Merayakan Maulid Nabi dan Natal di Indonesia

Alhamdulillah tahun 2015 akan segera berakhir. Pada tahun 2015 khususnya di bulan desember terdapat dua hari besar bagi umat Islam, Katolik dan Kristen. Tanggalnya pun bersebelahan. Tanggal 24 desember  Maulid Nabi Muhammad SAW sedangkan tanggal 25 desember adalah hari Natal yaitu kelahiran Yesus Kristus.  Keduanya adalah manusia yang diberi tugas khusus oleh Allah untuk memberikan pesan-pesan Allah yaitu kedamaian, toleransi dan pada intinya mengajak kebaikan. Sudah sepantasnya umat di seluruh dunia bergembira dan bersyukur atas perayaan ini.

Indonesia adalah negara dengan keragaman religi yang cukup banyak. Setidaknya enam agama masuk dan diakui ke dalam wilayah Indonesia. Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Islam adalah agama mayoritas di negara Indonesia diikuti dengan Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Hari-hari besar selalu diikuti oleh pengikutnya cukup antusias dan berlangsung khidmat. Sayangnya, ada beberapa peristiwa di Indonesia yang cukup menciderai jiwa toleransi antar umat beragama. Peristiwa Tolikara di Papua dan Peristiwa Singkil di Aceh. Kejahatan yang sulit dinalar dilakukan oleh orang-orang yang (sejatinya) menginginkan perpecahan diantara masyarakat Indonesia.

Adanya beberapa peristiwa yang cukup miris di Indonesia mengingatkan kita pada pernyataan sosiolog agama Peter L. Berger yaitu “Kita tidak dapat mengabaikan factor agama dalam menganalisis peristiwa mutakhir”. Ya, agama (terkadang) masih menjadi salah satu factor pemicu kerusuhan ataupun melaksanakan kebaikan. Mereka yang dianggap pemicu kerusuhan mungkin salah menafsirkan dalil-dalil Tuhan sehingga dalil tersebut menjadi landasannya untuk melakukan tindakan irrasional. Tuhan telah memberi umatnya sesuatu yang jelas seperti kata Pramoedya Ananta Toer “Hidup itu sederhana dan yang tidak sederhana adalah tafsirannya”. Tafsiran tersebut yang (terkadang) masih belum jelas sehingga klaim-klaim kebenaran dari kelompok yang menganggap dirinya benar lantas melakukan perbuatan tersebut.

Hadirnya Maulid dan Natal memberikan spirit kepada manusia bahwa kita harus terus melaksanakan perjuangan yang telah dilakukan Muhammad dan Yesus. Shalahuddin Al Ayyubi adalah pelopor untuk merayakan Maulid Nabi. Maksud dan tujuannya adalah dengan memperingati Maulid, umat Islam diharapkan mengingat jasa perjuangan Muhammad dalam menyebarkan Islam. Begitu pula dengan Yesus, Dia lahir sebagai pembawa pesan damai dan juga untuk melaksanakan kasih terhadap manusia yang ada di dunia. Oleh karenanya kita sebagai umat beragama sudah seharusnya melaksanakan pesan-pesannya yang diejawantahkan secara kontekstual.

Toleransi antar umat beragama harus dilakukan agar tidak ada saling cidera menciderai sesame umat beragama. Contoh yang toleransi umat beragama yang baik seperti di Malang. Gereja dan masjid saling menghormati antar satu sama lainnya. Tempo lalu, Idul Fitri di Malang bertepatan dengan hari Minggu maka pengurus masjid berkirim surat ke gereja memberitahukan bahwa waktu sholat Ied dimajukan lebih awal supaya nanti tidak menganggu jalannya ibadah umat Gereja. Begitu pula dengan jadwal Natal, pengurus gereja mengirimkan surat ke masjid menjelaskan bahwa ibadah Natal dimajukan lebih awal supaya tidak mengganggu jalannya ibadah Jumatan. Sungguh toleransi yang patut ditiru oleh masyarakat Indonesia.

Hans Kung pernah berkata bahwa tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama dan tidak ada perdamaian antar agama tanpa dialog antar agama. Dialog dilakukan bukan berarti ingin menyamakan perbedaan melainkan untuk memahami perbedaan yang ada. Oleh karenanya, pahami kitab jangan hanya secara tekstual melainkan kontekstual karena kita hidup tidak hanya saleh secara ritual melainkan juga saleh secara sosial.

Sekali lagi, Selamat Maulid dan Selamat Natal. Salam Sejahtera bagi masyarakat Indonesia.

Advertisements

Membaca Politik Timur Tengah tidak semudah menyantap Eskrim Walls

Membaca politik Timur Tengah tidak semudah menyantap eskrim keluaran terbaru dari Walls yaitu ice cream sandwich. Melihat berita – berita yang berseliweran di media sosial belum tentu terbukti kesahihannya. Bisa jadi benar sekali atau salah terus menerus. Lain media lain pengikut. Lain pembaca lain penulisnya. Cuma anda yang bisa menentukan politik Timur Tengah seharusnya begini atau begitu dari bacaan-bacaan anda yang kemudian anda sarikan sendiri.

Sewaktu saya kuliah, saya mengambil jurusan ngehits di salah satu universitas ternama di Malang, banyak mahasiswa/i yang dilarang menulis skripsi tentang beberapa hal yang berkaitan dengan tema seperti “Solusi Israel-Palestina” ; “Perdebatan geopolitik Turki antara Asia dan Eropa” ; “Peran Perempuan di Arab Saudi” dan masih banyak lagi. Mengapa tidak boleh dibahas ? Alesannya karena sudah terlalu banyak yang membahas tema tersebut dan sudah bisa diperkirakan bahwa skripsinya nanti plagiat dan tidak memberikan solusi. Yaa pokoknya jangan sampe lah bahas hal begituan. Tapi ijinkan saya sendiko dawuh karena saya sedikit ndak setuju dengan pernyataan suhu-suhu tersebut.

Pertama, solusi Israel-Palestina untuk rujuk damai dianggap sesuatu yang tidak mungkin terjadi kecuali Jibril turun ke bumi trus ngandani kedua belah pihak. Nah, kenyataannya sekarang dunia ‘agak’ sedikit membuka jalur damai dengan cara Palestina boleh mengibarkan bendera di PBB. Suatu kemajuan yang luar biasa setelah bertahun-tahun lamanya.

Kedua, geopolitik Turki yang sampai sekarang masih menyisakan perdebatan. Kalo untuk urusan olahraga, Turki masuk ke wilayah Eropa tapi kalo untuk urusan yang nyerempet masalah keislaman maka Turki masih dianggap wilayah Asia. Yaa memang sekarang masih susah menentukan Turki itu Asia atau Eropa walaupun hukum yang berlaku adalah sekuler. Namun kenyataannya, Turki mampu mencitrakan dirinya sebagai negara yang menjelang sedikit lagi menuju Eropa dengan cara Turki akan memberikan informasi berapa banyak anggota ISIS yang melewati wilayahnya dan menahan imigran dari tetangga sebelah supaya ndak masuk ke Eropa.

Ketiga, peran perempuan di Arab Saudi. Nah untuk persoalan ini memang susyah buat ditelanjangi, eh maksudnya diteliti lebih jauh. La wong, Arab Saudi itu paham wahabi tulen, paham patriarki tulen jadi wanita ya ndak boleh macam-macam dengan lelaki. Kasus tempo lalu tentang perempuan menyetir mobil mendapat kecaman dari pemerintah Arab Saudi. Namun, entah ini bisa disebut kemajuan atau kemunduran, perempuan Arab Saudi boleh melakukan pemilihan atau bahasa kerennya voting. Sensasional.

Nah, kalo melihat situasi dan kondisi saat ini maka segala sesuatu yang ada di Timur Tengah dapat terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin walaupun belum tentu mungkin (uopoh iki). Kalopun dalam kurun waktu yang mendatang Israel dan Palestina dapat menjadi dua negara maka ini sejarah dunia akan lahir. Entahlah kapan itu terjadi. Sama halnya kayak Turki bisa utuh jadi negara Eropa , wah ini benar-benar tonggak sejarah yang baru. Begitu juga dengan perempuan Arab Saudi kalo boleh nyetir. Sapa tau kan nanti produser Fast n Furious bisa mengontrak perempuan Arab Saudi . Tapi kok ngimpi kejauhan yaa. Hahaha.

Sebenarnya menikmati politik Timur Tengah itu yaa susah-susah gampang dan gampang-gampang susah. Tiap hari, jam, menit, atau detik sesuatu dapat berubah. Barangkali untuk menjadi prajurit/relawan Timur Tengah butuh kondisi dalam keadaan siap surantap. Obatnya pun ‘hanya’ dua yaitu merokok atau bermunajat kepada Tuhan. Eh, bisa juga dengan makan es krim Walls. Jika anda sedang panas-panasnya melihat atau bahkan mengalami langsung peristiwa Timur Tengah maka dinginkanlah kepala anda dengan mengemut es krim Walls. Hmm sungguh lezatnya tak terkira. (bukan promosi tapi emang enak kok).

Jangan terlalu serius memandang politik timur tengah, saya saja masih terus berusaha memahami maksudnya apa sih kok negara Barat ngrusuhi Timur Tengah. Apakah benar ingin mengambil minyak, jual beli senjata, memprovokasi agama mayoritas disana atau jangan-jangan negara-negara Barat terkesima dengan harem-hareem yang ada di Timur Tengah sehingga harus melakukan kegiatan invasi ?

Tentukan Pilihanmu bung Putin dan Obama !!!.

 

 

Saya bukan bagian dari HMI, tetapi HMI bagian dari saya

Akhir-akhir ini salah satu organ mahasiswa yang cukup tua yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi sorotan banyak media massa dan elektronik. Berita yang dimunculkan oleh media-media tersebut hampir semuanya memiliki makna negatif. Berita tersebut antara lain adalah kasus beberapa rombongan liar yang tidak membayar makanan di salah satu resto, konggres yang menghabiskan dana APBD sebesar 3 miliar, kerusuhan yang dilakukan salah satu cabang dengan melakukan pembakaran ban dan masih banyak lainnya. HMI digambarkan sebagai organisasi rusuh, lusuh dan keruh dalam mengatasi sebuah masalah. Konstruksi tersebut mampu berjalan dengan mulus sehingga ada yang menganggap bahwa masa HMI telah habis.

Ibarat sebuah kapal, HMI sedang mengalami pergolakan baik dari permikiran maupun pergerakan. Ada yang menganggap kader-kader HMI telah tumpul untuk mengatasi persoalan bangsa Indonesia namun juga ada yang menganggap bahwa kader HMI masih memiliki taji untuk diharapkan mengatasi permasalahan bangsa Indonesia. Sejenak melihat masa lampau, HMI telah memiliki sumbangsih yang begitu besar terhadap bangsa dan negara Indonesia. Mulai dari tahun kemerdekaan Indonesia (1945), tahun pergolakan pemberontakan Indonesia (1965), dan tahun krisis politik dan ekonomi Indonesia (1998). Sebutan HMI sebagai Harapan Masyarakat Indonesia seperti yang telah dikatakan oleh Jenderal Soedirman ‘mungkin’ hanya akan menjadi jargon di masa lalu. Entah jargon apa yang masih pantas untuk melihat kondisi dan situasi terkini di tubuh HMI.

HMI dikenal mampu menghasilkan pemikir, akademisi, politisi dan berbagai hal lainnya. Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Dawam Raharjo, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Mahfud MD, dan Anies Baswedan adalah beberapa nama tokoh HMI yang telah memberikan sumbangsih bagi bangsa Indonesia. Mereka mampu memberikan pemikiran yang positif bagi bangsa dan negara Indonesia. Sayangnya, jejak positif yang telah dilakukan oleh mereka ‘mungkin’ tidak diikuti oleh beberapa generasi muda. Kader-kader HMI yang ada di berbagai kampus di Indonesia hanya sekedar ‘terlihat’ mandul secara wacana dan tumpul secara gerakan. Orang-orang bahkan menyebutnya HMI sebagai Himpunan Manusia Intrik atau Hanya Menuju Ilusi.

Anda boleh apatis namun anda tidak boleh pesimis. Kata-kata tersebut meluncur dari seorang kawan yang melihat kondisi dan situasi terkini di HMI. ‘Mungkin’ HMI terlihat negatif karena HMI sengaja dibuat mengalami pembusukan secara terstruktur. Perkataan seorang kawan mungkin ada korelasinya ketika HMI sedang memperjuangkan nama Lafran Pane sebagai Pahlawan Nasional namun sayangnya HMI sedang mendapatkan berita tidak sedap karena kongres yang ada di Pekanbaru, Riau. Menurutnya, HMI masih mampu memberikan sumbangsih yang positif bagi bangsa Indonesia selama kader-kader HMI bergerak sesuai dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih.

HMI harus subversif. Begitulah perkataan Cak Nun kepada seorang kawan ketika berkunjung ke rumah beliau. ‘Mungkin’ perkataan Cak Nun dimaksudkan agar HMI segera berbenah diri melihat permasalahan bangsa dan negara terkini. Kawan saya mencoba mengartikan subversif adalah ketika terjadi pergolakan/permasalahan bangsa yang tidak adil terhadap rakyat maka HMI seharusnya mengontrol dan mencoba mencari permasalahan agar kebijakan pemerintah tepat pada sasaran. Kalimat tersebut adalah saran dan kritik yang membangun agar kader-kader HMI tidak lagi bingung dalam menentukan sikap dan tindakan.

Paradigma yang telah terbangun di kader-kader HMI adalah “Saya adalah bagian dari HMI”. Hal inilah yang menyebabkan kader HMI selalu menuntut kepada HMI supaya “HMI itu seharusnya begini, HMI itu seharusnya begitu, HMI itu jangan seperti ini, HMI itu jangan seperti itu” dan masih banyak hal lainnya. Ada permasalahan dan pola pikir yang belum tepat jika kader HMI masih berpikir seperti itu. Kader HMI seharusnya berpikir bahwa “HMI adalah bagian dari saya” maka pola pikir yang terbangun adalah apa yang bisa/sudah kader HMI lakukan buat HMI. Kita tidak akan tergerak untuk selalu menuntut karena jiwa HMI adalah bagian dari diri kita. Oleh karenanya, inilah saatnya kader HMI membangun pola-pola yang terstruktur apa yang sudah/bisa dilakukan buat HMI. Ketika ada beberapa permasalahan seperti yang telah diungkapkan diatas, kita tidak perlu menelisik terlalu jauh. Hal tersebut biarlah menjadi urusan kader-kader yang masih berkutat pada pola pikir lampau.

Jangan pernah lelah untuk berbuat baik kepada HMI. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan menghasilkan sesuatu yang positif bagi HMI. Kita harus menahan diri untuk tidak mengikuti arus yang sudah terbangun di luar. Mengutip dari perkataan Gus Dur, berbuat baiklah kepada siapapun karena orang tidak akan melihat latar belakangmu tetapi melihat apa yang sudah dilakukan dirimu terhadap siapapun. YAKUSA.

Sekali lagi, Perancis

Perancis sebagai Negara di Eropa yang memiliki semboyan persaudaraan, kesetaraan, dan kebebasan untuk kesekian kalinya dilanda teror. Pada penghujung tahun 2015, Perancis diserang sekelompok teroris di 6 lokasi. Salah satu lokasi yang diserang adalah kawasan stadion sepakbola yang saat itu berlangsung pertandingan Perancis vs Jerman. Pertandingan tersebut disaksikan oleh pejabat pemerintahan Perancis termasuk presiden Francis Hollande. Beberapa saat setelah kejadian tersebut, Hollande menerapkan jam malam ke seluruh wilayah Perancis sampai status Negara Perancis dikatakan aman kembali.

Menurut berita setempat, Negara Perancis telah kehilangan warganya sekitar ratusan (120an) orang. Pada saat itu juga, sekelompok teroris mengklaim bahwa dirinya (ISIS) yang mendalangi kerusuhan di Perancis pada tanggal 14 November 2015. Unik nan aneh karena untuk pertama kalinya ISIS berani mengklaim bahwa dirinya mendalangi kerusuhan tersebut lewat media sosial. Kasus-kasus teror sebelumnya, Barat-lah yang selalu mengindikasikan bahwa ISIS yang mendalangi kasus-kasus teror. Kerusuhan yang terjadi pada tahun 2015 mengingatkan kembali kasus penembakan brutal di kantor Charlie Hebdo pada tahun 2012.

Kasus yang terjadi di kantor Charlie Hebdo pada tahun 2012 memang hanya menewaskan belasan orang namun kejadian tersebut mampu memantik dunia global untuk menghakimi kelompok tertentu (Islam) yang dianggap mendalangi (lagi-lagi) kasus teror. Kasus serupa terulang lagi di tahun ini dan untuk kesekian kalinya Islam kembali disudutkan di Negara Perancis. Sejak era Sarkozy, masyarakat muslim di Perancis agak sering tersudutkan. Pada tahun 2010, pemerintahan Perancis menerapkan kebijakan pelarangan symbol agama yang salah satu isinya adalah melarang symbol kerudung, kubah, kippa (yahudi) salib (katolik). Perancis mampu menerapkan kebebasan beragama namun mengabaikan kebebasan berekspresi.

Pergantian pemerintahan dari Sarkozy ke Hollande belum mampu mengakomodir komunitas muslim. Setidaknya ini terlihat dari beberapa kasus yang mencuat dan menyudutkan kaum muslim dan juga kaum kulit hitam. Sikap tersebut menyedihkan dan ironi karena Perancis adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar di Eropa. Salah satu bentuk rasis yang dilontarkan masyarakat lokal adalah menirukan suara hewan tertentu pada saat pertandingan sepakbola. Ini bukan hal yang baru mengingat hampir 50% pemain sepakbola yang main di liga Perancis adalah warga Afrika. Hal tersebut dapat dimaklumi mengingat Perancis adalah negara penjajah di wilayah Maghribi (Aljazair, Maroko, Tunisia).

Sikap pemerintahan Perancis belum mampu menegakkan slogan yang selalu didengungkan ke dunia global. Slogan yang bermakna bahwa Perancis mengagungkan kesetaraan, persaudaraan, dan kebebasan tidak tampak terlihat jika melihat berbagai kasus tersebut. Fenomena tersebut memunculkan disparitas antara masyarakat lokal dengan kaum muslim yang akhirnya menyebabkan efek domino ke berbagai aspek yang diantaranya aspek sosial, budaya, maupun keamanan. Fenomena ini juga diperparah dengan pernyataan politikus sayap kanan yaitu Jean Marie Le Pen yang mengatakan to be French, you have deserve it.

Penerapan kebijakan-kebijakan pemerintahan Perancis tentang kebebasan berekspresi seharusnya dikaji ulang. Peristiwa di penghujung tahun 2015 tentunya tidak ingin terulang kembali dalam beberapa tahun mendatang. Perancis masih memiliki hajatan besar yaitu Piala Eropa 2016. Negara-negara Eropa pasti akan berpikir ulang untuk memastikan bahwa negaranya aman untuk mengikuti turnamen tersebut. Perancis harus menelaah permasalahan global dengan menerapkan kebijakan yang tepat sasaran dan bersifat simbiosis mutualisme bagi semua masyarakat yang tinggal di Perancis tak terkecuali kaum minoritas. Hal tersebut dimaksudkan citra Perancis tidak tercoreng kembali dan masyarakat Internasional mampu menikmati perhelatan akbar Piala Eropa 2016 dengan rasa aman dan tenang.

Berpikir negatif

Judul diatas mengisyaratkan bahwa saya bercerita tentang bagaimana berpikir negatif. Saya tinggal di kota apel hampir 6 tahun lamanya. Kota apel adalah kota yang mana membuat saya untuk belajar berpikir negatif. Mengapa bisa begitu ? Di kota ini saya belajar bagaimana cara berpikir negatif yang tepat sasaran.

Sebagian orang mengatakan bahwa hindari berpikir negatif karena akan mengkerdilkan cara berpikirmu. Saran tersebut akan berlaku jika kamu lagi mengikuti kegiatan agama. Menurut saya, berpikir negatif perlu dalam kegiatan non keagamaan. Cara pandang seperti itu hukumnya wajib agar anda mengetahui mana yang disebut kawan, teman, sahabat maupun lawan. Kita tidak pernah tahu apa yang orang perbuat pada kita. Mungkin bisa jadi akan menghasilkan sesuatu yang positif atau justru menjadi negatif. Tergantung anda memaknainya.

Jadi begini, kebutuhan anda untuk berpikir negatif lebih disebabkan karena keinginan. Paradigma tersebut laiknya dibalik. Keinginan anda akan berpikir negatif lebih disebabkan karena kebutuhan. Begini, ketika anda bertemu orang baik yang sudah kenal ataupun belum kenal biasanya anda akan melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perilaku seperti akan anda lakukan jika anda seperti paradigma lama. Jika anda begitu bertemu dengan orang kemudian anda memperhatikan isi pembicaraannya maka anda masuk paradigma baru. Jadi, anda bisa tahu bagaimana harus berpikir negatif ketika pembicaraan berlangsung. Bukan dari awal langsung menghakimi “aah orang ini pasti begini” atau “aah kok modelnya begini”. Itu kesalahan berpikir.

Nah maksud saya, berpikir negatif diperlukan untuk mengasah otak anda agar selalu waspada dalam segala hal. Tentunya tepat sasaran dengan menggunakan paradigma baru. Oleh karena itu, berpikir negatif penting supaya orang sadar bahwa sempurna hanya milik Sang Pencipta bukan milik manusia.
Berpikir Negatif itu Perlu.

Pemilik Ilmu

Siapakah pemilik ilmu di dunia ini ?Albert  Einstein ? Issac Newton ? Karl Marx ? Hassan Hanafi ? atau siapa ?. Sejatinya tiap manusia pasti memiliki ilmu namun belum tentu mengembangkannya. Adagium yang pernah terlintas di pikiran saya adalah Bakat Terpendam Goblok Meluap. Kenapa bisa begitu ? karena manusia memang jarang menggunakan ilmu. Lebih suka menyimpan daripada mengembangkannya. Sekali lagi, bentuk kepercayaan diri yang kurang dan sifat ketakutan akan tampil membuat ilmu manusia tidak terlatih dengan baik.

Belajarlah karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan pandai. Dan pemilik ilmu itu tidak sama dengan orang yang bodoh.

Salah satu pembentuk ilmu adalah dengan membaca buku. Tak heran ada adagium “Buka adalah Jendela Dunia”. Kamu membaca buku maka pengetahuanmu akan bertambah. Yakinlah akan hal itu. Jika kamu tidak mampu mebaca buku minimal kamu bertemu dengan orang-orang baik. Masalahnya orang-orang baik seringkali lebih tersembunyi daripada orang-orang jahat. Namun pada intinya, manusia itu makhluk sosial yang harus saling berinteraksi satu dengan yang lain. Berinteraksi dengan orang lain itulah yang memudahkan kamu untuk mendapatkan ilmu. Belajar untuk mendapatkan ilmu tidak harus ke orang cerdik pandai (guru, dosen) namun bisa juga dengan orang seperti pengamen, tukang sayur karena biasanya orang-orang tersebut memiliki ilmu yang yang sifatnya moral.

Belajarlah kamu sampai ke Negeri Cina dan yang paling penting adalah terus belajar di usia muda karena belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Belajarlah kepada pemilik ilmu.

Mau jadi Pahlawan ? Gunakan Bahasa Indonesia

Pada abad 21, masyarakat Indonesia (mungkin) sedang mengalami disfungsi bahasa. Maksud saya adalah penggunaan bahasa Indonesia yang kian minim baik di kalangan akademik maupun non akademik. Beberapa tahun silam, masyarakat Indonesia digemparkan dengan munculnya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang digagas oleh pemerintah Indonesia. (Mungkin) maksud dari Pemerintahan Indonesia adalah untuk mengajak masyarakat Indonesia lebih mempelajari dan mendalami bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris. Oke, ‘perintah’ yang sifatnya persuasif tersebut mungkin juga akan dipahami “jika kita tidak bisa bahasa Inggris, mau jadi apa yaa” ? Mungkin itu juga kekhawatiran orang tua masa kini yang pada akhirnya berbondong-bondong memasukkan anaknya ke sekolah tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah masyarakat Indonesia yang mulai menguasai bahasa Internasional (sebut saja Inggris), Indonesia mampu meningkatkan statusnya menjadi negara maju ?

Tunggu dulu, Barat tidak mungkin serta-merta akan ‘menaikkan’ status Indonesia menjadi negara maju. Ya wong jelas, apakah Barat rela menjadikan Indonesia menjadi negara maju ? Saya kira itu butuh sesuatu yang sifatnya revolusioner yang harus melibatkan “konspirasi” banyak pihak. Anda harus mengakui bahwa pelabelan negara maju, berkembang, dan dunia ketiga udah dari sononya oleh kaum Barat. Saya harus mengakui dan jujur mengungkapkan bahwa Indonesia masih negara yang akan (selalu) dijajah oleh negara-negara diatasnya (kecuali cabang bulutangkis dan korupsi karena di cabang ini, Indonesia masih masuk 10 besar).

Sebenarnya tidak hanya Barat melainkan juga Arab. Tengoklah beberapa konferensi atau seminar internasional (sekali lagi karena membawa nama internasional) diharuskan menggunakan bahasa Inggris kecuali Arab dan Perancis. Entah orang-orang tersebut tidak peduli dibilang bodo atau kolot, mereka tetap percaya diri menggunakan bahasa Arab maupun Perancis. Anda bisa lihat di beberapa seminar yang menghadirkan tokoh-tokoh Arab, mereka tidak mau menggunakan bahasa Inggris alasannya karena mereka lebih suka menggunakan bahasa Arab (mungkin ini yang dimaksud dengan chauvinisme). Sedangkan kita dalam beberapa seminar internasional/diskusi panel yang menghadirkan pemateri, peserta dan segala tetek bengeknya yang semuanya berasal dari Indonesia justru malah menggunakan bahasa Inggris. Dulu ada konferensi ekonomi internasional di Bali pada tahun 2008 yang menghadirkan banyak pengusaha internasional dan pemimpin internasional terjadi malfungsi bahasa. Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia yang waktu itu diwakili (sebut saja Anda) memulai pidato dengan bahasa Inggris dan hal tersebut disambut tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Kemudian, pengusaha Jepang dengan menggunakan bahasa Indonesia yang terbata-bata sanggup membius hadirin dan diberikan tepuk tangan lebih meriah walaupun pidatonya sangat singkat. Kita bangga bahasa Indonesia digunakan oleh orang luar namun kita miris ketika orang Indonesia justru menggunakan bahasa yang lain.

Saya khawatir jika bahasa Indonesia akan tergerus dengan bahasa asing maka bahasa Indonesia akan mengalami kepunahan seperti bahasa daerah. Anda bisa lihat generasi tahun 2000an di kota-kota besar mungkin terlihat enggan memakai bahasa Indonesia karena kesehariannya yang lebih menggunakan bahasa Inggris. Relasi antara orang tua dan anak jarang yang menggunakan bahasa Indonesia. Alasannya sederhana, jika menguasai bahasa Inggris, maka anda bisa memiliki dunia global. Entah saya kurang paham dengan maksud yang seperti itu atau mungkin saya yang bodoh tidak mampu memaknai maksu tersebut.

Jika boleh saya sebut, kondisi tesebut dapat dikatakan sebagai kapitalisasi pengetahuan. Kondisi yang mana menyebabkan manusia harus memperbarui diri untuk menyesuaikan apa yang diinginkan oleh produk kapital.

Namun kabar baik berhembus ketika Menlu RI Ibu RIni menggagas bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa ASEAN pada tahun 2016. Tentunya, ini kabar baik bagi masyarakat Indonesia ketika akhir tahun sudah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Semoga usaha Ibu Rini tidak akan seperti harapan melainkan berupa kenyataan yang diwujudkan dengan peraturan.

Menyambut hari Pahlawan 10 November, jika anda ingin disebut sebagai pahlawan era kini maka gunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik dan benar ditentukan oleh buku Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Selamat Hari Pahlawan.