Buku bisa dikonsumsi, Konsumsi bisa dibukukan

Beberapa hari ini, saya mengamati pergerakan lini masa di Twitter ataupun Facebook. Isinya beraneka ragam. Ada yang positif namun ada yang negatif. Namun tentu saja lebih banyak ke arah negatif. Mulai dari soal pilkada DKI hingga kedatangan Zakir Naik.

Isi cuitan dan status mengundang ketakutan. Caci maki dikumandangkan. Hujatan bergantian. Kebencian bersahutan. Mengerikan.

Terkadang saya harus menutup saja akun media sosial. Tapi apa daya, saya sudah termasuk golongan yang terjangkit phirus media sosial. Setiap hari sedikitnya saya membuka 5x akun media sosial yang saya miliki.

Belum lagi situs macam kanal berita maupun olahraga. Ditambah pula video macam youtube dan lainnya. Mungkin, saya bisa saja terkategorikan sebagai pengguna media sosial yang aktif.

Berbicara tentang media sosial, kita tak pernah lepas dari budaya berkomentar. Peristiwa maupun fenomena apa saja pasti akan dikomentari. Entah itu baik atau buruk bahkan penting atau tidak penting.

Bagi sebagian kalangan, budaya berkomentar cenderung diasosiasikan ke arah negatif. Seperti kata esais Zen RS yang mengungkapkan bahwa menurunnya minat membaca ditandai dengan meningkatnya minat berkomentar.

Jika kita melihat data statistik yang dikeluarkan oleh PISA (Programme for International Student Assesment) 2012 tentang kategori membaca maka Indonesia menempati peringkat 60 dari 65 negara. Skor Indonesia hanya mencapai 396.

Bandingkan dengan tetangga sebelah yaitu Singapura dan Malaysia. Singapura berada di peringkat ketiga dengan skor 542 sedangkan Malaysia berada di peringkat 58 dengan skor 398.

Menurut Data Pusat data dan statistik kemendikbud 2015, angka buta huruf Indonesia mencapai 5.984.075 orang. Ini artinya sekitar 2,5% penduduk Indonesia masih buta huruf jika penduduk Indonesia berjumlah 250 juta orang.

Sebenarnya ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya yang bahkan mencapai 5%. Sayangnya, jika kita selalu saja dibandingkan dengan kedua negara tetangga maka Indonesia selalu berada di bawah mereka.

Pada tahun 2015 pula UNESCO mencatat indeks membaca buku di Indonesia adalah 21 berbanding 1000. Ini artinya dari setiap 1000 orang Indonesia hanya sekitar 21 orang yang membaca buku.

Lagi-lagi jika dibandingkan dengan kedua negara tetangga, kita masih kalah jauh. Apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara besar macam Amerika Serikat ataupun Jepang tentu saja level Indonesia masih di kerak laut.

Di Indonesia, penjualan buku terbagi menjadi beberapa kategori. Ada kategori agama, fiksi, anak-anak. Dari data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), pada tahun 2014 buku anak-anak terjual sebanyak 22,64%. Bandingkan dengan buku agama atau fiksi yang masing-masing terjual sebanyak 12%.

Menurut seorang blogger yaitu Abdul Hair, ia mengatakan bahwa jika penulis Indonesia bisa menjual bukunya 1000 eksemplar dalam setahun maka penulis tersebut sudah dianggap hebat. Levelnya dewa.

Menurutnya pula ada beberapa penulis Indonesia yang mampu memenuhi kriteria tersebut yaitu Habiburrahman El Shirazy, Eka Kurniawan, Dewi Lestari, Andrea Hirata, dan Tere Liye.

Sayangnya, kita memang hanya tahu nama mereka tanpa (mungkin) pernah membaca buku mereka. Kita lebih suka terprovokasi banyak mulut daripada mengamati buku mereka. Tapi ya memang kenyataannya begitu kok.

Zaman sekarang, saya, kamu bahkan kalian semua memang lebih suka membaca status atau cuitan pendek dan berderet daripada membeli sebuah buku. Salah satunya karena kita lebih suka mencomot secara gratis daripada mendayagunakan uang untuk buku secara fantastis.

Kalo begitu, mungkin benar kata seorang teman. Literasi semakin berkembang. Buku cetak tergantikan buku lektronik. Wacana berbalut jurnal mulai tergantikan dengan status bersifat banal. Dan percaya atau tidak, hal tersebut kian jamak di Indonesia.

Jika memang eranya begitu maka kenapa ga diteliti saja literasi elektronik. Bagaimana perkembangan manusia dalam membaca pesan elektronik? Apakah kegiatan membaca itu selalu saja diidentikkan dengan membaca bacaan cetak?

Mungkin, kalo pun ada penelitian tentang intensitas masyarakat Indonesia dalam membaca bacaan atau pesan berbentuk elektronik maka kita bisa mengalahkan ranking tetangga sebelah. Bahkan mungkin negara maju macam Finlandia atau Denmark.

Tapi apa iya motivasi mengalahkan ranking lebih penting daripada hanya sekedar kegiatan membaca? Ada saran bagus dari penulis yang saya kagumi. Rusdi Mathari pernah mengatakan bacalah 1 buku dalam 1 hari. Jika tak bisa, bacalah 1 bab saja. Jika tak bisa pula, bacalah 1 sub bab. Jika tak bisa juga, ya sudahlah, mungkin hidupmu penuh kepahitan.

Mengutip perkataan dari kritikus sastra Kris Budiman, “makanya baca buku, jangan baca udara.”

Advertisements

4 thoughts on “Buku bisa dikonsumsi, Konsumsi bisa dibukukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s