Lebaran


​Adzan dikumandangkan. Sayup-sayup suara muazin terdengar lirih, pelan, namun bersahaja. Seperti itulah suasana subuh. Namun kali ini lain. Ini adalah hari yang ditunggu seluruh umat Islam. Hari Idul Fitri. Hari yang mana semua manusia akan menyambut hari dengan senyuman. Senyum kemenangan. Tak terkecuali nenek tercinta.

Setelah menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan lamanya, mungkin baru kali ini sang Nenek kembali menjalankan sholat Idul Fitri. Beberapa tahun sebelumnya, nenek lebih banyak berdiam diri di rumah. Maklum, usianya yang semakin senja dan tulang yang mulai rapuh membuat nenek lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi kali ini lain.

Rumah seperti diberondong selongsong peluru. Mulutnya tak henti berkicau. Teriakannya menggema hingga membuat si ayam kesayangannya berkokok berulang kali. Beberapa burung seperti cekikikan. Pino dan Pinta, sepasang kucing yang biasa tidur di kursi tamu langsung keluar rumah. Mungkin kaget. Tak biasanya sang majikan berkicau bak nada mifasol.

Namun, beberapa dari kami justru tersenyum senang. Sang Nenek kembali bergairah, suaranya mengudara, matanya membelalak. Sungguh peristiwa yang jarang dilihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Maklum, sejak ditinggal si kakek, nenek lebih banyak duduk termenung, bahkan berdiam diri. 

“Aku wes kesel, gak pengen mikir-mikir maneh”

Kata-kata tersebut berulang kali diucapkannya ketika beberapa sanak saudara mencium pipi, tangan, dan kakinya. Perbuatan yang lazim kami lakukan ketika bertemu dengan beliau. 

Lantunan ayat suci Al Qur’an mengudara di samping jendela. Sebuah MP3 player sengaja kami persembahkan kepada nenek. Untuk menemani pagi, senja, bahkan malam. Kata nenek, saat ini hanya firman Dia yang mampu menentramkan hati dan menenggelamkan jiwa.

Fajar mulai menyingsing. Matahari perlahan bergerak. Sebagian sanak saudara bersiap dan bergegas menuju lapangan tempat kami menjalankan shalat Ied. Sebagian dari kami yang lain seperti saudara-saudara Nasrani, Katolik, Hindu hingga Buddha menyiapkan aneka kudapan dan minuman. Seperti itulah suasana keluarga kami saat berkumpul. Harmoni dalam kebhinekaan. Kata orang-orang, kami sering disebut keluarga Pancasila.

Nenek berjalan perlahan menuju lapangan. Setapak demi setapak. Sembari digandeng ibu, nenek berbicara banyak hal. Besaran angpau yang akan diberikan kepada anak dan cucu-cucunya, berapa kali beliau ikut buka bersama dengan teman-teman sejawatnya, hingga rumitnya mengurus Pinta karena akan melahirkan lagi sepasang anak kucing. 

Kami yang mendengarnya ikut tersenyum geli. Terkadang tertawa melihat tingkah laku nenek. Beliau banyak menggerakkan tangan-tangannya. Terutama saat bercerita tentang Pinta. Beliau sampai mempraktekkan bagaimana membelai, menggendong, hingga caranya memberi makan. Sungguh lucu.

Nenek duduk di samping ibu. Begitu pula dengan anak dan cucu perempuan lainnya. Kami yang laki-laki duduk tak jauh dari tempat nenek. Menyiapkan sajadah kemudian mengumandangkan takbir. Takbir kemenangan.

Khotbah Ied yang diucapkan sang ustadz berisi pesan-pesan damai. Pesan yang menyejukkan hati. Mendinginkan kepala. Bahwa tiap manusia wajib saling menghargai dan menghormati pendapat manusia lainnya. Bahwa tiap manusia wajib menghormati mayoritas dan melindungi minoritas. Pesan yang epik mengingat akhir-akhir ini banyak manusia suka membenci, menghardik, menghujat hingga menista. 

Khotbah berakhir. Kemudian kami saling bersalam-salaman. Mengucap maaf. Melantunkan kata-kata yang wajib diucapkan. Minal aidzin wal faidzin. 

Beberapa anak tak mau berjalan. Lebih memilih untuk berlari. Kami yang dewasa paham. Waktunya bergegas membali ke rumah. Menyiapkan amplop dan membagikan angao kepada mereka yang belum menikah. 

Tiba di rumah, kami sudah disambut dengan aroma masakan yang sungguh menyegarkan mata. Opor ayam, kupat tahu hingga rendang. Tak terkecuali bubur kacang hijau yang menjadi kudapan wajib selepas shalat Ied. 

Sebelum berbaris mengantri makanan, kami berdiri melingkar. Mulai dari yang tua di ujung kanan hingga yang paling muda di ujung kiri. Kursi-kursi disingkirkan untuk memberi ruang bagi kami yang berdiri. Kecuali nenek, beliau dipersiapkan kursi khusus berada posisi tengah sehingga bisa melihat seluruh sanak saudara. 

Kami mulai berjalan jongkok kemudian bersimpuh di pangkuan nenek. Ritual yang pasti kami lakukan. Ada kata-kata yang diucapkan. Ada doa yang dilantukan. Nenek selalu mengucapkan kata-kata yang sama. Saran sekaligus nasehat.

“Nak, hidup harus penuh dengan doa”

Ketika mendengar kata-kata itu, beberapa dari kami secara tak sadar mengeluarkan air mata. Menangis sesenggukan. Hati dan pikiran kami seakan terngiang pada perkataan almarhum kakek ketika lebaran beberapa tahun silam.

“Baik perkataan, pikiran, ucapan bahkan tindakan harus diawali dan diakhiri dengan doa. Karena doa adalah harapan. Doa adalah jalan Tuhan.”

Ritual tetap berlanjut hingga seorang cucu yang paling muda dicium pipi kanan dan kiri oleh nenek. Sang cucu tertawa. Kami pun ikut tertawa. Seorang dari kami mengabadikan momen tersebut dengan sebuah jepretan foto. 

Yang ditunggu tiba. Angpao dibagikan. Semua senang dan tersenyum. Kami lebih bahagia karena nenek ikut-ikutan memberikan angpao kepada seluruh sanak saudara. Tak terkecuali kami yang sebagian besar sudah berkeluarga. 

Sebelum acara makan-makan dimulai, sang nenek meminta kami berkumpul. Duduk melingkar. Nenek kembali duduk di kursi tengah. Punggungnya disandarkan. Kaki-kakinya yang kecil menapak di lantai. 

Angin berhembus semilir. Sinar matahari menyelinap masuk lewat ventilasi. Kicau burung terdengar nyaring. Pino dan Pinta berlari kesana kemari sebelum akhirnya diambil untuk dimasukkan kembali ke kandang. 

Nenek menghela nafas. Pelan. Kakinya disilangkan dari kiri ke kanan. Tangan kanannya ditaruh di lutut kirinya. Sorot matanya tajam namun sedikit layu. Kerudung yang dikenakannya dibiarkan terbuka. Rambutnya yang putih menyembul diatas dahinya. 

Kami menunggu. Sejenak suasana menjadi hening. Kami tahu, nenek pasti akan membicarakan sesuatu yang maha penting. Tapi tak satupun dari kami tahu apa yang akan dibicarakan. Kami hanya bisa menunggu.

Nenek kembali menghela nafas. Teratur. Ritme yang masih sama. Beliau mengambil gelas berisi air putih. Meminumnya hingga tandas. Kembali mengatur posisi duduk. Kami menunggu.

Nenek mencoba memejamkan mata secara pelan. Kemudian membukanya. Bibirnya agak gemetar ketika akan memberikan sebuah kalimat yang maha penting. Kalimat yang tentu tak akan dilupakan sepanjang hayat hidup kami. 

“Aku wes tuku kapling.”

Selamat Lebaran. Selamat mudik sampai tujuan. Selamat berkumpul dengan keluarga. Sayangilah dan peluklah nenek dan kakekmu selagi masih ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s