Jogjakarta Rasa Padang

​Foto: Dokumen Pribadi

Barang dagangan mulai digelar. Nasi bungkus berbentuk kerucut tertata dengan rapi. Delapan ke bawah dan lima ke samping. Total ada 40 buah. Selain itu, ada pula sate-sate yang tersusun dengan epik. Ada sate puyuh dan sate usus. Sungguh menggoda mata dan memanjakan lidah. Apalagi ditambah tempe kemul yang berukuran telapak tangan dewasa. Lengkap sudah sajian pada malam itu. 

Letaknya berada di pusat kota Yogyakarta. Kamu tak perlu repot untuk mencarinya. Tunggu saja pukul 11 malam. Maka lapak mulai digelar tepat di depan pintu Mall Malioboro. Tak ada papan nama. Tak ada papan petunjuk. Namun orang seringkali menyebutnya Angkringan Padang.

Diberi julukan Padang pun oleh para pelanggannya. Usut punya usut, penjualnya asli orang Padang. Tak hanya itu, jika kamu membeli nasi bungkus maka yang tersaji didalamnya adalah nasi dan lauk angkringan pada umumnya. Perbedaannya hanya satu yaitu menggunakan sambal merah khas Padang. Lauknya pun berbagai macam. Ada T2, TB, TJ, dan masih banyak lainnya. Apa itu?

Kamu mungkin bingung. Saya pun demikian. Setelah saya menanyakan singkatan tersebut pada sang pemilik maka saya menemukan jawabannya. T2 berarti Teri dan Telur, TB berarti Telur Balado, TJ berarti Teri/Telur Jengkol. Sebenarnya masih banyak variannya. Sayangnya, karena saya sangat lapar maka saya hanya memperhatikan ketiga menu tersebut.

Duduk lesehan arah melingkar. Seperti sedang berdiskusi. Tapi kali ini lain. Dihadapan saya ada satu buah nasi T2, 3 tempe kemul dan es teh tawar. Saya hanya ingin menikmatinya. Suapan demi suapan. Gigitan demi gigitan. Dan tegukan tegukan. Menikmati teri, nasi dan menyantap telor secara bersamaan. Setelah sedikit penuh didorong dengan es teh tawar khas angkringan Padang. Sempurna.

Saya benar-benar merasakan suasana Jogjakarta di malam itu. Rame tapi tak berisik. Cerah tapi tak berawan. Sibuk tapi tak sendiri. Semua berkelindan menjadi satu. Saling tegur sapa. Saling memberikan informasi baik. Ini yang mungkin diucapkan oleh Joko Pinurbo bahwa Jogja terdiri dari 3 hal. Rindu, Pulang, dan Angkringan.

Saya benar-benar menghayati apa itu Jogjakarta. Sesuai dengan slogannya. Berhati nyaman dan istimewa. Kalo kata Kla Project, ada setangkup haru dalam rindu. Rindu Jogjakarta itu rindu dengan kesederhanaan orang-orangnya. Saling senyum tanpa ada intrik. Saling tertawa tanpa ada tabir kepalsuan. 

Inikah yang dinamakan pulang ke Jogjakarta ? Ya, tepat sekali. Menyusuri loronh dari rel kereta api menuju benteng Vredeburg. Melewati lintasan pedagang yang mulai berkemas. Menikmati sajian musik lokal dari para musisi jalanan. Sungguh ini malam yang istimewa bagi saya.

Saya berani bertaruh, suasana seperti ini tidak bisa dinikmati setiap malam. Terlebih Jogjakarta berkembang pesat. Malioboro yang pada sejarahnya merupakan taman bunga telah berubah menjadi taman kota. Tempat duduk lebih banyak daripada bunga-bunga yang ditanam. Simbol kebesaran tentang bunga-bunga telah tergantikan dengan simbol kemoderenan tentang tempat singgah. 

Toh, sebenarnya itu juga baik. Jogjakarta memang harus mengikuti perkembangan zaman. Manusia semakin banyak. Kepadatan penduduk makin bertambah. Predikat Jogjakarta sebagai kota dengan tempat tinggal ternyaman di Indonesia menjadi salah satu akarnya. Orang-orang yang memasuki usia senja lebih mengakhirkan hidupnya di Jogjakarta.

Tapi tak semua perkembangan zaman harus diikuti. Jogjakarta yang terkenal dengan sajian alam, jangan sampai mengekor kota lain dengan sajian beton. Cukup alam yang menjadi primadona. Bukan beton yang menjadi daya tariknya.

Namun tampaknya terlambat. Jogjakarta telah berjalan dengan cepat. Mau tak mau daripada selalu dikatakan tertinggal dari kota besar lainnya maka Jogja harus berkembang. Ini bukan permasalahan peningkatan hunian beton. Ini masalah penyesuaian. Memang masih ada yang mau tinggal dalam rumah kayu seperti zaman raja dahulu? 

Nah, kalo soal rasa, bolehlah berubah. Terkadang lidah selalu ingin mencoba makanan yang baru. Apalagi angkringan ini. Mana ada yang menawarkan makanan macam ini. Saya kira Pakde (sebutan untuk pemilik Angkringan Padang) memang ingin mengakuluturasi lidah masyarakat Jogja. Terbiasa dengan nasi sekepalan tangan namun dipadu dengan sambal merah khas Padang. Akulturasi yang berhasil. Cita rasa lidah Jogja dibarengi dengan pedasnya sambal. 

Seorang teman berkata, “setelah malam ini, mungkin aku akan menjadwalkan makan di angkringan ini seminggu 3x”. Namun saya berseloroh, “kalo dirimu seminggu 3x, maka aku akan kesini tiap malam”.

Pakde berhasil memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bahwa tak hanya busana yang melalui proses akulturasi melainkan juga makanan pun mampu. Itu semua hanya tersaji di Angkringan khas Padang milik Pakde.
Nb: Tersenyumlah ketika melihat Pakde karena belio adalah mantan orang penting di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s