Sampah, Nyampah, dan Sumpah Serapah

Peradaban manusia semakin berkembang. Teknologi informasi kian pesat. Pertumbuhan ekonomi merangkak naik. Pembangunan berkelanjutan menjadi garda terdepan. Namun, kelestarian lingkungan justru semakin tertawan.

Pembangunan berkelanjutan adalah lawan dari kelestarian lingkungan. Kalo yang satu berkembang, yang lain terbelakang. Begitu juga sebaliknya. Peristiwa sengketa tanah di Kulonprogo, pembangunan semen di Rembang, hingga penggerusan tanah di Kalimantan adalah rentetan peristiwa mutakhir yang hadir di lini masa.

Lalu siapa yang berhak disalahkan?

Ini menjadi polemik yang tak kunjung usai. Menelisik kedua tema itu tak ubahnya harus melihat dari sisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Semua berkelindan sehingga satu sama lain tak terpisahkan. Baik pemerintah maupun masyarakat berperan dalam polemik tersebut.

Sebenarnya untuk berbicara tentang kelestarian lingkungan tak perlu jauh mengamati konflik agraria maupun ekologi seperti contoh di atas. Kita sebagai manusia terkadang alpa untuk mempraktekan apa yang dimaksud dengan kelestarian lingkungan.

Membuang sampah pada tempatnya adalah hal sepele namun itu sulit dilakukan. Disadari atau tidak, banjir terjadi karena banyaknya sampah yang menumpuk di sungai atau selokan. Kita seringkali malas untuk membuang sampah pada tempatnya.

Selain itu, banjir juga diperparah dengan masifnya perkembangan hutan beton di kota tersebut. Jogjakarta misalnya. Tahun 2016, IMB untuk membangun apartemen atau hotel sudah memasuki antrian ke 80 lebih. Bayangkan apabila izin tersebut disahkan semua. Dan bisa kita bayangkan dalam 10 tahun mendatang, Jogja bisa tenggelam. Menyeramkan.

Menanam tumbuh-tumbuhan atau pohon. Ini sudah sangat sulit dilakukan karena lahan makin sempit. Semakin bertambah ledakan populasi manusia maka semakin berkurang lahan pertanian. Ini diperparah pula (maaf) kemana lulusan pertanian? Mungkin sangat jarang ditemukan lulusan tersebut kembali untuk menjadi petani. Bahkan lebih miris lagi ternyata jurusan pertanian paling sedikit peminatnya dalam SBMPTN 2016. Oh, sungguh ironi.

Jujur saja, saya paling tidak suka melihat orang buang rokok sembarangan. Mbok ya dibuang di tempat sampah atau gimana gitu. Tapi ya mau gimana lagi, cukai rokok adalah pendapatan utama dan terbesar bagi perekonomian Indonesia. Jadi sebenarnya ya wajar dong jika mereka melakukan hal seperti itu. Kekurangan masyrakat ditutupi dengan kelebihan perusahaan memaksimalkan potensi cukai rokok.

Sebenarnya, saya cukup muak dengan teori-teori lingkungan yang harus begini begitu. Atau bualan pemerintah bahwa dunia lebih-lebih Indonesia sedang mengalami degradasi lingkungan, satwa langka ditelantarkan, dan lainnya. Tapi apa? Ya tetep saja gitu-gitu aja toh.

Beberapa tahun yang lalu, di Jagakarsa, Jakarta Selatan ada peringatan hari bumi. Semua warga di kelurahan tersebut diharapkan hadir mengingat banyak pejabat pemerintah yang datang. Acara berlangsung khidmat sampai momen yang paling penting. Menanam sebatang pohon demi kelestarian lingkungan.

Acara dan momen yang cukup bagus. Setelah berakhirnya acara tersebut, sekop dan beberapa peralatan lain ditinggalkan begitu saja. Lokasi banyak sampah. Ketika ada seorang warga berusaha membantu dan menegur warga lain, dirinya terhenyak dengan jawaban beberapa dari mereka.

“Sudahlah pak, biarkan petugas kebersihan saja. Ini biar menjadi tanggung jawab mereka. Masak mereka ga kerja? Gaji buta dong.”

Ia dan beberapa warga yang membantu cukup kaget dengan pernyataannya. Ini menjadi soal karena beberapa dari mereka merupakan warga yang tinggal di daerah tersebut. Daripada beradu debat, akhirnya lebih baik membiarkan mereka pulang dan membiarkan yang lain untuk tetap bekerja membersihkan sampah,

Kadang saya berpikir begini, mau kebijakan apapun dikeluarkan, biaya ratusan miliar dianggarkan jika kesadaran manusia dalam menjaga lingkungannya saja masih begitu ya jangan harap lebih. Jadi ya wajar peringatan hanya sekedar peringatan. Namanya juga peringatan, jadi ya sebatas mengingat.

Kalo saya sebagai warga negara Indonesia, cukuplah melakukan hal sederhana. Buang sampah pada tempatnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjaga kelestarian lingkungan. Tak perlu ndakik-ndakik obrolan suruh begini begitu.

Lakukan sampah sebagaimana mestinya. Buang pada tempatnya. Tapi sayang, tampaknya kita lebih suka nyampah dan mengucapkan sumpah serapah daripada membuang sampah pada wadah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s