Satu Purnama di Jogjakarta

Handphone berdering. Lampu kamar dinyalakan. Istri saya mencoba mengecek handphonenya. Ada beberapa pesan masuk. Kemudian ia mulai sibuk membalas beberapa pesan tersebut. Tak selang beberapa lama, HPnya berdering agak panjang. Ninuch, salah satu anggota Clara menelepon. Ia mengabarkan akan menikah pada tanggal 20 Mei 2016 di Jogjakarta. Sesaat kemudian, Novia lompat dari tempat tidurnya karena merasa kaget sekaligus bahagia akan kabar tersebut.

Namun, dahinya sedikit mengernyit ketika HPnya dimatikan. Ia berpaling kepada saya dengan sedikit tatapan ragu. Bahunya sedikit terangkat ketika ia bilang, “Pi, bisa nggak yaa kita cariin dekor dan sound system buat nikahan Ninuch di Pundong ?”.

Saya terhenyak. Bimbang campur ragu dan sedikit tertantang. Saya terbiasa untuk dijadikan rujukan acara-acara yang mendadak. Namun, untuk persoalan ini saya belum pernah mengalaminya. Kami hanya diberikan waktu seminggu untuk mengurus hal tersebut. Weleh-weleh.

Saya mencoba mengecek kontak yang ada di HP. Kemudian, saya mencoba menghubungi beberapa kenalan saya. Sayang, hasilnya nihil. Asal anda tahu, antara tanggal 20-22 mei dipastikan banyak acara pernikahan. Kenapa begitu ? Cek kalender anda. Dalam waktu 3 hari tersebut, anda akan melihat bulan purnama yang sempurna. Mungkin Ninuch dan Ryan (calon suaminya) sedang mengejar purnama di Jogjakarta.

Mama saya menguping pembicaraan kami. Blio menyarankan untuk menghubungi tetangga sebelah. Well, di luar dugaan, ternyata Mbak Titin(tetangga sebelah) mampu menyanggupi permintaan kami. Berkah bagi kami, bagi kedua calon mempelai, dan tentunya keluarga besar Clara Forever yang akan hadir di Jogjakarta.

Segala sesuatunya mulai dipersiapkan. Pemilihan warna untuk dekorasi pelaminan, lagu yang pantas untuk acara tersebut dan konsep acara yang matang. Perlu anda ketahui, Ryan adalah seorang pria yang memiliki dua kewarganegaraan yaitu Lebanon dan Ostrali. Perawakannya besar, badannya tambun, kepalanya plontos. Tinggi sekitar 175cm dan berat badan mencapai 100kg. Mungkin bisa lebih. Tapi itu tidaklah penting. Karena yang penting cintanya sempurna kepada Ninuch. Seperti penggalan di lagu hits masa kini “Berada di pelukanmu mengajarkanku apa artinya kenyamanan, Kesempurnaan Cinta”.

 

***

 

H-1. Segala persiapan mulai matang. Ninuch sudah tiba di Jogjakarta pada hari Senin. Kemudian menyusul Ryan yang datang pada hari Kamis. Beberapa anggota Clafo berkesempatan hadir di Jogjakarta. Uwie dan Rani tiba di stasiun Lempuyangan dari Jakarta, sedangkan Hana juga tiba di sana  dari Surabaya. Savvy datang dari Malang dan Hiday meluncur ke Jogja dari Surabaya. FYI, Sejak beberapa bulan yang lalu Hiday telah dinobatkan sebagai Duta Kondangan Indonesia (DKI) oleh rekan-rekannya.

Mereka dijemput oleh Kang Amal dan Teh Nipong di stasiun. Langsung saja, mereka berenam diajak ke salah satu restoran legendaris Jogjakarta yaitu Raminten. Buat anda penyuka makanan dan minuman unik, maka anda wajib singgah ke restoran Raminten. Obrolan mengalir deras diantara anggota Clara. Maklum, kalo sudah kumpul dan bertemu, jangankan pramusaji , suaminya terkadang tak dihiraukan. Hahaha

Usai dari Raminten, mereka diantar Kang Amal menuju tempat Ninuch yang berada di Pundong, Bantul. Sekitar jam setengah 1 dinihari, mereka dikagetkan dengan sesosok wanita berambut panjang dengan memakai daster putih yang sedang berdiri di pinggir jalan.

Suasana sesaat menjadi mencekam. Terlebih malam itu adalah malam Jumat Kliwon !!!, mereka bebarengan mengucek mata, dalam hati meyakinkan penglihatannya, mungkin sambil berdzikir juga, sembari menguatkan diri, dalam hitungan detik Uwie mencoba mendekati. Usut-punya-usut-ternyata-wanita-tersebut-adalah-Ninuch. Dengan santainya ia berkata, “Maaf yaa, biar keliatan sama kalian.” Untung kang Amal sigap ngerem mobilnya, kalo ndak yaa berabe… Idemu sungguh magis, Nona Ninuch (eh, nyonya Reyen!).

Kang Amal balik ke rumahnya. Begitu pula dengan saya. Tentu saja, kami tidak ingin mengganggu “pesta” lajang mereka. Konon, “pesta” tersebut baru berhenti pukul 03.00 pagi. Toopp wess. Semoga acara nanti berlangsung lancar. Amiin.

Sekitar pukul 08.30 pagi, saya ditelpon oleh istri saya.

“Pi, bisa pinjem celana item, kemeja putih lengan panjang punya Ogi (adik saya) gak ?. Tanya istri

“Buat apa” ? Saya jawab.

“Ini lo Ryan (baca: Reyen) pakaian pernikahannya ndak muat. Kalo ada tolong segera kabari ya. Mendesak.” Pembicaraan terputus.

Weladalah. Gimana toh Ryan. Apa yo ndak fitting sebelumnya. Kalo mo cari H-beberapa jam yo susah. Kalimat ini terlintas di benak saya. Saya tanya adik saya. Ia malah ndak punya. Wah serba repot. Hari Jumat adalah hari yang cukup singkat. Pakaian belum siap padahal akad nikah jam 4 sore. Duh kah!.

Setelah dicek oleh istri saya ternyata penjahitnya salah mengukur. Ukuran lingkar badan cukup fantastis. Bajunya seharusnya ukuran 5L. Sedangkan celana kira-kira ukuran 50. Di Indonesia, ukuran tersebut hanya dipakai oleh Si Gentong (aktor film Tuyul dan Mbak Yul).

Beruntung, Clafo memiliki Teh Nipong. FYI, Teh Nipong adalah seseorang yang sangat detail untuk acara apapun. Ibaratnya dia adalah Duta Acara Indonesia (DAI). Segala acara apapun mampu diselesaikan dengan baik oleh Teh Nipong. Ia langsung telpon Bu Agus, yaitu pemilik salon yang ia kenal. Alhamdulillah, blio masih memiliki stok baju dan celana untuk ukuran tersebut. Namun, jaraknya cukup jauh dari tempat pernikahan yaitu di Turi, Sleman. Ibaratnya, anda harus menempuh jarak dari bibir Pantai Parangtritis (Pundong, Bantul) menuju kaki Gunung Merapi (Turi, Sleman). Widiiiihh.

Sebagai DAI yang memiliki integritas dan komitmen yang cukup baik, tentu saja segala upaya harus dimaksimalkan. Teh Nipong mengajak istri saya dan Sevvy untuk pergi ke Turi. Dan beruntungnya, Ninuch memiliki sodara yang bernama Pak Thomas. Bliolah yang mampu melajukan kendaraanya secepat kilat layaknya supir bus Sumber Kencono.

Apakah masalah usai ? Tunggu dulu.

Muncul masalah yang unik ketika pakaian dari Bu Agus dicoba oleh Ryan. Ryan mengeluhkan kepada salah seorang teman Ninuch sebut saja Mrs.L bahwa baju kembali ga muat. Sayangnya, keluhan tersebut berujung salah alamat. Dengan maksud memberikan pertolongan yang tulus, L mencoba mencari penjahit terdekat untuk dipermak baju dan celananya, tanpa izin dari team yang telah melakukan pertolongan pertama pada pengantin pria tadi. Alhasil, berangkatlah L dengan meminta salah satu penduduk setempat untuk mencari penjahit di Pundong.

Nah, teman-teman Clafo yang mendapat info tersebut langsung pusing dan bingung!!! terutama teh Nipong. Bisa-bisanya, ia dilangkahi tanpa meminta restu merombak baju. Nipong langsung kalang kabut. Begitu juga dengan yang lain. Weladalah kok ya kebetulan Mbak L ndak bawa handphone. Jadinya ndak bisa dihubungi. Teh Nipong tuambaah bingung. Ia bingung karena diberi pesan oleh Bu Agus bahwa baju jangan dipermak kecuali celana panjangnya.

Beruntung, Ninuch memiliki nomor handpone lain milik Mbak L. Dan untung saja, Mbak L baru sampai di tempat tersebut, pakaian sementara terselamatkan dari rombakan dadakan. Kembali ke tempat acara, Mbak L meminta maaf kepada semuanya termasuk sesepuh acara si Teh Nipong. Toh tetap saja, mereka ngedumel. Hahahaha

Acara mendekati jam yang telah ditentukan. Ryan masih mengeluhkan baju extra size yang membuat perutnya menyembul tak bisa disembunyikan. Pada kesempatan kali ini, inovasi dari seorang Dwi Yanti sungguh tak terbantahkan, bersama team clara yang juga kontributif, baju putih lama milik Ryan yang awalnya tidak muat, segera didedel dan dibentuk semacam rompi tanpa lengan demi menutupi perut yang kebuncitan. Detik demi detik berlalu makin menegangkan. Tepat 30 menit sebelum acara baju Ryan sudah matang dipersiapkan.

Pukul 16.00, semua warga datang, termasuk penghulu dan lainnya. Ryan didatangkan dari rumah sebelah diiringi Grup Clara yang tak tega membiarkannya berjalan sendirian. Sontak Pandangan warga tertuju pada Ryan, seorang bule berpakaian pengantin adat muslim Jawa. Nampaknya kedatangan Ryan juga membawa tawa yang sepertinya menjadi cerita di rumah masing-masing warga. Bagaimana tidak? Begitu datang, ia langsung duduk di atas meja yang sejatinya digunakan sebagai meja ijab kabul. Beberapa warga terlihat menahan tawa, beberapa diantaranya sdh terbahak. Kami sgera menjelaskan bahwa meja tersebut bukanlah tempat duduk. Hadirin kembali tenang. Ninuch pun dihadirkan dan disandingkan bersebelahan.

Ryan agak kepanasan. Wajar, suhu Ostrali dan Indonesia berbanding jauh. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kekhusyukan pada acara ijab qabul. Dari Mic terdengar lantang janji suci berbahasa Arab yang diucap Bapak Ninuch dan diterima oleh Ryan. Ketika mendengar ucapan ‘SAH’ dari penghulu, semua yang hadir bernafas lega. Acara cukup singkat dan khidmat. Setelah acara tersebut, pemandu selfie yaitu Hiday mulai beraksi dengan menawarkan gaya foto pelbagai macam.

Menjelang malam, teman-teman Clafo mulai berdatangan. Reisa dan Boss Aham mulai tiba sekitar pukul 18.00. Sodara-sodara dari Ninuch pun juga mulai berdatangan. Namun, kedatangan yang paling ditunggu tentu saja pasangan fenomenal dari Pekalongan. Mas Tio (bukan) Pakusadewo datang bersama Semi Asih yang sekilas (menurut saya) mirip Ibu Puan Maharani (kemiripan ini tidak disetujui oleh istri saya, menurut dia malah “semi lebih cantiklah pi!”, ya sudahlah). Kehadirannya disambut meriah oleh teman-teman Clara Forever terutama Hiday yang tampak antusias sekali dengan kehadiran mereka.

Mereka tampak sedikit malu-malu untuk menunjukkan kemesraannya. Agak sedikit grogi. Wajar, Hiday dan teman-teman terus mencecar berbagai pertanyaan. Mas Tio lebih sedikit pendiam daripada Semi. Ketika dicecar pelbagai pertanyaan atau pernyataan, maka Semi menjawab dengan senyuman dan kalimat khas “Ooo gitu..”. Kalimat SEMITIO eh maksud saya semiotik yang baik sekali.

IMG-20160525-WA0001

Ekspresi Clara Forever bersama Ryan dan Ninuch @ Kang Amal

Menjelang pukul 20.00, kami dan teman-teman Clafo beranjak pulang karena Hiday dan Sevvy akan bergegas pulang menuju Surabaya dan Malang pada pukul 01.00 dini hari. Kang Amal dan Teh Nipong menyusul karena mereka masih bertanggung jawab terhadap acara pengajian. Lagi-lagi ada kejadian salah tingkah dari Semi. Saya bermaksud memanggil istri saya dengan ucapan “Sayang”. Namun yang menoleh justru Semi. Saya kaget. Semmi terhenyak. Mungkin suara saya dan Mas Tio agak mirip, makanya Semi menoleh. Dan mungkin juga kata tersebut adalah ucapan yang biasa menjadi sapaan dari Mas Tio kepada Semi. Ihirrr.

Kami bertujuh menumpang mobil boss Aham. Beberapa teman ditawari untuk menumpang mobil Semi. Namun, enggan rasanya mengurangi rasa khidmat dan khusyuk kebersamaan pasangan baru ini . Mungkin maksud mereka, biarkanlah Semi dan Mas Tio menikmati candu asmara dengan latar purnama di Jogjakarta.

Reisa mengarahkan kita ke Alun-Alun Kidul. Salah satu destinasi seru di Jogjakarta. Selain tempatnya luas, tempat ini bagus untuk menikmati bulan purnama, terlebih kami membawa pasangan yang sedang hangat-hangatnya. Seakan tidak mau duduk berjauhan, Semi duduk di depan Mas Tio. Iringan lagu-lagu dari pengamen menambah syahdunya pertemuan pasangan tersebut. “Kesempurnaan Cinta” dan “Hari Bersamanya” mewakili perasaan mereka.

Obrolan yang hangat, wedang ronde yang tersaji, alunan lagu dan petikan gitar dari pengamen, suara kerlap-kerlip lampu yang mengelilingi alun-alun sekali lagi semakin menambah syahdunya malam sabtu. Purnama sedang amat mempesona. Ia memancarkan sinarnya ke arah wajah pasangan-pasangan yang sedang bahagia. Mas Tio dan Semi adalah salah satunya.

Setelah menikmati purnama, maka teman-teman Clara mencoba bermain mobil teletubbies. Semua tampak ikut bermain kecuali saya, Boss Aham dan kang Amal yang lebih memilih duduk. Teman-teman Clara larut dalam gelora tawa yang membuncah termasuk Mas Tio dan Semi.

IMG-20160525-WA0002

Tawa Clara Forever dalam Mobil Teletubbies @ Boss Aham

Menjelang selesai bermain, tiba-tiba Mas Tio menghilang. Tak ada yang tahu keberadaannya. Semi bingung dan tak tau arah. Hapenya pun tak bisa dihubungi.

Screenshot_2016-05-23-20-22-40-1

Kata-kata inilah yang mewakili kegelisahan Semi.

Demi menenangkan Semi, Boss Aham mengajak kita ke Angkringan Pak Agus depan stasiun. Terlebih Sevvy dan Hiday berencana pulang jam 01.00 dini hari melalui kereta di stasiun Tugu. Sesampainya di angkringan, Semi langsung mencurahkan isi hatinya. Uwie mendengarkan dengan seksama. Tatapan sendu diperlihatkan oleh Rani. Hana memincingkan matanya. Sevvy menopang dagu dengan tangan kanannya. Kepala Teh Nipong bersandar di bahu Kang Amal. Reisa hanya duduk termenung. Istri saya dan Hiday berulangkali bergantian mengusap punggung Semi. Aham sampai harus memesan es teh dua kali. Sedangkan saya lebih banyak mengunyah gorengan yang ada di depan mata.

Namun, menjelang curhatan selesai, Semi mengabarkan kabar bahagia. Kami pun ikut senang dengan kabar bahagia tersebut. Selamat Semi, Semoga lancar menjelang Hari H. Amiiiiin.

Hape Semi berdering. Rupanya Mas Tio yang meneleponnya. Ia mengabari untuk bertemu saja di Tugu Jogja. Seusai mengantarkan Sevvy dan Hiday, kami capcus ke arah Tugu. Ternyata Mas Tio telah menunggu. Ia menghilang karena ingin memastikan rumah temannya benar-benar kosong. Sebagian dari kami rencananya hendak menginap disitu. Luar biasa. Saya pikir Mas Tio memang pasangan yang tepat untuk Semi. Baik dan memiliki rencana yang tepat.

Esoknya, Hana sudah pulang pukul 09.00 pagi. Tinggallah Uwie, Rani, Mas Tio, dan Semi. Reisa hendak mengantarkan jalan-jalan. Sayang waktunya kurang memadai. Akhirnya kami kumpul di Bale Raos. Tempat makan khas Sultan Yogyakarta. Ternyata tidak hanya Semi dan Mas Tio yang berbahagia. Rani pun ikut berbahagia. Ini karena Mas Tio mengenalkan Mas Agil kepada Rani. Mas Agil adalah teman satu angkatan dan satu perguruannya Mas Tio. Kebetulan juga Rani satu jurusan dengan Mas Agil. Saat dikonfirmasi oleh istri saya, Rani hanya tersipu dan tersenyum malu. Semoga disegerakan ya Rani …

Obrolan yang hangat dan mengalir deras hampir membuat kami lupa waktu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 15.00. Sudah saatnya kami berpisah. Uwie dan Rani diantarkan ke stasiun Lempuyangan. Disana telah menunggu Teh Nipong dan Kang Amal. Akhirnya perpisahan yang cukup epik tersaji di stasiun Lempuyangan.

Kalo boleh saya berpendapat,  Clara merupakan persahabatan tanpa ada sekat, kesemuanya lekat. Mereka tulus satu sama lain.

Sampai jumpa Clara Forever di waktu yang akan datang di hari yang lebih terang di perjumpaan yang lebih gemilang.

“Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita rindukan. Di hari nanti, Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan.”

Jangan lupa mendengarkan lagu “Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan” dari Sheila on 7 untuk mengunduh memori bersama, satu malam purnama di Jogjakarta.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s