Rock

Sejak kecil saya diperkenalkan musik oleh bapak saya. Mungkin saat itu saya baru berusia 6 tahun. Oleh bapak, saya diajak mendengar musik bergenre rock. Macam Deep Purple, Led Zeppelin, Scorpion, dan sebagainya. Saya hanya ikut mengangguk-angguk apabila bapak menggoyangkan kepala. Walaupun saya tak mengerti apa pentingnya tapi saya melihat bapak sangat menikmati ritme musik seperti itu. Terutama lagu Smoke On the Water dari ‘Deep Purple’ dan Rock and Roll dari ‘Led Zeppelin’.

Selain itu, saya juga diajak mendengar lagu-lagu macam Yes atau Genesis. Menurut bapak saya, musik mereka tergolong progressive rock atau prog rock. Bagi saya justru tidak. Nada rumit dan diulang berkali-kali. Membosankan. Tapi sekali lagi musik itu persoalan selera. 

Kala itu saya juga terkagum-kagum dengan petikan gitar Jimmy Page dalam lagu Stairway to Heaven. Konon katanya, jika membaca lirik tersebut dari belakang maka akan terbaca seperti ritual pemujaan setan. Entah itu benar atau salah. Saya pun tak peduli. Saya lebih peduli dengan bapak yang memainkan lagu tersebut cukup fasih dengan gitar kesayangannya. Gitar Yamaha tahun 1977.

Bapak sangat sayang terhadap gitar itu. Saat saya mencoba gitar untuk pertama kalinya, bapak berpesan “Gitar jangan digenjreng, tapi dipetik”. Saya mengiyakan saja. Lagu pertama yang diajarkan oleh bapak yaitu Stairway to Heaven. Aneh. Pemula kok disuruh belajar yang susah-susah. Saya lebih baik mencoba lagu Bintang Kecil atau Ilir-Ilir. Tapi ya gimana, tiap pagi mendengar lagu legendaris itu jadi mau ga mau terus mencoba mendendangkan lagu Stairway to Heaven.

Meskipun begitu tetap saja sampai saat cerita ini dibuat, saya masih tidak fasih memainkan lagu legendaris itu. Kalo dalam film, mungkin kita bisa menyebutkan Shawsank Redemption. Sama-sama legendarisnya.

Pada waktu itu saya bersikeras dan memohon kepada bapak untuk benar-benar bisa bermain gitar. Akhirnya bapak menyuruh saya mendengarkan seorang gitaris ternama. Joe Satriani. Belio adalah guru dari Steve Vai dan Kirk Hammet, gitarisnya Metallica yang mau datang ke Jakarta di tahun ini. 

Pertama kali mendengarkan Joe Satriani saat bapak memutarkan lagu Always with me, Always with you. Menurut saya itu lagu fantastis. Petikan brilian. Dan sekali lagi, bapak mampu memainkannya dengan cukup apik. Saya heran bagaimana bapak bisa sangat fasih memainkan dua lagu tersebut. Dahi saya mengernyit. Ternyata bapak hanya mendengarkan lagu melalui kaset sambil memetik senar untuk mencari nada pas. Otodidak.

Setelah itu, berturut-turut bapak sering memainkan gitarnya dengan lagu-lagu dari ketiganya. Joe Satriani, Deep Purple atau Led Zeppelin. Berulangkali. Kadang saya bosan juga. Lagu kok itu-itu saja. 

Kebosanan tersebut terobati dengan maraknya musik macam Greenday, Blink 182, SID, Netral ataupun Endank Soekamti. Ya, zaman SMP saya berusaha memainkan salah satu lagu dari band tersebut. Mereka tergolong punk rock.

Kalo kalian satu generasi dengan saya, pastinya waktu SMP wajib memainkan lagu-lagu dari mereka. Gaya vokal ala Billy Joe Amstrong, raungan gitar ala Tom DeLonge atau ritme bermain drum ala Travis Barker yang super cepat. Bisa meniru gaya mereka maka level bermainmu sudah level dewa langit.

Tapi kalo anda sedang pegang gitar, anda akan dianggap master jika memainkan melodi ini. Sweet Child O Mine dari Guns N Roses. Ohh, para penonton akan tunduk dan menyembah anda. Zaman saya itu lagu wajib di setiap festival band. Kalo lagu Indonesia, kita harus fasih memainkan melodi dari lagu Jengah-Pas Band. Itu juga lagu wajib untuk para gitaris.

Saya juga mengikuti tren. Mencoba memainkan lagu mereka. Salah satunya Basketcase dari Greenday. Saya langgar aturan dari bapak. Menggenjreng. Eh, tiba-tiba senar paling atas putus. Ah, saya merasa bersalah. Saya malu untuk lapor namun bapak lebih cepat tahu. Bapak hanya berkata “Sejak gitar ini dibeli, baru kali ini bapak ganti senar. Lain kali hati-hati kalo bermain gitar.” Dan itu terjadi tahun 2012. Rentang tahun yang cukup lama.

Sekarang zaman berubah. Rock memang tak semeriah zaman saya dahulu. Banyak band-band baru yang telah menggantikan arena rock. Payung Teduh, Maliq D’Essetials hingga Last Child. Era juga berubah. Rock tak (lagi) menggema.

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba nostalgia dengan memainkan lagu yang bernuansa rock di teman-teman segenerasi saya. Highway to Hell dari AC/DC. Kalo anda penggemar rock, pasti wajib tahu lagu tersebut. Lagu yang membuat gitarisnnya si Angus Young kehabisan oksigen. Saat masuk bait pertama, teman saya nyeletuk, 

“Jangan kamu memainkan lagu itu!”. Suaranya kencang. Pekiknya terdengar nyaring di telinga sebelah kiri. Mungkin dia pikir saya salah nada dasar atau suara saya fals. Ternyata tidak.

“Emang kenapa mas?” Saya coba bertanya secara pelan sembari menghentikan genjrengan gitar.

“Itu lagu setan. Masak lagu menyuruh kita pergi ke neraka. Nanti kamu kafir!!”

Saya terdiam. Celakep plus mingkem. Saya hanya mbatin “ternyata kafir ada dimana-mana.” Daripada merusak suasana dan dikira tidak hormat pada senior maka saya berpikir untuk ganti lagu bukan rock. Lebih woles. Sheila On 7. Grup band paporit dari Yogya.

Saya memilih lagu Bunga di tepi jalan. Mengatur posisi duduk. Menaruh gitar di pangkuan paha. Memulai dengan petikan pertama hingga memasuki reff. Namun tiba-tiba senior saya meletakkan tangan kanannya tepat di bolongan gitar. Saya pun tak dapat menggenjreng.

“Kenapa mas?” Sekali lagi saya bertanya dengan pelan. Semoga tidak tersinggung kali ini.

“Kenapa kamu memainkan lagu itu? Katanya penggemar rock!” Lagi-lagi menghentak dengan suara keras.

“Oh itu.. saya sebenarnya ada lagu mirip kayak gitu cuman ga terlalu hafal lirik dan ga ngerti cara nyanyinya mas. Daripada lupa mending memainkan lagu Bunga di tepi jalan.” Saya mencoba berdiplomasi.

“Emang apa judulnya?” 

“Bunga yang dibakar.” Kemudian hening.

Advertisements

3 thoughts on “Rock

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s