Bahagia di Akhir Pekan

(Jangan ngaca bro dan sis)

Beberapa hari yang lalu, ibu saya bertanya, “Mas, kok akhir pekan itu identik dengan dua hari ya?”

Saya tak menjawab. Selain karena ragu dan tidak tahu, saya memang belum menemukan jawaban yang tepat. Di Indonesia, akhir pekan identik dengan hari sabtu dan minggu. Mungkin karena masyarakat Indonesia terbiasa dengan budaya PNS yang mewajibkan sabtu dan minggu untuk hari libur.

Akhir pekan biasanya diisi dengan kegiatan yang tak biasanya dilakukan oleh pekerja kantoran. Tamasya ke pantai, gunung, bahkan ke luar kota. Mereka tak segan untuk menghabiskan biaya dalam 2 hari untuk memaksimalkan hari libur. Toh, uang bisa dicari lagi dari Senin-Jumat.

Namun, semenjak membuncahnya bisnis usaha dan pekerja kreatif, maka akhir pekan tak lagi menjadi waktu yang perlu ditunggu. Waktu dan beban kerja yang bervariasi membuat banyak orang utamanya generasi milineal lebih bisa mencari waktu dengan baik.

Mereka tak perlu menunggu akhir pekan. Karena biasanya, jika menghabiskan waktu di akhir pekan yang terjadi adalah biaya membengkak tajam. Sudah menjadi rahasia umum, jika beberapa tempat rekreasi lebih memilih untuk menaikkan harga tiket pada akhir pekan. Toh, tetap saja banyak pengunjung yang akan datang menyesakkan tempat rekreasi.

Kalopun mereka (baca:generasi milineal) rekreasi ke tempat wisata, maka mereka lebih memilih saat hari kerja. Toh, harga lebih murah dan kalo mau selfie sak modare pun tak masalah. Tak perlu antri pula.

Tapi kembali lagi pada permasalahan akhir pekan.

Apakah akhir pekan memang harus diisi dengan rekreasi? Bagi yang tak suka rekreasi, banyak pekerja kantoran lebih memilih untuk istirahat. Mengisi daya, tenaga, dan pikiran agar bisa segar kembali saat hari Senin-Jum’at.

Beberapa teman saya yang telah bekerja di ibukota menjalani rutinitas seperti itu. Senin-Jumat adalah waktu kerja. Sabtu-Minggu adalah waktu tidur.

Menurut beberapa pakar kesehatan, rutinitas yang dilakukan oleh teman-teman saya cenderung membahayakan kesehatan. Kenapa? Karena mereka sama sekali tak mendayagunakan waktunya untuk berolahraga. Seharusnya, jika mereka cermat maka mereka bisa berolahraga, rekreasi, hingga bertemu dengan teman maupun Tapi sayangnya, banyak dari mereka memilih untuk tidur.

Tapi, apakah yang mereka lakukan itu salah? Nggak juga. Mereka berdalih daripada menghabiskan uang pada akhir pekan lebih baik digunakan untuk menabung atau investasi. Jadi mereka tetap tenang dan bisa tidur nyenyak.

Lalu bagaimanakah cara yang tepat untuk berakhir pekan?

Sekali lagi hal tersebut terserah tiap masing-masing individu. Mau rekreasi ke luar kota? Silakan. Mau menghabiskan waktu tidur? Monggo. Mau berolahraga sepuasnya? Boleh. Kita tak akan pernah tahu bagaimana cara mengisi akhir pekan yang baik dan benar.

Menurut saya, tiap orang punya kondisi fisik dan mental yang berbeda-beda. Ada yang dinamis, tapi ada juga yang statis. Ada yang proporsional, tapi ada juga yang kondisional. Ada pula yang aktif namun ada pula yang pasif.

Setiap orang pasti sadar terhadap diri sendiri bahwa apa yang lebih pantas dibutuhkan pada kondisi fisik dan mentalnya. Kalo tubuhnya ternyata butuh rekreasi maka dengan sendirinya pikiran pun akan berusaha menyesuaikannya. Begitu pula kalo butuh bacaan atau istirahat.

Yang paling penting adalah apa yang bisa membuat kita bahagia pada akhir pekan maka lakukanlah.

Di dalam tubuh ada senyawa kimia yang diberi nama endorphin. Senyawa tersebut mengatur respon tubuh terhadap rasa sedih. Mengurangi dan menghilangkan rasa perih, marah, bahkan depresi. Nah yang paling utama adalah ketika kita tertawa, bahagia, melakukan sesuatu yang baik maka senyawa tersebut akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Mencegah emosi buruk dan mengontrol rasa stres.

Maka dari itu, tak ada saran yang lebih baik daripada menghabiskan akhir pekan dengan kebahagiaan. Apapun bentuk dan jenisnya. Ekspresi senang, tertawa, dan bahagia adalah hal terpenting dalam mengisi akhir pekan.

Kecuali jika kamu ternyata lebih menghabiskan akhir pekan dengan cara yang seperti ini. Mengeluarkan ujaran kebencian dan kehinaan. Sayangnya, hal tersebut ternyata tidak terjadi di akhir pekan melainkan setiap pekan.

Dan lebih disayangkan lagi, kelakuan seperti itu ternyata sedang memasuki era keemasan di Indonesia. Lihat saja lini masa. Hampir semua orang melakukan. Tak peduli tua dan muda. Tak heran, jika ada yang melakukan seperti itu maka ada yang berbalas degan menggunakan hestek seperti ini.

Duh, kurang piknik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s