Aliran

Ilustrasi oleh Djarwo

Ketika saya berkuliah di Malang, teman saya pernah berujar “Hati-hati terhadap aliran Wahabi mod. Bahaya. Nanti kita ndak boleh tahlilan dan ziarah kubur.” Saya belum ngerti maksudnya. Toh kebetulan saya adalah orang awam yang jarang tersentuh dan mendengar aliran-aliran seperti itu. Jadi saya hanya berkata kepada teman saya, “Oke, saya akan hati-hati.”

Kemudian, suatu saat kembali ke Jogja, ketika reuni dengan teman-teman masa kecil, salah satu teman berkata, “Gimana kuliah di Malang mod? Pokoknya tetap waspada dan hati-hati. Terutama dengan aliran Syiah. Itu bukan ajaran Islam.” Saya hanya mengangguk saja dan sejurus kemudian berkata, “Oke, saya akan hati-hati.”

Secara kebetulan, cerita pertama adalah obrolan saya dengan sahabat NU. Cerita kedua adalah obrolan saya dengan kawan Muhammadiyah.
Sampai sekarang pun saya nggak ngerti mana yang lebih sesat. Wahabi atau Syiah? Atau kedua-keduanya sama-sama sesat? Atau justru kedua-keduanya sama-sama benar? Mungkin kamu lebih paham.

Suatu hari, seorang dosen pernah mengatakan sesuatu kepada saya. Kalo NU itu Syiah kultural. Maksudnya adalah beberapa kultur seperti memukul bedug, tahlilan, ziarah kubur agaknya lebih dekat dengan budaya Syiah. Makanya tak heran budaya tersebut sampai sekarang masih dilestarikan oleh sahabat-sahabat NU. Toh asal tujuan itu baik, saya pikir tak apa-apa. Bagus.

Kemudian, beliau juga pernah mengatakan seperti ini kepada saya. Kalo Muhammadiyah itu Wahabi Organisasi. Maksudnya adalah kawan-kawan muhammadiyah lebih dekat dengan gaya organisasi macam Wahabi. Kayak memajukan lembaga pendidikan, rumah sakit, dan sebagainya. Makanya tak heran secara organisasi modern, Muhammadiyah dianggap mampu mengendalikan itu semua. Toh asal tujuan itu baik, saya kira juga tak apa-apa. Bagus.

Benar atau salah ucapan dosen saya itu, saya kira memang demikian adanya. Kalo menteri agama ya jatahnya NU dan kalo menteri pendidikan ya jatahnya Muhammadiyah. Itu sudah kepastian tak tertulis. Eh.

Yang saya bikin sedih adalah terkadang bahkan sampai sekarang, ‘mereka’ sama-sama meyakini bahwa alirannya paling ‘tepat’ dan ‘benar’. Kayak contohnya begini, “Islam Indonesia adalah Islam Nusantara yang Berkemajuan.” Nah yang satu lagi ga mau kalah. Bilangnya begini,” Islam Indonesia adalah Islam Berkemajuan yang bersifat Nusantara.” Nah kan. Kalo sudah begini gimana? Apa ya iya masih selalu saja saling mengunggulkan slogan tersebut?

Mbok ya itu dilihat, ada beberapa tokoh agama dipenjara akibat membela soal tanah di Lampung. Itu juga dilihat bagaimana suku Anak Dalam sudah mulai hilang tempat tinggalnya karena pembalakan liar di Riau. Atau itu lihat nasib suku Amungme Papua yang terlempar dari tanahnya sendiri akibat urusan Freeport ndak kelar-kelar.

Atau itu aja wes, masalah semen di Rembang. Mbok ya advokasi sana. Jangan malah silat lidah di media sosial aja. Atau jangan-jangan ‘mereka’ malah mendukung pembangunan pabrik semen?

Kalo soal gini aja diem. Mungkin benar kita lebih disibukkan mengkafirkan yang Islam daripada mengIslamkan yang kafir. Tetapi, siapa yang dianggap kafir?

Kalo menurut saya, Siapa saja yang menutup perintah Tuhan untuk membantu dan menolong sesama manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s