Benarkah kehilangan hewan kesayangan sama dengan kehilangan anggota keluarga?


Kucing dan Anjing adalah dua hewan yang sangat sering dijadikan hewan peliharaan bagi manusia. Selain dua hewan tersebut, ada pula yang pelihara burung, tikus, ayam. Tapi jarang yang pelihara buaya, harimau, bahkan komodo.

Entah kenapa dua hewan tersebut seakan melekat dalam diri manusia. Karena mudah diajak bergaul, diajak bercanda dan enaknya tak pernah mengambek ketika disuruh. Akibatnya kedekatan antara kucing/anjing dengan manusia dapat tergambarkan seperti tiga kisah sangat pendek di bawah ini.

Beberapa saat yang lalu, seorang teman yaitu Angela, mahasiswi jurusan Kajian Budaya dan Media memiliki seekor anjing. Anjingnya adalah jenis golden retriever. Ia memberi nama anjingnya yaitu felis von Bernadette.

Ketika anjing kesayangannya mati, ia menangis tersedu-sedu. Tak hanya sekedar menangis, ia sampai kehilangan nafsu makan hingga 5 hari.

Tak hanya Angela yang bereaksi seperti itu. Rena, mahasiswi asli Malang juga mengalami hal serupa. Ia memiliki anjing yang diberi nama Chiley. Ia memeliharanya sejak berusia 1 tahun.

Chiley meninggal saat berusia 11 tahun. Keluarga sangat bersedih termasuk Rena. Ia bahkan tak selera untuk makan sampai seminggu lamanya. Chiley dikubur di taman belakang rumah layaknya manusia. Diberi kain, ditaruh di lubang, dikubur, kemudian diberi bunga. Tak lupa diberi nisan beserta namanya.

Lain halnya dengan Neli, fotografer lepas yang memelihara kucing. Ia memberi nama kucingnya yaitu Mio. Saat ia mengetahui jika kucingnya menghilang dari rumah, maka tak hanya ia yang menangis melainkan seluruh keluarganya ikut bersedih.

Bahkan salah seorang keluarganya sampai harus meminta tolong kepada ‘orang pintar’ untuk menemukan kembali si Mio. Dan beruntungnya, Mio kembali lagi setelah menghilang lebih dari seminggu.

Sebenarnya saya jadi penasaran, kenapa mereka sampai berbuat segitunya? Apakah kehilangan hewan kesayangan sama halnya dengan kehilangan anggota keluarganya?

Pertanyaan ini timbul gara-gara saya melihat kanal Vox di youtube tentang episode kehilangan hewan kesayangan. Seorang lelaki memiliki hewan kesayangan yaitu anjing. Ia sangat menyayanging sama halnya seperti menyayangi seorang anak. Memberi makan, memandikan, memberi vaksin satu bulan sekali.

Sampai suatu ketika, anjingnya mati. Termenung, murung, lesu bahkan linglung. Tak tahu lagi harus kemana. Hidupnya hancur seketika.

Saya kembali penasaran, apakah ada penelitian tentang efek kehilangan hewan peliharaan terhadap perilaku manusia. Sama atau tidak kehilangan anjing berisiko terhadap mental seorang manusia?

Salah satu publikasi ilmiah pertama dilakukan oleh psikiater Kenneth M.G. Keddie tentang kehilangan hewan kesayangan pada tahun 1977. Ia menemukan bahwa ada relasi spesial antara anjing/kucing dengan manusia sehingga bisa saja menyebabkan resiko terhadap kesehatan mental.

Ia bahkan menyebutkan ada beberapa responden mengalami mimpi sangat buruk ketika kehilangan hewan kesayangannya. Ia tak menampik kecenderungan manusia yang memelihara kucing/anjing akan mengalami kejadian serupa.

Tak heran nama-nama yang diberikan kepada anjing/kucing pun menyerupai nama anak mereka. Ia menganggap agar lebih memudahkan saja dalam hal pemanggilan. Dan beberapa bahkan menganggap anjing/kucing adalah ‘anak’ dari mereka.

Nah, apakah hewan kesayangan sama persis diperlakukan seperti anak manusia? Ini ada penelitian menarik dadi psikolog John Arcer pada tahun 1997.

Ia menjelaskan bahwa pemilik hewan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Bermain, berbicara layaknya ibu dan anak, dan yang paling unik memberikan panggilan pada hewannya dengan sebutan “baby atau buddy”.

Beberapa bukti menjelaskan bahwa memang ada keterkaitan antropologi dan sejarah mengenai hubungan hewan peliharaan dengan manusia. Kalo boleh dikatakan, hewan peliharaan adalah pengganti yang sepadan dari seorang anak.

Beberapa saat yang lalu, ada pula penelitian mengenai perilaku pemilik hewan di sebuah klinik hewan yang melibatkan 106 responden di Hawaii. Hasilnya cukup mengejutkan. 96 responden mengaku bersedih teramat dalam ketika kehilangan hewan kesayangannya. Bahkan 75 responden diantaranya mengalami apa yang disebut Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Bahasa kerennya stress berlebihan pasca trauma. Atau lebih ilmiah seperti kenangan berulang dalam gairah kehidupan yang terjadi selama kurang lebih sebulan setelah peristiwa traumatis.

Jadi, memang tak mengherankan ketika manusia kehilangan hewan kesayangannya maka yang selanjutnya terjadi adalah kesedihan dan kemurungan yang mendalam. Ya, layaknya kita kehilangan anggota keluarga.

Hewan peliharaan adalah baik untuk manusia terlebih baik pula untuk sepasang kekasih. Buat kamu yang jomblo. lebih baik pelihara saja hewan. Biar tahu rasanya dicintai dan disayangi. Ya, kan?

Advertisements

2 thoughts on “Benarkah kehilangan hewan kesayangan sama dengan kehilangan anggota keluarga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s