Apalah arti menulis

Menjadi penulis itu tidaklah mudah. Butuh ketekunan, kedisiplinan, dan ketelatenan dalam berlatih menulis. Saya merasakan dan mencoba itu semua. Walaupun tentu saja menurut saya hasil tulisan belum begitu baik. Bagus atau buruknya tulisan kita, silakan diserahkan pada pembaca yang menilai. 

Saya belajar nulis karena tak ada keahlian lain yang saya bisa. Kebetulan medio September 2016, saya bertemu dengan Rusdi Mathari. Wartawan senior sekaligus penulis idola saya. Saya banyak belajar dari beliau. Pesannya kalo mau menulis, ya menulis aja. Jangan sambil membaca apalagi mengedit. Selesaikan tulisanmu baru dibaca. Selain itu baginya menulis adalah mendongeng dalam bentuk kata-kata. 

Saat ini, saya hidup dari menulis. Mengirimkan ke banyak media. Walaupun tentu saja ada yang ditolak tapi ada juga yang diterima. Tak apa-apa. Proses pembelajaran. 

Taj semua orang mau dan ingin hidup dari menulis. Kenapa? Karena honorarium tak menentu dan selalu terbayarkan di luar tenggat. Ada yang beberapa hari tulisan dimuat, langsung dibayar. Tapi ada pula yang harus menunggu seminggu, sebulan bahkan berbulan-bulan. 

Itu yang saya khawatirkan. Mengingat dapur harus terus mengepul, saya harus banyak menulis. Sayangnya, kalopun udah dikabarkan dimuat ya kembali itu tadi. Agak seret dalam pembayarannya. 

Dilema bagi saya. Karena kebetulan saya menyandang master. Dan seharusnya saya jadi dosen. Tapi apa mau dikata hingga saat ini saya pun belum bisa jadi dosen. Mungkin saya bisa hidup dari menulis. Namun baik ortu maupun mertua berpandangan lain. 

“Jadilah dosen. Jadilah PNS, maka duniamu aman.”

Kalimat yang selalu mengganggu hati dan pikiran saya. Beberapa kali saya pernah terlibat proyek tulis menulis. Honorarium lumayan. Namun tetap saja, saya masih dianggap pengangguran. Bahkan suatu kali saya bertemu dengan kawan lama, saya pun dibilang pengangguran yang produktif.

Hey, apa saya salah menggantungkan hidup dari menulis? Mungkin iya. Sampai saat ini hidup penulis terkesan aman. Tapi tidak kaya. Begitulah kata orang-orang zaman lampau. Status pekerjaan sebagai penulis pun tak akan mampu mengangkat harkat dan martabatmu. Setidaknya itulah yang saya alami sekarang. 

Di dalam doa, saya selalu berharap kepada Tuhan. “Jadikanlah saya penulis”. Saya ingin mencari nafkah sesuai passion. Bisa jadi saya dikatakan egois. Tapi bolehkah kita berharap seperti itu? Toh juga saya tidak melakukan pekerjaan negatif. 

Teman saya pernah berkata, “manusia baru dikatakan pengangguran ketika ia berhenti berpikir”. Dan saya mencoba berpikir. Setidaknya pikiran itu saya tuangkan ke dalam tulisan. Termasuk tulisan yang saya tulis saat ini. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s