Radio

Di Indonesia, untuk mendapatkan berita, mendengarkan lagu, maupun menumpahkan curahan hati dapat melalui bermacam-macam alat komunikasi. Ada televisi, telepon genggam dan radio. Dari sekian alat tersebut, entah kenapa saya jatuh cinta kepada radio. Mungkin karena radio adalah alat komunikasi pertama yang dikenalkan oleh ibu kepada saya.

Saya menggemari radio sejak kecil. Lebih tepatnya saat menginjak usia 8 tahun. Setiap pagi menjelang berangkat sekolah, saya selalu menyempatkan diri untuk mendengarkan siaran radio. Isinya adalah lagu-lagu nostalgia. Macam The Beatles dan Koes Plus. Kebetulan, salah satu radio di Jogjakarta selalu memutarkan tembang kenangan tersebut. Tepat setelah subuh hingga pukul 7 pagi. 

Selain itu, menantikan ucapan uluk salam dari teman sejawat, saudara bahkan gebetan adalah hal yang paling dinantikan. Hari terasa bahagia apabila mendengar ucapan salam dari gebetan. Walaupun tetap saja yang memberi salam si penyiar radio. Bukan gebetan.

Sejak saat itu, saya tidak pernah lepas dari radio. Saking gandrungnya dengan radio, ibu membelikan saya radio berukuran mini yang mampu dibawa kemana-mana. Cukup diletakkan di kantong celana maka saya akan tetap tenang menjalani hari sekolah.

Selain lagu-lagu seperti diatas, saya juga paling senang mendengarkan siaran pertandingan sepakbola dan kisah-kisah misteri. Betul itu. Kedua-duanya mirip. Menegangkan dan mengagetkan.

Contoh dalam siaran langsung pertandingan sepakbola. Kalimat seperti “angkat bola ke tengah gawang”, “aah aah aah gawangnya masih perawan” atau “sekali lagi tendangannya mentiung ke cakrawala” membuat para pendengar tertawa geli. Sebelum booming macam presenter-presenter kondang di televisi, maka penyiar radio lebih dahulu mempopulerkan kata-kata tersebut. Sayangnya saat itu belum ada media sosial membincangkan keunikan penyiar radio. Beda dengan sekarang.

Itu siaran sepakbola. Kalo kisah-kisah misteri lebih unik lagi. Kalimat seperti “wuush, angin mamiri menggelayuti ventilasi”, “tampak sesosok anak kecil di balik pintu” atau “sekelebat bayangan putih lewat” lebih membuat bulu kuduk berdiri. Sebelum acara televisi macam dunia lain atau misteri pemburu hantu kondang, maka penyiar radio pada sesi kisah misteri lebih dahulu tenar. Suaranya pun akan selalu serak-serak basah. Itu dilakukan supaya membuat pendengar berimajinasi. Kalimat-kalimatnya dibuat tak beraturan. Beda dengan di televisi. 

Sejak dari dulu, saya memang sudah terpesona dengan radio. Saya pikir radio adalah simbol anti hoax. Karena dari radio, kita mendengarkan fakta dan kenyataan yang tidak dibuat-buat.

Dari radio, kita mendapatkan berita kekalahan Jerman dari Inggris pada Perang Dunia ke 2. Dari radio, kita mendapatkan berita kekalahan Jepang dari Sekutu. Dari radio, kita mendapatkan pula orasi lantang Bung Tomo kepada arek-arek Suroboyo. Dan dari radio pula kita mendengarkan berita kemerdekaan Indonesia.

Kalo kamu mengalami kejadian gempa Jogja pada 27 Mei 2006 seperti saya, maka tentu kamu akan ingat dengan radio. Ya. Disaat listrik susah menyala, sinyal handphone menghilang entah kemana maka siaran radio tetap mengudara. Dan pada saat itu radio merupakan satu-satunya alat komunikasi untuk mengabarkan mana berita hoax dan mana berita kenyataan. Kita harus mengapresiasi tinggi pada bapak penyiar radio tersebut. 

Maka benar jika ada sebuah adagium yang mengatakan betapa pentingnya kegunaan radio. “Selama radio masih mengudara, maka Republik Indonesia masih milik kita”. 

Namun sekarang, terkadang radio dipinggirkan. Manusia modern lebih menyukai berita dari televisi maupun media sosial macam facebook atau twitter. Beritanya pun tak jelas. Bisa jadi hoax. Bisa jadi tidak. Tapi yang jelas lebih kebanyakan berita asu daripada berita bermutu.

Mungkin radio dianggap sudah mulai usang. Kehadirannya sedikit terpinggirkan. Bahkan beberapa alat komunikasi macam telepon genggam tak menyediakan lagi fitur radio di dalamnya. Apakah memang radio sudah tergilas oleh zaman?

Saya kira jangan terlalu dini menilainya. Radio bukanlah alat komunikasi yang mudah dihilangkan. Radio bukanlah alat komunikasi yang mudah dilenyapkan. Apalagi diasingkan.

Keberadaan radio masih dibutuhkan untuk menangkal virus-virus hoax yang bertebaran. Kita merasa miris dengan berita hoax di ranah media sosial atau televisi namun kita tidak boleh pesimis jika berita tersebut didengungkan lewat radio. Karena kita selalu merindukan keberadaan radio. Seperti lirik Sheila On 7.

“Lewat Radio, aku sampaikan kerinduan yang lama terpendam”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s