Benarkah kita malas jalan kaki?


Beberapa hari ini lini masa memberitakan goncangan headline. Mulai dari KPK vs DPR, perseteruan Dinda Tsamara vs Pak Fahri Hamzah, pro dan kontra perppu ormas hingga yang paling kekinian, pemblokiran telegram. Nah dalam esai kali ini, saya tak akan mengangkat tema salah satunya.

Kenapa? Sudah terlalu banyak yang membahas. Mulai dari analisis politik yang mendakik-dakik hingga analisis komedi yang crigas-crigis. Saya mau coba nulis tentang tema berkaitan dengan jalan kaki. Kenapa saya pengen bahas itu? Karena ada sekumpulan orang asing dari Barat yang bilang kalo orang-orang Indonesia malas jalan kaki!!

What?? Apakah ini penistaaan kesehatan internasional? Bisa jadi iya, bisa jadi bukan. 

Dalam jurnal yang katanya internasional ditulis bahwa Indonesia menempati peringkat 46 dari 46 negara untuk urusan jalan kaki. Daripada kamu buka jurnal yang menyesakkan dada dan menguras emosi lebih baik saya jabarkan fakta lain dalam jurnal itu. 

Ehm, jadi begini rata-rata orang Indonesia hanya menghabiskan 3.513 langkah per hari. Saya pikir itu langkah yang cukup banyak. Ternyata ndak toh. Rata-rata langkah kaki masyarakat dunia berjumlah 4.961. Bajilak. Nggilani nemen ternyata…

Kalo yang paling tinggi ya jangan ditanya. Jawabannya orang-orang Hongkong. Mereka bisa menghabiskan langkah sebanyak 6.880 per hari. Banyak bener ya. Hasil penelitian itu membuktikan suatu pernyataan yang sering kita ulang-ulang kalo orang Hongkong memang suka jalan. 

“Cokk, koen mlaku kok suwe nemen? Mlaku teko Hongkong ta?”

Nah itu contohnya. Garing? Yo ben.

Apa kamu ga pengen tahu 3 urutan negara terbawah? Penasaran ndak? Tapi kalo saya kasih tahu, janganlah marah disertai mencak-mencak. Saya takut jika memberitahu ketiga negara terbawah, nanti dikira saya sedang mencoba mengkriminalisasi negara-negara tersebut. Sudah siap? Oke. 

Yang paling bawah adalah Indonesia. Diatasnya ada Arab Saudi dan Malaysia. Ya, insan-insan Arab Saudi dan orang-orang Malaysia langkahnya sehari hanya mencapai 3.807 dan 3.963. 

Wah, ini penelitian apa-apaan?? Kenapa kok hasilnya menyudutkan negara-negara Muslim? Emang negara mayoritas Muslim malas jalan kaki? Yang benar aja. Ini pasti salah. Ndak mungkin. Ndak mungkin. 

Sebagai warga negara Indonesia yang budiman dan selalu berkata NKRIHargaMati, penelitian ini boleh dibilang abal-abal. Saya tak sudi menerima hasil penelitian ini. Bolehkah saya gugat hasil penelitiannya ke PBB karena tulisannya mencemarkan negara baik dan tulisan yang tidak menyenangkan? Boleh lah, masak cuma imam besar umat Islam aja yang boleh gugat ke PBB. Eh. 

Saya kira ini pasti ulah orang-orang Jakarta. Saya ndak yakin subjek penelitiannya bukan orang-orang Jakarta. Kalo memang benar yang diteliti orang-orang Jakarta, ya wajar. Wong, trotoar disana bukan dibuat pejalan kaki tapi buat jalan alternatif, pangkalan ramalan jodoh, dan juga tempat penafsir mimpi. Duh.

Ya apa boleh buat, Jakarta adalah ibukota Indonesia jadi mau ndak mau representasi orang-orang Indonesia adalah orang-orang Jakarta. Lain ceritanya kalo ibukota sudah dipindah ke Palangkaraya atau Jayapura. Sa berani yakin justru Indonesia adalah negara paling rajin untuk kategori jalan kaki. Camkan itu, wong aseng. 

Masalahnya karena berita tersebut sudah terlanjur menyeruak ke dunia ketiga hingga kelima, jadilah Indonesia dilihat sebagai negara terpuruk.

Tapi, tunggu dulu. Dibalik berita yang menyedihkan tersebut ada yang senang juga lho. Siapa dia?

Produsen motor dan mobil. Sa berani yakin mereka bakal membuncah semangatnya begitu tau berita itu. Mereka akan semakin berlomba-lomba meningkatkan produksinya. Produksi ditingkatkan, kredit diberi harga murah. Kalo perlu pake DP 0% kayak beli rumah di Jakarta. Dan ditambah lagi embel-embel kendaraan irit bensin dan ramah lingkungan. Wah ya cucok itu dengan gaya hidup wong Indonesia. 

Pembuat jalan tol. Sa berani yakin kementerian PU semakin senang dan gembira ria. Mobil semakin banyak dan semakin sesak. Maka solusinya ya buat jalan tol. Kalo perlu seluruh Indonesia. Tak peduli kalo itu akan menggerus sawah, ladang, dan lahan semacamnya. Kan sembarang-sembarang kita sudah impor. Jadi ya ndak perlu khawatir kalo akhirnya kita perbanyak jalan tol. Teruskan kerjamu ya pak. 

Ojek online. Wah sa kira ini berita paling membahagiakan bagi mereka. Bakal menguntungkan dan meningkatkan pendapatan mereka. Lha, mereka menyediakan apapun tanpa perlu kita melangkah lebih jauh. Pergi ke kantor, ada ojek. Pesan makanan, ada ojek. Mau bersih-bersih rumah, ada ojek juga. Gilak, merambah semuanya. Ya kita senang-senang aja. Wong zaman sekarang harus dituntut cepat, tepat bahkan kalo perlu sikattt. 

Saya sebenarnya jadi ingat cerita istri saya saat berkunjung ke Tunisia. Ia bilang, para sopir taksi disana tak mau mengantar penumpang ke tempat tujuan jika jaraknya kurang dari 4 km. Kalo disini? Jangankan 3,5 km hambok kurang dari 1 km pun, ojek pun bersedia. 

Sampai kemarin Pak Djarot si Gubernur DKI bilang kepada para khalayak “Sekarang coba masyarakat kita untuk jalan kaki 50 meter aja, aduh susahnya setengah mati.” Nah, dia aja pesimis. Apalagi kita. 

Tapi katanya sekarang akses transportasi Jakarta sudah membaik terutama kereta api. Kalo ada area yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki, maka warganya terpaksa jalan kaki. Yakin pak? Kalo udah klik aplikasi itu gimana? Ya pada wae pak~

Sekarang juga musim-musimnya olahraga jalan sehat. Baik di kota besar maupun kota kecil. Itu saya kira imbauan yang keliru. “Semarakkan jalan sehat di Bundaran HI”. Ndak perlu dikasi tahu jjga kali kalo jalan itu sehat. Yang namanya jalan pasti sehat. Wong, manfaatnya juga banyak. Bisa meredakan stres, menurunkan berat badan, hingga berlatih olah nafas. 

Contohlah mereka yang mengikuti aksi bela ulama. Itu mereka jalannya jauh loh. Ada yang dari Ciamis ke Jakarta. Kaki mereka tak hanya sehat tapi juga membesar. Demi bela ulama, apapun dilakukan.

Contohlah juga Agus Mulyadi yang rela berjalan kaki dari kantor Mojok hingga Angkringan Mojok yang jaraknya (hanya) 6 km. Tapi tentu saja ada motivasinya. Demi bertemu penjual gorengan yang manis dan aduhai sebelah Angmo. Pas gerimis syahdu lagi. Hmm, ada udang dibalik rempeyek. 

Saya kira pemerintah harus kasih motivasi supaya orang-orang Indonesia gemar jalan kaki. Jangan hanya kasi motivasi gemar makan ikan pak. Jalan kaki juga penting. Seperti contoh di bawah ini.

“Semarakkan jalan kaki bersama pembaca Mojok dari Kantor Mojok hingga Bumi Perkemahan Kaliurang” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s