Wisuda

Suatu peristiwa dimana kamu mampu meluapkan kebahagiaan, menghapuskan penderitaan dan melepaskan kesedihan. Sebuah peristiwa yang menghadirkan senyuman dan tangisan dalam satu periode. Peristiwa yang mana kamu dapat berfoto mengenakan jubah dan toga dengan [tentunya] ekspresi senyuman ataupun tertawa. Berfoto dengan relasi, sahabat, teman, kerabat maupun orangtua. Suatu momen yang mana kamu bisa melempar toga setinggi-tingginya karena berhasil menyelesaikan pendidikan selama bertahun-tahun lamanya.

Kebetulan dan alhamdulillah saya bisa melewati peristiwa tersebut sebanyak 6x. Dari SD sampai S2. Tentunya di setiap peristiwa tersebut, saya mengalami berbagai macam kejadian yang unik. Unik menurut saya.

Dulu waktu TK, saya merupakan wisudawan paling kecil dan pendek. Namun ini yang paling membanggakan. Saya paling putih. Ini serius. Dulu saya memang putih. Cuman karena waktu SD, saya kebanyakan main layangan saat matahari sedang menggeliat, jadilah kulit saya agak menghitam. Agak lo ya. Waktu baris-berbaris, saya ditempatkan paling depan. Dan foto wisuda waktu TK mirip foto launching tim olahraga gitu. Yang paling mencolok seperti saya, duduk. Ada 5-6 orang yang duduk. Kalo yang biasa-biasa aja ya berdiri. Begitu juga dengan guru TK saya.

Wisuda saat SD sebenarnya cukup membanggakan. Nilai rapor lumayanlah. Lagi-lagi saya ditempatkan di depan. Tentunya bersebelahan dengan murid-murid berprestasi. Tapi ada yang ndak enak. Sewaktu dipanggil sama guru saya. Namanya Sayidan. Sengaja saya samarkan. Kalo yang kebetulan baca status ini dan pernah satu SD sama saya pasti paham yang saya maksud siapa. Saya maju. Sebelah kiri saya cewek yang menjulang tinggi dan yang sebelah kiri saya lelaki betubuh gemuk. Saya yang bertubuh kecil berada diantara keduanya.

“Selamat kepada Mas Maudy Kusnaidji yang selalu puasa Senin-Kamis sehingga berhak menempati tiga besar”. Mas Maudy ini sepertinya melakukan tirakatan jadinya bisa juara. Ya karena puasa itu.”

Saya sebenarnya malu. Itu kan cara blio menyindir saya yang memang kurusnya keterlaluan. Bahkan teman-teman saya memanggil ‘Biting’. Biting itu lidi.

Kalo pas SMA, saya malah bikin ulah. Ulahnya terbilang memalukan buat saya. Jadi ketika persiapan mau diwisuda, saya pencilakan. Lari kesana-kesini. Lompat kesana kemari. Karena saking girangnya bisa lulus. Dan tau apa yang terjadi. Celana saya robek. Pas di selangkangan dan merembet sampai ke paha kiri. Saya yang semula melangkah dengan pasti malah berjalan dengan kedua telapak kaki menempel. Tangan kiri sengaja saya taruh belakang. Menutupi pantat yang sungguh aduhai.

Waktu dipanggil maju ke depan untuk bersalaman dengan Bapak kepala sekolah pun, saya terpaksa berjalan pelan sembari menutupi pantat. Sudah begitu waktu salaman, mas fotografer kurang menangkap momen yang tepat. Foto dengan pose bibir mencium tangan blio. Biasanya kan foto cukup bersalaman saja. Ini lain. Yang dicetak jadi foto pigura malah jadi seperti itu. Ya sudahlah tak apa.

Kalo wisuda S1, lagi2 saya bikin ulah. Saya masuk yang paling akhir. Bukan karena terlambat. Saya datang jam 6. Cuman baru masuk gedung jam set8. Nunggu di kantin CL sembari ngopi. Bapak ibu menelpon saya, tapi ga saya angkat. Wong lagi ngopi kok. Enak je. Sudah begitu di gedung ya jelas tertidur. Fakultas saya aja kedua dari yang paling akhir untuk maju ke depan. Sudah begitu, saya duduk paling belakang. FYI, kalo di kampus saya itu penempatan tempat duduk wisudawan berdasarkan IPK. Jadi kamu cukup tau lah IPK saya berapa. Ya pokoknya agak memuaskan. Dan foto wisuda S1 saya sekarang entah kemana.

Nah, yang terakhir ini saya tobat. Datang paling awal dan pulang akhir. Pakaian lengkap dan rapi. Tapi tetap aja ada yang unik. Dari angkatan saya ada 8 orang yang diwisuda dan hanya saya yang tidak cumlaude. Jadi saya ga tau rasanya cumlaude itu gimana. Tapi saya percaya kok perkataan Pak Baiquni, sang kepala prodi Pariwisata. Blio dari S1-S3 ndak pernah cumlaude. Biasa-biasa aja. Tapi justru yang biasa itu nanti jadi luar biasa.

Dan cuman wisuda ini akhirnya saya berfoto lengkap dengan orangtua, adik-adik, dan istri.

Dan janganlah pernah bawa pas-angan ketika anda diwisuda nanti pasti di angan. Lebih baik membawa pasutri. Pasti suami istri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s