Semut

​Pgimgs.com

Beberapa hari ini segerombolan semut menyerang dan mengutil segala macam makanan dan minuman yang ada di rumah. Mulai dari kue kering, kue basah, sayuran, gula, merica, tempe goreng, air mineral hingga nasi. Saya tidak cukup mengerti mengapa segerombolan semut mencoba semua makanan dan minuman. Mereka tidak menghabiskan melainkan hanya mengutil dari satu makanan ke makanan yang lain. Mencicipi rasa minuman dari pelbagai merek.
Saya pikir penyebabnya adalah cuaca. Tapi ternyata bukan. Panas atau dingin sama saja. Tetap saja semut menggerayangi seluruh makanan dan minuman. Aneh. Tak biasanya mereka berkelakuan seperti itu. Saya kira jika semut adalah penyuka gula maka teori itu terbantahkan untuk saat ini. 

Semut termasuk jenis serangga. Anggota dari Formicidae dan termasuk bangsa Hymenoptera. Semut termasuk serangga sosial. Mengapa dikatakan seperti itu? Karena semut terdiri dari beberapa kelompok. Ada ratu semut, semut pekerja, semut pejantan. Mereka punya koloni-koloni yang membentuk kesatuan. 

Ukurannya memang kecil. Tidak lebih besar dari ukuran biji sawi. Tapi jangan salah, semut termasuk hewan yang memiliki kekuatan yang hebat. Mereka mampu mengangkat beban 50x lebih berat dari berat badannya. Mereka unggul dari gajah yang ‘hanya’ mampu mengangkat beban 2x lebih berat daripada berat badannya sendiri. Luar biasa bukan?

Keunikan dari semut adalah jika ia bertemu dengan semut dari suku lain, maka mereka salin menempelkan antenanya. Dan ini jarang ditemukan pada spesies hewan lainnya. Dan mungkin hanya semut yang dapat melakukannya.

Semut mengajarkan kepada kita (manusia) bahwa mereka selalu menjunjung etos kerja, ketaatan pada pemimpin, kebersamaan dengan koloninya, tekun dalam menghadapi rintangan bahkan kepekaan. Dan ini diterangkan dalam AlKitab Amsal 6:6-11. 

Dalam Islam diajarkan pula bahwa kita tidak diajarkan untuk tidak membunuh semut. Dan ini dijelaskan pula dalam riwayat Abu Huraihah, Nabi Muhammad pernah bersabda “Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu lantas kamu membinasakan satu umat yang selalu bertasbih?” Dan mungkinkah karena semut merupakan hewan yang luar biasa sehingga diagungkan dalam surat An Naml? Setidaknya hal tersebut benar adanya.

Ketika ingat perihal tersebut, saya jadi sungkan untuk membunuh segerombolan semut ini. Akhirnya saya mencari cara tradisional untuk ‘menghilangkan’ para semut. Maksudnya menghindarkan mereka dari makanan dan minuman. Caranya? Gunakan daun sirih merah. Dioleskan ke beberapa jalur yang biasanya dilewati. Dan hasilnya? Berhasil.

Sayangnya, keberhasilan tersebut hanya berlangsung selama 3 jam. Para semut kembali menghampiri dan mengutili makanan dan minuman. Tapi anehnya, hanya satu makanan yang tak mereka sentuh. Apa itu?

Kurma. Aneh bukan? Padahal rasanya manis sekali. Lantas saya mencoba taruh kurma di beberapa tempat. Hasilnya? Tak seekor semut pun mencuil bahkan menyentuh kurma-kurma yang saya letakkan. 

Lantas saya mencoba mengikuti mereka. Kemudian jongkok. Berhadapan dengan gerombolan semut. Mengajukan sebuah pertanyaan. 

“Hey semut, kenapa dirimu beserta teman-temanmu tak memakan kurma?”

Kalian tahu jawabannya?

“Kami lebih cinta ploduk-ploduk Indonesia.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s