Mau jadi Pahlawan ? Gunakan Bahasa Indonesia

Pada abad 21, masyarakat Indonesia (mungkin) sedang mengalami disfungsi bahasa. Maksud saya adalah penggunaan bahasa Indonesia yang kian minim baik di kalangan akademik maupun non akademik. Beberapa tahun silam, masyarakat Indonesia digemparkan dengan munculnya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang digagas oleh pemerintah Indonesia. (Mungkin) maksud dari Pemerintahan Indonesia adalah untuk mengajak masyarakat Indonesia lebih mempelajari dan mendalami bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris. Oke, ‘perintah’ yang sifatnya persuasif tersebut mungkin juga akan dipahami “jika kita tidak bisa bahasa Inggris, mau jadi apa yaa” ? Mungkin itu juga kekhawatiran orang tua masa kini yang pada akhirnya berbondong-bondong memasukkan anaknya ke sekolah tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah masyarakat Indonesia yang mulai menguasai bahasa Internasional (sebut saja Inggris), Indonesia mampu meningkatkan statusnya menjadi negara maju ?

Tunggu dulu, Barat tidak mungkin serta-merta akan ‘menaikkan’ status Indonesia menjadi negara maju. Ya wong jelas, apakah Barat rela menjadikan Indonesia menjadi negara maju ? Saya kira itu butuh sesuatu yang sifatnya revolusioner yang harus melibatkan “konspirasi” banyak pihak. Anda harus mengakui bahwa pelabelan negara maju, berkembang, dan dunia ketiga udah dari sononya oleh kaum Barat. Saya harus mengakui dan jujur mengungkapkan bahwa Indonesia masih negara yang akan (selalu) dijajah oleh negara-negara diatasnya (kecuali cabang bulutangkis dan korupsi karena di cabang ini, Indonesia masih masuk 10 besar).

Sebenarnya tidak hanya Barat melainkan juga Arab. Tengoklah beberapa konferensi atau seminar internasional (sekali lagi karena membawa nama internasional) diharuskan menggunakan bahasa Inggris kecuali Arab dan Perancis. Entah orang-orang tersebut tidak peduli dibilang bodo atau kolot, mereka tetap percaya diri menggunakan bahasa Arab maupun Perancis. Anda bisa lihat di beberapa seminar yang menghadirkan tokoh-tokoh Arab, mereka tidak mau menggunakan bahasa Inggris alasannya karena mereka lebih suka menggunakan bahasa Arab (mungkin ini yang dimaksud dengan chauvinisme). Sedangkan kita dalam beberapa seminar internasional/diskusi panel yang menghadirkan pemateri, peserta dan segala tetek bengeknya yang semuanya berasal dari Indonesia justru malah menggunakan bahasa Inggris. Dulu ada konferensi ekonomi internasional di Bali pada tahun 2008 yang menghadirkan banyak pengusaha internasional dan pemimpin internasional terjadi malfungsi bahasa. Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia yang waktu itu diwakili (sebut saja Anda) memulai pidato dengan bahasa Inggris dan hal tersebut disambut tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Kemudian, pengusaha Jepang dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata sanggup membius hadirin dan diberikan tepuk tangan lebih meriah walaupun pidatonya sangat singkat. Kita bangga bahasa Indonesia digunakan oleh orang luar namun kita miris ketika orang Indonesia justru menggunakan bahasa yang lain.

Saya khawatir jika bahasa Indonesia akan tergerus dengan bahasa asing maka bahasa Indonesia akan mengalami kepunahan seperti bahasa daerah. Anda bisa lihat generasi tahun 2000an di kota-kota besar mungkin terlihat enggan memakai bahasa Indonesia karena kesehariannya yang lebih menggunakan bahasa Inggris. Relasi antara orang tua dan anak jarang yang menggunakan bahasa Indonesia. Alasannya sederhana, jika menguasai bahasa Inggris, maka anda bisa memiliki dunia global. Entah saya kurang paham dengan maksud yang seperti itu atau mungkin saya yang bodoh tidak mampu memaknai maksu tersebut.

Jika boleh saya sebut, kondisi tesebut dapat dikatakan sebagai kapitalisasi pengetahuan. Kondisi yang mana menyebabkan manusia harus memperbarui diri untuk menyesuaikan apa yang diinginkan oleh produk kapital.

Namun kabar baik berhembus ketika Menlu RI Ibu RIni menggagas bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa ASEAN pada tahun 2016. Tentunya, ini kabar baik bagi masyarakat Indonesia ketika akhir tahun sudah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Semoga usaha Ibu Rini tidak akan seperti harapan melainkan berupa kenyataan yang diwujudkan dengan peraturan.

Menyambut hari Pahlawan 10 November, jika anda ingin disebut sebagai pahlawan era kini maka gunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik dan benar ditentukan oleh buku Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Selamat Hari Pahlawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s