IMLEK

Bukalapak.com

Hari ini imlek.. Pada tahun 2017, bangsa Indonesia keturunan Tionghoa merayakan tahun baru imlek yang ke 14. Dibilang ke 14 karena baru tahun 2003, imlek secara resmi dirayakan (lagi) di Indonesia dan menjadi hari libur nasional. Tentunya, dalam jangka waktu 15 hari ke depan, kita akan disajikan lontong Cap Go Meh dan festival barongsai. 

Orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa seperti saya patut berterimakasih kepada 2 orang. Pertama, kepada Gurunda Gus Dur karena telah mencabut Kepres yang “melarang” orang-orang Indonesia merayakan Imlek. Kedua, kepada Ibunda Megawati yang secara menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional sejak tahun 2003.

Sebenarnya jadi orang Indonesia keturunan Tionghoa itu serba dilema. Kenapa? Misal begini, banyak dari kami menguasai hampir seluruh perusahaan swasta di Indonesia. Selalu saja disindir bahwa kami dianggap ingin menutup ruang gerak orang asli Indonesia. Kabar terakhir bahkan kami dianggap racun karena ingin memenuhi Indonesia dengan jumlah 10 juta orang.

Padahal ya ndak semuanya begitu.

Sejak awal orang-orang seperti kami memang dididik sejak kecil disuruh memilih kedua hal. Jadi pengusaha atau jadi akademisi. Kalo jadi akademisi ya harus ditekuni sejak kecil sampai dewasa. Jangan sampai putus. Begitu pula kalo bertekad mau jadi pengusaha. Ya harus kerja keras. Jangan sampai putus di tengah jalan.

Itulah mengapa kami selalu memiliki motivasi harus kerja keras. Bukan keras kerja. Itu lain cerita. 

Toh, meskipun begitu kami tetap cinta Indonesia. Jangan salah lho ya, kami tetap cinta ploduk-ploduk Indonesia. Muka atau kulit memang sudah dari sononya. Putih bengkoang. Tapi kalo jiwa ya tetap Indonesia. 

Buktinya sejak tahun 1932, kami juga berjuang membantu Indonesia menuju kemerdekaan dengan membentuk PTI (Partai Tionghoa Indonesia). Kami dikumpulkan bersatu padu untuk menjunjung tinggi Tanah Air Indonesia. Karena apa? Ya karena kami lahir di Indonesia dan sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk berjuang.

Tapi memang cerita tak seindah kenyataan. Sempat dilarang oleh Orde Baru karena mungkin dianggap menguasai dan merusak seluruh kekayaan alam Indonesia. Ya sudah itu diterima saja. 

Selain itu, kami selalu dituduh memonopoli koran. Tidak hanya sehari dua hari melainkan berhari-hari. 1/3 halaman koran selalu memberitakan salah satu dari keluarga keturunan Tionghoa. Bahkan selalu dibuatkan serial khusus. Obituari.

Dan kami dianggap menggerus hak tanah milik rakyat pribumi. Bagaimana tidak dikatakan begitu? Wong, kalo meninggal makam dari keluarga kami bisa memenuhi lahan mereka. Jika diibaratkan, 1 lapangan futsal maka hanya sanggup didiami oleh 5-6 makam. Ya, kenyataannya begitu.

Kami juga dianggap membawa sial. Karena disaat kami berbahagia karena hujan membawa berkah di hari imlek. Namun di sisi lain, harga cabai menjadi rusak karena hujan terus menerus tiada henti. Duh.

Tapi memang harus diakui, sejak berakhirnya pilpres 2014, sentimen terhadap keturunan Tionghoa agaknya mulai berlaku kembali. Entah katanya Indonesia akan dikuasai kuminis. Kalo sudah kuminis, nanti barang-barang akan meniru sana. Kayak uang baru itu tuh. Wolah, kok ya jauh sekali. 

Dan memang jadi orang keturunan ndak enak. Kalo keturunan Tionghoa dianggap kuminis. Kalo keturunan Arab dianggap radikal. Yang enak cuma jadi keturunan Eropa. Semacam ada privilege tersendiri. Kayak pemain-pemain sepakbola kita.

Walaupun begitu sekarang kami masih bisa bersyukur. Sekarang mulai menikmati kehidupan dan diperbolehkan saling tukar kue keranjang dengan tetangga. Meskipun tetap, kue keranjang buatan kami masih disindir sebagian orang. Kenapa? Karena belum ada logo halalnya. 

Dan juga diperbolehkan menerima pembagian Angpao. Kalo beruntung, beberapa perusahaan juga membagikan angpao. Dan mungkin cuma angpao yang tidak dianggap gratifikasi. Bersyukurlah.

Nah, di tahun 2017, imlek menjadi tahun baru dengan simbol ayam api. Kalo menurut prediksi, buat yang sudah berkeluarga maka ini waktu yang paling tepat buat hamil. Kalo yang masih jomblo/single maka ini waktu yang paling tepat untuk menemukan pasangan. Atau mungkin teman bercinta. 

Imlek tidak hanya menghadirkan harapan namun juga menyatukan tujuan. Imlek tidak hanya memberi makna namun juga menerima rasa. Karena imlek patut dirayakan tidak hanya orang Indonesia keturunan Tionghoa namun juga untuk masyarakat Indonesia seutuhnya.

Selamat Imlek. Salam berkokok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s