Bahas Bahasa Jokowi di Australia

Kehadiran Jokowi di tanah Australia dianggap lawatan penting dalam kinerja pemerintahannya. Pasang surut hubungan Indonesia-Australia pada beberapa tahun terakhir tidak membuat Jokowi untuk berpaling dari Australia. Bom Bali tahun 2002, skandal narkoba yang melingkupi Corby, eksekusi Andrew Chan, dan Myurun Sukamaran, skandal telepon presiden disadap hingga penghinaan terhadap Pancasila adalah beberapa peristiwa penting dalam sejarah hubungan bilateral Indonesia-Australia. Namun, membangun hubungan dengan tetangga-tetangga dekat adalah cara Jokowi untuk menaikkan reputasi dan meningkatkan integritas Indonesia di mata dunia. 

Jika Jokowi dikenal dengan gaya ‘blusukan’ di Indonesia, maka Jokowi melakukan pendekatan berbeda di Australia. Beberapa media baik nasional dan internasional mengatakan bahwa Jokowi melakukan diplomasi ‘Jalan Pagi’ kepada PM Australia, Malcolm Turnbull. Mengelilingi danau hingga diakhiri swafoto bersama adalah cara ampuh untuk menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Australia sangat erat. Perlu anda ketahui, Indonesia adalah negara Asia pertama yang dikunjungi Turnbull sejak ia terpilih sebagai Perdana Menteri. 

Dalam lawatan Jokowi selama 2 hari di Australia, Jokowi membawa beberapa agenda penting. Diantaranya meningkatkan kerjasama dalam bidang pariwisata, ekonomi, perdagangan, politik, dan pendidikan. Pada bidang pariwisata ditekankan bahwa Australia menjadi turis asing paling dominan dalam hal berkunjung di Indonesia. Pada tahun 2016, Bali merupakan destinasi favorit dengan jumlah wisatawan Australia sebanyak 1 juta orang. Dalam hal ini, Jokowi ingin melebarkan dan mengenalkan potensi pariwisata Indonesia yang tidak melulu kepada Bali. Lombok, Sulawesi, dan Yogyakarta diharapkan menjadi destinasi favorit bagi wisatawan Australia pada tahun-tahun berikutnya. 

Pada bidang ekonomi, Indonesia-Australia sepakat untuk membangun kemitraan dengan menyiapkan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership (IACEPA) pada akhir 2017. Pada bidang perdagangan, Indonesia meminta adanya penghapusan biaya tarif dan non-tarif untuk produk Indonesia khususnya kertas dan minyak kelapa. Pada bidang politik, kerjasama dalam pemberantasan terorisme dan penguatan Trans Organizational Crime adalah hal penting dalam menjaga keamanan dan perdamaian. 

Pada bidang pendidikan, Indonesia ingin meningkatkan pengajaran bahasa Indonesia di Australia. Caranya adalah membangun lebih banyak balai bahasa Indonesia. Perlu diketahui saat ini jumlah balai bahasa Indonesia di Australia ada 3 yaitu Perth, Canberra, dan Melbourne. Jika balai bahasa Indonesia ditambahkan, maka ini peluang bagi bahasa Indonesia untuk lebih dikenalkan dan dipopulerkan lebih jauh. Terlebih pada tahun 2016 saja, ada sekitar 19.000 pelajar Indonesia di Australia. Para pelajar tersebut diharapkan tidak hanya sekadar menjadi pelajar namun juga sebagai duta Indonesia. 

Dalam hal ini, sejak tahun 2014 Jokowi beserta Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah membangun dan mengenalkan program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Sejatinya program tersebut sudah hadir lama yaitu sejak tahun 70an. Namun program tersebut mulai terlembagakan sejak dibentuknya Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK). Tujuannya adalah mengenalkan dan mengupayakan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional. 

Menurut K.A. Sander Adalaar pada laporan konperensi BIPA se-Australia yang kedua, Australia adalah pusat BIPA paling besar di dunia. Menariknya, Bahasa Indonesia telah diajarkan di sekolah maupun universitas sejak tahun 1955. Jumlah pelajar dan pengajarnya pun paling tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Grafik pelajar memang mengalami pasang surut. Namun sejak tahun 1991, pelajar Australia yang ingin belajar bahasa Indonesia mencapai tingkat 82,54%. Bahkan hal tersebut terus bertambah hingga akhir tahun 2016. 

Selain itu, Indonesia adalah tujuan utama bagi para pelajar maupun pekerja Australia untuk menuntut ilmu dan mencari pengalaman kerja. Di bawah New Colombo Plan (NCP), Indonesia-Australia membangun kerjasama pendidikan antar universitas maupun sekolah. UGM, UI, dan UPI adalah beberapa universitas yang diajak kerjasama melalui NCP. Dalam NCP, pelajar Australia diharapkan mendapatkan pemahaman lebih tentang kawasan Indo-Pasifik khususnya Indonesia. Bahkan, pemerintah Australia menanggung sepenuhnya bagi para pelajar Australia yang ingin melanjutkan studi di Indonesia melalui NCP. 

NCP dan BIPA merupakan terobosan penting bagi Jokowi untuk meningkatkan pengaruh Indonesia di kawasan Pasifik khususnya Australia. Selain itu, membangun jalur pendidikan dan kebahasaan melalui NCP dan BIPA adalah salah satu upaya membina hubungan Indonesia dan Australia. Menariknya, jika BIPA memang didesain untuk mengenalkan dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional maka apa langkah selanjutnya bagi Jokowi dalam mengenalkan bahasa Indonesia ke seluruh dunia? Apakah dengan membangun jurusan Studi Indonesia di tiap universitas? Ataukah memperbanyak balai bahasa Indonesia di seluruh dunia? 

Namun yang pasti, Jokowi ingin mengirimkan pesan bahwa sudah saatnya bahasa Indonesia menjadi barometer bagi dunia internasional. Jokowi ingin mengabarkan pula bahwa tidak seharusnya kita yang distandarisasi oleh bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Arab maupun China melainkan bahasa Indonesia yang menjadi standar bagi masyarakat dunia. 

Menguasai bahasa asing memang penting namun mengutamakan bahasa Indonesia jauh lebih mulia. Dan itu sedang dilakukan pemerintah Indonesia. Terutama pemerintahan Joko Widodo. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s