Semua bisa di-calo-kan

Emosijiwaku.com

Beberapa saat yang lalu, terjadi berjubel antrian di loket pembelian tiket kereta api. Hal ini dilakukan mengingat hari itu hari pertama pembelian tiket kereta api untuk penggunaan kereta prameks. Panjang dan lamanya antrian membuat beberapa orang ingin segera enyah dari loket tersebut. Panas dan lelah adalah tantangan dan hambatannya.

Namun bagi beberapa orang yang lain, berjubelnya antrian justru membawa berkah. Setidaknya untuk beberapa orang yang menamakan dirinya sebagai calo. Sejak tiket kereta api harus dibeli secara online, praktis tak ada lagi calo yang berkeliaran untuk menawarkan tiket. Apapun segalanya menjadi lebih praktis.

Tapi di hari itu, mereka kembali beraksi. Tentunya mereka tak menawarkan tiket, melainkan memberi tawaran untuk mengantri. Ya, ketika tiket prameks harus dibeli di tempat, ada beberapa orang yang menawarkan untuk jasa antri.

Cukup murah. Hanya membayar 3 ribu saja untuk satu tiket. Alhasil banyak kelas menengah yang memanfaatkan jasa calo antri. Apalagi jika cuman membayar ongkos tambahan yang lebih murah dibandingkan dengan harga nasi telur di burjo.

Kamu yang sibuk di kantor tinggal menyerahkan urusan tiket dengan calo antri. Maka ketika kamu pulang dari kantor, maka kamu sudah mendapatkan tiket prameks. Kamu tertawa riang, calo pun senang.

Lain calo antri beli tiket, lain lagi calo SIM. Di tempat saya tinggal, pengurusan SIM ‘agak’ sedikit rumit. Banyak orang yang berulangkali gagal utamanya untuk melewati ujian praktik SIM. Tempo hari, saat saya mengantarkan salah seorang tetangga rumah, ada kejadian unik. Dari 18 orang yang mengajukan SIM baru, tak ada satupun yang mampu berhasil melewati ujian praktik. Ada anggapan ujian Praktik SIM setara rumitnya dengan ujian nasional sekolah.

Butuh sedikit kemujuran namun lebih membutuhkan keajaiban.

Mau berhasil lewat calo pun sudah tak mungkin. Tak ada lagi calo SIM yang berkeliaran di kantor polisi. Sekali ketahuan menggunakan jasa calo, maka habislah peluangmu dan karir sang calo.

Maka untuk menyiasati kata calo maka digunakanlah kata biro. Ya, belakangan muncul biro untuk memudahkan mereka mencari SIM. Baik A maupun C.

Syaratnya mudah. Kamu cukup datang ke biro tersebut. Mendapatkan sedikit petunjuk. Mengikuti pelatihan yang diadakan biro. Kalo mobil, pelatihan parkir. Kalo motor, pelatihan zig-zag dan angka 8.

Setelah selesai, kamu cukup membayar ongkos tambahan dan akan memperoleh sertifikat. Nah, bekal sertifikat itulah yang akan mengantarmu melangkah dengan sukses untuk mendapatkan SIM. Banyak kawan termasuk tetangga saya pun tergiur mengikuti pelatihan biro tersebut. Hasilnya? Ya pasti berhasil dapat SIM. Dijamin 100%. Percayalah, dengan biro maka semuanya menjadi mudah dan lancar.

Lain dengan pengurusan SIM, lain lagi dengan pengurusan paspor. Semenjak berlakunya online dan tidak dibolehkannya calo berkeliaran di kantor imigrasi, maka kesempatan untuk mendapatkan paspor lebih cepat akan sangat sulit. Ini dibuktikan dengan pengalaman teman saya.

Teman saya yang kebetulan berada dari luar Jogja mencoba mengurus paspor disini. Tapi sayang sekali, meskipun sudah lewat online, namun antrinya amat cukup lama. Ia berpikir dengan lewat online, segalanya lebih praktis. Naumn nyatanya tidak. Dan Naudzubillah, semua administrasi maupun antri di Indonesia memang sungguh-sungguh lama. Tak heran korupsi administrasi bakalan terus ada. Hingga kiamat.

Karena kesal harus menunggu 3 minggu lamanya, maka ia mencoba mengurus paspor di kantor imigrasi di kota lain. Sekali lagi dengan harapan, paspor bisa jadi dalam 1 hari saja. Dan kamu tahu, dengan singkat dan sekejap lesatan awan kinton, teman saya bisa mendapatkan paspor. Hanya cukup menghabiskan pagi hingga sore hari. Dan sekali lagi, disinilah peran biro yang membantu teman saya.

Saya percaya, bahwa jasa calo akan terus tumbuh di Indonesia dalam jangka waktu yang lama. Mau calo diganti dengan nama makelar, biro, atau apapun pasti mereka akan tetap dicari masyarakat kita.

Jangan kamu ibaratkan calo adalah pekerjaan haram. Halal atau haramnya pekerjaan tergantung bagaimana simbiosis yang bekerja. Seperti ketiga contoh diatas, baik si calo maupun pengguna jasa calo melakukan apa yang dinamakan dengan simbiosis mutualisme. Sama-sama saling ketergangungan..

Tak ada perasaan menyesal ataupun bersalah. Toh, sama-sama keduanya saling membutuhkan. Dan menguntungkan pula. Itu baru ketiga contoh diatas. Masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang sifatnya menguntungkan kedua belah pihak.

Menurut saya, jasa calo disalahkan dan dimaknai secara negatif agar kebobrokan administrasi di Indonesia tertutupi. Padahal kalo kita lihat memang administrasi di Indonesia masih saja ada yang lamban dan bobrok.

Tapi tak seluruhnya bobrok, ada beberapa yang sudah baik. Sayangnya yang bobrok lebih banyak daripada yang baik. Makanya saya bilang, calo atau biro akan selalu ada dan bakalan terus hidup di Indonesia.

Namun tak melulu kesalahan dan kelambanan administrasi yang menjadi penyebab muncul biro. Persoalan asmara pun bisa memunculkan adanya biro. Bukankah lembaga kepolisian menjadi biro jodoh pertemuan antara Briptu Eka Frestya dan Kompol Bagoes Wibisono? Bukankah lembaga proyek bisa menjadi biro jodoh bagi Salmadena dan Haqy Rais?

Ya, kalo memang selamanya menjadi sama-sama menguntungkan, kenapa tidak dilegalkan saja bisnis calo atau biro?

Advertisements

2 thoughts on “Semua bisa di-calo-kan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s