212

ā€‹

Langit cerah dengan awan merekah terjadi lagi di Malang pada pagi ini. Sudah hampir seminggu peristiwa tersebut terjadi secara kontinyu. Kalo sudah menjelang siang agaknya Dewa Hujan sudah siap untuk memberi berkah berupa hujan. Baik itu panas maupun hujan tetap saja kita harus bersyukur. Toh itu ciptaan Dia. 

Membuka pintu depan di rumah Nenek. Selalu saja ada penjual pepaya yang hanya membawa 15 buah per harinya. Ia selalu berjaga mulai pukul 7.30. Kalo sudah menjelang pukul 10.00, ia sudah melenggang balik ke tempat peraduannya. Ia hanya membutuhkan waktu 2 1/2 jam untuk meraih rezeki. Memang jalan rezeki sudah ada yang atur. Asal mau berusaha dan kerja keras saja. 

Bicara soal angka, urutan 212 adalah hal yang menarik belakangan ini. Mulai dari aksi bela Islam jilid 1 dan sekarang mulai masuk jilid 2, kemudian serial legendaris Wiro Sableng yang segera disiarkan salah satu televisi Internasional hingga ukuran waktu seseorang (baca: penjual pepaya) untuk meraih rezeki. 

Kadang sulit rasanya mengaitkan sebuah kebetulan dengan keberuntungan. Ada kalanya kata-kata tersebut berkelindan namun ada kalanya kata tersebut berjauhan. Namun yang pasti, tidak hanya manusia, melainkan hewan atau tumbuhan pun pernah mengalami hal seperti itu. Hanya proses dan hasilnya saja yang berbeda. 

Bagi saya angka 212 adalah angka yang magis. Angka yang menaikkan derajat kehidupan baru. Meniti kehidupan menarik, unik sekaligus menggelitik.

Pagi itu saya terbangun pukul 02.00. Membuka hape. Membalas beberapa pesan. Kemudian membuka peramban. Mencari dan menghapalkan kata-kata yang akan dilantunkan pada jam 08.30. Setelah umak amik sejenak, saya mengambil air wudhu. Sholat tahajud dan bertafakur sejenak. Berharap pagi saat matahari menyingsing semua dalam keadaan baik-baik saja. 

Sudah menjelang subuh. Saya keluar dari kamar kemudian menuju dapur. Memanaskan air kemudian membuat kopi hitam pekat. Tentu saja harus dalam rasa pahit. Saya mencoba menghabiskan kopi pahit. Berharap dengan habisnya kopi pahit tersebut maka tuntas pula kepahitan dunia dalam status saya sebagai seorang pria. 

Orang-orang mulai terbangun. Bapak, ibu, adik, sanak saudara, dan ketiga rekan yang saya banggakan mulai bergegas memantaskan diri. Menjadi rapi sekaligus wangi. Begitu pula dengan saya. 

Kemudian kami sarapan dalam satu meja. Makanan tersedia dengan menu favorit saya. Bebek Goreng. Sayang seribu sayang. Agaknya perut kurang berkompromi sehingga saya gagal menghabiskan menu favorit saya. Ketiga teman saya mencoba menawarkan kopi dan rokok. Saya menolaknya. Perut kembung dan saya pun tidak merokok. Entahlah maksud mereka apa. Mungkin hanya ingin menghibur dan menenangkan saya. 

Jam 07.00. Kami sudah berkumpul di luar rumah. Berbaris. Merapikan rambut. Menyiapkan minyak wangi dan penghilang bau mulut. Berfoto sejenak. Ambil barisan kemudian terdengar suara sedikit nyaring. Cekrak. Cekrik. Mungkin ada 5-6 kali. Posenya sama. Berdiri. Namun dengan raut muka yang berbeda. Tawa dan bahagia. 

Setelah usai, pukul 07.30 kami bergegas menuju sebuah rumah. Tempat dimana saya akan menghabiskan waktu yang cukup singkat. Namun dengan perasaan berdebar sekaligus bahagia. Begitu sampai, saya digandeng oleh nenek di sebelah kanan dan ayah di sebelah kiri. Bergegas masuk kemudian diikuti yang lain. Menebar simpul senyum di samping kanan dan kiri.

Kemudian duduk bersimpuh di depan meja yang telah disediakan. Sebelah kanan ada ayah dan sebelah kiri ada beberapa saudara. Di dekat jendela samping kolam ada pakde, bude, tante, dan paman. Belakang saya adalah barisan wanita berseragam yang siap melantunkan doa-doa secara serentak. 

Acara dimulai. Dari sambutan, seserahan, hingga khotbah. Tak begitu panjang namun juga tak begitu pendek. Namun yang pasti acara berlangsung khidmat dan khusyuk. Hal paling intim akan terjadi sesaat lagi. 

Bapak berpeci hitam memberikan arahan kepada saya. Begitu pula dengan salah seorang petugas yang berada di sebelah kanannya. Bernegosiasi sambil mengarahkan supaya semuanya berjalan lancar.

Inilah saatnya. Sang Kiai mengucapkan sepotong kalimat yang terdengar magis. Rasanya darah mengalir begitu cepat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jantung pun rasanya berdetak sangat pelan. Hingga akhirnya beliau menggoyangkan tangan saya. Reaksi selanjutnya, saya kehilangan fokus. Terdiam. Kerongkongan tercekat. Mulut terkunci. 

Sekeliling saya bukannya kaget dan bingung namun justru tertawa kecil. Mungkin mereka mengerti kalo saya agak kehilangan kendali. Sang Kiai kembali mengungkapkan kata-kata yang sama. Kali ini saya sepenuhnya dapat kontrol diri. Jantung berdetak sempurna. Keringat tak lagi mengucur deras. Dalam hati, bait shalawat terus saya lantunkan. 

Dan pada saat itulah, saya mengucapkan kalimat yang akan mengubah status dan jalan kehidupan. Kemudian semua orang tersenyum dan mengucapkan kata paling menggetarkan jantung dan hati. Sah.

Di saat itulah, muncul sosok wanita anggun dan cantik yang muncul dari balik pintu. Seperti pintu khayangan. Saya menyambutnya diiringi shalawat yang menggema di seluruh ruangan. Saya meraih tangan kirinya perlahan. Mendekatkan ke tubuhku dengan amat pelan. Kemudian saya mencium keningnya seraya melafalkan doa-doa. Berdoa agar selalu beruntung baik dunia dan akhirat.

Tetes air mata berkelindan dengan tawa bahagia. Seluruh orang lega dan bahagia. Tak terkecuali saya dan wanita itu. Simpul senyum bahagia dirajut dengan doa dari kerabat membuat hari terasa lapang dan terang. Dan pada hari itu saya resmi menjadi suami dari istri saya. Novia Rakhma Ramdhani.

                                                                ***

Disclaimer: Ini bukan aksi bela Islam jilid 1 dan 2. Ini bukan pula aksi bela Wiro Sableng. Ini adalah aksi bela cinta 212. 21 Februari 2016-21 Februari 2017. 1 tahun pernikahan saya dan Novia Rakhma Ramdhani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s