Month: April 2017

Pelajaran dari Pilkada DKI


Kontestasi pemilukada Indonesia telah berakhir. Tanggal 19 April adalah waktu terakhir bagi masyarakat Indonesia khususnya Jakarta untuk gegap gempita memadati keriuhan pilkada. DKI adalah daerah terakhir yang akan melaksanakan pemilu. Harapannya setelah pilkada berakhir, tidak adanya percecokan, perselisihan hingga perpecahan. Semua ingin berakhir aman, damai, dan tentram.

Berkaca dari pilkada khususnya di DKI Jakarta, ada banyak pelajaran penting sekaligus menarik. Pelajaran ini harus disambut dengan pikiran positif supaya kita tak selalu hanyut dalam pertikaian. Gaung perselisihan memang sempat panas sejak putaran I pilkada DKI. Semakin mendekati akhir bukannya kita harus tampil dewasa namun justru saling berburuk sangka. 

Lalu apa pelajaran yang bisa dipetik dari Pilkada DKI kali ini? Mari kita simak.

1. Tak butuh sarjana politik atau doktor kajian media.

Melihat beberapa bulan belakangan ini, sesungguhnya ada semacam pertautan unik di kalangan masyarakat Indonesia. Kita pandai sekali berkomentar, menganalisis kemudian membeberkan fakta maupun kenyataan. Entah itu benar atau salah, segala hiruk pikuk pilkada dapat dikomentari. 

Uniknya, yang memberi komentar atau yang dimintai pendapat bukan kapasitasnya sebagai ahli politik maupun ahli media. Melainkan warga biasa yang sering menangkap gambar kemudian dibagikan ke lini masa dan menjadi viral. Biasanya orang tersebut akan populer dan media cetak maupun elektronik akan menganggapnya sebagai pakar. 

Menurut saya, itu gejala aneh. Bukan kapasitasnya untuk berbicara politik namun dipaksa bahkan menjadi terbiasa berbicara politik. Tapi tak apa-apa. Mungkin karena kita terbiasa dengan dagelan politik hingga yang diminta berbicara pun harus beretorika layaknya politisi Senayan.

2. Munculnya kaum moderat ekstrimis.

Jujur saja, ini fenomena menarik khususnya dalam pilkada DKI. Orang-orang yang diklaim bahkan mengklaim dirinya kaum modrat justru terlihat ikut ‘mencaci’ bahkan ‘memaki’ satu sama lain. Dengan dalih pembenaran bahwa mereka yang harus menanggulangi radikalisme dan sebagainya maka secara tidak langsung mereka berhak mengklaim bahwa mereka yang ‘benar’.

Kita ketahui bahwa dalam pilkada DKI tercipta dua kubu yaitu kubu yang mencaci dan kubu yang dicaci. Tak perlu disebutkan mana yang mencaci dan mana yang dicaci, namun tentunya anda lebih paham mana kubu-kubu tersebut. Sayangnya, kedua kubu sama-sama mengklaim bahwa merekalah yang mengabarkan kebenaran dan menyebarkan pembenaran. Alhasil, bukannya saling tabayyun terlebih dahulu melainkan saling serang tanpa jeda. Saling hina tanpa berkaca.

Tak heran, masyarakat pun dibuat bingung. Siapa yang sebenarnya radikal? Siapa yang sebenarnya moderat? Ataukah sebenarnya mereka hanya memanfaatkan momen untuk menunjukkan siapa mereka? 

3. Fluktuasi harga pangan.

Ini cukup penting. Beberapa saat yang lalu saya ditanya seorang kawan, apakah benar efek pilkada DKI membuat perekonomian lesu khususnya dalam bidang peternakan? Saya pun dibuat bingung. Namun kemudian ia menjelaskan bahwa kondisi politik di ibukota benar-benar membuat harga pangan macam ayam potong, cabai bahkan bawang merah berflutkuasi tanpa arah yang jelas. Entah ada sangkut pautnya atau tidak namun kenyataannya begitu.

Hargai cabai sempat menembus 120.000/kg. Begitu pula harga daging sapi sempat mencapai 200.000/kg. Harga tomat malah satu keranjang hanya dihargai 1000 rupiah. Harga bawang merah hanya 8000/kg yang biasanya bisa mencapai 30000-40000/kg. Mengenaskan. Entah mereka sadari atau tidak, seperti ada efek domino dari Pilkada DKI. Maklum saja, pikiran orang-orang pintar teralihkan pada kontestasi pilkada DKI sehingga melupakan peristiwa yang dialami kalangan pedagang

Para pedagang, peternak, bahkan petani berharap agar pilkada DKI segera berakhir. Segera enyahlah bulan April. Tapi masalahnya apa iya cukup sampai 2 ronde? Jangan-jangan bisa sampai 5 ronde. Sekali lagi itu tergantung kesepakatan penguasa.

4. Permasalahan pribumi (indigineous people)

Poin keempat sempat mengemuka ketika tak henti-hentinya ada yang mengklaim bahwa mereka lah yang sebenarnya pribumi. Ini menjadi soal apakah itu klaim atau memang fakta sejarah? Tentu sudah banyak analisis dari para pakar sejarah yang mengemukakan bahwa kedua-duanya bisa dikatakan pribumi. 

Namun yang menjadi soal adalah saling benci sehingga menyebabkan SARA. Ini yang menjadi mengerikan. Indonesia yang merupakan model dunia sebagai negara dengan suku terbanyak di seluruh dunia ternyata masih menyimpan sentimen sepele hingga berujung ujaran kebencian. 

Andaikan benar-benar hanya pribumi yang boleh berkuasa di Indonesia, bagaimana dengan nasib suku mante, suku anak dalam, kepercayaan amatoa ataupun kepercayaan kaharingan? Seharusnya jika mereka mau bersuara maka mereka lah gang lebih berhak untuk mengklaim dirinya adalah pribumi. Tapi, sepertinya mereka lebih memilih sibuk menjaga kelestarian alam daripada mengikuti kegiatan pilkada yang tak kunjung usai.

5. Belajar dari 4 poin diatas.

Gara-gara Al Maidah, umat Islam kembali menelaah Al Qur’an. Gara-gara pribumi, masyarakat Indonesia kembeli menengok sejarah. Gara-gara pembangunan, orang-orang ikut memikirkan kelestarian alam.

Sebenarnya ada hal-hal positif yang perlu diambil dari kontestasi Pilkada DKI. Ketiga hal diatas adalah contoh-contoh bahwa tak perlu melulu ujaran-ujaran kebencian yang didahulukan melainkan obrolan dan pemikiran yang berujung kemaslahatan itu lebih baik.

Namun, kita lebih sering melihat 1 keburukan daripada menelisik 10 kebaikan. Berkaca dari pilkada DKI, kejadian SARA, ujaran kebencian seharusnya tak perlu terulang kembali. Ingat, Indonesia akan mengalami ledakan penduduk pada 2030. Andaikan hal-hal ujaran kebencian selalu didengungkan utamanya pada pilkada, lantas bagaimana nasib generasi muda mendatang? 

Advertisements

Bela, Bala, Bola Indonesia


Beberapa saat lagi, penikmat layar kaca akan kembali disuguhkan tontonan yang menggairahkan akal sehat dan nafsu batiniah. Apalagi kalo bukan hadirnya liga sepakbola Indonesia. Sebagai salah satu cabang olahraga yang tak kunjung berprestasi, sepakbola masih mendapatkan hati di masyarakat Indonesia yang sedang terbelah.

Kenapa bisa dibilang terbelah? Karena di satu sisi, masyarakat Indonesia ingin segera enyah meninggalkan bulan April akibat kontestasi pilkada yang tak segera usai. Namun disisi lain, saya sebagai suporter garis kanan keras tembok justru segera menantikan bulan April. Ya, semoga dengan bergulirnya kembali liga sepakbola Indonesia maka ini akan menjadi oase di tengah keberagaman masyarakat Indonesia yang sedang terkoyak.

Menyimak gelaran sepakbola Indonesia yang dimulai pertengahan bulan April, ada beberapa catatan menarik yang perlu diperhatikan oleh khalayak. Baik anda sebagai suporter layar kaca maupun saya sebagai suporter layar nyata. Nah, apa saja catatan tersebut, mari kita simak bos.

1. Komentator

Bagi saya, komentator akan menentukan arah jalannya pertandingan. Mengapa begitu? Ya jelas, kalo di Indonesia suara komentator lebih menarik dikomentari daripada tindakan wasit yang masih selalu galau dalam mengambil keputusan. Dan patut kita perhatikan, sejak AFF 2016 ada dua nama komentator yang sedang meroket.

Siapa lagi kalo bukan bung ‘Ahay’ alias Hadi Gunawan dan mister Valentino Simanjuntak. Ledakan suara dan pemilihan kata yang brilian menjadi faktor penting bagi jalannya pertandingan. 

Mulai dari tendangan LDR, tendangan selamat datang, umpan manja, umpan cuek dan gerakan antar propinsi antar kota hingga serangan 7 hari 7 malam akan menjadi kosa kata baru bagi kamus sepakbola Indonesia. 

Kalian bisa lihat sejak kata-kata tersebut muai didengungkan, kini menjadi populer di kalangan generasi milineal. Mulai dari main playstation, sepakbola antar kampung sampai turnamen futsal bergengsi pun kata-kata tersebut sangat jamak dilayangkan oleh teman-teman saya.

Saya sebenarnya mengusulkan daripada PSSI tak kunjung juga memberikan prestasi positif maka lebih baik membuat kamus sepakbola Indonesia versi komentator Indonesia. Siapa tahu FIFA akan memberi sponsor. Dan siapa tau juga justru kamus sepakbola Indonesia versi tersebut akan laik dipakai di liga-liga besar dunia.

2. Marquee player

Nah regulasi yang satu ini benar-benar baru. Syaratnya pun tak main-main. Minimal pernah bermain di salah satu dari tiga edisi Piala Dunia terakhir atau pernah bermain di liga top dunia dalam kurun waktu 8 musim terakhir. Dan bayarannya maksimal 15 milliar rupiah.

Sudah ada 7 pemain yang tergolong marquee player di Indonesia. Diantaranya ada Michael Essien, Carlton Cole (keduanya berseragam Persib Bandung) dan Peter Odemwingie (Madura United). Tentunya akan menjadi sesuatu yang wah dan tontonan yang menarik bagi penonton sepakbola Indonesia.

Namun perlu saya beritahuken kepada mereka bahwa jangan terkejut dengan sistem sepakbola Indonesia. Biasa saja. Kenapa saya bilang begitu? Ini merujuk pada aksi kejar-kejaran Essien kepada Yabes Roni(Bali United) akibat tendangan segitiga ke arah punggung Essien.

Hey bung, itu belum seberapa. Masih banyak yang bakal terjadi. Kalian bertiga jangan kaget jika gaji kalian terlambat. Itu sudah mahfum. Terus jangan bandingkan semua lapangan sepakbola Indonesia seperti Emirates Stadium, San Siro, atau Santiago Bernabue. Kalo disini lebih seperti Santiago Berdebu.

Oh ya, mulai biasakanlah kalian makan nasi bungkus. Kalian jangan mengira asupan gizi terjaga dalam satu musim. Dan bakalan terus bermewah-mewah makan di hotel atau lewat catering. Pasti akan ada saatnya menimati nasi bungkus. Lebih tepatnya nasi rames. 

3. Liga Gojek Traveloka

Ini terobosan paling brilian yang dilakukan oleh PSSI. Di saat beberapa ojek online masih harus berurusan atau tarung dengan ojek offline, maka gojek justru melesat dengan menjadi operator liga. Jelas, ini kabar membahagiakan.

Gojek menjadi transportasi idaman di semua kalangan. Dan ternyata ini berlanjut menyasar ke sepakbola Indonesia. Sepertinya Gojek sangat tahu pangsa pasar bahwa sepakbola adalah olahraga paling digemari di Indonesia.

Dengan adanya gojek, tentu kita tak bakal bisa menyaksikan pertandingan jebolan. Maksudnya tak perlu repot kehabisan tiket. Bagaimana bisa? Setelah ini pasti ada aplikasi go-ticket. Jadi tak perlu repot-repot antri. Cukup klik, maka tiket sudah ada di tangan.

Bukan itu saja, adanya traveloka jelas perjalanan lebih mudah. Setelah ini pasti ada promo tiket perjalanan dengan catatan harus menonton pertandingan bola. Misal promo diskon 50% tiket kereta api Malang-Bandung dengan syarat beli tiket pertandingan. Nah ini pasti menarik minat penonton. Nah segalanya menjadi lebih mudah dan murah bukan? 

4. TNI dan Polri

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah perhelatan sepakbola Indonesia, ada dua tim yang berasal dari anggota TNI dan Polri. PS TNI dan Bhayangkara United. Ini menjadi kebahagiaan bagi kita. Lhoh kenapa begitu?

Kalian jangan mengira jika mereka hanya bisa menangkap teroris, melakukan pembrangusan minuman beralkohol, menjadi presiden atau membuat album musik. Maka saat ini mereka juga mampu terjun ke lapangan hijau. Ya masak baju sudah hitam hijau tapi ga pernah ikut liga profesional. Kan lucu.

Tentu, ini akan menjadi pemandangan menarik. Bagi anggota TNI dan Polri tak perlu izin keluar dengan menggunakan surat atau semacamnya. Tinggal bilang saja, “Lapor Komandan, kami satu kompi ingin mendukung teman dan kesebelasan sepakbola kami!”. Jelas, pasti bakal diijinkan. Ndak mungkin ndak. 

Masak mereka mau kalah dengan Aremania, Bobotoh, Jakmania dan lainnya? Ya jelas mereka bakal menggelotorkan para prajuritnya untuk menyesakkan stadion. Itu sudah jelas.

Lalu bagaimana dengan yel-yel suporter? Lhah, mereka kan sudah punya komandan yang menghasilkan puluhan album. Ya tinggal pakai saja salah satu lagu atau liriknya untuk dijadikan yel-yel. Simpel bukan?

Nah kira-kira itulah yang menjadi catatan penting dalam menikmati sepakbola Indonesia kali inil Oh iya, untuk soal camilan jangan pernah gunakan tahu dan lemper. Itu sudah zaman bahula. 

Mulai saat ini berdayakan ploduk-ploduk Indonesia modern. Nikmatilah pertandingan bola dengan minum kopi sachet dari Torabika atau Kapal Api. Tentunya jangan lupa ngemil dengan kacang garuda dari ploduk Indofood.

Kalo Efek Rumah Kaca bisa menciptakan lagu dengan judul Pasar bisa Diciptakan, Cipta bisa Dipasarkan maka Sepakbola Indonesia bisa menciptakan slogan Sepakbola milik Tentara, Tentara miliki klub Sepakbola.

Jogjakarta Rasa Padang

​Foto: Dokumen Pribadi

Barang dagangan mulai digelar. Nasi bungkus berbentuk kerucut tertata dengan rapi. Delapan ke bawah dan lima ke samping. Total ada 40 buah. Selain itu, ada pula sate-sate yang tersusun dengan epik. Ada sate puyuh dan sate usus. Sungguh menggoda mata dan memanjakan lidah. Apalagi ditambah tempe kemul yang berukuran telapak tangan dewasa. Lengkap sudah sajian pada malam itu. 

Letaknya berada di pusat kota Yogyakarta. Kamu tak perlu repot untuk mencarinya. Tunggu saja pukul 11 malam. Maka lapak mulai digelar tepat di depan pintu Mall Malioboro. Tak ada papan nama. Tak ada papan petunjuk. Namun orang seringkali menyebutnya Angkringan Padang.

Diberi julukan Padang pun oleh para pelanggannya. Usut punya usut, penjualnya asli orang Padang. Tak hanya itu, jika kamu membeli nasi bungkus maka yang tersaji didalamnya adalah nasi dan lauk angkringan pada umumnya. Perbedaannya hanya satu yaitu menggunakan sambal merah khas Padang. Lauknya pun berbagai macam. Ada T2, TB, TJ, dan masih banyak lainnya. Apa itu?

Kamu mungkin bingung. Saya pun demikian. Setelah saya menanyakan singkatan tersebut pada sang pemilik maka saya menemukan jawabannya. T2 berarti Teri dan Telur, TB berarti Telur Balado, TJ berarti Teri/Telur Jengkol. Sebenarnya masih banyak variannya. Sayangnya, karena saya sangat lapar maka saya hanya memperhatikan ketiga menu tersebut.

Duduk lesehan arah melingkar. Seperti sedang berdiskusi. Tapi kali ini lain. Dihadapan saya ada satu buah nasi T2, 3 tempe kemul dan es teh tawar. Saya hanya ingin menikmatinya. Suapan demi suapan. Gigitan demi gigitan. Dan tegukan tegukan. Menikmati teri, nasi dan menyantap telor secara bersamaan. Setelah sedikit penuh didorong dengan es teh tawar khas angkringan Padang. Sempurna.

Saya benar-benar merasakan suasana Jogjakarta di malam itu. Rame tapi tak berisik. Cerah tapi tak berawan. Sibuk tapi tak sendiri. Semua berkelindan menjadi satu. Saling tegur sapa. Saling memberikan informasi baik. Ini yang mungkin diucapkan oleh Joko Pinurbo bahwa Jogja terdiri dari 3 hal. Rindu, Pulang, dan Angkringan.

Saya benar-benar menghayati apa itu Jogjakarta. Sesuai dengan slogannya. Berhati nyaman dan istimewa. Kalo kata Kla Project, ada setangkup haru dalam rindu. Rindu Jogjakarta itu rindu dengan kesederhanaan orang-orangnya. Saling senyum tanpa ada intrik. Saling tertawa tanpa ada tabir kepalsuan. 

Inikah yang dinamakan pulang ke Jogjakarta ? Ya, tepat sekali. Menyusuri loronh dari rel kereta api menuju benteng Vredeburg. Melewati lintasan pedagang yang mulai berkemas. Menikmati sajian musik lokal dari para musisi jalanan. Sungguh ini malam yang istimewa bagi saya.

Saya berani bertaruh, suasana seperti ini tidak bisa dinikmati setiap malam. Terlebih Jogjakarta berkembang pesat. Malioboro yang pada sejarahnya merupakan taman bunga telah berubah menjadi taman kota. Tempat duduk lebih banyak daripada bunga-bunga yang ditanam. Simbol kebesaran tentang bunga-bunga telah tergantikan dengan simbol kemoderenan tentang tempat singgah. 

Toh, sebenarnya itu juga baik. Jogjakarta memang harus mengikuti perkembangan zaman. Manusia semakin banyak. Kepadatan penduduk makin bertambah. Predikat Jogjakarta sebagai kota dengan tempat tinggal ternyaman di Indonesia menjadi salah satu akarnya. Orang-orang yang memasuki usia senja lebih mengakhirkan hidupnya di Jogjakarta.

Tapi tak semua perkembangan zaman harus diikuti. Jogjakarta yang terkenal dengan sajian alam, jangan sampai mengekor kota lain dengan sajian beton. Cukup alam yang menjadi primadona. Bukan beton yang menjadi daya tariknya.

Namun tampaknya terlambat. Jogjakarta telah berjalan dengan cepat. Mau tak mau daripada selalu dikatakan tertinggal dari kota besar lainnya maka Jogja harus berkembang. Ini bukan permasalahan peningkatan hunian beton. Ini masalah penyesuaian. Memang masih ada yang mau tinggal dalam rumah kayu seperti zaman raja dahulu? 

Nah, kalo soal rasa, bolehlah berubah. Terkadang lidah selalu ingin mencoba makanan yang baru. Apalagi angkringan ini. Mana ada yang menawarkan makanan macam ini. Saya kira Pakde (sebutan untuk pemilik Angkringan Padang) memang ingin mengakuluturasi lidah masyarakat Jogja. Terbiasa dengan nasi sekepalan tangan namun dipadu dengan sambal merah khas Padang. Akulturasi yang berhasil. Cita rasa lidah Jogja dibarengi dengan pedasnya sambal. 

Seorang teman berkata, “setelah malam ini, mungkin aku akan menjadwalkan makan di angkringan ini seminggu 3x”. Namun saya berseloroh, “kalo dirimu seminggu 3x, maka aku akan kesini tiap malam”.

Pakde berhasil memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bahwa tak hanya busana yang melalui proses akulturasi melainkan juga makanan pun mampu. Itu semua hanya tersaji di Angkringan khas Padang milik Pakde.
Nb: Tersenyumlah ketika melihat Pakde karena belio adalah mantan orang penting di Indonesia.

JEPANG

 Ada 3 hal yang saya ingat tentang Jepang

 1. Karate

Saya dari keluarga karate. Mama memiliki hobi karate. Belio menggeluti karate saat SMA. Ihwal mengikuti karate karena kakek saya paling tidak mau melihat perempuan lemah. Makanya ibu saya ikut latihan karate walaupun hanya sampai sabuk hijau. 

Lain dengan bapak saya. Dari SMA sampai sekarang, bapak saya masih aktif pada seni karate. Belio lebih suka menyebutkan seni atau tradisi daripada olahraga. Menurutnya, karate itu olah rasa dari kepala hingga kaki. Bapak menyuruh saya untuk berhati-hati dengan tradisi karate. Karena karate tidak hanya sekedar pertahanan diri saja. Bahaya jika dibuat untuk berkelahi. Bisa-bisa sampai membunuh manusia. Seperti Chinmi.

2. Detective Conan

Sejak kecil, saya hampir tidak bisa melewatkan serial detektif Conan. Mulai dari Shinichi, Ran, hingga Kogoro Mouri. Saya sampai mengoleksi komik-komiknya dari jilid 1 hingga 18. Sayangnya, rayap sialan memakan kertas-kertas tersebut hingga akhirnya menjadi remah-remah. Tapi untungnya Indonesia menghadirkan internet. Jadi saya tak perlu khawatir untuk tidak melewatkan lagi serial detektif Conan.

Oh iya, saya juga pernah berharap jadi detektif conan. Bisa punya piramida pikiran dan menganalisis masalah dengan rapi. Tapi sayang, S1 saya bukan di UGM. Coba di UGM, mungkin bisa lebih bisa berpikir terstruktur dan sistematis. Ya kan, wok? Hahaha.

3. Miyabi

Apa lagi yang harus dikomentari dari dirinya? Semua pria tahu dia meskipun tak kenal. Tak perlu diragukan lagi, dia adalah wanita terpopuler Jepang untuk kalangan pria. 

Kesalahannya hanya satu. Sampai sekarang saya hanya bisa menonton di layar kaca.

Aliran

Ilustrasi oleh Djarwo

Ketika saya berkuliah di Malang, teman saya pernah berujar “Hati-hati terhadap aliran Wahabi mod. Bahaya. Nanti kita ndak boleh tahlilan dan ziarah kubur.” Saya belum ngerti maksudnya. Toh kebetulan saya adalah orang awam yang jarang tersentuh dan mendengar aliran-aliran seperti itu. Jadi saya hanya berkata kepada teman saya, “Oke, saya akan hati-hati.”

Kemudian, suatu saat kembali ke Jogja, ketika reuni dengan teman-teman masa kecil, salah satu teman berkata, “Gimana kuliah di Malang mod? Pokoknya tetap waspada dan hati-hati. Terutama dengan aliran Syiah. Itu bukan ajaran Islam.” Saya hanya mengangguk saja dan sejurus kemudian berkata, “Oke, saya akan hati-hati.”

Secara kebetulan, cerita pertama adalah obrolan saya dengan sahabat NU. Cerita kedua adalah obrolan saya dengan kawan Muhammadiyah.
Sampai sekarang pun saya nggak ngerti mana yang lebih sesat. Wahabi atau Syiah? Atau kedua-keduanya sama-sama sesat? Atau justru kedua-keduanya sama-sama benar? Mungkin kamu lebih paham.

Suatu hari, seorang dosen pernah mengatakan sesuatu kepada saya. Kalo NU itu Syiah kultural. Maksudnya adalah beberapa kultur seperti memukul bedug, tahlilan, ziarah kubur agaknya lebih dekat dengan budaya Syiah. Makanya tak heran budaya tersebut sampai sekarang masih dilestarikan oleh sahabat-sahabat NU. Toh asal tujuan itu baik, saya pikir tak apa-apa. Bagus.

Kemudian, beliau juga pernah mengatakan seperti ini kepada saya. Kalo Muhammadiyah itu Wahabi Organisasi. Maksudnya adalah kawan-kawan muhammadiyah lebih dekat dengan gaya organisasi macam Wahabi. Kayak memajukan lembaga pendidikan, rumah sakit, dan sebagainya. Makanya tak heran secara organisasi modern, Muhammadiyah dianggap mampu mengendalikan itu semua. Toh asal tujuan itu baik, saya kira juga tak apa-apa. Bagus.

Benar atau salah ucapan dosen saya itu, saya kira memang demikian adanya. Kalo menteri agama ya jatahnya NU dan kalo menteri pendidikan ya jatahnya Muhammadiyah. Itu sudah kepastian tak tertulis. Eh.

Yang saya bikin sedih adalah terkadang bahkan sampai sekarang, ‘mereka’ sama-sama meyakini bahwa alirannya paling ‘tepat’ dan ‘benar’. Kayak contohnya begini, “Islam Indonesia adalah Islam Nusantara yang Berkemajuan.” Nah yang satu lagi ga mau kalah. Bilangnya begini,” Islam Indonesia adalah Islam Berkemajuan yang bersifat Nusantara.” Nah kan. Kalo sudah begini gimana? Apa ya iya masih selalu saja saling mengunggulkan slogan tersebut?

Mbok ya itu dilihat, ada beberapa tokoh agama dipenjara akibat membela soal tanah di Lampung. Itu juga dilihat bagaimana suku Anak Dalam sudah mulai hilang tempat tinggalnya karena pembalakan liar di Riau. Atau itu lihat nasib suku Amungme Papua yang terlempar dari tanahnya sendiri akibat urusan Freeport ndak kelar-kelar.

Atau itu aja wes, masalah semen di Rembang. Mbok ya advokasi sana. Jangan malah silat lidah di media sosial aja. Atau jangan-jangan ‘mereka’ malah mendukung pembangunan pabrik semen?

Kalo soal gini aja diem. Mungkin benar kita lebih disibukkan mengkafirkan yang Islam daripada mengIslamkan yang kafir. Tetapi, siapa yang dianggap kafir?

Kalo menurut saya, Siapa saja yang menutup perintah Tuhan untuk membantu dan menolong sesama manusia.

Adagio

Ilustrasi oleh Brian Danahe

Belajar berpikir tidaklah mudah
Tidaklah mudah jika terus menganga
Menganga bukanlah sesuatu yang susah
Yang susah itu aku berpikir maka aku ada

Belajar bertindak mungkin mudah
Mungkin mudah jika terus mengutuk
Mengutuk bukanlah sesuatu yang ilmiah
Yang ilmiah itu terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk

Belajar bersikap terbilang mudah
Terbilang mudah jika terus mencoba
Mencoba bukanlah sesuatu yang lemah
Yang lemah itu baca komentar baca udara

Belajar berucap cukup mudah
Cukup mudah jika terus berucap binal
Berucap binal bukanlah sesuatu yang cerah
Yang cerah itu sedikit nakal banyak akal

Surat Wasiat untuk Komisariat

​Ilustrasi surat.

Mata tak kunjung tertutup. Hair berusaha membolak-balikan tubuhnya agar cepat tidur. Pada akhirnya ia tertidur pas jam 2.15 pagi. Bau wangi mulai lewat dan menusuk ke hidung. Saya yang sudah terbiasa bau itu berusaha acuh tak acuh. Sembari menutupi diri dengan selimut, saya berusaha untuk tidur. Walaupun tak begitu nyenyak.

“Astagfirullahhhh… Aa..ss..tag..firrr…rulllah… Astagfirulaaaaah!!!”

Suara Hair cukup kencang hingga memekakkan telinga anak-anak. Farel yang ada di dekatnya langsung berusaha menyadarkan Hair. Karena saya tidur di ruang tamu, saya langsung mendobrak pintu dengan kaki kanan.

“Hehh ir!!!” Saya berusaha menggoyangkan bahunya. Lebih tepatnya menyepaknya. Kepalanya hanya bergerak ke kanan dan kiri. Kemudian tangan kiri menutup wajahnya sedangkan tangan kanannya menunjuk ke plafon yang kebetulam berlubang.

Saya dan Farel menengadah ke atas. Tak ada apa-apa. Hanya angin semilir yang dingin. Maklum saat itu jam 05.30. Kemudian Hair bergegas ke kamar mandi, wudhu, dan sholat subuh. Saya dan Farel hanya mengamatinya dengan heran. Begitu pula dengan anak-anak lainnya. Tumben.

Begitu selesai, Hair langsung pulang. Ditanya tak menjawab.

                                                                ***

Menjelang istirahat siang, saya pergi ke kos Hair. Ingin bertanya apa yang dilihat Hair saat pagi tadi. Hair bercerita dengan nafas yang tersengal. Sepertinya ia benar-benar takut dengan peristiwa pagi tadi. Ia hanya mengungkapkan bahwa ada dua orang wanita yang tersenyum kepadanya. Kemudian wanita tersebut menjauh dan hanya tampak kepalanya saja. Selang tak berapa lama, lidahnya menjulur dan terjuntai hingga mengenai hidung Hair. Seperti Leak (Hantu Bali).

Saya hanya mengangguk pelan. Cukup aneh. Sepanjang saya dan Pandu tinggal di komisariat, baru Hair yang diberi penampakan macam itu. Saya dan Pandu bahkan tak pernah melihat penampakan mereka. Tentunya juga tak ingin.

Mengacu ketakutan Hair, akhirnya saya memutuskan rapat harian di luar komisariat. Maklum, setiap 2 minggu sekali pada hari Selasa kami mengadakan rapat harian. Dan baru kali ini kami mengadakan rapat di luar komisariat.

Selepas Ashar, kami berangkat dari komisariat menuju rumah nenek saya. Ya, rumah nenek saya dipilih karena kebetulan sedang kosong. Pada waktu itu, Nenek dan paman saya pergi ke Lombok dalam waktu 1 bulan. 

Sampai disana, kami langsung duduk melingkar dan melakukan rapat harian. Tak ada raut muka ketakutan. Tak ada raut muka kebingungan. Rapat kali itu berjalan lancar. Semua tampak bahagia dan senang. Bahkan sesekali lelucon dikeluarkan teman-teman supaya menambah semarak rapat. Hingga suatu ketika…

Hair menanyakan keberadaan Yoga kepada anak-anak. Saya bilang, “Yoga lagi di Tulungagung, tadi dia pamit sama aku.” Hair tak percaya dan tertawa. Ia bilang jika saya berusaha membohongi dirinya. 

“Ya ndak mungkin Mod. Tadi kan dari komisariat bonceng kamu. Sampai disini aja tadi dia dorong sepeda motormu dari belakang kok.”

Saya terheran. Saya pikir Hair mengigau. Tapi sepertinya tidak. Ia malah bertanya ke teman-teman lain seperti Ardy, Rio dan Ussy. Mereka pun menyanggahnya. Bahkan saya terpaksa menunjukkan esemes dari Yoga. Ketika membaca esemes itu, wajah Hair pucat pasi. Suasana langsung menjadi sepi. Tampak semua pada mengernyitkan dahi. Melihat kondisi seperti itu, kemudian saya menyudahi rapat tersebut dan mengajak mereka kembali ke komisariat.

                                                                     ***

Jam 11 malam. Saat di komisariat hanya ada saya, Mas Budi, Iqbal, dan Nano. Mas Budi adalah senior saya angkatan 2007. Sedangkan Iqbal dan Nano adalah junior saya angkatan 2008. Seperti biasa, Mas Budi cerita nabi-nabi dan sesekali diselingi cerita horor. Ia bercerita jika ia pernah melihat kepala terbang saat berkunjung Masjid Kotagede Yogyakarta. 

Ia bercerita cukup serius. Saya pun sampai harus menutup telinga demi tak mendengar lagi ceritanya. Tiba-tiba…

“Aaawrrrr… aawrrrr… awwrrrr…” Iqbal mencakar-cakar ubin. Seperti orang kesurupan. Mulutnya berulangkali mengeluarkan suara-suara aneh. Sepertinya kemasukan macan cadas. Saya dan Nano berusaha komat-kamit sebisanya. Mas Budi mengatupkan kedua tangan seperti layaknya orang semedi.

Tiba-tiba Iqbal tertawa. Melengking tinggi layaknya kuntilanak. Saya dan Nano menutup telinga dengan rapat. Mulut Mas Budi komat-kamit seperti mengucapkan mantra. Suasana sangat tegang. Namun tiba-tiba ada yang aneh. 

Iqbal tersenyum kemudian tertawa puas. Kami bertiga bingung dengan perilakunya. Lagi-lagi tertawa terbahak-bahak. Kemudian berkata, “Aku tu cuma ngetes kalian ternyata benar-benar ketakutan, hahaha.” Mas Budi menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu jangan main-main nanti kalo hantunya marah sama kamu gimana?”

Mas Budi mencoba memperingatkan Iqbal. Namun tampaknya tak dihiraukan. Hingga saat itu, tiba-tiba lampu mulai padam secara berurutan. Dari kamar depan ke kamar belakang kemudian lampu ruang tamu. Darah saya berdesir sembari menutup wajah. Nano menutup mata. Iqbal meringkuk dalam selimut. Hanya mata Mas Budi yang tampak mengawasi pintu depan.

“Klap.. klapp.. klap.. klapp..” Lampu ruang tamu nyala mati berulang kali. 

“Astagfirullahhh.. astagfirullahhh..” suara Mass Budi terdengar lirih. 

Tangannya menepuk dada dan ubin berulangkali. Saya tersentak. Tiba-tiba ada bayangan putih, tinggi dan besar. Lebih mengerikannya lagi, bayangan itu secara cepat berubah menjadi hitam. Tampak bulu-bulu hitam menjuntai. Giginya hanya dua tapi panjang bahkan menyentuh ubin. Saya, Nano dan Iqbal berusaha mengintip dan berdoa yang kita bisa.

Tiba-tiba ada hentakan kaki kiri dan tangan kanan dari Mas Budi secara bersamaan. Semua lampu kembali menyala. Sejurus kemudian, Nano langsung keluar komisariat. Saya juga bergegas lari mengikuti Nano. Bersiap pergi dari komisariat. Tak lama, Iqbal juga mengikuti kami. Hanya Mas Budi yang masih santai. Menoleh, menengadah plafon kemudian memeriksa semua sudut rumah. Akhirnya kami keluar meninggalkan komisariat.

                                                                  ***

Jam 4 pagi, saya kembali ke komisariat. Sambil berharap cemas, saya mengelilingi seluruh ruangan. Hanya ada Pandu yang tampak tertidur lelap di kamar tengah. Saat saya berusaha merebahkan badan di ruang tamu, tiba-tiba saya kaget melihat sebuah amplop merah darah tergantung di sebelah kalender. SURAT WASIAT. Begitulah tulisannya.

Saya mencoba membukanya. Basah dan sedikit berlendir. Isinya hanya selembar kertas kecil. Terlipat menjadi dua sisi. Hurufnya agak aneh. Ditulis dengan tinta berwarna merah. Hanya ada satu kalimat yang tertulis disitu. Darah saya lagi-lagi berdesir seperti malam itu. Bulu kuduk saya berdiri. Bibir bahkan sampai bergetar tak beraturan. Namun saya berusaha semaksimal mungkin untuk tenang.

Selepas subuh, saya menelpon Hair dan Ardy. Saya minta bertemu mereka jam 06.30 pagi di komisariat. Sembari berusaha menenangkan diri, saya mencoba membuat kopi hangat. 

Ardy datang lebih dulu. 10 menit kemudian, Hair datang. Saya bercerita kepada mereka tentang peristiwa tadi malam. Ardy dan Hair mendengarkan dengan seksama sembari merokok. Kemudian saya mengambil surat tersebut. Ardy memincingkan mata. Hair tampak ogah melihat surat itu. Saya membuka secara pelan. Kemudian memberitahukan isinya kepada mereka.

Mereka berdua kaget. Sedikit bingung. Ardy mengacak-mengacak rambutnya seraya berkata, “Ndak mungkin ini, ndak mungkin ini Mod!!” Bahu saya terangkat pelan sembari mengatur nafas. Hair menggeleng-gelengkan kepala seakan tak percaya.. 

“Kita harus rapat segera!” Hair dan Ardy mengangguk setuju. Siangnya saya bersama mereka mengumpulkan anak-anak pengurus di gazebo. Raut muka anak-anak bingung. Mereka hendak bertanya. Namun saya memberikan isyarat supaya mereka diam dan tak boleh bicara.

“Kita harus menyudahi semuanya.”

NB: Tak lama setelah rapat itu, kami mengadakan rapat anggota komisariat luar biasa (RAKLB) di Batu. Menghadirkan seluruh anak-anak komisariat. Tidak hanya junior melainkan senior. Kami ‘terpaksa’ mengakhiri kepengurusan kami. Tidak berlangsung 1 tahun melainkan hanya 8 bulan. Mungkin sedikit mencederai konstitusi. Tapi demi kemaslahatan komisariat, kami pun harus selesai. 

Surat wasiat tersebut hingga kini hanya saya, Hair dan Ardy yang mengetahui. Dan surat itu tersimpan rapat di salah satu lemari rumah saya.