Hantu Casper

Derak roda melintasi zaman. Ada yang tidak berubah tapi lebih banyak yang berubah. Mulai dari sektor perdagangan, perekonomian, hingga perpolitikan. Laju waktu semakin pesat. Meninggalkan siapa saja yang gagap teknologi dan tertinggal segala informasi.

Begitu pula dengan cita-cita atau kalo boleh saya sebut cita-cita adalah mimpi. Dulu, cita-cita generasi 90an berputar hanya beberapa lingkup saja. Dokter, Tentara, Polisi, dan Guru. Tak lebih dari itu. Sekarang cita-cita anak-anak semakin berkembang.

Kemarin saya bertemu dengan seorang anak kecil berjalan di sekitar komplek perumahan. Memakai topi sembari mendendangkan lagu. Sepertinya kepalanya bergoyang mengikuti irama headset yang tertancap di telinganya.

Ketika saya mencoba menghalanginya, ia tampak kaget. Dahinya sedikit mengernyit. Tangan kanannya disimpan ke belakang. Mungkin dikiranya, saya hendak mengajak berkelahi. Saya sedikit tersenyum. Kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

“Dik, kalo jalan sambil lihat sekitar. Tadi kalo nabrak saya gimana?” Ujar saya.

“Ya sapa suruh berdiri di depan saya. Kok mas ndak minggir saja sih! Hardik anak itu.

Saya bingung. Anak berusia sekitar 10 tahun malah sedikit menantang saya. Tapi saya berusaha kalem. Tidak terlalu menggubris perkatannya.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Saya lagi menghapal lagu mas. Sampean ndak ngeliat telinga saya terpasang headset?!”

Anak ini makin ngelunjak. Nada meninggi. Matanya memincing. Tapi, sekali lagi saya tak menggubris perkataannya. Saya mencoba sedikit kalem.

“Lah, ngapalin lagu ngapain di jalan? Kok ndak di rumah atau kamar mandi aja?”

“Oalaah mas. Sampeyan itu kelahiran tahun berapa sih? Kok kayak nggak ngerti mode?”

“Maksudmu apa?” Bahu saya sedikit terangkat.

“Mas. Tak kasih tahu ya. Sekarang ini zamannya globalisasi. Semua anak-anak seusia saya pada ngelakuin kayak gini. Biar hits. Sekarang itu mas, banyak orang mengidolakan Young Lex dan Awkarin. Sampeyan tau, saya itu pengen jadi mereka. Muda, merdeka, dan berbahaya.”

Saya sedikit menarik nafas. Menganggukkan kepala.

“Yasudah mas. Saya mau pergi dulu. Minggir mas!

Lagi-lagi saya sedikit terkejut. Ia pergi tanpa mengucapkan permisi. Kadang saya sedikit heran. Kenapa sekarang anak-anak berkelakuan seperti itu. Tapi ya sudahlah mungkin zamannya begitu.

Dari percakapan diatas, saya jadi berpikir ternyata cita-cita seorang anak sekarang bukanlah profesi atau pekerjaan. Melainkan tentang passion. Idola mereka kian berkembang. Makanya tak heran mereka ingin menjadi Young Lex atau Awkarin.

Tapi kalo saya yang ditanya tentang apa cita-cita saya sekarang. Saya menjawabnya dengan tegas. Jadi Hantu. Kenapa begitu?

Hantu selalu diasosiasikan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Tapi saya berharap akan ada hantu yang baik dan menyenangkan. Jadi biar ga semua hantu ke neraka. Melainkan pernah mencicipi surga. Walaupub mungkin sejenak.

Saya berpikir jadi hantu itu enak. Melayang bebas. Tak ada aturan. Merdeka. Semacam casper begitu.

Jadi kalo ada yang bertanya, apa cita-cita saya? Jadi casper.

Advertisements

4 thoughts on “Hantu Casper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s