Setelah Tomat ditetapkan sebagai Sayuran

​Sejak lahirnya Adam hingga wafatnya Muhammad. Sejak runtuhnya Konstantinopel hingga bangkitnya kejayaan Eropa. Sejak runtuhnya Tembok Berlin hingga kemerdekaan Indonesia. Dan sejak munculnya demo 212 hingga kepergian sang Imam Besar dan Bapak Reformasi kita, maka diputuskan bahwa tomat adalah sayuran. Tak lagi bisa disebut buah.

Perdebatan apakah tomat termasuk sayuran atau buah memang mengalami pergulatan panjang dan tak kenal lelah. Hal tersebut diikuti pula dengan teman-teman nabatinya. Sebut saja timun, labu, dan paprika. Tak ketinggalan juga buah yang menjadi buah bibir di ensiklopedia perdebatan panjang abad 21. Terong dan cabai. 

Andaikan terong dan cabai juga termasuk sayuran, mungkin tak ada lagi sebutan terong-terongan ataupun cabai-cabaian. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Keputusan tomat menjadi sayuran tak lepas peran dari para petani, tengkulak, hingga eksportir maupun importir di Amerika. Ya, beberapa hari yang lalu menjelang memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan, Mahkamah Agung Amerika memutuskan untuk menetapkan tomat sebagai sayuran. Mengapa bisa begitu? Jika tomat masih tergolong buah, maka tomat akan dikenakan pajak impor 10%. Beda dengan sayuran. Tak ada persen-persenan seperti itu. 

Selain itu, jika tomat masih mahal maka masyarakat Amerika khawatir akan kondisi nutrisi kulitnya. Selain buat kesehatan mata, tomat juga berguna untuk memutihkan kulit dalam satu malam. Tak percaya? Cari saja di yutub dengan kata kunci “tomat memutihkan dan menghaluskan kulit”. Saya yakin hampir sebagian penontonnya bukan orang-orang Amerika. Melainkan Indonesia. 

Karena kita masih berpikir rasis. Bahwa hitam adalah hina dan putih adalah cita-cita. Kalo hitam adalsh cita-cita maka seharusnya iklan di Indonesia adalah krim menghitamkan kulit dan wajah. Ada yang berani? Saya malah yakin bahwa iklan tersebut akan menuai sorotan dari KPI.

Saya mulai berpikir bahwa perjuangan yang dilakukan Amerika patut diapresiasi.  Anda tahu sendiri kan bahwa AS adalah negara adidaya. Jika Amerika menetapkan sebuah keputusan maka negara-negara seluruh dunia akan mengikutinya. Percaya kan? Kalo belum saya kasih contoh terbaru. 

Amerika Serikat menetapkan bahwa Arab Saudi sebagai pusat anti radikalisme dan terorisme. Kemudian Iran dan Qatar adalah negara teroris. Nah, akhirnya semua negara pun mengikuti keinginan Amerika bahwa Iran dan Qatar harus dibumihanguskan. Mirip peristiwa Bandung Lautan Api di masa silam.

Nah kembali ke soal tomat.

Kalo tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka saya yakin Indonesia akan memberlakukan keputusan serupa. Indonesia kan negara pengikut dan toleran sama Amerika. Bukan begitu? Lha ya kalo ndak toleran, kan ndak mungkin Freeport bisa mengambil emas sejak zaman Bahula. Dipersilakan mengambil sebanyak-banyaknya. Kalo ada peraturan yang perlu diubah, segera diubah. Jangan ditunggu. Apalagi ditunda. Hukumnya haram kalo ndak tunduk sama Amerika.

Begitu toh?

Saya juga berpikir bahwa dengan tomat ditetapkan sebagai sayuran, maka Amerika bisa menginspirasi Indonesia bahwa banyak perdebatan panjang yang perlu diteliti. Indonesia bisa belajar bagaimana menampilkan perdebatan panjang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tak perlu lagi ada perdebatan Al Maidah, Obrolan Porno, Kriminalisasi ulama, hingga soal tulisan warisan. Indonesia bisa mencari perdebatan panjang yang lain. 

Misal apakah Hamish Daud pantas sebagai calon suami Raisa. Eh bukan ding. Misal kayak penentuan apakah wajah bulan itu berupa kelinci atau kepiting. Itu lebih layak.

Mungkin juga perdebatan macam telur dan ayam. Mana yang lebih dulu ada. Telur atau ayam? Kalo pake logika ekonomi seharusnya telur lebih dulu daripada ayam. Karena harga telur lebih murah daripada ayam. Saya berkata begini karena sudah update masalah harga menjelang lebaran. 

Atau mungkin Indonesia cari perdebatan yang lebih layak. Seperti apakah mobil Esemka baik untuj mobil kepresidenan atau tidak. Apakah listrik kedondong baik untuk kebutuhan listrik atau tidak. Itu kan lebih prinsipil dan siapa yang tahu jika penemuan dari anak bangsa justru mengharumkan nama Indonesia di cakrawala dunia.

Namun, sekali lagi semua yang ada di dunia ini tak lepas dari kepentingan ekonomi. Tomat ditetapkan sayuran karena masalah ekonomi. Reformasi 98 karena masalah ekonomi. Arab Saudi menyerang Qatar juga karena masalah ekonomi. Dan yang paling gres. Persoalan baik atau buruknya sekolah 5 hari juga terkait dengan ekonomi.

Karena kita selalu mengacu bahwa beda pendapat adalah beda pendapatan maka segala perdebatan yang ada di dunia ini tak lepas dari masalah ekonomi. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s