Month: August 2016

Menunaikan Rindu di hari Minggu

Roda Kehidupan selalu berputar. Senjakala telah tiba. Satu per satu manusia mulai menapaki tiap level kehidupannya. Salah seorang teman yaitu Sigit Purnomo, eh maksudnya Sigit Nugroho, telah naik level. Cak Nun pernah mengatakan bahwa di dunia ada empat level. Lahir, Menikah, Beranak, dan Mati. Nah, Sigit telah naik ke level kedua, yaitu menikah. Ia menikah dengan wanita pilihannya yaitu Wachidah atau biasa dipanggil Achi. Konon katanya, Sigit dan Achi telah “pacaran” selama kurang lebih 9 tahun. Luar Biasa.

Undangan Sigit akan menikah beredar 2 minggu sebelumnya. Grup “Kita Hore-Hore” antusias menyambut pengumuman tersebut. Ada yang kaget, bahagia, percaya maupun tidak percaya. Namun dari beragam ekspresi yang diungkapkan teman-teman, ada cara unik dari Sigit untuk menyebarkan pengumuman tersebut. Satu per satu orang dijapri dan diberi undangan(foto) sesuai dengan nama yang tertera. Saya berpikir mungkin ada yang tidak diundang dalam grup tersebut. Makanya ia rela japri satu demi satu. Tapi ternyata diundang keseluruhannya. Sungguh Sigit adalah orang yang mulia dan tentunya selow.

Tanggal 28 Agustus 2016. Saya dan istri berencana hadir pada hari paling bahagia untuk Sigit dan Achi. Keberangkatan kami dibarengi dengan Boss Aham dan Mbah Reisa. Seperti kisah-kisah sebelumnya, janjian tidak sesuai dengan kenyataan. Janjian jam setengah 9 namun kita baru berangkat jam 10. Ndak papa. Itu namanya warna-warni kehidupan.

Sesampainya disana, terlihat matahari sedang asyik-asyiknya bercengkrama dengan langit Mbantul. Terik panas seakan menyelimuti seluruh area pernikahan. Namun, (lagi-lagi) Sigit memiliki ide brilian. Oleh-oleh tangan yang diberikan kepada pengunjung berupa kipas. Cocok. Cerdas dan Brilian.

Pengunjung dipersilahkan duduk pada tempat yang telah disediakan. Begitu duduk, para sinom sudah siap dan sigap. Kami langsung diberi minuman teh dan snack yang berisi 4 kudapan. Para sinom terdiri dari anak-anak muda yang berpakaian rapi dan menarik. Pria menggunakan kopyah dan batik berwarna coklat. Sedangkan wanita menggunakan kerudung hitam dan blouse berwarna biru.

Pengkhotbah nikah telah beraksi sejak kehadiran kami. Inti khotbah adalah; kalo sudah menikah, apapun menjadi berkah. Mau pegangan tangan, mau meremas kaki, buka baju bareng bahkan mandi bareng itu berkah dan nikmat yang luar biasa. Lalu, gimana malam pertamamu, Git ? Semoga sukses dan terkendali.

Durasi sekitar 30 menit diakhiri dengan doa oleh pengkhotbah nikah. Para sinom bersiap 3 banjar. Dengan tangkas dan telaten, seluruh undangan dibagi satu persatu makanan yang telah disiapkan. Nasi dengan cetakan bunga mawar, gule sapi, kerupuk, dan es durian. Sajian yang memuaskan bagi para undangan utamanya Mbah Reisa. Begitu mendapatkan makanan, ia langsung menyantap tanpa sedetikpun menoleh kanan dan kirinya. Khusyuk dan teratur. Hanya dalam waktu 3 menit, santapan tersebut hilang ditelan perut. Top markotop Mbah Reisa.

Jam setengah 12 acara sudah berganti. Saatnya salam-salaman dengan mempelai pria dan wanita. Terlihat dari kejauhan, seorang pria melambaikan tangannya ke arah kami. Ternyata di depan ada rombongan anak-anak Sastra Arab 2009. Rombongan tersebut antara lain :

Hanif. Pria Mbantul yang memiliki gaya rambut seperti Ibrahimoldic. Konon katanya, ia adalah kapten dari Sastra Arab UGM 2009.

Nana. Gadis Cirebon yang memasang kawat di giginya. Ia menganggap dirinya seorang penggoda malaikat.

Irul. Anak Demak dengan rambut seperti Dul. Kalo yang ini, akademisi dan organisatoris.

Lida. Wanita Jogja yang segera menikah beberapa minggu kemudian. Nikmati masa lajangmu, Lida.

Erlin. Perempuan asli Temanggung yang bekerja di sebuah bank. Yang ini, bentar lagi juga menikah, selamat Erlin.

Galuh. Dara blasteran Riau dan Bandung. Yang paling antusias pada pernikahan Sigit dan Achi.

Reza. Jagoan yang berasal dari campuran Kebumen dan Rembang. Paling tinggi diantara rombongan yang lainnya.

Untuk saya, Novia, Boss Aham dan Mbah Reisa tidak perlu dijelaskan. Anda cukup membaca kisah-kisah sebelumnya.

Setelah bertukar sapa sejenak, kami berfoto ria bersama kedua mempelai. Yang unik dari foto kali ini adalah Sigit memfoto mempelai perempuan bersama teman-temannya. Ide brilian kali ini dipersembahkan oleh Hanif.

537e15d48b7964edc0f037c74b2fa380[1]

Foto kedua mempelai bersama teman-teman Sastra Arab 09 @Boss Aham

IMG-20160831-WA0000

 Sigit mengabadikan momen foto teman-teman Sastra Arab dan istrinya.

Acara foto-foto usai. Karena hanya bertukar sapa dirasa kurang, maka demi menuanaikan rindu dan berbalas cerita, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Kali ini jalan-jalan kami menuju tempat dengan nama berdiksi sastra:  Bumi Langit. Semacam ‘secret garden’ yang menyediakan makanan organik untuk dinikmati bersama di belahan Imogiri Utara. Ada 3 mobil yaitu A,B, dan C. Avanza diisi Boss Aham, Mbah Reisa, Novia dan Saya. Brio diisi Irul, Hanif, Erlin dan Lida. Sedangkan Carimun diisi oleh Reza, Galuh dan Nana. Semua tampak antusias karena tempat tersebut belum pernah mereka kunjungi.

Semua tampak berjalan normal untuk menuju Bumi Langit. Letaknya sekitar 2 km sebelum hutan pinus Imogiri. Namun setelah melewati Bukit Bego, Reza sedikit mengalami kesulitan untuk melewati Tanjakan Cinta (sebut saja begitu). Mobilnya tiba-tiba ngadat. Naik susah, turun mudah. Mereka panik dan kami panik. Sedangkan Brio melenggang meninggalkan kami. Asap mulai mengepul diantara knalpot dan ban belakang kanan. Tanjakan curam membuat suasana terasa semakin menegangkan.

Nana dan Galuh terlihat panik. Bukan hanya karena takut mobilnya ngadat, melainkan juga karena khawatir ke-ngadatan-tersebut akan berimbas pada nasib na’as kedua gadis tersebut, sedangkan kedua gadis tersebut belum merasakan nikmatnya menikah. Boss Aham kemudian segera sigap untuk mengamankan. Sejurus kemudian, mobil tersebut hidup kembali dan ditepikan. Demi menjaga mobil tersebut prima, Boss Aham menitipkannya ke parkiran di bukit bego. Semua mengambil napas lega dan bersyukur telah melewati detik-detik mencekam pada tanjakan cinta.

Sesaat kemudian, kami ber7 tiba di Bumi Langit. Irul,dkk telah menunggu di depan plang Bumi Langit. Sampai disana terlihat pemandangan hijau nan bersih. Bumi Langit adalah tempat yang menyediakan makanan dan minuman organik. Tempat makannya asri, semilir angin membuat kami merasa makan bersama di halaman kami sendiri. Tempat ini juga menyediakan tur bagi siapa saja yang ingin belajar bercocok tanam. Anda patut mencobanya.

Kami hampir mencoba sebagian besar minuman yang unik. Kefir dengan tingkat keasaman yang luar biasa, jus Mulberry, Mint Serai, dan Kombucha (teh fermentasi). Raut muka tersaji dari beberapa teman. Namun, sembari ngobrol maka pesanan tersebut lenyap ditelan perut. Tak terasa obrolan berlangsung hampir 2 jam. Sudah saatnya balik ke kediaman masing-masing sebelum hujan menyapa.

IMG-20160828-WA0001[1]

Tertawa dan senyuman adalah hal yang membahagiakan kami semua. Karena itulah selalu Isilah Akhir Pekan dengan Keceriaan.

Advertisements

Tanggal 17

Tanggal 17. Tanggal yang mana saya selalu melakukan aktivitas seperti biasa saat malam hari. Aktivitas biasa tersebut mengikuti maiyahan di Bantul. Kegiatan di Bantul tersebut dinamakan Macapat Syafaat. “Bintang Tamu”nya adalah Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Acara yang diadakan secara kontinyu setiap tanggal 17 di Bantul. Di daerah lain juga diadakan kegiatan serupa namun dengan nama yang berbeda seperti Kenduri Cinta, Obor Illahi, ataupun Padang Bulan.

Pertama kali saya mengikuti kegiatan maiyahan sekitar  1 tahun yang lalu. Pada waktu itu, selain Cak Nun dan Kiai Kanjeng terdapat pula Sudjiwo Tejo, Candra Malik, dan Noe ‘Letto’. Selanjutnya, hampir tidak pernah saya melewatkan kegiatan setiap tanggal 17. Kegiatan yang berlangsung selama 7-8 jam. Kegiatan yang mampu membuat pendengarnya betah duduk maupun berdiri mendengarkan apapun yang dibicarakan. Kegiatan yang mampu membius penonton untuk menikmati kata maupun kalimat yang didengungkan oleh siapa saja yang berada di panggung. Sebenarnya bukan juga panggung karena jarak penonton dengan pembicara sangat dekat bahkan tinggi panggung hanya 50 cm.

Tidak ada peraturan dan tidak ada batas. Semua boleh saja mengutarakan pendapat, kritik, maupun saran. Anda boleh berbincang tentang permasalahan hidup, agama, perempuan, bahkan hingga sempak. Apapun yang dikatakan oleh pembicara di depan dapat menjadi ilmu. Apapun.

Menariknya adalah orang-orang datang secara sukarela tanpa pernah ada himbauan, ajakan, maupun perintah. Ada yang datang sepasang kekasih, ada yang bawa ponakan, ada kakek dan nenek namun tetap yang paling banyak pendatangnya adalah jomblowan. Ga tau kenapa tapi memang kenyataannya begitu. Anda lapar ? Warung banyak di sekeliling. Anda haus ? ada banyak jajanan minuman yang tersedia. Kegiatan tersebut mampu menghidupkan perekonomian warga setempat.

Penikmatnya tidak hanya berasal dari Jogja. Ada dari Wonosobo, Probolinggo, Madura, Jombang, Bekasi bahkan hingga Toli-toli. Tampaknya semua suku hadir dalam kegiatan tersebut. Tidak semua orang benar-benar mendengar apa yang dibicarakan. Ada yang sesekali bermain hape, ada yang malah tertidur di tengah acara, ada yang ngobrol dengan sebelahnya. Kalo beruntung, ya bisa saja anda menemukan jodoh. Contohnya seperti saya.

Beberapa orang mungkin bilang “Selow sekali duduk selama 7-8 jam mendengarkan siapapun yang di depan memiliki hak dan waktu untuk berbicara”. Saya berpikiran malah terbalik. Justru karena ke-selo-an tersebut orang-orang bisa jadi produktif. Di kegiatan tersebut, orang-orang seakan-akan diajak terus berpikir apapun. Mau persoalan apapun. Baik positif maupun negatif. Saya percaya bahwa orang yang berpikir adalah orang yang produktif. Entah apapun yang dipikirkannya. Ndak ada manusia yang ndak berpikir. Kecuali anda sudah wafat.

Saya kira ndak ada kegiatan yang ndak bermanfaat. Setiap kegiatan pasti memiliki manfaat. Mau anda ngopi semalam suntuk, ngobrol sepanjang hari atau apapun. Tergantung bagaimana kita mengolah pilihan-pilihan di dalam kegiatan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita. Pilihan seperti apa ? Itu tergantung bagaimana anda bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Makanya jangan sesekali menghakimi orang “selow”. Justru orang “selow” bisa saja ‘berbahaya’.

Ndak percaya ? Coba saja tengok sebelah kanan dan kirimu.

Kebenaranku atau Kebenaranmu

Bagaimana manusia dapat mengetahui sebuah kebenaran yang universal, kebenaran yang objektif atau mungkin kebenaran yang hakiki ? Kebenaran yang diagung-agungkan tersebut mungkin hanya Tuhan dan hatimu yang mampu menjawabnya. Kita tidak dapat menerka bahwa manusia tersebut benar atau manusia tersebut salah. Hal ini dikarenakan setiap manusia memiliki pandangan dan perspektifnya masing-masing ? Lalu bagaimana menemukan kebenaran yang sejati ?

Kalimat tersebut seringkali diungkapkan oleh para pencari kebenaran. Manusia – manusia yang termasuk dalam golongan tersebut biasanya sedang melakukan jati diri, menemukan identitas dan mencoba mengenali lebih dalam siapa dirinya yang sebenarnya. Proses pencarian kebenaran dapat dilakukan berbagai macam. Hal – hal yang sifatnya rasional bahkan irrasional seringkali dilakukan.

Ada kalanya ketika manusia mencari kebenaran memasuki tahap tidak sadar. Namun ada juga yang masih saja sadar. Proses pencarian kebenaran tidak bisa disebut sederhana namun tidak juga rumit. Tergantung darimana dan bagaimana orang tersebut mencari kebenaran.

Nabi Ibrahim butuh waktu yang cukup lama untuk mencari kebenaranNya. Ibrahim butuh melihat matahari, bulan, dan bintang untuk menemukan kebenaranNya. Nabi Musa juga sangat lama untuk mencari kebenaranNya. Musa sampai harus naik ke bukit untuk menemui kebenaranNya. Siddharta Gautama bahkan harus meninggalkan sesuatu yang bersifat duniawi untuk mencari kebenaran. Setiap orang pasti mempunyai cara untuk mencari dan menemukan kebenaran yang menurutnya sesuai dengan dirinya.

Menurut saya, tidak ada orang yang bisa menentukan bahwa ini benar atau ini salah. Ada orang yang memang harus mengikuti orang yang lebih tua, belajar, kemudian ikut dengannya. Ada pula orang yang bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya kemudian belajar kepada siapa saja yang ditemuinya sehingga ia menemukan kebeneran menurut dirinya. Ada pula orang yang gak tau hal tersebut benar/salah namun karena lingkungan menyuruhnya mengikuti hal tersebut maka ia tunduk. Lalu, mana yang paling benar diantara ketiganya.

Sekali lagi,benar atau salah tergantung bagaimana anda menentukan pilihan tersebut. Dan anda pula yang harus bertanggungjawab atas pilihan tersebut.