Tuan, ajari saya politik santun


Beberapa bulan belakangan ini, Indonesia seperti dilanda wabah politik. Atau mungkin lebih tepatnya virus politik. Dimana-mana semua orang ngomongin tentang politik. Mulai dari warung kopi, pusat perbelanjaan, kampus, hingga pasar pun seakan-akan pembicaraan tentang politik di Indonesia tak akan pernah ada habisnya. Sebenarnya gejala orang-orang ngobrolin tentang politik baru intensif dalam 2 tahun belakangan ini. Lebih tepatnya menjelang dan setelah pemilu 2014.

Disadari atau tidak, intensitas orang berbicara tentang politik setelah pemilu 2014 meningkat pesat. Kita bisa lihat pada status-status lini masa seorang teman, sahabat bahkan mungkin di lingkungan keluarga. Pembicaraan tentang politik tak akan ada habisnya. 

“Eh tau nggak bro, si A katanya ternyata tersangkut korupsi lo.”

“Eh jeng, ini lo masak kemarin si B saya pilih karena janjinya mau hilangkan pengangguran, kok ternyata dusta belakaaa.”

“Ini kenapa sih, pemerintah kok ga becus, gini aja ga bisa, mending balik ajalah zaman dulu.”

Kalimat-kalimat diatas mungkin sudah terdengar tidak asing lagi di telinga kita. Sebenarnya boleh dibilang, itu termasuk sinyal yang baik. Artinya bahwa banyak masyarakat Indonesia mulai melek dengan kondisi perpolitikan Indonesia yang tak kunjung membaik. Tidak sedikit dari teman-teman saya yang tiba-tiba sama sekali tak suka politik, malah jadi sering membagi tautan tentang politik. Hal itu cukup baik meningkatkan rasa sadar bahwa politik memang dibutuhkan di Indonesia. 

Tetapi masalahnya adalah seperti yang dikatakan salah satu penulis yaitu Zen Rs, orang-orang Indonesia lebih banyak suka berkomentar dari pada banyak membaca. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.”

Ini benar-benar terjadi lho. Hanya karena ingin dianggap orang yang ngerti politik maka dibagikanlah tautan-tautan yang menurutnya keren tetapi mengandung provokatif dan intimidatif. Akhirnya perang komentar pun terjadi. Ada yang memaki dan membenci namun ada pula yang memuji bahkan menghargai. Tak pelak, twitwar terjadi. Bisa dari subuh hingga subuh lagi. Dan ini pernah terjadi di timeline media sosial saya.

Duh, rasanya ngeri sekaligus ngenes. Maksudnya peduli akan situasi politik di Indonesia, eh kok jadinya benci satu sama lain. Ujung-ujungnya terjadi unfollow bahkan unfriend. Iya kan?

Mbok ya kalo benar-benar pengen jadi orang yang ngerti politik ya syaratnya satu, baca. Kalo katamu buku mahal, bisa download yang gratisan. Tanya mbah google. Masak yang di download gratis cuman video porno dan lagu bajakan aja? Ngaku ndak? Iya kan? Ini serius. Biar kita paham dan nggak asal bicara.

Kan banyak tuh buku-buku macam Machiavelli ataupun Sun Tzu. Atau kalo kamu anggap mereka kafir, ya baca aja Ibnu Taimiyah. Kan bisa tho? Jadi kalo mau gontok-gontokkan di media sosial bisa lebih arif dan bijaksana. Kalo kalah ya jangan memaki. Kalo menang ya jangan meninggi.

Kan kalo kata pemimpin-pemimpin kita saat ini, “Kita harus berpolitik secara santun dan arif serta menjunjung etika.” 

Lho ya, ini pemimpin lho yang bilang. Lha situ rakyat sipil kan? Belum pernah merasakan jadi kayak mereka kan? Mereka itu, maksud saya para pemimpin itu sudah banyak baca dan pengalaman makanya sah mereka berpolitik.

“Mas, kalo mereka banyak baca dan berpengalaman, trus bilang harus berpolitik secara santun, nah ini kok malah lempar-lemparan kursi, saling lapor bahkan tuduh-menuduh hingga ke pihak berwajib. Apakah mereka pantas disebut pemimpin?”

Duh. Saya ndak habis pikir kenapa ada orang yang ngomong kayak gitu. Itu yang ngomong nggak punya akal kah? Ini artinya sama saja nggak percaya sama kualitas pemimpin kita. Menghina pemimpin bahkan bisa saja disebut menistakan pemimpin. Nanti ujung-ujungnya kita bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik.

“Mas, kalo mereka salah ya kita ingatkan. Masak di kritik, malah dianggap pencemaran nama baik. Ini bukan Orde Baru mas.”

Nah, kalo sampe ada yang ngomong kayak gini nih, berarti ndak tau sejarah perpolitikan di Indonesia. Belum baca banyak buku malah udah berkomentar kayak gitu. Kita harus sadar diri, mereka yang jadi pemimpin itu sudah berproses sejak lama. Bahkan mungkin sebelum kamu lahir. Atau malah mungkin saat orangtuamu masih pacaran. Bener nggak?

Kita harus mempercayai mereka bahwa para pemimpin pasti akan membawa kita selalu ke jalan yang benar. Tidak mungkin mereka sekolah tinggi-tinggi, kuliah di luar negeri, hanya ingin membawa kita ke jalan yang sesat. Itu jelas mustahil. Mereka pun pasti paham cara berpolitik. Kalopun ada yang sampe melakukan lempar kursi atau saling lapor, maka boleh dibilang itu seni. Atau lebih tepatnya nyeni.

“Mas, setau saya seni itu ya seni lukis, seni musik, dan seni tari. Masak ada seni politik? Ada-ada saja sampeyan ini.”

Nah kan, lagi-lagi orang-orang seperti itu memang benar-benar jarang atau malah mungkin belum membaca. Yang penting komentar lebih diutamakan. Jadi begini, politik adalah seni. Dan itu sudah terjadi sejak zaman Romawi kuno dan Yunani. Bahkan dulu ada yang dinamakan dengan art politica (seni berpolitik). Kalo zaman sekarang bisa dikatakan art of possibility (seni segala kemungkinan).

“Mas, maksudnya gimana kok bisa pakai kata kemungkinan?”

Dalam politik, apapun bisa terjadi. Yang benar bisa jadi salah, yang salah bisa jadi benar. Maka tak heran, ada anekdot “kesalahan yang berulang-ulang bisa menjadi kebenaran umum.” Kenapa dikatakan berpolitik harus secara arif dan santun? Karena biar kita bisa mengedepankan akal dan hati nurani. Berpikir dahulu, kemudian tahu, dan akhirnya paham supaya kita bisa benar-benar waras dalam berpolitik.

“Hah? Waras? Emang kalo salah berpolitik bisa jadi gila?”

Gila atau ndak gila, itu tergantung individu. Biasanya kalo orang sudah memilih jalur politik berarti mereka sudah harus siap mental dan fisik. Dan artinya orang yang ingin berpolitik, benar-benar memiliki jiwa sehat dan raga kuat.

“Mas, jadi balik lagi kan pertanyaannya. Kalo mereka punya jiwa sehat dan raga kuat, ngapain mereka saling tuduh menuduh, lempar kursi bahkan pukul memukul?”

Duh. Repot. Banyak tanya. Bedhil Ndasmu!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s