Ajarkan kami rasa cinta dan kasih sayang

Di lini masa beredar foto beberapa anak kecil sedang sholat. Bukan gerakan sholatnya yang disorot. Melainkan arah kiblatnya yang dihujat. Tidak menghadap ke kiblat (barat) melainkan ke arah utara.
Sudah begitu mereka sholat bukan di tempat yang suci. Melainkan di tangga-tangga. Tempat dimana sandal/sepatu diletakkan. 

Andaikan itu terjadi di Jogja dan yang melakukan adalah orang-orang dewasa maka jelas orang-orang tersebut akan dicap sesat. Jelas, karena menyembah gunung merapi. Atau yang lebih ekstrim menyembah (alm) Mbah Maridjan.

Untunglah, mereka hanyalah anak-anak kecil.

Mereka hanya ingin mempraktekkan kewajibannya sebagai umat muslim. Tapi ya itu tadi mungkin karena tidak dapat tempat. Jadinya malah sholat tidak di tempat semestinya. Ah, namanya juga anak-anak.

Mengingat kelakukan anak-anak kecil berbuat seperti itu, saya jadi ingin menunjuk diri saya sendiri. Tentunya berbagi kisah. Saya pun pernah melakukan hal serupa. Bahkan menurut saya, hal yang saya lakukan dengan teman-teman lebih konyol. Dan saya yakin, kamu pun pernah melakukan hal serupa.

Waktu itu kita lagi enak-enaknya atau sedang menggandrungi sholat sholat bahkan kalo boleh dibilang sedang khusyuk. Sekhusyuk-khusyuknya anak kecil tetap saja tertawa dan menoleh kanan-kiri. Nah, pas sujud, saat itu juga salah satu kaki teman ditarik. Entah kiri atau kanan yang jelas membuat ia tersungkur. 

Kami tertawa. Hingga ia membalas hal serupa kepada teman yang lain. Alhasil, jamaah sholat pun menjadi gaduh. Setelah itu, kami dihukum. Tapi toh ndak papa. Hukumannya mengulangi sholat. Bahkan itu lebih baik. Karena harus sholat berjamaah dan bacaannya dilafalkan dengan keras. Setidaknya itu membekas di ingatan saya. Bahkan hal tersebut yang justru membuat saya hafal bacaan sholat. Hmm.

Ada lagi keusilan yang lain. Suatu ketika saya duduk tahiyat akhir. Telunjuk direntangkan. Sembari umak-umik baca doa, eh kok ndilalah teman sebelah saya memiliki ide kreatif yang luar biasa. Secara tiba-tiba, ia merentangkan jempolnya dan seraya berkata, “Maaf kamu kalah, telunjukmu harap ditutup kembali”. 

Suaranya dimirip-miripkan seperti kita sedang menelepon seseorang namun tak ada yang menjawab. “Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk”. Nah seperti itu. Gelak tawa muncul kembali. Menghebohkan jamaah sekitar.

Hukumannya? Ya sama persis. Mengulangi sholat, berjamaah, dengan bacaan dilafalkan keras. Sesekali agak tertawa kecil. Tapi ketika pak guru melihatnya, kami langsung kembali fokus. Gimana ndak fokus. Ini baca Al Kafirun. Kalo kebalik-balik kan repot juga. Sejak saat itu, jadilah kami hafal seutuhnya tanpa terbolak-balik jika membaca surah itu.

Sudah 2 keusilan. Ini ada lagi. Kalo menurut saya ini juga konyol. Karena kesalahan serupa seperti diatas, kami disuruh sholat berjamaah. Teman saya jadi imam. Semula tak ada yang aneh. Berjalan seperti biasa dan kami mencoba khusyuk sebisa mungkin. Kalo perlu bacaan dilagukan. Walaupun fals. Panjang pendek kacau tak beraturan.

Ketika rakaat kedua, ia membacakan Al Fatihah, lantas kami mengucapkan serempak “AMIIN” maka tau apa yang diucapkan teman saya berikutnya?

Ia menoleh ke belakang dan berkata, “Kompaknya kalian semua.”

Jelas saja, kami menengadah. Melongo. Begitu pula dengan bapak guru kami. Kemudian kami tertawa. Tapi tidak dengan guru kami. Ia hanya menggeleng kepala hingga membuat peci hitamnya terjatuh. Tentu saja, kami mengulangi sholat berjamaah lagi. 

Toh tak apa-apa. Setidaknya kami jadi lebih paham cara sholat yang baik. 

Kami kadang merasa bersalah sekaligus tertawa kalo mengingat kejadian itu. Terutama pada guruku. Tapi guruku tidak. Selalu saja menaikkan sedikit bahunya sambil geleng-geleng kepala. Bahkan kadang tersenyum kecil. Entah beliau tidak bisa marah atau justru mengenang pula karena pernah mengalaminya. Yang jelas saat itu kami tak berani bertanya. Sungkan lek.

Suatu ketika saat kami lulus, kami memberanikan diri bertanya kepada guru tersebut. Hanya satu pertanyaannya. Mengapa beliau tak memarahi kami saat melakukan kejadian konypl tersebut. Apalagi ini dilakukan pas sholat.

Kalian tahu jawabannya? 

“Mengajarkan ibadah harus dengan cinta dan kasih sayang. Karena dengan kedua hal tersebut maka hati menjadi tenang dan tentram. Tidak boleh ada rasa kesal meskipun anak-anak seperti kalian kreatif yang luar biasa.”

Kami tersentak. Malah dikatakan kreatif. Rupanya, beliau mengganti padanan kata dari bandel menjadi kreatif. Beliau lakukan supaya ingin mengubah paradigma jika apa yang dilakukan anak-anak adalah sesuatu hal yang wajar. Dan oleh sebab itu, untuk memberitahukannya lewat rasa cinta dan kasih sayang.

Sayangnya, hal yang dilakukan guru saya mulai jarang terjadi di era sekarang. Anak-anak justru dibentak, dihardik, bahkan dipukul. Sesuatu yang aneh. Bukannya diberi tahu dengan sopan. Justru dimaki dengan cacian. Tak heran jika nanti kalo sudah dewasa, banyak orang di kemudian hari lebih suka mengobarkan kebencian daripada menabur kebaikan. Ah, dunia sudah semakin aneh ya.

Mengenang menjadi anak kecil adalah hal paling romantis. Karena itu tak akan terulang kembali. Dan jika mengenang hal tersebut rasanya yang kami katakan cuma satu. Kami tak ingin segera tumbuh dewasa. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s