PPKN dan Betadine

Tanggal 1 Juni. Semua lini masa pasti lagi ramai tentang obrolan Pancasila. Ya wajar. Ini kan hari Pancasila. Kamu akan dianggap bukan sebagai bangsa Indonesia apabila gak buat status atau cerita tentang Pancasila. Ye, kan?

Nah omong-omong soal Pancasila. Dari kemarin di beranda saya bertebaran tulisan yang berbunyi “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Setahu saya, orang pertama kali yang berucap seperti ini adalah Bapak Presiden Indonesia. Joko Widodo alias Jokowi. Nah, kemudian ditiru netizen seluruh Indonesia hingga dijadikan status nasional.

Ada yang menyetujui. Ada pula yang mengkritik. Ada yang mendukung. Ada pula yang menolak. Ya tidak apa-apa. Sekarang zaman yang mana manusia memiliki hak kebebasan berpendapat. Kebebasan berekspresi. Begitulah yang terangkum dalam pasal 28 D dan E UUD 1945.

Nah, disini saya tidak akan cerita seperti apa makna “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Biarkan orang-orang yang lebih ahli atau pakar dalam menguraikan makna kata-kata tersebut. Toh, Indonesia kan banyak orang hebat. Bakat terpendam, pintar mencuat. Akal tertindas, goblok meluap.

Saya akan bercerita tentang bagaimana pelajaran PPKN adalah pelajaran yang tidak cukup mudah untuk diresapi dan dihayati oleh sebagian kalangan. Terutama anak-anak SD. Hal ini terbukti dengan cerita pendek yang memiliki nilai PPKN. Menurut saya, PPKN adalah pelajaran multitafsir.

Dulu, saat akan ujian caturwulan, setiap mau masuk kelas, kami disuruh berbaris layaknya tentara. Presensi dahulu sesuai abjad. Masuk satu per satu. Kemudian duduk sesuai tempat yang telah diatur.

Kebetulan saat itu, kami sedang menghadapi ujian PPKN. Bagi sebagian anak, mungkin ini ujian termudah dibandingkan mata pelajaran bahasa Indonesia atau matematika. Tapi bagi saya, justru ini adalah mata pelajaran yang amat menjebak.

Kenapa begitu? Jawabannya hampir2 mirip. Jawaban benar atau salah semuanya semu. Abstrak hingga sulit diprediksi. Tak ada yang pasti. Tentu butuh konsentrasi tinggi. Logika yang masuk. Asupan gizi yang baik serta dilengkapi otak encer.

Saya masih ingat saat itu ada 3 bagian pertanyaan. Pertama, jawaban pilihan ganda. Kedua, jawaban isi tanpa perlu penjelasan. Maksudnya singkat, padat, dan jelas. Ketiga, jawaban isi dengan penjelasan.

Kalo bagian pertama, mungkin bagi sebagian anak akan menjawab dengan mudah. Pilihan ganda. Tinggal memilih. A, B, C, atau D. Kalo ga yakin, hitung dengan jari tangan. Ga yakin lagi, hitung dengan kancing baju. Masih ga yakin? Tutup mata. Kemudian jatuhkan pensil dari atas. Kemana pensil jatuh ke huruf terpilih, maka itu jawaban yang dilingkari.

Masih ada ga ya yang menerapkan kayak gitu? Kayaknya udah ga ada ya? Kan semuanya berbasis komputer. Toh sekarang pendidikan semakin berkembang. Jika misal masih ada yang menggunakan metode seperti itu, maka sekolahmu bisa saja dianggap tertinggal.

Nah, saat mengerjakan soal terlihat banyak anak diam. Paling ada beberapa yang gusar dan celingak-celinguk. Toh, wajar. Mungkin anak-anak sedang cari wangsit. Berharap jawaban runtuh dan terisi semua. Seperti saya.

Bagian kedua. Terdiri dari 10 pertanyaan. Jawaban harus secara singkat, padat dan jelas. Kalo bisa jangan lebih dari 5 kata. Kalo yang ini tak butuh jawaban yang ndakik-ndakik atau pakai kata-kata sulit. Asal ada yang terlintas di pikiran, kemudian jawablah dengan yakin. Seyakin-yakinnya.

Bagian ketiga. Nah ini dapat dikatakan tipe soal susah mudah, mudah susah. Karena bisa dipastikan, kita harus pandai mengarang jawaban. Bukan menulis jawaban. Berpikir gimana caranya menjawab dengan terstruktur dan sistematis.

Aneh dan unik. Mungkin karena sejak kecil kita dituntut mengarang cerita, tak heran besarnya kita suka mengarang cerita. Entah benar atau hoaks. Kebetulan efeknya hingga hari ini. Entah sistem pendidikan yang salah atau kami yang kurang pandai menerima sistem pendidikan modern.

Bagian ketiga dilewati dengan susah payah. Dahi lebih banyak mengernyit. Mulut lebih sering mencucu. Mata lebih payah untuk dikucek. Otak lebih cepat panas. Tangan lebih mudah lelah. Tapi, akhirnya semua usai.

Jawaban dikumpulkan. Secepat kilat guru-guru mengkoreksi jawaban kami. Ada yang tersenyum. Ada yang tertawa. Tapi ada pula menahan amarah. Pelbagai macam ekspresi diperlihatkan oleh guru-guru. Mungkin mereka bangga atau justru mereka heran dengan jawaban murid-murid.

Tiba saatnya hasil ujian diumumkan. Rata-rata teman saya mendapat nilai bulat. Antara angka 5-10. Kecuali saya. Ada nilai setengah pada kertas jawaban saya. 7,5.

Saya bingung. Mencari soal dan nomor. Ada salah satu nomor yang dilingkari merah. Tidak biasanya soal dilingkari merah. Jika pun ada yang salah, nomor tersebut akan disilang.  Ah ternyata ada di bagian kedua. Isian langsung. Jawaban saya benar tapi kurang tepat.

Pertanyaannya begini, “Jika kamu melihat temanmu terjatuh, maka kamu harus….”

Nah, jawaban yang tepat adalah “menolong”. Sedangkan jawaban saya berbeda. Apa itu?

“Memberi betadine”.

Makanya saya dapat nilai setengah. Bener sih. Tapi kurang tepat. Ya itulah PPKN. Semuanya multitafsir.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s