Liukan Servhani

Daun-daun mulai menguning. Tampak satu persatu daun berguguran sehingga memenuhi halaman rumah tersebut. Rumah yang singup karena hampir tak ada cahaya yang masuk kecuali lewat lubang tikus di atap. Andai saja tikus tak menggerus plafon atas mungkin rumahnya kelam seperti saat malam tiba. Lampu di teras depan dibiarkan hidup. Meskipun hanya berkekuatan 5 watt, lampu tersebut mampu menerangi waktu siang dan malam rumahnya. Seperti biasa, Servhani termenung di depan rumah sembari menatap dua burung yang sedang berpagutan di kabel listrik. Termenung untuk kesekian kalinya. Seakan tidak percaya, peristiwa kilat tersebut mampu mengubah hidupnya.

21 Oktober 1998. Kondisi pasca orde baru masih tidak jelas. Harga-harga kebutuhan pokok melambung naik. Pengangguran tercipta dimana-mana. Banyak anak sering berkeliaran tanpa terpantau induk semangnya. Situasi tersebut membuat manusia-manusia pasca orde baru berpikir rasional dan bertindak adil. Salah satu manusia tersebut adalah Servhani. Peristiwa menjelang orde baru berakhir dengan kerusuhan etnis. Ia termasuk salah satu remaja yang terpaksa kehilangan orang tuanya akibat negara kacau balau. Orang tuanya diciduk, kemudian diperkosa serta dibunuh oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Servhani yang berusaha melawan oknum-oknum tersebut justru malah terkena amuk massa. Beruntung, ia sempat melarikan diri walaupun akhirnya ia harus kehilangan orang tuanya. Kondisi tersebut memaksanya untuk mencari pekerjaan seadanya terlebih ia masih memiliki adik semata wayangnya.

Servhani dianugerahi paras cantik, kulit kuning, mata sipit, rambut sebahu dan postur tubuh yang cukup tinggi. Ia cukup digilai oleh banyak pemuda di desanya. Servhani justru menutup diri walaupun ia tahu banyak lelaki yang menggodanya. Lenggak-lenggok pinggulnya luar biasa indahnya. Ia tahu bahwa tubuhnya memang ideal untuk model. Namun, ia lebih memilih untuk menjadi tukang sayur karena tahu ia tak punya modal untuk menjadi model. Suatu ketika, tawaran dari selembar kertas yang jatuh di depan tempat jualan sayur menarik perhatiannya. “Dicari model untuk bintang iklan produk”. Begitulah kalimat yang diingatnya. Selagi harga kebutuhan pokok yang tak menentu maka tak ada salahnya bagi Servhani untuk mencoba peruntungan tersebut. Servhani bergegas untuk menghubungi kontak yang ada di kertas tersebut. Bak gayung bersambut, Servhani diharuskan menyiapkan segala kebutuhannya untuk segera hijrah ke kota tersebut. Kota itu adalah Yogya.

Yogya, 3 Desember 1998. Servhani menginjakkan kakinya di kota tersebut. Ia berharap segera lolos menjadi model iklan dan mampu menghidupi adiknya biaya sekolah. Suatu cita-cita yang mulia mengingat dirinya putus sekolah karena kondisi ekonomi orang tuanya yang kalut. Ia bergegas untuk segera tiba di tempat tujuan. Setelah bertanya kesana kemari, ia akhirnya tiba di kawasan yang cukup elit. Rumah megah dua lantai dengan halaman yang cukup luas. Tertulis di pagarnya seperti yang tertera di kertas yang ia pegang. Segera ia mengetuk bel. Tak lama kemudian muncul dua orang lelaki tersenyum ramah kepada dirinya. Servhani mencoba menjelaskan maksud kedatangannya dan kemudian ia dipersilakan masuk untuk naik ke lantai dua. Barang-barangnya dititipkan di lantai satu. Sesampainya di atas, ia cukup takjub dengan pemandangan isi rumah tersebut. Ia tak sendiri. Banyak wanita lain yang mirip dengan dirinya berkumpul menjadi satu di lantai tersebut. Terhitung ada 18 wanita. Mereka disuruh duduk sembari menunggu bos besar datang.

Setelah menunggu lebih dari setengah jam, bos besar datang. Semua wanita disuruh memberi hormat kepada bos besar tersebut. Kemudian satu persatu wanita disuruh menandatangani perjanjian yang dicantumkan di kertas tersebut. Karena iming-iming gaji yang besar, hampir semua wanita termasuk Servhani segera menandatangani perjanjian tersebut. Setelah dijelaskan dengan seksama oleh pengarah acara, satu persatu wanita mulai masuk ke ruangan yang telah ditunjuk. Bos besar menunggu di ruangan tersebut. Servhani menunggu sembari mengepalkan tangan berharap dia lolos seleksi. Satu persatu wanita keluar dengan pelbagai macam mimik. Ada yang syok, kecewa bahkan pucat pasi. Servhani hanya ingin memejamkan mata seraya berdoa agar tidak terjadi apa-apa.

Tiba giliran terakhir Servhani masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan yang cukup remang-remang diiringi musik klasik yang membuat syahdu tempat tersebut. Bos besar duduk sembari tersenyum ke arah Servhani. Servhani membalas dengan senyuman yang ramah pula. Bos besar tampaknya kagum dengan postur tubuh yang dimilikinya. Alunan musik klasik berubah menjadi salsa. Bos besar berdiri kemudian menjulurkan tangannya untuk mengajak dansa Servhani. Servhani yang bingung dan gugup tampak berkeringat dingin. Namun ketika tangan bos besar menyentuh tangan Servhani maka tak ada jalan lain selain menanggapi ajakan dansa dari Sang bos besar. Selagi berdansa, bos besar menawari minuman. Awalnya Servhani menampik dengan halus namun karena ia sungkan maka segera menenggak minuman tersebut. Ia kembali berdansa selama beberapa menit.

Tiba-tiba tubuhnya mulai lunglai dan matanya berkunang-kunang. Pada saat itulah, bos besar menggerayangi tubuhnya. Kancing pertama dan kedua milik Servhani mulai terbuka. Servhani mulai berontak. Namun tubuhnya yang mulai lemas seakan menerima ajakan dari bos besar. Seluruh pakaiannya akhirnya terlepas dari tubuhnya. Tubuhnya yang laik seakan menambah gairah daripada bos besar tersebut. Pada akhirnya ia bercinta dengan bos besar tersebut. Suatu kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kemudian ia tertidur dalam waktu yang lama. Keesokan harinya, ia terkaget karena hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia menangis karena tak sadar apa yang telah dilakukannya kemarin. Bos besar datang dan mengucapkan selamat karena Servhani lolos seleksi. Ia masih bingung dengan ucapan selamat dari bos besar. Bos besar mengatakan ini adalah rumah bordir yang mengakomodasi wanita-wanita seperti dirinya. Ia masih belum yakin atas pilihannya. Namun karena iming-iming gaji yang cukup tinggi dan dirinya sudah menandatangani surat perjanjian tersebut maka ia tak kuasa melawan pilihannya.

Hari demi hari ia lalui dengan melayani para bos-bos besar lainnya. Setidaknya dalam sehari 3-4x. Servhani terkenal dengan liukan tubuhnya yang luar biasa. Itulah mengapa dirinya menjadi primadona di rumah bordir tersebut. Tarifnya yang semakin tinggi tak membuat dirinya kehilangan pelanggan. Rata-rata pelanggannya adalah pejabat berdasi kelas kakap. Tidak hanya di Jogja, pelangganya mencakup Jakarta bahkan luar kota. Walaupun Servhani merasa tertekan dengan keadaan harus melayani banyak pelanggan setidaknya ia mampu menyekolahkan adiknya. Kini, adiknya kuliah di UIN Sunan Kalijaga jurusan Tarbiyah dengan hasil jerih payah Servhani. Selesai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s