21 Mei

21 Mei. Ini adalah salah satu tanggal yang selalu diingat dan dikenang oleh masyarakat Indonesia. Terutama tanggal 21 Mei 1998. Kenapa begitu? Karena pada tanggal tersebut, wajah Indonesia berubah. Dari orba menjadi reformasi. Ngerti kan reformasi?

Jangan-jangan kamu ga ngerti apa itu reformasi? Jangan-jangan yang kamu ingat bahwa 21 mei bukan hari kelahiran reformasi melainkan hari kelahiran yang lain. Loh, siapa? Secara kebetulan tanggal 21 mei adalah hari kelahiran beberapa orang terkenal. Seperti si pemain Juventus Mario Mandzukic, aktor ganteng Darius Sinarthya dan aktris cantik yang sedang naik daun Tatjana Saphira.

Oh iya kurang satu, penulis cum-idola masa kini. Sama seperti Tatjana, blio juga sedang naik daun. Hingga menghasilkan buku best seller di Indonesia. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Tere Liye. Tau kan? Kalo nggak tau ya kebangetan. Mungkin mainmu kurang jauh dan bacaanmu kebanyakan hoaks. 

Ngomong-ngomong soal reformasi, apa sih sebenarnya reformasi? Saya mencoba menjelenterehkan. Kalo dilihat secara etimologi kan berarti re itu ulang dan formasi itu susunan. Jadi reformasi adalah susunan ulang. Benar begitu? Benar atau salah ya suka-suka saya. Kalo kata reformasi, era sekarang adalah eranya kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ye kan?

Tapi apa yang disusun ulang? Sistem negara Indonesia? Susunan kabinet menteri Indonesia? Atau berita-berita yang semakin hari semakin absurd saja? Yang mana mau direformasi? Salah satunya? Atau justru ketiga-tiganya?

Waw, tunggu dulu. Mari kita bedah satu per satu.

1. Sistem negara Indonesia. Kamu yakin mau menyusun ulang sistem negara Indonesia? Lha, kamu siapa? Mahasiswa yang gemar bakar ban di jalan? Atau rakyat yang suka menyebar kebencian? 

Asal kamu tahu, sistem negara kita berbentuk Republik. Lebih lengkap lagi yang sering didengungkan orang-orang. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi ya wajar beberapa saat yang lalu ada ‘mitos’ pembubaran salah satu ormas yang katanya juga besar di Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia.

Mereka memiliki ide tatanan negara Indonesia harus diganti khilafah. Dengan sistem itu maka rakyat Indonesia dijamin masuk surga. Wow. Sapa yang tak mau sih masuk surga? Enak ya, mereka sudah punya kavling di surga. 

Tapi masalahnya begini, mereka ya dibilang anti Pancasila. Dianggap makar kalo pengen mengubah tatanan negara. Ada lo Undang-undangnya. Kita ini Pancasila. Sila kelima itu jelas. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Adil buat yang kaya semakin kaya. Dan yang miskin semakin miskin. Emang khilafah bisa begitu? Kalo iya saya dukung! Serius. Semoga bisa menang di peradilan yaaa.

2. Susunan kabinet menteri Indonesia. Nah kalo ini apanya yang mau disusun ulang? Orang-orang di kabinet? Atau pergantian sebutan nama kementerian? Karena ini era reformasi, mari kita menyalurkan pendapat. Memberikan gagasan. Atau mengeluarkan ekspresi. Sapa tau melalui suara rakyat, susunan kabinet menteri Indonesia bisa berubah. Dari Andrew Gardfiled menjadi Spiderman. Dari Hugh Jackman menjadi Logan. Dari Indonesia Hebat menjadi Indonesia Hebat Sekali. 

Tapi apa mampu suara rakyat bisa tembus ke pemerintahan? Jangan-jangan ada adagium seperti ini. Suara rakyat boleh ditimang tapi suara presiden yang boleh dipegang. Lho kok begitu? Itu mah sama aja fasis. Katanya era reformasi yang demokratis punya slogan dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Mungkin kamu lupa bahwa presiden kan mantan rakyat. Jadi suara kita terwakili oleh presiden. Kan sama saja. 

3. Berita absurd. Nah kalo ini mungkin boleh lah disusun ulang. Banyak berita berseliweran tak jelas dan tak bersumber. Asal denger dari orang, langsung saja diamini bahwa berita tersebut adalah sebuah kebenaran mutlak. Padahal ya belum tentu loh. 

Tapi karena dasarnya kita malas baca atau mengecek sumber-sumber lain makanya langsung saja diputusi kalo berita itu sebuah kebenaran hakiki. Disebar ke grup WA, Line dan sebagainya. BOOM. Sepelemparan pepaya California maka berita tersebut menjadi kebenaran tunggal. 

Boleh dipercaya atau tidak, kita kan malas untuk mengklik 2x. Misal kamu membagikan berita. Judulnya bombastis. “Ahok Masuk Islam”. Trus kamu kasih narasi yang agak provokatif gimana gitu. “Karena masuk Islam, Ahok tak lagi dipenjara.” Wah dijamin berita tersebut menjadi viral di Indonesia bahkan dunia. 

Padahal mungkin saja, saat kita buka beritanya bahwa ternyata Ahok sedang mengunjungi salah satu rumah orang Islam. Atau ternyata Ahok sedang berkunjung ke Masjid. Tapi, tapi, karena fakor kita yang mudah terpukau oleh judul tanpa memperhatikan isi jadilah kita manusia yang absurd juga, 

Benar bahwa, jangan lihat buku dari sampulnya. Ya persis. Jangan lihat berita dari judulnya. 

Toh sebagai masyarakat Indonesia, kita sepatutnya bersyukur. Di era semakin absurdnya keadaan negara, kita masih bisa menikmati kebebasan. Apa itu? Kebebasan menikmati makanan impor. Mengendarai kendaraan impor. Memegang gawai impor hingga mengkritik politisi impor. Maaf, yang terakhir sedang hijrah ke Arab Saudi. 

Dan sesungguhnya jika setiap tanggal 21 Mei kita menyanyikan Darah Juang maka sudah saatnya kita menyanyikan lagu paling ngehits abad ini. Katanya juga lagu impor lho.

“Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya. Ku rela kau dengannya, Asal Kau Bahagia”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s