Senandung Mendayu dari Sop Senerek Bu Atmo

Jogja akan terasa macet menjelang liburan panjang. Awal Mei 2016 terdapat dua tanggal merah yaitu tanggal 5 dan 6. Kok ya kebetulan tanggal tersebut bertepatan dengan hari kamis dan jumat. Nah, tanggal merah adalah berkah bagi masyarakat Indonesia khususnya PNS. Mereka bakal berbondong-bondong cari tempat liburan untuk melepas penat. Tanggal merah dan tanggal muda. Itu artinya putaran uang akan bergairah di tempat-tempat liburan. Cocok iwak endog !!!

Sebagai orang asli Jogja yang berhati nyaman, tentunya dengan adanya liburan panjang akan menuai dilema. Lebih baik mengungsi keluar kota atau menikmati kemacetan Jogjakarta. Mungkin juga lebih baik semedi di rumah masing-masing. Ya begitu Jogja, kalo memasuki liburan panjang, hampir dipastikan jalanan dipenuhi kendaraan baik umum maupun pribadi dengan plat luar kota.

Nah, ibu saya sudah gerah dengan kondisi Jogja yang selalu macet menjelang liburan. Maka dari itu beliau mengajak jalan-jalan keluar Jogja. Kebetulan saya dan istri hendak pergi ke Temanggung mengunjungi orang tua istri sekaligus rutinitas akhir pekan. Akhirnya, daripada saya dan istri mengendarai sepeda motor maka ibu saya menawarkan untuk pergi bersama ke Temanggung menggunakan mobil. Berangkatlah saya, istri, bapak, ibu, dan kedua adik saya ke Temanggung.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi kemacetan mulai dari pertigaan Borobudur ke selatan sampai dengan pertigaan menjelang perbatasan Jogjakarta. Luar biasa. Animo masyarakat luar Jogja untuk mengunjungi daerah wisata Jogja begitu tinggi. Bus-bus Pariwisata cukup banyak. Sedangkan untuk jalan arah keluar jogja sangat lengang dan cukup selo. Saking selonya, kedua adik saya memotret berbagai bus yang lewat dan juga menghitungnya !!! Selo tenan adik-adiku. Tak heran Jogja menempati urutan kedua setelah Bali untuk kunjungan pariwisata terbanyak di Indonesia.

Melewati pertigaan Borobudur, kami memulai perbincangan serius. Maksudnya serius karena perut kami sudah melagukan senandung keroncong.  Itu artinya kami harus segera mengisi bahan bakar. Terlebih kedua adik saya yang berbobot lebih dari 100 kg adalah gampang lapar !!. Hehehe. Kemudian ibu saya merekomendasikan kuliner khas Magelang yaitu sop senerek. Namun masalahnya ibu lupa alamat dan jalannya lewat mana. Terpujilah orang-orang Yahudi yang telah menciptakan Google Maps. Alhamdulillah akhirnya Google Maps mampu menunjukkan jalan menuju sop senerek.

Meskipun sedikit tersesat karena kurang pandai dalam menggunakan Google Maps, akhirnya kami menemukan Sop Senerek Bu Atmo. Kuliner ini terletak di jl. Mangkubumi No. 3 dan termasuk dalam kawasan kuliner Jenderal. Mungkin dulunya, kawasan ini adalah kawasan kuliner milik para Jenderal. Saya belum mengecek kebenarannya.

sop

Sop Senerek Bu Atmo © Novia Rakhma Ramdhani

Di depan Sop Senerek Bu Atmo terdapat berbagai macam kuliner seperti Mie Jepang, Soto Madura, dan masih banyak lainnya. Namun, kuliner-kuliner tersebut masih kalah dengan membludaknya antrian menuju warung makan milik Bu Atmo. Dan saya terheran ketika melihat spanduk warung makan tersebut. Tertulis “Supported by AS ROMA MAGELANG”. Wah saya sangat salut. Mungkin dulunya tempat ini adalah kumpulan dari fans AS ROMA atau mungkin Bu Atmo adalah fans fanatik AS ROMA. Kalo benar Bu Atmo adalah salah satu fans fanatik AS ROMA, sudah seharusnya mas Puthut EA mengunjungi warung tersebut.

Memasuki warung tersebut, kami harus menunggu giliran untuk duduk. Antrian membludak. Kami harus menunggu antrian selama 15 menit untuk menyantap sop senerek khas Magelang. Setelah ada rombongan entah dari mana itu beranjak, kami memperoleh tempat duduk. Ibu saya langsung memesan enam sop senerek daging. Di warung tersebut ada berbagai macam sop senerek. Kamu bisa memesan sop senerek dengan menggunakan ayam, daging, babat, ataupun iso. Namun yang paling favorit adalah sop senerek daging. Sayangnya, kami sudah terlalu siang berkunjung kesana. Dagingnya habis. Akhirnya kami memesan  dua sop senerek babat dan empat sop senerek ayam serta enam es teh.

sop 2

Sop Senerek Ayam © Novia Rakhma Ramdhani

Tibalah sop senerek yang telah kami pesan. Aromanya menggugah selera. Porsinya cukup banyak. Kalo kamu sedang lapar berat, cocok untuk menyantap makanan ini. Oh iya, senerek itu artinya kacang merah. Aslinya snert (bahasa Belanda) namun karena lidah masyarakat Jawa kesulitan penyebutannya maka jadinya senerek. Saat saya menyantap makanan tersebut, wah gurih dan rasanya lessyup. Ditambah dengan sate keong yang potongannya cukup besar maka menambah gairah dalam makanan tersebut.

Potongan babat maupun daging ayam cukup besar. Istri sayapun bingung. Takut nggak bisa menelannya. Saya dan istri sempat berdebat tentang sate. Menurut saya, sate yang dihidangkan tepat di depan saya adalah sate 02 (bekicot) sedangkan istri saya bilang itu adalah sate keong. Teksturnya hampir mirip. Begitu pula dengan rasanya. Namun untuk lebih meyakinkan maka saya bertanya pada adik saya yang menyukai segala jenis makanan. Ternyata ia bilang sate keong. Yasudah akhirnya saya dan istri bersama-sama menyantap sate keong tersebut.

Sejatinya ada makanan lain seperti nasi pecel dan nasi rames. Namun kebanyakan pengunjung lebih memilih sop senerek. Ya, karena andalannya memang sop senerek. Hahaha. Saya melihat adik-adik saya menyantap dengan lahap bahkan habis hanya dalam waktu 5 menit. Maklum mereka kalo sedang makan tergolong gesit. Mereka masih menambah santapan seperti lumpia dan tempe.

sop 3

Aneka kudapan ©Moggie Setyo Wibowo

Hampir 20 menit lamanya kami memuaskan rasa lapar dengan sop senerek. Pukul setengah 1 siang, babat dan iso sudah ludes. Hanya menyisakan ayam. Tak heran jika warung ini hanya buka mulai pukul 07.30 – 16.00. Waktu yang pas buat kamu untuk sarapan ataupun makan siang. Terlebih harganya tidak menguras banyak kantong. Jika kamu memang pecinta kuliner sejati, maka kamu wajib mengunjungi kotanya mas Agus Mulyadi dan menyantap sop senerek Bu Atmo.

Antrian sudah mulai lengang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Temanggung. Cuaca cerah namun sedikit gerah. Maklum panas yang cukup menyengat. Melewati daerah Secang, antrian panjang mengular kea rah Jogja. Untungnya menjelang sore kami sudah sampai Temanggung. Walaupun disuguhi makanan oleh orang tua istri namun saya enggan untuk menyantapnya. Hanya karena perut saya masih ingin menikmati senandung mendayu dari rasa sop senerek Bu Atmo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s