DOA

​​

Beberapa hari ini saya sering mengunjungi pasar. Entah itu mengantar istri ataupun mengantar ibu. Yang jelas bukan sidak macam operasi pasar.
Di dalam pasar tentunya ada penjual, pembeli, renternir, makelar, tukang parkir, dan sebagainya. Di pasar juga terjadi transaksi jual dan beli. Hal yang menjadi sesuatu umum di pasar. Tentunya ada yang menjual sayuran. Ada pula buah-buahan. Dan ada pula tanaman. Yang tidak ada hanya satu. Kenangan.

Di dalam pasar juga beraneka ragam macam rupa. Tersenyum. Merengut. Bahagia. Dan juga sedih. Pokoknya bermacam-macam ekspresi terbentuk di dalam pasar. Ketika saya mencoba mendekati salah satu penjual, tentu saja mereka akan menawarkan seperti,

“Mas, ayo mas dibeli, dipilih aja biar jadi laris.”

Kalimat tersebut jamak ditemukan. Tidak dilakukan hanya satu penjual melainkan semua penjual yang saya lewati dan temui akan berkata seperti itu. Meskipun redaksinya agak sedikit berbeda. Namun maknanya berarti satu tujuan. Laris.

Harapan untuk laris mereka rapalkan berulang kali seperti doa. Semua itu dilakukan dengan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena memang Tuhan yang mampu menentukan apakah itu menjadi berkahnya atau bukan. Yang jelas seperti sebuah pepatah bahwa tiap perkataan adalah doa.

Uniknya, meskipun perkataannya sama, jualannya sama, namun hasil yang didapatkan berbeda. Itu mungkin sudah menjadi kodrat alam dan sudah ada Tangan Tuhan yang ‘bergerak’. Namun yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah bagaimana mekanisme doa itu berjalan?

Saya bukan Ibn Arabi, Jalaludin Rumi bahkan Al Hallaj yang mampu menenggelamkan doa ke dalam jiwa kemudian diungkapkan dengan syair. Saya bukan pula Al Ghazali yang dengan ilmu filsafat mampu mengejawantahkan doa. Atau yang pasti saya bukan Syekh Siti Jenar yang punya konsep Manunggaling Kawula Gusti yang jika berdoa dianggap mampu ‘bercinta’ dengan Tuhan.

Tidak, saya tak mampu menjadi mereka. Cuman ya itu, sekali lagi bagaimana mekanisme doa berjalan?

Seorang sahabat pernah berkata, asalkan kita dalam suasana hening dan khusyuk maka apapun doa yang diucapkan pasti akan dikabulkan. Apakah benar begitu?

Seringkali kata khusyuk justru menjadi beban pikiran. Kadang kalo sudah berharap khusyuk, ada saja yang terlintas di pikiran. Entah itu pakaian jemuran yang belum kering. Masakan yang belum matang. Hutang yang belum terbayar. Atau kenangan yang sengaja terlintas lewat alam bawah sadar. Ya pokoknya ada saja.

Bahkan doa yang dikabulkan itu apakah memang menjadi doa baik atau doa buruk. Jangan salah, kita ga bisa menerka doa itu menjadi baik atau buruk. Namun kita selalu saja berharap doa kita akan dikabulkan. Masalahnya tak semua orang bisa berharap doa tersebut menjadi baik atau buruk.

Seorang pencuri berharap bahwa malam ini pekerjaan mencurinya sukses. Itu ia lakukan supaya esoknya pencuri bisa memberikan nafkah bagi keluarganya. Tentu, ia akan berharap dan mengatakan bahwa semoga bisa mendapatkan hasil yang baik.

Seorang pengusaha berharap bahwa malam ini tidurnya nyenyak. Itu ia lakukan supaya esoknya pengusaha mampu bekerja semaksimal mungkin agar mampu menafkahi keluarganya. Tentunya ia akan berharap dan mengatakan semoga tidurnya berkualitas dan esok menjadi hari yang lebih baik.

Lalu bagaimana Tuhan mengabulkan doa tersebut? Tentu tak ada yang bisa memastikan. Kalo pun pencuri itu berhasil mencuri maka pengusaha tak bisa memberikan nafkah bagi keluarganya keesokan hari. Kalo pengusaha dapat tidur nyenyak, berarti pencuri yang tak berhasil memberikan nafkah bagi keluarganya.

Sama halnya jika kamu berdoa dan berharap balik ke pelukan mantan. Namun mantanmu berharap dan berdoa agar dirinya akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirimu. Lalu bagaimana? Doanya bertabrakan gitu?

Akan menjadi aneh jika ternyata harapan pengusaha dan pencuri gagal semua. Sama anehnya pula jika yang diharapkan para penjual di pasar menjadi tidak laris. Dan juga aneh jika ternyata kamu dan mantanmu sama-sama tidak mendapatkan harapan yang sesuai.

Tapi justru menjadi lucu dan menggelikan jika kita mengerti bagaimana mekanisme doa itu berjalan.

Sedikit-sedikit, jika doa ternyata hampir tidak berhasil diharapkan, maka kita mencoba mengintervensi doa. Mengganti doa di tengah perjalanan supaya menjadi berhasil.

Kalo begitu caranya, kok kita tamak sekali pada Tuhan? Berharap selalu doa dikabulkan. Memang kita siapa? Tapi bukankah kita memang selalu begitu? Selalu mencoba bahkan dengan berbagai cara agar doa kita dikabulkan.
Tapi kalo memang ada yang sanggup bernegoisasi dengan Tuhan melalui doa maka saya cuman minta satu hal.

Hentikan segala omong kosong antara pejabat publik di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s