Benarkah kita munafik?

Kita yang ga suka Ahok akan terus menyebarkan berita keburukan Ahok. Yang ga suka FPI akan terus menyebarkan berita keburukan FPI. Kita harus jujur bahwa ucapan Ahok memang kasar dan tidak beraturan. Tapi kita jangan menutup mata kalo Ahok sudah melakukan sedikitnya perubahan ke arah lebih baik terhadap Jakarta. Kita harus jujur pula bahwa tingkah laku FPI kadang kasar bahkan menjurus brutal. Tapi kita jangan menutup mata bahwa FPI juga pernah melakukan tindakan-tindakan baik semacam pemberian bantuan gempa Aceh dan sebagainya. Bukankah begitu?

Kita mengecam bahwa ISIS bukan bagian dari Islam. Tapi, boleh percaya atau tidak mereka menggunakan ayat-ayat Al Qur’an sebagai dalil perjuangan mereka. Di satu sisi, (mungkin) Islam menunjukkan wajah kekerasan. Namun di Indonesia, justru sebaliknya. Hadirnya ormas macam NU atau Muhammadiyah menghadirkan bahwa Islam adalah ajaran perdamaian. Di sisi ini, Islam menunjukkan wajah keteduhan. Bukankah begitu?

Kita mengecam bahwa korupsi itu salah atau buruk. Tapi kita selalu membuat proposal dengan dana yang lebih besar agar jika kelebihan dana bisa menjadi milik kita sendiri. Kita mengecam orang-orang yang buang sampah sembarangan karena akan menyebabkan banjir. Tapi dari tahun ke tahun banjir selalu ada. Dan salah satunya karena sampah berserakan di sungai. Kita mengecam bahwa semua tayangan tv yang menampilkan belahan dada atau yang menunjukkan erotisme harus disensor tapi mengatur segala bentuk dan tempat prostitusi dalam hal peraturan. Bukankah begitu?

Kita mengecam bahwa merokok tidak baik karena membahayakan kesehatan. Tapi kita mengetahui bahkan menegaskan bahwa cukai rokok adalah pendapatan terbesar di Indonesia. Kita mengecam bahwa mengakses situs-situs porno merusak moral bangsa Indonesia. Tapi kita mengetahui bahwa Indonesia termasuk salah satu dari 5 negara besar di dunia dengan tingginya akses situs porno. Bukankah begitu?

Kita mengecam bahwa media sosial seperti facebook adalah buatan Yahudi. Itu haram. Tapi kita memakainya untuk bertegur sapa, bersua dan bertukar cerita dengan kawan-kawan lama. Kita mengecam bahwa Pizza Hut adalah produk Amerika. Itu kafir. Tapi kita sering mengonsumsinya bahkan pernah menggantungkan hidup dari perusahaan tersebut. Bukankah begitu?

Kita mengecam bahwa pemerintah Indonesia memiliki ketergantungan terhadap Tionghoa. Tapi kita sadar bahwa kita selalu bahkan pasti menggunakan produk yang terbuat dari Tionghoa. Kita mengecam bahwa menyuap adalah perbuatan ilegal. Tapi kita masih selalu mengulamg perbuatan tersebut dalam hal pembuatan KTP, SIM, Paspor bahkan akte kelahiran. Bukankah begitu?

Kita mengecam bahwa non-muslim tidak boleh jadi pemimpin nanti bisa jadi liberal. Tapi kita harus akui beberapa pemimpin dunia macam Finlandia bisa meminimalkan bahkan tidak ada kriminalitas di negaranya. Kita mengecam bahwa muslim jangan jadi pemimpin nanti bisa radikal. Tapi kita harus akui bahwa presiden Turki sangat baik meningkatkan daya saing dalam segi pariwisata. Bahkan Turki masuk ke dalam jajaran 10 besar negara dengan tingkat pariwisata terbaik di dunia. Bukankah begitu?

Kita mengecam bahwa menghambur-hamburkan uang adalah perbuatan sia-sia. Namun kita sering lupa dengan uang jika sudah melihat kata ‘SALE 70%’. Kita mengecam bahwa membuang waktu adalah sesuatu yang sia-sia. Tapi kita harus akui bahwa kita lebih sering terlambat daripada tepat waktu. Bukankah begitu?

Kita yang bilang bahwa pada tahun 2017 akan menjadi pribadi yang lebih baik. Namun kita masih saja melakukan fitnah dan menyebarkan berita hoax. Kita yang bilang bahwa isi televisi kini cuma sampah. Namun kita selalu menantikan serial persidangan Jessica bahkan Ahok yang tak kunjung usai. Bukankah begitu?

Kita selalu berkata sampai berbuih-buih busa bahwa Indonesia harus bangkit, bangkit dari ketertinggalan dalam bidang pendidikan. Tapi kita masih saja malas terutama membaca dan menulis. Kita mengecam dan marah jika ada negara lain mengklaim warisan budaya Indonesia. Tapi kita harus akui, kita jarang bertindak untuk mengelola warisan budaya Indonesia. Bukankah begitu?

Dan jangan heran jika Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan pada tahun 1977 menempatkan salah satu ciri manusia Indonesia yaitu munafik. Mencaci maki karena kesalahan orang lain. Namun menjilat ludah sendiri jika kesalahan serupa menimpanya.

Seperti Carloz Tevez. Pesepakbola yang mengkritik pesepakbola masa kini lebih memilih uang daripada menghargai potensi. Sialnya, kini ia lebih memilih mengejar uang untuk menjadi pemain sepakbola dengan bayaran termahal di dunia. Dan lebih sial lagi bahwa dia idola saya semasa membela Juventus. Duh.​

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s