Asas Menghormati

Kontroversi selalu saja menghinggapi dunia maya maupun nyata di Indonesia. Pada saat ini, saya ingin membahas asas hormat-menghormati antara kaum mayoritas dan kaum minoritas. Sejatinya hal laik seperti ini tak perlu diperdebatkan lagi karena sudah ada para ahli yang sering mendebatkan hal tersebut. Namun izinkan saya membahas asas hormat-menghormati versi saya. Kalo ada yang tersinggung hatinya janganlah marah tetapi kalo ada yang tersungging bibirnya maka haraplah tersenyum.

Hormat-menghormati bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak dilahirkan ke muka bumi ini, kita dianjurkan untuk menghormati sesama makhluk hidup. Saya akan membahas makhluk hidup yang diklasifikasikan sebagai manusia. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Hampir semua kitab Tuhan menyatakan seperti itu. Namun sesempurnanya manusia, dia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.  Nah, tentunya asas hormat-menghormati adalah keharusan yang dilakukan oleh manusia.

Manusia sejak lahir dianjurkan untuk menghormati orang tuanya. Orang yang lebih dahulu hadir ke dunia. Orang tua bisa berarti orang tua kita atau orang yang lebih tua daripada kita. Semua manusia bahkan tidak hanya dianjurkan melainkan diharuskan tahu dan memahami asas hormat-menghormati. Ada pamali (karma) jika kita tidak menghormati orang tua. Anda bisa saja celaka, kecewa bahkan sesuatu yang paling mengerikan akan terjadi pada diri kita. Tidak perlu saya sebutkan disini.

Di Indonesia, hormat menghormati adalah sesuatu yang unik. Coba anda simak, mengucapkan selamat Natal, melindungi kaum LGBT, dan rata-rata hormat kepada kaum minoritas. Disini, Muslim adalah mayoritas sedangkan yang lain adalah minoritas. Pak Menteri Agama yang terkasih menyatakan bahwa kita harus melindungi kaum minoritas. Minoritas yang dimaksud ya kaum-kaum selain Islam. Ndak perlu saya sebutkan disini. Eh tapi untuk pengetahuan anda maka saya sebutkan sepengetahuan saya. Contoh Ahmadiyah, Syi’ah, kaum LGBT, penganut aliran kepercayaan, Gafatar, dan masih banyak lagi. Kalo saya sebutkan lagi contohnya nanti anda ndak berpikir.

Di negara kita yang dicintai bangsanya, ada MUI yang sering memberikan label halal, sesat, kafir dan sebagainya. Maksudnya sih baik. Karena kita dianjurkan menganut dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Nah contoh-contoh yang saya sebutkan diatas ada beberapa yang telah mendapat label sesat maupun kafir. Akhirnya banyak dari mereka yang terusir dari wilayahnya. Trus mereka yang tersesat maupun terkafir minta perlindungan ke kaum liberal ataupun KOMNAS HAM. Mereka pun dibela dengan alasan mereka punya hak hidup jadi mereka harus dilindungi. Akhirnya kaum-kaum tersebut mencibir dengan menggunakan kata demokrasi seharusnya Mayoritas melindungi Minoritas. Dimana posisi negara ? Negara seharusnya hadir melindungi mereka. Begitulah menurut mereka.

Nah kaum kontra yang begitu-begituan alias mendukung label sesat atau kafir justru harus mengusir kaum Ahmadiyah dan teman-temannya. Kaum kontra menganggap jika dibiarkan hal tersebut maka mereka dapat menjadi ancaman negara. Trus mereka disuruh tobat tapi ga mau. Akhirnya ya mereka meminta perlindungan KOMNAS HAM. Jadinya kan dilema. Antara negara seharusnya melindungi kaum minoritas atau seharusnya menegakkan kebenaran seperti yang telah disebutkan kaum kontra. Kalo dilindungi mereka akan menggurita kalo dihilangkan justru negara akan dibilang biadab.

Saya suka perkataan filsuf Perancis yaitu Voltaire. Blio pernah mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan pendapat mereka yang kontra dengan dirinya namun dia akan mendukung mereka agar hak suara mereka diperdengarkan oleh yang lain. Kan jadi bias. Pintar juga yang bikin sistem demokrasi.

Saya tidak setuju dengan perilaku teman-teman Syi’ah saya tapi saya ndak bisa melarang mereka karena saya menghormati pilihan mereka. Lalu siapa yang harus saya bela ? Melindungi atau menghilangkan ? Dimana titik ekulibrium asas hormat –menghormati ? Adakah batasan kita dalam hormat-menghormati ? Ingat, saya masih ingin dianggap WNI yang budiman. Selesai.

Advertisements

One thought on “Asas Menghormati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s