menyimak dengan seksama hingga muncul kalimat yang menurut saya janggal. Saya tak begitu ingat susunan katanya. Namun kira-kira seperti ini, “jika para peserta telah selesai, silakan pencet tombol selesai ujian maka muncul halaman score.”
Saya heran. Apa itu score? Hasil akhir? Yawla ini tes CPNS di Indonesia loh. Bukan di Enggres atau Selandia Baru. Andaikan saat itu ada Ivan Lanin, sudah pasti beliyo akan tersenyum sambil berkata, “Maaf saya masih berada di Indonesia kan? Tolong gunakan kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar.”

Azan berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 11.45. Ada seorang peserta yang meminta waktu untuk solat zuhur. Ah, sayang sekali. Permintaan tersebut ditolak dengan alasan bahwa waktu tes CPNS tidak lebih dari 2 jam. Jadi masih ada waktu untuk solat zuhur.

Andaikan peserta tersebut adalah pendukung anti Jokowi, ia pasti akan berkata, “Indonesia adalah negara sekuler. Mau sholat tepat waktu saja tak boleh!!” Tapi ia tak mungkin kuat mengatakan demikian. Ia saja masih berharap pada negara masa mau menghardik negara. Kan ya ndak mungkin toh~

Tapi setelah itu mungkin ia tersenyum.

Begitu masuk ke ruangan, ada yang aneh. Tak ada foto Jokowi dan Jusuf Kalla. Sekelas gedung negara tak ada foto kepala negara kan aneh bin ajaib. Kalo ada pendukung pro Jokowi mungkin mereka akan berteriak, “Ini kok foto kepala negara tak ada, ndak ada hormat-hormatnya. Ini sama saja menghina simbol negara. NKRI Harga Mati!!”

Tapi kan ndak mungkin hal tersebut diucapkan. Muke gile boss!!

Di dalam ruangan tersedia empat kamera pengintai. Dua di depan. Satu di sebelah kanan dan satu di belakang. Ini bagus. Mungkin agar mempersulit kita untuk mencontek. Kemudian terdapat enam pendingin ruangan. Baguslah. Jogja panas beett. Dua kaca besar di belakang. Saya ndak ngerti maksudnya apa ditaruh kaca. Dikira kita mau cukur rambut kali yha~

Sebelum mulai, ada sebuah kejutan berharga. Seorang pejabat yang mewakili sebuah lembaga hadir. Memberi pesan-pesan perjuangan. Tak lupa mengingatkan bahwa kalo jadi PNS harus siap lembur. Jangan dikira PNS itu kerjaannya hanya ngopi dan baca koran.

Batin saya, “wah saya salah masuk lembaga. Harusnya kan PNS emang seperti itu. Apa sudah berubah sejak era Jokowi karena slogan kerja, kerja, dan kerja?” Entahlah.

Selesai memberi pesan-pesan tersebut, tak lupa ia melakukan swafoto. Ingat, sudah sepantasnya pejabat melakukan hal demikian. Biar dianggap kekinian. Masa mau dibilang pejabat ndeso. Itu mah cuma label yang disematkan pada Jokowi. Eh.

Nah. Tes dimulai. 100 soal dengan waktu 90 menit. Tes terdiri dari tiga hal. Wawasan kebangsaan, intelegensi umum, dan karakteristik pribadi. Dari sini mulai terlihat tingkah laku peserta yang unik-unik.

Ada yang selalu memutar “godek”. Ada yang berulangkali lepas kacamata. Ada yang lelah mengatur nafas. Ada yang kedinginan. Tapi dari semua itu ada yang paling aneh. Selalu mencolokkan pensil ke lubang hidung di sebelah kiri. Saya kira itu cuma sekali dua kali. Tapi itu berulang kali. Seriyes.

Mungkin itu semacam jimatnya untuk menjawab soal. Barangkali lho ya.~
Setelah 90 menit, semua peserta tampak ada yang senang dan sedih. Ya itu karena hasil langsung diumumkan. Tapi katanya itu belum menjamin kelulusan karena masih diatur sesuai peringkat. Ini saya yang ndak ngerti.

Ya sudah begitulah ceritanya. Sebenarnya masih banyak cerita-cerita konyol pasca usai tes. Tapi saya sudahi dulu saja yha.

Advertisements

CADAR

Ada banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan Oktober. Belanda gagal lolos Piala Dunia 2018, film Pengabdi Setan dinobatkan sebagai film horor terlaris sepanjang masa, pelantikan Anies-Sandi yang menuai kontroversi gegara kata “pribumi”, hingga pelarangan cadar di berbagai negara.

Saya mau cerita soal cadar. Mulai dari Kanada. 17/10/2017 (kayak angka cantik ya) secara resmi parlemen Kanada membincangkan kembali masalah cadar layak di publik atau tidak. Sebagai negara yang konon katanya menganut prinsip kebebasan, ada pro kontra yang terjadi. Cadar diperbolehkan karena hak individu dan asalkan tidak mengganggu ketertiban umum. Cadar dilarang karena keterkaitan isu terorisme dan islamophobia yang kian menggurita.

Selama ini, Kanada diklaim menerapkan kebebasan bagi seluruh penduduknya. Mau kamu penganut LGBTQ, pemuja setan, penyuka makanan mentah, semua dilindungi. Begitu pula dengan kelompok mbak2 bercadar. Dilindungi atas nama kebebasan berkumpul dan berserikat.
Makanya justru aneh ketika hari ini Quebec, salah satu daerah Kanada meninjau kembali peraturan tentang cadar. Apa ada tekanan dari partai sayap kanan? Entahlah.

Nah, ngobrol soal cadar tentu saja tak bisa lepas dari negara Islam dong. Perdebatan mulai dari kitab suci hingga kitab klasik lagi-lagi menghangat. Ada yang mewajibkan, mensunahkan, hingga tak memperbolehkan.

Saya mau cerita tentang Mesir. Negeri yang baru saja memperoleh tiket Piala Dunia 2018 punya sisi unik soal cadar. Saya mendapat cerita soal cadar dari istri yang kebetulan sedang berada di Mesir. Lebih tepatnya Kairo.
Baru-baru ini, riset dari Thomas Reuters Foundation 2017 menempatkan Kairo sebagai kota tak ramah bagi perempuan pada peringkat pertama dunia. Saya yang baca berita tersebut jujur agak kaget dan risau. Bagaimana mungkin Mesir yang dijunjung dan dikatakan sebagai “Negara Timur Tengah penganut Islam Moderat” oleh sebagian umat Islam di Indonesia bisa mendapatkan label seperti itu?

Tapi setelah membaca berita itu, saya jadi ingat beberapa teman istri saya yang kebetulan sama-sama bertugas di sana beberapa kali mendapatkan “catcalling” oleh orang-orang sana.
Ketika itu kebetulan ada istri saya saat kejadian catcalling yang menimpa temannya, istri saya berteriak dalam bahasa Arab yang intinya “Heh, laki-laki tak beradab! Kaum Firaun!”

Kalian tahu, mereka hanya tersenyum, tertawa, kemudian justru mencoba mengejar rombongan istri dan teman-temannya. Apa reaksi orang-orang sekitar?

Diam saja. Menganggap itu adalah kejadian umum dan sudah biasa.

Setelah kejadian itu, tanggapan saya sederhana. Saya menyarankan istri dan beberapa teman untuk mencoba menggunakan cadar supaya tak diganggu lagi. Tapi agaknya saran itu tak kunjung dilakukan. Toh, alhamdulillah setelah kejadian tersebut, tak ada lagi kejadian serupa.

Nah, kebetulan istri dan beberapa teman ditugaskan untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi mahasiswa dan dosen di Mesir. Ada yang di Pusat Kebudayaan Indonesia, Universitas Ismailiyah, dan Universitas Al Azhar. Kebetulan, istri saya ditempatkan mengajar di Universitas yang disebutkan terakhir.

Betapa kagetnya istri saya, ketika mendapati kelas yang isinya seluruh perempuan memakai cadar. Sejenak ia mbatin, “Kalo di Arab Saudi mungkin wajar, lha ini di Mesir.”
Tentu ini menjadi persoalan sedikit rumit. Ia bertugas tak hanya mengajar kalimat “Ini ibu Ian atau ini ibu sudah pulang” tapi juga bernyanyi atau menari. Mengenalkan aneka budaya Indonesia. Akan tetapi, sayangnya itu tak bisa dilakukan.

Bagi mereka hal tersebut bisa dikatakan ‘haram’. Yang bikin repot pula, mereka tak mau difoto. Padahal kebutuhan laporan mewajibkan ada sesi kelas untuk difoto. Tapi rupanya istri saya tak kehilangan akal. Ia membujuk mereka untuk difoto namun dari belakang. Dan berhasil.

Usut punya usut, selain karena syariat mereka menggunakan cadar karena takut diperlakukan seperti apa yang dialami oleh beberapa teman istri. Dan itu efektif. Sepanjang para wanita menggunakan cadar di Kairo, kemungkinan kecil untuk diganggu. Istri saya sempat bilang kepada saya, “Mungkin ini alasan Allah menempatkan para Nabi di Mesir.”

Tapi tentu saja tak semua wanita Mesir berperilaku seperti itu. Ada juga yang tak mengenakan cadar dan mereka baik-baik saja. Tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.

Di Indonesia, polemik tersebut kembali menghangat pasca ada beberapa kampus negeri yang melarang penggunaan cadar. Ini pasti menimbulkan pro dan kontra. Ada yang berkata itu syariat harus ditegakkan tapi ada pula yang bilang itu budaya Arab. Lantas mana yang benar dan mana yang salah? Saya cuma bilang ketika kebenaran menjadi milik antum, maka kesalahan hanya milik oknum.

Mungkin di era kidz zaman now, agaknya jadi perempuan kekinian sedikit rumit. Berpakaian mini dikira perempuan tak baik-baik, berpakaian maksi dikira anggota teroris. Lha terus perempuan kudu berpakaian macam apa?

Ya, berpakaian layaknya kaum pribumi saja.

MAAF


Demam PKI merebak di mana-mana. Mulai dari grup Whatsapp, media sosial macam Facebook dan Twitter, radio hingga sebuah acara televisi di hari selasa kemarin. 

Bapak saya pernah mengisahkan sebuah peristiwa tentang PKI di tahun 60an. Baginya, PKI begitu mengerikan. Mereka keliling Surabaya tanpa henti dan itu berlangsung hampir tiap hari. 24 jam. Bernyanyi sambil berteriak,

“Dengkul Jaran ayo ran, Rantai Kapal ayo pal, Palu Ariiit…”

Itu sepenggal lirik yang begitu membekas bagi bapak. Saya yang diceritakan seperti itu aja bingung. Cuman bisa bergumam, kok ya ndak capek muter-muter 24 jam tanpa henti? 

Wong, kita aja dengerin konvoi moge dalam sehari aja bisa misuh-misuh ga karuan. Lha ini hampir tiap hari. Tapi waktu itu memang bapak dan sodara-sodara lain memang tak bisa berkutik. PKI memang berkuasa. Apalagi di Jawa Timur, wah jumlahnya tak terkira. 

Memang pesona PKI di Jawa Timur begitu luar biasa. Saking luar biasanya, kalo mereka sudah berkeliaran, banyak warga yang lebih memilih tiarap di rumah. Termasuk bapak saya. 

Ibu saya pun mengamini apa yang dikatakan bapak. Baginya, anggota partai berlambang palu arit sungguh menakutkan. Lebih baik jangan ada obrolan PKI diantara keluarga.

Lucunya, bapak dari ibu saya adalah penggemar Soekarno. Kalo boleh dibilang, kakek saya itu Soekarnoisme. “Urip Mati pokoke Soekarno.” Begitulah kutipan kakek saya. 

Uniknya, adik dari kakek saya adalah anggota TNI yang cukup memiliki pangkat. Saya lupa pangkatnya. Hampir setiap malam, beliau mengunjungi rumah kakek saya. Tujuannya hanya satu. Menjaga supaya kakek saya tidak terciduk oleh teman-temannya adik kakek. 

Sudah begitu rumah kakek dijadikan kumpulan para pemuda-pemuda Marhaen. Semua suku ada, dari Batak, Jawa dan lainnya. Dan kumpulan tersebut terjadi hampir setiap malam. Betapa riuhnya malam hingga membuat nenek saya selalu menyediakan gorengan beserta teh dan kopi. 

Menjelang peristiwa yang sungguh mendebarkan, adik kakek saya selalu datang lebih awal. Kalo biasanya jam 9 ke atas, saat itu selepas maghrib sudah hadir di rumah. 

“Sudah mas, kalo ngobrol politik atau ada unek-unek apa saja dilimpahkan ke saya saja mas. Jangan sampai terdengar ke luar”

Ia benar-benar mencintai kakek. Maklum, mereka hanyalah berdua. Orang tua mereka alias buyut sudah tak ada sejak kecil. Sudah begitu, mereka sempat terpisah satu sama lain hingga akhirnya dipertemukan kembali oleh suatu peristiwa (lain kali saya ceritakan).

***

Malam tadi selepas maghrib, seperti biasa saya, adik, bapak, ibu ngobrol tentang apa saja. Tapi berhubung lini masa dikuasai penuh dengan berita PKI dan semacamnya, alhasil obrolan mengarah ke situ. 

Saya sebenarnya agak malas menanggapi berita-berita macam itu. Apalagi bapak malah nyanyi lagu-lagu PKI yang ternyata unik juga liriknya. Beliau hafal ya karena peristiwa itu. Demo 24 jam tak henti-henti.

Pada akhirnya timbul sebuah pertanyaan ke saya. “Apakah PKI pantas dimaafkan?”

Saya tak bisa menjawab. Tapi kemudian pertanyaan itu saya balik kepada mereka menjadi sebuah analogi. 

“Andaikan saat itu kakek diculik dan dibunuh oleh PKI, kemudian suatu saat bapak dan ibu tahu siapa pembunuhnya. Bahkan sampai tahu anak dari pembunuh tersebut karena notabene sepantaran dengan ibu bapak. Apakah bapak dan ibu bersedia memaafkan pembunuh itu beserta anaknya. Dan apakah bapak ibu (tidak) menyimpan dendam?”

Tak ada jawaban. Bagi saya sendiri itu sungguh pertanyaan sulit. Saya bertanya begitu karena saya memiliki teman-teman di Jawa Timur yang kebetulan banyak buyutnya yang dibunuh dan dibantai oleh PKI. Mereka pun dengan terus terang bahwa mereka masih menyimpan dendam kepada para pembunuh saudara mereka. PKI tak pantas untuk dimaafkan. 

Saya pun memahami posisi mereka. Saya juga tak yakin apakah jika kejadian itu terjadi pada keluarga saya, apakah saya mampu memaafkan pembunuh? Entahlah.

Namun begitu saya juga memiliki teman-teman yang kebetulan dulunya punya hubungan dengan PKI. Keluarga mereka juga dibunuh. Tanpa tahu alasan yang jelas, pokoknya karena punya darah PKI. Ya harus dibunuh. Kalo perlu dibantai.

Saya juga bersimpati kepada mereka. Keluarga mereka dibunuh tanpa sedikitpun melakukan kesalahan. Memang sungguh-sungguh mengerikan peristiwa 65.

Makanya saya salut kepada mereka baik para keluarga yang dulunya pernah terlibat konflik berdarah. Baik dibunuh atau membunuh. Mereka sudah saling melupakan dan mau untuk merajut masa depan yang lebih baik. 

Kata “maaf” adalah sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit untuk diterima. Butuh kesabaran mental, ketahanan tubuh hingga pikiran yang jernih untuk menerima maaf. 

Selamat Tahun Baru Islam 1439 H

Enam Tahun Bersama Penunggu Kamar

Denah oleh Moggie SW

Bagi sebagian anak muda, merantau adalah berkah. Bertemu dengan teman-teman baru. Bergaul dengan lingkungan baru, mencoba makanan asing hingga bertemu dengan makhluk-makhluk asing. Khusus yang terakhir adalah pengalaman saya bersemayam di rumah nenek selama 6 tahun. 

Malang. Kota yang identik dengan salah satu klub sepakbola terbaik di tanah air. Mereka menyebutnya Arema Malang. Selain itu, Malang dikenal sebagai taman bunga. Itu terlihat jika kamu sedang melewati jalan Ijen. Selain taman bunga, daerah ini dikenal sebagai wisata sejarah karena banyak rumah-rumah kolonial yang teronggok di area ijen.

Berjalan ke arah barat pun kamu mungkin takjub dengan pemandangan rumah-rumah mewah bergaya Eropa bak menjulang tinggi ke angkasa. Konon katanya, deretan rumah tersebut hanya dikunjungi pemiliknya setahun sekali. Diantara deretan rumah-rumah mewah, ada rumah sangat sederhana yang ditempati saya, nenek, paman dan almarhum kakek saya. Lebih tepatnya di belakang area Wilis. 

Rumah nenek terbagi menjadi tiga bagian. Ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang. Ruang depan diisi ruang tamu dan ruang keluarga. Di sebelah ruang keluarga ada dua kamar. Kamar pertama diisi oleh paman saya sedangkan yang kedua diisi oleh nenek saya. Khusus alm.kakek, beliau lebih suka beraktivitas hingga tidur di ruang keluarga. 

Di ruang tengah terdapat satu kamar tidur yang berhadapan langsung dengan kamar mandi. Sedangkan di ruang belakang ada garasi, dapur, dan satu kamar yang nantinya ditempati oleh saya (sekarang jadi ruang tidur tamu/musholla). Diantara ruang tengah menuju ruang belakang ada semacam lorong yang kalo lampu ndak dinyalakan maka gelap gulita. 

Saya mulai menempati rumah nenek saat tahun 2008. Tahun yang mana saya memulai perkuliahan. Saya ditempatkan oleh nenek di kamar bagian ruang belakang. Kata nenek, kamar belakang adalah bekas kamar bapak saya. Jadi untuk mengobati kerinduan kepada Jogja khususnya kepada Bapak, maka rindu bisa dibayar tuntas hanya dengan tidur di kamar tersebut. 

Nyatanya tidak. 

Kamar tersebut seakan menjadi kamar yang memunculkan pesona horror. Suasanya singup seperti tak ada angin yang masuk. Padahal, diatas tempat tidur saya terdapat dua jendela besar. Tapi rasanya percuma. Bukannya angin yang masuk, tapi malah cicak, tawon, hingga tokek menginap di kamar saya. 

Asalkan mereka tak menimbulkan bising sih tak apa-apa. Tapi masalahnya kalo si tokek mengeluarkan suaranya. “Tekkkekkk, Tekkkekkk, Tekkkekkk.” Kamu tahu kan mitos yang berkembang di Jawa? Kalo si tokek bersuara saat dini hari berarti ia sedang berkomunikasi dengan makhluk-tak-kasat-mata di area tersebut. 

Itu yang mengganggu saya, hingga akhirnya saya mau tidak mau menutup jendela supaya hewan-hewan kesayangan tak berkeliaran di kamar saya. 

Namun, ternyata yang berkeliaran tak kunjung usai. Hilang hewan kasat mata, berganti makhluk-tak-kasat-mata muncul sesekali menjelang pukul 01.30-02.30 pagi. Seakan ingin mengabarkan sesuatu. 

“Mas Moddie, saya di sini. Di pojokan. Temani saya yha, uwuwuwu.”

Ia hanya mengganggu saya saat jam segitu. Misal, gantungan baju dan celana dikibaskan. Kadang dibuat jatuh. Tak ada angin dan tak ada petir, tiba-tiba lemari pintu sebelah kiri terbuka dengan sendirinya. Belum lagi ketika saya sedang asyik-asyiknya menonton sepakbola dini hari, televisi mendadak menjadi layar semut. Kemudian gelap.

Mungkin maksudnya baik. Pada jam segitu adalah waktu yang tepat untuk bermunajat ke Tuhan. Shalat Tahajud. Tapi karena iman saya mungkin terlalu lemah, saya lebih suka mangkir dan memilih untuk mengumpat kepada dia. 

“Jancook, ga isok meneng a kon?!!”

Anehnya, kalo sudah dibilang begitu, kok ya mendadak diam. Hening. Tak ada suara. Apa jangan-jangan dia adalah penunggu asli Malang? Entahlah. Saya juga tak peduli. 

Oh iya, sedikit intermeso. Hampir seluruh teman saya menganggap rumah nenek saya adalah rumah kentang. Karena mereka mengganggap hawanya mencekam. Ini ditambah lampu depan teras rumah diberi lampu berwarna merah, kadang-kadang kuning berdaya listrik 5 watt. Mirip rumah seperti film Insidious bukan?

Tak ada satu pun dari teman saya yang berani menginap di rumah nenek. Pernah suatu kali mencoba menginap di kamar saya. Baru satu jam ia memejamkan mata, teman saya itu ingin balik ke kosan lagi. Katanya, ia seperti diajak kejar-kejaran oleh gerombolan anak kecil yang tak terhitung jumlahnya. 

Kalo sudah begitu saya hanya bisa nyengir. Lha, itu sudah menjadi makan malam saya sehari-hari saat tidur. Kalo gak dikejar-kejar mereka ya paling diajak melanglang buana sama si dia-yang-berada-di-pojokan. 

Pernah suatu kali saya mengalami ketakutan yang luar biasa. Saat itu menjelang maghrib. Nenek, alm.kakek dan paman pamit beranjak mau pergi ke masjid yang langsung dilanjut pengajian. Tinggallah saya di rumah. Sendirian. 

Saya beranjak mau mandi mengingat badan sudah mambu keringat mengkudu dicampur ekstrak manggis. Ingat, Jangan pernah mencoba merasakan baunya. Saat itu, saya mau ambil pakaian di kamar. Tapi ada yang aneh begitu memasuki kamar. 

Ada bau yang lebih busuk daripada bau badan saya. Seumur-umur saya tinggal di kamar, baru kali ini ada bau busuk. Dalam sekejap, bulu kuduk merinding. Keringat mengucur deras. Secepat kilat, saya ambil pakaian dan bergegas untuk ke kamar mandi. 

Di dalam kamar mandi, saya hanya bisa bersiul sambil sesekali nyanyi dalam suar fals. Mau bagaimana lagi? Masa’ saya berdoa di dalam kamar mandi? Kan katanya saru. 

Keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk untuk menutupi kemaluan, aya mencoba berjalan senyap menuju kamar. Ternyata baunya tak kunjung hilang. Justru semakin busuk. Perut mual. Kepala puyeng. Saya segera berganti pakaian bergegas meninggalkan rumah. 

Hampir 3 hari lamanya saya tak kembali ke rumah. Karena takut nenek cemas, mau ga mau saya harus balik ke rumah. Tapi terlebih dahulu saya menelpon teman saya yang kebetulan menyambi profesi sebagai “orang pintar”.

Setelah menelepon dan mengutarakan keluh kesah (bukan curhat) tentang kamar, teman saya hanya berkata,

“Kalo kamu balik, cari beras kuning, kemudian lemparkan ke seluruh lantai. Sepertinya kamarmu dulu bekas tempat pemujaan. Nah mungkin saat itu, Ia dan beberapa temannya ingin bernostalgia untuk kembali ke kamarmu.”

Saya hanya bisa membatin “Hancik, kenapa dari dulu bapak ga ngobrol”.

Selepas melaksanakan amanat tersebut, bau sudah tak ada. Gangguan menghilang. Hidup kembali normal. 

3 tahun yang lalu saya wisuda. Bapak dan ibu berkunjung ke rumah nenek. Bercengkrama sembari cerita-cerita masa lalu. Saat asyik bercerita dengan seluruh anggota keluarga, bapak memanggil saya untuk masuk ke kamar saya.

“Alhamdulillah mas, kamu udah wisuda dan udah banyak melewati rintangan serta hambatan. Termasuk untuk kamar ini.”

“Memangnya kenapa pak?”

“Ya jelas kamu bisa melewati tantangan selama 6 tahun untuk kuliah di Malang. Tidur di kamar ini pula.”

“Ada apa sih pak?” Saya penasaran karena bapak tersenyum aneh.

“Disini itu gudangnya hantu. Jadi kalo kamu merasa ada gangguan, ya wajar. Apalagi kalo kamu tidur. Di sebelahmu itu ada yang tidur juga. Kalo ndak genderuwo atau kuntilanak. Jadi kamu hebat mas. Lolos ujian.” Bapak mengakhiri kalimat tersebut sembari menepuk bahu saya sebelah kiri.

Saya hanya terdiam. Bulu kuduk merinding. Mata berkedip berulang kali. Semenjak mendengar perkataan itu, saya tak pernah lagi tidur di kamar. 

Kini kamar tersebut beralih fungsi menjadi musholla. Tapi saya tak tahu apakah dia-yang-tak-kasat-mata masih di sana atau sudah pindah. Toh, saya tak peduli!

Lebaran


‚ÄčAdzan dikumandangkan. Sayup-sayup suara muazin terdengar lirih, pelan, namun bersahaja. Seperti itulah suasana subuh. Namun kali ini lain. Ini adalah hari yang ditunggu seluruh umat Islam. Hari Idul Fitri. Hari yang mana semua manusia akan menyambut hari dengan senyuman. Senyum kemenangan. Tak terkecuali nenek tercinta.

Setelah menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan lamanya, mungkin baru kali ini sang Nenek kembali menjalankan sholat Idul Fitri. Beberapa tahun sebelumnya, nenek lebih banyak berdiam diri di rumah. Maklum, usianya yang semakin senja dan tulang yang mulai rapuh membuat nenek lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi kali ini lain.

Rumah seperti diberondong selongsong peluru. Mulutnya tak henti berkicau. Teriakannya menggema hingga membuat si ayam kesayangannya berkokok berulang kali. Beberapa burung seperti cekikikan. Pino dan Pinta, sepasang kucing yang biasa tidur di kursi tamu langsung keluar rumah. Mungkin kaget. Tak biasanya sang majikan berkicau bak nada mifasol.

Namun, beberapa dari kami justru tersenyum senang. Sang Nenek kembali bergairah, suaranya mengudara, matanya membelalak. Sungguh peristiwa yang jarang dilihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Maklum, sejak ditinggal si kakek, nenek lebih banyak duduk termenung, bahkan berdiam diri. 

“Aku wes kesel, gak pengen mikir-mikir maneh”

Kata-kata tersebut berulang kali diucapkannya ketika beberapa sanak saudara mencium pipi, tangan, dan kakinya. Perbuatan yang lazim kami lakukan ketika bertemu dengan beliau. 

Lantunan ayat suci Al Qur’an mengudara di samping jendela. Sebuah MP3 player sengaja kami persembahkan kepada nenek. Untuk menemani pagi, senja, bahkan malam. Kata nenek, saat ini hanya firman Dia yang mampu menentramkan hati dan menenggelamkan jiwa.

Fajar mulai menyingsing. Matahari perlahan bergerak. Sebagian sanak saudara bersiap dan bergegas menuju lapangan tempat kami menjalankan shalat Ied. Sebagian dari kami yang lain seperti saudara-saudara Nasrani, Katolik, Hindu hingga Buddha menyiapkan aneka kudapan dan minuman. Seperti itulah suasana keluarga kami saat berkumpul. Harmoni dalam kebhinekaan. Kata orang-orang, kami sering disebut keluarga Pancasila.

Nenek berjalan perlahan menuju lapangan. Setapak demi setapak. Sembari digandeng ibu, nenek berbicara banyak hal. Besaran angpau yang akan diberikan kepada anak dan cucu-cucunya, berapa kali beliau ikut buka bersama dengan teman-teman sejawatnya, hingga rumitnya mengurus Pinta karena akan melahirkan lagi sepasang anak kucing. 

Kami yang mendengarnya ikut tersenyum geli. Terkadang tertawa melihat tingkah laku nenek. Beliau banyak menggerakkan tangan-tangannya. Terutama saat bercerita tentang Pinta. Beliau sampai mempraktekkan bagaimana membelai, menggendong, hingga caranya memberi makan. Sungguh lucu.

Nenek duduk di samping ibu. Begitu pula dengan anak dan cucu perempuan lainnya. Kami yang laki-laki duduk tak jauh dari tempat nenek. Menyiapkan sajadah kemudian mengumandangkan takbir. Takbir kemenangan.

Khotbah Ied yang diucapkan sang ustadz berisi pesan-pesan damai. Pesan yang menyejukkan hati. Mendinginkan kepala. Bahwa tiap manusia wajib saling menghargai dan menghormati pendapat manusia lainnya. Bahwa tiap manusia wajib menghormati mayoritas dan melindungi minoritas. Pesan yang epik mengingat akhir-akhir ini banyak manusia suka membenci, menghardik, menghujat hingga menista. 

Khotbah berakhir. Kemudian kami saling bersalam-salaman. Mengucap maaf. Melantunkan kata-kata yang wajib diucapkan. Minal aidzin wal faidzin. 

Beberapa anak tak mau berjalan. Lebih memilih untuk berlari. Kami yang dewasa paham. Waktunya bergegas membali ke rumah. Menyiapkan amplop dan membagikan angao kepada mereka yang belum menikah. 

Tiba di rumah, kami sudah disambut dengan aroma masakan yang sungguh menyegarkan mata. Opor ayam, kupat tahu hingga rendang. Tak terkecuali bubur kacang hijau yang menjadi kudapan wajib selepas shalat Ied. 

Sebelum berbaris mengantri makanan, kami berdiri melingkar. Mulai dari yang tua di ujung kanan hingga yang paling muda di ujung kiri. Kursi-kursi disingkirkan untuk memberi ruang bagi kami yang berdiri. Kecuali nenek, beliau dipersiapkan kursi khusus berada posisi tengah sehingga bisa melihat seluruh sanak saudara. 

Kami mulai berjalan jongkok kemudian bersimpuh di pangkuan nenek. Ritual yang pasti kami lakukan. Ada kata-kata yang diucapkan. Ada doa yang dilantukan. Nenek selalu mengucapkan kata-kata yang sama. Saran sekaligus nasehat.

“Nak, hidup harus penuh dengan doa”

Ketika mendengar kata-kata itu, beberapa dari kami secara tak sadar mengeluarkan air mata. Menangis sesenggukan. Hati dan pikiran kami seakan terngiang pada perkataan almarhum kakek ketika lebaran beberapa tahun silam.

“Baik perkataan, pikiran, ucapan bahkan tindakan harus diawali dan diakhiri dengan doa. Karena doa adalah harapan. Doa adalah jalan Tuhan.”

Ritual tetap berlanjut hingga seorang cucu yang paling muda dicium pipi kanan dan kiri oleh nenek. Sang cucu tertawa. Kami pun ikut tertawa. Seorang dari kami mengabadikan momen tersebut dengan sebuah jepretan foto. 

Yang ditunggu tiba. Angpao dibagikan. Semua senang dan tersenyum. Kami lebih bahagia karena nenek ikut-ikutan memberikan angpao kepada seluruh sanak saudara. Tak terkecuali kami yang sebagian besar sudah berkeluarga. 

Sebelum acara makan-makan dimulai, sang nenek meminta kami berkumpul. Duduk melingkar. Nenek kembali duduk di kursi tengah. Punggungnya disandarkan. Kaki-kakinya yang kecil menapak di lantai. 

Angin berhembus semilir. Sinar matahari menyelinap masuk lewat ventilasi. Kicau burung terdengar nyaring. Pino dan Pinta berlari kesana kemari sebelum akhirnya diambil untuk dimasukkan kembali ke kandang. 

Nenek menghela nafas. Pelan. Kakinya disilangkan dari kiri ke kanan. Tangan kanannya ditaruh di lutut kirinya. Sorot matanya tajam namun sedikit layu. Kerudung yang dikenakannya dibiarkan terbuka. Rambutnya yang putih menyembul diatas dahinya. 

Kami menunggu. Sejenak suasana menjadi hening. Kami tahu, nenek pasti akan membicarakan sesuatu yang maha penting. Tapi tak satupun dari kami tahu apa yang akan dibicarakan. Kami hanya bisa menunggu.

Nenek kembali menghela nafas. Teratur. Ritme yang masih sama. Beliau mengambil gelas berisi air putih. Meminumnya hingga tandas. Kembali mengatur posisi duduk. Kami menunggu.

Nenek mencoba memejamkan mata secara pelan. Kemudian membukanya. Bibirnya agak gemetar ketika akan memberikan sebuah kalimat yang maha penting. Kalimat yang tentu tak akan dilupakan sepanjang hayat hidup kami. 

“Aku wes tuku kapling.”

Selamat Lebaran. Selamat mudik sampai tujuan. Selamat berkumpul dengan keluarga. Sayangilah dan peluklah nenek dan kakekmu selagi masih ada.

PPKN dan Betadine

Tanggal 1 Juni. Semua lini masa pasti lagi ramai tentang obrolan Pancasila. Ya wajar. Ini kan hari Pancasila. Kamu akan dianggap bukan sebagai bangsa Indonesia apabila gak buat status atau cerita tentang Pancasila. Ye, kan?

Nah omong-omong soal Pancasila. Dari kemarin di beranda saya bertebaran tulisan yang berbunyi “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Setahu saya, orang pertama kali yang berucap seperti ini adalah Bapak Presiden Indonesia. Joko Widodo alias Jokowi. Nah, kemudian ditiru netizen seluruh Indonesia hingga dijadikan status nasional.

Ada yang menyetujui. Ada pula yang mengkritik. Ada yang mendukung. Ada pula yang menolak. Ya tidak apa-apa. Sekarang zaman yang mana manusia memiliki hak kebebasan berpendapat. Kebebasan berekspresi. Begitulah yang terangkum dalam pasal 28 D dan E UUD 1945.

Nah, disini saya tidak akan cerita seperti apa makna “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Biarkan orang-orang yang lebih ahli atau pakar dalam menguraikan makna kata-kata tersebut. Toh, Indonesia kan banyak orang hebat. Bakat terpendam, pintar mencuat. Akal tertindas, goblok meluap.

Saya akan bercerita tentang bagaimana pelajaran PPKN adalah pelajaran yang tidak cukup mudah untuk diresapi dan dihayati oleh sebagian kalangan. Terutama anak-anak SD. Hal ini terbukti dengan cerita pendek yang memiliki nilai PPKN. Menurut saya, PPKN adalah pelajaran multitafsir.

Dulu, saat akan ujian caturwulan, setiap mau masuk kelas, kami disuruh berbaris layaknya tentara. Presensi dahulu sesuai abjad. Masuk satu per satu. Kemudian duduk sesuai tempat yang telah diatur.

Kebetulan saat itu, kami sedang menghadapi ujian PPKN. Bagi sebagian anak, mungkin ini ujian termudah dibandingkan mata pelajaran bahasa Indonesia atau matematika. Tapi bagi saya, justru ini adalah mata pelajaran yang amat menjebak.

Kenapa begitu? Jawabannya hampir2 mirip. Jawaban benar atau salah semuanya semu. Abstrak hingga sulit diprediksi. Tak ada yang pasti. Tentu butuh konsentrasi tinggi. Logika yang masuk. Asupan gizi yang baik serta dilengkapi otak encer.

Saya masih ingat saat itu ada 3 bagian pertanyaan. Pertama, jawaban pilihan ganda. Kedua, jawaban isi tanpa perlu penjelasan. Maksudnya singkat, padat, dan jelas. Ketiga, jawaban isi dengan penjelasan.

Kalo bagian pertama, mungkin bagi sebagian anak akan menjawab dengan mudah. Pilihan ganda. Tinggal memilih. A, B, C, atau D. Kalo ga yakin, hitung dengan jari tangan. Ga yakin lagi, hitung dengan kancing baju. Masih ga yakin? Tutup mata. Kemudian jatuhkan pensil dari atas. Kemana pensil jatuh ke huruf terpilih, maka itu jawaban yang dilingkari.

Masih ada ga ya yang menerapkan kayak gitu? Kayaknya udah ga ada ya? Kan semuanya berbasis komputer. Toh sekarang pendidikan semakin berkembang. Jika misal masih ada yang menggunakan metode seperti itu, maka sekolahmu bisa saja dianggap tertinggal.

Nah, saat mengerjakan soal terlihat banyak anak diam. Paling ada beberapa yang gusar dan celingak-celinguk. Toh, wajar. Mungkin anak-anak sedang cari wangsit. Berharap jawaban runtuh dan terisi semua. Seperti saya.

Bagian kedua. Terdiri dari 10 pertanyaan. Jawaban harus secara singkat, padat dan jelas. Kalo bisa jangan lebih dari 5 kata. Kalo yang ini tak butuh jawaban yang ndakik-ndakik atau pakai kata-kata sulit. Asal ada yang terlintas di pikiran, kemudian jawablah dengan yakin. Seyakin-yakinnya.

Bagian ketiga. Nah ini dapat dikatakan tipe soal susah mudah, mudah susah. Karena bisa dipastikan, kita harus pandai mengarang jawaban. Bukan menulis jawaban. Berpikir gimana caranya menjawab dengan terstruktur dan sistematis.

Aneh dan unik. Mungkin karena sejak kecil kita dituntut mengarang cerita, tak heran besarnya kita suka mengarang cerita. Entah benar atau hoaks. Kebetulan efeknya hingga hari ini. Entah sistem pendidikan yang salah atau kami yang kurang pandai menerima sistem pendidikan modern.

Bagian ketiga dilewati dengan susah payah. Dahi lebih banyak mengernyit. Mulut lebih sering mencucu. Mata lebih payah untuk dikucek. Otak lebih cepat panas. Tangan lebih mudah lelah. Tapi, akhirnya semua usai.

Jawaban dikumpulkan. Secepat kilat guru-guru mengkoreksi jawaban kami. Ada yang tersenyum. Ada yang tertawa. Tapi ada pula menahan amarah. Pelbagai macam ekspresi diperlihatkan oleh guru-guru. Mungkin mereka bangga atau justru mereka heran dengan jawaban murid-murid.

Tiba saatnya hasil ujian diumumkan. Rata-rata teman saya mendapat nilai bulat. Antara angka 5-10. Kecuali saya. Ada nilai setengah pada kertas jawaban saya. 7,5.

Saya bingung. Mencari soal dan nomor. Ada salah satu nomor yang dilingkari merah. Tidak biasanya soal dilingkari merah. Jika pun ada yang salah, nomor tersebut akan disilang.  Ah ternyata ada di bagian kedua. Isian langsung. Jawaban saya benar tapi kurang tepat.

Pertanyaannya begini, “Jika kamu melihat temanmu terjatuh, maka kamu harus….”

Nah, jawaban yang tepat adalah “menolong”. Sedangkan jawaban saya berbeda. Apa itu?

“Memberi betadine”.

Makanya saya dapat nilai setengah. Bener sih. Tapi kurang tepat. Ya itulah PPKN. Semuanya multitafsir.

 

Balada Kaki Panjang

Beberapa orang terlahir memiliki kelebihan. Bahkan diantaranya berlebihan. Itu kata-kata teman saya yaitu Samid. Namun dari kata-kata tersebut kalo kamu cermati baik-baik, itu kalimat sarkastik. 

Punya uang banyak hasil jualan. Eh ternyata masih juga korupsi. Punya kitab banyak. Eh bukan dibaca seluruhnya tapi cuman dibaca sepotong. Dijadikan adu domba pula. Punya wajah ganteng. Eh bukannya kalem malah pengen poligami istri orang. Ya begitulah makna kata-kata itu. 

Sebenarnya saya juga demikian. Kebetulan saya punya sepasang kaki. Kebetulan pula bisa digunakan untuk menendang bola. Menyaduk tulang kering. Hingga yang paling fenomenal. Mengaduk mie. 

Kenapa bisa begitu? Mulanya dari sesuatu yang tak sengaja. Kaki saya panjang sebelah. Tak kelihatan kalo dari jauh. Coba kamu ketemu saya. Lihat secara dekat dan jelas. Asal jangan sampai melekat. Bahaya. Nah, nanti kamu tau kalo kaki kanan saya lebih panjang setengah inci daripada kaki kiri. Iya, hanya setengah inci. Tapi itu cukup memberikan perbedaan.

Tidak hanya itu. Jari-jari saya panjangnya diluar kebiasaan masyarakat Indonesia. Lebih panjang daripada kunci sepeda motor Honda. Ini yang membuat saya kesulitan untuk memilih sepatu murah. Hiks. Derita bagi saya.

Sejak SD, saya hanya memiliki sepasang sepatu. Itu saya cari sampai berdarah-darah. Ukuran 43 untuk anak usia 9 tahun adalah sangat fenomenal. Sudah susah dicari, harganya juga tak murah. Akhirnya kadang saya pesan. Dan butuh waktu cukup lama. Hmm.

Kadang saya miris dan hati cukup teriris. Sepatu buatan Indonesia tak ada yang ukuran seperti saya. Kadang impor. Dan pake sepatu impor pun, saya dianggap tidak nasionalis. 

“Sok-sokan le pake sepatu impor, situ ndak nasionalis ya?”

Kadang kalo ada orang yang ngomong kayak gitu, pengen saya bilang.

“Sampeyan pengen dicokot grandong apa distaples lambenya?”

Tapi ya gimana. Kenyataannya begitu. Indonesia tak mengakomodir manusia kebutuhan khusus seperti saya. Malah saya lebih sering bukan dianggap manusia. Mau tau apa mereka menyebutnya? Hobbit. 

Tak jarang saya selalu merawat sepatu dengan baik. Dan juga kaki saya. Hobi saya main bola. Tentu jaman seusia saya kala SD, melakukan tendangan pisang ala David Beckham adalah impian anak bangsa. Tapi tak jarang, banyak yang tak bisa melakukannya.

Berbagai riset dilakukan. Ada lewat teknologi. Ada yang lewat manual. Ada pula yang lewat perdukunan. Yang terakhir mengira bahwa kaki Beckham adalah kaki turunan dari persalinan Mak Lamipr dengan Hulk. Namun faktanya adalah kaki kiri Beckham lebih pendek daripada kaki kanannya. Makanya ia bisa sempurna melakukan tendangan bebas. Seperti saya.

Sungguh suatu anugerah terindah yang pernah kumiliki. Seperti lirik Sheila On 7. Dan kebetulan saya bisa melakukan apa yang dilakukan beckham. 11-14. Cuman bedanya ia lebih ganteng daripada saya. Itu saja. 

Persoalan kaki tak hanya berujung pada bola. Beladiri pun begitu. Saya diminta menendang setinggi-tingginya. Banyak orang yang percaya bahwa saya bisa melakukan apa yang disebut tendangan Bruce Lee. Sayang, saat melakukannya, kaki saya tercantol pagar. Karena saat kembali ke tanah, kaki kanan saya tidak mendarat dengan sempurna. Alias tak seimbang. 

Walaupun begitu, saya kadang tetap bangga dengan kaki saya. Kalo ada perlombaan 17 agustus seperti lompat jauh. Jelas saya pemenangnya. Lha wong jari-jari saya panjangnya naudzubillah kok. Kadang juri heran. Kok bisa ya? Jangan-jangan saya alien dari planet lain. Kalo sudah begitu saya tinggal bilang.

“Afwan, kaki ane keturunan Arab Saudi.”

Nah kalo sudah begitu, saya malah dilarang ikut lomba lompat jauh lagi. Takutnya menang terus. Dikira saya manusia adidaya layaknya Raja Salman. Padahal ya ndak. Atau mungkin dulunya si juri sedang terjangkit Saudiphobia. Mungkin sih.

Menginjak usia dewasa, saya memiliki posisi favorit dalam sepakbola. Gelandang. Seperti Gennaro Gattuso mantan da’inya AC Milan. Di posisi futsal pun saya ditempatkan sebagai breaker alias perusak. Posisi ini baru saya temukan setelah bermain dengan pemain futsal favorit saya. Darmanto Simaepa.

Ia salah satu guru saya dalam bermain futsal. Mengajarkan cara mengambil bola. Merebut bola. Cuma satu yang tak ia ajarkan. Memungut bola. Kaki-kaki saya serasa maksimal. Biasanya saya hanya digunakan mengumpan. Sekarang bisa buat merusak kaki orang. Minimal tulang kering. 

Trik ini saya gunakan ketika bermain futsal tempo lalu. Kebetulan saya satu tim dengan beliau. Kami diajak latih tanding dengan sebuah tim antah berantah. Saya berulang kali ‘sengaja’ menabrakkan diri ke badan lawan. Menungkak tulang kering. Merebut bola secara liar. Tapi tentu saja sesuai dengan peraturan futsal yang berlaku. 

Hingga sampai pertandingan berakhir, mas Darmanto berujar kepada saya.

“Kamu ini, muka Cina, kaki Arab tapi otak Indonesia.” Saya dan beberapa teman kaget mendengarnya. “Kenapa begitu mas?”

“Satu. Matamu yang sipit itu cermat sekali. Tahu kemana arah bola. Tahu cara bermain untung. Kedua, kakimu yang astagfirullah panjangnya itu baik sekali buat merebut maupun mengambil bola. Dan selalu bikin frustasi pemain lawan. Tapi yang terakhir ini. Saya agak kecewa.”

“Kenapa mas?”

“Kamu mudah terkena kartu merah.”