Aku merindukanmu tapi Allah lebih sayang kamu, Aang

14 Oktober 2010. Suara pintu kamarku dipukul keras.. DOOOK DOOOK DOOOK !!! Aku yang saat itu tertidur pulas akibat begadang semalaman langsung bangun. “Mas, mas, Bangun mas”. Kubuka pintu dengan rasa terpaksa. “Aang meninggal mas” suara tanteku sambil terisak nangis. Nyawaku yang belum terkumpul dengan penuh sedikit tidak percaya dengan kalimat tanteku. Aku kemudian menuju kamar tamu dan disana telah berkumpul kakekku, nenekku, tanteku yang dari Jakarta, pamanku, dan anak dari tanteku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul set4 sore. Aku duduk diantara nenek dan tanteku. “Aang meninggal mod” nenekku dengan lirih berkata. Tiba-tiba hape berbunyi. Pamanku yang dari Jakarta juga mengabarkan hal serupa dan turut mengucapkan belasungkawa. Kemudian aku terdiam.

14 Desember 1993. Seorang anak laki-laki lahir dengan nama Mozzie Anggodo Prakoso. Ayahku lebih suka memanggil Aang daripada Mozzie. Adikku yang kedua ini bisa dibilang ‘spesial’. Usia 2 bulan sudah divonis penyakit Hidrocefalus atau penyakit dengan pembesaran kepala. Dokter mengatakan bahwa cairannya harus disedot supaya otaknya bisa berkembang. Ayahku menolak mentah-mentah usulan dari dokter tersebut. Ayahku tidak mau mengambil resiko tersebut. Dokter juga belum bisa memastikan apakah otaknya akan berkembang jika cairannya disedot. Akhirnya Aang deibawa pulang ke rumah dengan kondisi seperti itu. Ayahku bilang jika tiap hari kepala Aang harus dikasih bawang merah, laos diparut kemudian dicampur dengan minyak kayu putih dan dioles ke kepala Aang. Aku kadang berpikir, ramuan itu buat apa tapi Ayah selalu bilang itu ‘petunjuk Allah’. Aku tak bisa membantah.

Memasuki usia 22 bulan, Aang mendapat cibiran karena belum juga bisa berjalan. Tiap hari Mama menangis, Aku juga sedih kalo melihat Mama menangis. Tapi, kejutan dari Allah datang. Ketika ada beberapa orang datang ke rumah dan sedikit mencibir Aang, tiba-tiba Aang berjalan dan kemudian berlari menuju pintu kemudian langsung memeluk Mama. Orang-orang tersebut kaget dan seketika itu juga Mama menangis kemudian mengucap syukur atas nikmat tiada bandingnya kepada Allah SWT. Menginjak SD, mama dan ayah bingung karena hampir semua SD menolak Aang karena melihat kondisi Aang dengan penyakitnya. Para guru tersebut mengatakan bahwa Aang lebih baik diarahkan ke SLB. Hati ayah dan mama hancur jika mendengar perkataan itu. “Sabar, Allah pasti beri jalan ma” ucapan ayah berulang kali ke mama. Alhamdulillah, SDIT BIAS mau menerima kondisi Aang yang seperti itu. Bahkan kemudian Aang boleh melanjutkan sampai SLTP di BIAS (Bina Anak Sholeh).

Terkadang Allah selalu memberi kejutan umatnya secara unik. Mama yang selalu bahkan hampir tiap hari mengukur kepala Aang dibuat kaget dan terpana. Menjelang SMA, ukuran kepala Aang bisa mencapai normal seperti manusia seperti biasanya. Subhanallah, sekali lagi Allah memberikan kejutan terselubung. Aang tergolong special. Jika ia dimasukkan ke SMA normal maka Aang tidak bisa mengikuti rekan-rekannya namun jika dimasukkan ke SLB, justru ranking Aang selalu tertinggi diantara yang lain. Luar biasa. Terkadang cibiran kepada Aang sungguh mengerikan. Kadang dia menangis dan berharap cibiran itu terhenti. Aku kadang menangis dan mencoba memeluknya sambil berkata “Aang yang sabar yaa, Allah pasti selalu sayang sama Aang”. Aang adalah adekku yang paling dekat. Dia selalu tidur disampingku. Kadang dia suka iseng kalo aku lagi tidur. Aku hanya tertawa dan kadang membalas keisengan Aang. Aang adalah penggemar forklift (semacam kendaraan berat ). Dia selalu mengutak atik computer dan mencoba memodifikasi gambar-gambar forklift. Jeniusnya, Aang mampu melakukannya. Kadang-kadang aku terheran-heran, kok bisa Aang melakukan itu. Hahaha…

Selepas Maghrib, aku dan keluarga besar di Malang segera bertolak ke Yogyakarta. Ayahku berkata, “Kalo kamu udah datang nanti Aang segera dimakamin. Kalo bisa sebelum Jumatan kamu udah di rumah ya mas”. Perjalanan terasa begitu lapang. Tante, Paman, dan nenek saling bercerita tentang Aang. Aku hanya diam dan terkadang tersenyum.

Kurang lebih 2 minggu sebelum Aang meninggal, Aang mengalami penyakit asma. Ayah membawa ke dokter terdekat kemudian dokter tersebut memberi resep-resep yang dibutuhkan. Aang meminum obat secara teratur. Sedikit demi sedikit asmanya agak berkurang. Seminggu setelahnya Aang kembali diperiksakan ke dokter. Dokter berkata, “ Wah, Mas Aang ini cuma butuh renang aja, pasti Mas Aang sembuh.” Ayah senang mendengarnya begitu juga dengan Mama. Selama seminggu terakhir, Aang selalu sholat dengan khusyuk bahkan berdoa sambil berdzikir cukup lama. Unik, biasanya Aang selalu sholat dengan cepat bahkan rekan-rekannya menjulukinya STD (Sholat Tanpa Doa). Aang hanya membalas “Aku ini selalu dekat sama Allah, makanya ga perlu pake doa.” Aku hanya tertawa lepas jika ia berkata begitu.

Hari Rabu. Keadaan Aang sedikit memburuk. Ayah mengajaknya membaca Juz Amma sembari berdzikir. Di kamarku, ia selalu memegang tasbih sembari berdzikir terus menerus tanpa henti. Menjelang tidur, Aang minta tidur ke ruang keluarga. Ayah menurutinya dan mendampingi Aang yang terus berdzikir sampai dirinya tertidur. Ketika jam dinding memasuki pukul 2, Aang tiba-tiba mengigau dan berbicara bahasa Jawa seakan ada yang mengajaknya berbicara. “Wes tho, mengko wae. Mengko aku munggah kok. Wes yoo, mengko wae. (Sudahlah, nanti saja. Nanti saya juga naik. Udah yaa, nanti aja). Begitulah perkataannya.

Hari Kamis. Paginya Aang beraktivitas seperti biasa. Dia selalu menonton acara Si Doel Anak Sekolah pukul 10.00. Acara yang selalu dia tonton ketika sakit. Aang hanya meminta mama dibuatkan sayuran baby kol. Mama pun mengiyakan. Menjelang sholat zuhur, Aang berganti pakaian sholat lengkap menggunakan sarung. Ayah, Mama, dan Aang sholat berjamaah. Kemudian dia kembali ke kasur di depan ruang keluarga. Dia tidur terlentang sembari berdzikir dengan tasbihnya. Memasuki ashar, Aang menyuruh ayah segera menjemput Obi, adikku yang paling kecil. Ayah bilang ,”Ntar tho Ang, tunggu 5 menit lagi.” Tapi Aang memaksa, “Udah yah, Obi udah pulang kok. Segera dijemput.” Ayah pun menuruti perintah Aang dan kemudian segera bersiap-siap. Mama mengantarkan ayah ke depan sembari membukakan gembok depan dan mengucapkan hati-hati ke ayah. Ketika mama balik ke ruang keluarga, keheningan terjadi. Nafas Aang seperti tidak bersuara. Mama mengecek dengan segera. Aku selalu percaya, insting Mama itu selalu luar biasa. Kemudian Mama berkata, “Kalo Aang sudah diminta Allah, insya Allah Mama udah ikhlas kok Ang.” Hentakan nafas terakhir dari Aang mengakhiri perjalanan hidupnya selama 17 tahun.

Jumat Pagi. Aku bersama keluarga Malang sudah sampe rumah. Aku hanya melihat mama menahan tangis kemudian aku memeluk ayah dengan sangat erat tanpa mengucap sepatah kata apapun. Kemudian aku melihat Aang telah dikafani dan baunya sangat harum. Segera aku berwudhu, sholat jenazah dan memberikan ciuman terakhir kepada Aang. Kerabat serta keluarga datang silih berganti. Yang tak kuduga, ternyata Aang sudah memiliki pacar namun sayangnya pacarnya belum mengerti jika Aang telah meninggal. Ayah hanya berkata, “Dek, Mas Aang ini lagi tidur dan menuju ke tempat yang lebih baik.” Sulit memang menjelaskan kepada cewenya yang bisa dibilang kondisinya hampir sama dengan Aang. Aku kembali dibuat nangis ketika ayah menunjukkan gambar dan tulisan bahwa setelah selesai SMA, dia pengen nikah kemudian membuka bengkel dan pacarnya berjualan nasi sayur di depan bengkelnya. Suatu cita-cita yang jujur dan mulia.

Adzan Jumat berkumandang. Aku beserta orang-orang ikut membawa jenazah Aang ke masjid. Selepas Jumatan, Aang segera diberikan tempat istirahat yang terakhir. Ayah memberi adzan dan iqamah terakhir. Kemudian kami berdoa semoga Aang dapat ditempatkan di sisi terbaikNYa. Hujan turun ketika acara berdoa telah selesai. Wangi bunga bercampur dengan air tanah yang terkena hujan sangat menenangkan jiwa. Subhanallah.

Kini tepat 5 tahun kepergianmu, Aang. Semoga aku bisa mengikuti jejakmu Aang. Hey Aang, ternyata Allah begitu dekat kan ? 🙂

*Teruntuk adikku Aang. Al-Fatihah

Revolusi Romansa

Hidup di tahun 2000an sungguh menyenangkan. Segala hal dapat diketahui dengan cepat. Anda cukup membuka internet kemudian ketik Google.com maka semua rahasia di bumi akan anda ketahui. Mulai dari akte kelahiran Soeharto, tempat tinggal Toni Blank, pekerjaan Jonru bahkan jumlah fans Cherrybelle di seluruh Indonesia !!!. Zaman teknologi yang semakin canggih membuat semua hal menjadi mudah termasuk dengan Cinta. Cinta yang terkadang membuat anda bersusah diri, lesu bahkan menjadi candu. Dengan adanya teknologi, seakan cinta menembus batas masalah – masalah hidup manusia. Apakah benar begitu ? Mari kita lihat.

Dulu sepasang kekasih jika ingin saling menyapa, maka mereka terlebih dahulu bertukar surat. Surat yang dinanti-nantikan kadang baru sampai setelah seminggu lamanya. Maklum zaman tersebut belum ada koneksi internet secepat sekarang jadi surat adalah kebutuhan primer bagi sepasang kekasih. Maka dari itu tak heran ada kiasan “Surat adalah alasan mengapa rindu itu diciptakan”. Sekarang zaman begitu sangat cepat, anda cukup sms (jika hape anda jadul) atau yang paling mutakhir adalah WA, BBM, LINE. Gak perlu menunggu sampai seminggu, maka kekasih anda segera membalas (dalam kondisi normal).

Dulu sepasang kekasih jika ingin saling berjumpa, maka biasanya sang kekasih mengumpulkan keping koin demi menelepon pujaan hatinya hanya dalam tempo beberapa menit. Maklum biaya telepon cukup mahal. Sekarang muncul paket telpon murah bahkan dalam beberapa aplikasi muncul fitur free call. Apapun menjadi cepat dan mudah. Maka tak heran ada kiasan “Waktu adalah alasan mengapa harapan itu dikisahkan”.

Dulu sepasang kekasih jika ingin saling berkelana, maka biasanya sepeda onthel adalah kendara yang nikmat tiada bandingnya. Namun, kehadiran sepeda motor dan mobil menggantikan sepeda onthel. Di era sekarang, Muda-mudi sering menggunakan dua kendaraan tersebut yaitu mobil dan sepeda motor adalah cara paling mudah untuk menarik perhatian lawan jenis. Keberadaan sepeda onthel kian terpinggirkan dan hanyalah sebagai museum belaka. Maka tak heran muncul kiasan “Roda adalah alasan mengapa kenangan pernah dibentangkan.”

Itulah teknologi yang membuat kata surat, waktu, dan roda semakin kabur. Kemudahan teknologi terkadang juga membuat makna cinta semakin bias. Maka, ketika kamu sedang berada di zona nyaman maka semuanya akan segera terlupakan.

*Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kita rindukan, Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Kisah misteri di UNAIR Part 2

Tiba-tiba Irur memanggil saya berkali2. Sembari mengecek waktu yang ternyata menunjukkan set3 pagi, Irur meminta saya untuk mendengarkan suara dari atap. Suara tersebut “Srrrk srrrk srrrk” seperti suara cakaran. Melihat wajah Irur pucat pasi, saya berdalih bilang kepadanya bahwa mungkin itu suara kucing sedang menerkam tikus. Mungkin saja..

Paginya saya bertanya kepada teman sebelah apakah mendengar suara tersebut, ternyata mereka tidak mendengar sama sekali. Mungkin mereka lelah atau tidurnya terlalu nyenyak atau mungkin . Pikiran saya kemudian kembali terfokus kepada festival ini. Pertandingan demi pertandingan kami lalui. Sayangnya karena kurang latihan dan kurang pengalaman, kedua tim kami langsung gugur di fase grup. Sayang sekali…

Malam harinya ketika kami sudah dipastikan tidak akan mengikuti pertandingan selanjutnya, kami mengadakan pesta kecil2an. Kami membeli banyak minuman dan makanan. Tertawa lepas dan bahagia. Diantaranya ada yang sampai teller bahkan pisang. Empat diantaranya termasuk saya, Alhamdulillah tidak sampai ikut2an pesta tersebut. Maklum empat orang tersebut termasuk orang yang polos. Hehehe..

Agam dan Irur yang jago minum tiba-tiba masuk kamar saya sembari tertawa ngakak tidak jelas. Agam kemudian duduk di kasur saya, Saya menghadap dia sedangkan Irur menghadap jendela. Agam bercerita kepada saya bahwa dirinya dalam 2 hari ini sedang diikuti seorang wanita. Saya bertanya, “mana wanitanya gam ?” Kemudian dia berkata “Lha ini dia sedang duduk sembari tersenyum kea rah kamu, Mod.” Seketika itu bulu kuduk saya merinding, sambil mengucapkan istighfar. Agam ini memang mempunyai indera keenam. Sejak awal kuliah dia selalu mengatakan hal-hal aneh yang mungkin jika di dalam logika kita tidak masuk akal. Irur bilang, “Halah mod, paling nglantur.. maklum orang teler kan begitu semua.” Kami bertiga tertawa lepas namun saya tetap berpikir obrolan Agam pasti ada benarnya. Agam kemudian pamit keluar dari kamar saya dan berkata “Mod, aku keluar dulu mau jalan2”. Saya mengiyakan karena saya pikir dia hanya mencari angin saja. Kami semua pun kembali guyon seperti semula tanpa ada terpikir sedikitpun tentang Agam.

Menjelang pukul setengah 12 malam Irur meminta saya untuk mencarikan Agam untuk segera menghabiskan botol terakhir. Kemudian saya meminta tolong Inu untuk membantu mencarikan si Agam. Saya mencari ke arah pintu masuk bersama si Inu. Perlu diketahui, pintu masuk hanya terdiri dari satu pintu jadi akses keluar masuk terpantau di area tersebut. Saya mencari ke segala penjuru bersama Inu ke seluruh area. Inu berpikir bahwa jika Agam teler, dia bisa pergi ga jelas atau bahkan terkadang tidur di tempat yang ga jelas. Saya mencarinya bahkan akhirnya ke area blok Timur karena siapa tahu Agam malah tertidur di kamar. Saya kembali mencari lagi dan kali mengajak teman-teman karena khawatir kalo Agam terjadi apa2. Setelah hampir satu setengah jam mencari, akhirnya saya mengumpulkan teman-teman di lorong dekat kamar saya untuk bagaimana mencari langkah selanjutnya.

Saya berkata “Rek, Agam ini kayaknya lagi ada yang ‘ngikutin’. Aku ndak tau itu sapa.” Semua terdiam dan tertegun lalu teman saya Septa berkata “Aku tadi sempet nyari info ke anak2 Unair mod, Anak Unair ada yang bilang ke aku, waktu anak2 UB tiba si anak Unair ini ada yang bisikin “Aku mau cari anak yang jarang mandi dan kuat tidurnya”. Semua terkaget dan langsung sepaham. Agam adalah orang yang jarang mandi. Dia ke Unair hanya bawa sebuah baju dan celana sedangkan yang lain bawa minimal 3 stel baju. Agam juga kuat tidurnya bahkan dia pernah tidur satu hari satu malam. Luar biasa. Seketika itu juga kami langsung membagi ke dalam tiga tim untuk mencari keberadaan Agam. Saya sempat menelepon ‘orang pintar’ untuk menanyakan Agam berada. Saya diminta mencari mawar hitam kemudian dilempar ke arah penginapan tersebut. Saya bilang “Mustahil untuk mencari mawar hitam”. Kemudian saya bertanya ke “orang pintar” lagi dan dia hanya berkata “Dia sedang diselimuti, ntar abis subuh juga balik, Mod”. Teman-teman lalu saya kumpulkan kembali dan mengatakan hal sebenarnya. Namun tentu saja banyak yang tidak menerima fakta yang saya ungkapkan.

Kembali saya ke lantai 3 bersama Inu untuk mengecek dan mengunci seluruh kamar di lantai 3 dari luar agar Agam tidak masuk kamar. Kemudian saya dan Agya sholat tahajud hanya agar menenangkan anak2. Teman-teman tetap mencari namun hasilnya nihil. Saya dan teman2 hanya bisa bersabar dan menunggu di lantai satu sampai saat subuh tiba. Singkat cerita, setelah adzan subuh, saya dan salah satu teman segera menunaikan subuh dan berharap semoga Agam segera dikembalikan. Kemudian setelah menunggu lama karena Agam belum juga muncul, kami kembali mencari bahkan sampai pekarangan rumah orang. Lelah dan Pasrah. Saya pun akhirnya memikirkan bagaimana caranya menyampaikan pertanggungjawaban ke dosen2 jika si Agam hilang tanpa jejak. Kami mulai kembali masuk kamar masing2 sekitar jam 7 pagi hanya untuk segera merebahkan badan. Seorang teman masuk ke kamar saya dan berkata “Mod, Agam lagi jalan2 ke Bojonegoro, dia dibawa sampe sana”. Hah, bagaimana mungkin dia udah sampe bojonegoro, pikirku. Jarak tempuh naik kendaraan bus saja butuh 6 jam. Apalagi jika hanya jalan kaki !!. Kami semua benar – benar pasrah hingga keajaiban itu terjadi. Jam 8 kurang saya keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Ketika membuka pintu kamar, tiba – tiba Agam muncul dari kamar sebelah. Saya kaget sekali dan hanya melihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki apakah ini benar-benar Agam. Saya memberanikan bertanya “dari mana gam ?” Dia menjawab “Abis subuh tadi balik Mod.”

Deg, deg, jantung berdegup keras, kaki ga bisa bergerak. Agam masuk ke kamar mandi dan seketika itu juga saya membangunkan seluruh teman-teman untuk memberitahu bahwa Agam telah kembali !! Saya kaget dan tidak bisa berkata-kata, hanya bisa berpikir “Kok bisa?” Semua anak-anak menjaga dari lantai satu sampai tiga untuk memastikan apa Agam akan lewat. Lalu, “Dia muncul darimana” ? . Dia kembali dari kamar mandi kemudian masuk ke kamar depan saya. Inu langsung mengunci kamar tersebut agar dia tidak pergi kemana-mana lagi. Teman-teman masih heran, dia muncul dari mana. Tak ada yang tahu. Zul, dari kamar sebelah bilang, “Kan abis dari kamarmu, dia ke kamar saya Mod. Semalam aku tidur sama dia, ngobrol sampai tiba-tiba Agam dapet jackpot yang kemudian ia buang ke luar jendela”. Saya katakana itu tidak mungkin, karena terakhir dengan jelas dia turun ke tangga bukan menuju ke kamarnya. Apalagi sampai jackpot ke luar jendela. Itu lebih mustahil. Karena Irur yang saat itu di dekat jendela tak mendengar suara apapun.

Pesta terakhir yang diadakan panitia tidak kami ikuti. Kami masih benar-benar heran bagaimana Agam bisa hilang dan pergi kemana saja dia ? . Agam tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Dia hanya mengangguk saja ketika aku maupun Ina perintah. Kami pulang ke Ngalam menggunakan kereta sore. Agam masih tidak berbicara sampai akhirnya dia berbicara ketika kerta memasuki area Sidoarjo. Dia berkata, “Aku kemarin diajak jalan – jalan Mod, mbaknya cantik, rambutnya panjang dan senyumnya ramah. Pake baju putih lagi.” Saya hanya terdiam dan berucap istighfar saja dalam hati. Agam terus bercerita jika mbaknya sangat baik sekali dalam ‘melayaninya.”

images Kn

Sesampai di Ngalam, kami benar-benar bungkam atas kejadian ini. Baru kali ini saya beranikan menulis di blog tentang kejadian ini. Kejadian ini yang mengetahui hanya teman-teman yang mengikuti festival tersebut.

*Selesai

Kisah Misteri di UNAIR Part 1

Ini adalah kisah nyata yang pernah saya alami ketika saya masih kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Pada tahun 2009, ada festival IROS (International Relation On Sport) yang diadakan oleh UNAIR dengan mengundang beberapa kampus di Jawa Timur yang mempunyai jurusan Hubungan Internasional. Selain UB dan UNAIR, ada juga Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Jember. Festival tersebut terdiri dari beberapa cabang olahraga yaitu futsal, tenis meja, dan bola basket. Saat itu, saya mengikuti futsal yang diadakan selama tiga hari. UB mengirimkan dua tim yang terdiri dari komposisi teman-teman 2007 dan 2008. Festival ini adalah festival olahraga pertama yang diikuti oleh teman-teman HI. Singkat cerita, setelah mengalami persiapan yang cukup panjang, kami berangkat menggunakan bus menuju terminal Bungurasih. Setelah sampai disana, kami dijemput oleh anak-anak UNAIR menuju tempat penginapan yang letaknya berada di kampus UNAIR C.

Kisah misteri dimulai dari paragraf ini. Tempat penginapan yang kami tempati cukup luas. Ada puluhan kamar yang terbagi dua blok yaitu blok Barat untuk laki-laki dan Blok Timur untuk perempuan. Tim UB mendapatkan kamar di lantai ketiga. Setelah memilah dan memilih beberapa kamar, saya dan Irur memilih kamar yang letaknya pojok sebelah kamar mandi. Kamar tersebut tempat tidur tingkat. Saya menempati tempat bawah sedangkan teman saya di atas. Ketika saya hendak merebahkan badan, bau wangi aroma yang cukup sering anda jumpai di kuburan menusuk di hidung saya. Saya kaget dan seketika itu juga merinding namun saya abaikan. Saya bertanya kepada panitia untuk mengetahui apa seprai tersebut memang dicuci sebelum anak-anak UB masuk dan ternyata jawaban menggelikan dari panitia adalah “Mas, penginapan ini jarang dipakai, makanya dari dulu seprai dan kamar ndak pernah dicuci dan dimasuki.” Saya bergumam, Hmm.. sepertinya menarik kamar saya ini. Menjelang malam, teman-teman berkumpul dan saling membicarakan strategi bagaimana caranya supaya bisa menang. Malam jam 11 kami semua mulai memasuki kamar masing-masing dan yang saya lakukan ketika akan tidur, mencium bantal dan seprai kasur apakah wanginya masih sama dan seperti yang kuduga, wanginya masih sama. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga Gusti Pangeran masih melindungi saya.

*Bersambung..

Polisi itu ?

Polisi. Apa yang anda pikirkan jika mendengar kata ini ? Melayani, mengayomi, memeras atau memuakkan. Setiap orang mempunyai pandangan tersendiri jika mendengar kata polisi. Saya pun demikian. Namun, dalam satu titik kita dapat menyepakati bahwa hanya ada 3 polisi terbaik di Indonesia. Polisi tidur, patung polisi, dan polisi Hoegeng. Ketiga polisi tersebut sampai saat ini dapat dianggap sebagai suri tauladan yang baik bagi masyarakat Indonesia.

Jika anda sedang berada di Jogjakarta, jangan pernah melanggar tata tertib lalu lintas. Berpakaianlah sesuai UU lalu lintas karena polisi – polisi di Jogjakarta sangat disiplin dan teratur dalam melaksanakan kewajibannya. Ada beberapa bangjo (baca : abang ijo alias perempatan/pertigaan) yang patut anda awasi di Jogjakarta.

  1. Pertigaan UNY atau yang biasa disebut Segitiga Bertuah. Biasanya hanya polisi – polisi terbaik yang pernah menempati pos polisi tersebut. Terhitung minimal ada 10x pelanggaran dalam sehari. Sasaran mereka adalah anak-anak SMP/SMA karena biasanya mereka tidak memiliki SIM. Awas mata polisi di pos tersebut sangat tajam. Waspadalah… Waspadalah…
  2. Perempatan Gramedia/BTN atau yang biasa disebut Jalur Macan. Saya menyebutnya demikian karena polisi tersebut tidak hanya menjaga di pos melainkan banyak polisi yang telah siap duduk di atas motornya masing-masing. Jadi, jika ada yang melanggar sedikit saja, dipastikan akan diterkam oleh para polisi tersebut. Coba anda buktikan…
  3. Perempatan Jetis atau yang biasa disebut Pos Kumis. Dikatakan seperti itu karena yang menjaga di pos tersebut selalu polisi berkumis. “Galaknya luar biasa mas” begitu kata supir taksi kepada saya tempo hari. Saya pun mengamininya. Cek sajalah yaa…

Ketiga bangjo di atas merupakan pos yang selalu membuat saya deg-degan. Berhatilah – hatilah anda jika baru pertama kali ke Jogjakarta. Saya memiliki kisah menarik tentang polisi pada tahun 2008. Anda tau pertigaan fly over Janti ? Pertigaan yang di pojoknya ada rumah makan Padang. Nah disitu saya pernah mengalami apa yang dinamakan “pelanggaran lalu lintas”. Pada saat itu, saya dan orangtua saya sedang sibuk-sibuknya mencari sekolah baru. Mobil yang saya tumpangi sudah 2x melewati pertigaan tersebut dan tiba-tiba di putaran ketiga, mobil diberhentikan oleh seorang polisi muda dan terjadilah percakapan antara bapak saya dengan polisi tersebut.

“Selamat siang Bapak, Mohon Maaf bisa lihat SIM dan STNKnya ?” ujar polisi itu.

Bapak saya kemudian mengecek dompet lalu mengeluarkan SIMnya yang masih kinclong karena baru saja diperpanjang dan STNK yang cukup kumal. Setelah menyerahkan dua benda sakti tersebut polisi tersebut berkata :

“Mohon maaf, Bapak telah melanggar lalu lintas karena telah belok kiri secara langsung tanpa berhenti ketika lampu merah sedang menyala” dengan nada yakin polisi tersebut bertitah.

Bapak saya terhenyak dan sejurus kemudia dengan logat Jawa Timur yang cukup kental dan keras berkata :

“Koen iku sek arek anyar ta?, kok wes wani nyetop awakku. Aku iki wes ndek Jogja ket taun 90an. Nah, aku iki wes bolak-balik lewat kene kaet maeng lek misale belok ngiri iku yo langsung ae”. (Kamu itu masih anak baru kah ? kok sudah berani memberhentikan saya. Saya sudah di Jogja sejak tahun 90an. Nah, aku itu udah bolak-balik lewat sini dari tadi jika belok kiri itu langsung saja).

Polisi tersebut langsung kaget dan gemetaran karena mungkin berpikir bapak saya marah padahal logat orang Jawa Timur memang kental dan keras. Kemudian polisi tersebut pucat pasi dan berkata :

“Mohon maaf Pak Haji, saya cuma melaksanakan tugas dari atasan” polisi itu berkata seperti itu mungkin melihat bapak saya mengenakan peci.

“Gak usah kakean cangkem, koen mesti mek njaluk setoran ambek rokok seh ?” (gak usah banyak alasan, kamu pasti cuma mau minta setoran dan rokok kan ?” bapakku berkata semakin keras karena heran dari tadi banyak kendaraan bermotor lewat disitu ndak ada yang kena tilang.

Mboten Pak Haji”(Gak Pak Haji) balas polisi itu.

Halah sek alesan ae awakmu, kaet maeng akeh kendaraan lewat kene kok mek aku tok seng distop” (Masih beralasan saja kamu, dari tadi banyak kendaraan lewat sini kok hanya saya yang diberhentikan) kemudian bapak saya mengambil uang dan memberikan sedikit infaq kepada polisi tersebut. Lah kok ndilalah polisi tersebut yaa menerima uang tersebut sambil menunduk mukanya.

“Lek aku sek ndelok awakmu ndek kene trus nyetop aku maneh, ganok ampun gae awakmu” (kalo aku masih lihat kamu di sini kemudian memberhentikan saya lagi, tidak ada ampun bagimu)

Nggih pak Haji nyuwun pangapunten, matur nuwun” (Iya pak haji mohon maaf, terima kasih) sambil memberikan SIM dan STNK bapak saya kemudian bapak saya ngacir, melaju kencang meninggalkan pollisi tersebut dan saya pun kesal sekaligus tertawa lepas melihat lelucon tersebut. Dari dulu bapak saya mengingatkan ke anak-anaknya jangan pernah menjadi polisi atau semacamnya. Mungkin benar pesannya jika menilik kejadian di atas.

*Kalo polisi selalu berbuat seperti itu, disitu kadang saya merasa sedih

Transrealtruisme untuk Indonesia

Hiruk pikuk wajah peradaban masyarakat Indonesia kini mendapatkan tantangan yang elusif. Sejak Orde Baru hingga Reformasi dan bahkan menuju TransReformasi, hambatan dan tantangan tersebut bukannya tidak berkurang melainkan semakin bertambah. Korupsi, kemiskinan struktural, dekadensi moral, sistem ekonomi yang peyoratif bahkan yang paling kekinian adalah krisis lingkungan. Asap adalah krisis lingkungan terburuk dalam dua dekade terakhir. Asap yang kini memayungi daerah Riau, Jambi (Sumatra) bahkan di daerah Borneo hampir semuanya dipayungi oleh asap. Reaksi dari Pemerintahan Indonesia mencoba memadamkan si jago merah tak kunjung usai. Noktah demi noktah terus terbit seakan tidak mau diberi peluang untuk kembali terbenam. Gelagat alam yang disinyalir dengan musim kemarau berkepanjangan merupakan faktor utama. Faktor pendukungnya adalah asta-asta manusia yang tidak bertanggung jawab sehingga turut berinvestasi membentuk fenomena mutakhir tersebut.

Kritik demi kritik diarahkan kepada pemerintah yang berwenang untuk segera membuktikan kebenaran dari fenomena tersebut. Pemerintah dituntut segera turun tangan untuk membebaskan masyarakat tersebut dari kepulan asap yang melaknatkan wajah-wajah sendu bercampur iba. Dukungan masyarakat dari media sosial berseliweran dimana-mana. Hestek demi hestek mulai meningkat dan menimbulkan efek domino. Gerakan kemanusiaan dibentuk hanya dalam sekejap. Ini didasarkan karena ironi pada berita nasional. Sebagai contoh sampul depan harian Republika yang sengaja dibuat abstrak sehingga menyulitkan pembaca untuk melihatnya. Ihwal ini dimaksudkan untuk mengajak pembaca merasakan bagaimana sulitnya netra masyarakat disana dalam menerawang dunia sekitar.

Disinilah pentingnya bagi Indonesia menebarkan gerakan transrealtruisme bagi masyarakat Indonesia. Altruisme adalah paham yang mana kepentingan orang lain jauh lebih tinggi daripada kepentingan individu. Paham ini biasanya akan disadari masyarakat Indonesia ketika warta di media nasional dan internasional  sudah memberi citra negatif. Sungguh orgasme yang lamban bagi masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, butuh realtruisme yaitu memunculkan kembali sifat memajukan kepentingan orang lain daripada kepentingan individu. Transrealtruisme dimaksudkan bahwa mengajak seluruh elemen baik dari pemerintah, institusi non pemerintah, aktivis sosial bahkan manusia lanjut usia.

Saya kira pentingnya meneriakkan slogan transrealtruisme harus digalakkan lebih cepat. Ini dikarenakan sudah kikisnya gerakan – gerakan yang telah lalu tidak ada faedah dan manfaatnya. Kemampuan masyarakat dalam beradaptasi gerakan ini dapat diperhitungkan dengan cara analisis secara holistik. Mari kita gandeng tangan. Kepalkan tangan kiri dan tulis #gerakantransrealtrusimeuntukIndonesia.

*Produksi wacana tersebut semoga bisa menjadi kebenaran faktual. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca wacana berwajah komplikasi .

Nilai Tukar Alarm

Sesuatu yang disiplin terkadang membuat manusia menjadi bosan. Adakalanya manusia ingin menjadi tidak teratur. Mulai sejak kecil, saya ‘terbiasa’ dengan keteraturan. Bangun subuh dan tidur malam jam 10. Hal itu saya lakukan sejak SD sampai dengan SMP. Waktu SMA, keteraturan menjadi virus yang menakutkan. Apalagi menginjak kuliah, keteraturan menjadi sebuah hal yang membosankan. Saat kuliah, tidak teratur dan bebas adalah idaman bagi seluruh mahasiswa/i dimanapun kalian berada. Oleh karenanya, sekali lagi saya katakan bahwa keteraturan adalah sesuatu yang membosankan. Hell Yeah !!!

Alarm. Benda yang membuat anda teratur dan disiplin. “Alarm hanya dibutuhkan oleh orang – orang yang membutuhkannya” (Cak Lontong said). Bentuk alarm bisa bermacam – macam. Adzan adalah alarm. SMS/WA/BBM/LINE dari kekasih juga bisa disebut alarm. Ayam berkokok juga merupakan alarm. Alarm sifatnya baik, karena mengingatkan anda supaya bergerak secara sistematis dan terstruktur. Pernah tidak anda membayangkan bahwa di dunia ini tidak ada alarm ? Apakah manusia bisa menjadi disiplin dan teratur ? Coba anda renungkan dan hayati (Mario Teguh said).

Ada teman saya yang mempunyai alarm unik. Seri On The Spot seharusnya menghadirkan tujuh alarm terunik dan teman saya ini harus masuk diantaranya. Alarmnya hanya berfungsi pagi hari jam 8, siang hari jam 2, dan malam hari jam 7. Mungkin terkesan standar, namun coba anda telisik lebih lanjut. Dia membutuhkan alarm hanya untuk minum air. Jika alarmnya berbunyi, maka dia harus mencari air dan segera meminumnya. Segala macam jenis air. Entah itu berbau, wangi, ataupun hambar. Suatu ketika, temannya sengaja menghilangkan segala jenis air yang harusnya dibutuhkan dan akhirnya dia terpaksa MELUDAH kemudian meminum air ludahnya sendiri. Hooeek Cuiih (don’t try at home).

Nah kalo saya juga mempunyai alarm untuk saya nikmati. Mengapa saya nikmati ? karena saya yakin hanya di tempat ini, saya bahkan anda bisa menikmati alarm ini. Jika adzan adalah alarm wajib, maka saya boleh menyebutnya alarm saya adalah alarm sunnah. Jadi begini, Pertama, jam set6 pagi ada benda yang tiba-tiba melayang dan menimpa jendela saya. Itu adalah loper koran yang melempar koran ke arah jendela kamar saya dengan maksud segera membuka jendela kamar saya. Bukan disuruh mengambil koran loo yaa. Kedua, jam 9 pagi ada tukang jamu yang selalu meneriakkan “jamu, jamu, jamune mas”. Itu tandanya saya disuruh menyegerakan sholat Dhuha. Bukan disuruh membeli jamu loo yaa. Ketiga, jam set2 siang ada sekumpulan anak SD yang mengatakan “Jenaaaang Jenaaaang”. Itu tandanya saya disuruh merekam suara mereka dan menyegerakan boci (bobok siang). Maklum pita suara mereka terdiri dari alto dan sopran jadinya harus saya rekam. Bukan disuruh mengedarkan rekamannya loo yaa. Keempat, jam 4 sore ada seorang kakek dengan suara berat seperti Bebi Romeo menyanyikan lagu “puk… puk… puk… kerupuk”. Itu tandanya saya disuruh beli gorengan. Bukan disuruh beli kerupuk loo yaa. Kelima, jam set7 ada seorang paruh baya yang mendendangkan “siomaaaay siomaaay”. Itu tandanya saya disuruh menaruh uang jimpitan di loker yang disediakan. Bukan disuruh marahin tukang siomay karena suaranya yang memekakkan telinga loo yaa.Terakhir, jam 9 ada beberapa orang yang mengambil jimpitan di rumah saya. Itu tandanya saya diberi tanda segera merapat ke Raja Sabi untuk bergabung dengan jamaah Gazpolian. Bukan disuruh untuk mengucapkan terimakasi loo yaa.

Itulah fungsi alarm sebagai nilai tukar. Bukan hanya uang namun juga alarm. Sesuatu yang membuat anda terbiasa menjadi teratur, disiplin, sistematis, terstruktur, dan massif.

#Jika anda membutuhkan rekaman alarm di atas, segera hubungi saya. Beli yang original jangan yang bajakan. Teruntuk Samid (nama disamarkan) Vielen Dank.