Tak ada Minyak di Masa Depan

Kemarin sore, saya pergi ke warung langganan untuk beli gorengan. Sekedar ​kudapan untuk menemani saya menonton film di tengah malam. Sesampainya di warung tersebut, sang ibu penjual berkata, “Mas, harga gorengannya naik ya.”

“Lho, kenapa naik bu?” Tanya saya.

“Harga minyak lagi naik mas, makanya saya terpaksa menaikkan harga gorengannya.” Ujar ibu tersebut dengan wajah sedikit memelas.

Saya sedikit tertegun. Belum sampai 1 minggu, harga cabai telah meroket. Kini, masyarakat kembali dibuat pusing dengan harga minyak yang juga ikut-ikutan naik. Biasanya, saya membeli gorengan 2000 dapat 3, kini naik menjadi 2500 baru dapat 3. Sepintas mungkin kenaikan tersebut tak seberapa. Tapi bagi saya dan masyarakat kecil lainnya, kenaikan harga tersebut membuat otak harus lebih banyak berpikir. 

Minyak memang menjadi kebutuhan umat. Tak hanya bagi masyarakat kecil. Kaum aristokrat hingga negara kelas kakap pun masih membutuhkan minyak. Kita tentu masih ingat beberapa saat lalu kedatangan Raja ‘Minyak’ Salman berhasil menghebohkan jutaan pasang mata masyarakat Indonesia. 

Kedatangannya dalam rangka menanamkan investasi di Indonesia. Sang Raja sadar bahwa Arab Saudi tak bisa menggantungkan harapannya ke komoditi minyak. Diprediksi minyak akan mulai langka pada 40 tahun ke depan di Arab Saudi. Tak heran, Raja Salman bersafari ke seluruh dunia. Dan yang paling mencengangkan, beliau ‘rela’ menjual saham Aramco (perusahaan minyak Arab Saudi) sebesar 5% kepada China ataupun Jepang demi kebutuhan hidup masyarakat Arab Saudi. 

Di Indonesia minyak pun menjadi kebutuhan populer bagi masyarakat. Tidak hanya minyak tanah dan minyak goreng saja, melainkan minyak dalam kebutuhan kendaraan bermotor. Dalam hal ini kita sebut sebagai bensin. Mungkin dari ratusan negara, Indonesia adalah salah satu negara yang masih boleh memperjualbelikan premium secara bebas.

Tapi tentu saja, premium pun dibatasi. Kita bisa melihat beberapa pom bensin mulai tidak menyediakan premium. Beberapa diantaranya bertuliskan “dilarang membeli premium dalam bentuk jirigen.”

Bahkan para penjual eceran pun mulai tak lagi menyediakan premium. Lebih banyak menyediakan pertalite atau pertamax. Sesungguhnya ini menjadi sesuatu yang bisa disambut positif melainkan juga negatif. 

Dibilang positif, karena pada akhirnya kita harus sadar bahwa minyak bukanlah sumber daya alam yang akan terus ada sampai cicit-cicit kita hadir. Adakalanya minyak akan langka dan menjadi punah. Mungkin kita harus meniru Maroko atau Tunisia yang mulai mengganti sumber daya minyak menjadi sumber daya angin. 

Dibilang negatif, karena masyarakat kita masih sangat ketergantungan terhadap minyak. Tak ada premium atau harga premium naik, kita bisa protes 7 hari 7 malam. Bahkan segala macam makanan apapun yang kita makan semuanya berhubungan dengan minyak. Terutama gorengan.

Mungkin kita bangga dengan berita macam Pertamina yang berusaha mengakuisisi perusahaan asing Exxon ataupun Total. Bahkan digadang-gadang mulai tahun 2018, kedua perusahaan itu bakalan angkat kaki dari Indonesia. Banyak yang bilang ini langkah berani dari Pertamina. Tidak memperpanjang kontrak dan lebih baik mengolah minyaknya sendiri.n

Tapi apa benar begitu kenyataannya? Mungkin mereka sadar bahwa minyak di Indonesia memang sudah menuju level langka. Dengan alasan diakuisisi Pertamina, maka kedua perusahaan tersebut enyah dari bumi pertiwi. Padahal sudah banyak pakar minyak berkata bahwa Indonesia seperti Arab Saudi. Minyak menjadi langka dalam jangka waktu 40 tahun ke depan. 

Apakah ini persoalan serius? Bisa iya bisa tidak. Ya tergantung kita memaknai keberadaan minyak. Bisa iya, karena orang-orang yang hidup di perkotaan lebih sering menggunakan minyak dalam bentuk apapun. Bahkan cenderung berlebihan. 

Tapi jika kamu tinggal di desa, maka ada atau tidaknya minyak tak berpengaruh signifikan pada kebutuhan hidup rumah tangga. Mereka bisa menggunakan kayu bakar dalam hal masak memasak. Mereka bisa menggunakan sepeda kayuh untuk berpergian. Gimana? Jadi benar kan tergantung bagaimana kita melihat minyak akan menjadi seperti apa.

Tapi kalo kita memang benar-benar membutuhkan minyak maka kita bisa mencoba satu hal. Mencoba negoisasi dengan satu orang. Seseorang yang diklaim bisa mengelola minyak dengan baik. Dan konon katanya, orang tersebut levelnya sama dengan Raja ‘Minyak’ Salman. Siapa dia?

Siapa lagi kalo bukan Raja Minyak ‘Poltak’ dari Medan. Ah tapi berharap kepada blio sepertinya hanya menjadi angan-angan saja. Lha gimana? Sudah seperti kutu loncat dan sekarang lebih sibuk mengurusi Pilkada DKI Jakarta.

Ah, era sekarang memang kekinian. Keinginan perut lebih mulia daripada kebutuhan umat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s