Nilai Tukar Alarm

Sesuatu yang disiplin terkadang membuat manusia menjadi bosan. Adakalanya manusia ingin menjadi tidak teratur. Mulai sejak kecil, saya ‘terbiasa’ dengan keteraturan. Bangun subuh dan tidur malam jam 10. Hal itu saya lakukan sejak SD sampai dengan SMP. Waktu SMA, keteraturan menjadi virus yang menakutkan. Apalagi menginjak kuliah, keteraturan menjadi sebuah hal yang membosankan. Saat kuliah, tidak teratur dan bebas adalah idaman bagi seluruh mahasiswa/i dimanapun kalian berada. Oleh karenanya, sekali lagi saya katakan bahwa keteraturan adalah sesuatu yang membosankan. Hell Yeah !!!

Alarm. Benda yang membuat anda teratur dan disiplin. “Alarm hanya dibutuhkan oleh orang – orang yang membutuhkannya” (Cak Lontong said). Bentuk alarm bisa bermacam – macam. Adzan adalah alarm. SMS/WA/BBM/LINE dari kekasih juga bisa disebut alarm. Ayam berkokok juga merupakan alarm. Alarm sifatnya baik, karena mengingatkan anda supaya bergerak secara sistematis dan terstruktur. Pernah tidak anda membayangkan bahwa di dunia ini tidak ada alarm ? Apakah manusia bisa menjadi disiplin dan teratur ? Coba anda renungkan dan hayati (Mario Teguh said).

Ada teman saya yang mempunyai alarm unik. Seri On The Spot seharusnya menghadirkan tujuh alarm terunik dan teman saya ini harus masuk diantaranya. Alarmnya hanya berfungsi pagi hari jam 8, siang hari jam 2, dan malam hari jam 7. Mungkin terkesan standar, namun coba anda telisik lebih lanjut. Dia membutuhkan alarm hanya untuk minum air. Jika alarmnya berbunyi, maka dia harus mencari air dan segera meminumnya. Segala macam jenis air. Entah itu berbau, wangi, ataupun hambar. Suatu ketika, temannya sengaja menghilangkan segala jenis air yang harusnya dibutuhkan dan akhirnya dia terpaksa MELUDAH kemudian meminum air ludahnya sendiri. Hooeek Cuiih (don’t try at home).

Nah kalo saya juga mempunyai alarm untuk saya nikmati. Mengapa saya nikmati ? karena saya yakin hanya di tempat ini, saya bahkan anda bisa menikmati alarm ini. Jika adzan adalah alarm wajib, maka saya boleh menyebutnya alarm saya adalah alarm sunnah. Jadi begini, Pertama, jam set6 pagi ada benda yang tiba-tiba melayang dan menimpa jendela saya. Itu adalah loper koran yang melempar koran ke arah jendela kamar saya dengan maksud segera membuka jendela kamar saya. Bukan disuruh mengambil koran loo yaa. Kedua, jam 9 pagi ada tukang jamu yang selalu meneriakkan “jamu, jamu, jamune mas”. Itu tandanya saya disuruh menyegerakan sholat Dhuha. Bukan disuruh membeli jamu loo yaa. Ketiga, jam set2 siang ada sekumpulan anak SD yang mengatakan “Jenaaaang Jenaaaang”. Itu tandanya saya disuruh merekam suara mereka dan menyegerakan boci (bobok siang). Maklum pita suara mereka terdiri dari alto dan sopran jadinya harus saya rekam. Bukan disuruh mengedarkan rekamannya loo yaa. Keempat, jam 4 sore ada seorang kakek dengan suara berat seperti Bebi Romeo menyanyikan lagu “puk… puk… puk… kerupuk”. Itu tandanya saya disuruh beli gorengan. Bukan disuruh beli kerupuk loo yaa. Kelima, jam set7 ada seorang paruh baya yang mendendangkan “siomaaaay siomaaay”. Itu tandanya saya disuruh menaruh uang jimpitan di loker yang disediakan. Bukan disuruh marahin tukang siomay karena suaranya yang memekakkan telinga loo yaa.Terakhir, jam 9 ada beberapa orang yang mengambil jimpitan di rumah saya. Itu tandanya saya diberi tanda segera merapat ke Raja Sabi untuk bergabung dengan jamaah Gazpolian. Bukan disuruh untuk mengucapkan terimakasi loo yaa.

Itulah fungsi alarm sebagai nilai tukar. Bukan hanya uang namun juga alarm. Sesuatu yang membuat anda terbiasa menjadi teratur, disiplin, sistematis, terstruktur, dan massif.

#Jika anda membutuhkan rekaman alarm di atas, segera hubungi saya. Beli yang original jangan yang bajakan. Teruntuk Samid (nama disamarkan) Vielen Dank.

Lupakan Jogja

Jogjakarta. Jika mendengar kata tersebut, apa yg terlintas di pikiran anda ? Nyaman, Ramah, Istimewa. Mungkin itu 3 kata yang biasa terdengar di telinga anda. Mungkin loo yaa.. Yang lain mungkin berkata bahwa Jogja itu kenangan, Rindu, dan harapan. Jogja itu Burjo dan Angkringan. Banyak kata dan jika disebutkan disini mungkin setiap kata bisa diuraikan menjadi satu paragraf. Jogja itu tempat saya tumbuh dan berkembang mulai dari TK sampai dengan SMA. Dulunya kota ini selalu nyaman untuk ditinggali. Akses transportasi memudahkan dan masih banyak pohon dimana-mana. Sayangnya, kota yang dulunya nyaman kini berubah menjadi sedikit tidak nyaman. Paradigma kota Jogjakarta menjadi tujuan pariwisata membuat pemerintah terus berinovasi. Namun, inovasi tersebut kadang melampaui batas. Coba anda mampir ke perempatan Tugu maka terlihat sampah visual dan sampah kabel dimana-mana. Saya sebut sampah karena tata letaknya yang kurang enak dilihat. Selain itu, hotel dan apartemen cukup menjamur sehingga membuat kota ini berubah menjadi kota beton. Sungguh sangat disayangkan. Slogan #Jogjaoradidol (jogja ga dijual) bertebaran di dunia maya. Mungkin ini menandakan bahwa masyarakat yang pernah atau menetap di Jogjakarta mulai resah akan situasi ini. Alangkah baiknya, jika fungsi dan tata kota Jogja diperbaiki. Saya dan mungkin pembaca merindukan kehadiran angkot RAS, D2, 21, D6, A3 dan lainnya. Mungkin juga merindukan bagaimana tiap pagi dan sore melewati perempatan Tugu tidak macet. Atau mungkin juga merindukan Jogja bebas dari polusi.

Pembangunan ekonomi terkadang sulit untuk berbanding lurus dengan penataan lingkungan. Hal ini selalu saja bergesekan. Tidak bisa dipungkiri, pemasukan kota Jogjakarta paling baik dari segi pariwisata. Lanskap pantai , gunung, dan candi menawarkan keindahan yang mewah. Andaikan ini bisa terurus dengan baik bukan tidak mungkin Jogja menjadi kembali nyaman seperti dulu kala. Mungkin sinisme saya terhadap kota Jogjakarta baru dari segi transportasi, jalanan, dan bangunan, lalu bagaimana dengan makanan? Jogja selalu menawarkan makanan murah dan itu mengapa sampai saat ini UMR di Jogja ‘masih’ tergolong rendah daripada kota Malang, Solo dan lainnya. Iya benar, Jogja tertolong dengan angkringan yang super murah dan Warmindo yang selalu menawarkan harga dibawah 10rb. Namun sayangnya kali ini boleh dibilang makanan di Jogjakarta agak ‘berlebih’ dalam soal harga. Pengaruh pendatang dan wisman yang rela merogoh kocek cukup dalam membuat penjual makanan tidak sungkan untuk menaikkan harga. Kadang sebagai orang Jogja, saya mikir tapi apa boleh buat label pariwisata yang cukup ngehits untuk kota se-nyaman ini membuat saya berkata “ya sudahla”.

Jogja jogja, saya gemes sekaligus lemes kalo puter2 Jogja. Semoga di hari ulang tahun yg cukup tua dari Indonesia, Jogja bisa berbenah. Semoga Jogja kembali nyaman, aman, dan tenteram. Sugeng Tanggap Warsa Jogjakarta 259th. Semoga lekas sembuh yaa Jogja.

*Ditulis sembari mendengarkan lagu Kapan Ke Jogja Lagi dari Everyday Band.

Parodi Tikungan

Setiap manusia selalu memiliki kenangan yang terhebat. Entah kenangan tersebut bersifat positif maupun negatif. Ada kenangan yang bisa membuat anda berlinang air mata namun ada pula yang membuat anda tertawa lepas. Baru beberapa hari yang lalu, seorang kawan lama menge-PING saya dengan jumlah yang cukup banyak. Kaget, karena jarang2 kawan saya yang satu ini nge-PING dengan jumlah yang cukup banyak. Ketika saya jawab “oi” (jawaban khas saya untuk menanggapi PING yang tak beraturan) kemudian dia membalas “ada waktu untuk curhat bro” ? Sebelum saya menjawab pesan tersebut, terlintas di pikiran saya “pasti soal tikung-menikung”. Saya sudah terbiasa untuk menjadi tempat sampah (tempatnya orang-orang curhat). Mungkin ini terjadi karena saya lebih banyak mendengarkan daripada memberi solusi atau kalo menurut seorang teman, saya adalah manusia dengan ekspresi terdatar yang pernah ada alias ga punya ekspresi. Jadi banyak orang merasa nyaman curhat dengan saya. Alhamdulillah Sesuatu yaa..

Singkat cerita, saya bertemu dengan dia di warung kopi yang menjadi langganan saya. Kemudian, kawan karib saya ini mengutarakan bahwa dirinya (lagi-lagi) ditikung oleh temannya sendiri. Terhitung sudah tiga kali dia ditikung. Pertama kali, saat ospek maba, kedua saat diklat dan ketiga saat dia menyibukkan dengan skripsinya. Saya yang mendengarkan dia berceloteh hanya cukup termanggut – manggut sambil sesekali meneguk teh tawar yang cukup panas. Sejatinya, saya iba melihat dirinya namun di sisi lain saya cukup terhibur dengan cara dia berceloteh. Unik dan menggemaskan. Gimana ndak gemas, pria dengan perawakan 3x lebih besar daripada saya berceloteh sambil sesekali mukanya menghadap ke atas sambil mengepulkan rokoknya. Saya berpikir mungkin dia akan menangis namun dirinya mencoba menahan tangisan itu. Melihat teman saya ini, otak saya langsung beronani, berapa banyak manusia yang pernah menikung ? atau mungkin ditikung ? Apakah itu termasuk tikungan bahagia atau tikungan nelangsa ? Mungkin lebih baik biar psikolog yang melakukan penelitian ini. Saya kira ini menjadi sebuah masalah tersendiri.

Hal yang kemudian menjadi pusat perhatian saya adalah bagaimana saya harus memberikan solusi bagi teman karib ? Saya belum begitu pandai untuk memberikan solusi karena dalam dunia tersebut, saya masih merasa cecunguk. Apalah saya dibandingkan dengan teman – teman saya yang jauh lebih keren dan menarik daripada saya. Namun sebagai kawan yang baik, seharusnya saya memberikan solusi yang mungkin akan berguna bagi dirinya. “Bro, Jodoh itu ditangguhkan bukan ditakdirkan. Tuhan ingin melihat seberapa jauh usahamu.” Kata – kata tersebut keluar dari ucapan saya secara tiba – tiba. Entah kenapa dia langsung bersalaman dengan saya dan memeluk saya sambil berkata “Suwun seng akeh bro”. Sejenak saya merenung, benarkah jodoh itu ditangguhkan ? Setiap manusia mungkin berpasang – pasangan kecuali jika manusia tersebut lebih memilih kesendirian. Dalam percakapan dengan kawan lama tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa tikungan terbaik adalah tikungan terselubung. Tikungan yang membuat manusia tersebut bahagia sekaligus nelangsa. Sekian.

*Kisah ini nyata dan telah mendapatkan persetujuan dari kawan karib saya. Nuwus bro.

Angka 5 adalah Angka Vital

Ada banyak mitos yang terdapat di berbagai belahan dunia. Menurut saya, mitos itu berupa simbol, tanda, atau angka. Kalo menurut Roland Barthes mitos itu adalah (baca bukunya yaa, jangan malas membaca, hehe). Mitos bisa dimaknai secara positif dan negatif tergantung dari sudut pandang siapa yang menilainya. Kali ini saya memilih membahas mitos angka karena beberapa angka yang diagungkan. Seperti contoh angka 4. Angka 4 ini adalah angka yang menakutkan bagi orang – orang ras Tiongkok. Jika kamu pernah melihat mall/apartemen/hotel yang mana liftnya atau kamar hotelnya tidak ada angka 4 maka dapat dipastikan pemilik tempat tersebut adalah orang – orang ras Tiongkok. Untuk mengganti angka 4 biasanya mereka memberi angka 3a adan 3b. Mereka percaya bahwa angka 4 akan memberikan kesialan baginya. Mungkin secara fengshui angka 4 kurang cocok bagi ras Tiongkok. Kalo tadi angka 4 maka di dunia Barat ada angka yang cukup memberikan kesialan yaitu angka 13. Saya kurang tahu pasti kenapa bisa angka 13 dimaknai kesialan. Yang jelas angka ini merupakan momok bagi siapa saja yang mempercayainya. Penggunaan dan penggantiannya hampir mirip dengan angka 4. Mereka memberi angka 13a atau 13b bahkan lebih cenderung menghilangkannya. Beruntung, saya tidak mempercayai angka 13 ini. Jika saya mempercayainya, mungkin saya memohon Tuhan memundurkan atau dimajukan saja tanggal lahir saya. Hahaha.

Nah setelah menilik angka 4 dan angka 13, sejatinya ada angka yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh khalayak intelektual. Angka tersebut adalah angka 5. Di dunia ini, mungkin hanya masyarakat Indonesia yang memaknai bahwa angka 5 adalah angka yang harus diucapkan tiap hari. Percaya atau tidak ? Contoh, jika makanan anda terjatuh maka bisa dipastikan anda atau mungkin teman anda akan berkata “diambil aja, belum 5 menit kok”. Jika anda sedang mengerjakan tugas kemudian diberi waktu untuk segera menyelesaikan maka spontan anda akan berkata “bentar pak/bu, 5 menit lagi yaa”. Bahkan ada lagu/iklan yang pernah saya ingat berujar, “ 5 menit lagi, aaah aah ah”. Selain ucapan – ucapan yang tidak disengaja tersebut, ada beberapa hal yang selalu berkaitan dengan angka 5. “Slogan 4 sehat maka 5 sempurna” ; Sholatlah 5 waktu secara teratur ; Coba cek kaki dan tangan anda, setiap sisinya jumlahnya 5 ; huruf vokal dalam alphabet Indonesia berjumlah 5 ; Dasar Negara kita Pancasila juga berjumlah 5. Coba anda cek saluran televisi swasta M*tro TV, setiap acara yang dimulainya selalu dilewatkan 5 menit (10.05 , 20.05) dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Menurut saya angka 5 ini adalah angka vital yang tidak hanya dipercaya orang Indonesia bahkan mungkin orang Londo. Anda mungkin tidak sadar tapi anda pasti pernah melakukannya bukan ? Atau bahkan anda justur mempercayai sebagai angka magis anda ? Terserah anda yaa …

*Inspirasi tulisan ini ketika saya mengikuti kuliah Prof.Heddy Shri Ahimsa Putra tentang strukturalis. Matur nuwun nggih prof.*

On Time

On time atau tepat waktu adalah sesuatu yang sangat jarang dilakukan masyarakat Indonesia. Terlambat lima bahkan sampai 30 menit adalah sesuatu yang wajar. Kebiasaan ini bahkan sudah menjamur ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Saya benci sesuatu yang ga tepat waktu. Saya selalu mengusahakan semuanya tepat waktu. Ini saya lakukan demi menghargai waktu. Mengapa waktu harus dihargai ? Karena waktu ga bisa diulang. Pernah suatu ketika kuliah, saya melakukan kebodohan tidak mengumpulkan laporan magang. Terlambat lebih tepatnya. Dosen tidak mengampuni saya dan akhirnya saya harus mengulang magang 3x. Tidak mengenakkan dan saya bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam kuliah kali ini.

Di Indonesia sesuatu yang tepat waktu bisa diitung dengan jari. Bel saat masuk sekolah dan jam keberangkatan kereta api. Selain itu tak ada sesuatu yang menyamainya dalam hal tepat waktu. Bahkan pemimpin di negeri ini pun sering melakukan tindakan ga tepat waktu. Entah ini kebiasaan baik atau buruk seharusnya hal seperti ini ga baik untuk diteruskan. Jepang adalah salah satu Negara yang sangat menghormati dan menghargai waktu. Sebagai contoh, ketika anda terlambat saat naik kereta api maka perusahaan kereta api segera memberi surat keterlambatan ke seluruh penumpang supaya perusahaan / orang yang dituju dapat memakluminya. Itulah mengapa masyarakat Jepang selalu disiplin dalam melaksanakan apapun.

Ketahuilah bahwa sesuatu yang terlambat itu ga enak. Ga tepat waktu masuk sekolah/kerja, ga tepat waktu janjian sama pacar bahkan terlambat untuk “mencabut” sesuatu bisa berakibat fatal. Lalu bagaimana cara mengatasi supaya tepat waktu ? 1) Usahakan pasang alarm di alat komunikasi anda. 2) Harus memiliki keresahan. 3) Jangan bersikap woles. Tiga hal ini wajib anda ketahui dan kuasai supaya dikemudian hari anda tidak terkena hukuman atau semacamnya. Kecuali jika anda memang dari sononya selalu woles dalam menghadapi ketepatan waktu. Jangan pernah membaca tulisan ini jika anda suka terlambat bahkan bertemu dengan saya. Sekali lagi saya harus katakan, saya suka tepat waktu karena bagi saya waktu adalah sesuatu yang harus diteladani seperti kata Ungu “ Dan demi Waktu” …

Alunan Kopi

i-think-therefore-ive-had-my-coffee-quote-1

Hidup dimulai setelah meminum kopi. Kalimat ini benar adanya. Menurut saya, kopi itu adalah sesuatu yang unik. Banyak orang minum kopi tidak hanya segelas dalam sehari melainkan dua hingga tujuh gelas perhari. Contoh orang-orang peminum kopi berat seperti Albert Camus,Gus Mus bahkan Cak Nun. Penelitian medis mengatakan bahwa kandungan kafein terhadap kopi mempengaruhi tingkat kognitif seseorang. Maka tak jarang siapapun yang meminum kopi secara rutin akan menjadi orang besar (subjektif). Kalo kata Karl Marx bilang agama adalah candu maka saya bisa mengatakan bahwa kopi adalah candu !!!.

Bagi saya, dengan meminum kopi membuat jaringan otak dapat bereaksi secara cepat dan dinamis. Kalo pun dianggap lebay ada baiknya melihat bahwa sufi itu adalah peminum kopi yang rajin. Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan bahwa “Kopi adalah penghilangan kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi kamu yang sedang mencari ilmu. Kopi adalah minuman orang yag dekat pada Sang Pencipta karena didalamnya ada kesembuhan bagi para pencari hikmah diantara manusia. Kopi adalah minuman yang digunakan untuk taqarrub yaitu mendekatkan diri pada Sang Pencipta yang mana memiliki banyak manfaat baik secara medis maupun rohani”.

Maka, Nikmat Kopi mana yang kau dustakan ? Mulailah minum kopi karena kopi adalah alasan mengapa Manusia mampu berpikir.

KaTeTe dan D19

Perjalanan menjadi ahli Timur Tengah dimulai dari tahun 2014. Ketika itu saya menempuh dunia pendidikan di “Kampus Kemarau” Jogjakarta. Saya memasuki jurusan yang dari awal berdiri sampai sekarang peminatnya tidak lebih dari 20 orang. Mengambil jurusan tidak populer ini adalah sebuah resiko. Terlebih paradigm jika masuk ke jurusan ini untuk menjadi Abu Bakar Al Baghdadi atau Osama Bin Laden. Salah besar jika mereka semua mengira hal tersebut. Hal yang paling penting jika anda mulai memasuki jurusan ini adalah Anda akan dibaiat menjadi KTT. Ahli Tina-Tini dalam dunia Timur Tengah.

Sebelum memasuki jurusan ini saya dinasehati oleh dua sahabat saya dari kota Apel bahwa kamu harus berjenggot supaya kaffah dalam dunia pendidikan tersebut. Tentu saja saya mengernyitkan dahi. Lebih baik saya operasi mata daripada harus menumbuhkan jenggot. Saya masih berpikir kalo jenggot itu hanya aksesoris semata. Hahaha.

Oke. Perkenalan saya dengan mahasiwa mahasiwa KaTeTe dimulai dengan seseorang yang tinggi besar layaknya atlet pencak silat. Namanya Amen Wijaya a.k.a Bebeb. Sekilas anak ini adalah jauh lebih dari tua daripada saya. Sosoknya yang berwibawa dan tegap mengingatkan saya pada lagu “Arjuna”. Mengapa saya bilang begitu karena jelas dia akan menjadi idola kaum Hawa KaTeTe. Manusia kedua adalah Ahmet Sub’Yadi a.k.a Pak Yadi. Perawakannya yang gemuk, sorot mata tajam dan saya pikir dia cocok untuk menjadi kakaknya Smurf. Calon ketua KaTeTe ini adalah sahabat saya karena hanya dengannya saya bisa ngomong bahasa Malangan dan hanya dia dalam sejarah hidup saya memanggil dengan sebutan “bleh” . Hobinya yang suka menjelajah seperti “Angin” menegaskan bahwa dirinya pantas menjadi supir truk. Partner prensentasi saya yang satu ini adalah seorang perempuan yang mentahbiskan bahwa dirinya adalah pecinta lagu dangdut. Salut. Disaat yang lain terjebak dalam Korean atau Turkey dirinya masih “Indonesia Saja”. Dialah Epha Nurmalasari a.k.a Mala. Sesosok perempuan dengan kerudung dan kacamata yang menghiasi rupanya. Ustadz yang satu ini adalah karib saya sejak masuk kuliah. Bayangkan saya selalu sekelas dengan beliau bahkan ada kelas yang isinya cuma dua manusia. Sebut saja namanya Feriyadi a.k.a BangBer. Beliau disebut begitu karena layak dipanggil abang daripada om atau bapak. Walaupun selalu dicibir anak-anak karena sifat amnesianya namun beliau selalu meng’Hadapi Dengan Senyuman’ apapun masalahnya. Nah, Sosok yang satu ini adalah wanita yang selalu tersenyum sampe-sampe pipinya merona merah. Silent Reader tapi sekali ngomong membuat para lelaki terdiam. Seakan-akan mengeluarkan ‘Petuah Bijak’ dan bahkan Pak Harno pun terdiam jika dirinya berbicara. Namanya Shiti Khumatjaroeh a.k.a Mhay. Hobinya makan nasi goreng dengan porsi ¼ piring mewarnai keunikannya.

Menjadi Ustadz di Televisi merupakan ritual kesehariannya. Usaha catering dan WO adalah cara beliau menambah penghasilannya. Satu-satunya mahasiwa di angkatan saya yang mempunyai dua anak dan satu istri. Namanya Imam Wicaksono a.k.a Kanda Imam. Perawakannya gemuk dan menurut banyak orang, beliau ini cocok untuk mendirikan “Laskar Cinta” karena tujuannya untuk menebarkan benih-benih cinta di kelasnya. Perempuan yang satu ini selalu bernada syahdu jika bicara. Walaupun kelihatannya jauh lebih dewasa namun nyatanya dia lebih muda dari saya. Namanya Yahrotun Na’imah a.k.a Mbak Yay. Mungkin di KaTeTe Cuma dia yang bisa menirukan “Suara Alam”. Alvin Hak Siroto a.k.a Apin. Begitu Alif menyebutnya. Penyayang binatang dan berhati feminine adalah dua sifat utamanya. Menurut dia, “Hidup Ini Indah” bila semua anak KaTeTe hidup saling berpasang – pasangan. Uni adalah panggilan akrab bagi dirinya. Semua orang di KaTeTe bahkan awak – awak Bonbin pun tau kalo dia berasal dari Padang. Nama aslinya Shyinta Fitrya Utamie a.k.a Uni. Wanita ini memiliki kembaran bernama Nyai Evayatun Nikmat a.k.a Evha. Pasangan ini layak disematkan sebagai “Dua Sedjoli” karena selalu pergi bersamaan bahkan konon katanya ke kamar mandi pun juga bareng. Ahh, namanya juga kembar jadi wajar jika mereka melakukan itu semua.

Aupha Alpian Mustafa a.k.a Aufa adalah orang paling misterius yang saya kenal. Mungkin slogannya Jarang Bicara namun Banyak Menulis. Sungguh saya salut sama manusia seperti ini. Di “Satu Sisi” hanya dia yang mampu dan cocok dengan ketua jurusan saya karena saking seringnya ngobrol baik menggunakan bahasa Arab maupun Indo. Barangkali bahasa kalbu juga diikutkan. Nailna Indriyanti Nugroho a.k.a Nilnang Ning Gung. Perempuan paling muda dan paling eksentrik (banyak gaya). Sering dibully namun Cuma dia satu – satunya anak yang IPnya cumilaudeh. Dia selalu “Cemburu” jika rivalnya yaitu Uni ngobrol dengan Bang Ber karena menurutnya hanyalah Nailna yang berhak memenangkan hatinya Nailna. Dzulkifli Moodotu a.k.a Noe. Hingga kini tak seroang teman KaTeTe yang paham mengapa dirinya dipanggil Noe. Namun dia mengklaim dirinya mirip sekali dengan Noe Letto. Khayalan Tingkat tinggi sepertinya. Anak – anak selalu sopan jika ngobrol dengan dirinya karena mungkin dirinya adalah seorang Gus. Dan “Bukan Rahasia” lagi jika dirinya menyimpan rasa dengan salah seorang anggota KaTeTe. Hmm. Dia adalah orang yang paling atraktif yang saya kenal. Berulangkali tawaran casting ditolaknya karena dia takut terkenal. Dia selalu mengatakan dia tak mau kurus karena takut dikira ga bahagia. Dia selalu ingn terdepan dalam presentasi hanya karena untuk menarik perhatian seseorang. Namanya Muuahsomah a.k.a Mua. Sayangnya harapannya menjadi “Kosong” karena mungkin salah satu teman KaTeTenya sebut saja Noe tidak membalas cintanya. Tragis. Novia Rakhma Ramdhani a.k.a Nophay adalah perempuan teristimewa yang saya kenal. Jika boleh jujur sebenarnya dia ga terlalu istimewa namun dia membuatku tak punya pilihan lainnya. Menurut saya dia adalah “Dewi” dari segala dewi yang ada di dunia ini dan saya pun sudah “Larut” ke dalam jiwanya.

Sedangkan apa yang dapat saya deskripsikan pada diri saya. Saya Moddie Alvianto Wicaksono. Anak KaTeTe ke 16 dan saya pengagum musikalitas Ahmad Dhani (Dewa 19).

Dialog Antar Agama
Dialog Antar Agama